// API callback
loadtoc({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978"},"updated":{"$t":"2024-03-13T18:49:04.404+07:00"},"category":[{"term":"undang2"}],"title":{"type":"text","$t":"Kelapa Sawit"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Pusat informasi Kelapa Sawit"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/feeds\/posts\/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default?alt=json-in-script\u0026max-results=9999"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"134"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"9999"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2918613342045823299"},"published":{"$t":"2015-02-26T15:52:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-26T15:52:51.604+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perkembangan Industri Kelapa Sawit Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s1600\/kelapa_sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s1600\/kelapa_sawit.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSumber: Berita Iptek Topik: Industri\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tags: Biofuel, Energi Alternatif, Industri Kelapa Sawit\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBanyak hal yang bisa kita cermati dari kegiatan “Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit” yang diadakan di BPP Teknologi pada tanggal 18-19 Juli 2007. Bagi orang yang tidak berkecimpung dalam penelitian maupun bisnis kelapa sawit, sambutan dan paparan dari beberapa keynote speaker saja sudah mampu memberikan gambaran betapa menariknya industri kelapa sawit ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBerdasarkan data tahun 2006, Indonesia telah menjadi negara penghasil CPO terbesar di dunia dengan total produksi sekitar 16 juta ton. Sementara negara tetangga kita Malaysia yang selama ini berada pada posisi no.1, saat ini berada pada posisi ke-2 dengan total produksi sebesar 15.8 juta ton (sumber: pidato sambutan kepala BPP Teknologi \u0026amp; berkas sambutan menteri perindustrian RI). Yang menarik dari data ini adalah, ternyata Indonesia mampu menjadi negara penghasil CPO nomor 1 di dunia 4 tahun lebih cepat dari prediksi sebelumnya, di mana Indonesia diperkirakan baru akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia pada tahun 2010 (sumber: berkas pidato menteri riset dan teknologi, presentasi deputi kepala BPPT bidang teknologi informasi, industri dan material).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDengan besarnya produksi CPO yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini berdampak positif bagi perekenomian Indonesia, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara, maupun besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor industri ini yang mencapai 8.5 juta orang (sumber: berkas sambutan menteri negara riset dan teknologi). Sektor ini juga mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, di mana presentase penduduk miskin di areal ini kurang dari 6%, jauh lebih rendah dari angka penduduk miskin nasional sebesar 17% (sumber : berkas sambutan menteri negara riset dan teknologi). Boleh dibilang, industri kelapa sawit ini dapat diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDi balik prestasi di atas, sederet permasalahan masih membelit industri ini. Agaknya, jika sebahagian permasalahan saja bisa diatasi, Indonesia akan mampu memperoleh devisa jauh lebih besar daripada yang dapat kita nikmati saat ini. Salah satu permasalahan utamanya adalah masih rendahnya muatan teknologi yang mampu diterapkan, sehingga mayoritas devisa dari industri ini berasal dari industri hulunya. Padahal, nilai tambah terbasar justru terdapat pada industri hilirnya. Sangat banyak produk turunan yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Industri ban, emulsifier, kertas, makanan dan minuman, personal care, kaca filem, bahan peledak, sampai kepada bahan bakar. Hanya saja, seperti industri oleo kimia, pertumbuhannya relatif stagnan (Marzan,2007). Sementara, industri biofuel yang sudah dipagari dengan instruksi presiden no.1 tahun 2006, juga menuai banyak kendala.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeberapa langkah strategis telah dilakukan seluruh elemen masyarakat dalam merespon naiknya harga minyak dunia dan turunnya produksi migas Indonesia. Kuatnya keinginan Indonesia untuk mencari energi alternatif pengganti minyak bumi, merupakan upaya yang patut diacungkan jempol. Ini adalah sebuah upaya yang menurut hemat penulis, akan menjadi solusi jangka panjang yang sangat baik. Produk biofuel yang dapat dibuat dari kelapa sawit, pohon jarak, tebu, dan lain-lain, telah direspon oleh Pertamina dengan produknya Biosolar dan Biopremium yang merupakan campuran antara biofuel dengan solar atau premium. Agaknya, turunnya harga minyak dunia telah menyurutkan kembali keinginan negara kita untuk melirik biofuel sebagai energi alternatif. Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya produksi biofuel ini masih tinggi. Pertamina sendiri telah menanggung kerugian yang cukup besar untuk mensubsidi produk bahan bakar dengan kandungan 5% biofuel tersebut. Bahkan, Pertamina mulai menurunkan kandungan biofuel menjadi 3% untuk menekan kerugian. Akan tetapi, tumbuhnya beberapa bentuk usaha yang terkait dengan industri biofuel ini juga tidak bisa dibiarkan mati begitu saja. Perlu adanya kesungguhan untuk mengawal instruksi presiden di atas.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETingginya harga CPO dunia, ternyata juga menuai masalah di dalam negeri. Seperti yang kita sama-sama ketahui, terjadi kelangkaan pasokan minyak goreng di dalam negeri, karena nilai ekspornya yang sedemikian menggoda. Belum lagi permasalahan-permasalahan lain yang juga menyertai keberadaan kelapa sawit ini, seperti kritikan ahli lingkungan dan dunia internasional terhadap banyaknya hutan tropis yang dibuka untuk lahan perkebunan kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETerlepas dari adanya dampak negatif yang mengiringi tumbuhnya industri kelapa sawit ini, namun kita bisa berharap dari besarnya pertumbuhan industri ini. Bnanyak hal yang sempat dibicarakan oleh para pembicara di seminar ini agar produk kelapa sawit ini lebih kompetitif, dan mampu merespon isu-isu lingkungan. Solusi ini menyangkut industri hulu sampai hilir, serta dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan. Beberapa hal penting yang perlu dicermati adalah\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E1. Peningkatan aktivitas penelitian pada teknologi pembibitan supaya kita mampu menghasilkan bibit kelapa sawit yang unggul dan mampu memenuhi kebutuhan pasokan bibit kelapa sawit Indonesia. Tanpa perlu melirik pasar ekspor bibit kelapa sawit, kebutuhan dalam negeripun sudah sangat banyak. Negara seperti Malaysia dan Thailand yang memiliki kemampuan teknologi pembibitan lebih baik, serta keterbatasan perluasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, tentu akan melirik Indonesia sebagai negara yagn akan membutuhkan bibit kelapa sawit dalam jumlah banyak, seiring dengan rencana peluasan lahan kelapa sawit ke pulau kalimantan dan papua. Dengan mampunya kita memenuhi kebutuhan lokal, dua keuntungan akan mampu kita peroleh, yaitu tidak tergantungnya kita akan pasokan bibit dari luar, dan terbukanya lahan pekerjaan bagi para petani maupun para peneliti di bidang pertanian.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E2. Masih terkait dengan point 1, produk kelapa sawit yang dihasilkan dari bibit yang berkwalitas, akan mampu meningkatkan produk cpo per satuan luasnya. Dengan demikian, strategi intensifikasi bisa kita jadikan solusi daripada strategi ekstensifikasi yang memiliki dampak berkurangnya hutan tropis kita.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E3. Nilai tambah. Hal yang juga banyak dibahas oleh para pembicara adalah masih rendahnya kemampuan kita dalam meingkatkan nilai tambah melalui industri hilir. Dengan baiknya prospek industri kelapa sawit kita, dan besarnya dukungan dari pemerintah maupun perbankan, maka kita telah memiliki cukup modal untuk mengembangkan industri hilir kita. Sudah saatnya kita mulai memfokuskan diri kepada industri hilir ini, karena ini akan bisa menjadi multiplier efect bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sejalan dengan strategi pembangunan kita kepada industri dengan nilai tambah yang tinggi dan industri jasa.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E4. Peningkatan pelayanan bagi proses perijinan, penghapusan pungutan dan perbaikan fasilitas seperti pelabuhan ekspor. Perbaikan pada bidang ini akan mampu menurunkan biaya produksi, menambah tingginya keuntungan dan semakin tersedianya dana untuk penelitian dan pengembangan　\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EReferensi :\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKamdi Arifin, Kendala dan Harapan dalam Mendukung Percepatan Pengembangan Industri Kelapa Sawit Nasional, Dipresentasikan dalam Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESambutan Menteri Negara Riset dan Teknologi RI pada Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESambutan Menteri Perindustrian RI pada Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESambutan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBudaya Hanung, Strategi perkuatan rantai Pasok Bahan Baku untuk Pengolahan dan Distribusi Biodiesel, Dipresentasikan dalam Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIskandar Marzan Aziz, Pengembangan Teknologi Industri Hilir Kelapa Sawit: Lesson Learned from Biodiesel, Dipresentasikan dalam Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAsmono Dwi, Teknologi Pemuliaan dan Perbenihan untuk Penguatan Daya Saing Industri Kelapa Sawit, Dipresentasikan dalam Gelar Teknologi Industri Kelapa Sawit, BPPT, 18-19 Juli 2007.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2918613342045823299"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2918613342045823299"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/perkembangan-industri-kelapa-sawit.html","title":"Perkembangan Industri Kelapa Sawit Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s72-c\/kelapa_sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7776028599263961814"},"published":{"$t":"2015-02-24T16:35:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-24T16:35:20.158+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Penangkar Butuh 30.000 Pucuk per Tahun"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"float: left; margin-right: 1em; text-align: left;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-K_C-F2NJsrY\/VOxFujt5SmI\/AAAAAAABK2Q\/1GAMzwgGDI4\/s1600\/20150223071043_317.gif\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-K_C-F2NJsrY\/VOxFujt5SmI\/AAAAAAABK2Q\/1GAMzwgGDI4\/s1600\/20150223071043_317.gif\" height=\"212\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESyahrum, seorang penangkar bibit\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Syahrum, seorang penangkar bibit tanaman paling sedikit \nmembutuhkan sekitar 30 ribu pucuk (mata entres) per tahun per komoditas.\n Mata entres itu harus diambil dari pohon induk yang sudah dilegalitas \nkeabsahannya oleh pemerintah. Dan, tiap pucuk mereka beli sekitar Rp 150\n atau tergantung jenis tanamannya.\n              \n            \n            \n              \n                Pucuk-pucuk tersebut disambung dengan batang bawah untuk\n kemudian dibibitkan hingga tanaman siap tanam atau siap jual. \"Sebelum \ndijual, bibit yang kita perbanyak itu juga harus diberi label. Label itu\n dikeluarkan oleh Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih Dinas Pertanian \nSumatera Utara (BPSB Sumut) untuk komoditas pangan dan hortikultura. \nDan, untuk mendapatkan label juga harus dibayar yang tiap labelnya \ntergantung jenis tanamannya,\" terang Syahrum yang terjun ke bisnis \npenangkaran bibit tanaman ini sejak tahun 2011 lalu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara, \nseorang penangkar memperbanyak tanaman tidak satu jenis saja melainkan \nberpuluh jenis tanaman mulai tanaman buah-buahan (hortikultura), \nperkebunan hingga tanaman hutan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESedangkan keberadaan pohon induk\n tersebut tambah Ketua Aspenta Sumut N Akelaras tidak selalu ada di \nSumut. Karena itu, untuk mendapatkan sumber bibit terkadang para \npenangkar harus mendatangkannya dari daerah atau propinsi lain, seperti \ndari Jawa, Sumatera Barat, Kalimantan dan lain sebagainya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EYang \nberarti, biaya produksi semakin besar. \"Biaya pengirimannya paling mahal\n kalau kita mendatangkannya dari luar Sumut. Dan, itu terpaksa kita \nlakukan karena pengadaannya tidak ada di Sumut,\" kata Akelaras yang juga\n pembina kebun bibit rakyat (KBR) ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKarena itulah kata dia, \npara penangkar sangat berharap pemerintah bisa menyediakan atau \nmembangun kebun induk tidak saja membantu kelangsungan usaha penangkaran\n bibit tanaman yang ada di Sumut tapi juga untuk kelestarian tanaman \nitu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdanya kebun arboretum yang dimiliki USU, kata Akelaras, \npemilik penangkar tanaman UD Tani Mas ini, akan sangat membantu para \npenangkar dalam perolehan sumber entres. Sebab, di arboretum itu ada \nbanyak tanaman yang memungkinkan untuk dijadikan pohon induk, mulai dari\n tanaman buah-buahan, perkebunan hingga tanaman hutan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Kami \nberharap pemerintah khususnya pihak kampus USU berkenan menjadikan \narboretum tersebut sebagai kebun induk. Dan, kami siap menyuplai tanaman\n yang belum ada dikebun tersebut untuk dikembangkan serta siap membantu \nperawatannya. Karena dengan adanya kebun induk di lahan penelitian USU \nitu berarti kelangsungan dari tanaman itu terjamin,\" kata Akelaras penuh\n harap. (junita sianturi)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7776028599263961814"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7776028599263961814"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/penangkar-butuh-30000-pucuk-per-tahun.html","title":"Penangkar Butuh 30.000 Pucuk per Tahun"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-K_C-F2NJsrY\/VOxFujt5SmI\/AAAAAAABK2Q\/1GAMzwgGDI4\/s72-c\/20150223071043_317.gif","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8325533386086622171"},"published":{"$t":"2015-02-24T16:31:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-24T16:31:00.830+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Bank alergi pada sektor perkebunan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSektor perbankan sepertinya masih alergi untuk perkebunan. Hal ini \nterlihat dari realiasi program revatilisasi perkebunan yang tidak \nmencapai target. Selain itu,penyaluran kredit pada\u0026nbsp;tiga sektor komoditi \njuga tidak merata. Hanya komoditi kelapa sawit yang 100% realisasinya \nterlaksana.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDirektorat Jendral (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan) \nmencatat dari rencana pembiayaan 17 bank pelaksana dengan target \npembiayaan sebesar Rp 5,55 triliun. Realisasinya sepanjang tahun 2014 \nsebesar Rp 4,9 triliun yang dilakukan oleh 9 Bank.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTiga komoditas yang mendapat persetujuan pembiayaan dalam program \nrevitalisasi perkebunan adalah kelapa sawit, karet dan kakao. Kelapa \nsawit masih menjadi primadona untuk pengucuran kredit perbankan. Hal ini\n terlihat dari realisasi luasan revitalisasi yang melewati target.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nRinciannya, target revitalisasi perkebunan untuk kelapa sawit seluas \n223.996 hektar (ha). Realisasinya melebihi target yakni seluas 232.102 \nha.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDua komoditas lain realisasinya begitu rendah karena dibawah 15% dari \ntarget. Kakao misalnya dari target 13.173 ha hanya tercapai 1.869 ha. \nArtinya, realisasi hanya sekitar 14,1% dari target. Paling parah karet \nyakni dari target 119.008 ha hanya tercapai 11.124 ha atau sekitar 9,3%.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nGamal Nasir, Dirjen Perkebunan Kementan mengatakan, tingginya realisasi \nkredit kelapa sawit didorong tiga faktor. Pertama, kepemilikan kelapa \nsawit saat ini sebanyak 51% yakni perusahaan. Sisanya 49% berasal dari \npetani rakyat yang rata-rata dianggap bankable.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Petani kelapa sawit mendapatkan kredit karena terafilisasi dengan \nperusahaan. Perusahaan menjadi penjamin dari penyaluran kredit,” kata \nGamal akhir pekan lalu.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam catatan Dirjen Perkebunan Kementan dari realisasi penyaluran \nkredit Rp 4,9 triliun sebanyak Rp 4,5 triliun mengalir ke kelapa sawit \nkepada 113.076 petani. Sisanya, karet sebesar Rp 355,9 miliar untuk \n5.324 petani. Terakhir, kakao sebear Rp 33,8 miliar untuk 1.010 petani.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nRealisasi penyaluran kredit dilakukan 9 Bank Nasional dengan rincian 4 \nBank Nasional yakni: BRI, Bank Mandiri, Bank BRI Agro dan Bank BNI. Lalu\n 3 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yakni: BPD Sumbar, BPD Sumsel dan BPD \nSumut. Terakhir, Bank Swasta yakni: Bank BII dan Bank CIMB Niaga.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"asl_editor\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\nEditor: \u003Cspan\u003EJohana Ani K.\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8325533386086622171"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8325533386086622171"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/bank-alergi-pada-sektor-perkebunan.html","title":"Bank alergi pada sektor perkebunan"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5719323073137897771"},"published":{"$t":"2015-02-24T15:45:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-24T15:45:52.377+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pemerintah Diharapkan Tetap Fokus Kembangkan Biodisel"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-STTinuMeUQ0\/VOw6Mrmj3NI\/AAAAAAABK1o\/AIhSL42Qu8A\/s1600\/Biodiesel1.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-STTinuMeUQ0\/VOw6Mrmj3NI\/AAAAAAABK1o\/AIhSL42Qu8A\/s1600\/Biodiesel1.jpg\" height=\"230\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan id=\"advenueINTEXT\" name=\"advenueINTEXT\"\u003E\u003Cstrong\u003ESkalanews\u003C\/strong\u003E\n - Pemerintah diharapkan, agar tetap fokus mengembangkan biodiesel \nberbahan baku CPO atau kelapa sawit, kendati kini harga minyak bumi itu \nmurah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Murahnya minyak bumi, diharapkan jangan sampai melemahkan\n pengembangan biodiesel dari sektor CPO. Karena biodiesel merupakan \nsalah satu sumber energi masa depan,\" kata Kepala Dinas Perkebunan \nProvinsi Riau, Drs Zulher,MS di Pekanbaru, Minggu (22\/2).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHal \ntersebut disampaikan Zulher, terkait harga minyak bumi kini berada di \nbawah level USD 50\/barrel, yang menyebabkan perdagangan seluruh sektor \nindustri melesu, --termasuk perdagangan CPO dan turunannya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut\n dia, di samping harga minyak bumi menurun, dikhawatirkan pula penurunan\n yang sesaat ini akan mempengaruhi kebijakan negara untuk mengembangkan \nbiodiesel berbasis CPO.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMemang, katanya, harga minyak bumi yang \nterus turun tentu akan menjadi berita gembira bagi kita bersama. Akan \ntetapi, jangan sampai melemahkan dan tidak fokus mencari sumber energi \nalternatif lainnya, seperti biodiesel.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Sebab sektor perkebunan \ndiyakini menjadi sumber bahan baku utama biodiesel tersebut, sehingga \ndiharapkan pemerintah tetap fokus untuk mengembangkan biodiesel \ntersebut,\" kata Zulher.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIa menjelaskan, kini pemerintah sedang \nmelakukan percepatan pengembangan biodiesel B10 menjadi B20. Kebijakan \npemerintah mengembangkan biodisel B20, harus didukung karena \nketersediaan bahan baku CPO sangat besar di Indonesia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EApalagi \nbiodiesel B20 (20 persen minyak nabati dan 80 persen minyak bumi), tidak\n akan mengganggu sektor pangan dalam negeri maupun kegiatan ekspor CPO.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Sebab\n diperkirakan seluruh kebun kelapa sawit di Indonesia berada pada puncak\n produksi, baik itu di Sumatra, Kalimantan maupun Sulawesi. Apalagi jika\n sumber bahan baku nabati yang berasal dari subsektor perkebunan selain \nkelapa sawit terealisasi,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIa menambahkan, selain minyak\n bumi dikhawatirkan akan mengganggu pengembangan biodiesel, turunnya \nharga minyak bumi, juga turut berimbas terhadap harga Tandan Buah Segar \n(TBS) CPO di Riau akibat perdagangan CPO yang terus berfluktuasi cukup \nbesar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Sejak lima pekan terakhir harga TBS mengalami fluktuasi \nyang besar. Penurunan tertinggi hingga mencapai angka Rp91 per kg,\" \nkatanya. \u003Cstrong\u003E(ant\/tat)\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5719323073137897771"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5719323073137897771"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/pemerintah-diharapkan-tetap-fokus.html","title":"Pemerintah Diharapkan Tetap Fokus Kembangkan Biodisel"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-STTinuMeUQ0\/VOw6Mrmj3NI\/AAAAAAABK1o\/AIhSL42Qu8A\/s72-c\/Biodiesel1.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7230604823751570408"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:34:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:34:02.595+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengusaha Sawit Tekor"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-ilDNONCYQqY\/VOgmv3rTNwI\/AAAAAAABKjM\/NKFGNvUHNw4\/s1600\/20130419_Kebun_Kelapa_Sawit_Asian_Agri_di_Riau_4207.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-ilDNONCYQqY\/VOgmv3rTNwI\/AAAAAAABKjM\/NKFGNvUHNw4\/s1600\/20130419_Kebun_Kelapa_Sawit_Asian_Agri_di_Riau_4207.jpg\" height=\"198\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003ETRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -\u003C\/strong\u003E Para pengusaha \u003Ca href=\"http:\/\/www.tribunnews.com\/tag\/kelapa-sawit\/\" title=\"kelapa sawit\"\u003Ekelapa sawit\u003C\/a\u003E\n mengirimkan sinyal lampu kuning tentang perkembangan industri crude \npalm oil (CPO). Pasalnya, harga CPO di pasaran dunia terus mengalami \npenurunan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nFatalnya, kondisi ini juga memukul program mandatory bahan bakar \nnabati (BBN) sebesar 10 persen tak lagi ekonomis. Padahal, ada 11 \nperusahaan CPO yang memproduksi biodiesel hingga 5,2 juta ton yang \nmensuplai ke Pertamina.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Perusahaan-perusahaan CPO di Indonesia akan menghentikan pasokan \nbiodieselnya ke Pertamina. Mereka mengeluhkan harga jualnya kini jauh di\n bawah biaya produksi,” ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Bioefuel \nIndonesia (Aprobi). MP Tumanggor dalam keterangan Rabu (4\/2\/2015).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDengan kondisi saat ini, kata Tumanggor, dengan turunnya harga solar \nyang awalnya sekitar 100 dollar AS menjadi 60 dollar AS dan sekarang 50 \ndollar AS, maka harga solar lebih murah. Namun, selama ini produsen FAME\n mensuplai bahan baku yang dicampur dengan solar untuk biodiesel \nharganya tidak mengikuti harga solar.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelama ini, pemerintah selalu berpatokan pada Mean Of Platts \nSingapore (MOPS). “Kita mengikuti karena diinstruksikan oleh Wakil \nPresiden dan juga saat itu masih ada margin. Namun, kita tidak \nmemperhitungkan bahwa harga solar akan jeblok seperti saat ini,” \njelasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSebenarnya sejak dulu, Aprobi sudah protes akan ketentuan MOPS ini. \nSedangkan untuk kondisi harga CPO saat ini, jika ketentuan MOPS tersebut\n tetap diikuti maka banyak produsen FAME akan mengalami kerugian.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Bahkan dalam empat bulan terakhir ini hampir semua produsen biodiesel FAME berdarah-darah mengalami kerugian,” papar Tumanggor.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTumanggor menyebut kerugian yang diderita produsen FAME antara \n275-350 dollar AS per ton. Angka kerugian ini diperoleh dari harga CPO \nsaat ini sekitar 600 dollar AS per ton. Sedangkan biaya konversi \nproduksi FAME sebesar 188 dollar AS diperoleh angka 788 dollar AS per \nton (ini belum termasuk biaya angkut).\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7230604823751570408"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7230604823751570408"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/pengusaha-sawit-tekor.html","title":"Pengusaha Sawit Tekor"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-ilDNONCYQqY\/VOgmv3rTNwI\/AAAAAAABKjM\/NKFGNvUHNw4\/s72-c\/20130419_Kebun_Kelapa_Sawit_Asian_Agri_di_Riau_4207.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6659344690773153697"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:28:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:28:24.481+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ekspor Produk Turunan Kelapa Sawit Naik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv\u003E\n\t\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cstrong\u003E\u003Csmall\u003E\u003Cspan class=\"text-muted\"\u003E09 Februari 2015 - \u003C\/span\u003E\u003C\/small\u003EEKSPOR\u003C\/strong\u003E produk turunan kelapa sawit tahun ini \ndiprediksi masih bertumbuh. Tiga asosiasi industri hilir kelapa sawit \nmemproyeksikan, ekspor hilir kelapa sawit (HKS) akan naik menjadi 13,8 \njuta ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tIndustri HKS yakni Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), \nAsosiasi Produsen Biodiesel (APROBI) dan Asosiasi Perusahaan Oleokimia \n(APOLIN) menghitung\u0026nbsp; ekspor HKS naik tipis menjadi 13,8 juta ton atau \nberkontribusi 58% dari total ekspor produk sawit 2015 sebesar 23,7 juta \nton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tMeski naik tipis 0,5% dibandingkan ekspor tahun 2014 sebesar 13,7 juta\n ton, namun ekspor produk HKS masih lebih rendah daripada pencapaian \ntahun 2013 yang mencapai 13,9 juta ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tHanya saja, tahun ini volume ekspor HKS ke Eropa diprediksi bakal ada \nkenaikan. Hal ini berkaca pada ekspor ke Eropa tahun 2014 sebesar 4,13 \njuta ton atau naik 3% dari 4 juta ton pada tahun 2013.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tTogar Sitanggang, Ketua APOLIN mengatakan, saat ini sudah ada sejumlah\n negara tujuan baru sebagai market ekspor Indonesia. Misalnya, pasar \nAmerika Serikat (AS), Timur Tengah dan Pakistan. Namun sebenarnya pelaku\n usaha lebih gembira jika penyerapan justru berada di dalam negeri.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\"Ekspor turun sebenarnya tidak masalah. Kalau penyerapan dalam negeri \nyakni biodisel memang meningkat. Meski begitu pasar ekspor juga bukan \nberati hilang. Sebab ada negara tujuan baru, \" imbuh Togar Jumat (8\/2). \u003Cstrong\u003E(net\/lhl)\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6659344690773153697"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6659344690773153697"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/ekspor-produk-turunan-kelapa-sawit-naik.html","title":"Ekspor Produk Turunan Kelapa Sawit Naik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-723655600898529589"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:24:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:24:48.812+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Asing Tak Ingin RI Kuasai CPO"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBALIKPAPAN -\u0026nbsp; Salah satu hambatan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia, termasuk di Kaltim adalah isu black campaign. Tudingannya adalah “perusak lingkungan”.\u0026nbsp; Meski usianya sudah memasuki seabad, namun masih banyak hal yang terjadi di lapangan yang sangat menyudutkan industri komoditas unggulan Indonesia ini.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenanggapi hal tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Azmal Ridwan mengatakan, pihak asing tersebut hanya ingin industri sawit Indonesia tak maju-maju. Alasannya, mereka tak ingin Indonesia menguasai pasar sumber energi terbarukan di dunia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Kita lihat saja, nyata saat ini mereka (pihak asing, Red) yang menyebar isu itu pasti masih menggunakan hasil olahan dari kelapa sawit. Seperti memakai lilin untuk acara candle light dinner, tiap hari mereka melakukan penggorengan, memakai mentega, dan oli mobil mereka menggunakan minyak CPO,” cetusnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDia juga menambahkan, black campaign yang disebarluaskan oleh pihak asing tentang industri kelapa sawit Indonesia sangat merugikan. Padahal diketahui kontribusi kelapa sawit terhadap devisa negara sangat tinggi dan merupakan penyumbang terbesar setelah migas.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Ini pasti hanya klaim pihak asing yang sebenarnya ingin menguasai industri kelapa sawit. Industri kelapa sawit memang maju di Asia, khususnya daerah Asia Tenggara,” tuturnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDia memperjelas jika perusahaan\u0026nbsp; sudah mendapat izin secara legal dari pemerintah dan selama mereka mengikuti peraturan yang dikeluarkan pemerintah maka sudah jelas tidak bisa dikaitkan dengan black campaign.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Yang perlu diperhatikan itu adalah cara perusahaan tersebut bekerja, bukan masalah pada kelapa sawitnya. Saya tidak mengklaim perusahaan perkebunan khususnya kelapa sawit itu semua baik. Tapi perkebunan yang baik tersebut adalah yang mengikuti peraturan yang berlaku,” bebernya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSaat ini, perkembangan kelapa sawit di Kaltim sudah sangat maju. Tantangannya saat ini adalah masalah tata ruang yang belum sinkron antara departemen yang terkait. Terkadang dari pihak pemerintah daerah dan Dinas Kehutanan memiliki klaim yang berbeda.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Dari pihak pemerintah daerah memberikan izin untuk kerja karena mereka mengklaim area tersebut non-kehutanan. Tapi pihak Dinas Kehutanan mengklaim area tersebut lahan hutan. Mereka sama-sama dari instansi pemerintahan. Kalau sudah begitu, sekarang yang salah siapa?” ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSejak zaman dulu tanaman kelapa sawit berkembang di Indonesia menjadi tanaman komersial yang sangat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. \"Kelapa sawit merupakan tanaman sawit. Bukan hanya menghasilkan minyak dan produk turunan lainnya, namun juga uang yang membawa kesejahteraan bagi rakyat. Pemerintah harusnya dapat berperan untuk melindungi dari isu yang beredar dari orang asing tersebut,\" pungkasnya. (*\/aji\/lhl\/k8)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/723655600898529589"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/723655600898529589"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/asing-tak-ingin-ri-kuasai-cpo.html","title":"Asing Tak Ingin RI Kuasai CPO"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3581218876033461550"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:22:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:22:45.677+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Sawit Lesu Sampai Akhir Maret"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv\u003E\n\t\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cstrong\u003E\u003Csmall\u003E\u003Cspan class=\"text-muted\"\u003E11 Februari 2015 - \u003C\/span\u003E\u003C\/small\u003EHARGA \u003C\/strong\u003Etandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kaltim \nmencatatkan perbaikan tipis pada Februari ini. Meski begitu, tren \npelemahan diperkirakan berlanjut hingga akhir triwulan pertama nanti, \nmenyusul belum membaiknya harga jual \u003Cem\u003Ecrude palm oil\u003C\/em\u003E (CPO) yang merupakan olahan hilir tanaman ini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDinas Perkebunan Kaltim melaporkan, harga TBS usia 10-25 tahun naik Rp\n 17,96 per kilogram menjadi Rp 1.520,77 kilogram untuk penjualan \nFebruari. Harga tersebut ditetapkan setelah harga rerata CPO dan kernel \n(inti sawit) tertimbang\u0026nbsp; dihargai Rp 7.376,16 dan Rp 4.019,82 per \nkilogram.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\t“Harga tersebut belum termasuk PPN (pajak pertambahan nilai). Di pasar\n lelang harga CPO berfluktuasi tipis di atas Rp 8.000 per kilogram,” \nucap Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Hj Etnawati, melalui Kepala Bidang \nUsaha Muhammad Yusuf, belum lama ini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tMeski tengah berupaya naik, harga CPO tersebut lanjut Yusuf, belum \nmampu menyamai level pada bulan yang sama di 2014. “Tahun lalu antara Rp\n 9.500 sampai Rp 10 ribu per kg,” sambungnya. Selain mulai membengkaknya\n penawaran, menurut dia, kondisi tersebut merupakan dampak turunnya \nharga komoditas substitusi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\t“Produksi domestik melesat cepat, namun naiknya permintaan belum mampu\n mengimbangi. Ditambah lagi, harga minyak dunia terus melemah. Ini \nmembuat sebagian konsumen yang memproduksi sumber energi dari CPO \nkembali memilih minyak fosil,” urai dia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSituasi tersebut, kata dia, membuat momen kenaikan harga sawit beserta\n turunannya menjelang akhir 2014 lalu lepas. Padahal, seperti diketahui,\n \u0026nbsp;masa tersebut adalah masa emas bagi industri kelapa sawit. Saat \nkebutuhan meningkat, produksi minyak nabati dari bahan lain, seperti \nkedelai dan biji bunga matahari di Eropa juga merosot selama musim \ndingin.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\t“Tapi, pada saat yang sama, harga minyak merosot tajam. Kondisi ini, \ndiperkirakan berlangsung sampai akhir Maret. April baru kembali normal, \nmengikuti perbaikan harga minyak dunia. Kita tahu, selain dengan minyak \npangan, CPO juga bersaing dengan minyak mentah sebagai bahan bakar,” \ntukas Yusuf.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKarena itu, dia mengimbau, untuk sementara para penggiat industri sawit memaksimalkan \u003Cem\u003Edemand\u003C\/em\u003E\n dari pasar domestik. “Kami juga tengah mengupayakan percepatan \npengembangan biodiesel agar sawit lebih banyak terserap di dalam \nnegeri,” pungkasnya. \u003Cstrong\u003E(man\/lhl\/k8)\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3581218876033461550"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3581218876033461550"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/harga-sawit-lesu-sampai-akhir-maret.html","title":"Harga Sawit Lesu Sampai Akhir Maret"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2118959268696000707"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:21:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:21:16.672+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pabrik Kelapa Sawit Wajib Miliki Pembangkit Listrik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"f14 c6 bodyp\"\u003E\n                            \u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-UaWTqEJCZzI\/VOgjyZunBnI\/AAAAAAABKi0\/FkWwhT2wWzs\/s1600\/1416128578.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-UaWTqEJCZzI\/VOgjyZunBnI\/AAAAAAABKi0\/FkWwhT2wWzs\/s1600\/1416128578.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EPekanbaru\u003C\/strong\u003E- Pemerintah \ndaerah (Pemda) Riau diharapkan membuat kebijakan yang mewajibkan Pabrik \nKelapa Sawit (PKS) di Riau membangun pembangkit listrik untuk mengatasi \nkrisis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Kepala daerah sesuai kewenangan melakukan pembinaan dan pengawasan \nterhadap penyediaan tenaga listrik. Maka dari itu sangat memungkinkan \ndibuat kebijakan PKS wajib bangun pembangkit listrik sendiri,\" ujar \nKepala Seksi Pengembangan Usaha Perkebunan Disbun Provinsi Riau Sri \nAmbar di Pekanbaru, Rabu (11\/2).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia mengatakan, pembangkit listrik tenaga biomassa bisa dibangun pada\n kolam limbah cair PKS dengan menggunakan dana tanggung jawab sosial \nperusahaan CSR. Landasan program serta operasional sebagai payung hukum \npengembangan energi terbarukan nasional tersebut berdasarkan \nUndang-undang 30\/2007 tentang Energi di mana dalam Pasal 20 Ayat (2) \nberbunyi penyediaan energi oleh pemda diutamakan di daerah belum \nberkembang atau daerah terpencil.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Selanjutnya terdapat Peraturan Pemerintah 14\/2012 tentang Kegiatan \nPenyediaan Tenaga Listrik dalam Pasal 51 Ayat (2) disebutkan menteri, \ngubernur, bupati\/wali kota sesuai kewenangannya melakukan pembinaan dan \npengawasan terhadap penyediaan tenaga listrik,\" ucapnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerdasarkan data PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau per Agustus \n2014, kemampuan pembangkit listrik untuk konsumen di Riau sebesar 551,54\n Megawatt (MW). Perusahaan itu hanya mampu layani pelanggan rumah tangga\n 926.636 sambungan dengan ratio elektrifikasi sekitar 66,44 persen. \nDengan demikian terjadi defisit 65 MW yang berdampak pada pemadaman \nbergilir terutama pada saat musim kemarau atau saat perawatan unit \npembangkit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDiperkirakan dalam lima tahun, beban puncak mencapai 1.193 MW atau \ndefisit sebesar 764 MW dengan pertumbuhan pelanggan 12 persen per tahun \ndengan catatan tidak diimbangi pembangunan pembangkit baru.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Yang jelas, keterbatasan teknologi dalam situasi persaingan global \nharus ditundukkan, sebagaimana telah dilakukan beberapa perusahaan PKS \ndi Riau. Bangsa menguasai teknologi, walau miskin sumber daya alam, \nnamun telah terbukti mampu eksploitasi bangsa kaya tapi terbelakang \ndalam pengusasaan teknologi,\" katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPemerintah Provinsi (Pemprov) Riau akhir tahun lalu berulang kali \nmendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga biomassa untuk mengatasi\n kekurangan pasokan tenaga listrik di daerah tersebut terutama pada saat\n beban puncak.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Total kebutuhan tenaga listrik saat ini sekitar 592 MW. Kapasitas \npembangkit terpasang di Riau cuma 315 MW atau kurang 277 MW, sedangkan \nelektrifikasi baru 61 persen dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 14 \npersen per tahun,\" kata Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi \nRachman.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut dia, dengan kondisi seperti itu, Pemprov Riau sangat \nmengharapkan pemerintah pusat yang telah merencanakan pembangunan \npembangkit listrik baru sekitar 35.000 MW dapat segera \nmerealisasikannya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"mt10 c6\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenulis: \/WBP\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"mt10 c6\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSumber:Antara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2118959268696000707"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2118959268696000707"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/pabrik-kelapa-sawit-wajib-miliki.html","title":"Pabrik Kelapa Sawit Wajib Miliki Pembangkit Listrik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-UaWTqEJCZzI\/VOgjyZunBnI\/AAAAAAABKi0\/FkWwhT2wWzs\/s72-c\/1416128578.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5256090553991975270"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:16:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:16:12.877+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ekspor Produk Sawit 2015 Ditargetkan 23,7 Juta Ton"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-qeQcU1OrHGw\/VOgioBrg2WI\/AAAAAAABKik\/V4YEhixeqvw\/s1600\/sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-qeQcU1OrHGw\/VOgioBrg2WI\/AAAAAAABKik\/V4YEhixeqvw\/s1600\/sawit.jpg\" height=\"172\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memproyeksikan \nekspor produk sawit dan turunannya di tahun 2015 sekitar 23,7 juta ton. \nKomposisi ekspor berupa \u003Cem\u003E crude oils\u003C\/em\u003E (CPO dan lainnya) sebesar \n9,9 juta ton atau setara 42% dari jumlah target ekspor. Sedangkan ekspor\n dalam bentuk hilir sawit atau P\u003Cem\u003Erocessed Palm Oil\u003C\/em\u003E (PPO) sebanyak 13,8 juta ton atau 58%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerdasarkan data GIMNI, total volume ekspor sawit di tahun 2014 sebanyak 23,6 juta ton. Komposisinya berupa \u003Cem\u003E crude oils\u003C\/em\u003E sebanyak 9,9 juta ton atau 42% dari total ekspor dan PPO 58% atau setara 13,7 juta ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI, mengatakan, target ekspor di \ntahun ini identik dengan pencapaian bisnis sawit pada 2014. Sejumlah \nkendala memperlambat target ekspor produk sawit dan turunannya. Ia \nberharap pemerintah membuat terobosan kebijakan pada tahun ini. “ \nSebaiknya, pemerintah memperbaiki kelancaran barang di pelabuhan bisa \nberjalan dengan lebih baik lagi,” jelasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah pelabuhan untuk melayani ekspor produk sawit dan turunannya \nmasih terbatas. Fasilitasnya pun kurang memadai dalam hal cegah \nkontaminasi dan kecepatan muat, hal ini mengakibatkan sering timbul \u003Cem\u003Edemurrage cost\u003C\/em\u003E dan menyebabkan pembeli luar negeri tidak mau menanggung ketidakpastian \u003Cem\u003Eschedule loading\u003C\/em\u003E dan berangkat kapal. \u003Cem\u003EDemurrage cost\u003C\/em\u003E\n yang semakin meningkat kejadiannya, menyebabkan sawit Indonesia selalu \nkalah bersaing dengan negara – negara penghasil sawit lainnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTingginya \u003Cem\u003Edemurrage cost\u003C\/em\u003E yang besar memperberat beban eksportir sawit. Kecepatan \u003Cem\u003Eloading\u003C\/em\u003E dan\u0026nbsp; \u003Cem\u003Ehandling\u003C\/em\u003E\n sawit\u0026nbsp; di pelabuhan Indonesia kurang memadai. Sahat mendorong \npemerintah menerbitkan regulasi di seluruh pelabuhan ekspor serta \nmemodernisasi\u0026nbsp; fasilitas tangki timbun agar waktu tunggu\u0026nbsp; kapal di \ndermaga bisa dipersingkat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSahat mengatakan harga minyak sawit dunia turun sejak kuartal III \n2014 sehingga kinerja industri hilir kelapa sawit (IHKS) relatif tidak \nbagus dibandingkan tahun 2012 dan 2013. “Kinerja industri hilir sawit \ncenderung menurun pada tahun ini,” ucapnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLebih lanjut, ia menyebutkan penurunan harga CPO membuat bea keluar \nsawit di level 0%. Dampaknya, eksportir memilih ekspor minyak sawit \ndaripada produk PPO. Berdasarkan Peraturan Kemterian Perdagangan Nomor \n93\/2014, produk CPO bisa bebas bea keluar apabila harga sawit dunia di \nbawah US$ 750 per ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSampai Januari 2015, lanjut Sahat, Harga Patokan Ekspor (HPE) CPO \nsebesar US$ 625 per ton. Harga CPO diperkirakan Sahat akan rendah hingga\n Maret 2015. Perlambatan ekonomi global berpengaruh terhadap harga-harga\n barang komoditas, termasuk kelapa sawit. Permintaan sawit dari Tiongkok\n dan negara maju dalam beberapa tahun terakhir ini tidak begitu agresif.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSahat mengatakan volume ekspor produk hilir sawit pada 2012-2014 \ngrafiknya menurun. Jumlah total ekspor produk sawit sebanyak 20,7 juta \nton. Sedangkan tahun 2013, volume ekspor produk sawit mencapai 22,9 juta\n ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EInsentif\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSahat mengusulkan pemerintah memberikan insentif fiskal dalam bentuk \u003Cem\u003Etax holiday\u003C\/em\u003E untuk perusahan yang berinvestasi di Industri Hilir Kelapa Sawit yang nilainya di atas Rp 1 triliun.\u003Cem\u003E Tax allowance\u003C\/em\u003E\n bagi investasi pun diperlukan bagi investor yang berinvestasi di luar \npulau Sumatera dan Jawa. Investasi industi hilir sawit diperkirakan \nmencapai $ 2,03 miliar dalam rentang periode 2013-2015.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelama ini produk CPO Indonesia sangat bergantung pada pasar luar \nnegeri alias ekspor. Sekitar 70 % dari total produksi CPO di ekspor ke \nEropa, Amerika dan negara-negara lainnya. Sedangkan pasar dalam negeri \nhanya mampu menyerap sekitar 30 %. Daya saing produk sawit Indonesia \nrelatif rendah dibandingkan negara produsen lainnya. Industri hilir \nsawit pun cenderung melambat. Untuk itu, penyerapan produk sawit yang \ndiproses di dalam negeri perlu ditingkatkan bersama-sama antara \npengusaha sawit dan pemerintah. (***)\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5256090553991975270"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5256090553991975270"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/ekspor-produk-sawit-2015-ditargetkan.html","title":"Ekspor Produk Sawit 2015 Ditargetkan 23,7 Juta Ton"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-qeQcU1OrHGw\/VOgioBrg2WI\/AAAAAAABKik\/V4YEhixeqvw\/s72-c\/sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6315794845488468581"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:14:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:14:26.734+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Taipan Sawit Kuasai Lahan Hampir Setengah Pulau Jawa"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-6FUjoWBucNc\/VOgiNWcuhZI\/AAAAAAABKic\/NCOHo5eEQo4\/s1600\/kebunsawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-6FUjoWBucNc\/VOgiNWcuhZI\/AAAAAAABKic\/NCOHo5eEQo4\/s1600\/kebunsawit.jpg\" height=\"183\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"color: #666666;\"\u003E\u003Cstrong\u003ETEMPO.CO\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E, \u003Cspan style=\"color: #666666;\"\u003E\u003Cstrong\u003EJakarta\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\n - Sebanyak 25 grup perusahaan kelapa sawit menguasai lahan seluas 5,1 \njuta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 \nkilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), \nsebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum \nditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta \nhektare.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Kelompok perusahaan itu dikendalikan 29 taipan yang \nperusahaan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar \nnegeri,” kata Direktur Program Transformasi untuk Keadilan (TuK) \nIndonesia, Rahmawati Retno Winarni, Jumat, 13 Februari 2015. Lembaga TuK\n dan Profundo merilis hasil riset dengan judul \"Kendali Taipan atas Grup\n Perusahaan Kelapa Sawit di Indonesia\".\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenelitian yang dilakukan\n sejak tahun lalu itu mendapatkan data bahwa kekayaan total mereka pada \n2013 sebesar US$ 71,5 miliar atau Rp 922,3 triliun. Angka konservatif \nini diperoleh dari kajian yang dibuat \u003Cem\u003EForbes\u003C\/em\u003E dan \u003Cem\u003EJakarta Globe\u003C\/em\u003E. Sebagian besar kekayaan tersebut didapat dari bisnis perkebunan sawit, dan beberapa bisnis lainnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut Rahmawati Retno Winarni atau Wiwin, pemilihan 25 grup bisnis sawit terbesar itu didasari data dari laporan tahunan, \u003Cem\u003Ewebsite\u003C\/em\u003E perusahaan, kajian \u003Cem\u003EThomson\u003C\/em\u003E dan \u003Cem\u003EBloomberg\u003C\/em\u003E,\n serta lembaga lainnya. Ada 11 perusahaan yang terdaftar di bursa efek \ndi Jakarta, lalu 6 di bursa efek Singapura, 3 di Kuala Lumpur, dan satu \nperusahaan di bursa efek London.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun perusahaan terbuka \ntersebut, kata Wiwin, tidak sungguh-sungguh dimiliki publik, karena \ntaipan adalah pemegang saham yang dominan, dengan penguasaan 20-80 \npersen saham. “Kepemilikan saham dilakukan melalui ‘perusahaan cangkang’\n di negara-negara ramah pajak,” kata dia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESiapa para taipan–yang \ndalam bahasa Jepang artinya tuan besar–yang menguasai kelompok \nperusahaan sawit itu? Mereka adalah Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus\n dkk), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto),\n Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine \nMatheson  (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting  (Lim Kok Thay, \nMalaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), Surya Dumai (Martias dan \nCiliandra Fangiono), dan Provident Agro (Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga \nUno).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo \n(George Tahija), Bakrie  (Aburizal Bakrie), BW Plantation-Rajawali \n(Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny \nSubianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI \n(Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas \n(Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung \nLingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, \ndan Budhi Istanto), dan Triputra (TP Rachmat dan Benny Subianto).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDi\n antara mereka, kelompok perusahaan yang paling besar memiliki lahan \nsawit adalah Grup Sinar Mas, Grup Salim, Grup Jardine Matheson, Grup \nWilmar, dan Grup Surya Dumai. Riset yang dilakukan TuK Indonesia dan \nProfundo menemukan bahwa ke-25 kelompok perusahaan ini menguasai 62 \npersen lahan sawit di Kalimantan (terluas di Kalimantan Barat, diikuti \nKalimantan Tengah dan Kalimantan Timur). Kemudian 32 persen di Sumatera \n(terluas di Riau diikuti Sumatera Selatan), 4 persen di Sulawesi, dan 2 \npersen di Papua.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EEkspansi perkebunan kelapa sawit di Tanah Air \nmemang besar-besaran. “Dalam 5 tahun pertumbuhannya 35 persen,” kata Jan\n Willem van Gelder, Direktur Profundo, lembaga riset ekonomi yang \nberkedudukan di Amsterdam. Pada 2008, luas perkebunan sawit sebanyak 7,4\n juta hektare dan saat ini mencapai 10 juta hektare. “Rata-rata setahun \npertambahannya 520.000 hektare atau seluas Pulau Bali.”\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDirektur \nEksekutif TuK Indonesia, Norman Jiwan, menjelaskan ekspansi dalam skala \nyang luar biasa tersebut menciptakan masalah lingkungan dan sosial yang \nserius. Hal itu dimulai dari  konversi sejumlah besar hutan yang \nberharga, terancam punahnya habitat spesies yang dilindungi, dan emisi \ngas rumah kaca karena pengembangan lahan gambut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBelum lagi, \nbanyak masyarakat kehilangan akses terhadap tanah yang sangat penting \nuntuk hidupnya. \"Padahal tanah itu bagian dari kelangsungan hidup, hak \nhukum atau adat selama beberapa generasi,\" kata Norman. Selain itu, \nkonflik lahan sering kali terjadi antara warga dengan pengelola \nperkebunan.\u003Cstrong\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUNTUNG WIDYANTO\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6315794845488468581"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6315794845488468581"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/taipan-sawit-kuasai-lahan-hampir.html","title":"Taipan Sawit Kuasai Lahan Hampir Setengah Pulau Jawa"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-6FUjoWBucNc\/VOgiNWcuhZI\/AAAAAAABKic\/NCOHo5eEQo4\/s72-c\/kebunsawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5565714344967258845"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:11:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:11:33.066+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Nilai Regulasi Indonesia Tidak Tegas, Harga Hasil Perkebunan Anjlok"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMedanBisnis - Medan. Sekretaris Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia\n (Apkasindo) Sumatera Utara (Sumut), Amar Arsyad menyebutkan, penyebab \nanjloknya harga hasil perkebunan di Sumut bukan karena peraturan baru \ndari pihak pasar dunia terkait pembatasan ekspor terutama untuk karet \ndan kelapa sawit. Namun, karena regulasi Indonesia yang tidak tegas dan \nseakan-akan membunuh petani di negeri sendiri.\n              \n            \n            \n              \n                \"Petani kita banyak yang tinggal di kawasan hutan, \nsetelah dibuka lahan malah ada konsep hutan yang tidak boleh menebang \nhutan untuk membuka lahan perkebunan. Memang ini benar tetapi mengapa \ntidak dipertimbangkan terlebih dahulu dampaknya bagi petani sendiri. Di \nsini terlihat bahwa RTRW pemerintah kita sendiri yang tidak jelas,\" \ntegasnya kepada MedanBisnis, Kamis (12\/2) di Medan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHal ini, \nterlihat dengan adanya Undang- undang (UU) Nomor 18 tahun 2013 tentang \npencegahan dan pemberantasan perusakan hutan. Inilah sebenarnya yang \ndapat membunuh para petani.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Itukan sebenarnya tidak benar, jadi \njangan hanya menyalahkan orang asing dan pengimpor hasil perkebunan \nkita, peraturannya lah yang seharusnya diperbaiki,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKarena\n itu, lanjutnya, Apkasindo menegaskan agar Sumut menghentikan ekspor \nhasil perkebunan ke luar negeri terutama CPO ke Eropa. Ini sudah \ndiusulkan kepada pemerintah, agar hilirasasi lebih diperkuat. Contohnya,\n penggunaan biodiesel serta peningkatannya dari 5% menjadi 10 hingga 15 \npersen.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDi Amerika Latin kata dia, sudah menggunakan biodiesel, \nsementara di Indonesia belum menggunakannya. \"Disinilah kita lihat \npemerintah begitu lambat. Eropa itu tidak ada apa-apanya. Saya sempat \nkampanye di Belgia pada Januari lalu dan bertemu dengan Ketua Parlemen \nUni Eropa dan mengusulkan soal ini. Tapi ia hanya tersenyum, inilah \nterlihat regulasi kita memang tidak jelas, apalagi keberpihakan \npemerintah yang kurang terhadap petani, sementara petani perkebunan \nadalah penyumbang devisa sebesar 45 persen,\" ucapnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKarena itu,\n kata dia, untuk memberikan ketegasan kepada Uni Eropa, stop ekspor \nhasil perkebunan ke Eropa, perbaiki regulasi dan perkuat hilirisasi. (cw\n 01)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5565714344967258845"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5565714344967258845"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/nilai-regulasi-indonesia-tidak-tegas.html","title":"Nilai Regulasi Indonesia Tidak Tegas, Harga Hasil Perkebunan Anjlok"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5238193996978331044"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:05:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:05:15.475+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Riset LSM Dinilai Ganggu Investasi Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan itemprop=\"contentLocation\" style=\"font-weight: bold;\"\u003EJAKARTA\u003C\/span\u003E - \u003Cspan itemprop=\"articleBody\"\u003EKementerian\n Pertanian, asosiasi industri, dan anggota DPR mempertanyakan maraknya \nriset dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengaitkan penguasaan \nlahan perkebunan kelapa sawit dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM)\n berupa perampasan lahan, perusakan lingkungan, serta konflik sosial. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ERiset\n yang mengarah pada kampanye negatif itu terbukti mengganggu \nperkembangan budi daya sawit dan merusak iklim investasi di negeri ini. \nSekjen Kementerian Pertanian (Kementan) Hari Priyono menegaskan, \nperkebunan kelapa sawit masih banyak dimiliki oleh para petani. Dia pun \nmenepis tudingan yang menyebutkan perkebunan sawit dikuasai oleh \nperusahaan-perusahaan besar. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Kelapa sawit memiliki peran besar \nbagi ekonomi Indonesia, saat ini luas lahan kelapa sawit 10,5 juta \nhektare (ha), 4,4 juta ha dimiliki oleh petani. Dengan data itu, tidak \nbenar kalau perkebunan kelapa sawit dikuasai perusahaan besar,” kata \nHari. Data Kementan tersebut juga mematahkan riset yang dilakukan LSM \nyang menyebutkan 25 grup bisnis milik taipan di Indonesia memiliki \nkendali atas 5,1 juta ha kebun sawit di Tanah Air. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESekretaris \nJenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko \nSupriyono mengatakan, masalah penguasaan lahan tidak sama sekali \nberhubungan dengan masalah HAM, melainkan prosedur hukum. Perusahaan \nyang memiliki lahan sudah memiliki aturan tersendiri. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Tidak ada\n hubungannya dengan HAM karena aturan kepemilikan lahan sudah jelas. \nKetika ada yang keberatan, perusahaan pun memiliki prosedur sendiri \nuntuk menyelesaikan masalah itu misalnya dengan dialog dan negosiasi \nuntuk kompensasi,” ucapnya. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDia mengatakan, struktur kepemilikan\n lahan sekitar 42% dimiliki oleh petani, sedangkan 58% itu dimiliki \nperusahaan negara (PTPN) maupun swasta. Joko mengungkapkan, perusahaan \nbesar kelapa sawit dibutuhkan karena memiliki sumber daya, teknologi, \ndan modal yang kuat. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut Joko, riset yang dilakukan \nseharusnya juga dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua \npemangku kepentingan sehingga tak melihat dari satu sisi tertentu saja. \nTerkait dengan lahan, jalan yang bisa ditempuh terakhir adalah melalui \njalur hukum. ”Prosedurnya adalah dialog bilateral untuk negosiasi. Jika \ntak berhasil, dilakukan mediasi oleh pemerintah,” katanya. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Namun,\n jika ini gagal, yang bisa ditempuh adalah melalui jalur hukum.” Dia \nmenuturkan, ekspansi perusahaan sawit berkaitan dengan penggunaan minyak\n nabati untuk kebutuhan pangan. Masalahnya, ekspansi untuk meningkatkan \nproduksi selalu diserang dengan berbagai kampanye negatif, termasuk \nriset oleh pihak tertentu dengan mengatasnamakan kerusakan lingkungan, \nperubahan iklim, hingga masalah HAM. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Padahal substansinya \nadalah kompetisi pasar minyak nabati global,” kata kandidat kuat ketua \numum Gapki ini. Achmad Manggabarani, ketua Forum Pengembangan Perkebunan\n Strategis Berkelanjutan (FP2SB), menilai maraknya riset yang dilakukan \noleh LSM memang cenderung mendiskreditkan industri kelapa sawit di \nIndonesia dan dapat dikategorikan kampanye negatif. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Karena itu,\n kita harus mempertanyakan riset tersebut, apa maksud dan tujuannya, \nbagaimana metodenya,” ungkapnya. Menurut dia, sudah semestinya seluruh \nstakeholders tunduk kepada data pemerintah yang bertugas mengatur \nperkembangan industri. Itu perlu mengingat industri kelapa sawit \nmemberikan kontribusi yang besar bagi devisa negara, tenaga kerja, dan \npemerataan pembangunan di daerah. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Jangan sampai riset yang \nbelum valid itu justru dijadikan patokan, padahal pemerintah sebagai \notoritas yang berwenang memiliki data yang berbeda,” kata Manggabarani \nyang juga mantan Dirjen Perkebunan ini. Firman Subagyo, anggota Komisi \nIV DPR, juga menilai sudah cukup lama komoditas sawit di Indonesia \nmenghadapi gencarnya kampanye hitam dari berbagai penjuru, terutama LSM.\n \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E”Kita mestinya jangan langsung percaya dengan riset LSM \ntersebut, harus dicek lagi bagaimana metodenya, apa saja samplingnya,” \nucapnya. Jika riset itu berbeda dengan data pemerintah, stakeholders \nbisa melayangkan protes terhadap riset tersebut. ”Apa maksud dan tujuan \ndilakukannya riset itu, perlu didalami sehingga tidak kontraproduktif,” \nkatanya. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETungkot Sipayung, direktur eksekutif Palm Oil \nAgribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), menambahkan dari total \nluas kebun sawit di Indonesia, petani menguasai 46% lahan kebun sawit, \nditambah BUMN 10%, dan swasta 44%. Dari jumlah itu, swasta terbagi dua, \nasing 30% dan sisanya lokal. Ke depan, kata Tungkot, diproyeksikan \npenguasaan lahan sawit oleh petani akan meningkat menjadi 51% pada 2020 \nseiring peningkatan kesejahteraan dan program kemitraan korporasi dengan\n petani plasma.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ESudarsono\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5238193996978331044"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5238193996978331044"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/riset-lsm-dinilai-ganggu-investasi-sawit.html","title":"Riset LSM Dinilai Ganggu Investasi Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2083932891527406235"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:05:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:05:06.728+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Antisipasi Dampak Perkebunan Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003ETENGGARONG\u003C\/b\u003E - Industri kelapa sawit beberapa tahun \nterakhir di Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami perkembangan cukup \npesat. Perkebunan sawit di Kukar kini mencapai 883,31 hektare. Hal \ntersebut diungkapkan anggota Komisi III DPRD Kukar Komisi III Johansyah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa menjelaskan, kebutuhan minyak nabati dan bahan baku biofuel\u0026nbsp;telah\u0026nbsp;mendorong\u0026nbsp;peningkatan\u0026nbsp;permintaan\u0026nbsp;\u003Ci\u003Ecrude\u0026nbsp;palm\u0026nbsp;oil\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E(CPO).\n Sawit ini memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar tujuh ton per \nhektare. Dibandingkan dengan kedelai yang hanya tiga ton per hektare. \n“Kukar memiliki luas wilayah untuk pengembangan perkebunan sawit. Tetapi\n yang perlu diperhatikan secara seksama dampak lingkungan yang \nditimbulkan,” kata Johansyah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa menilai, dampak negatif dari perkebunan sawit pasti ada. Dari \nbeberapa kajian yang dia dengar, yakni secara ekologis adalah sistem \nmonokultur pada perkebunan kelapa sawit telah merubah ekosistem hutan. \nIni menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, ekosistem hutan hujan \ntropis, serta \u0026nbsp;sejumlah spesies tumbuhan dan hewan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Persoalan sawit dari dampak lingkungan sosial rawan konflik di \nmasyarakat. Seperti terjadi di beberapa kawasan perkebunan sawit di \nKukar. Di mana pihak masyarakat dan perusahaan berseteru karena klaim \nkepemilikan lahan,” ungkap Johansyah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSedangkan hal positif yang dapat diperoleh dari perkebunan sawit, \nyakni meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), memperluas lapangan \npekerjaan, dan meningkatkan produktivitas dan daya saing pekerjaan. \n“Menurut saya, segala sesuatu yang dikerjakan pasti ada dampaknya. \nSehingga kita dituntut lebih bijak menanggapi segala persoalan yang \nada,” tandasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKendati demikian, persoalan sawit dari sisi dampak tak bisa dipandang \nsebelah mata. Sehingga perlu pengawasan secara konsisten. Mengingat \npersoalan tambang yang sudah banyak menimbulkan dampak lingkungan yang \nada di Kukar sehingga kerja sama masyarakat dan perusahaan sangat \ndibutuhkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dampak lingkungan akibat tambang sudah kita rasakan, jangan sampai \npersoalan sawit juga demikian. Kasihan anak cucu kita nantinya kalau \nterus dibiarkan, karena mereka yang akan merasakan,” tutupnya. \u003Cb\u003E(adv\/*\/rvj\/kri\/k8)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2083932891527406235"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2083932891527406235"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/antisipasi-dampak-perkebunan-sawit.html","title":"Antisipasi Dampak Perkebunan Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7706998262844492069"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:04:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:04:57.342+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga TBS Sawit Turun Rp 31,60\/Kg"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAreQ\/_1TVC4qkKOs\/s1600\/kelapa-sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAreQ\/_1TVC4qkKOs\/s1600\/kelapa-sawit.jpg\" height=\"240\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMedanBisnis\n - Pekanbaru. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau periode\n 16-22 Juli 2014, umur sepuluh tahun ke atas, mencapai Rp1.884,24 per kg\n atau turun Rp31,60 per kg dibandingkan dengan harga seminggu sebelumnya\n yakni Rp1.915,84 per kg.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Penurunan harga TBS kelapa sawit Riau antara lain \ndipengaruhi harga CPO di Bursa Malaysia pada awal perdagangan hari ini \n(Selasa, 15\/7) terpantau sedang mengalami pergerakan melemah,\" kata \nKepala Dinas Perkebunan Riau Zulher di Pekanbaru, Selasa (15\/7).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut\n Zulher, pelemahan harga CPO di Bursa Malaysia masih dipicu oleh tekanan\n kuat dari anjloknya harga faktor substitusi khususnya kedelai.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUntuk\n kedelai, katanya, pelemahan harga terjadi akibat potensi lonjakan \nsignifikan pada output kedelai AS, dan terpantau memberi tekanan \nsentimen negatif kuat terhadap pergerakan harga CPO Indonesia. \n\"Persediaan CPO yang dikabarkan oleh MPOB sedang menurun, bahkan tidak \nmampu untuk mengangkat harga CPO untuk kembali menguat di Bursa \nMalaysia. Pelemahan harga CPO tersebut dilandasi oleh hubungan \nsubstitusi produk turunan khususnya pada olahan minyak nabati yang dapat\n diproduksi baik dengan bahan baku CPO maupun kedelai,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nIa\n menyebutkan pada perdagangan (Senin, 14\/7) di Bursa Malaysia, harga CPO\n terpantau mengalami pergerakan melemah. Harga CPO berjangka Bursa \nMalaysia untuk kontrak September 2014 turun 1,11% ke tingkat harga 2.320\n RM per ton atau melemah 26 RM per ton.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSedangkan dari Bursa ICDX\n (Indonesia Commodity and Derivates Exchange), harga CPO terpantau juga \nbergerak melemah pada perdagangan hari ini.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Harga CPO berjangka \nICDX untuk kontrak Agustus 2014 turun 0,50 persen ke tingkat harga Rp \n9.140 atau melemah Rp45. Selain faktor anjloknya harga kedelai global, \nharga CPO juga tertekan oleh ekspektasi akan penurunan impor CPO oleh \nIndia,\"katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSedangkan dari Bursa ICDX, harga CPO sedang \nmengalami pergerakan menguat. Harga CPO berjangka ICDX untuk kontrak \nAgustus 2014 naik 0,66% ke tingkat harga Rp9.115 atau menguat Rp60. \n(ant)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7706998262844492069"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7706998262844492069"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/harga-tbs-sawit-turun-rp-3160kg.html","title":"Harga TBS Sawit Turun Rp 31,60\/Kg"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAreQ\/_1TVC4qkKOs\/s72-c\/kelapa-sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5599687897283042703"},"published":{"$t":"2015-02-21T13:04:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T13:04:04.443+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kerugian Potensial Industri Sawit Capai Rp 127 Triliun"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EJakarta\u003C\/strong\u003E-Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia \n(Gapki) menyatakan bahwa penghentian sementara (moratorium) perizinan di\n atas hutan alam primer dan lahan gambut membuat tidak ada lagi ekspansi\n lahan perkebunan sawit di Tanah Air. Akibatnya, industri sawit \nkehilangan potensi pendapatan (\u003Cem\u003Epotential loss\u003C\/em\u003E) sebesar US$ 10 \nmiliar atau setara Rp 127 triliun sejak kebijakan moratorium tersebut \ndiberlakukan pada Mei 2011 melalui Inpres No 10 Tahun 2011.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJuru bicara Gapki Tofan Mahdi mengungkapkan, potensi kehilangan \npendapatan tersebut dengan asumsi perolehan devisa ekspor yang tidak \nmaksimal karena tidak bertambahnya luas lahan sawit. Itu belum \nmemasukkan besarnya penyerapan tenaga kerja yang ditimbulkan dengan \nadanya ekspansi lahan sawit. “Industri sawit begitu strategis, pada 2014\n misalnya sumbangan devisa dari sawit mencapai US$ 21 miliar, nomor satu\n dari sektor nonmigas,” kata dia kepada \u003Cem\u003EInvestor Daily\u003C\/em\u003E di Jakarta, Senin (16\/2).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKebijakan moratorium tersebut keluar saat pemerintahan SBY dan akan \nberakhir pada Mei 2015, hingga saat ini belum jelas apakah akan \ndiperpanjang masa berlakunya. Kebijakan moratorium pertama kali keluar \npada Mei 2011 melalui Inpres No 10 Tahun 2011 tentang Penundaan \nPemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan \nLahan Gambut dan berlaku sampai Mei 2013. Aturan itu kembali \ndiperpanjang dua tahun atau sampai Mei 2015 melalui Inpres No 6 Tahun \n2013.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Tofan, sejak adanya kebijakan itu, tidak ada ekspansi lahan \nsawit di Tanah Air. Kalaupun ada ekspansi, itu hanya bisa dilakukan di \nlahan terdegradasi yang saat ini pengusaha tidak tahu bagaimana peta dan\n regulasinya. Atau kalau ada perusahaan sawit yang bertambah lahannya, \nbisa jadi itu karena perusahaan bersangkutan mengambil alih lahan dari \nperusahaan lain. “Potential loss yang dialami industri sawit sejak \nadanya kebijakan moratorium itu mencapai US$ 10 miliar,” ungkap dia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPernyataan Gapki itu sekaligus menjadi penyeimbang atas hasil \npenelitian Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia yang menyebutkan \nbahwa ekspansi perkebunan sawit di Tanah Air pada 2008-2013 mencapai \n520.000 hektare (ha) setiap tahunnya. Pada 2008, luas lahan sawit di \nIndonesia hanya 7,4 juta ha, namun pada 2013 sudah mencapai 10 juta ha. \nEkspansi tertinggi terjadi di Riau, disusul Sumatera Utara, Kalimantan \nTengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi sisi lain, penelitian TuK juga menyebutkan, dari total lahan sawit\n yang ditanami di Indonesia, sedikitnya 31% atau 3,1 juta ha \ndikendalikan 25 kelompok perusahaan. Di luar itu, ke-25 grup usaha milik\n 29 taipan tersebut masih memiliki dua juta ha lahan yang belum ditanami\n (\u003Cem\u003Eland bank\u003C\/em\u003E). Dengan begitu, 25 grup usaha itu menguasai 5,1 \njuta ha lahan sawit di Tanah Air atau 51% dari total areal tanam \nperkebunan sawit saat ini. (\u003Cem\u003EInvestor Daily\u003C\/em\u003E; Edisi Jumat, 13 Februari 2015).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Tofan Mahdi, bisa jadi penelitian TuK Indonesia tidak \nmemasukkan asumsi tentang adanya kebijakan moratorium perizinan di atas \nhutan alam dan lahan gambut. Padahal, kebijakan moratorium tersebut \nmembuat tidak ada ekspansi lahan yang dilakukan oleh perusahaan \nperkebunan sawit nasional. “Apakah TuK Indonesia sudah tahu kalau masih \nada kebijakan moratorium yang membuat tidak ada ekspansi lahan sawit di \nIndonesia?” ungkap Tofan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTerkait kepemilikan lahan oleh 25 kelompok usaha, Gapki menilai TuK \nIndonesia hanya mengambil dari laporan keuangan perusahaan, terutama \nyang sudah terbuka (Tbk). Dalam catatan Gapki, saat ini ada 3.600 \nperusahaan sawit dan 700 perusahaan di antaranya yang menjadi anggota \nGapki. “Lalu angka 31% lahan sawit yang dikuasai 25 kelompok perusahaan \nitu data dari mana? Metodenya bagaimana?” ungkap Tofan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGapki menyatakan bahwa dari total kebun sawit di Tanah Air seluas \nsembilan juta ha, seluas 35% di antaranya dimiliki oleh perusahaan \nnegara (PTPN dan PT RNI), lalu seluas 30% dimiliki perusahaan besar \nswasta, termasuk asing, dan 40% lainnya dimiliki oleh perkebunan rakyat.\n “Jadi, lahan sawit di Indonesia itu mayoritas dimiliki oleh rakyat,” \nkata dia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia juga mengungkapkan, hasil penelitian TuK Indonesia yang \nmenyatakan bahwa perkebunan sawit telah merampas lahan masyarakat juga \ntidak benar. Perusahaan sawit di Indonesia umumnya telah memenuhi \nstandar pengelolaan perkebunan yang baik dengan mengantungi sertifikasi \nRSPO (\u003Cem\u003ERoundtable on Sustainable Palm Oil\u003C\/em\u003E) yang bersifat sukarela dan ISPO (\u003Cem\u003EIndonesian Sustainable Palm Oil\u003C\/em\u003E)\n yang bersifat mandatori. “Kalau melakukan itu (perampasan lahan) tentu \ntidak akan mendapat sertifikat karena sertifikat ini bersifat legal yang\n membuktikan perusahaan sawit memnuhi standar yang berlaku,” kata dia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenulis: Tri Listiyarini\/PCN \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5599687897283042703"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5599687897283042703"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/kerugian-potensial-industri-sawit-capai.html","title":"Kerugian Potensial Industri Sawit Capai Rp 127 Triliun"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-9161847988363530813"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:59:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:59:23.963+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Minyak Sawit Mentah Sumsel Berangsur Naik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-zS8ZxIqz78E\/VOgenHK8MXI\/AAAAAAABKiM\/KOtWtIfJFvI\/s1600\/p62VJYIU2x.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-zS8ZxIqz78E\/VOgenHK8MXI\/AAAAAAABKiM\/KOtWtIfJFvI\/s1600\/p62VJYIU2x.jpg\" height=\"212\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EMetrotvnews.com, Palembang: \u003C\/strong\u003EAntara \u003Cspan\u003E- 18 Februari 2015 12:30 WIB - \u003C\/span\u003EDinas Perkebunan Sumatera \nSelatan (Sumsel) mencatat harga minyak sawit mentah di provinsi ini, \nRabu (18\/2\/2015), dipatok Rp7.652 per kilogram, atau berangsur naik \ndibandingkan kondisi dua pekan sebelumnya hanya Rp7.558 per kg.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sumsel Benyamin \nmengatakan harga beli minyak sawit mentah (CPO) di daerah ini berangsur \nnaik dibandingkan kondisi dua pekan sebelumnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Naiknya harga tersebut menyesuaikan dengan pasaran di luar negeri \n(ekspor), juga berdasarkan kesepakatan melalui rapat rutin dua kali \nsebulan antara Dinas Perkebunan setempat dengan pengusaha perkebunan \nbesar\u003Cbr \/\u003E\nswasta nasional di daerah ini,\" katanya di Palembang, Rabu (18\/2\/2105).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut dia, dalam rapat rutin itu, harga CPO pekan ini ditetapkan \nmenjadi Rp7.652 per kilogram, ternyata ada terjadi kenaikan dibandingkan\n dengan kondisi dua pekan sebelumnya kisaran Rp7.558 per kg.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDia menyebutkan, naiknya harga CPO tersebut diikuti perkembangan harga \nbuah sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari \nRp1.386 per kg naik menjadi Rp1.405 per kg. Hasil CPO sumsel selain di \nekspor, sebagian diolah di dalam negeri dan khusus di Sumatera Selatan \nada beberapa industri sudah mampu mengolah menjadi minyak goreng curah, \nbahkan dua pabrik lagi mampu memproses menjadi minyak goreng kemasan \nbermerek.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKhusus minyak goreng kemasan bermerek biasanya dipasarkan melalui \nsejumlah toko swalayan dan supermarket dengan harga lebih tinggi \ndibandingkan dalam bentuk minyak goreng curah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut dia, Sumsel merupakan salah satu provinsi sentra perkebunan \nkelapa sawit dan karet di Indonesia, dan hasilnya sebagian untuk \nmemenuhi kebutuhan dalam negeri serta selebihnya diekspor. Sementara, \nsentra perkebunan kelapa sawit di Sumsel, antara lain di Kabupaten \nMuaraenim, Lahat, Musibanyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan \nKomering Ulu, dan Musirawas dengan total luas areal mencapai lebih \nkurang 700.000 hektar. \u003Cbr \/\u003E\n  WID  \n \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9161847988363530813"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9161847988363530813"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/harga-minyak-sawit-mentah-sumsel.html","title":"Harga Minyak Sawit Mentah Sumsel Berangsur Naik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-zS8ZxIqz78E\/VOgenHK8MXI\/AAAAAAABKiM\/KOtWtIfJFvI\/s72-c\/p62VJYIU2x.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5075320355878490302"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:51:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:51:27.503+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"PPN pada Sawit Bikin Harga Minyak Goreng Naik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"entry-content\"\u003E\n    \u003Cdiv class=\"text-detail\" itemprop=\"description\"\u003E\n    \u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Y_UK5bq2bkI\/VOgcv4ipWLI\/AAAAAAABKh8\/cdeNWVRMDfM\/s1600\/Minyak-Goreng.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Y_UK5bq2bkI\/VOgcv4ipWLI\/AAAAAAABKh8\/cdeNWVRMDfM\/s1600\/Minyak-Goreng.jpg\" height=\"177\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003ELiputan6.com, Jakarta -\u003C\/b\u003E Produsen pengolahan kelapa sawit \nmengaku tidak keberatan dengan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) \nsebesar 10 persen untuk produk turunan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelama ini kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang bebas PPN \ndengan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 31 tahun 2007.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E\n Komisaris Wilmar Grup MP Tumanggor mengatakan yakin dengan kebijakan \nyang diambil pemerintah dalam hal ini tidak akan memberatkan produsen \npengolah kelapa sawit dalam negeri.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E \"Saya kira pemerintah dalam\n menetapkan PPn ini juga ada pertimbangannya, pasti itu baik untuk \nnegara dan juga untuk petani. Pasti ada pertimbangan khusus. Jangan \ndilihat, kok sawit kena PPn?,\" ujarnya di Kantor Kementerian \nPerindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (16\/7\/2014).\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E Dia \nmencontohan retritusi pajak yang selama ini diberikan kepada industri \nCPO yang intergrasi mulai dari perkebunan, pabrik pengolahan hingga \nproduk jadi dinilai tidak memberatkan industri.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E \"Misalnya ada \nkaitan dengan restitusi. Kalau dia teritegrasi bisa direstitusi. Jadi \nkalau dia punya kebun, punya pabrik. Kalau dia tidak terintegrasi itu \ntidak bisa direstitusi. Jadi ada PPN tidak berarti menyulitkan kita. \nNegara pasti pasti memikirkan terbaik untk perusahaan,\" lanjut dia.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E\n Meski demikian, Tumanggor tidak membantah jika pengenaan PPN ini akan \nberpengaruh terhadap harga jual produk olahan kelapa sawit seperti \nminyak goreng. Namun dia belum bisa memastikan berapa kenaikan harga \nakibat PPN ini.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E \"Nanti kita liat analisanya bagaimana, nanti \nada hitung-hitungannya. Ini kan 10 persen, ya bisa saja (naik). Tapi \nkita belum punya hitung-hitungannya. Mungkin saja minyak goreng yang \ntadinya Rp 7 ribu jadi Rp 7.010, kita belum tahu. Tapi kita tidak \napa-apa. Kalau tidak ada yang bayar pajak, nanti siapa yang bayar PNS,\" \ntandasnya.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E Seperti diketahui, Mahkamah Agung (MA) telah \nmembatalkan sejumlah pasal pada PP nomor 31 tahun 2007 yang menetapkan \nbarang hasil pertanian yang dihasilkan dari usaha pertanian, perkebunan,\n dan kehutanan, sebagai barang yang dibebaskan dari pengenaan PPn. Salah\n satu hasil perkebunan yang batal dibebaskan PPn yaitu kelapa sawit. \n(Dny\/Nrm)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5075320355878490302"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5075320355878490302"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/ppn-pada-sawit-bikin-harga-minyak.html","title":"PPN pada Sawit Bikin Harga Minyak Goreng Naik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Y_UK5bq2bkI\/VOgcv4ipWLI\/AAAAAAABKh8\/cdeNWVRMDfM\/s72-c\/Minyak-Goreng.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6697596121427258889"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:44:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:44:36.102+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Minamas Fokus Penuhi Permintaan CPO di Dalam Negeri "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan id=\"advenueINTEXT\" name=\"advenueINTEXT\"\u003E\u003Cstrong\u003ESkalanews\u003C\/strong\u003E\n - PT Minamas Plantation Indonesia masih tetap fokus memenuhi permintaan\n Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri, meskipun tidak menutup \nkemungkinan ekspor ke luar negeri.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Saat ini kami masih fokus \nmelayani permintaan dalam negeri (Indonesia), tetapi tidak menutup \nkemungkinan melakukan ekspor,\" ujar Presiden Direktur Minamas \nPlantation, Mohd Ghozali Yahaya saat berbuka bersama di Banjarbaru, \nKalsel, Senin (14\/7).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EGhozali menambahkan pihaknya terus berupaya\n meningkatkan kualitas produksi CPO melalui sertifikasi standar mutu \nperkebunan sawit berkelanjutan atau \u003Cem\u003ERoundtable of Sustainable Palm Oil\u003C\/em\u003E (RSPO).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Setiap\n produk CPO yang dihasilkan PT Minamas secara bertahap mengantongi \nsertifikasi RSPO sehingga mampu memenuhi permintaan pelanggan maupun \npasar yang memerlukan produk berkualitas,\" ungkapnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDijelaskan,\n RSPO adalah organisasi internasional yang menerbitkan sertifikat \nstandar mutu perkebunan kelapa sawit dimana produsen minyak kelapa sawit\n berkomitmen melakukan operasional sesuai standar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaat ini, kata\n dia, sudah tiga anak perusahaan PT Minamas yang mengantongi sertifikat \nRSPO dan ke depan seluruh anak perusahaan yang tersebar pada delapan \nprovinsi bisa mendapat sertifikat internasional itu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Langkah \nyang dilakukan adalah menjalin kerja sama intensif, fasilitas dan \npelatihan serta bimbingan bagi petani plasma sehingga produksi seluruh \nanak perusahaan bisa meraih sertifikat RSPO pada 2020,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDikatakan,\n tingkat pertumbuhan kelapa sawit dan produktivitas CPO di Kalimantan \ncukup baik, disamping perkebunan lain yang tersebar pada empat provinsi \ndi Sumatra yakni Jambi, Aceh, Riau dan Sumsel.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Perkebunan kelapa\n sawit di Kalimantan tersebar pada empat provinsi yakni Kalsel, Kalteng,\n Kaltim dan Kalbar dimana tingkat pertumbuhan dan produktivitas CPO \ncukup baik,\" sebutnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETerkait penurunan harga produk CPO, ia \nmenekankan, langkah yang ditempuh diantaranya mengimbangi dengan \nefesiensi biaya baik produksi maupun peralatan sehingga terhindar dari \nkerugian akibat penurunan harga itu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Melalui langkah strategis \nitu, harga produk CPO yang mengalami penurunan bisa stabil sehingga \nproduk tetap jalan, kualitas selalu terjaga dan keuntungan tetap bisa \ndiperoleh,\" katanya. (\u003Cstrong\u003Ebus\/ant\u003C\/strong\u003E)\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6697596121427258889"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6697596121427258889"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/minamas-fokus-penuhi-permintaan-cpo-di.html","title":"Minamas Fokus Penuhi Permintaan CPO di Dalam Negeri "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1684298795341214432"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:43:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:43:09.116+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Menangkar Sendiri Bibit Sawit Berkualitas"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-d_cRUlK6zpI\/VOga37aVlII\/AAAAAAABKhk\/VldUJeLYDVY\/s1600\/2e1762ab3f2062b8204677ekp-21575.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-d_cRUlK6zpI\/VOga37aVlII\/AAAAAAABKhk\/VldUJeLYDVY\/s1600\/2e1762ab3f2062b8204677ekp-21575.jpg\" height=\"239\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPEKANBARU, GORIAU.COM - Salah satu permasalahan produktifitas kelapa sawit di Riau adalah sumber benih yang tidak berkualitas. Hal itu terutama dialami oleh para petani swadaya yang tidak memiliki dana yang kuat untuk membangun sebuah usaha perkebunan. Mereka beralasan bahwa mahalnya sumber benih berkualitas mengakibatkan mereka lari ke benih tidak berkualitas.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk menyiasati hal itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs H Zulher MS, saat dihubungi Minggu (13\/7\/2014) siang menyarankan kepada petani untuk menangkar sendiri bibit berkualitas tersebut. Dia mengungkapkan penangkaran bibit itu tidak serumit yang dipikirkan petani. Apalagi Dinas Perkebunan Provinsi Riau telah memiliki sebuah Unit Pelayanan Teknis (UPT) Balai Benih yang dapat menjadi wadah konsultasi bagi petani yang berminat untuk menangkar sendiri bibitnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E''Penangkaran bibit tersebut tidak rumit, yang terpenting petani mengetahui tata cara penangkarannya. Dan kita dari Disbun Riau siap membimbing petani yang ingin menangkarkan bibit untuk kebutuhannya. Bahkan petani tersebut dapat juga menjadikan penangkaran bibit berkualitas ini sebagai sumber usaha baru untuk menambah pendapatannya selama proses penanaman kelapa sawit,'' ujar Zulher.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EZulher juga menjelaskan bahwa biaya pembelian kecambah, polybag, tanah hitam atau yang lainnya sama dengan biaya pembelian bibit tidak berkualitas.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E''Rata-rata harga kecambah yaitu diantara Rp 7.000-10.000\/kecambah. Ditambah dengan pembelian Polybag, tanah hitam atau yang lainnya maka harganya masih dibawah harga bibit tidak berkualitas yang berada di kisaran angka Rp 15.000\/batang,'' ujar Zulher.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk sumber benih berkualitas, selain berasal dari PPKS Medan beberapa perusahaan swasta di Riau telah mengembangkan sumber benih yaitu PT. Tunggal Yunus Estate (Topaz), PT. Damimas Sejahtera (Sinar mas) dan PT. Sains (Salim Group).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDitanya tentang seberapa besar minat petani untuk meminta rekomendasi pembelian kecambah kepada Dinas Perkebunan Provinsi Riau, dia mengungkapkan bahwa hingga kini pelaku usaha perkebunan yang meminta rekomendasi cukup banyak. Namun disayangkan petani swadaya yang meminta rekomendasi masih terbilang sedikit. Yang paling banyak meminta rekomendasi adalah perusahaan, penangkar swasta atau para petani yang memiliki modal kuat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E''Jika selama ini alasan petani tidak mau melakukan penangkaran karena mereka hanya butuh sedikit atau modalnya tidak besar. Petani dapat membuat kelompok tani (Poktan). Umpamanya dalam suatu desa atau kecamatan ada 50 petani yang ingin membuka lahan baru, replanting atau revitalisasi maka dapat membentuk kelompok. Dan jika berlebih bibit yang ditangkarkan, mereka dapat menjual bibit mereka tersebut kepada petani lainnya,'' ujar Zulher.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EZulher pun berharap kepada petani dapat menjadi petani yang mengedepankan visi perkebunannya jauh ke masa depan. Jangan sampai karena alasan tidak punya dana maka dibeli bibit tidak berkualitas, sehingga mereka akan merugi puluhan tahun.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E''Jika ingin maju, memang petani harus kreatif, berani dan mau dibimbing pemerintah. Apalagi dengan biaya penangkaran sendiri yang harganya masih dibawah harga pasaran bibit non berkualitas maka tidak alasan sebenarnya bagi petani untuk membeli bibit tidak berkualitas,'' tegas Zulher. (rls)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1684298795341214432"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1684298795341214432"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/menangkar-sendiri-bibit-sawit.html","title":"Menangkar Sendiri Bibit Sawit Berkualitas"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-d_cRUlK6zpI\/VOga37aVlII\/AAAAAAABKhk\/VldUJeLYDVY\/s72-c\/2e1762ab3f2062b8204677ekp-21575.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-136409407348444508"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:40:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:40:25.666+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hilirisasi Minyak Sawit Berhasil Dorong Nilai Tambah Industri Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv\u003E\n \u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cstrong\u003EJAKARTA\u003C\/strong\u003E - Di saat program hilirisasi sektor \npertambangan masih jalan di tempat, sektor minyak kelapa sawit atau \ncrude palm oil (CPO) justru mencatat sukses besar. Direktur Eksekutif \nGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan \nmengatakan, hilirisasi merupakan cara efektif untuk mendorong \u003Cem\u003Emultiplier effect\u003C\/em\u003E di sektor CPO.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  “Indonesia punya potensi besar dan sudah membuktikan bisa sukses,” ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Fadhil menyebut, hilirisasi tidak hanya mendorong kinerja industri \npengolahan CPO, melainkan juga kinerja sektor hulu. Sebab, ketika \nhilirisasi dijalankan, hasil olahan bisa dipasarkan dengan harga yang \nlebih tinggi karena adanya nilai tambah. “Karena itu, dari industri \nperkebunannya juga tumbuh signifikan,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Data GAPKI menunjukkan, luas kebun rakyat yang pada 2003 sebesar 1,85 \njuta hektare, pada 2012 naik lipat dua menjadi 3,7 juta hektare. Selain \nitu, jumlah perusahaan perkebunan sawit swasta dan BUMN tumbuh menjadi \n1.320. Tumbuhnya industri CPO juga mendorong munculnya 750.000 unit \nusaha kecil menengah (UKM) yang menjadi \u003Cem\u003Esupplier\u003C\/em\u003E barang dan jasa.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Meski mencatat sukses besar, Fadhil menilai masih banyak hal yang \nmesti diperbaiki untuk mendorong percepatan hilirisasi CPO. Misalnya, \ndengan mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas seperti \nfasilitas logistik, serta penyediaan akses jalan dari pusat produksi \ndarat\/pedalaman ke pelabuhan ekspor.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Di samping itu, pemerintah juga harus memastikan tersedianya bahan \nbaku untuk diolah industri hilir CPO. Caranya, dengan membatasi atau \nmelarang ekspor bahan baku mentah untuk mencukupi kebutuhan industri \ndalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.\u003Cbr \/\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  “Konkretnya, pro hilirisasi harus ditunjukkan dengan pengenaan tarif \n(bea keluar) yang semakin rendah untuk produk hilir,” ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Di sisi lain, Fadhil menilai prospek industri CPO tahun ini cukup \ncerah meski permintaan global belum sepenuhnya pulih. Tahun ini, dia \nmemperkirakan pasokan CPO dari Indonesia naik 3,3 juta ton untuk \nkeperluan \u003Cem\u003Ebiofuel\u003C\/em\u003E. Sedangkan harga CPO dan produk turunannya di\n pasar internasional juga bakal tembus USD 1.100 per ton. “Karena itu, \nnilai ekspor CPO tahun ini bisa USD 24,2 miliar,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Sekjen Gapki Joko Supriyono, menambahkan pihaknya juga meminta \npemerintah mencabut moratorium pemanfaatan lahan gambut di kawasan \nhutan. Dengan begitu, lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk memperluas \nlahan kelapa sawit dan meningkatkan produksi CPO.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Dia mengatakan, lahan gambut yang ditanami kelapa sawit mereduksi \nhampir setengah emisi dibandingkan dengan gambut tropis atau sawah \ngambut. Yaitu di kisaran 31,40-57,06 karbon dioksida per hektare per \ntahun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  \"Sampai saat ini perkebunan kelapa sawit di lahan gambut perawan hanya tiga persen, masih sangat kecil,\" ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Tanaman sawit, tambah dia, bisa tumbuh subur di Indonesia. Minyak \nnabati di Eropa dan Amerika Serikat hanya mengandalkan tanaman seperti \nkedelai dan lainnya. Sudah terbukti kelapa sawit merupakan tanaman \ndengan produktivitas paling tinggi untuk mengisi permintaan dunia.\u003Cbr \/\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  \"Kebutuhan dunia 5-6 juta ton CPO. Itu hanya butuh sejuta hektare \nkebun sawit, kalau kedelai butuh 10 juta hektare,\" tandasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n  \u003Cbr \/\u003E\n  Karena itu, Joko menilai wajar apabila negara-negara Eropa serta \nAmerika Serikat terus melakukan kampanye hitam terhadap sawit Indonesia.\n Padahal, negara yang paling banyak melakukan deforestasi (penggundulan \nhutan) dan alih guna lahan gambut adalah Tiongkok dan Rusia. \"Jadi bukan\n Indonesia, karena Tiongkok dan Rusia lebih banyak,\" jelasnya. \u003Cstrong\u003E(owi\/wir\/jpnn\/che\/k15)\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/136409407348444508"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/136409407348444508"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/hilirisasi-minyak-sawit-berhasil-dorong.html","title":"Hilirisasi Minyak Sawit Berhasil Dorong Nilai Tambah Industri Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-908844868039567912"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:26:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:26:46.187+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Mengurangi Risiko Karhutla Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-TmBH15y1ziQ\/VOgXBWPFSkI\/AAAAAAABKhY\/J5bgo-EMy5U\/s1600\/61Karhutla.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-TmBH15y1ziQ\/VOgXBWPFSkI\/AAAAAAABKhY\/J5bgo-EMy5U\/s1600\/61Karhutla.jpg\" height=\"179\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPembukaan lahan baru atau peremajaan kembali, dapat berpotensi untuk \nmenimbulkan kebakaran lahan, khususnya di wilayah Sumatera ini. \nPemerintah bukan hanya melalui dinas perkebunan, akan tetapi juga \nmelibatkan dinas kehutanan dan dinas terkait lainnya, terus mengimbau \npengusaha atau pemilik lahan melalui berbagai media masa dan \nperaturan-peraturan agar selalu mewaspadai adanya kebakaran hutan dan \nlahan (Karhutla). \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut perkiraan BMKG, musim panas akan lebih\n ekstrem lagi di penghujung bulan Februari ini. Peristiwa yang hampir \nrutin selama masa kemarau, khususnya di Pulau Sumatera ini adalah \nkebakaran lahan. Banyak penyebab terjadinya kebakaran ini, salah satu di\n antaranya adalah lahan gambut gundul yang terlalu banyak kena sinar \nmatahari secara terus menerus dikarenakan musim kemarau. Untuk itu, \nperlu dicoba agar setiap pembukaan lahan atau peremajaan kembali lahan, \nbisa menggunakan kacangan penutup lahan khususnya mucuna bractetata \nsebagai tanaman menguntungkan yang selain akan menjaga kelembaban tanah,\n juga sebagai alternatif pencegahan dini terjadinya kebakaran.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ESegi Agronomis\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003EBagi\n perusahaan atau pengusaha perkebunan kelapa sawit atau karet di lahan \ngambut, mungkin tidak akan asing lagi dengan tanaman “kacangan” penutup \nlahan atau Leguminous Cover Crops (LCC).\u0026nbsp; Manfaat kacangan adalah untuk \nmempertahankan kelembaban tanah, meminimalisir susutnya gambut, mencegah\n kekeringan pada gambut yang tidak bisa dipulihkan, mencegah erosi, dan \nyang terpenting untuk menghadapi musim kemarau mendatang adalah \nmengurangi risiko kebakaran.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBanyak jenis dari kacangan ini, \nseperti pueraria phaseoloides (javanica), calopoganium mucunoides, \ncalopogonium caeruleum, centrosema pubescens. Namun yang biasa digunakan\n untuk lahan gambut adalah jenis mucuna bracteata, dikarenakan performa \npertumbuhannya yang lebih baik dibandingkan jenis lainnya. Selain itu, \ntanaman yang aslinya tumbuh di hutan India Utara ini memiliki kemampuan \ndalam meningkatkan kesuburan tanah dengan jalan memperbaiki nitrogen dan\n mengurangi kompetisi pertumbuhan gulma.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPengembangbiakan tanaman\n ini juga sangat mudah. Bisa dilakukan dengan cara vegetatif, maupun \ndengan cara generatif. Bagi petani yang hanya memiliki sedikit anggaran \nuntuk perawatan kebunnya, bisa melakukan pengembangbiakan dengan jalan \nvegetatif sebagai opsi pilihan, selain itu juga lebih cepat \npertumbuhannya dibandingkan dengan harus menunggu benih dari tanaman \npertama yang masih harus ditanam di baby bag (pengembangbiakan dengan \ncara generatif).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain itu, tanaman ini mengandung asam phenolic\n yang tinggi, sehingga dapat menghambat gangguan dari serangga atau \nhewan ternak.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ESegi Finansial\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003ETanaman yang tumbuh sehat \npada suhu antara 20-35 derajat celcius ini pada kondisi normal akan \ntumbuh 10-15 cm per harinya. Pada kondisi di mana tenaga kerja tidak \nmencukupi, ditambah lagi biaya penanggulangan gulma yang membengkak, \nmucuna bracteata bisa dijadikan opsi yang relatif murah dengan dampak \nyang sangat besar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBiaya penanggulangan gulma pada lahan yang \nsedang menjalani peremajaan atau penanaman ulang akan secara drastis \nberkurang, apabila dibandingkan dengan keperluan tenaga kerja atau \nkonsumsi agro chemical untuk penanggulangan gulma. Tentu saja, dengan \npertimbangan kecepatan pertumbuhannya, kita perlu mewaspadai agar \ntanaman (pokok sawit atau tunas karet muda) tidak terlilit oleh mucuna \nbracteata ini. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBiaya penanggulangan hama oryctes (kumbang \ntanduk) dengan menggunakan herbisida pada lahan yang sedang menjalani \nperemajaan atau penanaman ulang akan secara drastis berkurang, mengingat\n kebijakan pemerintah perihal “zero burning” pada masa peremajaan atau \npenanaman ulang akan menimbulkan potensi datangnya hama oryctes pada \nrumpukan atau bekas cacahan pokok sawit yang sudah ditumbang. Mucuna \nbracteata sangat sesuai ditanam pada rumpukan ini, sehingga mempercepat \nproses pelapukan dan mengurangi risiko terbakar akibat lahan yang \nterbuka dan terpapar matahari terlalu lama.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMahal di depan, murah\n kebelakang adalah isitilah yang pas untuk memilih menanam kacangan ini \ndi setiap kebun, khususnya tanaman sawit atau karet. Harga mucuna \nbracteata di pasaran bervariasi, berkisar antara lima ratus ke enam \nratus ribu per kilonya, tergantung juga dari mana sumber bibitnya; \napakah dari impor atau lokal. Keperluan mucuna bracteata bisa mengunakan\n rasio 1 tanaman untuk 2 sampai 3 pokok sawit (kondisi normal) atau \nlebih apabila ingin lebih agresif, dengan sebelumnya ditanam atau \ndisemaikan di baby bag sebelum ditanam ke lapangan pada saat tanaman \nsudah berdaun lebih dari tiga lembar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKesimpulannya adalah, \nmenanam kacangan dengan jenis mucuna bracteata khususnya pada lahan \ngambut pada kebun kelapa sawit atau karet sangat dianjurkan; baik dari \nsegi kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah untuk menjalankan zero \nburning, segi agronomis maupun segi finansial atau keuangan. Selamat \nmencoba.***\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ERaden Bagus\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Ci\u003EKaryawan swasta perkebunan kelapa sawit\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/908844868039567912"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/908844868039567912"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/mengurangi-risiko-karhutla-kelapa-sawit.html","title":"Mengurangi Risiko Karhutla Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-TmBH15y1ziQ\/VOgXBWPFSkI\/AAAAAAABKhY\/J5bgo-EMy5U\/s72-c\/61Karhutla.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8374057633805026582"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:23:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:23:36.342+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Petani Diimbau Tidak Jual Lahan untuk Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhM\/7ce9fhaabWY\/s1600\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhM\/7ce9fhaabWY\/s1600\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg\" height=\"213\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: #3d810b;\"\u003E\u003Cb\u003EBPPMPD Inhil Ingatkan Perusahaan Tidak Langgar Komitmen\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ERiauterkini-TEMBILAHAN-Badan Perizinan Penanaman Modal dan Promosi Daerah\n(BPPMPD) Inhil menghimbau masyarakat tidak menjual lahannya kepada\nperusahaan perkebunan sawit, karena seharusnya polanya kerjasama kemitraan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKepala BPPMPD Inhil, Junaidi menyatakan, himbauan ini sebagai upaya\nproteksi Pemkab Inhil atas praktek jual-beli lahan yang berlangsung saat\nini, diingatkan pihak perusahaan juga tidak melanggar komitmen\n(kesepakatan) yakni menjalin kerjasama kemitraan dengan masyarakat.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Kami menghimbau masyarakat jangan menjual lahan mereka, perusahaan juga\njangan melakukan praktek pembelian lahan masyarakat, karena melanggar\nkomitmen mereka dalam membuka lahan perkebunan di Inhil yakni dengan pola\nkerjasama kemitraan,\" ungkap Kepala BPPMPD Inhil, Junaidi kepada\nriauterkinicom, Kamis (19\/2\/15).\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nLanjutnya, praktek pembelian lahan masyarakat semacam ini di lapangan\nselain menimbulkan kerugian karena ketiadaan lagi lahan untuk berusaha,\njuga dapat memicu konflik, baik dalam keluarga juga sesama masyarakat.\nSehingga rentan menimbulkan konflik horizontal yang pada akhirnya\nmengganggu kondusifitas daerah ini.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Kami sudah memanggil beberapa perusahaan untuk mengingatkan agar tidak\nmelanggar komitmen tersebut. Pihak pemerintahan desa juga ditekankan tidak\nterlibat dalam praktek yang cenderung merugikan masyarakat ini,\" tegas\nmantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Kadispenda) ini.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nLangkah Kepala BPPMPD Inhil ini sejalan dengan penegasan Bupati Inhil, HM\nWardan yang meminta masyarakat dan mengingatkan perusahaan perkebunan sawit\nagar tidak melakukan praktek jual-beli lahan yang pada akhirnya justru\nmerugikan masyarakat.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKarena beberapa waktu lalu, Bupati Inhil telah menegaskan tidak boleh\nsejengkal pun lahan masyarakat dijual dan dialih fungsikan menjadi\nperkebunan kelapa sawit.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Tidak boleh sejengkal pun lahan masyarakat dijual dan dialih fungsikan.\nSaya tidak akan mengeluarkan rekomendasi kepada perusahaan seperti ini,\"\nwarning Bupati Inhil saat berkunjung ke Desa Pungkat beberapa waktu lalu.\n***(adv\/hum\/mar)\n\u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8374057633805026582"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8374057633805026582"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/petani-diimbau-tidak-jual-lahan-untuk.html","title":"Petani Diimbau Tidak Jual Lahan untuk Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhM\/7ce9fhaabWY\/s72-c\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1956365153196076417"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:22:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:22:11.481+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"UU Perkebunan Berpotensi Timbulkan Masalah Sosial dan Lingkungan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKoalisi masyarakat sipil mengkritisi UU Nomor 39 tahun 2014 tentang \nPerkebunan karena dinilai tak mencerminkan aspek keadilan yang hanya \nmenguntungkan investor besar dan mengancam lingkungan. Petani kecil dan \nmasyarakat adat bakal makin terpinggirkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Kami berharap UU ini bisa mengatur persoalan sosial dan lingkungan \ndalam aktivitas perkebunan besar. Ada solusi alternatif terkait konflik \nagraria baik dengan masyarakat adat, buruh perkebunan dan lingkungan. \nTetapi UU ini tidak memberikan solusi. Justru akan timbulkan masalah \nbaru ke depan,” kata Marsuetus Darto, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit \n(SPKS), di Jakarta, Selasa (17\/2\/15).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia mencontohkan, soal ketentuan pelaku usaha perkebunan. Defenisi \npelaku usaha adalah perusahaan dan petani. Namun, dalam konteks \npelaksanaan dan perlindungan negara, cenderung berpihak perkebunan \nbesar. “Padahal, \u0026nbsp;petani disebutkan sebagai pelaku usaha perkebunan.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Sejak muncul perkebunan sawit timbulkan banyak masalah dipicu \nperusahaan besar. Masalah bukan di petani, tapi perusahaan besar.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDarto mengatakan, visi Presiden Joko Widodo, soal ekonomi kerakyatan \nberarti peran koperasi diperkuat. Sayangnya, \u0026nbsp;sejak skema kemitraan \nmuncul 1980an, koperasi seperti dimutilasi negara.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Koperasi dibiarkan berdiri dan diatur negara tetapi dikunci, \ndikontrol pendanaan dan pengembangan. Dana tidak diberikan agar bisa \nmandiri. Akses bibit, pupuk dan sarana produksi lain dibatasi. Hingga \nekonomi kerakyatan itu cenderung kabur,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAda skema pendanaan untuk petani kecil. Pemerintah memberikan subsidi\n bunga dari APBN, kebijakan ini berjalan selama 10 tahun. “Ini untuk \npembangunan perkebunan rakyat. Anehnya, subsidi bunga itu tidak langsung\n kepada koperasi atau kelompok tani. Tapi diberikan kepada perusahaan \nbesar,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPendanaan petani kecil, katanya, wajib melalui perusahaan besar dalam\n skema kemitraan. Hingga membuat koperasi dan petani kecil sulit \nberkembang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia berharap,\u0026nbsp; melalui UU Perkebunan, pemerintah bisa merevisi ulang \ntata kelola perkebunan berkelanjutan, berkeadilan, berkedaulatan dan \nberkerakyatan baik aspek lingkungan serta hak asasi manusia. “Skema \nperkebunan sawit berkelanjutan tidak tegas diatur.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKemitraan, masih belum mampu memposisikan petani sejajar dengan \nperusahaan dalam pengelolaan usaha. Padahal, kemitraan selama ini sangat\n tidak adil hingga menimbulkan konflik.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDede Shineba, Departemen Politik dan Jaringan Konsorsium Pembaruan \nAgraria (KPA) mengatakan, pengesahan UU ini lucu. Sebelumnya, beberapa \nmateri UU pernah uji materil di Mahkamah Konstitusi (MK) 2011. Kemudian \nditerapkan kembali.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dulu banyak sekali warga ditangkap hanya gara-gara bawa parang ke \nkebun. Atau masuk kebun yang masih konflik.” Setelah uji materil \ndikabulkan, DPR revisi UU ini dengan memasukkan kembali item-item \nkriminalisasi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Kami menduga ke depan, tentu banyak konflik, pelanggaran HAM dan perampasan tanah. Itu makin masif.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKini, luas perkebunan sawit di Indonesia, mencapai 13.297.759 hektar. Produktivitas minyak sawit (\u003Ci\u003Ecrude palm oil\u003C\/i\u003E\/CPO) mencapai lebih 21 juta ton. Sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara pengekspor sawit terbesar dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Ada mengatur musyawarah masyarakat adat. Padahal, musyawarah \nmasyarakat adat itu tidak ada aturan,” kata Direktur Eksekutif Sawit \nWatch, Jefri Saragih.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi daerah banyak sawit, posisi dan pengaruh tokoh sangat dominan. \nKepala desa, tokoh agama dan ketua adat paling sering didekati \nperusahaan. “Biasa kalau sudah ada musyawarah, kelompok ini yang \ndominan. Masyarakat kebanyakan menolak sawit, itu hampir tak terdengar \nsama sekali. Pro dan kontra cenderung mengakibatkan konflik masyarakat,”\n katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-vi1im94fd4g\/VOgV7XKZbhI\/AAAAAAABKhQ\/44o600Rk0wQ\/s1600\/walhi-kalteng2222-1375840_10201533610437368_837731749_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-vi1im94fd4g\/VOgV7XKZbhI\/AAAAAAABKhQ\/44o600Rk0wQ\/s1600\/walhi-kalteng2222-1375840_10201533610437368_837731749_n.jpg\" height=\"266\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EKuburan milik keluarga Tarang di tengah jalan milik perkebunan PT. \nMustika Sembuluh. Dengan UU Perkebunan baru, potensi konflik dan \nperampasan hak-hak masyarakat atas nama izin perusahaan besar, makin \ntinggi. Foto: Walhi Kalteng\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPermasalahan lain ada tentang masyarakat adat yang harus ditetapkan \nberdasarkan UU. Sementara di Indonesia, baru masyarakat adat Baduy di \nBanten yang mendapatkan pengakuan. Masyarakat adat di Kalimantan, Papua \ndan wilayah lain belum ada pengakuan legal pemerintah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGunawan dari Indonesian Humam Rights Committee for Social Justice \n(IHCS) mengatakan, UU Perkebunan gagal menyelesaikan urusan konflik dan \nreforma agraria. “Kalau dulu nenek moyang mereka sebagai buruh tani era \nkolonialisme, status keturunan juga masih buruh tani.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUntuk itu, jika pemerintah mengakui masyarakat adat, harus menerima \ntata cara musyawarah di masyarakat adat. UU ini, makin menegaskan watak \ntidak mengakui masyarakat adat. Ini terlihat dalam kalimat, masyarakat \nadat ditetapkan melalui peraturan perundang-undangan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Konteks konstitusi sudah jelas perbedaan antara pengakuan dan \npenetapan. Pengakuan berarti masyarakat ada dan pemerintah mengakui. \nKalau ditetapkan berarti masyarakat adat daftar dulu baru ditetapkan,” \nkatanya. Yang terjadi dalam konflik agraria, pemerintah daerah tidak \nmenetapkan hingga hak adat mereka dilanggar.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EAncam lingkungan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAnnisa Rahmawati, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia mengatakan, ada tiga pasal menyinggung keberlanjutan lingkungan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dalam Pasal 2 dan 3, memperhatikan keberlanjutan dan fungsi \nlingkungam hidup. Lalu, Pasal 32, ada kewajiban mengikuti peraturan \nmendukung keberlanjutan dan kelestarian lingkungan hidup. Ayat dua \nmensyaratkan, pelaku perkebunan mendapatkan cara mencegah kerusakan dan \npencemaran lingkungan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNamun, katanya, \u0026nbsp;UU ini ancaman besar, terutama mengamankan konsesi perkebunan bernilai konservasi dan berstok karbon tinggi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam Pasal 16-17, \u0026nbsp;ada kewajiban perusahaan mengusahakan lahan \nperkebunan tiga tahun pertama paling sedikit 30%.\u0026nbsp; Apabila tidak akan \nkena sanksi administratif berupa denda, penghentian sementara hingga \npencabutan izin.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Ini dilema bagi perusahaan yang berkomitmen menjaga hutan. Karena \ntidak didukung regulasi. Jika tidak diusahakan, dicabut izin. Ini \nketakutan luar biasa dari perusahaan.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUntuk itu, kata Annisa, peraturan lahan tidur harus direvisi atau \npaling tidak ada aturan yang melegalkan. Hingga tidak membuat ketakutan \nindustri untuk proteksi lahan bernilai konservasi dan berkarbon tinggi.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1956365153196076417"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1956365153196076417"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/uu-perkebunan-berpotensi-timbulkan.html","title":"UU Perkebunan Berpotensi Timbulkan Masalah Sosial dan Lingkungan"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-vi1im94fd4g\/VOgV7XKZbhI\/AAAAAAABKhQ\/44o600Rk0wQ\/s72-c\/walhi-kalteng2222-1375840_10201533610437368_837731749_n.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3499149057336570650"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:18:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:18:46.370+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perkebunan kelapa sawit memicu pembalakan liar di Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"ik728 mt10\"\u003E\n   \u003Cdiv class=\"ads_top_728\"\u003E\n\n\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhI\/_wwty09HpTM\/s1600\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhI\/_wwty09HpTM\/s1600\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg\" height=\"213\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJakarta (ANTARA News) - Agen Investigasi Lingkungan Hidup atau \n\"Environmental Investigation Agency\" (EIA) melaporkan ekspansi \nperkebunan kelapa sawit dengan dibukanya hutan telah mendorong \npembalakan liar di Indonesia. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam kurun 20 tahun, antara tahun\n 1990 sampai 2010, wilayah perkebunan kelapa sawit tumbuh 7 kali lipat, \ndari 1,1 juta hektar menjadi 7,8 juta hektar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMeskipun ada berbagai analisis terkait tingkat deforestasi yang diakibatkan oleh ekspansi tersebut, semua analisis tersebut\u003Cbr \/\u003Emenegaskan bahwa kelapa sawit memainkan peran penting dalam perusakan hutan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebuah\n studi yang diterbitkan tahun ini memperkirakan bahwa antara tahun \n2000--2010, Indonesia telah kehilangan setidaknya 1,6 juta hektar hutan \nyang diubah menjadi konsesi kelapa sawit. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagian besar dari hutan tersebut berlokasi di Kalimantan yang mencakup wilayah seluas sekitar 1,1 juta hektar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAnalisis\n lain yang ditemukan adalah antara 1990--2005, lebih dari 50 persen \nekspansi kelapa sawit di Indonesia terjadi dengan memakan wilayah hutan \nalam.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESuatu analisa pada tahun 2013 menemukan bahwa dalam jangka \nwaktu dua tahun sampai dengan tahun 2011, kelapa sawit merupakan \nsatu-satunya pendorong utama deforestasi di negara ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelama \nperiode ini, Indonesia mengalahkan Brazil sebagai negara dengan tingkat \ndeforestasi tahunan tertinggi dan, sebagai dampak langsungnya, menjadi \nkontributor tertinggi ketiga terhadap perubahan iklim yang didorong oleh\n kegiatan manusia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDengan menggunakan data Kementerian Kehutanan \n(Kemenhut), EIA telah melakukan penghitungan konservatif berdasarkan \nangka rata-rata sebesar 32,5 meter kubik kayu komersial per hektar di \nhutan-hutan yang ditargetkan oleh perkebunan kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EJika perhitungan ini diterapkan terhadap perhitungan yang sama-sama konservatif mengenai kehilangan hutan, maka akan\u003Cbr \/\u003Eterlihat\n bahwa pembukaan lahan oleh industri kelapa sawit telah menghasilkan \nsetidaknya 52 juta meter kubik kayu antara tahun 2000--2010. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun,\n selama periode yang sama, laporan tahunan Kemenhut hanya mencatat 39 \njuta meter kubik kayu dari Izin Pemanfaatan Kayu (IPK), perizinan yang \nmengatur kayu yang dipanen pada saat konversi hutan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETerdapat \nkesenjangan yang jauh melebihi perkiran angka 13 juta meter kubik \ntersebut, karena angka IPK dari Kemenhut selama periode ini juga \nmeliputi wilayah hutan alam yang dibuka untuk mendirikan konsesi kayu \nHTI dan pertambangan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDefisit pada angka tersebut kemungkinan terjadi karena beberapa alasan. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKemenhut\n tidak mengumpulkan data kayu dari tempat-tempat dimana kayu tersebut \ndiproduksi, namun berdasarkan laporan dari pabrik penggergajian terkait \nsumber kayu yang digunakan. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain itu, sampai dengan tahun \n2010, Kemenhut hanya mengumpulkan data dari pabrik penggergajian besar \nyang memiliki perizinan untuk memproses lebih dari 6.000 meter kubik \nsetiap tahunnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenelitian yang dilakukan oleh EIA telah \nmenunjukkan bahwa sejumlah besar kayu diproses oleh pabrik penggergajian\n kecil dan menengah yang beroperasi berdasarkan izin lokal dan tidak \nterekam dalam angka IPK yang diterbitkan Kemenhut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EKalimantan Tengah\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EInvestigasi\n yang dilakukan EIA di Kalimantan Tengah mengungkapkan adanya kaitan \nantara pengembangan perkebunan kelapa sawit ilegal dengan pejabat \ndaerah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam laporan \"Kejahatan Perijinan: Bagaimana Ekspansi \nKelapa Sawit Mendorong Pembalakan Liar Di Indonesia\" yang diterbitkan \nDesember 2014 itu, EIA mencatat adanya dugaan beberapa perusahaan sawit \nyang bersekongkol dengan pejabat daerah dalam mempercepat perizinan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELaporan\n tersebut menyatakan hampir semua perkebunan sawit di Indonesia sengaja \nmengelak dari Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPadahal, kebijakan SVLK resmi diterapkan sejak September 2010. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun hal itu tidak membuat penebangan kayu ilegal dari pembukaan lahan sawit berkurang.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBahkan,\n salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit \"cukup\" membayar Rp400 \njuta atau senilai 45.000 dolar Amerika Serikat untuk \"menyelesaikan \nmasalah\".\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ERekomendasi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELaporan EIA memberikan beberapa rekomendasi antara lain:\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E1.\n Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus segera memerintahkan \naudit SVLK pada semua pemegang\u0026nbsp; Izin Pemanfaatan Kayu ( IPK ), dan \nmencabut izin perusahaan yang menolak melakukannya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E2. \nKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus memastikan penghentian \npembukaan lahan di semua konsesi sawit yang tidak mematuhi standar \nlegalitas dalam SVLK, menyita kayu yang dihasilkan, dan memulai proses \nhukum.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E3. Pemerintah Indonesia harus membentuk satuan tugas yang \nterdiri dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan dan \nAnalisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan\n Kehutanan untuk memeriksa dan mengadili korupsi terkait alokasi izin, \ndimulai dengan kasus-kasus yang disebutkan dalam laporan tersebut. Semua\n temuan dari satuan tugas harus dipublikasikan secara transparan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E4.\n Pemerintah Indonesia harus memastikan standard SVLK direvisi untuk \nmemandatkan dan memandu pemeriksaan korupsi dan pelanggaran hukum \nlainnya terkait alokasi izin dan pembebasan lahan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E5. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa harus memastikan bahwa pemberlakuan lisensi Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan (\u003Ci\u003EForest Law Enforcement, Governance and Trade\u003C\/i\u003E atau FLEGT) di bawah Kesepakatan Kemitraan Sukarela (\u003Ci\u003EVoluntary Partnership Agreement\u003C\/i\u003E\n atau VPA Indonesia-Uni Eropa sebelum sertifikasi SVLK penuh bagi \npemegang IPK tidak membiarkan terus berlangsungnya penebangan di \nperkebunan sawit ilegal di negara ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EImportir kayu Uni Eropa \nharus melakukan uji tuntas yang menyeluruh terhadap kayu bersertifikat \nSVLK untuk memastikan kayu tersebut tidak berasal dari konversi hutan \nyang ilegal dan tidak bersertifikat, sampai lisensi FLEGT diberlakukan \ndan menghilangkan kewajiban hukum ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E6. \u003Ci\u003ERoundtable on Sustainable Palm Oil\u003C\/i\u003E\n yang merupakan suatu skema sertifikasi pasar sukarela yang mensyaratkan\n perkebunan untuk menghindari konversi hutan primer dan wilayah yang \nmemiliki \u003Ci\u003EHigh Conservation Value\u003C\/i\u003E (HCV) dan Sistem \u003Ci\u003EIndonesian Sustainable Palm Oil \u003C\/i\u003E(ISPO)\n dikembangkan oleh Kementerian Pertanian Indonesia untuk memberikan \njaminan “keberlanjutan” terhadap pasar-pasar sensitif harus menyertakan \nsertifikasi SVLK sebagai indikator kepatuhan hukum bagi pemegang IPK \ndalam standard sertifikasi mereka sendiri.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E7. Pemerintah Indonesia harus berhenti mengalokasikan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"mt10\"\u003E\nEditor: \u003Cspan itemprop=\"editor\"\u003EElla Syafputri\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"date\"\u003E\nCOPYRIGHT © \u003Cspan itemprop=\"copyrightHolder\"\u003EANTARA\u003C\/span\u003E \u003Cspan itemprop=\"copyrightYear\"\u003E2015\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3499149057336570650"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3499149057336570650"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/perkebunan-kelapa-sawit-memicu.html","title":"Perkebunan kelapa sawit memicu pembalakan liar di Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pX3OPR3iZa4\/VOgVHUugVTI\/AAAAAAABKhI\/_wwty09HpTM\/s72-c\/pembalakan%2Bliar%2Bsawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6688823321913530448"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:15:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:15:04.492+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Tak Ada Sawit yang Tersisa dalam Proses CPO di Astra Agro Lestari"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"float: left; margin-right: 1em; text-align: left;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Z6AGMAVY--c\/VOgUNa8omUI\/AAAAAAABKhA\/h7JX06d5E_Q\/s1600\/produksi-cpo-astra.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Z6AGMAVY--c\/VOgUNa8omUI\/AAAAAAABKhA\/h7JX06d5E_Q\/s1600\/produksi-cpo-astra.jpg\" height=\"223\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESalahsatu proses produksi Crude Palm Oil (CPO), dengan mesin ini buah \ndan tandan sawit direbus, tujuannya untuk mematikan kandungan enzim yang\n ada di dalam tandan sawit. Enzim ini mempengaruhi tingkat keasaman \nCPO. \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003ETRIBUNKATIM.CO -\u003C\/strong\u003E Banyak pengalaman yang menarik saat rombongan wartawan, termasuk Tribun Kaltim, mengikuti agro wisata ke kebun sawit milik PT Astra Agro Lestari. Pengalaman berharga itu adalah melihat secara langsung, proses pembuatan Crude Palm Oil (CPO).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelama ini, tidak sedikit wartawan yang membuat artikel atau berita \nyang berkaitan dengan perusahaan perkebunan sawit. Sudah umum, \npperusahaan sawit memproduksi CPO, tapi tidak banyak yang tahu, jika \nproses produksi CPO begitu rumit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT Sumber Kharisma Persada (SKP) salah satu perusahaan perkebunan sawit milik Astra Agro Lestari yang beroperasi di Kutai Timur, adalah perkebunan sawit yang memiliki pabrik pembuatan CPO.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSawit yang baru dipanen, langsung diangkut menggunakan truk ke pabrik\n CPO. Di sana, ribuan tandan sawit ditumpahkan ke atas conveyor. \nConveyor bergerak membawa ribuan tandan sawit ke dalam boiler.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBoiler adalah alat untuk memasak tandan sawit dengan menggunakan air \npanas. Selain untuk mempermudah mesin memisahkan tandan dengan cangkang \nsawit, proses pemanasan ini juga berguna untuk mematikan enzim yang \nterdapat dalam setiap butir kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Enzim ini yang menciptakan asam dalam kandungan CPO, karena itu \nharus dimatikan dengan dimasak dalam air panas,\" kata Syahutra Lubis, \nAsisten Proses PT Sumber Kharisma Persada (SKP).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSetelah direbus, tandan sawit digiling dengan mesin yang memiliki \nbilah-bilah besi menyerupai mata bor dengan diameter sekitar 15 \ncentimeter. Ini hanyalah proses awal sebelum memproduksi CPO. Setelah \ncangkang dan tandan sawit terpisah, proses dilanjutkan secara otomatis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMesin-mesin yang membuat lantai bergetar terus berputar, menarik \nconveyer yang berisi tandan sawit, sementara conveyor lainnya membawa \ncangkang sawit ke lantai dua, masuk dalam mesin digester. Di dalam mesin\n yang berbetuk seperti kerucut itu memeras kandungan minyak yang ada \ndalam setiap cangkang sawit, hasil perasan itu lah yang menjadi CPO.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTapi proses tidak berhenti sampai di situ. \"Setelah cangkang sawit \ndiperas minyaknya, proses dilanjutkan dengan memisahkan serabut cangkang\n dengan biji kelapa sawit,\" jelasnya. Serabut sawit itu kemudian \ndigiling menjadi serat-serat tipis, tapi lebih kasar dari kapas.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSerat-serat itulah yang menjadi bahan bakar pembangkit listrik. \nPembangkit listrik tenaga uap ini yang menggerakkan mesin-mesin \nproduksi, sisanya dimanfaatkan untuk mengaliri listrik di sekitar \npemukiman karyawan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSementara tandan sawit yang tadi dipisahkan dari buah sawit, ditarik \noleh konveyor menuju stok pile. Di sana, tandan sawit dirubah menjadi \nkompos. Selain menghasilkan limbah padat, proses pembuatan CPO ini juga \nmenghasilkan limbah cair.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nLimbah cair ini mengandung bakteri pengurai dan dimanfaatkan untuk \nmenyirami tandan sawit agar proses dekomposi lebih cepat. Hasilnya, \nkompos-kompos tadi dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan ribuan \nhektar kebun sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHebatnya lagi, tidak ada yang tersisa dari proses pembuatan CPO ini, \nbiji sawit yang menyerupai kacang kemiri itu ternyata bisa dimanfaatkan \nsebagai bahan dasar membuat kosmetik dan farmasi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6688823321913530448"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6688823321913530448"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/tak-ada-sawit-yang-tersisa-dalam-proses.html","title":"Tak Ada Sawit yang Tersisa dalam Proses CPO di Astra Agro Lestari"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Z6AGMAVY--c\/VOgUNa8omUI\/AAAAAAABKhA\/h7JX06d5E_Q\/s72-c\/produksi-cpo-astra.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2934100746801556860"},"published":{"$t":"2015-02-21T12:02:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T12:02:03.312+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-nygOaig-hZQ\/VOgRQWdozGI\/AAAAAAABKg0\/u3-v-dUEhyc\/s1600\/sawit-5.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-nygOaig-hZQ\/VOgRQWdozGI\/AAAAAAABKg0\/u3-v-dUEhyc\/s1600\/sawit-5.jpg\" height=\"213\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EJAKARTA, HALUAN —\u003C\/strong\u003E Agen Inves­tigasi Lingkungan Hidup atau \u003Cem\u003EEnviron­mental Investigation Agency\u003C\/em\u003E\n (EIA) melaporkan ekspansi perkebunan kelapa sawit dengan dibukanya \nhutan telah mendorong pembalakan liar di Indonesia.\u0026nbsp; Dalam kurun 20 \ntahun, antara tahun 1990 sampai 2010, wilayah perkebunan kelapa sawit \ntumbuh 7 kali lipat, dari 1,1 juta hektare menjadi 7,8 juta hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMeskipun ada berbagai analisis terkait tingkat deforestasi yang \ndiaki­batkan oleh ekspansi tersebut, semua analisis tersebut menegaskan \nbahwa kelapa sawit memainkan peran penting dalam perusakan hutan.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSebuah studi yang diterbitkan tahun ini memperkirakan bahwa antara \ntahun 2000-2010, Indonesia telah kehilangan setidaknya 1,6 juta hektare \nhutan yang diubah menjadi konsesi kelapa sawit. Sebagian besar dari \nhutan tersebut berlokasi di Kalimantan yang men­cakup wilayah seluas \nsekitar 1,1 juta hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAnalisis lain yang ditemukan ada­lah antara 1990-2005, lebih dari 50 \npersen ekspansi kelapa sawit di Indo­nesia terjadi dengan memakan \nwilayah hutan alam. Suatu analisa pada tahun 2013 menemukan bahwa dalam \njangka waktu dua tahun sampai dengan tahun 2011, kelapa sawit merupakan \nsatu-satunya pendorong utama deforestasi di negara ini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelama periode ini, Indonesia menga­lahkan Brazil sebagai negara \ndengan tingkat deforestasi tahunan tertinggi dan, sebagai dampak \nlangsungnya, menjadi kontributor tertinggi ketiga terhadap perubahan \niklim yang didorong oleh kegiatan manusia\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDengan menggunakan data Ke­menterian Kehutanan (Kemenhut), EIA telah \nmelakukan penghitungan konservatif berdasarkan angka rata-rata sebesar \n32,5 meter kubik kayu komersial per hektare di hutan-hutan yang \nditargetkan oleh perkebunan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJika perhitungan ini diterapkan terhadap perhitungan yang sama-sama \nkonservatif mengenai kehilangan hutan, maka akan terlihat bahwa \npembukaan lahan oleh industri kelapa sawit telah menghasilkan setidaknya\n 52 juta meter kubik kayu antara tahun 2000-2010.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNamun, selama periode yang sama, laporan tahunan Kemenhut hanya \nmencatat 39 juta meter kubik kayu dari Izin Pemanfaatan Kayu (IPK), \nperi­zinan yang mengatur kayu yang dipanen pada saat konversi hutan. \nTerdapat kesenjangan yang jauh melebihi per­kiran angka 13 juta meter \nkubik terse­but, karena angka IPK dari Kemenhut selama periode ini juga \nmeliputi wilayah hutan alam yang dibuka untuk mendirikan konsesi kayu \nHTI dan pertambangan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDefisit pada angka tersebut ke­mung­kinan terjadi karena beberapa \nalasan. Kemenhut tidak mengumpul­kan data kayu dari tempat-tempat dimana\n kayu tersebut diproduksi, namun berdasarkan laporan dari pabrik \npenggergajian terkait sumber kayu yang digunakan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelain itu, sampai dengan tahun 2010, Kemenhut hanya mengum­pulkan \ndata dari pabrik penggergajian besar yang memiliki perizinan untuk \nmemproses lebih dari 6.000 meter kubik setiap tahunnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenelitian yang dilakukan oleh EIA telah menunjukkan bahwa sejumlah \nbesar kayu diproses oleh pabrik peng­gergajian kecil dan menengah yang \nberoperasi berdasarkan izin lokal dan tidak terekam dalam angka IPK yang\n diterbitkan Kemenhut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAtas temuan ini, EIA merekomen­dasikan Kementerian Lingkungan Hidup \ndan Kehutanan segera meme­rintahkan audit SVLK pada semua pemegang\u0026nbsp; Izin\n Pemanfaatan Kayu ( IPK ), dan mencabut izin perusahaan yang menolak \nmelakukannya. \u003Cstrong\u003E(h\/ant)\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2934100746801556860"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2934100746801556860"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/ekspansi-perkebunan-kelapa-sawit.html","title":"Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-nygOaig-hZQ\/VOgRQWdozGI\/AAAAAAABKg0\/u3-v-dUEhyc\/s72-c\/sawit-5.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4261986397105412413"},"published":{"$t":"2015-02-21T11:58:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-21T11:58:43.187+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Bisnis Sawit Masih Lesu"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-EQiceAsnydc\/VOgQc89aVsI\/AAAAAAABKgs\/G9UzpSgSAb0\/s1600\/sawit.gif\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-EQiceAsnydc\/VOgQc89aVsI\/AAAAAAABKgs\/G9UzpSgSAb0\/s1600\/sawit.gif\" height=\"212\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMedanBisnis\n - Jakarta. Tahun ini diprediksi masih menjadi masa yang suram bagi \nprodusen minyak nabati. Harga yang rendah masih jadi faktor utama.\n              \n            \n            \n              \n                Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization \n(FAO), harga minyak nabati dunia, mulai dari minyak biji-bijian hingga \nminyak sayur mengalami penurunan terendah khususnya minyak sayuran \ntercatat pada level terendah sejak Oktober 2009.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDirektur \nEksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Fadhil \nHasan, mengatakan jatuhnya harga minyak nabati dunia disebabkan \nrendahnya permintaan pasar global, pengurangan pasokan ke pasar \nbiodiesel, rendahnya harga minyak mentah dunia dan melimpahnya stok \nminyak nabati di negara-negara produsen. \"Harga minyak sawit mentah \nalias crude palm oil (CPO) di pasar global yang terus tergerus tidak \nmampu mengerek permintaan CPO di pasar global,\" katanya dalam siaran \npers, Jumat (20\/2).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EVolume ekspor CPO dan turunannya asal \nIndonesia pada Januari menurun 8% dibandingkan dengan ekspor Desember \ntahun lalu atau dari 1,97 juta ton pada Desember 2014 turun menjadi 1,8 \njuta ton pada Januari 2015.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EJika dibandingkan secara year-on-year\n kinerja ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan sekitar 240 ribu \nton atau 15% pada Januari 2015 dibandingkan dengan Januari 2014 yaitu \nsebesar 1,57 juta ton.\"Hampir semua pasar utama ekspor Indonesia \nmengurangi permintaannya pada awal tahun ini. Khususnya volume ekspor ke\n Tiongkok dan India mengalami penurunan yang signifikan,\" jelasnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EVolume\n ekspor CPO dan turunannya ke Tiongkok tercatat turun 40% dari 328,45 \nribu ton pada Desember 2014 menjadi 196,84 ribu ton pada Januari 2015. \nSementara ke India tercatat ada penutunan 39,7% dibandingkan bulan lalu \natau dari 494,72 ribu ton pada Desember 2014 menjadi 298.27 ribu ton di \nJanuari 2014.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenurunan volume ekspor juga terjadi ke negara \ntujuan Amerika Serikat 15%, negara-negara Afrika 8%, Uni Eropa 3,6% \ndibandingkan dengan volume ekspor bulan lalu.\"Peningkatan volume ekspor \nCPO dan turunannya asal Indonesia yang signifikan datang dari Pakistan \nmeskipun dalam hitungan kuantitasnya masih kecil,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPakistan\n mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 59% atau dari 78,80 ribu ton di\n Desember 2014 menjadi 125,61 ribu ton di Januari 2015. Negara-negara \nTimur Tengah yang merupakan pasar baru juga mencatatkan kenaikan \npermintaan sebesar 9% atau dari 174,36 ribu ton pada Desember 2014 \nmenjadi 190,20 ribu ton di Januari 2015.\"Kembali ke harga, harga \nrata-rata CPO Global sepanjang Januari 2015 hanya mampu bergerak di \nkisaran US$ 610-707 per metrik ton,\" imbuhnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurutnya, banjir\n di Malaysia yang sangat parah yang mengganggu panen sehingga pasokan \nberkurang tak mampu mengerek harga. Harga justru terjerembab terutama \npada pekan terakhir menjadi US$ 610 per metrik ton.\u003Cbr \/\u003EHarga rata-rata \nJanuari 2015 adalah US$ 669,6 per metrik ton atau turun 1% dibandingkan \nharga rata-rata bulan Desember 2014 yaitu US$ 677,6 per metrik ton.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara\n itu, harga di bulan dua pekan pertama Februari mulai merangkak naik \nmeskipun masih sulit untuk menembus US$ 700 per metrik ton. Sampai pada \nakhir bulan harga diperkirakan masih akan sulit menembus US$ 700 per \nmetrik ton.\"Hal ini terjadi karena kondisi di Malaysia mulai pulih pasca\n banjir dan turunnya nilai mata uang Malaysia terhadap dolar AS, keadaan\n ini menyulitkan harga CPO pasar global terdongkrak,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EGapki memprediksi harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 650-700 per metrik ton.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara\n itu Harga Patokan Ekspor Februari 2014 ditentukan oleh Kementerian \nPerdagangan sebesar US$ 648 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga \nrata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar \nUS$ 719.05 per metrik ton.\"Dengan melihat tren harga CPO global yang \nmenurun dan bergerak di bawah US$ 750 per metrik ton, Gapki \nmemperkirakan harga Bea Keluar untuk Maret akan tetap 0%,\" ujarnya. \n(ant)\n              \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4261986397105412413"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4261986397105412413"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/bisnis-sawit-masih-lesu.html","title":"Bisnis Sawit Masih Lesu"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-EQiceAsnydc\/VOgQc89aVsI\/AAAAAAABKgs\/G9UzpSgSAb0\/s72-c\/sawit.gif","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4208966320362753048"},"published":{"$t":"2015-02-17T21:00:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-02-17T21:00:26.607+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Fin Komodo mampu mengangkut 20 TBS Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/hutabayu-raja.blogspot.com\/2013\/11\/Fin-Komodo-cocok-untuk-sarana-angkutan-kelapa-sawit.html\" target=\"_blank\"\u003EFin Komodo\u003C\/a\u003E\u003C\/b\u003E\n sangat cocok untuk digunakan di daerah-daerah medan yang sulit \ndijangkau kendaraan biasa. Dan Fin Komodo ini sangat cocok digunakan \nuntuk sarana transportasi pada \u003Cb\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/hutabayu-raja.blogspot.com\/2013\/09\/perkebunan-kelapa-sawit.html\" target=\"_blank\"\u003Eperkebunan kelapa sawit\u003C\/a\u003E\u003C\/b\u003E. Apa kelebihan terhadap mobil yang satu ini, mobin ini dilengkapi dengan mesin 4 stroke 250 CC bertransmisi automatic dengan \u003Cspan class=\"wr1bp35\" id=\"wr1bp35_1\" style=\"height: 13px;\"\u003Ehorse\u003C\/span\u003E power sebesar 14HP di 7500 rpm dan torsi sebesar 17,6Nm\/5500 rpm. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKestabilan kendaraan ini pada medan offroad yang ekstrem tidak diragukan\n lagi, karena design dengan menggunakan perhitungan matematika persamaan\n keseimbangan yang akurat untuk setiap komponen dan manufaktur nya. Jadi fin komodo ini sangat cocok digunakan untuk sarana angkutan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ciframe allowfullscreen=\"\" class=\"YOUTUBE-iframe-video\" data-thumbnail-src=\"https:\/\/i.ytimg.com\/vi\/JDnJvlpuwGk\/0.jpg\" frameborder=\"0\" height=\"266\" src=\"http:\/\/www.youtube.com\/embed\/JDnJvlpuwGk?feature=player_embedded\" width=\"320\"\u003E\u003C\/iframe\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-vMQzqLi7PYI\/VONIthJEkpI\/AAAAAAABKGA\/Rml8EFSwq70\/s1600\/10979209_10206042626453520_359283889_n.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-vMQzqLi7PYI\/VONIthJEkpI\/AAAAAAABKGA\/Rml8EFSwq70\/s1600\/10979209_10206042626453520_359283889_n.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-UoR28CBsHsA\/VONIvOeCbRI\/AAAAAAABKGI\/bT0Gn_FVqpc\/s1600\/10988604_10206042627933557_1077283104_o.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-UoR28CBsHsA\/VONIvOeCbRI\/AAAAAAABKGI\/bT0Gn_FVqpc\/s1600\/10988604_10206042627933557_1077283104_o.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-f3cwg0y6kws\/VONIwl0Ai8I\/AAAAAAABKGQ\/NI6cwyyiLjE\/s1600\/10998297_10206042625813504_1066533797_o.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-f3cwg0y6kws\/VONIwl0Ai8I\/AAAAAAABKGQ\/NI6cwyyiLjE\/s1600\/10998297_10206042625813504_1066533797_o.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-0PITDjZsIJA\/VONIylLW9UI\/AAAAAAABKGY\/HGSQMjsnudY\/s1600\/11002096_10206042625133487_558049136_o.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-0PITDjZsIJA\/VONIylLW9UI\/AAAAAAABKGY\/HGSQMjsnudY\/s1600\/11002096_10206042625133487_558049136_o.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-pgm6bsRla_8\/VONI1mldvoI\/AAAAAAABKGg\/dpz47xWr1Bc\/s1600\/11002959_10206042627253540_1070948425_o.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-pgm6bsRla_8\/VONI1mldvoI\/AAAAAAABKGg\/dpz47xWr1Bc\/s1600\/11002959_10206042627253540_1070948425_o.jpg\" height=\"180\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4208966320362753048"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4208966320362753048"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2015\/02\/fin-komodo-mampu-mengangkut-20-tbs.html","title":"Fin Komodo mampu mengangkut 20 TBS Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/img.youtube.com\/vi\/JDnJvlpuwGk\/default.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2892851300044153701"},"published":{"$t":"2013-04-28T07:34:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-28T07:34:45.791+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Fin Komodo: Mitra Tangguh di Tambang dan Kebun"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ICUo2af43U4\/UXxrse41YxI\/AAAAAAAAHpw\/ftUs5MIo690\/s1600\/mitra-tangguh-di-tambang-dan-kebun.jpg\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"408\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ICUo2af43U4\/UXxrse41YxI\/AAAAAAAAHpw\/ftUs5MIo690\/s640\/mitra-tangguh-di-tambang-dan-kebun.jpg\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ETANGGUH: Tubuh mungil tapi aksi garang di medan ekstrem dan terjal siap ditunjukkan Fin Komodo. (Oki nutricahyo\/kp)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.kaltimpost.co.id\/berita\/detail\/18525\/mitra-tangguh-di-tambang-dan-kebun.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003EFin Komodo, Kendaraan Spesialis Off Road Hadir di Kaltim\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.kaltimpost.co.id\/berita\/detail\/18525\/mitra-tangguh-di-tambang-dan-kebun.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003EBALIKPAPAN\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E - Setelah hadir di sejumlah kota besar di \nTanah Air, kini, Fin Komodo juga hadir di Benua Etam. “Kami sangat \noptimistis dengan pasar Kalimantan, karena kendaraan ini memang sangat \nsesuai dengan geografis Kaltim. Selain itu, bagi mereka yang hobi dengan\n kegiatan \u003Ci\u003Eoff road \u003C\/i\u003Ejuga sangat banyak, sehingga kami yakin bisa diterima masyarakat Kaltim,” ungkap General Manager PT Rayy Empat Pilar Bahri.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFin Komodo merupakan kendaraan jenis \u003Ci\u003EOff road\u003C\/i\u003E Utility Vehicle\n yang sangat cocok dipergunakan di medan ekstrem. Fin Komodo menggunakan\n mesin 4 stroke 250 CC bertransmisi automatic dengan horse power sebesar\n 14HP di 7500 rpm dan torsi sebesar 17,6Nm\/5500 rpm.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSpesifikasi Fin Komodo tersebut sudah memadai untuk keperluan \u003Ci\u003Eoff road,\u003C\/i\u003E\n itu sebabnya, Fin Komodo sangat cocok digunakan di area perkebunan, \nhutan dan tambang. “Selain itu, FIN Komodo juga telah menjalin kerjasama\n dengan beberapa perusahaan yang akan menggunakan FIN Komodo,” \nlanjutnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFin Komodo yang 100 persen karya dan buatan anak bangsa Indonesia ini \nsudah meraih beberapa penghargaan di antaranya “Marketeers Award 2010, \nAnugrah Apresiasi inovasi Indonesia 2011 dan Penghargaan Rintisan \nTeknologi Industri 2012 dari kementerian perindustrian”.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nYang merupakan originalitas dari Fin Komodo ialah rancang bangun \nkendaraan (chassis \u0026amp; body) dan sistem suspensi, sehingga Fin Komodo \nsangat nyaman dikendarai di medan \u003Ci\u003Eoff road\u003C\/i\u003E.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPT. Rayy Empat Pilar selaku distributor tunggal di Kalimantan Timur \ntidak main–main dalam menggarap pasar. Selain mengincar segmen \nkorporasi, pasar retail ataupun individual pun akan dimaksimalkan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Sejauh ini sudah ada beberapa orang yang memesan kepada kami, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha yang punya hobi \u003Ci\u003Eoff road\u003C\/i\u003E,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKeseriusan PT. Rayy Empat Pilar ini diwujudkan dengan akan menyediakannya sirkuit\/arena \u003Ci\u003Eoff road \u003C\/i\u003Edan wadah komunitas off roader Fin Komodo di Kaltim.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSelain itu PT. Rayy Empat Pilar akan senantiasa aktif memperkenalkan \nFin Komodo di kalangan lebih meluas di Kaltim, seperti yang saat ini \ndilakukan yakni menggelar exhibition Fin Komodo di mall e-Walk \nBalikpapan SuperBlock (BSB) yang digelar mulai tanggal 24 – 29 April \n2013.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUntuk urusan harga, FIN KD 250 AT dibanderol mulai Rp 95 juta.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDiharapkan kehadiran Fin Komodo di Kaltim dapat menambah wahana baru \nbagi pecinta otomotif di Kaltim, khususnya off roader dan dapat \ndipertimbangkan sebagai kendaraan operasional bagi pengusaha perkebunan,\n tambang dan lainnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Sudah selayaknya kita sebagai anak bangsa, bangga dengan hasil karya \nanak bangsanya sendiri. Dan bentuk kebanggaan itu diwujudkan dengan \nmencintai dan mempergunakan produk Indonesia dalam keseharian kita,” \npungkas Bahri. \u003Cb\u003E(*\/hul\/lhl\/k1)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2892851300044153701"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2892851300044153701"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/fin-komodo-mitra-tangguh-di-tambang-dan.html","title":"Fin Komodo: Mitra Tangguh di Tambang dan Kebun"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ICUo2af43U4\/UXxrse41YxI\/AAAAAAAAHpw\/ftUs5MIo690\/s72-c\/mitra-tangguh-di-tambang-dan-kebun.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8100506322473802548"},"published":{"$t":"2013-04-18T13:14:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-18T13:14:32.438+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Singapura Terus Membuka Hutan Usai Ratakan Habitat Orangutan Kalimantan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"float: left; margin-right: 1em; text-align: left;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-YBz5y0b8dYw\/UW-OwXaTktI\/AAAAAAAAHnQ\/DMpETAtSwIo\/s1600\/FACT-SHEET-BUMITAMA-TUMBANG-KOLING6.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"228\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-YBz5y0b8dYw\/UW-OwXaTktI\/AAAAAAAAHnQ\/DMpETAtSwIo\/s320\/FACT-SHEET-BUMITAMA-TUMBANG-KOLING6.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPembukaan jalan untuk perkebunan kelapa sawit oleh Bumitama Agri.\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSejak kasus penebangan habitat orangutan di hutan berkategori high conservation value forest oleh perkebunan kelapa sawit PT Bumitama Agri Limited dibuka ke publik sejak Maret 2013 silam, dan disusul dengan evakuasi 4 individu orangutan kelaparan dari wilayah penebangan perusahaan milik Singapura ini, hingga kini perusahaan tersebut belum menghentikan operasi penebangan mereka. Keempat orangutan ini diselamatkan dari perkebunan PT Ladang Sawit Mas yang merupakan anak perusahaan Bumitama Agri di Ketapang, Kalimantan Barat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKasus ini sendiri saat ini tengah dilaporkan kepada lembaga Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk diselidiki lebih lanjut atas laporan yang disampaikan oleh Centre for Orangutan Protection (COP) ini. Dalam email balasan yang disampaikan oleh Manajer Pengaduan RSPO, Ravin Krishnan kepada pihak COP, pihaknya menjelaskan bahwa saat ini Bumitama masih belum memberikan penjelasan detail atas tuduhan yang dilayangkan terhadap mereka. Dalam surat tersebut, Ravin Krishnan juga menjelaskan bahwa pihaknya telah meminta Bumitama untuk menjawab tuduhan itu. Selain itu, Darrel Webber, Sekretaris Jenderal RSPO dikabarkan terlibat secara personal dalam proses penyusunan jawaban yang dibuat oleh Bumitama Agri dan diharapkan hasil dari pembicaraan ini akan bisa diketahui akhir pekan ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun, pihak COP, Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan International Animal Rescue (IAR) yang juga ikut dalam proses penyelamatan empat orangutan yang habitatnya digunduli oleh Bumitama Agri, mendesak agar selama proses ini Bumitama menghentikan penebangan dan operasi mereka di lapangan agar mencegah jatuhnya korban satwa liar dan dilindungi lebih banyak lagi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam pernyataan media mereka, Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro meminta agar pembabatan hutan ini dihentikan. “Kami menilai bahwa Bumitama tidak pernah serius berkomitmen untuk turut melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia. Mereka mengelabuhi tim penyelamat di lapangan dengan memberikan arahan keliru mengenai lokasi translokasi orangutan. Perusahaan Singapura ini juga terindikasi kuat sedang mengancam orangutan di Tumbang Koling dan buffer zone Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Laporan kami kirimkan ke Kementerian Kehutanan untuk mengusut dugaan – dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Bumitama, konsultan dan kontraktornya. Laporan juga dikirimkan ke Sekretariat RSPO agar Bumitama bisa dipecat dari keanggotaan RSPO,” ungkap Hardi dalam rilis medianya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain di Ketapang, Bumitama Agri juga sudah meratakan habitat orangutan di Desa Tumbang Koling, Kecamatan Cempaga Hulu, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Desa Tumbang Koling mulai diratakan oleh Bumitama Agri Limited sejak 25 Februari 2013 silam, setelah sebelumnya sudah diratakan oleh anak perusahaan mereka PT Nabatindo sejak 2012 silam. Dari hasil survey keragaman hayati di wilayah ini yang dilakukan oleh Centre for Orangutan Protection, Jakarta Animal Aid Network dan Friends of the National Park, kawasan berhutan ini menjadi habitat bagi 11 jenis mamalia, 34 jenis tumbuhan dan 11 jenis kupu-kupu, serta tanaman obat yang menjadi sumber kesehatan bagi masyarakat adat setempat. Beberapa satwa utama yang ada di kawasan ini adalah beruang madu (Helarctos malayanus), Owa (Hylobates sp) dan kukang (Nycticebus coucang).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBumitama Agri sendiri adalah anggota RSPO dengan nomor anggota 1-0043-07-000-00, yang mendapat izin untuk menebang di lokasi Desa Tumbang Koling ini berdasar Izin lokasi dan Hak Guna Usaha dari Bupati Kotawaringin Timur No. 803\/460.42 tanggal 15 Agustus 2005 dan No. 525.26\/678\/EKBANG\/2005 tanggal 28 November 2005 dengan total konsesi seluas 11.000 hektar. Perizinan ini awalnya diberikan kepada PT Nabatindo Karya Utama, namun selanjutnya Nabatindo dibeli oleh Bumitama Agri Ltd, yang berbasis di Singapura dan terdaftar secara sah di Singapura.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EOrangutan di Kalimantan adalah satu-satunya primata besar yang hidup di luar benua Afrika, dan kini tinggal tersisa sekitar 50.000 ekor di Kalimantan dari data yang dimiliki Departemen Kehutanan. Ancaman yang terbesar terhadap habitat orangutan adalah alihfungsi lahan untuk perkebunan, terutama kelapa sawit, dan pertambangan.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8100506322473802548"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8100506322473802548"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/singapura-terus-membuka-hutan-usai.html","title":"Singapura Terus Membuka Hutan Usai Ratakan Habitat Orangutan Kalimantan"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-YBz5y0b8dYw\/UW-OwXaTktI\/AAAAAAAAHnQ\/DMpETAtSwIo\/s72-c\/FACT-SHEET-BUMITAMA-TUMBANG-KOLING6.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-396440589011397891"},"published":{"$t":"2013-04-17T19:05:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-17T19:05:39.778+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Sertifikasi Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-7S9b_ew9Nuk\/UW6QAN6sKvI\/AAAAAAAAHls\/YYJs2E9CE8I\/s1600\/sawit+-+pabrik+minyak.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"213\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-7S9b_ew9Nuk\/UW6QAN6sKvI\/AAAAAAAAHls\/YYJs2E9CE8I\/s320\/sawit+-+pabrik+minyak.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMinyak sawit Indonesia tengah menjadi sorotan dunia. Bukan hanya karena \nIndonesia saat ini merupakan negara pengekspor terbesar, tetapi juga \nkarena tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan minyak sawit \nyang dihasilkan melalui pengelolaan yang lestari. \u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nIsu kelestarian bukanlah hal yang mudah disepakati semua pihak, begitu \npun mengenai cara pembuktiannya. Namun, semua pihak akan bersepakat \nbahwa pilar utama yang menyokong kelestarian adalah adanya keseimbangan \nantara kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nWWF-Indonesia sebagai organisasi lingkungan yang telah berkiprah \nselama 50 tahun di Indonesia, memiliki tanggung jawab sebagai bagian \nkomponen bangsa untuk membantu terwujudnya pembangunan berkelanjutan \nyang mengandung tiga pilar tersebut. Salah satu misi WWF di Indonesia \nadalah mempromosikan pelestarian bagi kesejahteraan masyarakat, melalui \npemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. WWF memandang bahwa \nmasyarakat semestinya menjadi penerima manfaat (\u003Cem\u003Ebeneficiary\u003C\/em\u003E) \nutama dari pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Manfaat tersebut \ntentu saja tidak hanya berupa manfaat yang kasat mata atau \u003Cem\u003Etangible\u003C\/em\u003E,\n tetapi juga manfaat lain dalam bentuk produk dan jasa lingkungan bagi \nmasyarakat yang tak terhitung harganya. Hal ini menjadi landasan \npemikiran bagi WWF-Indonesia dalam mendorong praktik minyak sawit \nberkelanjutan. \u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cstrong\u003ETantangan industri kelapa sawit vis-a-vis deforestasi\u003Cbr \/\u003E\n\n\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengembangan perkebunan sawit pada lahan-lahan yang \u0026nbsp;telah \nterdegradasi merupakan tantangan tersendiri bagi industri sawit \nIndonesia. Pengembangan sawit semestinya tidak dilakukan pada kawasan \nhutan dengan nilai konservasi tinggi --seperti pada lahan gambut, hutan \nprimer dan kawasan dengan populasi satwa-satwa langka yang dilindungi, \nmelainkan hanya pada lahan-lahan yang secara ekologi telah \nterdegradasi.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKegagalan dalam menerapkan prinsip tersebut kerap menyebabkan industri \nsawit dituding sebagai penyebab timbulnya deforestasi dan kerusakan \nkeanekaragaman hayati. Hal ini pula yang kadang menjadi sumber \n“ketegangan” antara banyak pihak. Tak jarang organisasi lingkungan pun \ndituding menyebarkan kampanye hitam demi menguntungkan kepentingan \nasing. \u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWWF-Indonesia meyakini bahwa pembangunan ekonomi selalu dapat berjalan \nseiring dengan prinsip-prinsip keberlanjutan baik lingkungan maupun \nsosial. WWF meminta kepada pelaku usaha agar pengembangan kelapa sawit \nhanya dilakukan pada lahan-lahan yang terlantar atau terdegradasi, dan \nbukan dengan mengorbankan hutan alam atau lahan gambut sehingga \nmenyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan daya dukung kehidupan. \nDengan mengakomodir aspek-aspek lingkungan dan sosial, termasuk \npengambilan keputusan yang melibatkan masyarakat lokal dan penduduk \nasli, WWF percaya bahwa pelaku usaha tetap dapat memenuhi target \nproduksi melalui optimalisasi produktivitas lahan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nStandardisasi \u003Cem\u003ERoundtable Sustainable Palm Oil\u003C\/em\u003E (RSPO) mencakup persyaratan pelindungan area bernilai konservasi tinggi (\u003Cem\u003EHigh Conservation Value\u003C\/em\u003E\/HCV)\n merupakan indikator kunci diterapkannya prinsip keberlanjutan pada \nindustri minyak sawit. RSPO dibangun dengan pemahaman bersama dari para \npihak yang terkait dalam rantai pasok minyak sawit. Mekanismenya \ndibangun dan dijalankan melalui konsensus para pihak dalam menentukan \nstandard-standard yang akan diterapkan pada sistem sertifikasi.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWWF-Indonesia menyambut baik kebijakan pemerintah yang telah menetapkan \nISPO pada 2011 sebagai mekanisme wajib bagi pelaku usaha untuk \npembangunan perkebunan sawit berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa \npemerintah memiliki komitmen kuat terhadap industri sawit yang lestari. \nDiterapkannya ISPO sebagai aturan wajib dari pemerintah juga merupakan \nindikasi pengaruh positif yang dibawa RSPO sejak aktif berdirinya \nasosiasi non-profit dan sukarela tersebut \u0026nbsp;pada 2004.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDengan mengaplikasikan RSPO dan ISPO, harapannya kedua skema tersebut \ndapat mendukung komitmen Pemerintah khususnya komitmen Pemerintah RI \nuntuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri \ndan 41% dengan bantuan internasional pada 2020 dari kondisi tanpa adanya\n rencana aksi (\u003Cem\u003Ebussines as usual\u003C\/em\u003E\/BAU).\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPresiden SBY dalam pidatonya, seperti yang dikutip dan disampaikan \nkembali oleh Ketua Umum GAPKI Joefly J. Bahroeny pada perayaan \"Semarak \n100 Tahun Industri Kelapa Sawit Indonesia\" di Medan 29 Maret 2011, \nmeminta agar Indonesia benar-benar berkomitmen dalam menerapkan prinsip \u003Cem\u003Egreen development\u003C\/em\u003E (\u003Cem\u003Esustainability\u003C\/em\u003E)\n dalam operasional perusahaan. Presiden bahkan menyatakan siap berdiri \npaling depan dan pasang badan dalam membela kepentingan industri \nnasional termasuk industri kelapa sawit, terutama atas berbagai tuduhan \nyang tidak benar dari dunia internasional. Namun demikian, Presiden \nmengharapkan agar para pelaku usaha benar-benar mematuhi berbagai \nketentuan dan peraturan pemerintah yang berlaku. Sistem RSPO dan ISPO \nyang menitikberatkan kepada operasional pelaku usaha sawit mempunyai \nperanan penting terhadap tercapainya imbauan ini. Keduanya sama-sama \ndimaksudkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa minyak sawit diproduksi\n dengan menerapkan prinsip \u003Cem\u003Esustainability\u003C\/em\u003E yang memperhatikan faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cstrong\u003EPasar Sawit yang Lestari\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPasar Indonesia sudah bergerak maju menuju prinsip kelestarian. Data \ntahun 2013 menunjukkan bahwa produser sawit Indonesia saat ini \nmendominasi suplai kelapa sawit yang bersertifikasi ramah lingkungan \nRSPO atau RSPO \u003Cem\u003ECertified Sustainable Palm Oil\u003C\/em\u003E (CSPO) di pasar \nglobal. Persentasi suplai CSPO dari Indonesia yakni 50% dari CSPO global\n adalah dari Indonesia sudah melebihi negara tetangga Malaysia dan \njumlahnya mencapai hampir setengah dari total suplai di pasar global. \nJika pemerintah dan produsen Indonesia melihat \u0026nbsp;kondisi ini sebagai \nsebuah peluang untuk meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di \npasar global, maka Indonesia perlu lebih serius menjaga konsistensi dan \nkredibilitas yang sudah terbangun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKerja sama dan sinergi para pihak termasuk pemegang kebijakan, \npengusaha, LSM, petani, serta masyarakat sangat diperlukan demi \nkeberlanjutan masa depan sawit dan perekonomian Indonesia. Semangat \nnasionalisme ini tidak hanya berarti menjunjung tinggi kemerdekaan dan \nkedaulatan bangsa, tetapi juga artinya mempertimbangkan keberlanjutan \nkehidupan di Bumi demi masa depan anak cucu dan negara yang kita cintai.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cstrong\u003EPeran Petani Swadaya Dalam Transformasi Pasar\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKelapa sawit merupakan komoditi dominan di dalam sektor perkebunan di \nIndonesia, dengan luasan 9,27 juta hektar dan produksi mencapai 23,633 \njuta ton per tahun. Sekitar 45% nya merupakan perkebunan kelapa sawit \nrakyat (Kementan, 2010). \u0026nbsp;Berdasarkan data, di Provinsi Riau dari total \nluasan 2.1 juta hektar perkebunan kelapa sawit; 1,1 juta hektar dimiliki\n oleh petani, dan sebesar 76% dari luasan tersebut dimiliki oleh petani \nkelapa sawit swadaya (Disbun Riau, 2011). Figur ini menggambarkan bahwa \npetani mempunyai potensi ekonomi yang tinggi. Namun, pada kenyataannya \ntidak demikian. Luasnya lahan sawit yang dikelola oleh petani swadaya \nbelum menghasilkan hasil produksi yang baik dan maksimal, sehingga \npetani mempunyai tendensi untuk memperluas lahan kebunnya.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKondisi di lapangan menunjukkan, kawasan hutan baik lindung maupun \nproduksi masih menjadi sasaran perluasan kebun sawit petani swadaya. \nSalah satunya fakta yang terjadi di Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, \nRiau. Dari total luas kawasan TN 83 ribu hektar, sekitar 30 ribu hektar \ntelah dirambah untuk perkebunan sawit (WWF-Indonesia, 2010). Padahal, \nperaturan perundang-undangan melarang adanya kegiatan perkebunan di \nkawasan taman nasional. Hal pendorong ini pun dipicu oleh minimnya \npengetahuan petani tentang praktik kebun yang lestari.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSalah satu upaya yang dilakukan WWF-Indonesia untuk mengatasi \npermasalahan tersebut, WWF melakukan pendampingan kepada 349 petani \nswadaya di sekitar kawasan TN \u0026nbsp;untuk mendapatkan sertifikasi RSPO. Upaya\n ini mendorong optimaliasi baik dari sisi produksi, pengelelolaan \nlingkungan, dan manajemen operasional petani swadaya, serta kelangsungan\n ekonomi.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDengan memperkenalkan praktik pembangunan kelapa sawit berkelanjutan \nmaka kekhawatiran akan hilangnya kawasan hutan yang tersisa dapat \nditekan. Melalui sertifikasi, penerapan pembangunan perkebunan kelapa \nsawit lestari yang memenuhi kriteria lingkungan, sosial dan ekonomi, \ndiharapkan menjadi sebuah keniscayaan. \u003Cstrong\u003EIrwan Gunawan\u003C\/strong\u003E \u003Cem\u003E(Deputy Director Market Transformation\u003C\/em\u003E) WWF-Indonesia\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/396440589011397891"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/396440589011397891"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/sertifikasi-kelapa-sawit.html","title":"Sertifikasi Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-7S9b_ew9Nuk\/UW6QAN6sKvI\/AAAAAAAAHls\/YYJs2E9CE8I\/s72-c\/sawit+-+pabrik+minyak.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-657433876693180379"},"published":{"$t":"2013-04-15T23:39:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-15T23:39:33.979+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Indonesia Bawa Komoditas Perkebunan Sawit Masuk APEC"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-EJ9sHJl47Ic\/UWwtLAKZujI\/AAAAAAAAHi4\/Mkkapc5ftm4\/s1600\/146881.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"200\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-EJ9sHJl47Ic\/UWwtLAKZujI\/AAAAAAAAHi4\/Mkkapc5ftm4\/s320\/146881.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EMetrotvnews.com, Surabaya:\u003C\/strong\u003E Indonesia terus \nmemperjuangkan komoditas perkebunan berupa sawit yang selama ini \ntertinggal laju perdagangannya di dunia internasional dalam forum SOM II\n \"Asia Pacific Economic Cooperation\" (APEC) yang digelar di Surabaya \npada 7-19 April 2113.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nDirektur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional lainnya dan \nDirektur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian \nPerdagangan RI, Deny W Kusuma, Senin, mengatakan Indonesia terus \nberupaya memasukkan dimensi ekonomi berkeadilan dalam kebijakan yang \nakan diterapkan kawasan Ekonomi (APEC).\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\"Dalam pertemuan APEC di Surabaya ini, selain mengangkat misi Bogor goal\n yang menekankan pada liberalisasi dan fasilitas perdagangan, Indonesia \njuga akan menekankan pada beberapa sektor yang tertinggal laju \npertumbuhannya dari sektor yang unggul, di antaranya sektor perkebunan \ndan kehutanan,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nMenurut dia, sejauh ini beberapa Negara masih menerapkan tarif yang \ncukup tinggi untuk berbagai komoditas hasil hutan dan perkebunan salah \nsatunya sawit. Bahkan, banyak juga negara yang memperlakukan standar \nmutu yangs angat tinggi, sehingga ekspor Indonesia untuk\u0026nbsp; jenis \nkomoditas tersebut sangat kecil karena banyaknya hambatan.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nIa mencontohkan komoditas sawit yang selama ini tarif yang diberlakukan \nmasih sangat tinggi. Bahkan China tarifnya mencapai 9 persen, Amerika \nLatin mencapai lebih dari 6 persen dan di beberapa negara Asian \nmenerapkan sekitar 11 persen.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\"Padahal potensi sawit untuk mengisi kebutuhan minyak nabati dunia cukup tinggi,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nSelain itu, lanjut dia, saat ini lahan sawit di seluruh dunia mencapai \nsekitar 4,7 juta hektare. Dari luas lahan tersebut, produksinya mencapai\n 38 juta ton per tahun. \u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\"Indonesia adalah penghasil sawit terbesar dunia. Sementara kompetitor \nterdekatnya, misalkan jagung lahannya di seluruh dunia sudah diatas 4,7 \njuta, bahkan gandum lahannya mendekati 20 juta hektare sedangkan \nproduksinya masih belasan juta ton per tahun,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nSelama ini, lanjut dia, pihaknya melihat ada semacam ketakutan \nnegara-negara penghasil komoditas kompetitor sawit terdekat, seperti \njagung, kedelai, gandum, tebu dan jarak yang didominasi oleh \nnegara-negara maju seperti Amerika, Eropa, Brazil dan Kanada. \u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\"Jadi tidak mengherankan jika selama ini sawit berupaya disisihkan dan dihancurkan lewat isu lingkungan,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nDitanya soal tanggapan peserta APEC terhadap isu yang dihembuskan \nIndonesia tersebut, ia mengatakan memang masih belum menunjukkan hasil \npositif. \u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nSaat ini, yang disetujui untuk isu tersebut adalah dengan melakukan \ndialog kebijakan pada SOM III di Medan pada Juni mendatang. Dari dialog \ntersebut akan disarikan kesimpulannya yang akan diangkat dalam\u0026nbsp; \npertemuan ke-9 \"Ministerial Conference\" (MC9) antarmenteri di Bali pada \nOktober mendatang yang kemudian akan diangkat pada pembahasan \nantarpemimpin negara anggota APEC.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\"Tapi intinya, tahun ini kami berupaya mengejarnya. Ini adalah peluang \nuntuk memasukkan isu tersebut untuk melengkapi dalam kebijakan yang akan\n diambil oleh negara anggota APEC,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nIa menjelaskan bahwa mengubah cara pandang itu butuh waktu untuk sukses,\n makanya pihaknya akan terus berjualan. \"Kami sedang merencanakan untuk \nmembuat proposal yang cukup bagus pada SOM III di Medan agar bisa \nditerima oleh anggota,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nBeberapa pakar akan dicari guna merumuskan proposal yang akan membahas \ntentang perkembangan ekonomi, perdagangan dan investasi yang \nberkeadilan, minimal akan ada lima pakar yang akan membidanginya. \n(Antara)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/657433876693180379"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/657433876693180379"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/indonesia-bawa-komoditas-perkebunan.html","title":"Indonesia Bawa Komoditas Perkebunan Sawit Masuk APEC"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-EJ9sHJl47Ic\/UWwtLAKZujI\/AAAAAAAAHi4\/Mkkapc5ftm4\/s72-c\/146881.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7587697820260286110"},"published":{"$t":"2013-04-15T17:16:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-24T18:50:27.017+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Usaha Kelapa Sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL)"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/--SySi4mqMRA\/UWvT8F20GyI\/AAAAAAAAHeI\/qydkvM0kry4\/s1600\/astra+agro+lestari+plantation.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/--SySi4mqMRA\/UWvT8F20GyI\/AAAAAAAAHeI\/qydkvM0kry4\/s1600\/astra+agro+lestari+plantation.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nAstra Agro Lestari\u0026nbsp; merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi perkebunan yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1989. Perusahaan ini menghasilkan berbagai macam-macam bahan perkebunan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) adalah salah satu produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar di Indonesia. AAL tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan Astra International sebagai pemegang saham utama sebesar 79,7%.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam menjalankan usahanya secara berkelanjutan AAL fokus untuk meningkatkan produktivitas dan rendemen (tingkat ekstraksi). Hal ini dilakukan dengan menjalankan berbagai program intensifikasi seperti penerapan mekanisasi dalam kegiatan pemupukan dan panen; riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas kebun dan menjamin ketersediaan bibit kelapa sawit di masa depan dan program penanaman kembali yang telah dimulai sejak tahun 2009 dan 2010.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAAL berada dalam posisi yang tepat untuk memanfaatkan keterbatasan pasokan di pasar yang diakibatkan oleh meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap masalah pemeliharaan lingkungan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan align=\"left\"\u003ESejarah Astra Agro Lestari Tbk\ndapat ditelusuri kembali ke sekitar 30 tahun yang lalu saat PT Astra \nInternational, mendirikan unit usaha pertanian untuk mengembangkan \nperkebunan ubi kayu di areal seluas 2.000 hektare (ha).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSeiring \npermintaan pasar, unit usaha itu melakukan alih usaha berubah menjadi \nperkebunan karet. Selanjutnya, melihat prospek yang bagus di bisnis \nkelapa sawit, anak usaha Astra ini memutuskan menggarap bisnis di segmen\ntersebut tahun 1984 dengan mengakuisisi PT Tunggal Perkasa Plantations,\nyang memiliki total luas 15.000 ha perkebunan kelapa sawit di Provinsi \nRiau.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTonggak sejarah Astra Agro terjadi pada 1988, ketika Astra \nInternational membuat segmen kelapa sawit dari unit bisnis sebagai \nentitas baru dengan nama PT Suryaraya Cakrawala. Selanjutnya, pada tahun\n1989, nama anak perusahaan diubah menjadi PT Astra Agro Niaga. Kemudian\npada tahun 1997, PT Astra Agro Niaga melakukan merger dengan Suryalaya \nBahtera dan berubah nama jadi Astra Agro Lestari.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSebagai bagian \ndari grup besar, Astra Agro ingin menerapkan tata kelola perusahaan yang\nbaik. Akhirnya pada Desember 1997, Astra Agro Lestari menjadi \nperusahaan publik dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta \n(BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES), yang kemudian merger dan bernama \nBursa Efek Indonesia (BEI).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSelain mewujudkan good corporat \ngovernance (GCG), langkah go public Astra Agro juga sebagai bentuk \nmenggalang dana dari pasar modal. Saat penawaran umum perdana (IPO), \nAstra Agro menawarkan 125.800.000 saham kepada masyarakat dengan harga \nRp1.550 per saham. Kini, saham emiten berkode AALI ini bertengger di \nkisaran Rp23.000.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAstra Agro Lestari merupakan perusahaan \npanghasil minyak sawit mentah (Crude Palm Oil\/CPO) dan Kernel Palm Oil \n(KPO) yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan minyak goreng, \nmargarine, sabun, perlengkapan kosmetik, atau pupuk.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBermula dari\n2.000-an ha lahan di Riau, lahan perkebunan kelapa sawit Astra Agro \nkini tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSaat \nini total pabrik pengolahan Astra Agro dan anak usaha memiliki kapasitas\nproduksi 940 ton tandan buah per jam dan 600 ton kernel per hari dan \n300 ton CPO per hari. Keseluruhan proses produksi itu dikerjakan melalui\nanak usaha yang meliputi PT Sari Lembah Subur, PT Eka Dura Indonesia, \nPT Tunggal Perkasa Plantations, hingga PT Sawit Asahan Indah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTotal\nkapasitas produksi itu belum memperhitungkan dua pabrik baru yang \ndibangun pada tahun 2012 yang berlokasi di Kalimantan dan Sulawesi. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDirektur\nAstra Agro, Santosa mengungkapkan, pabrik itu dirancang berkapasitas 45\nton tandan buah segar (TBS) per jam. Nilai investasi untuk satu pabrik \nberkisar Rp100 miliar hingga Rp120 miliar.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut \nSantosa, AALI perlu membangun pabrik untuk mendukung sektor hulu. \n\"Diharapkan, dua pabrik ini bisa beroperasi dalam lima tahun mendatang,\"\nkata dia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDua proyek ini merupakan kelanjutan dari ekspansi \nproduksi AALI pada tahun-tahun sebelumnya, yakni pembangunan dua PKS di \nKalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Timur (Kaltim). Dua pabrik \nyang beroperasi penuh awal 2012 memiliki kapasitas masing-masing 45 ton \nper jam, dan 30 ton per jam. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMelihat gerak ekspansi perusahaan,\ntak heran hingga semester I-2012 Astra Agro Lestari membukukan \npendapatan Rp5,65 triliun atau naik 6,6% dibanding periode yang sama \ntahun sebelumnya Rp5,3 triliun.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDari total pemasukan tersebut, \npendapatan yang berhasil dibukukan dari penjualan minyak sawit mentah\u0026nbsp; \nsepanjang paruh pertama tahun ini mencapai Rp5,08 triliun. Nilai ini \nmeningkat 11,89% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,54 \ntriliun.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKenaikan pendapatan Astra Agro tidak sekedar karena \nkenaikan harga CPO, melainkan beriringan dengan bertambahnya volume. \nHingga akhir semester pertama tahun 2012, Astra Agro berhasil \nmeningkatkan volume penjualan CPO sebesar 13,7 persen\u0026nbsp; menjadi 644.439 \nton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya se banyak 566.774 ton.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBeberapa anak perusahaan \u003C\/span\u003EPT Astra Agro Lestari Tbk (AAL). telah menggunakan\u0026nbsp; mobil \u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003EF\u003C\/a\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003EIN Komodo\u003C\/a\u003E sebanyak lebih dari 50 (lima puluh unit)\u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003E FIN Ko\u003C\/a\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003Emodo\u003C\/a\u003E, \u003C\/span\u003Eyang terus bertambah sesu\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eai degan kebutuhan sejak pertengahan tahun 2012, d\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eimana FIN Komodo \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003Edigu\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Enakan sebagai operasional di Perkebunan Kelapa Sawit, terutama sekali digunakan sebagai perbaikan jalan di area perkebunan Kelapa Sawit\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBerikut ini adalah testimoni dari pengguna \u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003EFIN Komodo\u003C\/a\u003E di di salah satu anak perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit PT Astra Agro Lestari\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E, \u003C\/span\u003Eyang berlokasi di daerah Mamuang, dan dibandingkan dengan cara perawatan jalan yang bi\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Easa dila\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ekukan Group Astra Agro Lestari, dengan menggunakan \u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003EFIN Komodo\u003C\/a\u003E bisa menghemat \u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ehampir 90% ditinjau dari investasi dan biaya operasionalnya\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ciframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https:\/\/www.blogger.com\/video.g?token=AD6v5dwW3w-2F0XN8VxcLyrZIQBViDWdEZ43YO9zIVSSuEfxzYe7CMNtWkw2oppAiiZvJx5nFKZ6ODGagPTcPZ3hEw' class='b-hbp-video b-uploaded' frameborder='0'\u003E\u003C\/iframe\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\nDibawah ini adalah untuk Aplikasi Penyiraman Pupuk Cair dan Penyiraman Cairan Pembunuh Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit dengan menggunakan \u003Ca href=\"http:\/\/www.finkomodo.com\/\" target=\"_blank\"\u003EFIN Komodo\u003C\/a\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Zeajfu0vDTc\/UWvdJ6XEBmI\/AAAAAAAAHeY\/3ZdmiYv94oU\/s1600\/ISO+View+saat+dilipat.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Zeajfu0vDTc\/UWvdJ6XEBmI\/AAAAAAAAHeY\/3ZdmiYv94oU\/s400\/ISO+View+saat+dilipat.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-shnPOelg5VY\/UWvdQumo_lI\/AAAAAAAAHe0\/jTJr7aDeIuU\/s1600\/Side+View+saat+dilipat.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-shnPOelg5VY\/UWvdQumo_lI\/AAAAAAAAHe0\/jTJr7aDeIuU\/s400\/Side+View+saat+dilipat.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UV5XcLJZ70E\/UWvdOYlLnLI\/AAAAAAAAHes\/FRtAtdFc3lg\/s1600\/Rear+View+saat+terbuka+siap+spray.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UV5XcLJZ70E\/UWvdOYlLnLI\/AAAAAAAAHes\/FRtAtdFc3lg\/s400\/Rear+View+saat+terbuka+siap+spray.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-d1Lsrma4IQg\/UWvdL2Z_mvI\/AAAAAAAAHek\/7FMuNt-QnoU\/s1600\/ISO+View+saat+terbuka+siap+spray.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-d1Lsrma4IQg\/UWvdL2Z_mvI\/AAAAAAAAHek\/7FMuNt-QnoU\/s400\/ISO+View+saat+terbuka+siap+spray.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7587697820260286110"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7587697820260286110"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/usaha-kelapa-sawit-dari-pt-astra-agro.html","title":"Usaha Kelapa Sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL)"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/--SySi4mqMRA\/UWvT8F20GyI\/AAAAAAAAHeI\/qydkvM0kry4\/s72-c\/astra+agro+lestari+plantation.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5481911038840377859"},"published":{"$t":"2013-04-15T17:02:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-15T17:02:10.736+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO)"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-oI64DoyUuqw\/UWvPjJyfW-I\/AAAAAAAAHd0\/1op0McCd80s\/s1600\/ispo.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"160\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-oI64DoyUuqw\/UWvPjJyfW-I\/AAAAAAAAHd0\/1op0McCd80s\/s400\/ispo.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri sawit di Tanah Air kita luar biasa perkembangannya. Dengan luas lahan sekitar 8,9 juta hektar dan total produksi tahun 2013 kurang lebih 23 juta ton, tak pelak jika negara kita masih mendominasi pasar sawit dunia. Setelah itu, baru Malaysia di posisi ke-2. Namun, pengelolaan perkebunan sawit kita masih jauh dari ideal, sehingga merusak lingkungan sekitar. Akibatnya, banyak tudingan miring, khususnya lembaga mancanegara terhadap sektor perkebunan ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EItulah sebabnya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian berusaha meredam tudingan negatif tersebut dengan memberikan sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Dengan ISPO diharapkan menghindari dan mengurangi dampak pengrusakan lingkungan, emisi gas rumah kaca, hingga pemicu deforestasi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELantas, apa bedanya ISPO dengan Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO)? Sertifikasi internasional RSPO bersifat voluntary, untuk memenuhi permintaan pasar. Sebaliknya, ISPO bersifat mandatory atau wajib. Alhasil, akan ada sanksi bagi perusahaan yang tidak melakukan sertifi kasi ISPO.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESetidaknya ada tiga tujuan utama ISPO,” ujar Dr Rosediana Suharto, Sekretariat Komisi Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia saat presentasi dalam Workshop Wartawan Nasional “Membangun Industri Kelapa Sawit\u0026nbsp; Berkelanjutan 2013″ yang digelar GAPKI . Pertama, meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit Indonesia untuk memperbaiki linkungan. Kedua, meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di luar negeri. Ketiga, mendukung program pengurangan gas rumah kaca dan menjadi persyaratan utama negara pembeli bagi plam oil biodesel.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenilaian ISPO ada dua tahap. Pertama, peran pemerintah. Caranya, melakukan penilaian usaha perkebunan dan menentukan kelas kebun, kelas1,2,3 dapat mengajukan untuk disertifikasi. Kedua, lembaga independen. Ini dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh KAN atau punya kerja sama dengan KAN, perwakilan asing auditor harus memiliki izin kerja.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EApa saja persyaratan ISPO? Menurut Rosediana, ada tujuh kriteria, yaitu: sitem perizinan dan manajemen risiko\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(1); penerapan pedoman teknis budidaya dan pengolahan kelapa sawit\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(2); penundaan izin lokasi pemberian hak atas tanah untuk usaha perkebunan\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(3); pengelolaan dan pemantauan lingkungan\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(4); tanggungjawab terhadap pekerja\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(5); tanggungjawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(6); peningkatan usaha secara berkelanjutan\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003ERosediana menegaskan, ISPO tidak akan \nmemberatkan pengusaha karena peraturan-peraturan tersebut seharusnya \nsudah dipenuhi . “Ketentuan ISPO memiliki legal frame yang jelas. \nSebagai ketentuan pemerintah, ISPO akan dinotifikasikan ke WTO agar \ndiakui oleh seluruh anggota WTO,” ucapnya. Yang jelas, penerapan ISPO \nadalah \u003Cem\u003Emandatory \u003C\/em\u003Euntuk pasar lokal dan eskpor.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EKehadiran ISPO direspons positif oleh anggota \nGAPKI. Ya, bagi kalangan pengusaha kelapa sawit yang tergabung dalam \nGAPKI, sertifikat ISPO merupakan langkah awal dari bentuk pengakuan \nbahwa perkebunan sawit bisa dikelola secara lestari. Perusahaan sawit \nyang mendapat ISPO menandakan proses produksinya sudah memperhatikan \nkeseimbangan alam, sosial, dan ekonomi masyarakat lokal.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003ESejauh ini, dari sekitar 8,6 juta lahan sawit, \nbaru ada 100-200 ribu hektar saja yang sudah mengantongi sertifikat \nISPO. Ada 10 perusahaan perkebunan kelapa sawit telah memperoleh \nsertifikat bergengsi tersebut.\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EBerikut ini nama 9 dari 10 perusahaan \npenerima ISPO :\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Musim Mas,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Swadaya Andika,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Laguna Mandiri,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT \nIvomas Tunggal,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Hindoli,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Perkebunan Nusantara V,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Gunung \nSejahtera Ibu Pertiwi,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Gunung Sejahtera Dua Indah,\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EPT Sari Aditya \nLoka 1.\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan\u003EUntuk tiga perusahaan yang disebutkan terakhir merupakan \nperusahaan afiliasi PT Astra Agro Lestari Tbk. \u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5481911038840377859"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5481911038840377859"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/indonesia-sustainable-palm-oil-ispo.html","title":"Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO)"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-oI64DoyUuqw\/UWvPjJyfW-I\/AAAAAAAAHd0\/1op0McCd80s\/s72-c\/ispo.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5834120448589388789"},"published":{"$t":"2013-04-15T16:57:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-15T16:57:52.415+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Busuk Pangkal Batang Pada Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-tXkRYIG6B78\/UWvPCanHk6I\/AAAAAAAAHdo\/9TNF1zqEZDM\/s1600\/1365984482711320755.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-tXkRYIG6B78\/UWvPCanHk6I\/AAAAAAAAHdo\/9TNF1zqEZDM\/s320\/1365984482711320755.jpg\" width=\"218\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenyakit Busuk Pangkal Batang atau Basal Stem Rot (BSR) adalah suatu penyakit yang paling banyak menyerang tanaman sawit di Indonesia, sehingga menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi petani pekebun dan perusahaan. Ciri tanaman sawit yang terkena BSR ini adalah daun berwarna hijau pucat, janur (daun muda) yang terbentuk sedikit, daun tua menjadi layu dan kemudian patah, serta dari tempat yang terinfeksi mengeluarkan getah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenyakit BSR inilah yang biasanya menyebabkan pohon sawit bisa tumbang atau patah batang secara tiba-tiba, seolah tanpa sebab, menimpa orang atau pekerja, sehingga sering dikaitkan dengan takhayul. Sialnya, kepatahan pohon itu sering terjadi saat pekerja sedang memanen TBS dengan cara mengegreknya. Tarikan egrek itu menjadi pemicu tumbangnya pohon, dan biasanya mengarah ke pekerja.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun penyebab BSR ini adalah sejenis jamur mikroskopis yang bernama Ganoderma sp. Ada beberapa varian dari ganoderma sp, diantaaranya adalah : G.applanatum, G.lucidum, G.pseudofferum dan yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah G.boninesse.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESampai sepuluh tahun yang lalu, belum ditemukan cara yang efektif untuk membasmi jamur ganoderma sp. ini. Dalam berbagai percobaan di laboratorium, hampir semua fungisida kimiawi dapat mengatasi jamur ini, tetapi tidak ketika diterapkan di lapangan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun perlakuan dengan fungisida sistemik (Tridemorph dan Dazomet) dengan suntikan bertekanan ke arah akar memang mampu membatasi penyebaran, tetapi cara ini sulit diterapkan karena sulit memastikan zat aktif benar-benar langsung diserap akar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKemudian dikembangkan pengendalian ganoderma secara biologis, yaitu dengan menumbuhkembangkan musuh alaminya. Adapun musuh alami ganoderma sp. adalah jamur trichoderma sp. Jamur trichoderma sp. ini bersifat tidak merugikan bagi tanaman dan hewan atau manusia, tetapi merupakan predator atau musuh alami ganoderma sp. Bila dilihat dengan mikroskop, trichoderma sp. membelit dan mematikan ganoderma sp. dalam waktu enam hari saja sejak kontak pertama.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeberapa perusahaan produsen bio pestisida kemudian memproduksi dan memasarkan trichoderma sp. ini. Beberapa merk dagang yang sudah masuk ke Indonesia diantaranya adalah : NaturalGlio produksi NASA, AgenT produksi MOSA, M-Dec produksi MM dan EvaGrow produksi TIENS. Adapun cara pemakaian bio pestisida itu, tentu dapat dibaca pada label atau kemasannya. Penting kami sampaikan, agar para pengguna bio pestisida selalu mematuhi aturan cara pakai yang sudah ditetapkan produsen masing-masing.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain dengan menggunakan bio pestisida yang ramah lingkungan, bisa juga dengan cara membuat lingkungan tumbuh ganoderma menjadi tidak sesuai, sehingga jamur ganoderma ini tidak atau sulit berkembang. Pemberian kalsium nitrat (produksi Norsk Hydro, dengan kandungan N 15% dan Ca 19%) dapat menjadi penghalang terhadap serangan penyakit BSR, dimana jamur patogen menjadi melemah secara statis dan pertumbuhannya menurun\/melambat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeberapa perusahaan besar penanam kelapa sawit ada juga yang menggunakan sistim penanaman lubang dalam lubang untuk mengurangi penyebaran jamur ganoderma ini. Adapun mengenai penanaman dengan sistim lubang dalam lubang ini telah kami tulis dalam tulisan sebelumnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBetapapun, pada serangan yang berat, maka pohon harus ditumbang dan dibakar untuk mencegah penularan yang lebih parah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDemikian kami sampaikan sedikit ulasan tentang penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit. Bila ada yang butuh penjelasan, bisa menghubungi ponsel 081263076562. Kami akan senang belajar dan berbagi ilmu pertanian dengan semua pihak.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenulis adalah staf pada UKM Tani Muda yang memproduksi dan memasarkan kecambah bibit kelapa sawit non sertfikat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMengenai penyakit tanaman sawit yang lainnya (ada sebelas macam lagi) Insya Allah akan kami tulis di kesempatan berbeda.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5834120448589388789"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5834120448589388789"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/busuk-pangkal-batang-pada-kelapa-sawit.html","title":"Busuk Pangkal Batang Pada Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-tXkRYIG6B78\/UWvPCanHk6I\/AAAAAAAAHdo\/9TNF1zqEZDM\/s72-c\/1365984482711320755.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7368246158062821747"},"published":{"$t":"2013-04-14T18:36:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-14T18:36:02.874+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Lingkaran Setan Konflik Lahan Perkebunan Sawit di Mamuju"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Ud9SbKZY7ws\/UWqUlh85EqI\/AAAAAAAAHbE\/aqnLmQoRDU0\/s1600\/721kelapa+sawit+mamuju+utara.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Ud9SbKZY7ws\/UWqUlh85EqI\/AAAAAAAAHbE\/aqnLmQoRDU0\/s1600\/721kelapa+sawit+mamuju+utara.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan class=\"isiberita_ok\"\u003ESengketa lahan perkebunan sawit antara \nperusahaan dengan petani di beberapa daerah di Kabupaten Mamuju Utara \n(Matra) hingga kini belum ada titik terang. Pemerintah Kabupaten Matra, \nPemerintah Provinsi Sulbar dan pemerintah pusat terkesan saling lempar \ntanggungjawab sehingga sengketa ini berada di lingkaran setan. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWakil Bupati Matra, Muhammad Saal mengatakan penanganan konflik antara \npetani dan perusahaan bukan hanya tugas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) \nMatra. \"Pemerintah provinsi selaku pimpinan tertinggi di Sulbar juga \nharus turut membantu penyelesaiannya. Dibutuhkan sinergitas antara \nprovinsi dan kabupaten untuk mendapatkan solusi atas sengketa lahan \nperkebunan tersebut,\" tegas Saal, Jumat 12 April.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut Saal, pemerintah kabupaten tidak bisa menyelesaikan persoalan \nini tanpa keterlibatan baik pemerintah provinsi maupun pusat. \"Ada \nhal-hal yang perlu ditangani bukan kewenangan kabupaten. Makanya, perlu \nsinergitas dengan provinsi dan pusat untuk menuntaskan persoalan \nsengketa lahan perkebunan antara petani dan perusahaan,\" ungkap Saal. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSaal juga membantah anggapan jika pemkab tidak serius dalam \nmenyelesaikan sengketa antara petani dan perusahaan pengelola kepala \nsawit. \"Tidak ada upaya pembiaran konflik berlarut-larut. Pemkab masih \nterus berusaha menyelesaikan konfliknya,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDia juga menjamin posisi pemkab amat sangat netral. Pemkab berada di \nantara petani dan perusahaan. \"Jika ada tudingan bahwa Pemkab Matra main\n mata dengan perusahaan, saya rasa itu berlebihan,\" tutur Saal.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSaat mengatakan, persoalan sengketa lahan antara petani dan perusahaan \nini menjadi menjadi pembahasan utama dalam Rapat Forum Koordinasi \nPemerintah Daerah (Forkopimda) yang dihadiri gubernur dan pihak Polda \nSulselbar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKetua Kelompok Tani Sipakainge', Kecamatan Duri Poku, Abdul Aziz mengaku\n telah diminta pemkab untuk melakukan pembicaraan dengan para petani \nmengenai apa saja yang mereka inginkan untuk menyelesaikan masalah itu. \n\"Mereka bertanya apa yang kami inginkan. Saya bilang, warga hanya \nmenginginkan kemitraan di mana warga yang mengelola tanaman sawit, dan \nperusahaan yang membelinya,\" kata Aziz.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAziz berharap, keinginan petani itu bisa dimediasi oleh pemerintah dan mendapatkan persetujuan dari perusahaan.\u003Cstrong\u003E (far)\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7368246158062821747"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7368246158062821747"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/lingkaran-setan-konflik-lahan.html","title":"Lingkaran Setan Konflik Lahan Perkebunan Sawit di Mamuju"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Ud9SbKZY7ws\/UWqUlh85EqI\/AAAAAAAAHbE\/aqnLmQoRDU0\/s72-c\/721kelapa+sawit+mamuju+utara.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6142065731896632977"},"published":{"$t":"2013-04-14T18:24:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-14T18:24:18.055+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Bea Keluar CPO April 2013 sebesar 10,5%"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-2xopulM0_W8\/UWqR1cUI-gI\/AAAAAAAAHak\/M0ExSd-tqTo\/s1600\/images.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-2xopulM0_W8\/UWqR1cUI-gI\/AAAAAAAAHak\/M0ExSd-tqTo\/s1600\/images.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJakarta, (Analisa). Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan tarif bea keluar (BK) minyak sawit mentah (crude palm oil\/CPO) tetap 10,5% untuk periode April 2013.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Setelah memperhatikan usulan tertulis dan hasil rapat koordinasi dengan instansi teknis terkait, Kementerian Perdagangan RI telah menetapkan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian, Kehutanan serta Pertambangan yang dikenakan Bea Keluar untuk periode April 2013,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Bachrul Chairi berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip, Jumat (29\/3).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETarif bea keluar untuk komoditi CPO dan produk turunannya berpedoman pada harga referensi yang didasarkan pada harga rata-rata cost insurance freight CPO dari Rotterdam, bursa Malaysia, dan bursa Indonesia. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenetapan HPE CPO didasarkan pada Harga Referensi CPO US$ 851,39\/MT yang turun sebesar US$ 2,48 atau 0,29% dari periode bulan sebelumnya yaitu US$ 853,87\/MT, sehingga didapat HPE CPO sebesar US$ 780\/MT yang turun US$ 2 atau 0,26% dibandingkan periode bulan sebelumnya yaitu US$ 782\/MT. Untuk penetapan Bea Keluar (BK) CPO sebesar 10,5% tercantum pada kolom 2 lampiran III PMK 75 Tahun 2012. Ini berarti tidak terdapat perubahan BK dari periode bulan sebelumnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESedangkan Harga Referensi Biji Kakao untuk penetapan HPE Biji Kakao mengalami penurunan sebesar US$ 81,14 atau 3,7% yaitu dari US$ 2.190,73\/MT menjadi US$ 2.109,59\/MT, sehingga berdampak pada penetapan HPE Biji Kakao yang juga menurun sebesar US$ 79 atau 4,13% dari US$ 1.911\/MT pada periode bulan sebelumnya menjadi US$ 1.832\/MT. Namun, BK Biji Kakao tidak berubah dibandingkan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 5%.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EProduk pertambangan yang mengalami kenaikan HPE pada April 2013 dari periode sebelumnya antara lain Bijih Mangan yang naik sebesar 9,26% dari kisaran harga US$ 186,10-US$ 271,00\/DMT menjadi US$ 203,72-US$ 295,67\/DMT; Bijih Besi Tidak Diaglomerasi dengan kadar FE = 49,99% yang naik sebesar 25,9% dari harga US$ 17,02\/DMT menjadi US$ 21,43\/DMT; serta Bijih Besi Tidak Diaglomerasi dengan kadar 49,99% \u0026lt; FE = 51,99 naik sebesar 39,64 dari harga US$ 21,24\/DMT menjadi US$ 29,66\/DMT. Sedangkan Bijih Besi Tidak Diaglomerasi dengan kadar 51,99% \u0026lt; Fe = 54,99% sebesar US$ 41,82\/DMT; Bijih Besi Tidak Diaglomerasi dengan kadar 54,99% \u0026lt; Fe = 56,99% sebesar US$ 65,02\/DMT; dan Bijih Besi Tidak Diaglomerasi dengan kadar Fe \u0026gt; 56,99% sebesar US$ 110,17\/DMT.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara, produk pertambangan yang mengalami penurunan HPE pada April 2013 dibandingkan periode sebelumnya adalah Bijih Nikel turun sebesar 7,33% dari kisaran harga US$ 13,51-US$ 38,97\/WMT menjadi US$ 12,52-US$ 36,11\/WMT; Bijih Aluminium turun sebesar 0,8% dari harga US$ 21,25 menjadi US$ 21,08\/DMT; Bijih Zirconium turun sebesar 14,19% dari harga US$ 1.051,63\/WMT menjadi US$ 902,38\/WMT; serta Zirconium silikat dari jenis yang dipakai sebagai opasitas turun sebesar 14,19% dari harga US$ 1.167,49\/DMT menjadi US$ 1.001,79\/DMT. (dtc)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6142065731896632977"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6142065731896632977"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/bea-keluar-cpo-april-2013-sebesar-105.html","title":"Bea Keluar CPO April 2013 sebesar 10,5%"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-2xopulM0_W8\/UWqR1cUI-gI\/AAAAAAAAHak\/M0ExSd-tqTo\/s72-c\/images.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7041879894299616026"},"published":{"$t":"2013-04-10T11:44:00.005+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-10T11:44:59.972+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Spekulasi stok tekan harga CPO"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-X0k7YEqmkbM\/UWTuPGw00YI\/AAAAAAAAHFY\/qRZAFikCM8Q\/s1600\/1985282803p.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"111\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-X0k7YEqmkbM\/UWTuPGw00YI\/AAAAAAAAHFY\/qRZAFikCM8Q\/s200\/1985282803p.jpg\" width=\"200\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHarga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) terkoreksi. Pasar memilih aksi ambil untung sebelum data ekspor dan persediaan CPO dirilis oleh Dewan Sawit Malaysia, hari ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHarga CPO untuk kontrak pengiriman Juni 2013, Selasa (9\/4) pukul 18.45 WIB, melemah 0,21% menjadi RM 2.395 per ton dibanding harga sehari sebelumnya. Sejak awal tahun ini, harga CPO memang cenderung tertekan dan telah mencatatkan penurunan sebesar 8,03%.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHasil survei Bloomberg memprediksikan, persediaan CPO di Malaysia kemungkinan akan menyusut sebesar 7% menjadi 2,27 juta ton pada Maret 2013 dibandingkan dengan stok bulan sebelumnya. Survei itu juga memprediksikan, produksi CPO Malaysia akan naik 2,3% menjadi 1,33 juta ton dan pengiriman CPO meningkat 2,1% menjadi 1,43 juta ton pada periode yang sama. \"Harga telah naik cukup banyak kemarin, sehingga aksi ambil untung mewarnai perdagangan sebelum data resmi keluar,\" ujar Ivy Ng, analis CIMB Investment Bank Bhd, kepada Bloomberg.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPermintaan tetap ada\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EZulfirman Basir, analis Monex Investindo futures mengatakan, perekonomian global saat ini belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sehingga, harapan harga CPO akan kembali ke tren penguatan dalam waktu dekat terbilang cukup sulit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaat ini, pasar hanya bereaksi terhadap ekspektasi berkurangnya stok CPO Malaysia. Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri berpendapat, saat ini sudah saatnya bagi harga CPO untuk naik karena musim panen raya sudah berakhir. Permintaan CPO secara global terutama dari China dan India sebenarnya masih bisa naik.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara itu, peraturan pembatasan impor CPO dari India tidak akan terlalu menghambat pergerakan harga CPO. Sebab, produsen lokal India sebenarnya tidak mampu menangani permintaan CPO domestik yang cukup tinggi. Sehingga impor dari Indonesia dan Malaysia diperkirakan masih cukup besar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESecara teknikal, Zulfirman melihat harga CPO akan bergerak sideways. Moving Average (MA) menunjukkan harga bergerak di bawah MA 50, mengindikasikan adanya potensi bearish. Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di area negatif, di level -17, dengan pergerakan mendatar.\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKiswoyo memprediksi, harga CPO akan menguat di kisaran RM 2.350-RM 2.450 per ton dalam sepekan ini.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7041879894299616026"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7041879894299616026"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/spekulasi-stok-tekan-harga-cpo.html","title":"Spekulasi stok tekan harga CPO"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-X0k7YEqmkbM\/UWTuPGw00YI\/AAAAAAAAHFY\/qRZAFikCM8Q\/s72-c\/1985282803p.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-411277363353176984"},"published":{"$t":"2013-04-10T11:28:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-10T11:28:05.652+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hentikan Pembukaan Perkebunan Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-f2DvK_x6EGQ\/UWTqPfVq0SI\/AAAAAAAAHEc\/_Igs5ALpxB0\/s1600\/20120924071430682.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-f2DvK_x6EGQ\/UWTqPfVq0SI\/AAAAAAAAHEc\/_Igs5ALpxB0\/s1600\/20120924071430682.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EJAMBI\u003C\/strong\u003E - Pemerhati lingkungan hidup yang juga Direktur \nYayasan Prespektif Baru, Wimar Witoelar, mengatakan, sudah saatnya upaya\n pembukaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dihentikan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Tidak\n hanya perkebunan sawit yang merupakan tanaman monokultur yang tidak \nramah lingkungan, namun juga sebagian besar upaya pembukaan kebun sawit \nlebih banyak merambah kawasan hutan,\" ujar Wilmar usai mengisi diskusi \ndengan tema “Masa Depan Hutan Ada di Tangan Generasi Muda” di \nUniversitas Jambi, Jambi, Selasa.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut dia, jika tidak segera \ndiambil langkah yang tepat, sejumlah daerah di Indonesia akan semakin \nterancam bencana ekologi seperti banjir dan kekeringan yang semakin \nparah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDiskusi tersebut juga menghadirkan pembicara Manajer \nProgram Kebijakan dan Advokasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) \nWarsi, Diki Kurniawan, Legal and Institutional Spesialist Satuan Tugas \nREDD, Gita Syahrani, dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, \nSyamsurizal Tan. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDiskusi itu lebih menekankan pada perhatian \nsudut pandang untung-ruginya perkebunan sawit di Indonesia, baik \nterhadap lingkungan maupun masyarakat secara umum.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDiki Kurniawan\n memaparkan, kawasan hutan di Provinsi Jambi, dengan luas sekitar 2,1 \njuta hektare. Areal itu mencakup 1,1 juta hektare kawasan taman \nnasional, seperti Taman Nasional Kerinci Sebelat, Taman Nasional Bukit \nDuabelas, Taman Nasional Berbak dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. \nSelebihnya, merupakan kawasan hutan ekosistem dan hutan produksi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Kondisi\n tutupan hutan di Provinsi Jambi saat ini sudah sangat memprihatinkan. \nAntara lain akibat pembukaan lahan perkebunan sawit dan hutan tanaman \nindustri secara berlebihan dan tanpa memperhatikan dampaknya. Wajar saja\n bila musim hujan mengalami banjir dan sebaliknya kemarau mengakibatkan \nkekeringan,\" jelasnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara itu, Gita Syahrani menyoroti tentang banyaknya terjadi konflik lahan, antara perusahaan dengan masyarakat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut\n Gita, data dari Kementrian Pertanian mencatat, dari 1.000 perusahaan \nperkebunan sawit di Indonesia, 59 persen di antaranya terlibat konflik.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Secara\n teoritis penyebab konflik, perusahaan membutuhkan lahan luas, sementara\n lahan tersebut dalam penguasaan masyarakat,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenyebab \nkonflik ini, antara lain sebagai akibat kurang tegasnya pengaturan dan \nkonsistensi tata ruang di tiap level pemerintahan. Kemudian, tidak \njelasnya status lahan dan bukti pemilikan, serta kurangnya kebijakan \npengaman lingkungan, sosial dan ekonomi yang memadai.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUpaya \nmengatasi itu semua, dibutuhkan keterlibatan masyarakat secara \nkeseluruhan, termasuk kalangan mahasiswa. Untuk itu, semua pihak \nhendaknya terus ikut memantau dalam kegiatan penyusunan dan pengesahan \ntata ruang di setiap daerah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDekan Fakultas Ekonomi Universitas \nJambi, Syamsurizal Tan, menilai pembukaan perkebunan kelapa sawit secara\n luas di Indonesia khususnya di Provinsi Jambi, tidak membawa dampak \npositif terhadap masyarakat secara umum.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Kebun kelapa sawit \nhanya menguntungkan pemilik perusahaan, sementara masyarakat di level \nmenengah ke bawah bahkan dirugikan,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKondisi ini \nterjadi, karena masyarakat di sekitar kebun sendiri tidak dilibatkan \nsecara aktif dalam pengelolaan maupun kepemilikan. Tidak itu saja, \npembukaan kawasan perkebunan juga mengesampingkan kelestarian lingkungan\n hidup. (Investor Daily\/tk\/ant)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/411277363353176984"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/411277363353176984"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/hentikan-pembukaan-perkebunan-sawit.html","title":"Hentikan Pembukaan Perkebunan Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-f2DvK_x6EGQ\/UWTqPfVq0SI\/AAAAAAAAHEc\/_Igs5ALpxB0\/s72-c\/20120924071430682.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8130257020105989018"},"published":{"$t":"2013-04-10T11:26:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-10T11:26:13.229+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Asosiasi Petani Sawit Dukung Kewajiban Bangun Kebun Plasma"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UfH3gYDPJ7Y\/UWTphvRUMOI\/AAAAAAAAHEU\/FyxDNW60hbc\/s1600\/apkasindo.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"200\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UfH3gYDPJ7Y\/UWTphvRUMOI\/AAAAAAAAHEU\/FyxDNW60hbc\/s200\/apkasindo.jpg\" width=\"197\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMEDAN\n – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia mendukung penuh revisi aturan \nperkebunan terutama luas, perizinan, dan kewajiban perusahaan untuk \nmembangun kebun plasma.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSekjen Asosiasi Petani Kelapa \nSawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad menegaskan sudah sejak lama \nApkasindo menginginkan adanya revisi terhadap Permentan No. 26\/2007 \nmengenai Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Selama \nini batasan areal 100.000 hektare tidak berlaku untuk investor asing, \nsehingga perkebunan di Indonesia dirajai oleh investor dari Singapura \ndan Malaysia. Karena pembatasan yang dibuat pada Permentan 100.000 \nhektare untuk setiap provinsi,” ujarnya menjawab Bisnis, Kamis (4\/4).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSebelumnya\n Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan Kementerian \nPertanian dan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian \nPembangunan (UKP4) telah merampungkan draf final untuk revisi permentan \nNo. 26\/2007.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut Asmar asosiasi yang dipimpinnya \nsudah pernah mengajukan surat kepada UKP4 agar secepatnya merevisi \nPermetan No. 26 Tahun 2007 khususnya penguasaan lahan perkebunan, \nperizinan, dan kewajiban perusahaan untuk membangun kebun plasma.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKalau\n draf revisi tersebut sudah rampung, paparnya, sebaiknya cepat diteken, \nsehingga tidak dipengaruhi oleh para pemain perkebunan skala besar yang \ningin menguasai lahan perkebunan di Indonesia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPedoman \nluasan perkebunan yang dibatasi per group perusahaan yang masih \nmempunyai keterkaitan dengan pemegang saham sebuah perusahaan patut \ndidukung semua pihak.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Kalau perlu perkebunan sawit untuk asing ditutup saja, sehingga areal yang tersisa diperuntukkan kepada petani,” tuturnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKhusus\n mengenai perizinan yang mengharuskan rekomendasi dari Dirjenbun, \nmenurut Asmar, juga tepat karena setelah otonomi daerah bupati sesuka \nhati untuk memberikan perizinan kepada kelompok usaha tertentu tanpa \nmengindahkan aturan yang lebih tinggi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Raja-raja kecil\n di daerah mengabaikan aturan yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan \ntumbang tindih lahan perkebunan di daerah,” tuturnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKemudian,\n paparnya, soal kewajiban perusahaan yang mendapatkan izin usaha \nperkebunan (IUP) mengalokasikan lahan 20% untuk kebun plasma sebenarnya \nsudah bagus, namun dalam implementasinya di lapangan kurang mendapatkan \npengawasan dari pemerintah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Coba Anda perhatikan dan \nlihat di lapangan. Seberapa banyak perusahaan perkebunan yang memenuhi \nketentuan tersebut? Apalagi perkebunan asing, tidak ada yang memenuhi \nkewajiban mengalokasikan 20% lahan untuk plasma. Jadi, dalam hal ini \npengawasannya harus dipertegas dan sanksi kepada perusahaan perkebunan \nyang tidak memenuhi kewajibannya diperberat,” tuturnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDia\n mencontontohkan jika perusahaan tidak mengalokasikan arealnya untuk \nplasma, maka izin usaha perkebunannya dicabut atau kebunnya disita dan \ndibagikan kepada petani sesuai aturan yang berlaku.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Kalau sanksinya tidak tegas, maka kewajiban membangun perkebunan plasma hanya indah bagus di atas kertas,” tuturnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAsmar mengusulkan hal yang lebih ekstrem dalam revisi aturan perkebunan tersebut.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Sebaiknya\n perusahaan asing jangan lagi diberikan IUP karena lahan yang tersedia \nsemakin sempit, sedangkan penduduk Indonesia semakin bertambah. Jadi \nyang dikembangkan di Indonesia adalah perkebunan skala kecil yang \nmengalokasikan lahan untuk petani minimal 25 hektare untuk satu kepala \nkeluarga,” tandasnya. (esu)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8130257020105989018"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8130257020105989018"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/asosiasi-petani-sawit-dukung-kewajiban.html","title":"Asosiasi Petani Sawit Dukung Kewajiban Bangun Kebun Plasma"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-UfH3gYDPJ7Y\/UWTphvRUMOI\/AAAAAAAAHEU\/FyxDNW60hbc\/s72-c\/apkasindo.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5415278059108765661"},"published":{"$t":"2013-04-09T07:23:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-09T07:23:36.255+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Minyak Kelapa Sawit Mulai Membaik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-LEMyfIJc6xo\/UWNfc1MEtbI\/AAAAAAAAHAA\/jViiUkScLbM\/s1600\/2013-04-08_14+19+53-Botol-CPO.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"231\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-LEMyfIJc6xo\/UWNfc1MEtbI\/AAAAAAAAHAA\/jViiUkScLbM\/s320\/2013-04-08_14+19+53-Botol-CPO.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAwan kelabu yang menyelimuti bisnis kelapa sawit mulai memudar. Ini \nterkait dengan mulai merangkak naiknya harga minyak kelapa sawit mentah \n(crude palm oil\/CPO).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) \nSasmito Hadi Wibowo mengatakan, sepanjang Februari 2013, ekspor CPO \nIndonesia memang turun dibanding Januari 2013. \"Ini lebih disebabkan \nturunnya volume, sebab harganya sekarang sedang naik,\" ujarnya Rabu \n(3\/4).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nData BPS menunjukkan, angka ekspor untuk komoditas minyak hewan\/nabati \nyang mayoritas CPO pada Ferbuari lalu tercatat sebesar USD 1,65 miliar, \nturun dibandingkan periode Januari yang mencapai USD 1,94 miliar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nNamun, dari sisi harga, BPS mencatat adanya tren kenaikan. Tahun lalu, \nharga CPO sempat mencapai level di atas USD 1.000 per ton. Namun, pada \nakhir tahun, harganya terus merosot seiring dengan turunnya permintaan \ndi pasar internasional karena lesunya ekonomi dunia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBahkan, pada Desember 2012, harga sempat merosot ke kisaran USD 776 per \nton. Sejak itu, harga pun membaik. Pada Januari 2013, rata-rata harga \nsudah naik menjadi USD 841 per ton dan pada Ferbruari 2013 naik lagi \nmenjadi USD 863 per ton. \"Dengan membaiknya perekonomian, harga juga \nakan membaik,\" ucapnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDirektur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) \nFadhil Hasan menambahkan, recovery perekonomian global akan mendorong \nperbaikan harga CPO. \"Memang, tahun ini diproyeksi akan naik,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut Fadhil, pergerakan harga minyak kelapa sawit di pasar \ninternasional saat ini sering bergerak liar karena faktor supply and \ndemand tidak lagi dominan dalam penentuan harga. \"Saat ini, harga lebih \nbanyak ditentukan oleh sentimen perekonomian global,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFadhil menggambarkan, pada 2011, rata-rata harga CPO di pasaran dunia \nmencapai kisaran USD 1.119 per ton. Namun, pada 2012, harga sudah jatuh \ndi kisaran USD 800 per ton. \"Tahun ini, harga CPO di semester pertama \ndiproyeksi di kisaran USD 800 - 900 per ton, pada semester ke dua \nkemungkinan akan naik sedikit ke kisaran USD 900 - 1.000 per ton,\" \nucapnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHarga kelapa sawit (CPO) untuk perdagangan \nhari ini (8\/4) tercatat mengalami kenaikan setelah adanya laporan bahwa \npersediaan kelapa sawit di Malaysia untuk bulan Februari lalu mengalami \npenurunan sebesar 7% menjadi 2,27 juta ton dibandingkan dengan data \nbulan Januari. Turunnya persediaan kelapa sawit tersebut disebabkan oleh\n naiknya data ekspor kelapa sawit sebesar 2,1% menjadi 1,43 juta ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNamun\n banyak pengamat cukup khawatir bahwa data tersebut tidak akan berlanjut\n untuk bulan Maret dan April dimana jumlah permintaan akan mengalami \npenurunan seiring dengan surplusnya persediaan kelapa sawit di beberapa \nnegara importir seperti China dan India.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHarga kelapa sawit (CPO) \nuntuk perdagangan hari ini naik sebesar 1,3% menjadi 2390 ringgit atau \n783 dollar per metrik ton di Bursa Malaysia Derivatives. Sepanjang pekan\n lalu harga CPO mengalami penurunan sebesar 0,8%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDivisi Vibiz \nResearch di Vibiz Consulting memprediksi bahwa pergerakan harga kelapa \nsawit untuk perdagangan hari ini diperkirakan akan mengalami pergerakan \nyang labil. Investor hari ini akan menantikan rilisnya data tingkat \ninflasi China untuk bulan Maret lalu.\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-weight: normal;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-weight: normal;\"\u003ESempat Sentuh Rp 6.850\/Kg\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-weight: normal;\"\u003EKontrak komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil\/CPO) menjadi salah satu andalan bursa berjangka dalam negeri.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n Pada pekan ini pergerakan harga CPO di perdagangan global cenderung \nlemah. Bahkan analis PT Monex Investindo Futures Ariana Nur Akbar \nmenyebut minyak nabati ini masih berada pada tren \u003Cem\u003Ebearish\u003C\/em\u003E.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E\n Sementara itu, data dari Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) \natau Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) pada Jumat \n(5\/4\/2013) menunjukkan pergerakan harga sempat menyentuh Rp6.850 per \nkilogram untuk kontrak April ini.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E Selebihnya, data mencatat \nharga kontrak berada pada kisaran diatas Rp7.300 per kilogram. Misalnya \nsaja, untuk kontrak Mei berada pada posisi Rp7.360, kontrak Juni \nRp7.350, dan kontrak Juli Rp7.365 per kilogram.\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E Sementara itu, \nvolume transaksi masing-masing kontrak bervariasi yakni 40 lot untuk \nApril, 164 lot untuk Mei, 552 lot untuk Juni, dan 479 lot untuk Juli. \nVolume tersebut merupakan total transaksi pialang lokal dan penyaluran \namanat luar negeri (PALN).\u003Cbr \/\u003E \u003Cbr \/\u003E Dari masing-masing total volume \ntransaksi itu, amanat untuk luar negeri masing-masing 34 lot pada Arpil,\n 107 lot pada Mei, 312 lot pada Juni, dan 259 lot pada kontrak Juli.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5415278059108765661"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5415278059108765661"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/harga-minyak-kelapa-sawit-mulai-membaik.html","title":"Harga Minyak Kelapa Sawit Mulai Membaik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-LEMyfIJc6xo\/UWNfc1MEtbI\/AAAAAAAAHAA\/jViiUkScLbM\/s72-c\/2013-04-08_14+19+53-Botol-CPO.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4220867561070240107"},"published":{"$t":"2013-04-08T20:54:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-08T20:54:09.700+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"entrybody\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-QSAoIfJDW08\/UWLKFK4nJYI\/AAAAAAAAG-0\/rCz4Yj9qNhs\/s1600\/images.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"133\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-QSAoIfJDW08\/UWLKFK4nJYI\/AAAAAAAAG-0\/rCz4Yj9qNhs\/s200\/images.jpg\" width=\"200\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTanaman kelapa sawit (\u003Ci\u003EElaeis guinensis\u003C\/i\u003E\n Jack.) berasal dari Nigeria. Meskipun demikian, ada yang menyatakan \nbahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena \nlebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan\n dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit hidup subur di \nluar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua \nNugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi per hektar yang lebih \ntinggi (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKelapa sawit pertama kali diperkenalkan \ndi Indonesia oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1848. Ketika \nitu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritus dan \nAmsterdam dan ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit mulai \ndiusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911. Perintis \nusaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet, seorang\n Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. \nBudidaya yang dilakukannya diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya\n perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit pertama \nberlokasi di pantai timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal \nperkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit\n pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara Eropa (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada umumnya kelapa sawit tumbuh \nrata-rata 20 – 25 tahun. Pada 3 tahun pertama disebut sebagai kelapa \nsawit muda, karena pada umur tersebut pohon kelapa sawit belum \nmenghasilkan buah. Pohon kelapa sawit akan mulai berbuah pada umur 4 \nsampai enam tahun, dan pada usia tujuh tahun disebut sebagai periode \nmatang (the mature periode) dimana pada saat itu tanaman mulai \nmenghasilkan tandan buah segar (fresh fruit bunch). Pada usia 11 sampai \n20 tahun pohon kelapa sawit akan mengalami penurunan produksi, dan \nbiasanya pada usia 20 – 25 tahun tanaman kelapa sawit akan mati (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSemua komponen buah sawit dapat \ndimanfaatkan. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana\n daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil), sedangkan buah \nsawit diolah menjadi PK (palm kernel). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % \nsedangkan PK 2.5%. Sementara itu cangkang biji sawit dapat dimanfaatkan \nmenjadi bahan bakar ketel uap (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMinyak sawit dapat dipergunakan untuk \nbahan makanan dan industri setelah melalui proses penyulingan, \npenjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (refine, bleached and \nDeodorized palm oil). Disamping itu dapat diuraikan untuk produksi \nminyak sawit padat (RBD stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair \n(RBD olein). RBD olein terutama dipergunakan untuk pembuatan minyak \ngoreng. Sedangkan RBD stearin dipergunakan untuk margarin dan \nshortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. \nPemisahan CPO dan PK dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri \ndari asam lemak dan gliserol. Secara \u0026nbsp;keseluruhan proses penyulingan \nminyak sawit dapat menghasilkan 73 % olein, 21 % stearin, 5 % PFAD (Palm\n fatty Acid Distillate) dan 0,5 % buangan (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProses pengolahan kelapa sawit \nmenghasilkan produk ikutan berupa limbah kelapa sawit. Berdasarkan \ntempat pembentukannya limbah kelapa sawit dapat digolongkan menjadi dua \njenis yaitu limbah perkebunan kelapa sawit dan limbah industri kelapa \nsawit. Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada \nproses pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga \njenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTandan kosong kelapa sawit (TKKS) \nmerupakan salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan dalam industri \nminyak sawit. Jumlah TKKS ini cukup besar karena hampir sama dengan \njumlah produksi minyak sawit mentah. Limbah tersebut belum banyak \ndimanfaatkan secara optimal. Komponen terbesar dari TKKS adalah selulosa\n (40-60 %), disamping komponen lain yang jumlahnya lebih kecil seperti \nhemiselulosa (20-30 %), dan lignin (15-30 %) (Dekker, 1991). Salah satu \nalternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit adalah sebagai pupuk \norganik dengan melakukan pengomposan (Fauzi \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengomposan adalah proses biologis dimana\n mikroorganisme mengkonversi material organik menjadi kompos. \nPengomposan dinominasi oleh proses aerob atau proses yang membutuhkan \noksigen. Mikroorganisme memakai O\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E untuk mendapatkan energi dan nutrisi dari material organik. Dalam proses tersebut\u0026nbsp; mereka menghasilkan karbon dioksida (CO\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E),\n air, panas, kompos dan bermacam-macam gas sebagai produk dari \ndekomposisi material organik. Berbagai macam transformasi biologis dan \nproduk terjadi dalam proses pengomposan. Dilakukan oleh berbagai macam \nmikroorganisme, yang menghuni bermacam-macam lingkungan mikro. Meskipun \nmikroorganisme mendekomposisi beberapa material organik, mereka terus \nmenciptakan senyawa organik baru dari produk hasil dekomposisi. Unsur \nseperti nitogen (N) dan sulfur (S) bergabung dengan unsur lain, berubah \nsecara cepat\u0026nbsp; diantara bentuk terlarut dan tidak terlarut. Bentuk unsur \nyang terlarut adalah ditujukan untuk digunakan oleh mikrobia atau \nkemungkinan terjadi pencucian. Proses kimia dan fisika yang lain juga \nterjadi, mempengaruhi porositas, kapasitas menahan air dan nutrisi, \nkonduktivitas, pH, dan sifat lain yang mungkin berpengaruh baik dalam \nproses pengomposan atau potensi penggunaan dari produk hasil pengomposan\n (Stoffella dan Kahn, 2001).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengomposan adalah proses aerob, yang \nberarti dalam prosesnya membutuhkan udara. Bahkan udara mungkin lebih \npenting dari makanan bagi mikroorganisme, pada umumnya dalam tumpukan \nkompos, udara lebih dahulu habis daripada makanan. Jika tidak terdapat \ncukup udara, dekomposisi terjadi secara anaerob, yang merupakan hal \nburuk untuk dua alasan. Pertama, perosesnya lebih lambat daripada \npengomposan secara aerob, dan kedua, beberapa produknya, seperti ammonia\n dan hidrogen sulfida menimbulkan bau busuk (Thompson K, 2007)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nOksigen disediakan pada material kompos \nmelalui aerasi. Mekanisme aerasi dapat sangat efektif, tetapi tidak \nsempurna. Dalam kenyataan, sebagian dari proses dekomposisi juga terjadi\n secara anaerob (tanpa O\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E). Proses anaerob berperan pada \nkeseluruhan dekomposisi dari material kompos. Tetapi, dekomposisi \nanaerob yang berlebihan tidak diinginkan selama pengomposan karena \nmenghasilkan degradasi yang tidak sempurna dan bau (Miller, 1993). \nMenyediakan kondisi aerasi yang baik meminimalkan bau yang berhubungan \ndengan proses anaerob dan menyempurnakan dekomposisi dari produk \ndegradasi anaerobik parsial seperti asam organik, yang dapat berperan \npada fitotoksisitas ketika kompos digunakan (Stoffella dan Kahn, 2001).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EKondisi yang dianjurkan untuk pengomposan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"left\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKondisi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EBatas yang layak\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EBatas yang dianjurkan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003ERasio C\/N\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003EKelembaban\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003EKonsentrasi O\u003C\/span\u003E\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003EUkuran Partikel\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003EpH\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003ETemperatur\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003E20\/1 – 40\/1\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E40 – 65 % \u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Csup\u003E1\u003C\/sup\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E\u0026gt;\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E5 %\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E3 – 13\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E5.5 – 9.0\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E43 – 66\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd valign=\"top\" width=\"200\"\u003E25\/1 – 30\/1\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E50 – 60 %\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003Ejauh\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003Elebih besar dari 5 %\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003EBervariasi \u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Csup\u003E2\u003C\/sup\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E6.5 – 80\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"line-height: 19px;\"\u003E54 – 60\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\n\u003C\/table\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Csup\u003E1\u003C\/sup\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E \u003C\/b\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERekomendasi untuk pengomposan cepat. Kondisi diluar batas tersebut dapat juga memberikan hasil yang baik\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Csup\u003E2\u003C\/sup\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E \u003C\/b\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ETergantung pada material yang digunakan, ukuran tumpukan, dan keadaan lingkungan\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E(Rynk et al., 1992).\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam sistem pengomposan cepat (high-rate\n composting) yang diteliti oleh John R. Snell di Michigan State \nUniversity, proses pengomposan dilakukan secara mekanis dalam rektor \nvertikal. Penelitiannya menunjukkan bahwa limbah padat pada tanah \nmemberikan hasil pengomposan terbaik ketika rasio C\/N dalam reaktor \nberada dibawah kisaran 50\/1, pH di dalam reaktor dipertahankan pada \nkisaran 5.5 – 8.0, dengan kelembaban diantara 50 – 60%. inokulum \nmikrobia terbaik yang digunakan sebagai aktivator berasal dari kompos \nmatang, jumlahnya antara 2 – 10% dari limbah padat yang dikomposkan. \nKompos yang berada di dalam reaktor diaduk secara terus-menerus agar \nmendapat udara dengan baik. Udara ditiupkan ke dalam reaktor untuk \nmenjaga supply oksigen bagi mikroorganisme. Temperatur dikontrol untuk \nmemaksimalkan pertumbuhan mikroorganisme. Professor Snell menemukan \nbahwa proses pengomposan selesai ketika sudah tidak ada peningkatan \ntemperatur yang signifikan, tidak ada lagi kandungan nitrogen yang \nhilang, dan kompos tidak menghasilkan bau yang menyengat (McKinney, \n2004). Sistem high-rate composting tersebut tidak cocok jika diterapkan \ndalam skala intustri, karena biaya yang dibutuhkan untuk proses \npengomposan\u0026nbsp; akan sangat besar.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nParameter psikokhemis untuk kompos yang \nsudah matang sangat bervariasi. Yang paling penting adalah: pH (7.5 – \n7.8); kelembaban (55 – 65%); kandungan residu kering (35 – 45%); \nkandungan abu (15 – 25%); total nitrogen ( 2 – 3%); kandungan ammonia \n(1.5 – 1.8%); kandungan nitrat (1 – 2%); total fosfor (2.5 – 3%); total \npotassium (1 – 1.2%); rasio C\/N (20 – 30). Kandungan unsur mikro sebagai\n berikut: Cu (3–3.6), Zn (40–50), Co (0.05–0.1), Mn (40–45), dan Fe \n(100) (Neklyudov, A. D. \u0026nbsp;\u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2008).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada proses pengomposan tandan kosong \nkelapa sawit yang dilakukan di sebagian besar industri sawit, hal \npertama yang dilakukan adalah pencacahan. TKKS dicacah terlebih dahulu \nmenjadi serpihan-serpihan dengan memakai mesin pencacah. Kemudian bahan \nyang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar sekitar 2,5 \nmeter dan tinggi 1 meter. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut \ndisiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Pabrik\n kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam dapat \nmemproduksi 60 ton kompos dari 100 ton tandan kosong sawit yang \ndihasilkan (Fauzi \u003Ci\u003Eet \u003C\/i\u003Eal., 2002).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProses pengomposan akan berlangsung dalam\n waktu 1,5 – 3 bulan. Kompos yang sudah matang dapat dilihat dari \nciri-ciri sebagai berikut:\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETerjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESuhu sudah turun dan mendekati suhu pada awal proses pengomposan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika diremas, TKKS mudah dihancurkan atau mudah putus serat-seratnya\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengamatan secara kimia ditunjukkan \ndengan rasio C\/N yang sudah turun. Rasio C\/N awal TKKS berkisar antara \n50-60. Setelah proses pengomposan rasio C\/N akan turun dibawah 25. \nApabila rasio C\/N lebih tinggi dari 25 proses pengomposan belum \nsempurna. Pengomposan perlu dilanjutkan kembali sehingga rasio C\/N di \nbawah 25 (Isroi, 2008).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSalah satu parameter penting dalam mempercepat proses pengomposan adalah ketersediaan O\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E. Pada sistem pengomposan, supply O\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E\n dipenuhi melalui mekanisme aerasi. Aliran udara pada sistem pengomposan\n perlu dipertahankan pada 10 dan 30 cf\/hari\/lb vs muatan awal dari \nlimbah padat yang dikomposkan. Terlalu sedikit aerasi menyebabkan \nkondisi anaerob terjadi, memperlambat proses pengomposan. Terlalu banyak\n aeasi akan menyebabkan kompos menjadi kering dan \nmenghambat\/menghentikan metabolisme. Kelembaban optimal pada kompos \nadalah diantara 55% dan 69% (McKinney, 2004).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHal penting yang perlu diketahui dalam \nsetiap proses pengomposan adalah selalu ada batas maksimal mengenai \nkecepatan proses pengomposan suatu material organik. Jika batas maksimal\n tersebut telah dicapai, perlakuan apapun yang diberikan terhadap sistem\n kompos tidak akan dapat mempercepat laju proses pengomposan. \u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber: http:\/\/akbar.blog.ugm.ac.id\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EDownload\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/upload.ugm.ac.id\/937Laporan_Kerja_Lapangan.pdf\" target=\"_blank\" title=\"Laporan Kerja Lapangan\"\u003ELaporan Kerja Lapangan:\u0026nbsp;Teknik Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit \u0026nbsp;di Perkebunan PT. Kresna Duta Agroindo SMART Grup\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EReferensi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EDirektorat Jendral Perkebunan. 2008. Statistika Perkebunan Indonesia. \u003Ca href=\"http:\/\/ditjenbun.deptan.go.id\/\"\u003Ehttp:\/\/ditjenbun.deptan.go.id\/\u003C\/a\u003E. Diakses tanggal 20 juni 2008\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EFauzi, Y., Widiastuti, YE., Setyawibawa, I., dan Hartono, R. 2002. \nKelapa Sawit, Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisis dan \nPemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EMcKinney, Ross E. 2004. Environmental Pollution Control Microbiology. Marcel Dekker, Inc. New York.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ENeklyudov, A. D., Fedotov, G. N., \u0026nbsp;dan Ivankin, A. N. 2008\u003Cb\u003E.\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E \u003C\/b\u003EIntensification\n of Composting Processes by Aerobic Microorganisms: A Review. Applied \nBiochemistry and Microbiology Vol. 44, No. 1.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERynk, R.F., M. van de Kamp, Willson G.B., Singley, M.E., Richard, \nT.L., Kolega, J.J., Gouin, F.R., Laliberty, L.L., Kay, D., Murphy, D.W.,\n Hoitink, H.A.J., dan Brinton, W.F. 1992. On-Farm Composting Handbook. \nNatural Resource, Agriculture, and Engineering Service (NRAES). Ithaca, \nNew York.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EStoffella, Peter J dan Kahn, Brian A. 2001. Compost utilization in horticultural cropping systems. CRC Press LLC. Florida.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EThompson, K. 2007. COMPOST: The Natural Way to Make Food for Your Garden. DK Publishing. New York.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4220867561070240107"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4220867561070240107"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/pengomposan-tandan-kosong-kelapa-sawit.html","title":"Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-QSAoIfJDW08\/UWLKFK4nJYI\/AAAAAAAAG-0\/rCz4Yj9qNhs\/s72-c\/images.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8179727774139484750"},"published":{"$t":"2013-04-08T20:52:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-08T20:52:20.246+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Dunia Semakin Tinggalkan Kelapa Sawit dan Kertas dari Hutan Tropis"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSejumlah korporasi yang berbasis di Amerika dan Eropa, kini \nramai-ramai mulai menerapkan kebijakan untuk menggunakan sumber-sumber \nyang memiliki standar keramahan lingkungan yang jelas, baik untuk bahan \ndalam penggunaan minyak kelapa sawit, maupun material kertas yang \ndigunakan sebagai pembungkus yang diberikan kepada para konsumen mereka.\n Kebijakan anti-deforestasi ini berupaya agar pihak perusahaan menjadi \nlebih ramah lingkungan dan tidak membeli materi kertas yang bersumber \ndari hutan hujan tropis di dunia, salah satunya dari Indonesia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDari Amerika Serikat dilaporkan Yum! Brands, raksasa bisnis makanan \nsiap saji yang memiliki jaringan restoran KFC, Pizza Hut dan Taco Bell \nmenerapkan kebijakan anti-deforestasi ini untuk seluruh material \npembungkus makanan mereka. Yum! juga akan meningkatkan porsi penggunaan \nkertas daur ulang dalam seluruh material pembungkus makanan mereka, \nserta menolak untuk memakai kertas yang bersumber dari penebangan hutan \nalami di negara-negara tropis seperti Indonesia dan Brasil.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDala situs mereka, Yum! telah berkomitmen untuk membuat pembungkus \nmakanan mereka menjadi lebih berkelanjutan sebagai prioritas program \nmereka. “Terkait dengan besarnya volume penggunaan pembungkus dalam \nproduk kami, Yum! memiliki posisi yang unik untuk menyediakan materi \npembungkus yang lebih ramah lingkungan bagiseluruh konsumen kami di \nseluruh dunia, untuk menekan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam menerapkan kebijakan baru ini, pihak perusahaan makanan ini \nakan menjalin kerjasama dengan penyuplai yang menggunakan kertas yang \nmemiliki standar lingkungan yang jelas, termasuk yang bersertifikasi FSC\n (Forest Stewardship Council) dan PEFC (Program for Endorsement of \nForest Certification) yang memberikan kriteria sumber tanaman, hak-hak \nmasyarakat dan high conservation value forest.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSementara dari Eropa, Neste Oil, sebuah perusahaan energi dari \nFinlandia telah mengumumkan kebijakan baru dalam penggunaan minyak \nkelapa sawit mereka. Sebagai salah satu pembeli terbesar minyak kelapa \nsawit dunia, mereka telah menerima berbagai kritik dari berbagai aktivis\n lingkungan terkait kebijakan pembelian kelapa sawit mereka selama ini \nyang dinilai berkontribusi dalam kerusakan yang terjadi di hutan hujan \ntropis dan lahan gambut di Asia Tenggara.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nLewat kebijakan baru ini, Neste berkomitmen untuk tidak membeli \nkelapa sawit dari perkebunan yang telah membabat hutan tropis, lahan \ngambut dan tidak membeli dari sumber yang dialihfungsikan dari padang \nrumput sejak Januari 2008.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Sebagai salah satu pembeli terbesar minyak kelapa sawit kami sadar \nakan tanggung jawab yang kami miliki terhadap dampak langsung dan tidak \nlangsung atas operasi perusahaan yang kami lakukan,” ungkap Senior Vice \nPresident untuk Program Keberlanjutan Neste Oil, Simo Honkanen dalam \npernyataannya. “Kerjasama kami dengan The Forest Trust adalah sebuah \nkelanjutan dari upaya awal kami untuk membantu menekan laju deforestasi \ndan membantu membangun dialog yang proaktif dengan mitra kerja kami. \nSebagai salah satu perusahaan terkemuka, kami memiliki kesempatan untuk \nmendukung praktek pembangunan yang berkelanjutan di bidang minyak kelapa\n sawit.”\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKebijakan dan komitmen Neste ini akan dimonitor oleh The Forest Trust\n (TFT), sebuah konsultan lingkungan yang baru-baru ini menandatangani \nkerjasama dengan Golden-Agri Resources, salah satu produsen minyak \nkelapa sawit terbesar di Indonesia, dan Asia Pulp and Paper, perusahaan \npenghasil kertas terbesar ketiga di dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-GSBX7KzjTMk\/UWLK7ZTwwuI\/AAAAAAAAG_E\/MH4kJ_IIG24\/s1600\/0704-INDONESIA-pulp-demand.jpg\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"194\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-GSBX7KzjTMk\/UWLK7ZTwwuI\/AAAAAAAAG_E\/MH4kJ_IIG24\/s320\/0704-INDONESIA-pulp-demand.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ETabel: Permintaan terhadap pulp and paper Indonesia Hingga 2020\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam komitmen lingkungan mereka, Neste menyatakan hanya akan membeli\n biofuel dari sumber yang terpercaya, mereka juga akan mendukung prinsip\n Free, Prior and Informed Consent yang memperhatikan hak-hak masyarakat \nadat dan komunitas lokal di tanah adat mereka, menghindari konversi \nlahan di wilayah yang memiliki kandungan karbon tinggi dan hutan yang \nmasuk dalam kategoti high conservation value forest.\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDengan standar yang ditetapkan oleh Neste saat ini, maka perusahaan \nini telah bergerak lebih jauh dibandingkan standar yang dianut oleh \nRoundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) saat ini. RSPO adalah lembaga \nyang memberikan koridor dan mengawasi aktivitas perusahaan kelapa sawit \ndi seluruh dunia agar bergerak di dalam standar yang ramah lingkungan, \nnamun menurut Direktur Eksekutif TFT, Scott Pynton, pihaknya telah \nmegkritisi RSPO terkait lemahnya standar ‘tanpa deforestasi’ mereka.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dibawah RSPO anda akan tetap bisa menebang hutan sekunder, dan anda \nakan tetap diizinkan menebang lahan gambut,” ungkap Poynton kepada \nREDD-Monitor. “Kendati banyak perusahaan mengatakan kami hanya akan \nmembeli minyak kelapa sawit berstandar RSPO, namun anda akan tetap bisa \nmenebang hutan, lahan gambut, dan hutan sekunder.” Sumber : mongabay.co.id\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8179727774139484750"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8179727774139484750"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/dunia-semakin-tinggalkan-kelapa-sawit.html","title":"Dunia Semakin Tinggalkan Kelapa Sawit dan Kertas dari Hutan Tropis"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-GSBX7KzjTMk\/UWLK7ZTwwuI\/AAAAAAAAG_E\/MH4kJ_IIG24\/s72-c\/0704-INDONESIA-pulp-demand.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-602361869138317834"},"published":{"$t":"2013-04-08T20:38:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-08T20:38:19.478+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Bisnis kebun sawit makin sempit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2EhIy7R-520\/UWLILV9JX9I\/AAAAAAAAG-k\/woiFq1CYF-Y\/s1600\/136444763p.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"177\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2EhIy7R-520\/UWLILV9JX9I\/AAAAAAAAG-k\/woiFq1CYF-Y\/s320\/136444763p.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSentimen negatif sepertinya belum beranjak dari emiten perkebunan. Kali ini berita buruk datang dari Kementerian Pertanian (Kemtan) yang merilis revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26\/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeleid yang mengatur pembatasan kepemilikan lahan ini akan disahkan akhir April 2013. Kelak, setiap holding perusahaan perkebunan hanya dapat memiliki lahan maksimal 100.000 hektare (ha). Aturan sebelumnya, pembatasan kepemilikan 100.000 ha cuma berlaku untuk satu perusahaan saja.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAnalis Mega Capital Indonesia, Arief Fahruri mengatakan, pembatasan ekspansi lahan ini jelas berdampak negatif bagi emiten kelapa sawit. Maklum, ketersediaan lahan merupakan salah satu ukuran penting dalam bisnis kelapa sawit. Beleid ini bisa membuat prospek pertumbuhan jangka panjang emiten sawit akan terhambat. Tapi, Arief menilai, aturan ini lebih memberikan dampak signifikan bagi emiten dengan lahan kecil.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESementara, emiten dengan lahan luas masih bisa menjaga pertumbuhan dengan beberapa strategi. Misalnya, dengan meremajakan tanaman alias replanting. Atau bisa juga dengan menanam sawit di lahan yang belum tergarap.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EArief memberi catatan, emiten yang memiliki cadangan lahan luas diantaranya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Selain itu grup Indo Agri seperti PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Ada juga grup PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESedangkan, emiten yang memiliki cadangan lahan kecil seperti PT BW Plantation Tbk (BWPT) dan PT Provident Agro Tbk (PALM).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003ETidak berlaku surut\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ERevisi Permentan sendiri tidak berpengaruh pada emiten yang sudah lama berbisnis kelapa sawit. Sebab, kebijakan ini tidak berlaku surut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJadi, grup perusahaan yang sebelumnya sudah memiliki lahan di atas 100.000 ha tidak harus menjual asetnya. Analis OSK Securities, Yuniv Trenseno menuturkan, emiten dengan lahan besar juga diuntungkan dengan kenaikan harga lahan yang signifikan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EYuniv lebih menyenangi SGRO yang memiliki cadangan lahan luas. Anak usaha milik Grup Sampoerna ini memiliki total lahan 222.000 ha.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003EDari luas tersebut, seluas 115.000 ha sudah tertanam, 47.000 ha lahan masih berstatus siap tanam. Sisanya, seluas 60.000 ha belum jelas penggunaannya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBeda halnya dengan BWPT yang hanya memiliki cadangan 42.000 ha lahan dari total keseluruhan milik BWPT seluas 102.000 ha. \"Perusahaan baru akan lebih sulit tumbuh jika aturan ini diterapkan,\" ujar Yuniv.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAnalis Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto bilang, tanpa aturan pembatasan lahan, ekspansi emiten sawit sebenarnya sudah melambat. Apalagi, biaya penanaman dan pembebasan lahan makin mahal. Desakan organisasi lingkungan membatasi ekspansi lahan pun mulai diperhatikan internasional.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELantaran biaya tanam mahal, BWPT hanya menargetkan menanam lahan baru seluas 4.000 ha di tahun ini. Padahal, BWPT biasa menanam seluas 10.000 ha - 13.000 ha per tahun. Begitu juga dengan AALI yang sejak tiga tahun terakhir hanya menanam 5.000 ha per tahun. Padahal, AALI biasa menanam hingga 22.000 ha per tahun.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut Arief, beleid pembatasahn lahan ini bisa saja gagal. Sebab, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bakal menggugat aturan tersebut. Permasalahan serupa pernah terjadi pada industri perkebunan karet. Saat itu, pemerintah ingin membatasi lahan karet dengan membuka areal hutan tapi aturan sulit dilakukan.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/602361869138317834"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/602361869138317834"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/bisnis-kebun-sawit-makin-sempit.html","title":"Bisnis kebun sawit makin sempit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2EhIy7R-520\/UWLILV9JX9I\/AAAAAAAAG-k\/woiFq1CYF-Y\/s72-c\/136444763p.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4342807271607865138"},"published":{"$t":"2013-04-04T22:34:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-04-04T22:34:36.691+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga CPO Merangkak Naik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-jwMdi17seEE\/UV2dfqMehZI\/AAAAAAAAG4g\/WSGNKdNMujY\/s1600\/images19.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-jwMdi17seEE\/UV2dfqMehZI\/AAAAAAAAG4g\/WSGNKdNMujY\/s1600\/images19.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nJPNN.com -\u0026nbsp; Kamis, 04 April 2013\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAwan kelabu yang menyelimuti bisnis kelapa sawit mulai memudar. Ini \nterkait dengan mulai merangkak naiknya harga minyak kelapa sawit mentah \n(crude palm oil\/CPO).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) \nSasmito Hadi Wibowo mengatakan, sepanjang Februari 2013, ekspor CPO \nIndonesia memang turun dibanding Januari 2013. \"Ini lebih disebabkan \nturunnya volume, sebab harganya sekarang sedang naik,\" ujarnya Rabu \n(3\/4).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nData BPS menunjukkan, angka ekspor untuk komoditas minyak hewan\/nabati \nyang mayoritas CPO pada Ferbuari lalu tercatat sebesar USD 1,65 miliar, \nturun dibandingkan periode Januari yang mencapai USD 1,94 miliar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nNamun, dari sisi harga, BPS mencatat adanya tren kenaikan. Tahun lalu, \nharga CPO sempat mencapai level di atas USD 1.000 per ton. Namun, pada \nakhir tahun, harganya terus merosot seiring dengan turunnya permintaan \ndi pasar internasional karena lesunya ekonomi dunia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBahkan, pada Desember 2012, harga sempat merosot ke kisaran USD 776 per \nton. Sejak itu, harga pun membaik. Pada Januari 2013, rata-rata harga \nsudah naik menjadi USD 841 per ton dan pada Ferbruari 2013 naik lagi \nmenjadi USD 863 per ton. \"Dengan membaiknya perekonomian, harga juga \nakan membaik,\" ucapnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDirektur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) \nFadhil Hasan menambahkan, recovery perekonomian global akan mendorong \nperbaikan harga CPO. \"Memang, tahun ini diproyeksi akan naik,\" ujarnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMenurut Fadhil, pergerakan harga minyak kelapa sawit di pasar \ninternasional saat ini sering bergerak liar karena faktor supply and \ndemand tidak lagi dominan dalam penentuan harga. \"Saat ini, harga lebih \nbanyak ditentukan oleh sentimen perekonomian global,\" katanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFadhil menggambarkan, pada 2011, rata-rata harga CPO di pasaran dunia \nmencapai kisaran USD 1.119 per ton. Namun, pada 2012, harga sudah jatuh \ndi kisaran USD 800 per ton. \"Tahun ini, harga CPO di semester pertama \ndiproyeksi di kisaran USD 800 - 900 per ton, pada semester ke dua \nkemungkinan akan naik sedikit ke kisaran USD 900 - 1.000 per ton,\" \nucapnya.\u003Cb\u003E (owi)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4342807271607865138"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4342807271607865138"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/04\/harga-cpo-merangkak-naik.html","title":"Harga CPO Merangkak Naik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-jwMdi17seEE\/UV2dfqMehZI\/AAAAAAAAG4g\/WSGNKdNMujY\/s72-c\/images19.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8136036963106714887"},"published":{"$t":"2013-03-31T08:38:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-31T08:38:16.681+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Penghasilan Negara dari Pajak Ekspor Kelapa Sawit 2012 Capai Rp28,3 Triliun"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-V-xhLj5sFjM\/UVeTemQCFsI\/AAAAAAAAGwQ\/eMYk5eirUJY\/s1600\/show_image_NpAdvMainFea.php.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"232\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-V-xhLj5sFjM\/UVeTemQCFsI\/AAAAAAAAGwQ\/eMYk5eirUJY\/s320\/show_image_NpAdvMainFea.php.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSekitar 3,7 juta jiwa penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari perkebunan sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESekretaris Direktorat Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian Mukti Sardjono mengatakan itu dalam seminar yang diadakan PT Astra Agro Lestari Tbk di Palu, Jumat (29\/3\/2013).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDia mengatakan komoditas kelapa sawit mempunyai peranan yang sangat penting sebagai sumber penerimaan negara.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurutnya, selain sumber pendapatan negara, perkebunan kelapa sawit juga mempunyai peranan penting bagi pendapatan masyarakat dan juga mendorong pengembangan wilayah, karena lebih dari 3,7 juta kepala keluarga terserap dalam industri dan perkebunan kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBegitu juga, kata dia, dari sisi pendapatan ekspor non minyak gas (Migas) nasional, nilai ekspor minyak sawit lebih besar dibanding nilai ekspor hasil pertanian di luar minyak sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Selama 2012 lalu, negara memeroleh Rp28,3 triliun dari pajak ekspor atau bea keluar, hasil perkebunan kelapa sawit, sehingga sangat mendukung industri dalam negeri,” lanjutnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDia mengatakan dengan data-data itu, industri minyak sawit Indonesia harus didukung agar terus maju dan berkembang.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETerkait perlunya dukungan terhadap kelapa sawit nasional, Dahlan H. Hasan, staf ahli Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Tadulako menyinggung pentingnya masyarakat memahami prosedur perizinan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Ketentuan mengenai Amdal terus mengalami perbaikan. Hal ini dapat dilihat melalui perubahan UU No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi UU. No.32 Tahun 2009, dan itu harus dipahami masyarakat,” katanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKarena, kata dia, dengan semangat baru itu Amdal lebih berperan, terarah dan efektif dalam mengawal pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan khususnya dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk sebagai perusahaan yang bergerak di perkebunan kelapa sawit yang merupakan perusahaan terbesar di Provinsi Sulbar, mendukung penegasan yang disampaikan pembicara.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKarena itu, dalam usaha perkebunan kelapa sawit yang dilakukan, AAL selalu memerhatikan secara serius mengenai studi kelayakan, legalitas usaha, serta perbaikan terus menerus baik teknis maupun non teknis agar kelapa sawit bermanfaat bagi negara maupun masyarakat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Semua demi pembangunan industri kelapa sawit yang lebih baik,” kata Berlian Cahyani, dari Safety, Health and Environment (SHE) AAL. (Antara\/wde)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8136036963106714887"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8136036963106714887"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/penghasilan-negara-dari-pajak-ekspor.html","title":"Penghasilan Negara dari Pajak Ekspor Kelapa Sawit 2012 Capai Rp28,3 Triliun"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-V-xhLj5sFjM\/UVeTemQCFsI\/AAAAAAAAGwQ\/eMYk5eirUJY\/s72-c\/show_image_NpAdvMainFea.php.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2700214818338338399"},"published":{"$t":"2013-03-31T08:24:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-31T08:24:10.306+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Program hilirisasi produk sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-woYSGFnbPJM\/UVeQHbMhuJI\/AAAAAAAAGv4\/49W1kymMd1I\/s1600\/sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-woYSGFnbPJM\/UVeQHbMhuJI\/AAAAAAAAGv4\/49W1kymMd1I\/s1600\/sawit.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai program hilirisasi produk kelapa sawit yang tengah digalakkan pemerintah masih berjalan setengah hati. Pasalnya hingga saat ini pemerintah hanya berencana membangun infrastruktur industri, tanpa merangsang perilaku para pengusaha untuk membangun industri pengolahan produk turunan kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBendaraha Gapki Sumut Laksamana Adyaksa mengatakan selama ini para pengusaha cenderung lebih suka melakukan perdagangan minyak sawit mentah (CPO), karena saat ini bea keluar yang dikutip pemerintah untuk minyak sawit mentah, masih sama dengan produk olahan. Sehingga karena tak mau direpotkan dengan sejumlah perijinan serta persoalan pengolahan, para pengusaha memilih untuk melakukan ekspor CPO.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Untuk apa diolah, kalau ekspor CPO saja sudah menguntungkan. Makanya itu perlu ada pengaturan ulang terkait bea keluar. Pemerintah harusnya membebankan bea keluar yang berbeda secara signifikan antara CPO dan produk olahannya. Bea keluar untuk produk CPO harus dibuat lebih tinggi, sehingga dengan margin yang ada para pengusaha lebih mau mengolahnya terlebih dahulu.”Ujarnya pada Smart FM di Medan, Selasa (16\/10\/2012).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELaksamana menambahkan, dengan adanya rangsangan tersebut, pemerintah juga diuntungkan. Karena dengan sendirinya investasi industri pengolahan masuk, dan lapangan pekerjaan akan terbuka dengan lebih luas.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Kalau bea keluarnya dinaikkan, tentunya investasi pembangunan pabrik yang menjadi pilihan. Tentunya ini akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Disamping itu, industri yang ada akan membuat sektor riil bergerak. Jadi ada efek dominonya, dibandingkan hanya diekspor mentah. Tapi kalau semua diserahkan pada pengusaha untuk memilih, tentunya pengusaha enggak mau repot.”Jelasnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAnggota Komisi IV DPR-RI Habib Nabiel Fuad Al Musawa menyatakan, \nmendukung percepatan hilirisasi produk hasil perkebunan kelapa sawit \nsehubungan dengan prakiraan bahwa pada 2013 Indonesia menggeser India \nmenjadi konsumen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar di dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Bila apa yang diprakirakan itu terwujud, berarti proses hilirisasi \nproduk kelapa sawit di Indonesia berjalan dengan baik,\" katanya di \nBanjarmasin, Rabu kepada wartawan yang tergabung dalam Journalist \nParliament Community (JPC) Kalimantan Selatan, Rabu, menanggapi prediksi\n Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNabiel, legislator asal daerah pemilihan Kalsel dari Partai Keadilan \nSejahtera itu mengungkapkan, berdasarkan prediksi DMSI, Indonesia akan \nmenjadi konsumen CPO terbesar di dunia menggeser India pada tahun 2013.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAnggota Komisi IV DPR yang juga membidangi pertanian (termasuk \nperkebunan) itu mendukung bila pada 2013 Indonesia benar-benar menjadi \nkonsumen CPO terbesar di dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Selain itu percepatan hilirisasi produk kelapa sawit itu bisa \nmengurangi angka kemiskinan di Indonesia,\" lanjut alumnus Institut \nPertanian Bogor (IPB) Jawa Barat (Jabar) itu.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPasalnya, menurut wakil rakyat yang menyandang gelar insinyur dan \nmagister bidang pertanian itu, dengan percepatan hilirisasi tersebut \nberarti industri hilir kelapa sawit di Indonesia berkembang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Keberadaan industri tersebut bisa menyerap tenaga kerja yang lebih \nbesar, hal itu berarti pula mengurangi pengangguran, sekaligus \nmenurunkan angka kemiskinan,\" tandasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMengutip prediksi DMSI, ia mengungkapkan, pada 2012 tiga negara \nkonsumen CPO terbesar di dunia, yaitu India 7,95 juta ton, Indonesia \n7,87 juta ton dan China 6,4 juta ton per tahun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada 2013 diprediksi konsumen CPO terbesar dunia, akan berubah \nmenjadi Indonesia 9,2 juta ton, India 8,35 juta ton dan China 6,72 juta \nton. Sementara perkiraan produksi sawit Indonesia 2013 mencapai 28 juta \nton.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKalau melihat angka diatas, menurutnya, meski ada peningkatan \nkonsumsi dalam negeri, namun konsumsi tersebut masih relatif kecil \ndibandingkan CPO yang keluar.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPemakaian CPO dalam negeri 9,2 juta ton, berarti sekitar 30 persen. Selebihnya 19 juta ton atau sekitar 70 persen diekspor.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Kata mengekspor bahan mentah yang memiliki potensi nilai tambah \ntinggi sebanyak 19 juta ton. Oleh karena itu sangat disayangkan,\" \nkeluhnya.\u0026nbsp;\u003Cb\u003E(SHN-A013)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2700214818338338399"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2700214818338338399"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/program-hilirisasi-produk-sawit.html","title":"Program hilirisasi produk sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-woYSGFnbPJM\/UVeQHbMhuJI\/AAAAAAAAGv4\/49W1kymMd1I\/s72-c\/sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8116745577175235575"},"published":{"$t":"2013-03-31T08:13:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-31T08:13:41.109+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Isu negatif kelapa sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Oyi0o_IpuRg\/UVeNs0uoQZI\/AAAAAAAAGvo\/knW7iF6LMZA\/s1600\/2010_09_01_11_54_42_klpwak---isi.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Oyi0o_IpuRg\/UVeNs0uoQZI\/AAAAAAAAGvo\/knW7iF6LMZA\/s1600\/2010_09_01_11_54_42_klpwak---isi.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nMaraknya isu negatif menghambat pengembangan kelapa sawit. Padahal, saat ini kelapa sawit penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) cukup besar.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDengan raut wajah yang serius, pelaku perkebunan kelapa sawit yang juga ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPP) Kalteng, Teguh Patriawan menyampaikan kegundahannya akan maraknya isu negatif seputar kelapa sawit. Pagi itu, Teguh, dengan gemas memberikan fakta yang cukup menarik dalam menanggapi isu negatif tersebut. \"Bagaimana mungkin luas areal kelapa sawit yang di Indonesia, yang cuma 8 juta ha ini dianggap merusak hutan.\" kata Teguh dengan nada tinggi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDi seluruh dunia, lanjut Teguh, luas areal kelapa sawit hanya sekitar 15 juta ha. bandingkan dengan misalnya soybeans (kedelai) yang luasnya 104 juta ha, atau rapeseed, 32 juta ha, kan tidak sebanding.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebenarnya kalau diteliti lebih seksama kontribusi tanaman sawit terhadap lingkungan cukup besar. Pertama, minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang paling hemat akan pengunaan lahan, produktifitasnya 8-9 kali lebih banyak dibandingkan dengan minyak nabati yang lain. Kedua, memiliki potensi sebagai tanaman untuk reboisasi lahan-lahan terbuka dan terlantar yang tidak memiliki nilai ekonomi (potensi kayu) dan dan nilai konservasi. Dan yang ketiga, dalam beberapa kali penelitian, per ha. kebun sawit menyerap 36 ton CO 2 dibandingkan dengan hutan tropis yang hanya rata-rata menyerap 25 ton.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKontribusi ekonomi juga cukup mengagumkan, selain menghasilkan devisa 15-16 juta US dollar setiap tahun, perkebunan kelapa sawit mampu mengerakkan perekonomian daerah-daerah terpencil. Selain itu mampu menyerap tenaga kerja 5 juta orang secara langsung dan 3 juta orang sebagai tenaga tambahan diluar kebun.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain itu, dalam hal energi, minyak kelapa sawit selain terbarukan juga sangat ramah terhadap lingkungan. Coba bandingkan dengan energi dari bahan bakar fosil. Limbah padat dan cair dapat digunakan sebagai sumber energi listrik dan substitusi pupuk organik yang ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi pencemaran.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIsu-isu negatif yang disebarkan, lanjut Teguh, sengaja untuk menekan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, coba bandingkan dengan HPH atau HTI yang sudah ada sejak orde baru. Karena itu, Teguh berharap, masyrakat jangan mudah terpancing isu-isu yang belum tentu kebenarannya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMinyak sawit juga berkontribusi menyediakan kebutuhan pangan dunia. Murahnya harga minyak sawit dibandingkan minyak nabati lain merupakan keunggulan minyak sawit. Jadi, terbukti perrkebunan kelapa sawit lebih produktif dan efisien.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EData Oil World menyebutkan, untuk memproduksi 4,2 ton minyak sawit mentah dibutuhkan biaya produksi US$ 250. Sedangkan untuk memproduksi satu ton rapeseed oil, dibutuhkan biaya produksi US$ 375. Biaya produksi soyabean oil dan sunflower oil lebih tinggi lagi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPatrick Moore. PhD, salah satu pendiri Greenpeace, mengungkapkan sejumlah fakta yang menarik. Setiap hari 6 milyar manusia bangun dengan tantangan akan kebutuhan riil, untuk makanan energi, lahan dan bahan-bahan yang lain. Semuanya itu akan mengancam kelestarian alam. Tantangan adalah bagaimana dapat memenuhi kebutuhan tersebut tanpa merusak lingkungan? Memotong kayu saja sebenarnya tidak cukup merusak lingkungan, masalah sebenarnya adalah setelah hutan tersebut ditebang, musnah untuk selamanya atau akan ditanami kembali.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMasyarakat eropa dan AS, lanjut Moore, selalu berpendapat bahwa hutan Indonesia dan Malaysia rusak berat. Padahal kenyataaanya 40% hutan alam Australia telah berubah menjadi lahan pertanian. Juga terhadap hutan AS, lebih dari 40% telah dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBagaimana dengan kondisi Kalimantan Tengah (Kalteng)? Landasan dan sudut pandang antara Kementrian Kehutanan dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang berbeda, membuat penyusunan Rencana Tata Ruang Provinsi (RTRWP) hingga saat ini masih belum terselesaikan. Pembentukan Tim Terpadu untuk menyusun RTRWP dan pembahasan di DPR RI masih juga menyisakan masalah yang belum terpecahkan. Sementara itu degradasi hutan dan pembangunan daerah tidak dapat ditunda.Teguh menjelaskan sambil memperlihatkan foto-foto hutan sebelum di bangun perkebunan sawit yang sudah kritis. Akibat persoalan itu, maka pembahasan RTRWP Kalteng sulit mencapai titik temu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESambil menerawang jauh, Teguh Patriawan berharap, semestinya RTRWP Kalteng ke depan nantinya benar-benar dapat memperhatikan kepentingan daerah, sebab daerahlah yang lebih berkepentingan terhadap pengembangan dan pembangunan wilayah mereka. ‘’Kalau kita dibatasi, bagaimana dapat mengelola daerah untuk menggali potensi-potensi daerah yang dapat menjadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETanpa RTRWP, lanjut Teguh, Pemerintah Daerah (Pemda) akan mengalami kesulitan dalam memberikan lahan yang prosedural.Ini dikarenakan berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepatan (TGHK) yang sudah berlaku sejak 1982 dirasa sudah tidak mencukupi lagi untuk pengembangan wilayah dan pembangunan. Selain itu RTRWP juga merupakan payung hukum bagi pemda untuk memberikan lahan dan juga memberikan kepastian bagi investor.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebenarnya, pernah ada solusi dalam menyelesaikan persoalan lahan perkebunan kelapa sawit ini, yaitu Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 62 Tahun 2011 tentang Pedoman Pembangunan Hutan Tanaman Berbagai Jenis pada Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri (IUPHHK\/HTI). Yang salah satu isinya menyebutkan bahwa tanaman sawit merupakan tanaman hutan. Di Malaysia, kenapa nggak ribut-ribut, karena mereka memasukan sawit menjadi tanaman kehutanan. Namun sayangnya peraturan Menhut tak bertahan lama karena mendapat kecaman dari Greenpeace dan Walhi. Peraturan ini dianggap dapat melegalkan operasi perkebunan sawit ilegal.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelanjutnya dalam menanggapi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26 Tahun 2007, yang mengatur perusahaan perkebunan wajib membangun kebun untuk masyarakat sekitar paling seluas 20 persen dari total luas areal kebun, pengusaha kelapa sawit di Kalteng, tidak mempermasalahkan itu, yang penting pemerintah komitmen membantu pengembangan kelapa sawit. \"Jangan nilai tambahnya diambil tapi begitu ada permasalahan pemerintah lepas tangan,\" pungkasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIsu tentang kelapa sawit selalu ada mulai dari pengrusakan hutan, merusak ekosistem, merusak sosial ekonomi masyarakat setempat dan lain-lain isu -isu ini telah mendunia bahkan dengan opini yang sangat gencar tentang hal-hal yang negatif tentang kelapa sawit maka sudah terbentuk persepsi negatif tentang kelapa sawit ini bisa dilihat terjadinya isu negatif tentang kesehatan dan kandungan nutrisi dari produk kelapa sawit yang terjadi di Eropa tepatnya di Belanda hal ini merupakan akumulasi dari berbagai isu yang terjadi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKalau sedikit membandingkan dengan komoditi kedelai justru pemberitaan negatif tentang komoditi ini hampir tidak ada. Setiap tahunnya Indonesia mengimpor hampir 60% kedelai dari Amerika Serikat untuk memenuhi pasokan dalam negeri dan untuk menstabilkan harga kedelai. Padahal\u0026nbsp; untuk membuat lahan pertanian kedelai di Amerika Serikat justru juga menghabiskan hutan-hutan di Amerika Serikat dan Hutan amazon di Brasil untuk pembukaan lahan pertanian kedelai bahkan untuk menghasilkan minyak yang sama dengan kelapa sawit lahan kedelai harus membuka seluas 8 kali lipat. Namun pernahkah kita mendengar bahwa produk kedelai diganjal ekspornya ke suatu negara karena isu merusak lingkungan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKalau kita mengetik di “mbah google” dengan kata kunci ” isu negatif kedelai atau kampanye negatif kedelai” maka hasilnya akan lebih banyak link tentang isu negatif dari kelapa sawit. Kelapa sawit dan kedelai merupakan komoditi yang sama-sama menghasilkan minyak namun persepsi kedua komoditi ini terutama di dunia internasional sangat berbeda. Kalau seandainya kelapa sawit di hasilkan di Amerika Serikat dan Indonesia jadi pengekspor kedelai,\u0026nbsp; pasti persepsi yang muncul justru akan berbeda.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPemerintah Amerika Serikat sangat melindungi petani kedelainya sehingga segala daya upaya di lakukan untuk melindungi keberlangsungan pertanian kedelai sedangkan Indonesia peran pemerintah tidak bisa berjalan dengan baik, usaha kampanye tentang kelapa sawit lebih banyak di lakukan oleh organisasi -organisasi kelapa sawit padahal sekarang 45% produksi kelapa sawit oleh Indonesia atau produsen CPO terbesar nomor 1 di dunia namun justru Indonesia tidak bisa mengendalikan harga kelapa sawit di dunia. Jadi isu-isu negatif tentang kelapa sawit sebenarnya tidak terlepas dari “perang dagang”\u0026nbsp; yang di lakukan oleh setiap negara untuk melindungi keberlangsungan pertaniannya.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenurunan harga kelapa sawit\u0026nbsp; hanya karena isu negatif kelapa sawit akan memberikan efek domino bagi perekonomian Indonesia, menurut pengamatan sekitar 3 bulan yang lalu ketika harga kelapa sawit jatuh atau rendah\u0026nbsp; terutama di Pulau Sumatera yang banyak kelapa sawit rakyat maka terjadi kelesuan ekonomi di mana pasar menjadi sepi, pembayaran kredit motor macet, omset pedagang turun dan efek ekonomi yang lain.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8116745577175235575"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8116745577175235575"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/isu-negatif-kelapa-sawit.html","title":"Isu negatif kelapa sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Oyi0o_IpuRg\/UVeNs0uoQZI\/AAAAAAAAGvo\/knW7iF6LMZA\/s72-c\/2010_09_01_11_54_42_klpwak---isi.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7329645437118961259"},"published":{"$t":"2013-03-31T08:02:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-31T08:02:44.098+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perkebunan Sawit Dikuasai Swasta"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-nnF7Fr1swqs\/UVeLKQtHrNI\/AAAAAAAAGvg\/uB9h9Ey61Y0\/s1600\/5a328e1ded66a0a7089e6d280f8645d9130751_a.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-nnF7Fr1swqs\/UVeLKQtHrNI\/AAAAAAAAGvg\/uB9h9Ey61Y0\/s1600\/5a328e1ded66a0a7089e6d280f8645d9130751_a.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"read-overview\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJakarta, Aktual.co — Produksi kelapa sawit 2012 sebanyak 113.887 \nton, 2011 sebanyak 114.326 ton, produksi kelapa sawit 2010 sebanyak \n29.278 ton dengan luas lahan 16.878 hektare.\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nLuas perkebunan kelapa \nsawit di Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung, pada 2012 mencapai \n19.708 hektare atau meningkat dibanding 2011 yang hanya tercatat seluas \n18.180 hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Namun, hampir 75 persen dari total \nluas perkebunan kelapa sawit yang ada itu dikuasai perusahaan swasta, \nsehingga pengembangan komoditas ini melenceng dari program awal untuk \nmeningkatkan kesejahteraan petani,\" ujar Kabid Perkebunan Dinas \nPerkebunan dan Kehutanan Bangka Selatan Kartino di Toboali Kamis \n(28\/3).\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa menjelaskan bahwa peningkatan luas \nperkebunan kelapa sawit ini tidak mempengaruhi produksi kelapa sawit \nyang mengalami penurunan karena harga CPO turun sebagai dampak krisis \nekonomi global.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi kelapa sawit 2012 \nsebanyak 113.887 ton, 2011 sebanyak 114.326 ton, produksi kelapa sawit \n2010 sebanyak 29.278 ton dengan luas lahan 16.878 hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi\n kelapa sawit 2009 sebanyak 30.095 ton dengan luas lahan 14.878 hektare,\n produksi 2008 sebanyak 3.260 ton dengan luas lahan 1.819 hektare, \nproduksi 2007 sebanyak 3.116 ton dengan luas lahan 1.777 hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Dalam\n dua tahun terakhir ini, kami tidak lagi memprogram pengembangan \nperkebunan kelapa sawit ini seperti penyaluran bantuan bibit, pupuk dan \nlainnya, karena keterbatasan lahan dan biaya pengelolaan, perawatan \nserta produksi komoditas ini membutuhan biaya tinggi yang memberatkan \nekonomi petani,\" ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut dia, \npengembangan komoditas ini cukup tinggi, sehingga akan mengganggu \npengembangan komoditas unggulan daerah lainnya seperti lada putih, \nkaret, kakao, cengkih, kelapa dan lainya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Saat\n ini, kami tidak lagi memberikan izin perluasan perkebunan kelapa sawit \nkepada perusahaan untuk mencegah permasalahan sosial yang merugikan \nwarga khususnya petani,\" ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa mengatakan\n bahwa saat ini, kami membuka investasi industri hilir pengolahan tandan\n buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi produk jadi maupun setengah jadi \nuntuk meningkatkan produksi dan nilai jual TBS sehingga akan berdampak \npeningkatan kesejahteraan petani.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Dengan \nadanya industri hilir CPO ini tentu harga jual TBS akan lebih stabil dan\n petani tidak akan mengalami kerugian yang cukup besar karena harga TBS \nanjlok seperti akhir tahun lalu, harga TBS petani hanya berkisar Rp150 \nhingga Rp250 per kilogram dari harga normal Rp1.100 perkilogram,\" \nujarnya\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7329645437118961259"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7329645437118961259"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/perkebunan-sawit-dikuasai-swasta.html","title":"Perkebunan Sawit Dikuasai Swasta"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-nnF7Fr1swqs\/UVeLKQtHrNI\/AAAAAAAAGvg\/uB9h9Ey61Y0\/s72-c\/5a328e1ded66a0a7089e6d280f8645d9130751_a.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7589625491824650739"},"published":{"$t":"2013-03-28T15:21:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-28T15:21:47.252+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Cara memilih bibit kelapa sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-LJYmTTKXYXM\/UVP9hKN1k_I\/AAAAAAAAGuM\/PEIkmp5PMQI\/s1600\/bibit_kelapa_sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"236\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-LJYmTTKXYXM\/UVP9hKN1k_I\/AAAAAAAAGuM\/PEIkmp5PMQI\/s320\/bibit_kelapa_sawit.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBagi anda yang ingin memilih bibit kelapa sawit yang benar dan baik serta berkualitas tinggi tentu harus mengetahui tipsnya.karena bila salah memilih bibit kelapa sawit kerugian akan anda alami dalam jangka waktu yang cukup panjang.karena sawit adalah tanaman tahunan.Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack) adalah  komoditi ekspor negara kita, tanaman ini mulai dikembangkan sblm perang dunia 2. negara kita mulai tanam kelapa sawit secara komersial mulai thn 1911 di Sumatera, tapi selama 1958-1968 produksi stagnan dan mulai tumbuh laju sejak tahun 1980. Dlm  2 (dua) dekade terakhir perkebunan kelapa sawit mengalami perkembangan yang baik,apakah luas areal maupun produksi.tahun 1990 luas areal perkebunan kelapa sawit seluas 1,5 juta ha, pada tahun 2008 areal kelapa sawit di Indonesia tercatat seluas 7,01 juta ha yg tersebar di propinsi NAD, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Papua. Indonesia merupakan produsen benih kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi sekitar 167 juta kecambah per tahun namun karena kebutuhan yang cukup banyak sehingga perlu peningkatan kuantitas dan kualitas dgn menggunakan maupun memilih bibit yang tepat. Pengadaan benih bahan tanaman atau disebut teknologi benih pada kelapa sawit tidak semudah seperti pada tanaman lain. Tanaman kelapa sawit pada awalnya hanya dapat diperbanyak secara generatif dan baru dalam 15 tn terakhir ini diketahui dapat diperbanyak secara vegetatif melalui kultur jaringan.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerikut adalah cara memilih Bibit Kela\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003Ep\u003C\/span\u003Ea Sawit: \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003E1. Untuk memilih kecambah sawit.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKalau mau yang jenis tenera : pilih yang bijinya kecil dan tempurungnya tipis.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKalau mau yang jenis dura : pilih yang bijinya besar dan tempurungnya tebal.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPilih juga yang mata tunasnya putih bersih, tidak cacat dan panjang akarnya tak lebih dari 2 cm. Pilih yang bentuk bijinya lonjong seperti buah melinjo. Tempurung berwarna hitam pekat, bersih dari sabut dan jamur. Mata tunas hanya satu setiap biji. Bentuk tunas bagus, tidak bengkok. Tunas dan akar masih segar, tudung akar masih utuh.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003E2. Untuk memilih bibit kecil (baby).\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPilih yang bentuk tajuknya bagus, bongkotnya (bagian batang paling bawah) besar, gemuk pendek, jangan pilih yang tinggi langsing. Daun dan batang hijau segar, usia 3 bulan minimal sudah memiliki 4 pelepah daun yang terbuka. Jangan pilih yang pelepah daunnya menutup atau tidak membuka. Akarnya kokoh, tidak goyah. Pilih juga yang daunnya tidak cacat karena penyakit layu atau karena dimakan ulat.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003E3. Untuk memilih bibit besar siap tanam.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003EBibit sawit umumnya ditanam ketika sudah berumur satu tahun, terhitung sejak mulai dipindahkan ke polibag besar dari usia baby (tiga bulan). Namun bila akan ditanam di lahan yang basah atau banyak hama tikus, maka biasanya yang ditanam adalah yang berumur dua tahun. Bibit umur dua tahun terlebih dahulu dipotong semua pelepah daunnya hingga tinggal setengah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun ciri bibit besar yang bagus adalah sama dengan ciri bibit baby, ditambah adanya sulur pada ujung pelepah daun yang bagian atas. Selain itu, jangan pilih bibit besar yang tumbuh besar jauh melebihi kawan-kawannya, karena biasanya bibit itu adalah jantan. Kalau pun mau di tanam utk membantu penyerbukan nantinya, tanamlah satu pohon saja utk setiap 51 pohon.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBiasanya, bibit besar yang ditempatkan dibagian pinggiran pembibitan, akan tumbuh tidak setinggi kawannya yang lebih ke tengah. Ini normal saja. Dan bibit yang di pinggir ini bukanlah bibit yang tak bagus.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003E4. Bila pucuk kelapa sawit atau kelapa biasa terserang penggerek hama\u003C\/b\u003E, semprot saja dengan air garam. Ingat, jangan biarkan lama-lama, karena pertumbuhan pucuk tanaman bisa sangat terganggu.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003E5. Untuk menormalkan sawit jagur\/buah jarum.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003EPohon sawit yang hanya berbuah kecil dan didominasi duri saja, jangan ditebang atau diganti baru, karena dapat dinormalkan dengan cara : panenlah buahnya dan potong pelepah sesuai jadwal kawannya yang berbuah normal. Setiap panen, kumpulkan sampah atau daun sawit yang kering disekeliling pangkal batangnya, lalu dibakar. Ukurlah besar tumpukan sampah hingga tak menyebabkan kematian karena api terlalu besar. Usahakan agar daun terbawah sampai layu sedikit. Lakukan setiap panen, sampai buahnya jadi normal. Biasanya sekitar 6 bulan sampai setahun. Cara ini umum dilakukan para petani sawit rakyat di Sumatera Utara, dan tingkat keberhasilannya biasanya di atas 90%.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7589625491824650739"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7589625491824650739"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/cara-memilih-bibit-kelapa-sawit.html","title":"Cara memilih bibit kelapa sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-LJYmTTKXYXM\/UVP9hKN1k_I\/AAAAAAAAGuM\/PEIkmp5PMQI\/s72-c\/bibit_kelapa_sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7184743178137229906"},"published":{"$t":"2013-03-24T20:39:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-24T20:39:36.445+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"GAPKI menuntut penghapusan moratorium Pemberian Izin Baru"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDesember 2012 lalu, GAPKI menuntut penghapusan moratorium Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Alasannya, kebijakan tersebut sangat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Tuntutan GAPKI cukup bikin cemas para pemerhati REDD+ di Indonesia. Kalau pengusaha menolak bergandeng tangan, bisa-bisa cerita REDD+ tak jauh dari perdebatan kenaikan upah buruh.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n_nGVwK9gec\/UU8CAYbI7QI\/AAAAAAAAGnk\/mfBHSRbuKVY\/s1600\/Liputan-Moratorium-Hutan-1-500x281.jpeg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"179\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n_nGVwK9gec\/UU8CAYbI7QI\/AAAAAAAAGnk\/mfBHSRbuKVY\/s320\/Liputan-Moratorium-Hutan-1-500x281.jpeg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EKetiga pembicara (ki-ka) Jefri Gideon, Heru Prasetyo, dan Mubariq Ahmad didampingi moderator Wimar Witoelar\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMoratorium izin baru pemanfaatan lahan itu sendiri telah berlaku selama 2 tahun di bawah Instruksi Presiden Nomor 10\/2011. “Inpres ini akan berakhir 20 Mei mendatang. Dan belum ada kepastian dari Presiden Yudhoyono,” kata Sita Supomo, Program Director of Sustainable Development Governance Kemitraan dalam temu “Moratorium Hutan untuk Tata Kelola Hutan yang Lebih Baik” (19\/3). Maka, sebelum terlambat, sejumlah pemerhati REDD+ mengemukakan rekomendasi agar pemerintah memperpanjang jangka waktu moratorium menjadi 5 tahun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKetua Kelompok Kerja Strategi Nasional REDD+, Mubariq Ahmad menegaskan perlunya perpanjangan moratorium. “Kenapa perlu diperpanjang? Karena sistem tata kelola baru pemberian izin pemanfaatan lahan belum siap,” ujarnya. Ia menilai, moratorium efektif mengurangi deforestasi sekaligus meningkatkan luasan tutupan hutan primer dan lahan gambut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKeadaannya kini, luas lahan sawit yang aktif berproduksi adalah 9,4 juta hektar. Itu data dari pemerintah. Dibandingkan dengan data lembaga sosial Sawit Watch, luas lahan sawit aktif justru lebih besar. “Versi Sawit Watch, kebun sawit di Indonesia sampai melebihi 12 juta hektar. Produktivitasnya 25,2 juta ton per tahun, sedangkan konsumsi dalam negeri hanya 6 juta ton,” jelas Koordinator Sawit Watch, Jefri Gideon. Sisanya diserap oleh pasar luar negeri.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri hulu seperti perkebunan kelapa sawit sesungguhnya masih mengandung nilai tertinggi. “Nilainya paling tinggi karena butuh investasi dan lahan besar-besaran,” ungkap Mubariq. Trennya, value tanah pasti naik terus. Maka, perusahaan berlomba-lomba membeli tanah. “Ada yang beli dengan motif spekulasi sehingga menjadi land banking,” lanjutnya. Menurut Mubariq, dari sekian banyak perusahaan sawit, baru 1 yang bergerak di industri hilir.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNamun, benarkah perusahaan besar pasti bersikap negatif terhadap moratorium? Taipan Grup Triputra, Theodore Permadi Rachmat, pernah memuji langkah yang diambil Menteri Zulkifli Hasan ini. “Kementerian yang sekarang sudah bagus. Kebijakan moratorium konversi hutan merupakan langkah baik yang dilakukan Menteri Zulkifli Hasan,” katanya pada SWA dalam suatu wawancara khusus (4\/2).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nArtinya, tidak mustahil perusahaan menyesuaikan gerak bisnis dengan penerapan REDD+ ke depannya. Apalagi, pertumbuhan perkebunan sawit dan pertambangan tidak akan terhambat perpanjangan moratorium. “Izin tambang yang aktif masih cukup banyak. Di samping itu, masih ada 4 juta hektar lahan sawit baru yang paling cepat selesai ditanami dalam 10 tahun ke depan,” tegas Mubariq meyakinkan. (EVA)\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7184743178137229906"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7184743178137229906"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/gapki-menuntut-penghapusan-moratorium.html","title":"GAPKI menuntut penghapusan moratorium Pemberian Izin Baru"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-n_nGVwK9gec\/UU8CAYbI7QI\/AAAAAAAAGnk\/mfBHSRbuKVY\/s72-c\/Liputan-Moratorium-Hutan-1-500x281.jpeg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8198708038212594727"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:57:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:57:35.035+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Bea Keluar CPO Naik Jadi 10,5 Persen"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-8KTIBkwiYQE\/UTP_h9ddCWI\/AAAAAAAAF-U\/veUgQv3GcuA\/s1600\/cpo2.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-8KTIBkwiYQE\/UTP_h9ddCWI\/AAAAAAAAF-U\/veUgQv3GcuA\/s1600\/cpo2.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPemerintah menetapkan bea keluar \u003Cem\u003Ecrude palm oil\u003C\/em\u003E (minyak sawit mentah) untuk bulan Maret sebesar 10,5 persen.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAngka\ntersebut lebih tinggi dari bulan Februari yakni sebesar 9 persen. Bea \nkeluar tersebut lebih tinggi dari Malaysia, yang mematok di level 4 \npersen.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDirektur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian \nPerdagangan Bahrul Chairi, Minggu (24\/2\/2013)  mengatakan kenaikan bea \nkeluar CPO dipicu oleh naiknya harga di tingkat internasional.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHal itu terlihat dari harga patokan ekspor untuk bulan Maret yang naik 5,11 persen menjadi 782 dollar AS per metrik ton.  \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUntuk\nbea keluar p roduk turunan CPO mengalami kenaikan dari 4 persen menjadi\n5 persen.  Untuk Hydrogenated RBD Palm Olein bea keluarnya naik  dari 3\npersen menjadi 4 persen,  paparnya.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia menambahkan, harga \npatokan ekspor untuk biji kakao periode Maret 2013  mengalami penurunan \nsebesar  70  dollar AS atau 3,5 persen.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\nSedangkan  bea keluar untuk biji kakao tidak mengalami perubahan yakni sebesar 5 persen.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDIKUTIP DARI KOMPAS, MINGGU, 24 PEBRUARI 2013\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8198708038212594727"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8198708038212594727"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/bea-keluar-cpo-naik-jadi-105-persen.html","title":"Bea Keluar CPO Naik Jadi 10,5 Persen"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-8KTIBkwiYQE\/UTP_h9ddCWI\/AAAAAAAAF-U\/veUgQv3GcuA\/s72-c\/cpo2.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7856487394664165872"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:54:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:54:53.432+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Maret 2013 Naik"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-IQh_YkKGzNA\/UTP-4szCkSI\/AAAAAAAAF-M\/3-YidpqAY7w\/s1600\/foto-4-fruit-bunch.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"159\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-IQh_YkKGzNA\/UTP-4szCkSI\/AAAAAAAAF-M\/3-YidpqAY7w\/s320\/foto-4-fruit-bunch.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBALIKPAPAN. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit untuk periode Maret mengalami\nkenaikan yang merupakan akibat dari produksi dan permintaan terhadap minyak\nsawit (Crude Palm Oil\/CPO) terus meningkat khususnya memasuki awal 2013. \n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, diwakili oleh Kepala Bidang Usaha,\nIr.H. Moh. Yusuf, M.Si mengemukakan berdasarkan keputusan rapat Tim Penetapan\nHarga Pembelian Tandan Buah Segar (H-TBS) Kelapa Sawit bulan ini kembali mengalami\nkenaikan dan berlaku untuk periode Maret 2013.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMenurut Yusuf, kenaikan harga TBS sawit ini diakibatkan produksi meningkat\ndan kondisi perekonomian dunia mulai membaik, \u0026nbsp;sehingga harga crude palm\noil (CPO\/minyak kelapa sawit) menjadi naik dan \u0026nbsp;ikut mempengaruhi harga\nTBS di Kaltim.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\"Kenaikan harga TBS memasuki awal tahun ini menunjukkan kondisi yang\npositif bagi penjualan bahan baku CPO itu. Sehingga ini akan memberikan angin\nsegar terhadap produksi para petani pekebun sawit,\" harapnya.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSedangkan untuk harga crude palm oil tertimbang periode penjualan Maret Rp5.965.\nHarga Kernel rerata tertimbang periode yang sama pada bulan ini sebesar Rp2.423,\n\u0026nbsp;sedangkan Indeks K sebesar 80,66 persen. \n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKetetapan Tim untuk harga TBS ini melalui beberapa proses, diantaranya\npembahasan dan diskusi tim terhadap informasi maupun data yang telah\ndisampaikan perusahaan-perusahaan sumber data yang dinyatakan layak untuk\ndiolah.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nApalagi lanjutnya, keberadaan tim penetapan harga ini untuk menstabilkan harga-harga\nTBS kelapa sawit di seluruh wilayah Kaltim. Karena, hampir seluruh kabupaten\ndan kota terdapat pekebun sawit dengan penjualan harga yang berbeda.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\"Tetapi dengan tim ini akan memberikan jaminan dan dukungan terhadap\npekebun. Terutama jaminan harga yang memadai bagi plasma sawit yang tersebar di\nseluruh wilayah kabupaten dan kota di Kaltim,\" jelas Yusuf.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\" class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;\"\u003E\nPemberitahuan\nHarga TBS Kelapa Sawit ini, sekaligus berlaku sebagai undangan bagi seluruh\nanggota tim untuk datang pada rapat pembahasan HTBS pada Kamis (28\/3) untuk\npenetapan harga pada April 2013 mendatang.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\" class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\" class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;\"\u003E\n\"Sedangkan\ndata ataupun informasi perusahaan sumber data dapat disampaikan kepada tim\nselambat-lambatnya pada Rabu (27\/3). Dalam penetapan harga melibatkan Gapki\nKaltim dan seluruh stakeholders di perkebunan kelapa sawit,\" ujar Yusuf.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\" class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSesuai dengan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 41\nTahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Pembelian Harga TBS Kelapa\nSawit produksi pekebun (plasma) di Kaltim, maka hasil keputusan tim diberlakukan\nuntuk setiap transaksi jual beli TBS Sawit produksi pekebun untuk periode Maret\n2013 ini. (rey)\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nHasil rumusan Tim Penyusun Harga TBS\nKaltim untuk bulan Maret 2013, Hotel Menara Bahtera,\u003Cstrong\u003E \u003C\/strong\u003EBalikpapan, Kamis, 28 Pebruari 2013 :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"2\" id=\"_mc_tmp\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EWujud Produksi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EJanuari \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EPebruari \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EMaret \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003ECPO\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E5.581,92\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E5.731,17\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E5.965,59\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EKernel\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E2.269,15\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E2.141,62\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E2.423,38\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EIndeks \"K\"\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E80,00\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E80,00\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E80,66\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EUmur\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EJanuari\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EPebruari\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd style=\"background-color: #0c6328; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: white;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003EMaret\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E3 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E764,68\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E779,56\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E823,94\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E4 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E823,24\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E839,38\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E867,04\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E5 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E883,58\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E901,04\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E952,06\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E6 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E914,44\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E932,49\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E985,30\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E7 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E945,76\u003C\/span\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E964,34\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.019,05\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E8 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E976,61\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E995,80\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.052,29\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E9 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.007,93\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.027,65\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.086,04\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E10 - 25 Tahun\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.039,69\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.059,96\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\t\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\t\t\t\u003Ctd align=\"center\" style=\"background-color: #e2d378; text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: arial; font-size: x-small;\"\u003E1.120,26\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7856487394664165872"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7856487394664165872"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/harga-tandan-buah-segar-tbs-sawit-maret.html","title":"Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Maret 2013 Naik"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-IQh_YkKGzNA\/UTP-4szCkSI\/AAAAAAAAF-M\/3-YidpqAY7w\/s72-c\/foto-4-fruit-bunch.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6436252555768592778"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:49:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:49:14.008+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Biaya Pembuatan Kebun Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-g-eGhBiCCik\/UTP9kJcfblI\/AAAAAAAAF-E\/zIw1aoufV2k\/s1600\/2054107p.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"164\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-g-eGhBiCCik\/UTP9kJcfblI\/AAAAAAAAF-E\/zIw1aoufV2k\/s320\/2054107p.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam penanaman kelapa sawit maka ada \nbeberapa jenis pekerjaan yang akan di lakukan yaitu mulai dari pembukaan\n lahan, penanaman, pembuatan jalan dan parit serta pemeliharaan \nmenjelang panen. saat ini biaya untuk investasi pembuatan kebun kelapa \nsawit adalah sekitar Rp. 40.000.000\/Ha.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerikut adalah cara menghitung atau analisa investasi untuk menanam kebun kelapa sawit hingga berproduksi\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E \u003C\/span\u003Edalam satu hektar :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E1. Pembukaan lahan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\na. Imas\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. \u0026nbsp; \u0026nbsp;700.000\u003Cbr \/\u003E\nb. Tumbang\/Cincang \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. 1.000.000\u003Cbr \/\u003E\nc. Stacking \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;Rp. 3.500.000\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E2. Penanaman\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\na. Bibit \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. 4.760.000\u003Cbr \/\u003E\nb. Pancang\/Lobang\/tanam\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. 2.720.000\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3. Pembuatan Jalan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\na. Alat Berat \u0026amp; Sirtu \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. 5.000.000\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSub Total Biaya Hingga Tanam \u003Cstrong\u003E\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; Rp. 17.680.000\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E4. Pemeliharaan Hingga Panen\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\na. Perawatan (semprot\/pupuk\/hama) \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; Rp. 22.000.000\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003ETotal Biaya investasi kebun sawit hingga panen Rp. 39.680.000\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDemikian dulu informasi gambaran tentang\n biaya investasi kebun kelapa sawit, semoga membantu. Untuk informasi \ndetail dapat menghubungi kami.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6436252555768592778"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6436252555768592778"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/biaya-pembuatan-kebun-sawit.html","title":"Biaya Pembuatan Kebun Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-g-eGhBiCCik\/UTP9kJcfblI\/AAAAAAAAF-E\/zIw1aoufV2k\/s72-c\/2054107p.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7224833092881198078"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:45:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:45:17.081+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hitung Biaya Kebun Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-p1QQQRYn6k0\/UTP8n7RClQI\/AAAAAAAAF98\/lpKmGnimtsk\/s1600\/581843.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"213\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-p1QQQRYn6k0\/UTP8n7RClQI\/AAAAAAAAF98\/lpKmGnimtsk\/s320\/581843.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003E(Asumsi dengan Perawatan dan Pemupukan yang Baik)\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya-biaya yang harus dikeluarkan :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya Pembelian Lahan per ha = Rp. 5.000.000\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETergantung lahan sangat variatif tergantung lokasi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPembersihan Lahan per ha sekitar = Rp. 500.000\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"2\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EHarga Bibit :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBibit harus dibeli dari tempat yang jelas dan qualified, sangat \nriskan jika beli beli dari tempat yang nggak jelas walaupun harganya \nhanya ½ dari tempat penjual bibit resmi, karena resikonya bisa-2 sawit \ntidak berbuah sama sekali kalau toh tetap berbuah hasilnya akan buruk. \nTempat-2 yang qualified yang memang terbiasa dalam menjual bibit antara \nlain, PT. Lonsum (London Sumatera), PT. Socfin Medan, PPKS (Pusat \nPenelitian Kelapa Sawit), dll.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EUsia 6 bulan harga sekitar = Rp. 15.000 per pokok pohon\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUsia bibit ini masih mungkin dimakan hama babi. Jadi dibutuhkan biaya\n tambahan untuk untuk membuat pagar supaya aman dari babi. Jika biaya \npembuatan pagar per pokok pohon sekitar 5rb rupiah jatuh harga menjadi\u0026nbsp;\u003Cstrong\u003ERp. 20.000 per pokok pohon.\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EUsia 18 bulan harga sekitar = Rp. 30.000 per pokok pohon.\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBibit usia 18 bulanan sudah tidak dimakan babi karena sudah tumbuh \nduri. Jadi sudah tidak butuh biaya lagi untuk mengamankan dari gangguan \nhama babi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EJumlah bibit Yang dibutuhkan per ha.\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPerbibit butuh Jarak tanam sekitar : 9m x 9m = 81 m2\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUntuk luas 1 ha (10.000 m2) = 10000 m2\/81 m2 yaitu sekitar 130-an buah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiasanya Lahan 1 ha ditanami antara 130 buah sampai 140 buah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAsumsi penanaman 1 ha = 130 buah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi biaya bibit =\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ERp. 30.000 x 130 buah = Rp. 3.900.000 per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"3\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EPemupukan\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan pertama tanam (Urea) = 0,5 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 65 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"2\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-2 tanam (Urea) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"3\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-4 tanam (TSP) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"4\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-8 tanam (Urea) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"5\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-12 tanam (Urea) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"6\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-16 tanam (TSP) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"7\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-20 tanam (Urea) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"8\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-24 tanam (Urea) = 0,75 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 97,5 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"9\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-28 tanam (TSP) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"10\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-32 tanam (Urea) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"11\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-36 tanam (Urea) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"12\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-40 tanam (TSP) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"13\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-44 tanam (Urea) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"14\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBulan ke-48 tanam (Urea) = 1 kg per pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi untuk 130 pokok pohon butuh = 130 kg per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiasanya orang-2 memupuk sekitar 6 bulan sekali bahkan banyak yang \nhanya 1 kali setahun, tetapi menurut cerita di forum online dari orang \nyang punya kebun kelapa sawit direkomendasikan kalau mau hasil yang \nlebih bagus dipupuk 4 bulan sekali.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESetelah tanaman berumur 4 tahun biasanya\n sudah mulai menghasilkan walau tidak terlalu banyak antara 0,5 ton \nsampai sampai 1 ton per ha. Sangat tergantung kesuburan tanah, cara \nperawatan juga factor-2 lain. Harga TBS (Tandan Buah Segar) per kilo \nsekitar Rp. 1700-an ke pabrik dengan lahan plasma. Tetapi jika dijual \nsendiri ke Bengkulu sekitar Rp. 2000-an. Tiap pabrik juga memberikan \nharga yang berbeda-beda, dan cara penaksiran waste yang berbeda pula. \nBiasanya dipotong antara 5% sampai 10 % dari hasil produksi. Jadi \nseandainya hasil kebun sawit 5 ton, maka hanya akan dihitung 4,5 ton \nsaja dikalikan harga per kilonya. Ini tergantung dari cara penaksiran \njumlah buah panennya. Jika yang dipanen masih banyak buah yang mentah, \npotongannya akan semakin besar. Juga tiap petugas penaksir mempunyai \nselera masing-2 dalam cara memotongnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUntuk pemupukan dilakukan rotasi 2x urea 1x pupuk TSP tiap pemupukan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi jika dipupuk tiap 4 bulan jumlah pupuk yang dikeluarkan sekitar.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPupuk Urea sampai 4 th. = 1,072 ton sekitar 1100 kg\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPupuk TSP sampai dengan 4 th = 0,455 ton sekitar 500 kg.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya pupuk total sampai dengan umur 4 th.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EHarga pupuk Urea sekitar Rp. 4000 s\/d Rp. 5000 per kgnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EHarga pupuk TSP sekitar Rp. 1600 s\/d Rp. 2000 per kgnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAsumsi harga diambil tertinggi :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUrea =\u0026gt; 1100 kg x Rp. 5000 = Rp. 5,5 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETSP =\u0026gt; 500 kg x Rp. 2000 = Rp. 1jt\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETotal Biaya Pupuk = 6,5 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EBiaya Penyemprotan\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPenyemprotan disini adalah penyemprotan \nterhadap gulma, seperti alang-2 atau rumput-2 liar yang dikhawatirkan \nmenganggu pertumbuhan tanamawan sawit. Penyemprotan dengan menggunakan \nherbisida. Ada berbagai macam merek, dengan harga bervariasi. Yang \npernah saya tanyakan harganya 175 rb jadi masih dalam kisaran ratusan \nribu rupiah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAlat untuk menyemprot sekitar 150 rb rupiah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPenyemprotan 1 =\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya tenaga kerja = Rp. 60.000 per ha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EDosis per HA sekitar 1 lt ditambah campuran air sekitar 300-an liter.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESetelah penyemprotan pertama biasanya rumpur liar (gulma) akan \nmenjadi kering berikutnya sekitar 6 bulan kemudian kembali disemprot \nlagi untuk mematikan akar di gulma tersebut. 6 bulan kemudian untuk \nmemastikan seluruh akar mati kembali disemprot sekali lagi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPerkiraan saya 3x penyemprotan dengan \nkebutuhan 1 lt herbisida, biaya\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u0026nbsp;tenaga kerja dan investasi alat + \nkerugian umur alat penyemprot sekitar 1 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESetelah 3 x penyemprotan biasanya akar \nrumput sudah habis dan akar-2 juga sudah mati, gula akan tumbuh lagi \nsekitar 3 s\/d 4 th lagi. Saat itu akan dilakukan penyemprotan lagi jika \ngulma sudah mulai mengganas.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi biaya yang dibutuhkan sampai umur sekitar 4 th untuk penyemprotan sekitar 1jt-an.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EBiaya Pemangkasan Daun.\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EDimaksudkan supaya tanaman sawit bisa \ntumbuh secara efektif dilakukan pemangkasan daun. Di Sumatera perlakuan \nini disebut Muruning.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAda 3 jenis Pemangkasan yaitu :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPemangkasan Pasir\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMembuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16 – 20 bulan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"2\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPemangkasan Produksi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMemotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk, untuk persiapan panen dilakukan saat umur 20 – 28 bulan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"3\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPemangkasan Pemeliharaan\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMembuang daun-daun yang tumbuh saling \nmenumpuk secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sekitar\n 28 – 54 helai daun.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya yang dibutuhkan per hektar sekitar\n 80rb-an per Ha-nya (persisnya saya kurang jelas) karena ada beberapa \norang yang saya Tanya memberikan harga berbeda-beda. Untuk bagian \nPemangkasan Pemeliharaan dilakukan sekitar 1 th sekali.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJika dalam waktu 4 th kita lakukan 5 \nkali perlakuan pembersihan (pemangkasan daun) maka dibutuhkan biaya \nsekitar 400 rb diasumsikan 500 rb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi Total Biaya yang dibutuhkan sampai tanaman usia 4 th PER HA kurang lebih :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya pembelian lahan. = Rp. 5 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EHarga Bibit = 3,9 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya Pemupukan = 6,5 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya Penyemprotan terhadap Gulma = 1 jt.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya pemangkasan daun = 500 rb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETotal 16,9 jt =\u0026gt; 17 jt-an.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESetelah 4 th biasanya tanaman sawit sudah mulai bisa dipanen.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003EBIAYA SETELAH MASA TANAMAN BISA DI PANEN\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUmur 4 th (asumsi 0,5 ton\/HA per bulan)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya Panen :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya untuk ongkos tukang panen per janjang Rp. 600\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 jt umur 4 th sekitar 3-5 kg =\u0026gt; 150 janjang = 90.000rb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"2\" style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBiaya transportasi Rp. 100 rp per kg.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E500 kg x 100 = 50.000 rb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETotal Biaya Produksi panen sekitar Rp. 140.000\/HA per bulan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAsumsi Hasil Panen umur 4\u003Csup\u003E\u0026nbsp;\u003C\/sup\u003Eth (0,5 ton perbulan). Per kilo 1700 rp.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E0,5 ton (500 kg) x 1700 = 850 rb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EHasil akan naik seiring dengan umur tanaman :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPerkiraan sebagai berikut :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003ETahun ke 6 – 10 =\u0026gt; 1,2 ton – 1,5 ton per HA tiap bulan\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cstrong\u003ETahun ke 11 – 15 =\u0026gt; 1,6 ton – 2,5 ton per HA tiap bulan\u003C\/strong\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJadi pada tahun ke 4 bisa mendapatkan \nhasil panen per HA per bulan sekitar 700 rb per bulan. Jika dihitung \nsecara sederhana 700 rb x 36 bulan = 25 jt-an.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EModal yang dikeluarkan sekitar 17 jt per\n HA sampai umur 4 th. Ada selisih 8 jt-an yang bisa dipakai untuk ongkos\n produksi selama 3 th tersebut (dari umur 4 th – 7 th).\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJADI ESTIMASI saya pada umur 7 th atau \nsetelah sawit menghasilkan yaitu umur 4 th, dimana ini berarti ada masa 3\n tahun yang dibutuhkan supaya BEP setelah panen.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMasa BEP yang sebenarnya sendiri saat \numur 7 th. Setelah umur 7 tahun dimana hasil yang didapat untuk tiap HA \njuga naik sedang biaya produksi untuk pupuk, pemangkasan daun, \npenyemprotan relative sama dengan sebelum 4 th. Biaya yang naik adalah \nbiaya ongkos panen dan ongkos transportasi (biaya untuk mengangkut hasil\n panen) sampai pabrik.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7224833092881198078"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7224833092881198078"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/hitung-biaya-kebun-kelapa-sawit.html","title":"Hitung Biaya Kebun Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-p1QQQRYn6k0\/UTP8n7RClQI\/AAAAAAAAF98\/lpKmGnimtsk\/s72-c\/581843.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2147963543323809867"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:36:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:36:38.873+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Lahan Gambut Bukan untuk Kebun Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lDZqzOAK1y0\/UTP6mSJGLBI\/AAAAAAAAF90\/hAQdjdc7H_4\/s1600\/lahan+gambut.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"239\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lDZqzOAK1y0\/UTP6mSJGLBI\/AAAAAAAAF90\/hAQdjdc7H_4\/s320\/lahan+gambut.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nEkspansi perkebunan kelapa sawit di \nkawasan hutan yang tidak seharusnya dijadikan lahan perkebunan semakin \nsulit terbendung. Lahan gambut yang memiliki fungsi sangat penting untuk\n menjaga keseimbangan ekosistem, tak luput dari ulah tangan-tangan tak \nbertanggung jawab. Lebih dari 62.000 hektare lahan gambut tripa di \nKabupaten Nagan Raya, Aceh, sekitar 40.000 hektare kini berubah menjadi \nperkebunan kelapa sawit. Di tengah besarnya ancaman bencana, mata publik\n harus diperlihatkan kepada fakta bahwa bahaya kerusakan lahan gambut \nakan sangat merugikan karena itu, tidaklah tepat jika perkebunan kelapa \nsawit dibiarkan beroperasi di lahan gambut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHal tersebut dikemukakan oleh Adji Darsoyo, selaku Communication \n\u0026amp; Fundraising Coordinator PAN Eco – Yayasan Ekosistem Lestari kepada\n MedanBisnis. Menurutnya, saat ini terjadi ancaman yang sangat besar \nterhadap keberadaan lahan gambut khususnya yang berada di Kabupaten \nNagan Raya, Aceh. Dikatakannya, kerusakan hutan rawa tripa yang \nmerupakan lahan gambut sudah sangat parah. Dari total luasan lahan \ngambut yang mencapai lebih dari 62.000 hektare, tak kurang dari\u0026nbsp; 40.000 \nhektarenya sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit yang \nberoperasi sejak tahun 1990-an yang mana setiap perusahaan memiliki \nkonsesi puluhan ribu hektare.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Mengubah lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit akan sangat \nmengancam keseimbangan ekosistem. Akan sangat banyak kerugian yang harus\n ditanggung jika lahan gambut itu rusak,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa mengungkapkan, kerusakan lahan gambut tripa disebabkan oleh \nberoperasinya 5 perusahaan besar yang menyulapnya menjadi perkebunan \nkelapa sawit. Padahal, lahan gambut merupakan suatu kawasan yang \nberfungsi sebagai pelindung dari terjadinya bencana tsunami, habitat \nribuan satwa langka dan dilindungi, kawasan resapan air yang mengatur \nketersediaan sumber air sekitar.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi sisi lain, lahan gambut juga merupakan kawasan yang jika terbakar \nakan sangat sulit untuk dipadamkan. “Dampak dari keberadaan perkebunan \nkelapa sawit hingga sekarang sudah dirasakan oleh masyarakat, dengan \nterjadinya banjir yang sebelum adanya perkebunan tidak pernah terjadi,” \nungkapnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa mengungkapkan, hingga kini, tingkat deforestasi atau berkurangnya \nfungsi gambut di kawasan tersebut sudah mencapai 70%. Dengan demikian \nmenuntut tindakan yang cepat untuk menghentikan perusakan lahan gambut \nagar tidak berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Lahan gambut ini juga sebagai buffer atau pelindung dari masuknya \ngelombang tsunami ke darat, berdasarkan peta satelit, di salah satu \nkawasan yang sudah menjadi perkebunan kelapa sawit dan perusahaannya \nmembuat kanal ke laut, ternyata saat terjadi tsunami tahun 2004 lalu, \ngelombang tsunami sangat jauh masuk ke daratan, pintunya dari kanal yang\n dibuat oleh perusahaan tersebut,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSebenarnya, lanjut Adji, Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu \ndaerah yang ditetapkan oleh pemerintah terdahulu sebagai daerah \ntransmigrasi. Masyarakat transmigran menjadikan lahan gambut sebagai \ntempat untuk mencari penghidupan. Hasil hutan dan laut yang diperoleh \nsemisal rotan, ikan lokan (lele raksasa), madu hutan dan lainnya. Namun \nseiring beroperasinya perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, \nmenjadikan pendapatan masyarakat menurun karena tidak bisa memperoleh \nhasil dari hutan rawa gambut lagi. “Bahkan di saat hujan sebentar saja \nlangsung kebanjiran,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSebagian masyarakat yang melihat potensi perkebunan, kemudian \nterdorong untuk ikut bekerja di perkebunan kelapa sawit atau memulai \nmenanamnya di depan rumahnya. Menurutnya, jika hal tersebut dibiarkan \ntanpa adanya perhatian agar melindungi lahan gambut, maka dalam waktu \nyang tidak lama lahan gambut akan semakin habis. Dengan demikian harus \nmasyarakat harus ditunjukkan kepada fakta bahwa jika lahan gambut \ndirusak dan dialihkan fungsinya menjadi perkebunan kelapa sawit maka \nakan sangat banyak kerugian yang akan dialami oleh masyarakat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBegitu juga harus ditunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bisa akan\n jauh lebih baik jika ditanam di darat dan bukannya di lahan gambut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa menerangkan, untuk itu, pihaknya kemudian membuat proyek \npercontohan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang tidak menggunakan\n lahan gambut melainkan memanfaatkan lahan tidur dan memberdayakan \npetani. Maka kemudian dipilihlah lahan tidur yang\u0026nbsp; berdekatan di rawa \ntripa, tepatnya di Desa Lamie dan Dusun Gagak Kabupaten Nagan Raya \ndengan total areal mencapai 100 hektare. “Secara rincinya di Lamie \nseluas 67 hektare dan Dusun Gagak 23 hektare, lahan tersebut dibagi \ndalam 71 kavling yag dikelola oleh 60 petani, 48 orang petani di Lamie \ndan 12 orang di Gagak,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTujuan utama dari proyek percontohan perkebunan kelapa sawit \nberkelanjutan tersebut tidak lain adalah menunjukkan kepada publik bahwa\n tidak seharusnya kelapa sawit ditanam di lahan gambut. Selain itu bahwa\n lahan gambut akan sangat bermanfaat jika dibiarkan sesuai dengan \nfungsinya. Dengan demikian lahan gambut tripa bisa terbebas dari ancaman\n perkebunan kelapa sawit dan masyarakat bisa lebih memanfaatkan lahan \ntidur yang selama ini tidak dimanfaatkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurutnya, pihaknya menemukan bahwa di luar perusahaan yang mengubah\n lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit juga ada sekelompok \nmasyarakat yang ingin mengusahakan kelapa sawit. Namun dorongan tersebut\n utamanya disebabkan karena tidak bisa memanfaatkan lahan tidur yang \ndimilikinya sementara keinginan untuk meningkatkan pendapatan juga tidak\n mungkin dihindari. “Intinya adalah, jika memang menghendaki perkebunan \nkelapa sawit silakan tapi tidak di lahan gambut,” ungkapnya. \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2147963543323809867"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2147963543323809867"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/lahan-gambut-bukan-untuk-kebun-sawit.html","title":"Lahan Gambut Bukan untuk Kebun Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lDZqzOAK1y0\/UTP6mSJGLBI\/AAAAAAAAF90\/hAQdjdc7H_4\/s72-c\/lahan+gambut.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-787016224437004457"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:32:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:32:56.150+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Biodiesel Dari Minyak Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerikut ini adalah metode penelitian mengenai\u0026nbsp;Proses\u003Cstrong\u003E Pembuatan Biodiesel\u0026nbsp;\u003C\/strong\u003EDari\u0026nbsp;Minyak Sawit\u003Cstrong\u003E\u0026nbsp;\u003C\/strong\u003Eberdasarkan penelitian yang dilakukan Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBahan bakar diesel, selain berasal dari \npetrokimia juga dapat disintesis dari ester asam lemak yang berasal dari\n minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal \nsebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah \nterbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui. \nPada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan rantai \nkarbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis minyak \nnabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20, sehingga\n mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel.\u0026nbsp;\u003Cstrong\u003EPembuatan biodiesel\u003C\/strong\u003E\u0026nbsp;melalui\n proses transesterifikasi dua tahap, dilanjutkan dengan pencucian, \npengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi\u0026nbsp;jika bahan baku dari CPO maka \nsebelumnya perlu dilakukan esterifikasi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6Meo-ca1YaY\/UTP5spFhATI\/AAAAAAAAF9s\/PZ1cXOQZu3I\/s1600\/cpo.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"225\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6Meo-ca1YaY\/UTP5spFhATI\/AAAAAAAAF9s\/PZ1cXOQZu3I\/s400\/cpo.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003ETransesterifikasi\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProses transesterifikasi meliputi dua \ntahap. Transesterifikasi I yaitu pencampuran antara kalium hidroksida \n(KOH) dan metanol (CH30H) dengan minyak sawit. Reaksi transesterifikasi I\n berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-65°C. Bahan yang pertama kali \ndimasukkan ke dalam reaktor adalah asam lemak yang selanjutnya \ndipanaskan hingga suhu yang telah ditentukan. Reaktor transesterifikasi \ndilengkapi dengan pemanas dan pengaduk\u003Cem\u003E.\u0026nbsp;\u003C\/em\u003ESelama proses \npemanasan, pengaduk dijalankan. Tepat pada suhu reactor 63°C, campuran \nmetanol dan KOH dimasukkan ke dalam reactor dan waktu reaksi mulai \ndihitung pada saat itu. Pada akhir reaksi akan terbentuk metil ester \ndengan konversi sekitar 94%. Selanjutnya produk ini diendapkan selama \nwaktu tertentu untuk memisahkan gliserol dan metil ester. Gliserol yang \nterbentuk berada di lapisan bawah karena berat jenisnya lebih besar \ndaripada metil ester. Gliserol kemudian dikeluarkan dari reaktor agar \ntidak mengganggu proses transesterifikasi II. Selanjutnya dilakukan \ntransesterifikasi II pada metil ester. Setelah proses transesterifikasi \nII selesai, dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar gliserol \nterpisah dari metil ester. Pengendapan II memerlukan waktu lebih pendek \ndaripada pengendapan I karena gliserol yang terbentuk relatif sedikit \ndan akan larut melalui proses pencucian.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EPencucian\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPencucian hasil pengendapan pada \ntransesterifikasi II bertujuan untuk menghilangkan senyawa yang tidak \ndiperlukan seperti sisa gliserol dan metanol. Pencucian dilakukan pada \nsuhu sekitar 55°C. Pencucian dilakukan tiga kali sampai pH campuran \nmenjadi normal (pH 6,8-7,2).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EPengeringan\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengeringan bertujuan untuk \nmenghilangkan air yang tercampur dalam metil ester. Pengeringan \ndilakukan sekitar 10 menit pada suhu 130°C. Pengeringan dilakukan dengan\n cara memberikan panas pada produk dengan suhu sekitar 95°C secara \nsirkulasi. Ujung pipa sirkulasi ditempatkan di tengah permukaan cairan \npada alat pengering.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cstrong\u003EFiltrasi\u003C\/strong\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTahap akhir dari proses\u0026nbsp;\u003Cstrong\u003Epembuatan biodiesel\u003C\/strong\u003E\u0026nbsp;adalah\n filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk menghilangkan partikel-partikel \npengotor biodiesel yang terbentuk selama proses berlangsung, seperti \nkarat (kerak besi) yang berasal dari dinding reactor atau dinding pipa \natau kotoran dari bahan baku. Filter yang dianjurkan berukuran sama atau\n lebih kecil dari 10 mikron.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EReferensi : \u003C\/b\u003EWarta Penelitian dan Pengembangan \nPertanian. 2006.\u0026nbsp;Biodiesel Berbahan Baku Minyak Kelapa Sawit.\u0026nbsp;Badan \nPenelitian dan Pengembangan\u0026nbsp;Pertanian. Bogor. p 3.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/787016224437004457"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/787016224437004457"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/biodiesel-dari-minyak-sawit.html","title":"Biodiesel Dari Minyak Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6Meo-ca1YaY\/UTP5spFhATI\/AAAAAAAAF9s\/PZ1cXOQZu3I\/s72-c\/cpo.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4294909329830573436"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:29:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:29:12.094+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Produksi CPO Indonesia Terbesar di Dunia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-KOd04nkE0wg\/UTP40E1udoI\/AAAAAAAAF9k\/JLhssrNlS7E\/s1600\/cropped-dsc00322.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"207\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-KOd04nkE0wg\/UTP40E1udoI\/AAAAAAAAF9k\/JLhssrNlS7E\/s400\/cropped-dsc00322.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nJaringnews.com – Prospek industri \nagribisnis 2013 relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi pada 2012\n yang penuh drama, karena dampak kekeringan di negara-negara besar \nprodusen pangan, seperti Amerika Serikat, Rusia dan Australia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Misalnya, produksi Crude Palm Oil (CPO)\n di tahun 2012 sekitar 24 juta ton dan itu terbesar di dunia serta jauh \ndari Malaysia, sedangkan ekspor CPO telah mencapai 18 juta ton dan \nkonsumsi domestik sebanyak 6 juta ton,” kata Ekonom Senior INDEF \nBustanul Arifin di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (5\/12).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBustanul mengungkapkan, sayangnya persoalan di dalam negeri belum berubah. Peran Sawit rakyat terus menurun sampai 41%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Bustanul, rendahnya \nproduktivitas tanaman dengan skema Indonesia Sustainable Palm Oil \nOrganization (ISPO) sehingga persoalan struktural inti berseberangan \ndengan plasma yang mewarnai industri CPO.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Sedangkan kontroversi Bea Keluar (BK) \nakan mengurangi daya saing, struktur dan rantai nilai yang semakin tidak\n adil, mungkin sulit menjawab tantangan keberlanjutan yang \ndipersyaratkan oleh pasar global,” ujar Bustanul.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Bustanul, untuk itu kebijakan moratorium skema REDD jadi tantangan baru.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDia mencontohkan, di Brazil sebagai \nsalah satu produsen gula dan kedelai terbesar dunia sedang mengalami \nanomali cuaca yang relatif basah, sempat sempat membuat harga-harga \npangan dan pertanian dunia cukup liar.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\nNamun demikian, jelas Bustanul, beberapa sektor cukup prospektif dan beberapa lain harus berjuang dari bawah."},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4294909329830573436"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4294909329830573436"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/produksi-cpo-indonesia-terbesar-di-dunia.html","title":"Produksi CPO Indonesia Terbesar di Dunia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-KOd04nkE0wg\/UTP40E1udoI\/AAAAAAAAF9k\/JLhssrNlS7E\/s72-c\/cropped-dsc00322.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8975293205380215221"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:26:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:26:55.262+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Rencana Malaysia Revisi Pajak Ekspor CPO Ancam Daya Saing Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-RLVENKepoKI\/UTP4SmRXqhI\/AAAAAAAAF9c\/zj6tuWa-iCM\/s1600\/sawit8.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-RLVENKepoKI\/UTP4SmRXqhI\/AAAAAAAAF9c\/zj6tuWa-iCM\/s1600\/sawit8.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRevisi Pajak Ekspor (PE) Crude Palm Oil \n(CPO) yang diberlakukan Malaysia mulai 2013 dinilai potensial mengancam \ndaya saing minyak kelapa sawit mentah Indonesia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Terkait Malaysia yang merevisi PE CPO \nmulai Januari 2013, kalau Indonesia tidak melakukan sesuatu maka daya \nsaing kelapa sawit Indonesia terancam,” kata Ketua Umum Gabungan \nPengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joefly J. Bahroeny, di Nusa \nDua, Bali, Kamis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam acara \u003Cem\u003E8th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2013 Price Outlook\u003C\/em\u003E,\n Joefly mengatakan, kebijakan yang diterapkan pemerintah Malaysia itu \npotensial menggerus pasar CPO Indonesia yang sensitif terhadap perubahan\n harga terutama pasar India. Pihaknya sekaligus mengimbau agar \npemerintah Indonesia merespon hal itu dan merevisi PE CPO di tanah air. \n“Kami imbau pemerintah untuk bisa merevisi PE CPO ini,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMalaysia merevisi PE CPO salah satunya \nkarena industri hilir sawit di dalam negerinya sedang berkembang pesat. \nDengan perkembangan industri domestik itu, maka Malaysia dinilai tidak \nbisa lagi memanfaatkan nilai tambahnya untuk keperluan mereka.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMalaysia akan menerapkan PE progresif \nsebesar 4,5 persen saat harga CPO mencapai MYR2.250 hingga MYR2.400 \npermetrik ton (MT), sampai maksimal 8,8 persen untuk harga CPO di \nkisaran MYR3.450 sampai MYR3.600 per-MT. Per-September 2012, ekspor CPO \nMalaysia mencapai 1,5 juta MT naik 4,9 persen dari Agustus 2012 sebanyak\n 1,43 juta ton. Selama ini Malaysia memberlakukan Bea Keluar (BK) dan \npajak pengiriman ekspor sebesar 23 persen flat alias tetap untuk harga \nberapapun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenteri Pertanian, Suswono, menanggapi \nhal itu dan menyatakan akan membicarakan persoalan pajak ekspor CPO \ndalam rapat interdep di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. \n“Kami akan bicarakan hal itu, karena ini lintas sektoral. Saya menyadari\n ini harus diperhatikan agar persoalan perkebunan ini tidak menghambat \nindustri CPO kita,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIa juga berharap pelaku usaha kelapa \nsawit di Indonesia melakukan ekspansi untuk merespon jatuhnya harga \npasaran CPO sekaligus masalah pangan yang menjadi masalah pokok dunia. \n“Sejahterakan masyarakat di sekitar perkebunan paling tidak dengan \nmenyediakan areal untuk menanam padi bagi masyarakat,” katanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSumber : Solopos\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8975293205380215221"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8975293205380215221"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/rencana-malaysia-revisi-pajak-ekspor.html","title":"Rencana Malaysia Revisi Pajak Ekspor CPO Ancam Daya Saing Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-RLVENKepoKI\/UTP4SmRXqhI\/AAAAAAAAF9c\/zj6tuWa-iCM\/s72-c\/sawit8.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1968296861940339845"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:22:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:24:49.444+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Permasalahan industri kelapa sawit di tahun 2012"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-G5MVL3nJPrY\/UTP3MR-Gb-I\/AAAAAAAAF9U\/NH25QsUehnQ\/s1600\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"236\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-G5MVL3nJPrY\/UTP3MR-Gb-I\/AAAAAAAAF9U\/NH25QsUehnQ\/s320\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai, tahun 2012\n menjadi tahun yang suram bagi industri kelapa sawit Indonesia. Kondisi \nitu dinilai terjadi karena faktor eksternal, yakni perekonomian global \nyang terpuruk.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelain faktor eksternal, ada beberapa faktor internal yang \nmempengaruhi kinerja bisnis kelapa sawit di 2012. Faktor internal itu \ndinilai ikut memperburuk kinerja bisnis industri kelapa sawit di tahun \n2012.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Ada beberapa hal yang perlu di garisbawahi dan menjadi masalah \nindustri sawit nasional di tahun 2012.” ujar Joko Supriyono, Sekretaris \nJenderal GAPKI saat jumpa pers awal tahun di kantornya, Jakarta, Selasa \n(8\/1).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerikut tiga masalah yang dihadapi industri kelapa sawit tahun 2012 yang dikeluhkan Gapki tersebut:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003ESoal kepastian hukum\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJoko mengatakan, lahan kelapa sawit di sepanjang tahun 2012 hanya \nbertambah seluas 200.000 hektare (ha). “Ini kecil karena biasanya \ntambahan lahan mencapai 600.000 ha per tahun,” ujarnya. Menurut Joko \nsoal lahan kelapa sawit erat kaitannya dengan kepastian hukum dan tata \nruang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Soal kepastian hukum ini masalah dari tahun ke tahun. Tidak ada \nperubahan yang signifikan,” kata Joko. Joko juga bercerita, masalah \nlainnya yang terkait lahan adalah, adanya kebun sawit yang sudah \nproduksi puluhan tahun, tetapi kini dianggap berdiri di lahan kawasan \nhutan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003ESoal moratorium izin baru hutan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMasalah kedua yang dihadapi pebisnis kelapa sawit adalah, ditetapkan \nkebijakan moratorium izin baru pada hutan alam primer dan lahan gambut. \nKebijakan ini, membuat ekspansi perkebunan kelapa sawit Indonesia \nmelambat hingga 50%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJoko menilai, moratorium hutan melahirkan potential loss (potensi \nyang hilang) yang seharusnya dapat digarap menjadi lahan kelapa sawit. \n“Terhambat ekspansi sawit ini juga menghambat pembangunan kebun plasma. \nDimana ada 30.000 petani yang terkait kebun plasma,” jelas Joko.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EInfrastruktur yang minim\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJoko menyebutkan, dirinya merasakan kemajuan infrastruktur di \nIndonesia meski pemerintah sudah menetapkan proyek MP3EI (Masterplan \nPercepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Joko, kondisi infrastruktur seperti pelabuhan saat ini masih \njauh dari harapan mereka. Minimnya infrastruktur itu mempengaruhi pada \nbiaya produksi yang semakin mahal. Pelabuhan yang menjadi kritikan \npengusaha kelapa sawit itu adalah, pelabuhan yang berada di Sumatera dan\n Kalimantan. “Pelabuhan itu yang menyebabkan tingginya biaya \ntransportasi untuk angkut CPO,” ujar Joko. (kontan.co.id)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPemerintah berjanji akan membahas enam poin masalah yang \nberkaitan dengan industri sawit nasional berdasarkan masukan dari \npengusaha.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenteri Pertanian Suswono mengatakan, masukan tersebut akan \nditindaklanjuti pemerintah bersama lintas instansi kementerian.”Karena \nkewenangan kami juga terbatas, paling tidak masalah ini akan kami \nrapatkan bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa,” kata Suswono saat \nmenghadiri acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2013 Price \nOutlook yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit \nIndonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali,kemarin.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nSedikitnya ada enam masalah utama dalam industri sawit dalam negeri \nyakni terkait kepastian hukum, tata ruang,tumpang tindih regulasi lahan,\n bea keluar sawit yang tinggi, dan pembatasan kepemilikan hutan. Masalah\n lain adalah perlunya perhatian terutama kampanye positif terhadap \nkelapa sawit dalam menjaga keberlangsungan industri ini di dalam negeri.\n Suswono juga berharap pengusaha sawit memperhatikan kebutuhan pangan \ndengan menyisihkan sebagian lahan untuk ditanami tanaman pokok.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nDia beralasan kebutuhan pangan pokok akan terus meningkat dari tahun \nke tahun.” Prediksi kita,20 tahun ke depan harga pangan akan terus \nmeningkat karena keterbatasan lahan. Saya berharap, dengan kepemilikan \nlahan sawit yang luas,pengusaha juga bisa memberikan andil mau \nmenyediakan lahan untuk digarap masyarakat kecil,” harapnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nSaat ini ketersediaan lahan pelaku usaha sawit mencapai 8,9 juta \nhektare dengan kemampuan produksi tahun lalu sebesar 22,5 juta ton. \nKetua Umum Gapki Joefly J Bahroeny mengungkapkan, perhatian pemerintah \ndiperlukan karena kondisi sawit dalam negeri semakin merosot bahkan \nkalah dibandingkan Malaysia. ”Momen ini sangat penting untuk mencari \njalan keluar bagi industri sawit nasional.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nKita berharap, ada kebijakan yang berpihak kepada dunia sawit karena \nsumbangsihnya cukup luar biasa memajukan perekonomian,” kata dia saat \nmemberikan sambutan di depan peserta IPOC. Terkait moratorium pembatasan\n lahan perkebunan, Gapki menginginkan kebijakan tersebut dicabut karena \nakan menghambat ekspansi kelapa sawit di tengah meningkatnya permintaan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nMasalah infrastruktur juga perlu menjadi perhatian karena selama ini \n60% CPO (crude palm oil) untuk tujuan ekspor hanya melalui empat \npelabuhan lama. Sedangkan mengenai bea keluar, pemerintah akan \nmenyiapkan kebijakan khusus sebagai antisipasi pemangkasan pajak ekspor \nCPO yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia. Suswono menegaskan, \nkebijakan itu secepat mungkin akan diumumkan demi merespons penerapan \npemangkasan pajak ekspor CPO Malaysia yang berlaku mulai Januari 2013 \nsekaligus mengimbangi harga CPO yang turun.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nRevisi pajak ekspor CPO yang diberlakukan Malaysia mulai 2013 \ntersebut berpotensi mengancam daya saing produk Indonesia.Kebijakan itu \njuga dikhawatirkan menggerus salah satu pasar konsumen utama CPO \nIndonesia yakni India. Malaysia akan menerapkan pajak ekspor progresif \nsebesar 4,5%.Selama ini Malaysia memberlakukan bea keluar dan pajak \nekspor sebesar 23% flat.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\u003Cb\u003ESoroti Dua Hal\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nIPOC and 2013 Price Outlook merupakan ajang bagi para pelaku bisnis \ndan pemangku kepentingan (stakeholders), pemilik, CEO dan eksekutif, \nserta para pengambil kebijakan baik di tingkat nasional maupun \ninternasional. Tujuan kegiatan ini adalah sebagai forum untuk \nbersama-sama membahas isuisu strategis di seputar industri kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\nIPOC ke-8 ini mengambil tema Palm Oil: Sustaining Growth, Expanding \nTrade. Konferensi ini akan menyoroti dua hal penting, yakni soal \npertumbuhan populasi dan permintaan energi pada 2025 serta pertumbuhan \nyang berkelanjutan produksi minyak kelapa sawit. Ekonom agrobisnis dari \nAmerika Serikat, Donald J Mitchell,memperkirakan permintaan terhadap \nminyak sawit industri akan meningkat.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n“Ini disebabkan akan banyak kota kecil yang tumbuh menjadi besar, di \nmana masyarakatnya tentu membutuhkan konsumsi,”kata dia. \nMenurutnya,untuk kasus di Indonesia, terdapat dua hal yang harus \ndicermati yakni minyak sawit masih akan meningkat berdasarkan tingkat \nkonsumsi seiring bertambahnya jumlah populasi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1968296861940339845"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1968296861940339845"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/permasalahan-industri-kelapa-sawit-di.html","title":"Permasalahan industri kelapa sawit di tahun 2012"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-G5MVL3nJPrY\/UTP3MR-Gb-I\/AAAAAAAAF9U\/NH25QsUehnQ\/s72-c\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-735319828478725364"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:17:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:17:53.349+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ekonomi Industri Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-o-JcBgiStno\/UTP1STK5N4I\/AAAAAAAAF9E\/HDt-D5hKY1s\/s1600\/crudePalmOilMillingProcessing.gif\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-o-JcBgiStno\/UTP1STK5N4I\/AAAAAAAAF9E\/HDt-D5hKY1s\/s400\/crudePalmOilMillingProcessing.gif\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTanpa melebih-lebihkan, periode waktu \nsejak pergantian milenium layak disebutkan sebagai dasawarsa minyak \nsawit. Antara tahun 2000 dan 2010, produksinya naik menjadi dua kali \nlipat, sementara lahan yang ditanami sawit naik 7 kali lipat dari 1.1 \njuta ha menjadi 7.8 juta ha (Data Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011).\n Kebun sawit pertama kali ditanam pada 1960an di Indonesia. Pada 1980 \nproduksi CPO menjadi 0.72 juta ton dan produksinya naik menjadi 2.41 \njuta ton pada tahun 1990 atau naik drastis sampai 7.0 juta ton pada \n2000. Pada akhir 2011, produksi CPO di Indonesia sudah mencapai 23.6 \njuta ton. Ini berarti sudah sekitar 45 persen dari produksi global, \ndemikian hasil penelitian Slette dan Wiyono. Sekarang, 4.5 juta orang \nbekerja dalam produksi minyak sawit di Indonesia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMayoritas produksi minyak sawit \ndigunakan oleh industri pangan. Minyak sawit secara global menjadi \nminyak yang terpenting. Hasil produksi minyak per hektar rata-rata \nmenjadi lima kali lipat dibandingkan dengan hasil produksi tanaman \nminyak yang lain. Dari produksi global yang mencapai 50 juta ton, 85 \npersen berasal dari Malaysia dan Indonesia. Indonesia kebanyakan \nmengekspor crude palm oil (CPO), sementara mayoritas ekspor dari \nMalaysia adalah produk minyak sawit yang sudah diolah. Produk-produk \npangan yang mengandung minyak sawit adalah peanut butter, lapisan kue \n(frosting\/coating) dan kue. Minyak sawit juga digunakan pada produksi \nkosmetik dan bahan bakar nabati (biofuel).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKarena konsumsi pangan naik terus, \nkhususnya di China dan India, penjualan minyak sawit tetap akan laris \nmanis dalam dasawarsa yang akan datang. Sampai 2020, Indonesia \nmerencanakan untuk menaikkan produksinya dua kali lipat. Ada juga \ninsentif moneter, agar lebih banyak CPO diolah menjadi minyak sawit \nhalus. Sampai sekarang, sekitar separuh dari produksi CPO di Indonesia \ndiekspor tanpa diolah terlenih dahulu. Sisanya kebanyakan diolah menjadi\n minyak goreng. Menurut Studi Boucher, sekitar separuh dari itu \ndiekspor, sementara yang lainnya dikonsumsi dalam negeri.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUntuk mencapai tujuan produksi itu, \nlahan yang ditanami sawit akan diperluas dari 7.9 juta ha (2010) menjadi\n 20 juta ha (2020). Akibatnya, tekanan kepada kawasan hutan akan naik. \nUntuk mencegah konversi hutan lindung menjadi kebun sawit, pada 2011 \nlalu pemerintah mengeluarkan moratorium dengan masa berlaku dua tahun, \nagar tidak diberikan izin untuk konversi hutan yang layak dilindungi. \nMenurut para LSM, moratorium tidak akan banyak berpengaruh karena tiga \nperempat dari luas lahan yang dilindungi oleh moratorium tersebut sudah \ndilindungi oleh peraturan-peraturan yang lain. Belum diketahui juga, \napakah moratorium tersebut akan diperpanjang setelah 2013.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPenghasilan moneter dari ekspor CPO dan \nderivatnya per tahun mencapai lebih dari US$ 12 miliar. Karena sudah \nlama membudidayakan sawit, Indonesia memiliki banyak pengalaman mengenai\n untung-ruginya model-model bisnis yang berbeda menyangkut pembagian \nhasil dan akibatnya pada penggunaan lahan. Akan tetapi, rencana \nperluasan lahan sawit di Indonesia juga menimbulkan kekhawatiran \nmengenai akibat sosial, ekonomi dan ekologi yang tidak diinginkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBeberapa tahun yang lalu, sektor sawit \ndiharapkan akan memenuhi kebutuhan energi Indonesia lewat produksi bahan\n bakar nabati dari CPO. Tetapi harapan itu menjadi percuma. Menurut \nSlette dan Wiyono, sektor bahan bakar nabati berkembang lamban, seperti \ndiindikasikan oleh angka pertumbuhan yang rendah antara 2006 dan 2011. \nSementara sektornya mulai berkembang, tetap saja hanya sekitar lima \npersen dari produksi CPO dipakai untuk bahan bakar nabati. Jumlah bahan \nbakar nabati yang diproduksi tumbuh dari 24 juta liter pada 2006 menjadi\n sekitar 650 juta liter pada 2011.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSebagian dari bahan bakar nabati yang \ndiekspor jumlahnya cenderung naik. Tetapi, pemakaian kapasitas kilang \nminyak hanya 17 persen pada 2011. Maka, ekspansi sektor bahan bakar \nnabati tidak akan membayakan produksi pangan yang berbasis CPO di masa \nmendatang (Pacheco, 2012). Paling sedikit, untuk Eropa, bahan bakar \nnabati dari CPO tidak memiliki prospek. Mulai 2018, hanya bahan bakar \nnabati yang menghemat lebih dari 60 persen emisi gas rumah kaca \ndiizinkan di Eropa. Menurut data Prof. Alois Heißenhuber dari \nUniversitas Munich, bahan bakar nabati dari CPO menghemat 56 persen dan \nnilai itu juga hanya dapat dicapai kalau gas metan dari proses \npembakaran diikatkan. Bahan bakar nabati yang melebihi 60 persen \npenghematan emisi gas rumah kaca dapat diproses dari tanaman berikut \nini: etanol dari batang terigu atau dari tebu serta kayu HTI yang \ndiproses.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSering kali, masyarakat lokal tidak \nmenolak pengembangan kebun sawit, tetapi menuntut pembagian hasil yang \nadil dan ingin mempertahankan haknya atas lahan yang biasanya diakui \nkepemilikannya dalam hukum adat setempat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHAMBURG, Jaringnews.com – Pada \npertengahan dekade 1990an, banyak lahan belukar dan hutan karet di \ndataran rendah pulau Sumatera mulai dikonversikan menjadi perkebunan \nsawit. Perkebunan yang mengikutsertakan petani setempat, yaitu pola PIR,\n dikembankan atas inisiatif pemerintah dan menyertakan bantuan Bank \nDunia. Pada pola tersebut, lahan sawit untuk masyarakat setempat \ndipersiapkan oleh pengembang swasta. Setelah tiga atau empat tahun, \npengelolaan dilimpahkan kepada para petani yang mulai mengelola kebunnya\n di bawah supervisi pengembang. Perusahaan tersebut membeli \ntandan-tandan buah sawit matang dari para petani.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSistem PIR untuk pertama kalinya \ndikembangkan di Malaysia pada 1970an dan mulai dikembangkan di Indonesia\n dalam program transmigrasi. PIR pertama kali diterapkan untuk tanaman \nkaret yang diikuti tanaman sawit pada 1980an. Sistem itu dikembangkan \nlagi menjadi “Koperasi Kredit Primer untuk Anggota” (KKPA), dimana para \ntransmigran berhak menerima kredit bank yang disubsidi. Struktur KKPA \nmirip dengan struktur pola PIR yang mencakup kemitraan antara perusahaan\n dan para petani.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBiasanya, pola KKPA memakai kontrak yang\n ditandatangani perusahaan, petani yang bergabung dalam koperasi serta \nbank-bank dalam pengawasan pemerintah. Para petani menyerahkan lahannya \nke perusahaan yang menanam, mengelola dan memanen hasil tanamannya. \nKemudian, pola PIR juga dipakai di daerah non-transmigran, yaitu \npenduduk asli. Di daerah perladangan dengan daerah belukar dan hutan \nkaret seperti di Kalimantan Barat dan Jambi, mulai dikembangkan PIR \nsekitar 1990an. Biasanya, penduduk sudah pernah mengetahui pola PIR dari\n desa-desa trans di sekitarnya. Secara teoretis, perkebunan sawit juga \nmembuka lapangan kerja untuk petani yang tidak memiliki lahan sawit \nsendiri. Menurut hasil studi Barber, petani cenderung lebih suka mencari\n pekerjaan lain karena gaji di kebun sawit terlalu rendah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMasing-masing keluarga dari desa \nmasyarakat penduduk asli yang akan diikutsertakan dalam pola PIR \ndituntut untuk memberikan tujuh hektar lahan belukar atau hutan karet \nsebagai kontribusinya. Untuk tujuan itu, para kepala desa didatangi oleh\n pejabat Dinas Perkebunan yang menuntut agar lahan tidur dari desanya \ndiserahkan kepada pengembang perkebunan. Sebagai gantinya, setiap \nkeluarga menerima dua hektar lahan milik yang ditanami sawit. Uang \nkredit yang dibutuhkan untuk biaya persiapan lahan, bibit, pupuk dan \npestisida dipotong dari hasil panennya nanti. Pemerintah daerah ikut \ndalam proses sebagai fasilitator antara para pihak terkait dan sebagai \ninstansi yang mengeluarkan sertifikat tanah. Bank pun menahan sertifikat\n lahan sampai hutang para petani dilunasi. Menurut peneliti Laurène \nFeintrenie dari Center for International Forest Research (CIFOR) Bogor, \nsemua layanan tersebut terkena biaya yang ditambahkan pada hutang \npetani.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada 1990an, hutang petani untuk dua \nhektar lahan sawit yang harus dikembalikan kepada perusahaan sawit \nmenjadi 9.4 juta rupiah ditambah dengan bunga sebanyak 11 persen per \ntahun sebelum pohon sawit mulai membawa hasil serta 14 persen bunga \nsetelah mulai panen. Selama 10 tahun, petani akan dipotong 30 persen \ndari hasilnya untuk layanan kredit, serta 20 persen untuk ongkos \nreplanting. Setelah kreditnya lunas, ongkos untuk layanan replanting \ntetap dikenakan kepada petani. Kalau semua berjalan seperti diinginkan, \nkemungkinan besar para petani akan bertambah makmur dengan kepemilikan \nlahan sawit. Tetapi, pengembalian hutang dari pola PIR butuh waktu yang \ncukup lama dan hal itu menjadi beban berat bagi petani. Menurut \nGreenpeace Indonesia, hal itu dicerminkan secara tragis waktu harga CPO \ndi pasar internasional turun drastis pada 2008. Berita media massa \nbanyak diwarnai oleh petani sawit yang bunuh diri karena utang yang \nsemakin melilit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSayangnya, petani dalam posisi \ntawar-menawar yang lemah karena kekurangan informasi. Hal itu cenderung \ndisalahgunakan oleh pengembang. Menurut kakulasi ekonomis oleh Kepala \nResearch Domain on Globalised Trade and Investment di CIFOR, Pablo \nPacheco, perusahaan sawit meminta biaya yang terlalu tinggi dari para \npetani dibandingkan dengan layanan yang diberikan kepad mereka. KUD juga\n tidak mampu membantu para petani. Masalahnya,\u0026nbsp; informasi yang mereka \nmiliki sama persis dengan apa yang diketahui petani. Karena pengembang \nperkebunan memiliki dukungan politis yang kuat, usaha-usaha KUD untuk \nmemperbaiki posisi tawar-menawar petani atau untuk menerima informasi \nlebih jelas mengenai hak dan tanggung-jawab kedua belah pihak \ndiberhentikan di tingkat administrasi yang lebih tinggi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EImplikasi Sosio-ekonomis dan Ekologis\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProspek bahan bakar nabati dan rencana \nperluasan kebun sawit diperdebat secara kontroversial di Indonesia. Satu\n pihak menilai minyak sawit dipandang sebagai barang dagangan yang \nmemiliki peranan penting untuk menahan perubahan iklim, menyediakan \nsumber energi aternatif dan memberikan kontribusi kepada perkembangan \nekonomis serta mata penceharian di pedesaan. Di pihak lain, muncul \nkekhawatiran tentang pengaruh sosial, ekonomis dan ekologis yang tidak \ndiinginkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Pablo Pacheco, pelaksanaan dalam\n pengembangan kebun sawit kebanyakan tergantung dari kebijakan \nperusahaan, pemerintah daerah dan kapasitas sosial dari kelompok petani \nserta masyarakat yang terlibat dalam produksi. Sering kali, masyarakat \nlokal tidak menolak pengembangan kebun sawit, tetapi menuntut pembagian \nhasil yang adil dan ingin mempertahankan haknya atas lahan yang biasanya\n diakui kepemilikannya dalam hukum adat setempat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut penelitian Prof Dr. Daniel \nMudiyarso dari CIFOR, akibat ekologis dari perluasan kebun sawit adalah \ndeforestasi yang luas, khususnya di daerah rawa dan emisi karbon yang \ntinggi. Kekhwatiran sekarang adalah bahwa lahan belukar tua yang juga \nmemiliki keanekaragaman hayati tinggi akan digunakan untuk perluasan \nkebun sawit. Soalnya, kawasan hutan sekunder itu tidak dilindungi oleh \nMoratorium Konversi Hutan dan kategori-kategori lahan lain sudah mulai \nmenjadi jarang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EMekanisme Ramah Lingkungan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada 2004 lalu World Wildlife Fund \nbersama dengan utusan-utusan industri, menginisialisasikan Roundtable on\n Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai reaksi pada tekanan para pembeli \ndari negara industri. RSPO yang dipimpin oleh produsen minyak sawit \nberkomitmen pada pola produksi yang lestari. Anggota RSPO dan peserta \nlainnya memiliki latar belakang yang berbeda, termasuk perusahaan kebun \nsawit, pengelola dan pedagang produk minyak sawit, LSM lingkungan dan \nsosial. Semua berasal dari negara yang memproduksi dan memakai minyak \nsawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRSPO menciptakan pola sertifikasi untuk \nproduksi minyak sawit yang ramah lingkungan. Organisasi yang berbasis di\n Swiss itu mendefinisikan kriteria mulai dari metode kultivasi pohon \nsawit hingga ke isu hak buruh. Sampai sekarang, hanya sekitar 10 persen \ndari produksi global sesuai dengan standard RSPO. Menurut data RSPO, \npada bulan februari 2012, lebih dari 1,336,910 hektar kebun sawit sudah \ntersertifikasi. 5,704,342 juta ton CPO dan 1,324,981 juta ton CSPK \n(Certified Sustainable Palm Kernel Oil) diterima untuk sertifikasi. \nIndonesia, mengembangkan sistem sertifikasi sendiri yang bernama \nIndonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBeberapa analis mempertanyakan sejauh \nmana produksi RSPO akan diperluas. Masalahnya, di negara konsumen \nterpenting, seperti China dan India, kelestarian kurang dianggap \nkrusial, demikian hasil studi oleh Rabobank. Tetapi sebagian dari \nindustri memiliki tujuan yang ambisius: Cargill Tropical Palm Holdings \ndi Singapura ingin agar disertifikasikan semua produknya\u0026nbsp; sampai 2020 \ndengan label RSPO. Dr. Silvia Werner\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/735319828478725364"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/735319828478725364"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/ekonomi-industri-kelapa-sawit.html","title":"Ekonomi Industri Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-o-JcBgiStno\/UTP1STK5N4I\/AAAAAAAAF9E\/HDt-D5hKY1s\/s72-c\/crudePalmOilMillingProcessing.gif","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4015709532794018008"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:17:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:17:42.534+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Produksi Minyak Kelapa Sawit Indonesia "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-lifvmj9KvVI\/UTP2KyUW4rI\/AAAAAAAAF9M\/i37pHt3QW2Y\/s1600\/img21042009221771.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"212\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-lifvmj9KvVI\/UTP2KyUW4rI\/AAAAAAAAF9M\/i37pHt3QW2Y\/s320\/img21042009221771.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi komoditas kelapa sawit \nIndonesia yang merupakan bahan mentah minyak goreng (crude palm oil\/CPO)\n rata-rata mencapai 23,5 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 16,5 juta \nton diekspor ke sejumlah negara di dunia, terutama AS dan Eropa.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Menteri Koordinator Perekonomian\n Hatta Rajasa, jika memperhatikan kapasitas produksi nasional tersebut, \nseharusnya industri-industri kelapa sawit mampu memenuhi kebutuhan dalam\n negeri, apalagi pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional terus\n meningkat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Memang, ekspor kelapa sawit mencapai \n16,5 juta ton per tahun. Artinya, melebihi konsumsi dalam negeri. \nSebaiknya, produksi kelapa sawit itu juga memperhatikan kebutuhan \nindustri pengolahan domestik, yang kecenderungannya terus tumbuh,” kata \nHatta Rajasa pada Musyawarah Nasional Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit \nIndonesia (Gapki) VIII di Hotel Trans Luxury, Jalan Gatot Subroto, \nBandung, Kamis (12\/4\/2012).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi tempat yang sama, Menteri Kehutanan, \nZulkifli Hasan, mengatakan sawit merupakan salah satu komoditas unggulan\n negara karena jadi salah satu penyumbang devisa terbesar nonmigas.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKarena itu, pemerintah terus mendorong \npertumbuhan industri sawit nasional. Dalam hal kelapa sawit, kata \nZulkifli, Indonesia memiliki pesaing kuat yaitu Malaysia. Meski secara \nvolume masih unggul, ujar Zulkifli, dalam produktivitas Indonesia kalah \noleh Malaysia. “Saat ini, luas lahan di Indonesia sekitar 7,9 juta \nhektare. Lahan seluas itu menghasilkan CPO 23,5 juta ton per tahun. \nMalaysia yang luas lahannya 4 juta hektare mampu memproduksi CPO 18,5 \njuta ton per tahun,” ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMelihat kondisi itu, kata Zulkifli, \nperlu upaya meningkatkan produktivitas dengan penggunaan bibit \nberkualitas tinggi yang ditopang sistem pemeliharaan dan pemupukan \nterpadu, serta perlu adanya akses menuju pabrik pengolahan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nZulkifli berharap tahun 2020 Indonesia \nmampu memproduksi 40 juta ton CPO per tahun. apabila penggunaan bibit \nberkualitas tinggi ditopang sistem pemeliharaan dan pemupukan terpadu.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGuna merealisasikan target itu, pada \nRencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) 2011-2030, pemerintah telah \nmengalokasikan kawasan hutan yang pemanfaatannya bagi sektor perkebunan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Saat ini, luas Hutan Produksi Konversi (HPK) sekitar 17,94 hektare. \nSekitar 4,06\u0026nbsp; juta hektare di antaranya, dialokasikan pemerintah dalam \nRKTN 2011-2030 tentang kawasan hutan yang pemanfaatannya bagi sektor \nnon-kehutanan, seperti perkebunan,” ujarnya. Sumber : Tribunnews\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4015709532794018008"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4015709532794018008"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/produksi-minyak-kelapa-sawit-indonesia.html","title":"Produksi Minyak Kelapa Sawit Indonesia "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-lifvmj9KvVI\/UTP2KyUW4rI\/AAAAAAAAF9M\/i37pHt3QW2Y\/s72-c\/img21042009221771.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3768266877665763391"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:06:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:07:41.969+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"undang2"}],"title":{"type":"text","$t":"Keputusan Menteri Kehutanan \u0026 Perkebunan Nomor P. 31\/MenhutII\/2009"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\nPERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA\u003Cbr \/\u003E\nNOMOR : P.22\/Menhut-II\/2009\u003Cbr \/\u003E\nTENTANG\u003Cbr \/\u003E\nPERUBAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P. 31\/MenhutII\/2005 TENTANG PELEPASAN KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA\u003Cbr \/\u003E\nPENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA PERKEBUNAN\u003Cbr \/\u003E\nDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA\u003Cbr \/\u003E\nMENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Ci\u003EMenimbang : \u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\na. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri \nKehutanan Nomor P.\u0026nbsp;31\/Menhut-II\/2005 telah ditetapkan ketentuan tentang \npelepasan\u0026nbsp;kawasan hutan dalam rangka pengembangan usaha \nbudidaya\u0026nbsp;perkebunan;\u003Cbr \/\u003E\nb. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor \nP.\u0026nbsp;26\/Permentan\/OT.140\/2\/2007 telah ditetapkan ketentuan \npedoman\u0026nbsp;perizinan usaha perkebunan, yang antara lain mengatur \nbahwa\u0026nbsp;batas paling luas areal perkebunan untuk 1 (satu) \nperusahaan\u0026nbsp;perkebunan untuk komuditas antara lain kelapa sawit \nadalah\u0026nbsp;100.000 (seratus ribu) hektar dan untuk tebu 150.000 (seratus \nlima\u0026nbsp;puluh ribu) hektar;\u003Cbr \/\u003E\nc. bahwa dengan adanya perkembangan usaha di bidang \nperkebunan,\u0026nbsp;ketentuan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. \n31\/MenhutII\/2005 sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu \ndisesuaikan\u0026nbsp;lagi;\u003Cbr \/\u003E\nd. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada\u0026nbsp;huruf c, \nmaka perlu menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan\u0026nbsp;tentang Perubahan \nPeraturan Menteri Kehutanan Nomor P.\u0026nbsp;31\/Menhut-II\/2005 tentang Pelepasan\n Kawasan Hutan Dalam\u0026nbsp;Rangka Pengembangan Usaha Budidaya Perkebunan;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMengingat :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 \ntentang Konservasi Sumber\u0026nbsp;Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran \nNegara Republik\u0026nbsp;Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran \nNegara\u0026nbsp;Republik Indonesia Nomor 3419);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 \ntentang Pengelolaan\u0026nbsp;Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia\n Tahun\u0026nbsp;1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia\u0026nbsp;Nomor \n3699);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 \ntentang Kehutanan\u0026nbsp;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor \n167,\u0026nbsp;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor \n3888),\u0026nbsp;sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19\u0026nbsp;Tahun 2004\n tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti\u0026nbsp;Undang-Undang Nomor 1 \nTahun 2004 tentang Perubahan atas\u0026nbsp;Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 \ntentang Kehutanan menjadi\u0026nbsp;Undang-Undang (Lembaran Negara Republik \nIndonesia Tahun 2004\u003Cbr \/\u003E\nNomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor\u0026nbsp;4412);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 \ntentang Pemerintahan\u0026nbsp;Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun \n2008 Nomor\u0026nbsp;125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor\u0026nbsp;4437),\n yang telah diubah beberapa kali, terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 \nTahun 2008 (Lembaran Negara Republik\u0026nbsp;Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, \nTambahan Lembaran Negara\u0026nbsp;Republik Indonesia Nomor 4844);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 \ntentang Penataan Ruang\u0026nbsp;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 \nNomor 68,\u0026nbsp;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n6. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun \n2004 tentang Perencanaan\u0026nbsp;Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia \nTahun 2004\u0026nbsp;Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia\u0026nbsp;Nomor \n4452);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n7. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun \n2004 tentang Perlindungan\u0026nbsp;Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia \nTahun 2004 Nomor\u0026nbsp;147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia \nNomor\u0026nbsp;4453);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n8. Peraturan Pemerintan Nomor 6 Tahun \n2007 tentang Tata Hutan\u0026nbsp;dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta \nPemanfaatan\u0026nbsp;Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 \nNomor\u0026nbsp;22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696), \n\u0026nbsp;sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3\u0026nbsp;Tahun 2008\n (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008\u0026nbsp;Nomor 16, Tambahan \nLembaran Negara Republik Indonesia Nomor\u0026nbsp;4814);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n9. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun \n2008 tentang Rencana Tata\u0026nbsp;Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) (Lembaran \nNegara Republik\u0026nbsp;Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran \nNegara\u0026nbsp;Republik Indonesia Nomor 4833);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n10. Keputusan Presiden Nomor 187\/M Tahun\n 2004 yang telah beberapa\u0026nbsp;kali diubah, terakhir dengan Keputusan \nPresiden Nomor 31\/P Tahun\u0026nbsp;2007 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia \nBersatu;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n11. Keputusan Bersama Menteri Kehutanan,\n Menteri Pertanian dan\u0026nbsp;Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor \n364\/Kpts-II\/1990, Nomor\u0026nbsp;519\/Kpts\/HK.050\/90, Nomor23-VIII-1990 tentang \nKetentun\u0026nbsp;Pelepasan Kawasan Hutan dan Pemberian Hak Guna Usaha \nuntuk\u0026nbsp;Pengembangan Usaha Pertanian;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n12. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 32\/Kpts-II\/2001 tentang\u0026nbsp;Kriteria dan Standar Pengukuhan Kawasan Hutan;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n13. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor \n70\/Kpts-II\/2001 tentang\u0026nbsp;Penetapan Kawasan Hutan, Perubahan Status dan \nFungsi Kawasan\u0026nbsp;Hutan yang telah diubah dengan Keputusan Menteri \nKehutanan\u0026nbsp;Nomor SK. 48\/Kpts-II\/2004;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n14. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor \n146\/Kpts-II\/2003 tentang\u0026nbsp;Pedoman Evaluasi Penggunaan Kawasan Hutan\/Ex \nKawasan Hutan\u0026nbsp;Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Perkebunan;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n15. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.382\/Menhut-II\/2004\u0026nbsp;tentang Izin Pemanfaatan Kayu (IPK);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n16. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.\n 13\/Menhut-II\/2005 tentang\u0026nbsp;Organisasi dan Tata Kerja Departemen \nKehutanan yang telah\u0026nbsp;beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan \nMenteri Kehutanan\u0026nbsp;Nomor P.64\/Menhut-II\/2008 (Berita Negara Republik \nIndonesia\u0026nbsp;Nomor 80 Tahun 2008);\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n17. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.\n 31\/Menhut-II\/2005 tentang\u0026nbsp;Pelepasan Kawasan Hutan Dalam Rangka \nPengembangan Usaha\u0026nbsp;Budidaya Perkebunan;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n18. Peraturan Menteri Pertanian Nomor P. 26\/Permentan\/OT.140\/2\/2007\u0026nbsp;tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cb\u003EMEMUTUSKAN :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EMenetapkan : \u0026nbsp;PERATURAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERUBAHAN\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P. 31\/MenhutII\/2005 TENTANG PELEPASAN KAWASAN HUTAN DALAM\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ERANGKA PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPERKEBUNAN.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cb\u003EPasal I\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMengubah ketentuan Pasal 4 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. \n31\/MenhutII\/2005 tentang Pelepasan Kawasan Hutan Dalam Rangka \nPengembangan Usaha\u0026nbsp;Budidaya Perkebunan, sehingga berbunyi sebagai \nberikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cb\u003EPasal 4\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n(1) Luas kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi yang dilepaskan untuk budidaya\u0026nbsp;perkebunan diberikan :\u003Cbr \/\u003E\na. paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektar, untuk satu perusahaan \natau group\u0026nbsp;perusahaan, dengan ketentuan diberikan secara bertahap dengan\n luas paling\u0026nbsp;\u0026nbsp;banyak 20.000 (dua puluh ribu) hektar dan pemberian \nberikutnya setelah\u0026nbsp;dilakukan evaluasi pelaksanaan pada tahap sebelumnya;\u003Cbr \/\u003E\nb. untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, paling banyak 200.000 \n(dua\u0026nbsp;ratus ribu) hektar untuk satu perusahaan atau group perusahaan, \ndengan\u003Cbr \/\u003E\nketentuan diberikan secara bertahap dengan luas paling banyak 40.000 \n(empat\u0026nbsp;puluh ribu) hektar dan pemberian berikutnya setelah dilakukan \nevaluasi\u0026nbsp;pelaksanaan pada tahap sebelumnya.\u003Cbr \/\u003E\n(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, \ndilakukan\u0026nbsp;dengan evaluasi administrasi dan atau evaluasi lapangan \nterhadap proses\u0026nbsp;pengurusan Hak Guna Usaha dan adanya aktivitas kegiatan \nfisik di lapangan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cb\u003EPasal II\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n(1) Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Kehutanan ini, maka :\u003Cbr \/\u003E\na. Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan \nNomor P.\u0026nbsp;31\/Menhut-II\/2005, dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak \nbertentangan\u0026nbsp;dengan Peraturan ini.\u003Cbr \/\u003E\nb. Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan \ndan\u0026nbsp;Perkebunan Nomor 728\/Kpts-II\/1998 tentang Luas Maksimum \nPengusahaan\u0026nbsp;Hutan dan Pelepasan Kawasan Hutan Untuk Budidaya Perkebunan,\n yang terkait\u0026nbsp;dengan pengaturan pembatasan luas pelepasan kawasan hutan \nuntuk budidaya\u0026nbsp;perkebunan, antara lain Pasal 4 huruf b, huruf c, dan \nhuruf d, dinyatakan tidak\u003Cbr \/\u003E\nberlaku.\u003Cbr \/\u003E\n(2) Peraturan Menteri Kehutanan ini mulai berlaku pada tanggal \ndiundangkan.\u0026nbsp;Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri \nKehutanan ini diundangkan\u0026nbsp;dengan penempatannya dalam Berita Negara \nRepublik Indonesia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: right;\"\u003E\nDitetapkan di Jakarta\u003Cbr \/\u003E\npada tanggal 1 April 2009\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EMENTERI KEHUTANAN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E REPUBLIK INDONESIA,\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: right;\"\u003E\n\u003Cb\u003Ettd.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E H. M.S. KABAN\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDiundangkan di Jakarta\u003Cbr \/\u003E\npada tanggal 7 April 2009\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003Cb\u003EMENTERI HUKUM DAN HAM\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E REPUBLIK INDONESIA,\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; ttd.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E ANDI MATTALATTA\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 60\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ESalinan sesuai dengan aslinya\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E Kepala Biro Hukum dan Organisasi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; ttd\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E SUPARNO, SH\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E NIP. 19500514 198303 1 001\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-QsdSDuSPTdg\/UTPz1gwOaMI\/AAAAAAAAF88\/2Z2e8g4ByJE\/s1600\/39undang-undang.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-QsdSDuSPTdg\/UTPz1gwOaMI\/AAAAAAAAF88\/2Z2e8g4ByJE\/s320\/39undang-undang.jpg\" width=\"295\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3768266877665763391"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3768266877665763391"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/keputusan-menteri-kehutanan-perkebunan.html","title":"Keputusan Menteri Kehutanan \u0026 Perkebunan Nomor P. 31\/MenhutII\/2009"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-QsdSDuSPTdg\/UTPz1gwOaMI\/AAAAAAAAF88\/2Z2e8g4ByJE\/s72-c\/39undang-undang.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8852160609343009927"},"published":{"$t":"2013-03-04T08:03:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-03-04T08:04:52.136+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"undang2"}],"title":{"type":"text","$t":"PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA\/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 1999"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA\/\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EKEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ENOMOR 2 TAHUN 1999\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003ETENTANG\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EMENTERI NEGARA AGRARIA\/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ctable border=\"\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"127\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMenimbang\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"10\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea.\n Bahwa dalam rangka pengaturan penanaman modal telah ditetapkan \nketentuan mengenai keharusan diperolehnya Izin Lokasi sebelum suatu \nperusahaan memperoleh tanah yang diperlukan untuk melaksanakan rencana \npenanaman modalnya;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb.\n Bahwa pemberian Izin Lokasi tersebut pada dasarnya merupakan pengarahan\n lokasi penanaman modal sebagai pelaksanaan penataan ruang dalam aspek \npertanahannya;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec.\n Bahwa pemberian Izin Lokasi tersebut telah diperluas sehingag meliputi \njuga izin untuk memperoleh tanah untuk keperluan yang tidak ada \nhubungannya dengan penanaman modal;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ed.\n Bahwa untuk menjamin terlaksananya maksud Izin Lokasi sebagaimana \ndimaksud dalam peraturan penanaman modal termaksud di atas, perlu \nmengembalikan fungsi Izin Lokasi tersebut dan membatasinya untuk \nkeperluan penanaman modal dengan menetapkan ketentuan umum mengenai Izin\n Lokasi dalam Peraturan Menteri Negara Agraria\/Kepala Badan Pertanahan \nNasional,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"127\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMengingat\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"10\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2.\n Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, \nsebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1970;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E3.\n Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, \nsebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pemerintahan di Daerah;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E5. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E6. Peraaturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E7. Peraaturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E8. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Badan Pertanahan Nasional;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E9.\n Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1993 tentang Tata Cara Penanaman \nModal sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 115 Tahun\n 1998;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E10. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E11. Keputusan Presiden Nomor 122\/M Tahun 1998 tentang Kabinet Reformasi Pembangunan;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"127\"\u003E\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EMEMUTUSKAN :\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"127\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EMenetapkan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"10\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E:\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd style=\"text-align: justify;\" width=\"526\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA\/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL TENTANG IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\n\u003C\/table\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB 1\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EKETENTUAN UMUM\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 1\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EDalam Paraturan ini yang dimaksud dengan :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1. Izin Lokasi adalah izin yang \ndiberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam\n rangka penanaman modal yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak, \ndan untuk menggunakan tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman \nmodalnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2. Perusahaan adalah perseorangan atau \nbadan hokum yang telah memperoleh izin untuk penanaman modal di \nIndonesia sesuai ketentuan yang berlaku.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E3. Group perusahaan adalah dua atau \nlebih badan usaha yang sebagian sahamnya dimiliki oleh orang atau oleh \nbadan hokum yang sama baik secara langsung maupun melalui badan hokum \nlain, dengan jumlah atau sifat pemilikan sedemikian rupa, sehingga \nmelalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung \nmenentukan penyelenggaraan atau jalannya badan usaha.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E4. Penanaman modal adalah usaha \nmenanamankan modal yang menggunakan maupun yang tidak menggunakan \nfasilitas sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 \ntentang Penanaman Modal Asing sebagaimana telah diubah dengan \nUndang-undang Nomor 11 Tahun 1970 dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 \ntentang Penanaman Modal Dalam Negeri sebagaimana telah diubah dengan \nUndang-undang Nomor 12 Tahun 1970;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E5. Hak atas tanah adalah hak-hak atas tanah sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 16 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E6. Kantor Pertanahan adalah Kantor Pertanahan Kabupaten\/Kotamadya\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 2\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) Setiap perusahaan yang telah \nmemperoleh persetujuan penanaman modal wajib mempunyai Izin Lokasi untuk\n memperoleh tanah yang diperlukan untuk melaksanakan rencana penanaman \nmodal yang bersangkutan, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud pada \nayat (2)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) Izin Lokasi tidak diperlukan dan dianggap sudah dipunyai oleh perusahaan yang bersangkutan dalam hal :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. tanah yang akan diperoleh merupakan pemasukan (inbreng) dari para pemegang saham,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb. tanah yang akan diperoleh merupakan \ntanah yang sudah dikuasai oleh perusahaan lain dalam rangka melanjutkan \npelaksanaan sebagian atau seluruh rencana penanaman modal perusahaan \nlain tersebut, dan untuk itu telah diperoleh persetujuan dari instansi \nyang berwenang,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec. tanah yang akan diperoleh diperlakukan dalam rangka melaksanakan usaha industri dalam suatu Kawasan Industri,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ed. tanah yang akan diperoleh berasal \ndari otorita atau badan penyelenggara pengembangan suatu kawasan sesuai \ndengan rencana tata ruang kawasan pengembangan tersebut,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ee. tanah yang akan diperoleh diperlukan \nuntuk perluasan usaha yang sudah berjalan untuk perluasan itu telah \ndiperoleh izin perluasan usaha sesuai ketentuan yang berlaku, sedangkan \nletak tanah tersebut berbatasan dengan lokasi usaha yang bersangkutan,\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ef. tanah yang akan diperlukan untuk \nmelaksanakan rencana penanaman modal tidak lebih dari 25 Ha (dua puluh \nlima hektar) untuk usaha pertanian atai tidak lebih dari 10.000 m2 \n(sepuluh ribu meter persegi) untuk usaha bukan pertanian, atau\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eg. tanah yang akan dipergunakan untuk \nmelaksanakan rencana penanaman modal adalah tanah yang sudah dipunyai \noleh perusahaan yang bersangkutan, dengan ketentuan bahwa tanah-tanah \ntersebut terletak di lokasi yang menurut Rencana Tata Ruang Wilayah yang\n berlaku diperuntukkan bagi penggunaan yang sesuai dengan rencana \npenanaman modal yang bersangkutan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(3) \nDalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) perusahaan yang \nbersangkutan memberitahukan rencana perolehan tanah dan atau penggunaan \ntanah yang bersangkutan kepada Kantor Pertanahan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB II\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003ETANAH YANG DAPAT DITUNJUK DENGAN IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 3\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ETanah yang dapat ditunjuk dalam Izin \nLokasi adalah tanah yang menurut Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku\n diperuntukkan bagi penggunaan yang sesuai dengan rencana penanaman \nmodal yang akan dilaksanakan oleh perusahaan menurut persetujuan \npenanaman modal yang dipunyainya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 4\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) Izin Lokasi dapat diberikan kepada \nperusahaan yang sudah mendapat persetujuan penanaman modal sesuai \nketentuan yang berlaku untuk memperoleh tanah dengan luas tertentu \nsehingga apabila perusahaan tersebut berhasil membebaskan seluruh areal \nyang ditunjuk, maka luas penguasaan tanah oleh perusahaan tersebut dan \nperusahaan-perusahaan lain yang merupakan satu group perusahaan \ndengannya tidak lebih dari luasan sebagai berikut :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. Untuk usaha pengembangan perumahan dan permukiman :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1) kawasan perumahan – pemukiman : 1 propinsi : 400 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eseluruh Indonesia : 4.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2) kawasan resort – perhotelan : 1 propinsi : 200 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eseluruh Indonesia : 2.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ctable border=\"\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"305\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EUntuk usaha kawasan Industri\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"14\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 propinsi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E400 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESeluruh Indonesia\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E4.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\n\u003C\/table\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec. Untuk usaha Perkebunan yang diusahakan dalam bentuk Perkebunan besar dengan diberikan Hak Guna Usaha :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ctable border=\"\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"305\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1) komoditas tebu\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"14\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 propinsi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E60.00 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESeluruh Indonesia\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E150.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"305\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2) komoditas lainnya\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"14\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 propinsi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E20.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESeluruh Indonesia\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E100.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\n\u003C\/table\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ed. Untuk usaha Tambak\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ctable border=\"\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"305\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1) Di P. Jawa\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"14\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 propinsi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E100 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESeluruh Indonesia\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd width=\"305\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2) Diluar P Jawa\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"14\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E1 propinsi\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E200 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr valign=\"top\"\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"151\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESeluruh Indonesia\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"18\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"right\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E2.000 Ha\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\n\u003C\/table\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) \nKhusus untuk Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya maksimum luas \npenguasaan tanah adalah dua kali maksimum luas penggunaan tanah untuk \nsatu Propinsi di luar Jawa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(3) \nUntuk Keperluan menentukan luas areal yang ditunjuk dalam Izin Lokasi \nperusahaan pemohon wajib menyampaikan pernyataan tertulis mengenai luas \ntanah yang sudah dikuasai olehnya dan perusahaan-perusahaan lain yang \nmerupakan group dengannya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(4) Ketentuan di dalam pasal ini tidak berlaku untuk :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perusahaan Umum (PERUM) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD);\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb. Badan Usaha yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Negara, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec. Badan Usaha yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh masyarakat dalam rangka “go public”.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB III\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EJANGKA WAKTU IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 5\u003C\/b\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) Izin Lokasi diberikan untuk jangka waktu sebagai berikut :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. Izin Lokasi seluas sampai dengan 25 Ha : 1 (satu) tahun;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb. Izin Lokasi seluas lebih dari 25 Ha s\/d 50 Ha : 2 (dua) tahun;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec. Izin Lokasi seluas lebih dari 50 Ha : 3 (tiga) tahun.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) Perolehan tanah oleh pemegang Izin Lokasi harus diselesaikan dalam jangka waktu Izin Lokasi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(3) Apabila dalam jangka waktu Izin \nLokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) perolehan tanah belum selesai,\n maka Izin Lokasi dapat diperpanjang jangka waktunya selama 1 (satu) \ntahun apabila tanah yang sudah diperoleh mencapai lebih dari 50% dari \nluas tanah yang ditunjuk dalam Izin Lokasi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(4) Apabila perolehan tanah tidak dapat \ndiselesaikan dalam jangka waktu Izin Lokasi, termasuk perpanjangannya \nsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3), maka perolehan tanah \ntidak dapat lagi dilakukan oleh pemegang Izin Lokasi dan terhadap \nbidang-bidang tanah yang sudah diperoleh dilakukan tindakan sebagai \nberikut :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. dipergunakan untuk melaksanakan \nrencana penanaman modal dengan penyesuaian mengenai luas pembangunan, \ndengan ketentuan bahwa apabila diperlukan masih dapat dilaksanakan \nperolehan tanah sehingga diperoleh bidang tanah yang merupakan satu \nkesatuan bidang;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb. dilepaskan kepada perusahaan atau pihak lain yang memenuhi syarat.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB IV\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003ETATA CARA PEMBERIAN IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 6\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) Izin Lokasi diberikan berdasarkan \nperitmbangan mengenai aspek penguasaan tanah dan tata guna tanah yang \nmeliputi keadaan hak serta penguasaan tanah yang bersangkutan, penilaian\n fisik wilayah, penggunaan tanah, serta kemampuan tanah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) Surat keputusan pemberian Izin \nLokasi ditandatangani oleh Bupati\/Walikotamadya atau, untuk Daerah \nKhusus Ibukota Jakarta, oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota \nJakarta diadakan rapat koordinasi antar instansi terkait, yang dipimpin \noleh Bupati\/Walikotamadya atau, untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, \noleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, atau oleh pejabat \nyang ditunjuk secara tetap olehnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(3) Bahan-bahan untuk keperluan \npertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan rapat koordinasi \nsebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipersiapkan oleh Kepala Kantor \nPertanahan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(4) Rapat koordinasi sebagaimana \ndimaksud pada ayat (2) disertai konsultasi dengan masyarakat pemegang \nhak atas tanah dalam lokasi yang dimohon.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(5) Konsiltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi empat aspek sebagai berikut :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ea. Penyebarluasan informasi mengenai \nrencana penanaman modal yang akan dilaksanakan, ruang lingkup dampaknya \ndan rencana perolehan tanah serta penyelesaian masalah yang berkenaan \ndengan perolehan tanah tersebut;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Eb. Pemberian kesempatan kepada pemegang \nhak atas tanah untuk memperoleh penjelasan tentang rencana penanaman \nmodal dan mencari alternatif pemecahan masalah yang ditemui;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ec. Ppengumpulan informasi langsung dari masyarakat untuk memperoleh data social dan lingkungan yang diperlukan;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003Ed. Peran serta masyarakat berupa usulan \ntentang alternatif bentuk dan besarnya ganti kerugian dalam perolehan \ntanah dalam pelaksanaan Izin Lokasi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 7\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) \nKetentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian Izin Lokasi \nditetapkan oleh Bupati\/Walikotamadya atau, untuk Daerah Khusus Ibukota \nJakarta, oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) Sebelum ketentuan sebagaimana \ndimaksud pada ayat (1) ditetapkan pemberian Izin Lokasi dilaksanakan \nmenurut Peraturan Menteri Negara Agraria\/Kepala Badan Pertanahan nomor 2\n Tahun 1993 tentang Tata Cara Memperoleh Izin Lokasi dan Hak Atas Tanah \nDalam Rangka Penanaman Modal dan ketentuan pelaksanaannya dengan \npenyesuaian seperlunya dengan ketentuan dalam peraturan ini.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB V\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EHAK DAN KEWAJIBAN PEMEGANG IZIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 8\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(1) Pemegang Izin Lokasi diizinkan untuk\n membebaskan tanah dalam areal Izin Lokasi dari hak dan kepentingan \npihak lain berdasarkan kesepakatan dengan pemegang hak atai pihak yang \nmempunyai kepentingan tersebut dengan cara jual beli, pemberian ganti \nkerugian, konsolidasi tanah atau cara lain sesuai ketentuan yang \nberlaku.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(2) Sebelum tanah yang bersangkutan \ndibebaskan oleh pemegang Izin Lokasi sesuai ketentuan pada ayat (1), \nmaka semua hak atau kepentingan pihak lain yang sudah ada atas tanah \nyang bersangkutan tidak berkurang dan tetap diakui, termasuk kewenangan \nyang menurut hokum dipunyai oleh pemegang hak atas tanah untuk \nmemperoleh tanda bukti hak (sertifikat), dan kewenangan untuk \nmenggunakan dan memanfaatkan tanahnya bagi keperluan pribadi atau \nusahanya sesuai rencana tata ruang yang berlaku, serta kewenangan untuk \nmengalihkannya kepada pihak lain.\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(3) Pemegang tanah yang bersangkutan \ndibebaskan dari pihak-pihak lain atas tanah yang belum dibebaskan \nsebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak menutup atau mengurangi \naksebilitas yang dimiliki masyarakat di sekitar lokasi, dan menjaga \nserta melindungi kepantingan umum.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(4) Sesudah tanah yang bersangkutan \ndibebaskan dari hak dan kepentingan pihak lain, maka kepada pemegang \nIzin Lokasi dapat diberikan hak atas tanah yang memberikan kewenangan \nkepadanya untuk menggunakan tanah tersebut sesuai dengan keperluan untuk\n melaksanakan rencana penanaman modalnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 9\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPemegang Izin Lokasi berkewajiban untuk \nmelaporkan secara berkala setiap 3(tiga) bulan kepada Kepala Kantor \nPertanahan mengenai perolehan tanah yang sudah dilaksanakan berdasarkan \nIzin Lokasi dan pelaksanaan penggunaan tanah tersebut.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EBAB VI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EKETENTUAN PENUTUP\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 10\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EIzin Lokasi yang sudah dikeluarkan \nsebelum berlakunya peraturan ini tetap berlaku sampai jangka waktunya \nhabis, dengan ketentuan bahwa apabila Izin Lokasi tersebut menunjuk \nareal yang melebihi luas tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 4, \nmaka Izin Lokasi itu hanya dapat dileksanakan sesudah berlakunya \nperaturan ini untuk luas areal yang sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 4\n tersebut.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EPasal 11\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPeraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EDitetapkan di Jakarta\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPada tanggal 10 Pebruari 1999\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\n\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Ccenter\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMENTERI NEGARA AGRARIA\/\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EKEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/center\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E(HASAN BASRI DURIN)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-aN5qgmCNszA\/UTPzI0XMiWI\/AAAAAAAAF80\/Oc3AGqLy-jQ\/s1600\/Undang-undang,+perpu,+inpres,+keppres+dan+aturan+pemerintah.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"241\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-aN5qgmCNszA\/UTPzI0XMiWI\/AAAAAAAAF80\/Oc3AGqLy-jQ\/s320\/Undang-undang,+perpu,+inpres,+keppres+dan+aturan+pemerintah.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8852160609343009927"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8852160609343009927"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/03\/peraturan-menteri-negara-agraria-kepala.html","title":"PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA\/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 1999"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-aN5qgmCNszA\/UTPzI0XMiWI\/AAAAAAAAF80\/Oc3AGqLy-jQ\/s72-c\/Undang-undang,+perpu,+inpres,+keppres+dan+aturan+pemerintah.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8554827062967828023"},"published":{"$t":"2013-02-26T08:43:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2013-02-26T08:43:55.433+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Kelapa Sawit Naik Kembali di 2013"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6Epxvry4VRc\/USwTUlwGUfI\/AAAAAAAAF0c\/Q0jj8iShkLI\/s1600\/images.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6Epxvry4VRc\/USwTUlwGUfI\/AAAAAAAAF0c\/Q0jj8iShkLI\/s1600\/images.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHarga minyak kelapa sawit\/crude palm oil (CPO) kembali bersinar pada \ntahun 2013 mendatang. Prediksi kenaikan harga minyak kelapa sawit yang \nsempat mengalami kelesuan beberapa bulan terakhir tahun 2012 tersebut, \ndiungkapkan\u0026nbsp; Dorab Mistry dari Godrej International LTD India .\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Dorab Mistry, kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO) \nmengalami kenaikan dikisaran 2.300 Ringgit (USS 755) hingga kisaran \n2.600 Ringgit permetrik ton atau naik sekitar 24 persen dari harga saat \nini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Kenaikan itu terjadi pada bulan pertama tahun 2013 dan akan \nbertahan hingga pertengahan tahun depan,”ujar Dorab dalam pemaparannya \nyang berjudul Market Outlook 2013 di 8th Indonesia Palm Oil Conference \n(IPOC) and 2013 Price Outlook 2012 di Nusa Dua, Bali kemarin.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDorab menambahkan, kenaikan harga ini terjadi pada tiga bulan \npertama dan diprediksi akan bertahan sampai pertengahan tahun depan. \nSedangkan pada semester kedua akan kembali turun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSementara itu, prediksi naiknya harga CPO juga diungkapkan ekonom \ndari Jerman Thomas Mielke. Dalam makalahnya berjudul Global Supply, \nDemand and Price Outlook for Vegetable Oil in 2013 - with Focus on Palm \nOil, mengatakan pergerakan penawaran minyak kedelai dan minyak lainnya \njuga akan naik kecuali minyak bunga matahari.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Harga CPO akan naik hingga USD 1.100 sampai April -Mei 2013. Ekspor \noils and fats dari Indonesia dan Malaysia, tahun depan, diperkirakan \nmencapai 42,6 juta ton. Ini ekuivalen dengan 58% dari total ekspor oils \nand fats dunia,”ujarnya saat pemaparan di IPOC 2012 di Nusa Dua, Bali \nkemarin.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Thomas, untuk tahun mendatang, stok minyak kelapa sawit atau \nCPO Indonesia, selain juga Malaysia menjadi faktor utama dalam \nmempengaruhi suplai CPO dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Pasokan CPO juga dipengaruhi oleh perubahan iklim, dampak ekonomi \nmakro, krisis ekonomi Eropa, dan pergerakan untuk permintaan biofuel,” \nungkap Mielke yang juga Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH Jerman ini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSementara itu, dari sisi permintaan, diperkirakan China masih akan \nmenjadi importer CPO dan minyak nabati lain, terbesar dunia.\u0026nbsp; Sementara \nitu, Pakistan juga akan menjadi pasar besar yang tetap potensi mengingat\n negara ini lebih memilih untuk membeli CPO dibanding minyak nabati \nlain.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi sisi lain dalam makalahnya berjudul China”s Market Outlook of \nVegetable Oils and Protein Meals in 2013, Xu Jianfei dari Chinatex \nGrains \u0026amp; Oil Imp. \u0026amp; Exp. Co., Ltd mengatakan, Permintaan dan \npenawaran minyak nabati tetap akan tergantung pada CPO.”\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8554827062967828023"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8554827062967828023"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/02\/harga-kelapa-sawit-naik-kembali-di-2013.html","title":"Harga Kelapa Sawit Naik Kembali di 2013"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6Epxvry4VRc\/USwTUlwGUfI\/AAAAAAAAF0c\/Q0jj8iShkLI\/s72-c\/images.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5661945987385075994"},"published":{"$t":"2013-02-26T08:39:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2013-02-26T08:39:00.742+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Lahan Kelapa Sawit di Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-mi4qymzkAjo\/USwSGFAhV3I\/AAAAAAAAF0Q\/6-dv0EqKsys\/s1600\/combined-0-111.94.50.42-26021313.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-mi4qymzkAjo\/USwSGFAhV3I\/AAAAAAAAF0Q\/6-dv0EqKsys\/s400\/combined-0-111.94.50.42-26021313.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n  \u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n  \u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=19\" target=\"_blank\"\u003EBangka-Belitung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 141.897\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 34.659 ha, dan Perkebunan Swasta sebesar 107.238 ha \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=36\" target=\"_blank\"\u003EBanten\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 15.023\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 6.795 ha Dan Perkebunan Negara Sebesar 8.228 ha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=17\" target=\"_blank\"\u003EBengkulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 194.161 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=15\" target=\"_blank\"\u003EJambi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 489.384 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=32\" target=\"_blank\"\u003EJawa Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10.580 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=61\" target=\"_blank\"\u003EKalimantan Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 530.575 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=61\" target=\"_blank\"\u003EKalimantan Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 499.542 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=63\" target=\"_blank\"\u003EKalimantan Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 312.719 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=62\" target=\"_blank\"\u003EKalimantan Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 226.696 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=64\" target=\"_blank\"\u003EKalimantan Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 409.466\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 115.484 ha, \nPerkebunan Swasta sebesar 379.080 ha dan Perkebunan Negara Sebesar \n15.937 ha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=21\" target=\"_blank\"\u003EKepulauan Riau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.645\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Perkebunan Rakyat : 2002,645, \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 12 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=18\" target=\"_blank\"\u003ELampung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 153.160 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 13 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=91\" target=\"_blank\"\u003EPapua\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 26.256 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 14 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=92\" target=\"_blank\"\u003EPapua Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 57.398\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 15.935 ha, \nPerkebunan Swasta sebesar 5.000 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 10.207 \nha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 15 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=14\" target=\"_blank\"\u003ERiau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.781.900\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 889.916 ha, \nPerkebunan Negara sebesar 79.545 dan Perkebunan Swasta sebesar 812.439 \nha \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 16 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=76\" target=\"_blank\"\u003ESulawesi Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 107.249\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 17 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=73\" target=\"_blank\"\u003ESulawesi Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.762 \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 18 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=72\" target=\"_blank\"\u003ESulawesi Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 46.655\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 17.287 ha, dan \nPerkebunan Swasta sebesar 42.678 ha, Perkebunan Negara Sebesar 5.090 ha.\n \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 19 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=74\" target=\"_blank\"\u003ESulawesi Tenggara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 21.669\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Swasta \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 20 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=13\" target=\"_blank\"\u003ESumatera Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 344.352\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 170.093 ha, \nPerkebunan Swasta sebesar 166.423 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 7.836\n ha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 21 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=16\" target=\"_blank\"\u003ESumatera Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 690.729\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 286.675 ha, \nPerkebunan Swasta sebesar 390.314 ha dan Perkebunan Negara Sebesar \n128.780  ha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 22 \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=12\" target=\"_blank\"\u003ESumatera Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n  \u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.017.570\u003Cbr \/\u003E\n  Status Lahan: Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 392.726 ha, \nPerkebunan Swasta sebesar 352.657 ha dan Perkebunan Negara Sebesar \n299.471 ha. \u003C\/td\u003E\n  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5661945987385075994"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5661945987385075994"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2013\/02\/lahan-kelapa-sawit-di-indonesia.html","title":"Lahan Kelapa Sawit di Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-mi4qymzkAjo\/USwSGFAhV3I\/AAAAAAAAF0Q\/6-dv0EqKsys\/s72-c\/combined-0-111.94.50.42-26021313.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-9198248842842755522"},"published":{"$t":"2012-11-19T11:29:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-19T11:29:47.113+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Prospek Bisnis Kelapa Sawit di Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-MszDhLl7iMk\/UKm1m6tl37I\/AAAAAAAAEgM\/TYAaiXfNojg\/s1600\/0922palmoilprod.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"257\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-MszDhLl7iMk\/UKm1m6tl37I\/AAAAAAAAEgM\/TYAaiXfNojg\/s400\/0922palmoilprod.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang sangat diperlukan sebagai kegiatan\u0026nbsp; pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor pertanian.\u0026nbsp; Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit.\u0026nbsp; Dalam dokumen praktis ini digambarkan prospek pengembangan agribisnis saat ini hingga tahun 2010, dan arah pengembangan hingga tahun 2025.\u0026nbsp; Masyarakat luas, khususnya petani, pengusaha, dan pemerintah dapat menggunakan dokumen praktis ini sebagai acuan.\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDokumen praktis ini didahului dengan penyajian peranan sektor pertanian, subsektor perkebunan, dan agribisnis kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan\u0026nbsp; oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. Pada tahun 2003, luas areal\u0026nbsp; perkebunan rakyat mencapai 1.827 ribu ha (34,9%), perkebunan negara seluas 645 ribu ha (12,3%), dan perkebunan besar swasta seluas 2.765 ribu ha (52,8%). Ditinjau dari bentuk pengusahaannya, perkebunan rakyat (PR) memberi andil produksi CPO sebesar 3.645 ribu ton (37,12%), perkebunan besar negara (PBN) sebesar 1.543 ribu ton (15,7 %), dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 4.627 ribu ton (47,13%). Produksi CPO juga menyebar dengan\u0026nbsp; perbandingan 85,55% Sumatera, 11,45% Kalimantan, 2%, Sulawesi, dan 1% wilayah\u0026nbsp; lainnya.\u0026nbsp; Produksi tersebut dicapai pada tingkat produktivitas perkebunan rakyat sekitar 2,73 ton CPO\/ha, perkebunan\u0026nbsp; negara 3,14 ton CPO\/ha, dan perkebunan swasta 2,58 ton CPO\/ha. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan juga didukung secara handal oleh 6 produsen benih dengan\u0026nbsp; kapasitas 124 juta per tahun.\u0026nbsp; Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT. Socfin, PT. Lonsum, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, dan PT. Bina Sawit Makmur masing-masing mempunyai kapasitas 35 juta, 25 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, dan 25 juta.\u0026nbsp; Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui langkah-langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara nasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hatihati terutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit. Dalam hal industri pengolahan, industri pengolahan CPO telah berkembang dengan pesat. Saat ini jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan kapasitas olah 13,520 ton\u0026nbsp; TBS per jam.\u0026nbsp; Sedangkan industri pengolahan produk turunannya, kecuali minyak goreng,\u0026nbsp; masih belum berkembang, dan kapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton.\u0026nbsp; Industri oleokimia Indonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8% dari produksi \u003Cbr \/\u003Edunia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam perdagangan CPO, Indonesia merupakan negara net exporter dimana impor dari Malaysia dilakukan hanya pada saat-saat tertentu.\u0026nbsp; Ekspor Indonesia masih di bawah Malaysia dimana pada tahun 2002 hanya mencapai 6,3 juta ton atau sekitar 32,64% lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 11,2 juta ton atau sekitar 57,28% dari total ekspor dunia.\u0026nbsp; Sementara itu, impor CPO mulai menyebar ke berbagai negara dan Indonesia mengandalkan pasar di Belanda dan Pakistan.\u0026nbsp; Neraca perdagangan CPO, baik dunia maupun Indonesia, saat ini cenderung berada pada posisi\u0026nbsp; seimbang.\u0026nbsp; Harga pada beberapa tahun terakhir cenderung meningkat baik di pasar internasional dan domestik. Guna mendukung pengembangan agribisnis kelapa sawit, peranan lembaga penelitian dan pengembangan perkebunan, kelembagaan dan kebijakan pemerintah cukup strategis.\u0026nbsp; Lembaga penelitian dan pengembangan perkebunan hingga saat ini telah berperan nyata melalui berbagai inovasi teknologi.\u0026nbsp; Inovasi tersebut\u0026nbsp; mulai dari subsistem hulu, usahatani, hingga pengolahan produk hilir.\u0026nbsp; Pada aspek kelembagaan, berbagai organisasi, aturan dan pelaku usaha mulai berkembang.\u0026nbsp; Sedangkan pada aspek kebijakan, beberapa kebijakan perlu diperhatikan, khususnya kebijakan fiskal (perpajakan dan retribusi), dan perijinan investasi. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003Eprospek, potensi, dan arah pengembangan agribisnis\u0026nbsp; kelapa\u0026nbsp; sawit.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Secara\u0026nbsp; umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai\u0026nbsp; prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk.\u0026nbsp; Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir.\u0026nbsp; Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003Etujuan dan sasaran pengembangan agribisnis tahun 2005-2010.\u0026nbsp; Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian, tujuan utama pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah \u003Cbr \/\u003E1) menumbuhkembangkan usaha kelapa sawit di pedesaan yang akan memacu aktivitas ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan \u003Cbr \/\u003E2) menumbuhkan industri pengolahan CPO\u0026nbsp; dan produk turunannya serta industri penunjang (pupuk, obata-obatan dan alsin) dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah CPO dan produk turunannya.\u0026nbsp; Sedangkan sasaran utamanya adalah 1) peningkatan produktivitas menjadi 15 ton\u0026nbsp; TBS\/ha\/tahun, 2) pendapatan petani antara US$ 1,500 – 2,000\/KK\/tahun, dan 3) produksi mencapai 15,3 juta ton CPO dengan alokasi domestik 6 juta ton.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebijakan, strategi dan program pengembangan agribisnis perkebunan.\u0026nbsp; Arah kebijakan jangka panjang adalah pengembangan sistem dan usaha agribisnis kelapa sawit yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi.\u0026nbsp; Dalam jangka menengah kebijakan pengembangan agribisnis kelapa sawit meliputi peningkatan produktivitas dan mutu, pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah, serta penyediaan dukungan dana pengembangan.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EStrategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah integrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka peningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan dalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan,\u0026nbsp; dan pengembangan pasar.\u0026nbsp; Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk peningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit.\u0026nbsp; Dalam implementasinya, strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan program-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, pengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) hingga evaluasi. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebutuhan investasi pengembangan agribisnis kelapa sawit untuk pembagunan 350.000 ha kebun plasma dan inti dan 58 unit pengolahan CPO di Indonesia Barat dan Timur, peremajaan 100.000 ha kebun di kedua wilayah (tanpa pembangunan unit pengolahan)\u0026nbsp; dan kebutuhan investasi industri biosiesel kapasitas.\u0026nbsp; Pembangunan dilaksanakan setiap tahun dari tahun 2006 hingga 2010 dengan investor petani plasma, perusahaan inti dan pemerintah.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKebutuhan investasi untuk perluasan kebun kelapa sawit 350.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp.\u0026nbsp; 73.462.679.150.000 (Rp. 73,46 trilyun).\u0026nbsp; Kebutuhan investasi di Indonesia Barat (150.000 ha) adalah Rp. 29.030.510.250.000\u0026nbsp; (investasi petani plasma sebesar Rp. 16.831.607.940.000, perusahaan inti sebesar\u0026nbsp; Rp. 9.393.827.310.000 dan pemerintah sebesar Rp.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2.805.075.000.000).\u0026nbsp; Kebutuhan investasi di Indonesia Timur (200.000 ha) adalah Rp. 44.432.168.900.000 (investasi petani plasma sebesar Rp. 25.433.332.660.000, perusahaan inti sebesar Rp. 15.882.086.240.000 dan pemerintah sebesar Rp. 3.116.750.000.000). \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebutuhan investasi untuk peremajaan kebun kelapa sawit 100.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp.\u0026nbsp; 14.611.495.686.000 (Rp. 14,6 trilyun).\u0026nbsp; Kebutuhan investasi untuk\u0026nbsp; peremajaan 80.000 ha di Indonesia Barat adalah Rp. 10.751.856.210.000\u0026nbsp; (investasi petani plasma sebesar Rp. 7.963.955.769.000, perusahaan inti sebesar Rp. 2.437.987.941.000 dan pemerintah sebesar Rp. 349.912.500.000).\u0026nbsp; Kebutuhan investasi untuk peremajaan 20.000 ha di Indonesia Timur adalah\u0026nbsp; Rp.3.859.639.476.000 (investasi petani plasma sebesar Rp. 3.005.753.730.000, perusahaan inti sebesar Rp. 741.010.746 dan pemerintah sebesar Rp. 112.875.000.000).\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam implementasinya, pengembangan agribisnis kelapa sawit baik melalui perluasan maupun peremajaan menerapkan pola pengembangan inti-plasma dengan penguatan kelembagaan melalui\u0026nbsp; pemberian kesempatan kepada petani plasma sebagai pemilik saham perusahaan.\u0026nbsp; Pemilikan saham ini dilakukan melalui cicilan pembelian saham dari hasil potongan penjualan hasil atau dari hasil outsourcing dana oleh organisasi petani. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebutuhan investasi untuk pengembangan pabrik biodiesel kapasitas 6.000 ton per tahun (6.600 kl per tahun) dan kapasitas 100.000 ton per tahun (110.000\u0026nbsp; kl per tahun) masing-masing adalah Rp.\u0026nbsp; 12 milyar dan Rp. 180 milyar.\u0026nbsp; Apabila setiap tahun dibangun 1 pabrik skala kecil dan besar, maka total biaya investasi yang diperlukan dalam 5 tahun ke depan Rp. 860 milyar. Nilai investasi tersebut diperlukan untuk membeli peralatan dan mendirikan bangunan pabrik.\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDukungan kebijakan sarana dan prasarana serta regulasi.\u0026nbsp; Dukungan kebijakan diharapkan diperoleh dari Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Deparetemen Keuangan, Bank Indonesia, Kantor Menteri Negara BUMN, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kantor Menteri Negara Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi, Pemerintah\u0026nbsp; Daerah, dan Kejaksaan Agung serta Kepolisian.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9198248842842755522"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9198248842842755522"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/prospek-bisnis-kelapa-sawit-di-indonesia.html","title":"Prospek Bisnis Kelapa Sawit di Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-MszDhLl7iMk\/UKm1m6tl37I\/AAAAAAAAEgM\/TYAaiXfNojg\/s72-c\/0922palmoilprod.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2713976548706175539"},"published":{"$t":"2012-11-19T11:19:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-19T11:19:43.754+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengembangan Industri Kelapa Sawit Ramah Lingkungan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-39sXcocBAas\/UKmzRv9D9RI\/AAAAAAAAEgE\/Hkm7IBNSTrc\/s1600\/palm.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-39sXcocBAas\/UKmzRv9D9RI\/AAAAAAAAEgE\/Hkm7IBNSTrc\/s1600\/palm.png\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSesuai dengan UU Republik Indonesia No. 18 tahun 2004 tentang perkebunan, ditegaskan bahwa “ Perkebunan diselenggarakan atas asas manfaat dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan serta keadilan (Pasal 2); dan perkebunan mempunyai fungsi: a. ekonomi, yaitu peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta penguatan struktur ekonomi wilayah dan nasional; b. ekologi, yaitu peningkatan konservasi tanah dan air, penyerap karbon, penyedia oksigen, dan penyangga kawasan lindung; dan c. sosial budaya, yaitu sebagai perekat dan pemersatu bangsa”(Pasal 4)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKomitmen untuk melaksanakan kegiatan industri berwawasan lingkungan dan berkelanjutan diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya secara efektif dan efisien. Mengambil contoh pengendalian limbah pabrik, Perusahaan telah menerapkan pengurangan jumlah limbah yang dibuang ke media lingkungan berdasarkan empat prinsip, yaitu: pengurangan dari sumber (reduce), sistem daur ulang (recycle), pengambilan (recovery) dan pemanfaatan kembali (reuse) secara berkelanjutan menuju produksi bersih (Casson, A., 2003 : 24).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAplikasi limbah cair pabrik kelapa sawit pada perkebunan kelapa sawit dengan sistem flatbed (Sitorus. 2007: 13-21) yaitu dengan cara :\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Limbah cair pabrik kelapa sawit dapat digunakan sebagai pupuk. Aplikasi limbah cair memiliki keuntungan antara lain dapat mengurangi biaya pengolahan limbah cair dan sekaligus berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Metode aplikasi limbah cair yang umum digunakan adalah sistem flatbed, yaitu dengan mengalirkan limbah melalui pipa ke bak-bak distribusi dan selanjutnya ke parit primer dan sekunder (flatbed).\u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pembangunan instalasi aplikasi limbah cair membutuhkan biaya yang relatif mahal. Namun investasi ini diikuti dengan peningkatan produksi TBS dan penghematan biaya pupuk sehingga penerimaan juga meningkat. Aplikasi limbah cair 12,6 mm ECH\/ha\/bulan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 46%\/ha. Di samping itu, aplikasi limbah cair juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELimbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Penggunaan limbah cair mampu meningkatkan produksi dan limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap kualitas air tanah (Sitorus. 2007: 8) .\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPerkebunan kelapa sawit ramah lingkungan, karena perkebunan menyimpan lebih banyak karbon dioksida (CO2) dan melepaskan lebih banyak oksigen (O2), yang mana ini menguntungkan bagi lingkungan. Beberapa ilmuwan melakukan penelitian\u0026nbsp; dan hasil terbaru menunjukkan bahwa seperti kasus pada tumbuhan apapun, pohon-pohon kelapa sawit memang menyita karbon karena saat mereka tumbuh – karbon adalah blok pertumbuhan dasar dalam jaringan tumbuhan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EData dari Wetlands International, sebuah kelompok lingkungan hidup menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bukanlah bandingan bagi hutan alami dalam hal penyimpanan karbon, tetapi minyak kelapa masih dapat berperan dalam usaha pengurangan emisi gas rumah kaca. Kelapa sawit adalah satu dari bibit minyak yang paling produktif di dunia – dalam ukuran berdasar per unit area, biodiesel dihasilkan dari kelapa sawit jauh melampaui bio diesel konvensional seperti jagung, kedelai, bibit gula rapeseet, dan tebu (WI, 2007).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESalah satu pola pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sesuai dengan undang-undang dan cukup menarik untuk diaplikasikan saat ini adalah pola Transmigration Corporate Farming (TFC). Pola ini adalah pola penyempurnaan dari pengembangan perkebunan inti plasma sebelumnya, dimana para petani plasma hanya mengerjakan lahannya saja dan tidak melibatkan kepemilikan pemerintah daerah dan pusat. Pada pola TFC ini perusahaan inti wajib memberikan 20% sahamnya berupa lahan kepada petani (2 ha per petani), sehingga petani merasa memiliki perusahaan dan akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memaksimalkan hasilnya yang pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan juga (Tryfino.2006 : 4)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EGerakan Konsumen Hijau (Green Consumerism)\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ERendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lingkungan menjadi persoalan tersendiri. Berbagai bentuk perilaku yang mencerminkan ketidak pedulian terhadap lingkungan masih terus berlangsung dengan pelaku yang makin variatif. Tidak hanya sekelompok orang tertentu, tetapi meliputi hampir semua kalangan. Ini bisa terjadi pada level individu rumah tangga, komunitas kecil, atau mereka yang biasa disebut sebagai perambah hutan. Bisa terjadi pula pada level organisasi seperti perusahaan. Atau bahkan pada level intelektual, seperti cendekiawan yang melontarkan ide-ide pembangunan masa depan, tetapi tidak mengagendakan masalah lingkungan yang bisa disejajarkan dengan masalah politik, ekonomi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPemerintah perlu melakukan reorientasi paradigma pembangunan. Sekarang ini terdapat paradigma baru yang tengah dibangun dan menjadi dasar pijakan pembangunan di banyak negara, yaitu paradigma pembangunan berkelanjutan, yang dipercaya untuk menggantikan paradigma lama misalnya paradigma pertumbuhan ekonomi dan paradigma yang menekankan pemerataan hasil-hasil pembangunan (Zumrotin,1994).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESecara sederhana, pengertiannya adalah pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan dan kepentingan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pengertian ini merujuk pada World Commission on Environment and Development (WECD), sebuah komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan di bawah naungan PBB.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDefinisi tersebut memuat dua konsep utama. Pertama, tentang kebutuhan yang sangat esensial untuk penduduk miskin dan perlu diprioritaskan. Kedua, tentang keterbatasan dari kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Artinya, pembangunan berkelanjutan berperspektif jangka panjang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (alonger term perspective) yang menuntut adanya solidaritas antargenerasi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EParadigma ini akan semakin dibutuhkan seiring dengan perkembangan globalisasi terutama ketika diterapkan ISO 9000 (standar kualitas suatu barang) dan ISO 14000 (standar kualitas lingkungan). Secara sederhana di dalam ISO 14000 dipersyaratkan audit lingkungan, label lingkungan, sistem pengelolaan lingkungan dan analisis daur hidup. Bila ISO 14000 diberlakukan, suka atau tidak suka, para pengusaha harus menyesuaikan produk-produknya dengan kriteria lingkungan yang dikehendaki oleh ISO (International Standardization Organization).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EParadigma ini menuntut diterapkannya strategi gerakan Konsumen Hijau (konsumen yang berwawasan lingkungan), misalnya, telah menjadi bagian dari kehidupan di negara-negara maju. Dalam beberapa kasus, masyarakat akan dengan kritis menolak tas plastik yang tidak bisa didaur ulang atau jaket yang terbuat dari kulit binatang yang dilindungi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EGerakan ini hendaknya mensosialisasikan dan menanamkan pengertian kepada masyarakat (konsumen) untuk menggunakan produk yang tidak mengganggu kesehatan dan merusak lingkungan. Konsumen diposisikan sebagai inisiator, pemberi pengarah, pengambil keputusan, pembeli, bahkan pengguna. Namun masyarakat perlu waspada terhadap penyalahgunaan pemahaman green consumerism (konsumen hijau) oleh para pengusaha untuk kepentingan promosi (Anonymous, 1994).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMasyarakat sebagai konsumen hijau juga perlu waspada terhadap berbagai klaim jenis. Misalnya, terhadap klaim bersahabat dengan lingkungan, karena dalam menjual produk memberikan hadiah produk lain yang ramah lingkungan seperti sepeda dan pemanas air tenaga surya. Sementara, produknya sendiri berpotensi mencemari lingkungan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETerkait dengan Industri kelapa sawit, Unilever salah satu dari pembeli utama minyak sawit Indonesia, menyatakan mereka akan mulai membeli minyak sawit dari sumber-sumber langgeng yang bersertifikat pada tahun ini dan bermaksud untuk mendapatkan semua minyak sawit yang telah bersertifikat pada tahun 2015 (Unilever.com).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIndonesia produsen kelapa sawit terbesar dunia, berencana untuk menerapkan ukuran-ukuran jelas yang dimaksudkan agar perusahaan-perusahaan kelapa sawit memenuhi persyaratan-persyaratan standar yang keras sebelum memberi label produk-produk mereka dengan produk ramah lingkungan, hal ini dikarenakan Perkembangan industri kelapa sawit yang cepat di Asia Tenggara telah mendapat perlawanan oleh kelompok-kelompok hijau untuk perusakan hutan-hutan alam dan kehidupan satwa liar, demikian pula dengan emisi gas-gas rumah kaca.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EThe Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO), telah meluncurkan sebuah proses sertifikasi label hijau yang memasukkan komitmen untuk memelihara hutan hujan dan kehidupan satwa liar dan menghindarkan pertikaian dengan masyarakat asli di lingkungan hutan (Anonymous. 2008).\u0026nbsp; Kelompok hijau dan perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh RSPO akan dapat memasarkan “produk-produk hijau” yang bersertifikat ke dalam pasar global. Malaysia, produsen kelapa sawit terbesar dunia ke-dua, telah memiliki empat lembaga-lembaga sertifikasi yang telah disetujui oleh RSPO.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2713976548706175539"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2713976548706175539"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/pengembangan-industri-kelapa-sawit.html","title":"Pengembangan Industri Kelapa Sawit Ramah Lingkungan"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-39sXcocBAas\/UKmzRv9D9RI\/AAAAAAAAEgE\/Hkm7IBNSTrc\/s72-c\/palm.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3227448859577662847"},"published":{"$t":"2012-11-19T11:13:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-19T11:13:21.456+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kelapa Sawit sebagai Alternatif Energi Pengganti (Biofuel)"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-xKMDA8JTaXo\/UKmxwlIlL4I\/AAAAAAAAEf8\/DZZ_RcPAs8A\/s1600\/BiofuelLifeCycle1.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"228\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-xKMDA8JTaXo\/UKmxwlIlL4I\/AAAAAAAAEf8\/DZZ_RcPAs8A\/s400\/BiofuelLifeCycle1.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri\/perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sektor unggulan Indonesia dan kontribusinya terhadap ekspor non migas nasional cukup besar. Dalam enam tahun terakhir keuntungan rata-rata cenderung terus mengalami peningkatan. Ekspor CPO Indonesia setiap tahunnya juga menunjukkan tren meningkat\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESampai dengan tahun 2005 luas perkebunan kelapa sawit yang tertanam di Indonesia adalah 5,6 juta ha, yang terdiri dari: perkebunan rakyat 1,9 juta ha, perkebunan pemerintah 0,7 juta ha, dan perkebunan swasta 3, 0 juta ha. Rata-rata pertumbuhan lahan per tahun sebesar 15% atau 200.000 ha per tahun. Sementara itu, produksi kelapa sawit Indonesia di tahun 2005 telah mencapai 17 juta ton meningkat 63,7% dibandingkan tahun 2003 yang mencapai 10,4 juta ton (Ely, 2007)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagian besar lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terletak di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Dengan adanya rencana pemerintah membangun 850 km perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan maka pada tahun 2020 diprediksikan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan menjadi 9 juta ha sehingga share lahan kelapa sawit di Kalimantan naik sebaliknya Sumatera turun (Wakker, E., 2006).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPengembangan perkebunan sawit di Indonesia dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kesinambungan dimana sebagian besar perkebunan didirikan di atas lahan yang tadinya merupakan lahan HPH, tanah kosong atau dirubah fungsikan dari lahan yang sebelumnya ditanami karet, kopi atau cokelat. Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit juga dilakukan dengan memperhatikan berbagai faktor seperti undang-undang dan peraturan pertanahan, kelangsungan keanekaragaman hayati dan satwa liar, pengaturan pembuangan limbah dan tanggung-jawab ekonomi dan social dari perusahaan pengelola perkebunan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EProduktifitas kebun kelapa sawit di Indonesia masih kalah dibandingkan Malaysia. Hal ini lebih disebabkan oleh pemilihan bibit yang kurang baik, sistem pemupukan yang kurang optimal dan kondisi perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sudah banyak melewati usia produktif akibat keterterlambatan dalam melakukan regenerasi pohon kelapa sawit.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKedepan, pengembangan industri kelapa sawit nasional sangat prospektif karena saat ini pemerintah Indonesia sedang menjalankan program pengembangan biofuel (biodisel) yang menggunakan CPO sebagai bahan bakunya. Dengan demikian kapasitas penyerapan CPO akan jauh lebih besar lagi disamping nilai tambahnya juga akan semakin tinggi.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMasalah energi alternatif saat ini sedang menjadi perbincangan yang ramai di masyarakat. Krisis bahan bakar minyak (BBM) saat ini telah menggugah masyarakat bahwa Indonesia sangat bergantung pada minyak bumi. Dilihat dari luas daratan serta tanahnya yang relatif subur, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan bahan bakar dari tumbuhan atau biofuel. Energi alternatif biofuel yang dapat diperbarui dapat memperkuat ketersediaan bahan bakar. Selain itu biofuel juga ramah lingkungan sehingga bisa meningkatkan kualitas udara di beberapa kota besar di Indonesia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESejumlah penelitian yang dilakukan sudah berhasil membuktikan energi yang dihasilkan oleh teknologi ini lebih efesien dari minyak bumi dan relatif lebih ramah lingkungan. Biofuel ini dinilai sangat efesien karena menggunakan bahan-bahan yang melimpah di Indonesia dan dapat diperbaruai. Ketersediaan cadangan bahan bakar ini bisa diatur sesuai dengan kebutuhan sehingga menjamin kestabilan neraca minyak dan energi nasional. Dua jenis biofuel yang dikembangkan di Indonesia adalah penggunaan bioethanol dengan produknya gasohol E-10, dan biodiesel dengan produknya B-10.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPengadaan ethanol dapat dilakukan dari saripati singkong yang dapat ditanam di seluruh wilayah Indonesia, sedangkan untuk pengadaan minyak diesel dapat dilakukan dari pengadaan minyak sawit, minyak buah jarak dan minyak kelapa. Analisa yang dilakukan BPPT menyebutkan bahwa harga biodiesel B-10 di masyarakat sekitar Rp 2.930 per liternya, atau lebih tinggi Rp 160 dari harga bensin yang disubsidi pemerintah. Keuntungannya adalah pemerintah bisa mengurangi jumlah subsidi yang diberikan atau bahkan menghilangkan sama sekali, karena penambahan Rp 160 dinilai masih bisa diterima oleh masyarakat. Hal yang sama juga berlaku pada gasohol E-10 yang bisa dijual pada masyarakat dengan harga Rp 2.560. Harga ini pun masih lebih tinggi Rp 160 dari harga premium bersubsidi, tetapi keuntungannya adalah E-10 memiliki angka oktan 91 yang lebih baik dari premium, dan dapat mengurangi karbonmonoksida dengan signifikan (Anonymous, 2005).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESelain itu keuntungan penggunaan biofuel ini dapat mengatasi pengangguran dan peningkatan kesejahteraan petani. Untuk memproduksi E-10 sebanyak 420.000 kiloliter per tahun diperlukan singkong sekitar 2,5 juta metrik ton. Jumlah ini dapat disediakan dengan penanaman singkong pada lahan seluas 91.000 hektare (ibid). Jumlah lahan ini masih dapat disediakan tanpa harus membuka hutan-hutan seperti dalam pengadaan batu bara dan minyak bumi, karena masih banyak lahan tidur yang tidak terpakai. Hal yang sama pun bisa dilakukan untuk pengadaan minyak sawit, kelapa, dan jarak.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagai bahan bakar cair, biodiesel sangat mudah digunakan dan dapat langsung dimasukkan ke dalam mesin diesel tanpa perlu memodifikasi mesin. Selain itu, dapat dicampur dengan solar untuk menghasilkan campuran biodiesel yang ber-cetane lebih tinggi. Menggunakan biodiesel dapat menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar solar.Biodiesel pun sudah terbukti ramah lingkungan karena tidak mengandung sulfur (Anonymous,2008)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenelitian tentang bahan bakar alternatif sudah dilakukan di banyak negara, seperti Austria, Jerman, Prancis, dan AS. Negara ini mengembangkan teknologi biodiesel dengan memanfaatkan tanaman yang berbeda-beda. Negara Jerman memakai minyak dari tumbuhan rapeseed, AS menggunakan tanaman kedelai, sedangkan untuk Indonesia tanaman yang paling potensial adalah kelapa sawit (Akhairuddin, 2006: 42)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDi beberapa negara lain, untuk mendukung pemakaian biodiesel dan bioethanol, pemerintahnya mengeluarkan kebijakan pemberian insentif. Pemerintah Austria dan Australia mengeluarkan kebijakan kemudahan untuk membangun pabrik biofuel , sehingga pengusaha pun tertarik untuk membangun industri bahan bakar alternatif. Bahkan di Swedia, harga bioethanol BE-85 (85% ethanol dan 15% bensin) dipatok lebih murah 25% daripada bahan bakar konvensional (Akhairuddin, 2006: 55).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EIndonesia bisa belajar dari Brasil yang secara serius mengembangkan teknologi bahan bakar biofuel. Bahkan pabrikan mobil pun sangat antusias untuk mengembangkan teknologi pendukungnya. Contohnya Toyota mulai mengalihkan perhatiannya pada pasar mobil berbahan bakar bensin gasohol untuk Brasil.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3227448859577662847"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3227448859577662847"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/kelapa-sawit-sebagai-alternatif-energi.html","title":"Kelapa Sawit sebagai Alternatif Energi Pengganti (Biofuel)"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-xKMDA8JTaXo\/UKmxwlIlL4I\/AAAAAAAAEf8\/DZZ_RcPAs8A\/s72-c\/BiofuelLifeCycle1.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5401672707456254369"},"published":{"$t":"2012-11-19T11:09:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-19T11:09:00.321+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perkembangan Minyak Kelapa Sawit Dunia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-cQ0SRz2fQNY\/UKmwuW3kFaI\/AAAAAAAAEf0\/Z7toDTN5JM0\/s1600\/0523-im-crude-palm-oil-utilisation.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-cQ0SRz2fQNY\/UKmwuW3kFaI\/AAAAAAAAEf0\/Z7toDTN5JM0\/s640\/0523-im-crude-palm-oil-utilisation.jpg\" width=\"460\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri kelapa sawit di Indonesia telah berkembang pesat dengan dukungan pertumbuhan perkebunan yang sangat pesat pula hingga mencapai lebih dari 6.3 juta hektar yang terdiri dari sekitar 60% yang diusahakan oleh perkebunan besar dan 40% oleh perkebunan rakyat. Pertumbuhan perkebunan sawit ini tidak terlepas dari politik ekspansi pada akhir 1970 an disertai pengenalan PIR sebagai sarana untuk menggerakkan keikut sertaan rakyat dalam budidaya perkebunan sawit. Pertumbuhan pesat juga terjadi pada ke dua jenis pengusahaan yaitu perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Sampai dengan tahun 2007 tercatat 965 perusahaan dengan luas perkebunan 3.753 juta hektar yang dimiliki oleh perkebunan Negara swasta nasional dan asing. Sementara perkebunan rakyat telah mencapai 2,565 juta hektar, suatu perkembangan yang luar biasa mengingat pada awal pengenalanya hanya 3.125 hektar (1979) yang hanya mewakili 1,20% saja dari total perkebunan sawit yang ada ketika itu (Sutrisno, 2008).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAkhir-akhir ini industri kelapa sawit cukup marak dibicarakan, karena dunia saat ini sedang ramai-ramainya mencari sumber energi baru pengganti minyak bumi yang cadangannya semakin menipis. Salah satu alternatif pengganti tersebut adalah energi bio diesel dimana bahan baku utamanya adalah minyak mentah kelapa sawit atau yang lebih dikenal dengan nama Crude Palm Oil (CPO). Bio diesel ini merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan, selain itu sumber energinya dapat terus dikembangkan (Ariati, R, 2007), sangat berbeda dengan minyak bumi yang jika cadangannya sudah habis tidak dapat dikembangkan kembali.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETuntutan masyarakat\/konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan baik dalam proses produksi maupun pemanfaatannya semakin tinggi, ini menimbulkan persaingan produsen untuk memanfaatkan bahan baku yang juga ramah lingkungan, sehingga industri kelapa sawit menjadi pilihan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKonsumsi minyak sawit (CPO ) dunia dari tahun ke tahun terus menunjukkan tren meningkat. Pertumbuhan akan permintaan CPO dunia dalam 5 (lima) tahun terakhir, rata-rata tumbuh sebesar 9,92%. China dengan Indonesia merupakan negara yang paling banyak menyerap CPO dunia. Selain itu negara Uni Eropa juga termasuk konsumen besar pengkomsumsi CPO di dunia (Anonymous, 2006).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESeiring dengan meningkatnya konsumsi dunia, ekspor CPO dalam 5 (lima) tahun terakhir juga menunjukkan tren meningkat, rata-rata peningkatannya adalah sebesar 11%. Eksportir terbesar didunia didominasi oleh Malaysia dan Indonesia, kedua negara tersebut menguasai 91% pangsa pasar ekspor dunia. Papua Nugini berada di urutan ke 3 dengan perbedaan share yang cukup jauh yaitu hanya berkisar 1,3%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003EDiprediksikan peningkatan konsumsi dan ekspor ini akan terus berlanjut bahkan dalam persentase yang lebih besar mengingat faktor yang mendukung hal tersebut cukup banyak, seperti: pertumbuhan penduduk, pertumbuhan industri hilir, perkembangan energi alternatif, dll. Malaysia dan Indonesia diprediksikan akan terus menjadi pemain utama dalam ekspor CPO ini, mengingat belum ada perkembangan yang signifikan dari negara pesaing lainnya. Bahkan Indonesia diprediksikan akan menyalip Malaysia baik dalam produksi maupun ekspor CPO, karena didukung oleh luas lahan yang tersedia dimana Malaysia sudah mulai terbatas.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPermasalahan utama perdagangan dunia CPO sebenarnya bukan terletak pada tingkat permintaan konsumsi atau ekspornya, karena baik konsumsi atau ekspor dunia cenderung meningkat dengan stabil. Permasalahan utamanya justru terletak pada fluktuasi harga yang tidak stabil. Fluktuasi harga CPO ini cenderung dipengaruhi oleh isu-isu yang dibuat oleh negara penghasil produk subtitusi (saingan CPO), yaitu negara-negara penghasil minyak dari kacang kedelai dan jagung yang umumnya merupakan negara di Eropa dan Amerika (negara maju). Isu-isu seperti produk yang tidak higienis, pengrusakan ekosistem hutan termasuk isu pemusnahan orang utan merupakan isu yang diangkat untuk menjatuhkan harga CPO dunia. Harga CPO dunia\u0026nbsp; pada tahun 2006 adalah USD540\/ton, relatif tinggi jika dibandingkan dengan harga selama tujuh tahun terakhir, walaupun pada 1984 harga CPO pernah mencapai USD729\/ton (Anonymous, 2007).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk mengatasi fluktuasi harga ini, pihak gabungan pengusaha kelapa sawit Malaysia (MPOA) dan gabungan petani kelapa sawit Indonesia (GAPKI) mengadakan perjanjian kerja sama yang didukung penuh oleh pemerintahan kedua negara, yang isi perjanjian diantaranya adalah untuk menjaga stabilitas harga CPO. Perkembangan Ekspor dan Konsumsi CPO Dunia.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5401672707456254369"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5401672707456254369"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/perkembangan-minyak-kelapa-sawit-dunia.html","title":"Perkembangan Minyak Kelapa Sawit Dunia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-cQ0SRz2fQNY\/UKmwuW3kFaI\/AAAAAAAAEf0\/Z7toDTN5JM0\/s72-c\/0523-im-crude-palm-oil-utilisation.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3118814821206948160"},"published":{"$t":"2012-11-05T14:11:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T14:11:44.203+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Utara "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 1.119.490 Ton, \nPerkebunan Negara 2009 Sebesar 1.027.143 Ton, Perkebunan Swasta 2009 \nSebesar 1.011.511 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat  Sebesar \n1.411.880 Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara  Sebesar \n1.052.821 Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Swasta  Sebesar \n1.035.787 Ton (Angka Sementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 3.230.488 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 3.158.144 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.115.699 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.022.472 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 3.244.922 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.017.570 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar\n 392.726 ha, Perkebunan Swasta sebesar 352.657 ha dan Perkebunan Negara \nSebesar 299.471 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UOKSSoWXb3s\/UJdmgUzGBlI\/AAAAAAAAEEE\/Os2cez2f-4w\/s1600\/combined-12-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UOKSSoWXb3s\/UJdmgUzGBlI\/AAAAAAAAEEE\/Os2cez2f-4w\/s400\/combined-12-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1208\"\u003EKabupaten Asahan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 69.162\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebuna Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1219\"\u003EKabupaten Batu Bara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.655\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1210\"\u003EKabupaten Dairi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 163\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1212\"\u003EKabupaten Deliserdang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 13.973\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1215\"\u003EKabupaten Humbang Hasundutan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 377\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1211\"\u003EKabupaten Karo\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.071\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1207\"\u003EKabupaten Labuhanbatu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 33.117\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1223\"\u003EKabupaten Labuhan Batu Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 63.730\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1213\"\u003EKabupaten Langkat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 41.293\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1202\"\u003EKabupaten Mandailingnatal\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 14.862\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1221\"\u003EKabupaten Padang Lawas\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.655\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1220\"\u003EKabupaten Padang Lawas Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 24.050\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 13 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1216\"\u003EKabupaten Pakpakbharat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.415\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 14 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1217\"\u003EKabupaten Serdang Bedagai\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11.866\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 15 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1209\"\u003EKabupaten Simalungun\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 27.155\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 16 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1203\"\u003EKabupaten Tapanuli Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5.002\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 17 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1204\"\u003EKabupaten Tapanuli Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.754\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 18 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1205\"\u003EKabupaten Tapanuli Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 40\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 19 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1206\"\u003EKabupaten Tobasamosir\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 686\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3118814821206948160"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3118814821206948160"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sumatera-utara.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Utara "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-UOKSSoWXb3s\/UJdmgUzGBlI\/AAAAAAAAEEE\/Os2cez2f-4w\/s72-c\/combined-12-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8916597292947907431"},"published":{"$t":"2012-11-05T14:09:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T14:09:29.371+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Selatan "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 840.664 Ton, \nPerkebunan Negara 2009 Sebesar 128.780 Ton, Perkebunan Swasta 2009 \nSebesar 1.067.109 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar 857.477\n Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar 132.000 Ton \n(Angka Sementara 2010), Perkebunan Swasta Sebesar 1.092.720 Ton (Angka \nSementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.082.196 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.036.553 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 776.983 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 759.034 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.616.161 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 690.729 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar\n 286.675 ha, Perkebunan Swasta sebesar 390.314 ha dan Perkebunan Negara \nSebesar 128.780  ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-B6uKroylrM8\/UJdmAZ3ENhI\/AAAAAAAAED8\/doonN6J5_CY\/s1600\/combined-16-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-B6uKroylrM8\/UJdmAZ3ENhI\/AAAAAAAAED8\/doonN6J5_CY\/s400\/combined-16-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1607\"\u003EKabupaten Banyuasin\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 31.005\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1611\"\u003EKabupaten Empat Lawang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 66\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1604\"\u003EKabupaten Lahat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 14.048\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1603\"\u003EKabupaten Muaraenim\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 33.091\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1606\"\u003EKabupaten Musibanyuasin\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 61.080\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1605\"\u003EKabupaten Musirawas\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 34.680\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1610\"\u003EKabupaten Ogan Ilir\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.079\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1602\"\u003EKabupaten Ogan Komering Ilir\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 72.715\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1601\"\u003EKabupaten Ogan Komering Ulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 69.779\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1608\"\u003EKabupaten Ogan Komering Ulu Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 80\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1609\"\u003EKabupaten Ogan Komering Ulu Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 16.428\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1674\"\u003EKota Lubuklinggau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 51\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 13 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1672\"\u003EKota Prabumulih\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.120\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8916597292947907431"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8916597292947907431"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sumatera-selatan.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Selatan "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-B6uKroylrM8\/UJdmAZ3ENhI\/AAAAAAAAED8\/doonN6J5_CY\/s72-c\/combined-16-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7337992232317020361"},"published":{"$t":"2012-11-05T14:05:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T14:05:01.466+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Barat "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 377.864 Ton, \nPerkebunan Negara 2009 Sebesar 18.904 Ton, Perkebunan Swasta 2009 \nSebesar 470.970 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar 371.183 \nTon (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar  18,670 Ton (Angka\n Sementara 2010), Perkebunan Swasta Sebesar 462.189 Ton (Angka Sementara\n 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 852.042 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 833.476 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 349.317 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 326.580 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 344.352 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 170.093 ha, Perkebunan Swasta sebesar 166.423 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 7.836 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009 - 2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2Zk5GkhwcP0\/UJdk-QFfd_I\/AAAAAAAAEDs\/qtXHILcK_JM\/s1600\/combined-13-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2Zk5GkhwcP0\/UJdk-QFfd_I\/AAAAAAAAEDs\/qtXHILcK_JM\/s400\/combined-13-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1307\"\u003EKabupaten Agam\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 15.119 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1310\"\u003EKabupaten Dharmasraya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 28.540\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1308\"\u003EKabupaten Limapuluhkota\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 184\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebuanan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1306\"\u003EKabupaten Padangpariaman\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 730\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1309\"\u003EKabupaten Pasaman\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.906\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1311\"\u003EKabupaten Pasaman Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 89.457\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1302\"\u003EKabupaten Pesisir Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 18.220\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1312\"\u003EKabupaten Sijunjung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.403 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1313\"\u003EKabupaten Solok Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.578\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7337992232317020361"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7337992232317020361"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sumatera-barat.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sumatera Barat "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2Zk5GkhwcP0\/UJdk-QFfd_I\/AAAAAAAAEDs\/qtXHILcK_JM\/s72-c\/combined-13-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1778938472037459610"},"published":{"$t":"2012-11-05T14:01:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T14:01:53.455+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Tenggara "},"content":{"type":"html","$t":"\n\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 7.220 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  27-3-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 21.669 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Swasta \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-r7plM0u6PDE\/UJdkOBPsEII\/AAAAAAAAEDc\/eRKXTlr3Exk\/s1600\/combined-74-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-r7plM0u6PDE\/UJdkOBPsEII\/AAAAAAAAEDc\/eRKXTlr3Exk\/s400\/combined-74-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7404\"\u003EKabupaten Kolaka\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 21.033 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1778938472037459610"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1778938472037459610"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sulawesi.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Tenggara "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-r7plM0u6PDE\/UJdkOBPsEII\/AAAAAAAAEDc\/eRKXTlr3Exk\/s72-c\/combined-74-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3973922467850507628"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:56:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:56:53.281+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Tengah "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 41.142 Ton, Perkebunan\n Swasta 2009 sebesar 95.492 Ton. Perkebunan Negara 2009 sebesar 18.003 \nTon. Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar 41.965 Ton (angka Sementara \n2010), Perkebunan Negara Sebesar 18.453 Ton (angka Sementara 2010), \nPerkebunan Swasta sebesar 97.784 Ton (angka Sementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 158.202 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 154.638 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 19.211 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 8.180 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 135.213 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 46.655 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 17.287 ha, dan Perkebunan Swasta sebesar 42.678 ha, Perkebunan Negara Sebesar 5.090 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-f77bObOZbQ4\/UJdjB4UbdGI\/AAAAAAAAEDU\/F9HRRsOj_SQ\/s1600\/combined-72-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-f77bObOZbQ4\/UJdjB4UbdGI\/AAAAAAAAEDU\/F9HRRsOj_SQ\/s400\/combined-72-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7202\"\u003EKabupaten Banggai\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.404\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7207\"\u003EKabupaten Buol\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.260\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7205\"\u003EKabupaten Donggala\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.837 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7203\"\u003EKabupaten Morowali\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.095\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3973922467850507628"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3973922467850507628"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sulawesi-tengah.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Tengah "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-f77bObOZbQ4\/UJdjB4UbdGI\/AAAAAAAAEDU\/F9HRRsOj_SQ\/s72-c\/combined-72-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8002661109987559568"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:54:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:54:44.757+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Selatan "},"content":{"type":"html","$t":"Produksi Perkebunan Kelapa Sawit untuk Tahun  2006 terdiri dari \nProduksi Perkebunan Rakyat :13.252 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n32.386 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 1.821 Ton, Untuk tahun 2009 \nyang terdiri dari Perkebunan Rakyat : 17.101 Ton, Produksi Perkebunan \nNegara : 13.097 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 751 Ton, Untuk tahun \n2010 terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :16.542 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 12.268 Ton,\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nluas lahan Untuk perkebunan Kelapa Sawit Terdiri dari Perkebunan Rakyat :\n 10.794 Ha, Perkebunan Negara : 7.074 Ha, Perkebunan Swasta : 1.894 Ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 28.810 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 30.949 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 47.459 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  07-6-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 19.762 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan  Tahun 2010\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan Makasar 2011\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-GVJMJvAXpaY\/UJdiiFkoaKI\/AAAAAAAAEDM\/LNH8tnyJQus\/s1600\/combined-73-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-GVJMJvAXpaY\/UJdiiFkoaKI\/AAAAAAAAEDM\/LNH8tnyJQus\/s400\/combined-73-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7317\"\u003EKabupaten Luwu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 73\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:19  TM:53, TT\/TR : 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7325\"\u003EKabupaten Luwu Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5.114 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7322\"\u003EKabupaten Luwu Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5.378 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7315\"\u003EKabupaten Pinrang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 229 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7313\"\u003EKabupaten Wajo\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.299 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8002661109987559568"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8002661109987559568"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sulawesi-selatan.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Selatan "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-GVJMJvAXpaY\/UJdiiFkoaKI\/AAAAAAAAEDM\/LNH8tnyJQus\/s72-c\/combined-73-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7421185402728752626"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:52:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:52:39.792+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Barat "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 99.341  Ton,  \nPerkebunan Swasta 2009 Sebesar  107.249 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan \nRakyat Sebesar 101.328  Ton (Angka Sementara 2010),  Perkebunan Swasta \nSebesar 220.344 Ton (Angka Sementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 321.671 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 314.520 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 128.020 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 128.165 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 247.870 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  07-8-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 107.249 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009 - 2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDirektorat Jenderal Perkebunan,  Departemen Pertanian\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-W74H0Pdv9ME\/UJdiEKYqC1I\/AAAAAAAAEDE\/XpfLO0SdqvE\/s1600\/combined-76-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-W74H0Pdv9ME\/UJdiEKYqC1I\/AAAAAAAAEDE\/XpfLO0SdqvE\/s400\/combined-76-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7621\"\u003EKabupaten Mamuju\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.066\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=7624\"\u003EKabupaten Mamuju Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 34.304\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7421185402728752626"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7421185402728752626"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-sulawesi-barat.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Sulawesi Barat "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-W74H0Pdv9ME\/UJdiEKYqC1I\/AAAAAAAAEDE\/XpfLO0SdqvE\/s72-c\/combined-76-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8722483605514052692"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:37:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:37:50.392+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Riau "},"content":{"type":"html","$t":"Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 2.658.044 Ton, \nPerkebunan Negara 2009 Sebesar 337.727 Ton, Perkebunan Swasta 2009 \nSebesar 2.936.539 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar \n2.711.205 Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar 346.170 \nTon (Angka Sementara 2010), Perkebunan Swasta Sebesar 3.007.016 Ton \n(Angka Sementara 2010).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 6.064.391 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 5.932.310 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.368.076 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.054.854 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 4.685.660 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.781.900 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 889.916 ha, Perkebunan Negara sebesar 79.545 dan Perkebunan Swasta sebesar 812.439 ha \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-grD5qQlSol0\/UJdeh9bVPOI\/AAAAAAAAECs\/saY1-1VJRjk\/s1600\/combined-14-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-grD5qQlSol0\/UJdeh9bVPOI\/AAAAAAAAECs\/saY1-1VJRjk\/s400\/combined-14-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1408\"\u003EKabupaten Bengkalis\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 100.814\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1403\"\u003EKabupaten Indragiri Hilir\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 74.488\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1402\"\u003EKabupaten Indragiri Hulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 52.768\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1406\"\u003EKabupaten Kampar\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 152.853\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1401\"\u003EKabupaten Kuantan Singingi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 59.508\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1404\"\u003EKabupaten Pelalawan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 58.685\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1409\"\u003EKabupaten Rokan Hilir\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 119.752\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1407\"\u003EKabupaten Rokan Hulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 142.449\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1405\"\u003EKabupaten Siak\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 101.369\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1473\"\u003EKota Dumai\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 101.369\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1471\"\u003EKota Pekanbaru\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 710\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8722483605514052692"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8722483605514052692"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-riau.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Riau "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-grD5qQlSol0\/UJdeh9bVPOI\/AAAAAAAAECs\/saY1-1VJRjk\/s72-c\/combined-14-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4128785760124992493"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:35:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:35:38.271+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Papua Barat "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 24.868 Ton, Perkebunan\n Negara 2009 Sebesar 32.775 Ton, Perkebunan Swasta 2009 Sebesar 5.590 \nTon, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar 25.365 Ton (Angka \nSementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar 33.594 Ton (Angka Sementara \n2010), Perkebunan Swasta Sebesar 5.724 Ton (Angka Sementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 64.684 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 63.233 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 24.616 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 25.366 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 61.508 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 57.398 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 15.935 ha, Perkebunan Swasta sebesar 5.000 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 10.207 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009 - 2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDirektorat Jenderal Perkebunan,  Departemen Pertanian\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-an4WhGdm_CU\/UJdeCdLkDtI\/AAAAAAAAECk\/5hfKVOpOoB8\/s1600\/combined-92-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-an4WhGdm_CU\/UJdeCdLkDtI\/AAAAAAAAECk\/5hfKVOpOoB8\/s400\/combined-92-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=9207\"\u003EKabupaten Manokwari\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.935\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=9224\"\u003EKabupaten Telukbintuni\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.000\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4128785760124992493"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4128785760124992493"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-papua-barat.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Papua Barat "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-an4WhGdm_CU\/UJdeCdLkDtI\/AAAAAAAAECk\/5hfKVOpOoB8\/s72-c\/combined-92-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5710532534554869551"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:33:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:33:44.213+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Papua "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 15,759 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 24,179 Ton,\n dan Produksi Perkebunan Swasta : 7,932 Ton, Untuk Tahun 2007 Terdiri \ndari : Produksi Perkebunan Rakyat : 17,447 Ton, Untuk tahun 2008 Terdiri\n dari Perkebunan Rakyat : 16,135 ,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : \nProduksi Perkebunan Rakyat : 17,398 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n15,061 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 1,074 Ton ,Untuk Tahun 2010\n Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 17,746 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 15,438 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 1,100 \nTon Status Masih Sementara\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLuas Lahan Perkebunan kelapa Sawit Terdiri dari Perkebunan Rakyat : \n9,818 Ha, Perkebunan Negara :14,720 Ha, Dan Perkebunan Swasta: 1,074 Ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 34.283 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 33.533 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 16.135 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 17.447 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 47.870 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  07-8-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 26.256 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fYDS1-hWagM\/UJddg6a6tcI\/AAAAAAAAECc\/bylV9A18c-A\/s1600\/combined-91-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fYDS1-hWagM\/UJddg6a6tcI\/AAAAAAAAECc\/bylV9A18c-A\/s400\/combined-91-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=9115\"\u003EKabupaten Asmat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 72 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=9120\"\u003EKabupaten Keerom\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.300 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=9101\"\u003EKabupaten Merauke\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 518 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5710532534554869551"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5710532534554869551"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-papua.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Papua "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fYDS1-hWagM\/UJddg6a6tcI\/AAAAAAAAECc\/bylV9A18c-A\/s72-c\/combined-91-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7704549836206957853"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:30:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:31:03.482+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Lampung "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Perkebunan Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : \nProduksi Perkebunan Rakyat :165,650 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n53,752 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 165,340 ton,Untuk Tahun 2007 \nterdiri dari Produksi Perkebunan Rakyat :111,212 Ton, Untuk tahun 2008 \nyang terdiri dari Perkebunan Rakyat : 104,865 Ton,Untuk Tahun 2009 \nterdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :162,847 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 33,755, Produksi Perkebunan Swasta : 168,260, Untuk \ntahun 2010 terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat :166,104 Ton, \nProduksi Perkebunan Negara : 34,599 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : \n172,298 Ton statusnya masih sementara\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLuas Area Untuk Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari perkebunan \nRakyat:78,010 Ha, Perkebunan Negara : 11,379 Ha, Perkebunan Swasta: \n63,771 Ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E373.001 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E364.862 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E104.865 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E111.212 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E388.742 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUpdated:  09-8-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003ELahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E153.160 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\nStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\nKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-OnmUEm_-s40\/UJdc8GdrPvI\/AAAAAAAAECU\/UKeZ1Rcfp8w\/s1600\/combined-18-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-OnmUEm_-s40\/UJdc8GdrPvI\/AAAAAAAAECU\/UKeZ1Rcfp8w\/s400\/combined-18-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cb id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENo \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ELuas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1801\"\u003EKabupaten Lampung Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.007 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1803\"\u003EKabupaten Lampung Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.738 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1805\"\u003EKabupaten Lampung Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.562 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1804\"\u003EKabupaten Lampung Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.682 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1806\"\u003EKabupaten Lampung Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.019 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1809\"\u003EKabupaten Pesawaran\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 493 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1802\"\u003EKabupaten Tanggamus\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 174\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:10 TM:95 TTM:69 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1808\"\u003EKabupaten Tulangbawang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 36.742 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1807\"\u003EKabupaten Waykanan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 15.563 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1871\"\u003EKota Bandarlampung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 30\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:30 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7704549836206957853"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7704549836206957853"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-lampung.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Lampung "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-OnmUEm_-s40\/UJdc8GdrPvI\/AAAAAAAAECU\/UKeZ1Rcfp8w\/s72-c\/combined-18-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2820761317695497211"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:27:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:27:43.518+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Kepulauan Riau "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari :  Produksi \nPerkebunan Swasta : 15,495 Ton, Untuk Tahun 2007 Terdiri dari : Produksi\n Perkebunan Swasta : 15,495 Ton Status Masih Sementara,Untuk Tahun 2009 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 197 Ton, Untuk Tahun 2010 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 191 Ton, Status Masih \nSementara\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 191 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 187 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 3.169 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 15.495 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 15.495 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\n\t\tUpdated:  05-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.645 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Perkebunan Rakyat : 2002,645, \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2008 - 2010\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-vLg2lUklLT0\/UJdcK0YkEtI\/AAAAAAAAECM\/OdgvGNM5YJQ\/s1600\/combined-21-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-vLg2lUklLT0\/UJdcK0YkEtI\/AAAAAAAAECM\/OdgvGNM5YJQ\/s400\/combined-21-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=2102\"\u003EKabupaten Bintan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 885 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2820761317695497211"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2820761317695497211"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-kepulauan-riau.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Kepulauan Riau "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-vLg2lUklLT0\/UJdcK0YkEtI\/AAAAAAAAECM\/OdgvGNM5YJQ\/s72-c\/combined-21-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-9145897728577375753"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:25:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:25:38.475+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Timur "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 122.815 Ton, \nPerkebunan Negara 2009 Sebesar 51.939 Ton, Perkebunan Swasta 2009 \nSebesar 379.080 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat Sebesar 125.271 \nTon (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar 53.238  Ton (Angka\n Sementara 2010), Perkebunan Swasta Sebesar 388.178 Ton (Angka Sementara\n 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 566.687 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 553.834 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 83.357 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 51.359 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 297.095 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\n\t\tUpdated:  16-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 409.466 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 115.484 ha, Perkebunan Swasta sebesar 379.080 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 15.937 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gnOgTGMi9Qg\/UJdbpCP5QrI\/AAAAAAAAECE\/MBvaFWdEpGo\/s1600\/combined-64-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gnOgTGMi9Qg\/UJdbpCP5QrI\/AAAAAAAAECE\/MBvaFWdEpGo\/s400\/combined-64-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6405\"\u003EKabupaten Berau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 204\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6407\"\u003EKabupaten Bulungan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.023 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6403\"\u003EKabupaten Kutai Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 626\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6402\"\u003EKabupaten Kutai Kartanegara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9.472\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6404\"\u003EKabupaten Kutai Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 35.515\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6408\"\u003EKabupaten Nunukan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.054\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6401\"\u003EKabupaten Paser\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 52.867\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6409\"\u003EKabupaten Penajam Paser Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.633\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6472\"\u003EKota Samarinda\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 804\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6473\"\u003EKota Tarakan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 804\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9145897728577375753"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9145897728577375753"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-kalimantan-timur.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Timur "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gnOgTGMi9Qg\/UJdbpCP5QrI\/AAAAAAAAECE\/MBvaFWdEpGo\/s72-c\/combined-64-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-610447033871869018"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:22:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:22:53.698+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 8,260 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 15,604 Ton, \ndan Produksi Perkebunan Swasta : 119,609 Ton, Untuk Tahun 2007 Terdiri \ndari : Produksi Perkebunan Rakyat : 8,180 Ton, Untuk Tahun 2008 Terdiri \ndari perkebunan Rakyat : 19,211,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : Produksi\n Perkebunan Rakyat : 188,327 Ton,  Produksi Perkebunan Swasta :1,489,649\n Ton ,Untuk Tahun 2010 Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : \n278.272 Ton, Produksi Perkebunan Swasta : 1.935.821 Ton \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLuas Area Perkebunan Kopi Terdiri Dari Perkebunan Rakyat : 144.619 Ha, Perkebunan Swasta: 1.126.359 Ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 2.214.093 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.677.976 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 19.211 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 8.180 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.383.317 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  03-7-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.270.980 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan  Provinsi Kalimantan Tengah Angka Tetap 2010\u003Cbr \/\u003E\n\t\tPemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dinas Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-C5oXVeFzHyE\/UJdbFn2o5cI\/AAAAAAAAEB8\/x1NX5AdyjWQ\/s1600\/combined-62-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-C5oXVeFzHyE\/UJdbFn2o5cI\/AAAAAAAAEB8\/x1NX5AdyjWQ\/s400\/combined-62-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6204\"\u003EKabupaten Barito Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 909 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6212\"\u003EKabupaten Barito Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.509 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6205\"\u003EKabupaten Barito Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 27.813 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6209\"\u003EKabupaten Katingan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 55.657 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6201\"\u003EKabupaten Kotawaringin Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 194.965 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6202\"\u003EKabupaten Kotawaringin Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 519.809 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6207\"\u003EKabupaten Lamandau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 309.143 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6213\"\u003EKabupaten Murungraya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6208\"\u003EKabupaten Seruyan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 292.630 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6206\"\u003EKabupaten Sukamara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 42.852 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6271\"\u003EKota Palangkaraya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 168\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: luas Lahan Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/610447033871869018"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/610447033871869018"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-kalimantan_5.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-C5oXVeFzHyE\/UJdbFn2o5cI\/AAAAAAAAEB8\/x1NX5AdyjWQ\/s72-c\/combined-62-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7541674887518522232"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:20:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:20:31.229+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Barat "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 350,171 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 134,886 \nTon, dan Produksi Perkebunan Swasta : 565,393 Ton, Untuk Tahun 2007 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 385,130 Ton,Untuk Tahun 2008\n Produksi Perkebunan Rakyat : 392,002 Ton,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari :\n Produksi Perkebunan Rakyat : 394,014 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n128,877 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 339,624 Ton ,Untuk Tahun \n2010 Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 401,894 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 132,099 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : \n347,775 Ton Status Masih Sementara\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLuas Area Untuk Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari perkebunan \nRakyat:189,255 Ha, Perkebunan Negara :42,072, Perkebunan Swasta : \n299,248 Ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 881.768 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 862.515 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 392.002 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 385.130 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.050.450 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  06-8-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 530.575 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-jVu4wR066i8\/UJdaghGdNTI\/AAAAAAAAEB0\/eJJ6ikYb19E\/s1600\/combined-61-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-jVu4wR066i8\/UJdaghGdNTI\/AAAAAAAAEB0\/eJJ6ikYb19E\/s400\/combined-61-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6102\"\u003EKabupaten Bengkayang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.915 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6108\"\u003EKabupaten Kapuas Hulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10.446 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6106\"\u003EKabupaten Ketapang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 49.936\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6112\"\u003EKabupaten Kubu Raya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.862\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6103\"\u003EKabupaten Landak\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 10.759 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6109\"\u003EKabupaten Melawi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.404 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6104\"\u003EKabupaten Pontianak\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 164\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6101\"\u003EKabupaten Sambas\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 8.037\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6105\"\u003EKabupaten Sanggau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 63.238\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6110\"\u003EKabupaten Sekadau\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 24.634 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6107\"\u003EKabupaten Sintang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.046 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6172\"\u003EKota Singkawang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.260 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7541674887518522232"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7541674887518522232"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-kalimantan-barat.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Barat "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-jVu4wR066i8\/UJdaghGdNTI\/AAAAAAAAEB0\/eJJ6ikYb19E\/s72-c\/combined-61-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8503180753938224664"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:18:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:18:04.169+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Jawa Barat "},"content":{"type":"html","$t":"\n\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 18.468 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 14.149 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  23-4-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 10.580 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2008-2010\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NQ6DMo9Gty4\/UJdZ6WKZzwI\/AAAAAAAAEBs\/kol9OU61Yn8\/s1600\/combined-32-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NQ6DMo9Gty4\/UJdZ6WKZzwI\/AAAAAAAAEBs\/kol9OU61Yn8\/s400\/combined-32-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3201\"\u003EKabupaten Bogor\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.486 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3205\"\u003EKabupaten Garut\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.289 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3212\"\u003EKabupaten Indramayu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.289 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3202\"\u003EKabupaten Sukabumi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.805 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8503180753938224664"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8503180753938224664"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-jawa-barat.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Jawa Barat "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NQ6DMo9Gty4\/UJdZ6WKZzwI\/AAAAAAAAEBs\/kol9OU61Yn8\/s72-c\/combined-32-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1553141128637893135"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:16:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:16:01.807+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Jambi "},"content":{"type":"html","$t":"Produksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 584,007 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 104,351 \nTon, dan Produksi Perkebunan Swasta : 593,278 Ton, Untuk Tahun 2007 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 599,949 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 104,351 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : \n593,278 Ton Status Masih Sementara,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : \nProduksi Perkebunan Rakyat : 767,901 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n77,699 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 420,188 Ton ,Untuk Tahun \n2010 Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 783,259 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 79,641 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 430,273\n Ton Status Masih Sementara\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPerkebunan Rakyat terdiri dari : 320,554 Ha, perkebunan Negara : 18,607 Ha, Perkebunan Swasta : 150,223 Ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.293.173 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.265.788 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.203.430 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.297.578 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 1.281.636 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  06-8-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 489.384 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-DbLdC5UjicM\/UJdZdJ9vA3I\/AAAAAAAAEBk\/tjqWsm1tm84\/s1600\/combined-15-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-DbLdC5UjicM\/UJdZdJ9vA3I\/AAAAAAAAEBk\/tjqWsm1tm84\/s400\/combined-15-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1504\"\u003EKabupaten Batanghari\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 32.393 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1509\"\u003EKabupaten Bungo\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 37.329 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1501\"\u003EKabupaten Kerinci\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 94 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1502\"\u003EKabupaten Merangin\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 49.427 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1505\"\u003EKabupaten Muarojambi\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 90.305 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1507\"\u003EKabupaten Tanjungjabung Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 73.058 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1506\"\u003EKabupaten Tanjungjabung Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 24.975 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1508\"\u003EKabupaten Tebo\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 32.289 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1553141128637893135"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1553141128637893135"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-jambi.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Jambi "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-DbLdC5UjicM\/UJdZdJ9vA3I\/AAAAAAAAEBk\/tjqWsm1tm84\/s72-c\/combined-15-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6290074700998574104"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:12:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:12:42.827+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Banten "},"content":{"type":"html","$t":"Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 8.387 Ton, Perkebunan \nNegara 2009 Sebesar 16.287 Ton. Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat \nSebesar 8.555 Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Negara Sebesar \n16.694 Ton.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 25.249 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 24.674 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 8.611 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 12.665 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 38.246 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\n\t\tUpdated:  28-2-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 15.023 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 6.795 ha Dan Perkebunan Negara Sebesar 8.228 ha. \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-F5PSaHpB2EI\/UJdYcFxZSsI\/AAAAAAAAEBc\/grX7AzAPEQk\/s1600\/combined-36-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-F5PSaHpB2EI\/UJdYcFxZSsI\/AAAAAAAAEBc\/grX7AzAPEQk\/s400\/combined-36-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3602\"\u003EKabupaten Lebak\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.888\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=3601\"\u003EKabupaten Pandeglang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.907\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6290074700998574104"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6290074700998574104"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-banten.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Banten "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-F5PSaHpB2EI\/UJdYcFxZSsI\/AAAAAAAAEBc\/grX7AzAPEQk\/s72-c\/combined-36-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3715755885088967493"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:09:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:09:03.484+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Bengkulu "},"content":{"type":"html","$t":"Produksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 202,782 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 11,264 \nTon, dan Produksi Perkebunan Swasta : 159,769 Ton, Untuk Tahun 2007 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 202,782 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 11,264 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 159,769\n Ton Status Masih Sementara,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 399,150 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 19,621 \nTon, dan Produksi Perkebunan Swasta : 183,964 Ton ,Untuk Tahun 2010 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 407,133 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 20,112 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 188,379\n Ton Status Masih Sementara\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPerkebunan Rakyat : 165,627, Perkebunan Negara : 4,725, Perkebunan Swasta : 183,964\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 615.624 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 602.735 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 450.278 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 373.815 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 373.815 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\nUpdated:  04-5-2012\u003Cbr \/\u003E\n\t\t\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 224.651 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-zCyfXy_LlJg\/UJdX5Jord5I\/AAAAAAAAEBU\/zM3ugfFG3to\/s1600\/combined-17-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-zCyfXy_LlJg\/UJdX5Jord5I\/AAAAAAAAEBU\/zM3ugfFG3to\/s400\/combined-17-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1701\"\u003EKabupaten Bengkulu Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11.834 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1709\"\u003EKabupaten Bengkulu Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 3.784 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1703\"\u003EKabupaten Bengkulu Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 22.932 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1704\"\u003EKabupaten Kaur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.185\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:2,548 TM:1,635 TTM:2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1707\"\u003EKabupaten Kepahiang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 40 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1708\"\u003EKabupaten Lebong\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 30\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:20 TM:10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1706\"\u003EKabupaten Muko-Muko\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 100.412 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1702\"\u003EKabupaten Rejanglebong\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 22 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1705\"\u003EKabupaten Seluma\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 20.726 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1771\"\u003EKota Bengkulu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.662\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:150 TM:1,506 TTM:6 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\t"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3715755885088967493"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3715755885088967493"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-bengkulu.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Bengkulu "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-zCyfXy_LlJg\/UJdX5Jord5I\/AAAAAAAAEBU\/zM3ugfFG3to\/s72-c\/combined-17-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5115622883651506201"},"published":{"$t":"2012-11-05T13:06:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T13:06:27.251+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Bangka-Belitung "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJumlah Produksi Perkebunan Rakyat 2009 Sebesar 19.888 Ton, Perkebunan\n Swasta 2009 Sebesar 462.318 Ton, Jumlah Produksi Perkebunan Rakyat \nSebesar 20.285 Ton (Angka Sementara 2010), Perkebunan Swasta Sebesar \n473.414 Ton (Angka Sementara 2010).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 493.699 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 482.206 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 19.087 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 4.082 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Produksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 384.549 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tUpdated:  23-2-2012\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Lahan yang Sudah Digunakan (Ha) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E 141.897 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003E Status Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E Luas Areal Perkebunan Rakyat sebesar 34.659 ha, dan Perkebunan Swasta sebesar 107.238 ha \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\t\tSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\n\t\tDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lZupADEM4lA\/UJdXIDlpPJI\/AAAAAAAAEBM\/_A0yfYc0Fn8\/s1600\/combined-19-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lZupADEM4lA\/UJdXIDlpPJI\/AAAAAAAAEBM\/_A0yfYc0Fn8\/s400\/combined-19-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cstrong id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/strong\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\t\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E No \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Nama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003E Luas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1901\"\u003EKabupaten Bangka\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.446\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1901\"\u003EKabupaten Bangka\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.918\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1903\"\u003EKabupaten Bangka Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.611\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1903\"\u003EKabupaten Bangka Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.612 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1905\"\u003EKabupaten Bangka Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 14.878\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1905\"\u003EKabupaten Bangka Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 14.878 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1904\"\u003EKabupaten Bangka Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1904\"\u003EKabupaten Bangka Tengah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1902\"\u003EKabupaten Belitung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1902\"\u003EKabupaten Belitung\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1906\"\u003EKabupaten Belitung Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810\u003Cbr \/\u003E\n\t\tStatus Lahan: Perkebunan Rakyat \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E 12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E \u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1906\"\u003EKabupaten Belitung Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.810 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5115622883651506201"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5115622883651506201"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-bangka-belitung.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Bangka-Belitung "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-lZupADEM4lA\/UJdXIDlpPJI\/AAAAAAAAEBM\/_A0yfYc0Fn8\/s72-c\/combined-19-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7467144548212087355"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:53:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:57:47.644+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Aceh"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 117,960 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 149,100 \nTon, dan Produksi Perkebunan Swasta : 498,356 Ton, Untuk Tahun 2007 \nTerdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 121,528 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 149,100 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : \n498,382 Ton Status Masih Sementara,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : \nProduksi Perkebunan Rakyat : 181,632 Ton, Produksi Perkebunan Negara : \n67,936 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 233,327 Ton ,Untuk Tahun \n2010 Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat : 185,265 Ton, Produksi \nPerkebunan Negara : 69,634 Ton, dan Produksi Perkebunan Swasta : 238,927\n Ton Status Masih Sementara\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPerkebunan Rakyat : 142,233 Ha, Perkebunan Negara : 40,710 Ha, dan Perkebunan Swasta : 136,224 Ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E493.826 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E482.895 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E326.665 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E769.010 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E765.416 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"posted\" style=\"width: 100%;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\nStatistik Perkebunan Indonesia 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\nDepartemen Pertanian \nDirektorat Jenderal Perkebunan \nJakarta 2010\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUpdated:  03-8-2012\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-D1K3HO7XPcc\/UJdU5_xkfDI\/AAAAAAAAEBE\/j1VpXZ41bzM\/s1600\/combined-11-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-D1K3HO7XPcc\/UJdU5_xkfDI\/AAAAAAAAEBE\/j1VpXZ41bzM\/s400\/combined-11-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003Ctd class=\"legenda\"\u003E\u003Cinput checked=\"checked\" name=\"legendlayername[]\" type=\"checkbox\" value=\"Kelapa Sawit\" \/\u003E\u003C\/td\u003E\t\n\t\t\t\t\t\u003Ctd class=\"legenda\"\u003E\u003C\/td\u003E\u003Ctd align=\"left\" class=\"legenda\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003Ctd class=\"legenda\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003Ctd class=\"legenda\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003Ctd class=\"legenda\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd align=\"left\" class=\"legenda\" colspan=\"6\"\u003E\u003Cdiv class=\"posted\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cb id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/b\u003E\n\n\n\n\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENo \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ELuas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1107\"\u003EKabupaten Aceh Barat\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.978 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1112\"\u003EKabupaten Aceh Barat Daya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.837\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari TBM: 2,158, TM :589, TTM: 90 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1108\"\u003EKabupaten Aceh Besar\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.200\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Terdiri TBM: 435, TM : 71, TTM : 694 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1116\"\u003EKabupaten Aceh Jaya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.519 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1103\"\u003EKabupaten Aceh Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 5.848 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1102\"\u003EKabupaten Aceh Singkil\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.318\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari TBM : 4,516, TM : 13,947, TTM: 855 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1114\"\u003EKabupaten Aceh Tamiang\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 19.611 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1104\"\u003EKabupaten Aceh Tenggara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.921 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1105\"\u003EKabupaten Aceh Timur\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 16.573 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1111\"\u003EKabupaten Aceh Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 16.089 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1117\"\u003EKabupaten Bener Meriah\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 52\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari TBM: 8,TM : 44 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1110\"\u003EKabupaten Bireuen\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 4.372\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari : TBM : 1,772, TM: 2,468, TTM: 132 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E13 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1115\"\u003EKabupaten Naganraya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 27.434\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit yang terdiri dari : TBM : 13,270, TM : 13,963, TTM :201 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E14 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1109\"\u003EKabupaten Pidie\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 55\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas lahan perkebunan kelapa sawit yang terdiri dari TM: 5 , TTM: 50 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E15 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1118\"\u003EKabupaten Pidie Jaya\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 56 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E16 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1101\"\u003EKabupaten Simeulue\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.688\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Yang terdiri dari : TBM : 1,684, TM : 2, TTM : 2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E17 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1173\"\u003EKota Langsa\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 375\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Terdiri Dari TBM : 9, TM : 366 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E18 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1174\"\u003EKota Lhokseumawe\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 207\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit terdiri dari TBM : 137, TM :70 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E19 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=1175\"\u003EKota Subulussalam\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 11.309 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\n\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7467144548212087355"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7467144548212087355"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-aceh.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Aceh"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-D1K3HO7XPcc\/UJdU5_xkfDI\/AAAAAAAAEBE\/j1VpXZ41bzM\/s72-c\/combined-11-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1178218708516588950"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:52:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:58:47.710+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProduksi Kelapa Sawit untuk Tahun 2006 Terdiri dari : Produksi \nPerkebunan Rakyat : 40,296 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 3,007 Ton, \ndan Produksi Perkebunan Swasta : 264,067 Ton, Untuk Tahun 2007 Terdiri \ndari : Produksi Perkebunan Rakyat : 51,359 Ton, Untuk Tahun 2008 Terdiri\n dari :83,357,Untuk Tahun 2009 Terdiri dari : Produksi Perkebunan Rakyat\n : 90,616 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 5,010 Ton, dan Produksi \nPerkebunan Swasta :328,683 Ton ,Untuk Tahun 2010 Terdiri dari : Produksi\n Perkebunan Rakyat : 92,428 Ton, Produksi Perkebunan Negara : 5,135 Ton,\n dan Produksi Perkebunan Swasta : 336,571 Ton Status Masih Sementara\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLuas Area Untu Perkebunan Kelapa Sawit Terdiri dari Perkebunan Rakyat : \n54,550 Ha, Perkebunan Negara: 4,865 Ha, Perkebunan Swasta :253,304 Ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"table\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2010 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E434.135 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2009 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E424.309 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2008 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E83.357 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2007 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E51.359 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"th\"\u003EProduksi 2006 (Ton) \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"td\"\u003E30.370 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003ELahan yang Sudah Digunakan (Ha) \n\t\t 312.719\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Doj1sxgclQ0\/UJdT8o07CVI\/AAAAAAAAEA8\/KfUJSlQA33I\/s1600\/combined-63-111.94.53.143-05111212.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"285\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Doj1sxgclQ0\/UJdT8o07CVI\/AAAAAAAAEA8\/KfUJSlQA33I\/s400\/combined-63-111.94.53.143-05111212.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr height=\"30\"\u003E\u003Ctd class=\"txt11\" style=\"border-bottom: solid 1px #dedede; color: black;\"\u003E\u003Cb id=\"judul\"\u003EWilayah Potensi Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E\n\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"2\" cellspacing=\"2\" style=\"width: 100%px;\"\u003E\n\t\t\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENo \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ENama Daerah \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003Cth align=\"center\" bgcolor=\"#D0D0D0\" class=\"col\"\u003ELuas Lahan \u003C\/th\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E1 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6311\" target=\"_blank\"\u003EKabupaten Balangan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ESisa Lahan Tersedia (Ha): 7.854\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Tanah Terlantar \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E2 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6311\" target=\"_blank\"\u003EKabupaten Balangan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 2.437 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E3 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6311\" target=\"_blank\"\u003EKabupaten Balangan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 420\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:286 TM:130 TTM:4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E4 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6303\" target=\"_blank\"\u003EKabupaten Banjar\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 860 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E5 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6306\" target=\"_blank\"\u003EKabupaten Hulusungai Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.083 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E6 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6306\"\u003EKabupaten Hulusungai Selatan\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 1.918\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:1,677 TM:231 TTM:10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E7 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6308\"\u003EKabupaten Hulusungai Utara\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E8 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6302\"\u003EKabupaten Kotabaru\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 18.362 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E9 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6309\"\u003EKabupaten Tabalong\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 815 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E10 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6309\"\u003EKabupaten Tabalong\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 6.989 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E11 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6310\"\u003EKabupaten Tanahbumbu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 42.439 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E12 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6310\"\u003EKabupaten Tanahbumbu\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 51.200 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E13 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6301\"\u003EKabupaten Tanahlaut\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 7.237 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E14 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6305\"\u003EKabupaten Tapin\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 150\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:150 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E15 \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/regionalinvestment.bkpm.go.id\/newsipid\/id\/commodityarea.php?ic=2\u0026amp;ia=6372\"\u003EKota Banjarbaru\u003C\/a\u003E \u003C\/td\u003E\n\t\t\u003Ctd bgcolor=\"#E8E8E8\" class=\"data\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (Ha): 150\u003Cbr \/\u003E\nStatus Lahan: Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:145 TTM:5 \u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nSumber Data: \u003Cbr \/\u003E\nStatistik Perkebunan 2009-2011\u003Cbr \/\u003E\nKementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1178218708516588950"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1178218708516588950"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/potensi-kelapa-sawit-di-kalimantan.html","title":"Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-Doj1sxgclQ0\/UJdT8o07CVI\/AAAAAAAAEA8\/KfUJSlQA33I\/s72-c\/combined-63-111.94.53.143-05111212.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5023153156852994032"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:48:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:48:50.538+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kelapa Sawit, Tanaman Surga Atau Neraka?"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-CwiHk0Sgctk\/UJdTN0JYrkI\/AAAAAAAAEA0\/iU7mZ5edZlo\/s1600\/h.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"171\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-CwiHk0Sgctk\/UJdTN0JYrkI\/AAAAAAAAEA0\/iU7mZ5edZlo\/s320\/h.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam acara ILC yang mengupas tandas kasus gratifikasi Bupati Buol, secara tak langsung kasus itu mengangkat isu negatif perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Acara talkshow yang dipandu Karni Ilyas itu - dan penulis menontonnya dari awal sampai akhir - terkejut mendengar berbagai pendapat tokoh. Bahwa kelapa sawit telah menjadi malapetaka bagi Rakyat Indonesia, bahwa masyarakat di sekitar perkebunan hanya gigit jari, menjadi penonton di tanah leluhurnya sendiri. Bahwa pembukaan perkebunan telah mengakibatkan kerusakan hutan yang masif, bahwa kebun kelapa sawit seharusnya diberantas dari Bumi Indonesia…..\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAnggota DPR bertubuh tambun, secara berapi-api mengatakan, di kampungnya, di Pasaman, puluhan desa digusur oleh perusahaan perkebunan, masyarakat tercerabut dari sumber kehidupannya. Janji pengusaha untuk memberikan 30 % lahan plasma kepada masyarakat sekitarnya hanyalah pepesan kosong belaka, tak pernah ada realisasinya. Akbar Faisal dari Partai Hanura mendukung sinyalemen itu. Karni Ilyas sendiri sebagai jurnalis senior, meneteskan kebenciannya terhadap kebun kelapa sawit. Sedangkan Sujiwo Tejo sebagai budayawan, menyuarakan pendapat yang lebih menusuk: “Tidak semestinya Indonesia bangga dengan predikat pemasok minyak goreng dunia. Menciptakan lapangan kerja dengan merusak hutan. Seharusnya masyarakat lebih mengandalkan lapangan kerja dari pengembangan pariwisata, kesenian, menari, bermain musik……”\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk pertama kalinya saya melihat Sujiwo Tejo, ternyata dangkal!\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPenulis tak tahu darimana mereka mendapat fakta-fakta itu. Apakah dari pemberitaan, dari isu-isu yang ditiupkan LSM, dari kerabat mereka, atau dengan melihatnya secara langsung. Karena bagi saya sendiri yang mengelola 10 hektar kebun sawit eks-plasma, persoalan yang dihadapi sangat jauh dari itu, meskipun pada akhirnya menimbulkan permasalahan serupa.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EYang pertama\u003C\/b\u003E, seluruh perkebunan itu telah melewati prosedur administrasi tertentu menyangkut perijinan, studi kelayakan dan segala hal yang diperlukan, dengan Bupati sebagai pengambil kata putus. Bupati adalah Kepala daerah sekaligus Ketua Majelis Adat\/Raja Adat. Siapa pula yang berani menentang Bupati jaman sekarang ini? Hampir seluruh perkebunan itu dibuka dengan inisiatif pertama datang dari Bupati, dengan maksud luhur memacu pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja bagi rakyatnya. Dengan demikian jika terdapat bukti perkebunan telah merambah Hutan Lindung atau menciptakan kesengsaraan di tengah masyarakat, maka Bupati dan perangkatnya dapat diseret sebagai terdakwa utama! \u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EOleh: Add. Tengkubintang, petani, tinggal di Sumatera.\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EYang kedua\u003C\/b\u003E, perbandingan Kebun Inti dan Kebun Plasma adalah 50 : 50. Setiap perkebunan berkewajiban mengalokasikan setengah dari kebun yang dibukanya untuk masyarakat sekitarnya. Jika lahan yang dibuka itu telah ada pemiliknya sebelumnya, maka petani secara langsung mendapatkan haknya dengan bukti surat peserta plasma. Tetapi bagaimana jika kebun yang hendak dibuka itu adalah hutan belantara atau rawa-rawa tak berpenghuni, sementara aturan 50 : 50 mesti dijalankan? Untuk menyiasatinya, muncullah inisiatif merekayasa Desa Fiktif, KUD Fiktif, ribuan KTP fiktif. Kartu tanda peserta plasma ini nantinya akan dikuasai oleh oknum-oknum yang membuatnya, termasuk oknum Kepala Desa, Oknum Tokoh Masyarakat, Oknum Pejabat, dan lain-lain. Surat-surat fiktif ini nantinya akan diperjualbelikan kepada masyarakat pendatang. (Ingat, seorang Haji dalam acara ILC ketika membahas kasus Mesuji, ia adalah warga\u0026nbsp; Palembang yang menguasai 400 hektar kebun plasma yang dipersengketakan). Saling tuding memperebutkan Kartu Plasma fiktif inilah yang acap mengawali pertikaian, lalu menjelma menjadi persoalan besar di belakang hari. Bagi Anda yang tidak percaya dengan kenyataan ini silakan datang ke sekitar perkebunan, niscaya akan menemukan surat-surat plasma ramai diperjualbelikan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKembali ke soal Kebun Plasma, tentu saja manajemen perkebunan membangunnya dengan pinjaman dari bank. Konsekwensinya adalah, pengelola kebun berkewajiban merawat kebun plasma itu sebagaimana kebun inti, hingga panen. Setelah panen pun, petani plasma tetap tidak diijinkan merawat dan memanennya, untuk tertib administrasi. Petani plasma duduk manis saja di rumah, menunggu dikirimi 30 % dari hasil panen. Sedangkan yang 70 % dianggap sebagai biaya pemeliharaan sekaligus pengembalian modal bank. Jika petani ingin langsung mengambil alih kebunnya, dipersilakan, dengan perhitungan setiap batang kelapa sawit dihargai Rp. 1.800.000.- (sekarang ini). Jika tidak, tunggulah sampai 13 tahun, sampai kewajiban bank selesai, kemudian diserahkan utuh kepada petani.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPada tahap ini mulai muncul beragam persoalan. Petani plasma yang merasa memiliki hak atas kebun, tidak peduli dengan turun-naiknya harga TBS kelapasawit atau panen yang menurun akibat cuaca atau fluktuasi musim, jika melihat rekeningnya di bank tidak bertambah maka ia mulai protes. Lebih-lebih jika dikompori oleh LSM provokator, dengan mengandalkan jumlah massa mereka ramai-ramai memasuki kebun sawit dan mulai memanen sendiri. Tentu saja akan timbul persoalan dengan manajemen perkebunan!\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EYang ketiga,\u003C\/b\u003E menyebut kelapa sawit sebagai tanaman perusak lingkungan. Penyebab kekeringan, rakus terhadap unsur hara tanah, dan sebagainya. Mungkin ada benarnya, tak ada sesuatu pun dapat dilakukan tanpa efek samping. Namun perlu dicatat, bahwa daerah Pematang Siantar, Rantau Prapat, Kisaran, Ujungbatu, Pekanbaru dan Jambi adalah daerah dengan sentra-sentra kebun kelapa sawit sejak dahulu. Hingga kini tak pernah terdengar daerah itu kekeringan, juga tidak menjadi tandus. Justru di Wonogiri dan Tengger yang tak ada kelapa sawit setiap tahun mengalami bencana kekeringan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cb\u003EYang keempat\u003C\/b\u003E, keberadaan kebun kelapa sawit sangatlah berperan membangkitkan perekonomian masyarakat pedesaan. Kebun sawit adalah arena padat karya. Tak terhitung banyaknya warga masyarakat yang mencari penghidupan di perkebunan sawit, sebagai buruh maupun sebagai pegawai. Bagi yang berkeinginan membuka kebun sendiri, secara plasma atau pun mandiri, tak perlu khawatir karena hasil panen dapat dijual ke pabrik perkebunan. Tak sedikit warga pedesaan yang berkesempatan naik haji dengan mengandalkan penghasilan kebun sawitnya, cukup 4 hektar saja. Tentu, bagi petani yang gigih bekerja mensyukuri Nikmat Tuhan. Sedangkan petani yang tak suka bertani, yang gemar bersolek, yang kerjanya hanya bergunjing dan menggerutu, maka baginya tak ada penghasilan kecuali menunggu uluran tangan orang lain. Penting disadari, di desa-desa pun tak kurang banyaknya manusia yang potensial menjadi koruptor, gemar mengambil makanan dari piring orang lain!\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAkan tetapi setiap usaha pastilah ada tantangannya. Hidup ini tidak semudah kelihatannya. Di berbagai bidang kehidupan selalu ada kesulitan, tantangan, dan oknum-oknum tukang bikin gara-gara. Dan, sungguh, bertani itu tidak mudah. Tak ada petani gurem menjadi kaya-raya. Kalau bertani itu mudah, sudah kaya raya Bangsa Indonesia itu sejak dahulu kala.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPada akhirnya penulis hendak memastikan bahwa ketetapan Tanah Air Indonesia sebagai Negara Agraris adalah Sabda Alam. Suka atau tak suka, mau atau tak mau. Pada saat sekarang kita dapat bermanja-manja menolak menjadi bangsa petani, bangga menjadi importir jagung, kedelai dan segala bahan pangan lainnya. Akan tetapi pada titik tertentu nanti, masyarakat dunia akan menuntut Bangsa Indonesia\u0026nbsp; memasok pangan bagi dunia. Jika tetap menolak, maka bangsa lain akan datang untuk menggarapnya. Kemudian akan terjadi ‘tanam paksa’ jilid dua, dimana Bangsa Indonesia terpaksa menjadi babu di tanah airnya, atau terpaksa terjun ke laut dan berevolusi menjadi lumba-lumba….\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk Sujiwo Tejo, ia bisa beroleh nafkah dengan mengelus-elus terompetnya. Tetapi untuk kebanyakan Masyarakat Indonesia, tergila-gila bermain musik adalah sumber malapetaka. Jika kita lapar, kita tak bisa mengandalkan terompet, karena terompet tak bisa dimakan!\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5023153156852994032"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5023153156852994032"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/kelapa-sawit-tanaman-surga-atau-neraka.html","title":"Kelapa Sawit, Tanaman Surga Atau Neraka?"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-CwiHk0Sgctk\/UJdTN0JYrkI\/AAAAAAAAEA0\/iU7mZ5edZlo\/s72-c\/h.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3554345794176420273"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:42:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:42:34.249+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Daftar Pabrik Kelapa Sawit di provinsi Jambi"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-x5thvbSO5bE\/UJdRwXrnZRI\/AAAAAAAAEAs\/u1XkI4Cfxk4\/s1600\/cropped-dsc00322.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"166\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-x5thvbSO5bE\/UJdRwXrnZRI\/AAAAAAAAEAs\/u1XkI4Cfxk4\/s320\/cropped-dsc00322.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Asiatic Persada\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Maju Perkasa Sawit\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Jamer Tulen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sawit Desa Makmur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Cipta Prasasti Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Secona Persada\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Humasindo Makmur Sejati\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Indo Kebun Unggul\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Gatra Kembang Paseban\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Tunjuk Langit Sejahtera\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Berkah Sapta Palma\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Inti Indosawit Subur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Citra Koperasindo Tani\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Secona Persada\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sawit Desa Makmur (Nayu Estate)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Brahma Bina Bakti\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Petaling Bunga Gading\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Agro Tamex Sumindo Amadi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Petaling Mandra Guna\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Jambi Lampura Seberang\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kurnia Yanto Sawit Bersaudara\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Velindo Aneka Tani\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Erasakti Wira Forestama\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Tidar Kerinci Agung\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sukses Maju Abadi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Telentam Bungo Raya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Mega Sawindo\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Telentam Bungo Raya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Secona Persada\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Jambi Agro Wijaya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Eramitra Agro Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Anugerah Polonusa\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Duta Multi Inti Palma\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kumala Jaya Prakarsa\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Dasa Anugrah Sejati\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Rudy Agung Laksana\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Anekapura Multikerta\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Bukit Kasuar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Agrowiyana\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Trimitra Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Bukit Barisan Indah Prima\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kirana Sekernan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Batanghari Sawit Sejahtera\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Bukit Barisan Indah Prima\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sungai Bahar Pasifik\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Matahari Kahuripan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Puri Hijau Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sari Aditya Loka\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Aman Pratama Makmur Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Tunjuk Langit Sejahtera\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kresna Duta Agroindo\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sari Aditya Loka\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kresna Duta Agroindo\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Agrowiyana\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Citra Koperasindo Tani\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sawindo Jambi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kaswari Unggul\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sawit Jambi Lestari\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Inti Indosawit Subur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Bahari Gembira Ria\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Jamika Raya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Rigunas Agri Utama\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sari Aditya Loka\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kresna Duta Agroindo\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Kresna Duta Agroindo\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sari Aditya Loka\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Sari Aditya Loka\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Inti Indosawit Subur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPT. Agrowiyana\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Bajubang\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Durian Luncuk\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Sei Bahar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Sei Bahar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Sei Bahar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Sei Bahar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Bajubang\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Rimbo Bujang\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPTPN VI Durian Luncuk\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003ERead more: \u003Ca href=\"http:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/02\/daftar-nama-pabrik-kelapa-sawit.html#ixzz2BK7WRcAy\" style=\"color: #003399;\"\u003Ehttp:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/02\/daftar-nama-pabrik-kelapa-sawit.html#ixzz2BK7WRcAy\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3554345794176420273"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3554345794176420273"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/daftar-pabrik-kelapa-sawit-di-provinsi.html","title":"Daftar Pabrik Kelapa Sawit di provinsi Jambi"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-x5thvbSO5bE\/UJdRwXrnZRI\/AAAAAAAAEAs\/u1XkI4Cfxk4\/s72-c\/cropped-dsc00322.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4704782996788571448"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:36:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:36:52.308+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kebun Plasma Kelapa Sawit Menguntungkan Pengusaha"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6q5ww3GuM2k\/UJdQRbOsJaI\/AAAAAAAAEAk\/g0kjc02nqGw\/s1600\/oil-palm-plantation.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"172\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6q5ww3GuM2k\/UJdQRbOsJaI\/AAAAAAAAEAk\/g0kjc02nqGw\/s320\/oil-palm-plantation.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKKPA merupakan pola pendanaan yang di sediakan oleh pemerintah melalui bank pemerintah berupa kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA). Dalam menjalankan program KKPA melibatkan Perusahaan inti yang di tunjuk pemerintah, Bank penyalur kredit, Koperasi Unit Desa yang merupakan wadah petani pesertadan kelompok tani plasma di wilayah plasma yang berfungsi mengkoordinir pengawasan pembangunan kebun plasma baik saat pembukaan lahan, pemeliharaan\/perawatan, panen, transportasi dan penjualan hasil produksi, Kelompok Tani merupakan wadah atau organisasi kelompok tani peserta yang berada dalam hamparan yang sama dan yang terakhir Petani Peserta merupakan petani yang di tetapkan sebagai penerima pemilikan kebun plasma.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun tahapan pembangunan kebun plasma meliputi Tahap konstruksi yang terdiri dari perizinan PEMDA, survey pendahuluan, permohonan pembebasan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan, studi kelayakan dan perencanaan program dan SK Menteri Pertanian tentang pelaksanaan proyek dan perusahaan inti selanjutnya masuk pada Tahap Pembangunan fisik kebun dan terakhir Tahap penyerahan kebun kepada petani plasma dan sampai pelunasan kebun yang biasanya saat tanaman berumaur 30- 48 bulan tahap ini meliputi pengukuran kavling, pembentukan kelompok tani, undian blok\/kavling, penilaian teknis akhir kebun, akad kredit perjanjian perusahaan inti, KUD, kelompok tani dan bank dan pembuatan sertifikat tanah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagai gambaran salah satu perusahaan kelapa sawit di wilayah Kalimantan Barat telah melaksanakan program plasma ini. Setelah melewati tahapan pembangunan plasma sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam menjalankan kebun plasma melibatkan masyarakat lokal dengan menggunakan kredit dari bank untuk pendanaan selanjutnya dalam pembagian hasil dapat di uraikan sebagai berikut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPetani plasma mendapat hasil bersih setiap kavlingnya seluas 2 ha\/petani plasma setelah mendapat potongan 7% untuk perusahaan inti, 3% untuk operasional KUD, potongan kredit bank dengan jumlah kredit 56 juta\/kavling yang di cicil selama 9 tahun dengan sistem pemotongan bulanan yang telah di sepakati dengan sistem bertingkat. Makin besar tahun tanam maka makin besar potongan kredit. Untuk tahun pertama Rp 174000\/bulan\/tahun pertama dan terus meningkat setiap tahun sampai lunas selama 9 tahun.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAda juga dengan sistem persentase bulanan sampai lunas, selanjutnya di potong biaya pemeliharan dan panen. Setiap bulan maka masyarakat lokal menerima hasil kebun plasmanya dengan menyerahkan pengawasan kegiatan kebun melalui KUD yang terdiri dari petani plasma yang telah di tunjuk melalui kepengurusan dan KUD setiap tahunnya melakukan RAT (Rapat Anggota Tahunan) sebagai laporan pertanggung jawaban terhadap jalan roda oraganisasi KUD.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESebagai gambaran KUD tersebut memiliki peserta plasma sebanyak 336 peserta atau seluas 672 ha yang terdiri dari 15 kelompok tani. Setiap ketua kelompok tani dan kepengurusan KUD yang bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan kebun kebun plasma, mendapat gaji dan insetif dari pemotongan operasional sebanyak 3 %. Hasil yang diperoleh petani setiap bulannya perkavling untuk tahun pertama atau umur 4 tahun berkisar 750 - 1 juta.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EHal ini terus meningkat sesuai dengan bertambah umur tanaman dan bahkan untuk umur 10 tahun ke atas dapat mencapai rata-rata 2,5 juta- 3 juta\/bulan\/kavling. Bukan saja petani yang mendapatkan keuntungan, koperasi juga mendapat berkembang menjadi tempat simpan pinjam dan memiliki aset baik gedung dan kenderaan berupa truk pengangkut TBS.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDari ilustrasi dan fakta yang sebenarnya di mana sisi ruginya para pengusaha kelapa sawit dalam menjalankan kebun plasma dan yang jelas pengusaha tidak rugi karena pendanaan di peroleh dari bank, mendapat keuntungan karena ada potongan 7% untuk perusahaan inti, segala biaya administrasi, perawatan dan panen di bebankan ke KUD\/petani plasma.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EJadi sangat tidak rasional jika banyak pengusaha perkebunanan tidak mau membangun kebun plasma untuk masyarakat lokal jika pembangunan kebun plasma mengikuti tahapan yang standar dan peraturan perundangan di Indonesia yang berlaku maka para pengusaha akan memperoleh benefit dan kenyamanan dalam berusaha karena tidak ada konflik sosial dengan masyarakat lokal. Kesimpulan akhirnya masyarakat lokal di untungkan dan pengusahapun untung dalam menjalankan program kebun plasma.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4704782996788571448"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4704782996788571448"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/kebun-plasma-kelapa-sawit-menguntungkan.html","title":"Kebun Plasma Kelapa Sawit Menguntungkan Pengusaha"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-6q5ww3GuM2k\/UJdQRbOsJaI\/AAAAAAAAEAk\/g0kjc02nqGw\/s72-c\/oil-palm-plantation.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-149040096271778220"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:31:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:31:52.256+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengusaha Kelapa Sawit Nilai Kebijakan Pemerintah Salah Kaprah"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Iyehgz8Crmo\/UJdPPyy70hI\/AAAAAAAAEAc\/bxV84UBsab8\/s1600\/KKbsT2IdH6.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Iyehgz8Crmo\/UJdPPyy70hI\/AAAAAAAAEAc\/bxV84UBsab8\/s1600\/KKbsT2IdH6.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMEDAN – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indoneia (Gapki) Sumatera Utara menilai rencana pemerintah Indonesia dan Malaysia membatasi suplai minyak sawit mentah (CPO) ke pasar global salah kaprah. Pasalnya kebijakan yang diambil untuk mendongkrak harga yang sudah jatuh kurang mempertimbangkan kondisi di dalam negeri.\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003EBendahara Gapki Sumut Laksamana Adyaksa mengatakan, kondisi Indonesia dan Malaysia dalam mengambil kebijakan itu sangatlah berbeda. Bila dipaksanakan, kebijakan itu justru akan menempatkan Indonesia di posisi yang merugi. Pasalnya, kondisi dalam negeri belum cukup mampu untuk menghadapi kebijakan tersebut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Kondisi kita dan Malaysia itu berbeda di Malaysia masalahnya hanya karena produksi berlebih di Indonesia masalah distribusi. Malaysia bisa menampung kelebihan produksinya lewat tangki-tangki raksasa yang dimiliki pabrik, maupun yang difasilitasi pemerintah di pelabuhan,” ungkap dia, Rabu (10\/10\/2012).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELaksamana menambahan, pemerintah harus mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut karena komoditas CPO bukanlah karet yang bisa disimpan dalam waktu yang lama. Begitupun jika pemerintah bersikeras melakukan pembatasan. Dia berharap pemerintah membangun terlebih dahulu infrastruktur tangki penampungan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E“Bisnis CPO ini bukan hanya milik pengusaha tapi erat pula hubungannya dengan petani sebagai penghasil bahan baku. Kalau suplai global di batasi, tentunya bukan produksi kita yang terhambat, tapi juga petani. Hasil panen petani pastinya tak akan bisa kita tampung\u0026nbsp; akan membuat harga menurun,” tambahnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ENamun, jika pemerintah suda membangun tangki penampungan berkapasitas, petani yang akan menikmati dampak dari kenaikan harga pembatasan suplai.(\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003Egna)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E - Wahyudi Siregar - Okezone\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/149040096271778220"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/149040096271778220"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/pengusaha-kelapa-sawit-nilai-kebijakan.html","title":"Pengusaha Kelapa Sawit Nilai Kebijakan Pemerintah Salah Kaprah"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Iyehgz8Crmo\/UJdPPyy70hI\/AAAAAAAAEAc\/bxV84UBsab8\/s72-c\/KKbsT2IdH6.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7168223892345520190"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:27:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:29:24.914+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Kelapa Sawit Merosot"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-pGtVqvchyqQ\/UJdOMMi-beI\/AAAAAAAAEAU\/30v4bqaBWOY\/s1600\/crude_oil_2_5_0.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"181\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-pGtVqvchyqQ\/UJdOMMi-beI\/AAAAAAAAEAU\/30v4bqaBWOY\/s320\/crude_oil_2_5_0.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EMEDAN – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Utara (Gapki Sumut) memprediksi harga minyak sawit mentah (CPO) yang terus menurun dalam beberapa waktu terakhir masih berlanjut. Pasalnya penurunan harga yang terjadi akibat penurunan permintaan seiring berkurangnya produksi akan semakin dalam karena masuknya musim dingin di sejumlah negara importir CPO Sumut.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EBendahara Gapki Sumut Laksmana Adyaksa di Medan mengatakan ada beberapa faktor internal dan eksternal yang menjadi penentu harga CPO. Diantaranya permintaan dari luar negeri. Dengan masuknya musim dingin, tentunya aktifitas produksi di negara importir akan berkurang dan diikuti oleh penurunan permintaan bahan baku.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ETren ini diakui Laksamana selalu terjadi di setiap penghujung tahun. Indonesia, sebagai salah satu produsen terbesar CPO, harusnya mampu mengendalikan kondisi tersebut.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;“Setelah penurunan saat panen kemarin, kita masih harus menghadapi siklus tahunan berupa menurunnya permintaan akibat negara importir terkena musim dingin. Tentunya kondisi ini akan semakin buruk setidaknya hingga akhir tahun. Kalau harga jatuh saat panen itu harusnya bisa diselesaikan pemerintah, tapi kalau saat ini enggak karena memang datang dari eksternal,” jelas Laksamana, Senin (8\/10\/2012)\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u0026nbsp;Laksmana mengungkapkan,\u0026nbsp; dalam kondisi saat ini pihaknya hanya berharap harga minyak nabati di luar CPO dapat semakin tinggi. Karena dengan harga yang relatif tinggi seperti sekarang, CPO masih akan menjadi pilihan alternatif bagi konsumen di luar negeri.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E“Secara keseluruhan, harga rata-rata CPO pada 2012 diperkirakan hanya berada pada kisaran USD1.050 metrik ton (MT). Lebih rendah dibandingkan tahun yang mencapai USD1.100 per MT. Jadi kita berharap tidak jauh-jauh dari situlah harganya,” tandas dia. \u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara \nmenegaskan jika penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) petani, yang \nkini jatuh hingga Rp400 lebih disebabkan karena perilaku instan petani \nsawit yang pada akhirnya membuat petani terjebak dalam panjangnya rantai\n pemasaran TBS.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBendahara Gapki Sumut Laksamana Adyaksa \nmengatakan harga jual TBS di tingkat pabrik saat ini terbilang stabil \nmeski dengan tren yang menurun. Dengan harga Rp1.300\/kg tentunya masih \ndapat dinikmati petani, meski tak sebaik harga mencapai Rp1.700-Rp1.800 \nper kg.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAdapun jatuhnya harga TBS hingga ke angka Rp400 tersebut \nhanyalah persoalan antara petani dan pengumpul, di mana petani tak \nlangsung menjual hasil produksinya ke pabrik melainkan menggunakan jasa \npengumpul.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Harga di kita stabil kok, tapi karena petani masih \ncenderung menjual TBS-nya melalui pengumpul makanya harganya tertekan. \nKalau lewat pengumpul kan tentunya pengumpul mendapat keuntungan yang \ndipotong dari harga jual TBS petani. Bahkan adakalanya, pengumpul yang \ndituju mencapai tiga pengumpul. Jadi keuntungan petani dipotong hingga \ntiga kali. Tragis memang tapi ya salah petani juga,\" katanya di Medan, \nSelasa (11\/9\/2012).\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESemakin parahnya penurunan harga TBS petani, \ndiakui Laksamana juga terjadi akibat perilaku petani yang sering menjual\n hasil produksinya di luar masa panen. Padahal aksi tersebut secara tak \nlangsung menurunkan harga, dan membentuk tren pelemahan.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Sering \nterjadi, TBS yang belum seharusnya dijual sudah dilelang petani ke \npengumpul. Alhasil ya harganya jeblok. Wong kualitasnya saja belum \njelas. Ironisnya, penurunan harga diluar masa panen ini, juga membentuk \ntren pelemahan di masa panen raya seperti sekarang ini,\" tegasnya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ELaksamana\n pun mengingatkan pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis \nuntuk mengatasi hal ini. Pemerintah harus berani menentukan harga \nterendah TBS, agar petani tetap mau menanam sawit. \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\"Pemerintah \nharus bergerak cepat. Stimulus pengusaha agar mau membangun PKS secara \nlebih menyebar. Bangun infrastruktur, lalu tentukan harga terendah TBS \nserta turunkan biaya logistik yang juga menggerus pendapatan petani \nkelapa sawit. Pemerintah tentunya tak ingin koridor Master Plan \nPercepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di \nSumatera Utara ini menjadi tak efektif karena kekurangan pasokan akibat \npetani berhenti berproduksikan. Tapi semuanya terserah pemerintah,\" \ntutupnya.\t\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E(gna)\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (rhs) - Wahyudi Siregar - Okezone\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7168223892345520190"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7168223892345520190"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/harga-kelapa-sawit-merosot.html","title":"Harga Kelapa Sawit Merosot"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-pGtVqvchyqQ\/UJdOMMi-beI\/AAAAAAAAEAU\/30v4bqaBWOY\/s72-c\/crude_oil_2_5_0.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6059528090266250233"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:12:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:12:53.707+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Sumber Benih Kelapa Sawit di Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-CHLmfu3QiWE\/UJdKw4_LTQI\/AAAAAAAAD_8\/YtOq7tua3Mk\/s1600\/benih+unggul.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-CHLmfu3QiWE\/UJdKw4_LTQI\/AAAAAAAAD_8\/YtOq7tua3Mk\/s320\/benih+unggul.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSuksesnya perkembangan industri Kelapa Sawit di Indonesia tidak terlepas dari upaya berkesinambungan dalam peningkatan produktifitas tanaman. Salah satu faktor pendukung peningkatan produktifitas ini adalah bahan tanam.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EUntuk menjaga eksistensi industri kelapa sawit nasional perlu didukung secara maksimal oleh eksistensi industri perbenihan kelapa sawit di dalam negeri.\u0026nbsp; Untuk itu produsen benih kelapa sawit di dalam negeri perlu meningkatkan jumlah dan mutu benih sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan selera konsumen yang senantiasa berubah secara dinamis.\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPertumbuhan perkembangan industri kelapa sawit yang sangat pesat masih belum dapat diimbangi dengan penyediaan benih secara 6 (enam) tepat yaitu tepat varietas,\u0026nbsp; mutu, tempat, jumlah, waktu dan harga. Sumber benih kelapa sawit hanya ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa yaitu di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Jawa Barat sedangkan daerah pengembangan kelapa sawit ada tersebar dari Aceh sampai ke Papua.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKeberhasilan pengembangan Kelapa Sawit di Indonesia tidak terlepas dari ketersediaan bahan tanam unggul yang diperoleh melalui aktifitas pemuliaan yang sistematis dan berkelanjutan. Pengembangan industri Kelapa Sawit memerlukan dukungan ketersediaan bahan tanaman dalam jumlah cukup dengan mutu yang terjamin. Mutu benih Kelapa Sawit sangat nyata mempengaruhi hasil dan kualitas tandan Kelapa Sawit, oleh karena itu penggunaan benih unggul merupakan persyaratan utama dalam pengembangan budidaya Kelapa Sawit. Ketersediaan bahan tanam unggul kelapa sawit menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Meskipun hanya menyita 7% dari biaya produksi, namun penggunaan bahan tanam kelapa sawit unggul memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan produktifitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa adanya proses seleksi dan perubahan tipe bahan tanaman pada rentang waktu 30 tahun dapat meningkatkan produktifitas CPO sebesar 72%. Bahan tanam kelapa sawit yang umum digunakan di perkebunan komersil merupakan benih hasil penyerbukan buatan (artificial pollination) antara pohon induk dura (D) dengan pohon bapak Pisifera (P). Selain dari benih, bahan tanam kelapa sawit juga dapat diperoleh dari hasil perbanyakan secara vegetatif\u0026nbsp; melalui kultur jaringan yang dikenal sebagai klon.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESumber benih kelapa sawit dengan varietas yang telah dirilis:\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-TnM7Smz_-FM\/UJdKHT-utTI\/AAAAAAAAD_s\/qyXKzFtmdV8\/s1600\/tab1.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-TnM7Smz_-FM\/UJdKHT-utTI\/AAAAAAAAD_s\/qyXKzFtmdV8\/s640\/tab1.jpg\" width=\"442\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-OcBC0NIDuPw\/UJdKO43IB2I\/AAAAAAAAD_0\/tib5nBvFofA\/s1600\/tab2.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"212\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-OcBC0NIDuPw\/UJdKO43IB2I\/AAAAAAAAD_0\/tib5nBvFofA\/s400\/tab2.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\" class=\"MsoNoSpacing\" style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial,sans-serif; line-height: 115%;\"\u003EOLEH\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial,sans-serif; line-height: 115%;\"\u003E \u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial,sans-serif; line-height: 115%;\"\u003E:\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial,sans-serif; line-height: 115%;\"\u003E \u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial,sans-serif; line-height: 115%;\"\u003ERAMOTI ULI AGNES SAMOSIR, SP\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6059528090266250233"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6059528090266250233"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/sumber-benih-kelapa-sawit-di-indonesia.html","title":"Sumber Benih Kelapa Sawit di Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-CHLmfu3QiWE\/UJdKw4_LTQI\/AAAAAAAAD_8\/YtOq7tua3Mk\/s72-c\/benih+unggul.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1705951528755727701"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:04:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:21:08.400+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Daftar Perusahaan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-XQMJAMh8AEA\/UJdIxco2P4I\/AAAAAAAAD_k\/-Ctsph3f4yk\/s1600\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"236\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-XQMJAMh8AEA\/UJdIxco2P4I\/AAAAAAAAD_k\/-Ctsph3f4yk\/s320\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"widget HTML\" id=\"HTML2\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"widget-content\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan class=\"widget-item-control\"\u003E\n\n\u003C\/span\u003E\n\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv id=\"crosscol-wrapper\" style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv id=\"uds-searchControl\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.blogger.com\/blogger.g?blogID=739645629343608978\" name=\"uds-search-results\"\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"widget HTML\" id=\"HTML10\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"widget-content\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan class=\"widget-item-control\"\u003E\n\n\u003C\/span\u003E\n\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.blogger.com\/blogger.g?blogID=739645629343608978\" name=\"4441285606226744202\"\u003E\u003C\/a\u003E\n\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: large;\"\u003EBerikut perusahaan-perusahaan kelapa sawit pemasok CPO untuk minyak goreng menurut keputusan Menteri Pertanian tahun 2007\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable class=\"wikitable\"\u003E\n\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Cth\u003ENama Perusahaan\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003EPasukan CPO (ton)\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003ETotal Luas Lahan di Indonesia\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003ELuas Lahan yang ditanami di Indonesia\u003C\/th\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESinar Mas group\/PT Golden Agri Resources\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E15.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E320.463\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E113.562\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EWilmar International group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E7.500\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E210.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E64.700\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Perkebunan Nusantara (PTPN) IV\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E6.675\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EAstra Agro Lestari group\/PT Astra Agro Lestari Tbk\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E6.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E192.375\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E125.461\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EMinamas Plantation group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E6.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EMusim Mas group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E6.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT Perkebunan Nusa ntara (PTPN) III\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E5.650\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EAsian Agri group\/Raja Garuda Mas\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E5.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E259.075\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E96.330\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EDuta Palma groupp\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E5.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E65.800\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E25.450\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESalim group\/PT Salim Plantations\/Indofood group\/PT IndoAgri\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E5.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.155.745\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E95.310\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Perkebunan Nusantara(PTPN) V\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E4.380\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ELONSUM group(PT PP London Sumatera Indonesia)\/Napan Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E4.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E245.629\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E78.944\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E3.295\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPermata Hijau Sawit group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E3.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EBest Agro group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E2.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT Socfindo\/Socfin Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E2.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. ToIan Tiga\/SIPEF Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.600\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EBakrie Plantation group\/PT Bakrie Sumatra Plantations\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.200\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E49.283\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E23.392\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESungai Budi group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EHindoli - Cargill\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ERea Kaltim\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Tasik Raja\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ELyhian Agro Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E750\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Gema Reksa Mekarsari\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EMakin group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESawindo Kencana group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EUnggul Widya group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EAsam Jawa group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E300\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ETriputra Agro Persada group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E300\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. First Mujur Plantation\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E250\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Musirawas\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E200\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Majuma Agro\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E100\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Mopoli Raya\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E100\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EKorindo group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E100\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Paya Pinang\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E75\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Fajar Bajuri\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E50\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EIncasi Raya group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.200\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Kencana Sawit Indonesia\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E1.000\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESampoerna Agro group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E800\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Agro Indomas\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Gunung Maras Lestari\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E450\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Gunungsawit Binalestari\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E400\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Sime Indo Agro\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E350\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EGolden Hope group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E350\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EKuala Lumpur Kepong Berhad\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E160\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EPT. Fetty Mina Jaya\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E50\u003C\/td\u003E\u003Ctd\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable class=\"wikitable\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Cth\u003E\u003C\/th\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable class=\"wikitable\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Cth\u003ENama Perusahaan\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003EPasukan CPO (ton)\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003ETotal Luas Lahan di Indonesia tahun 1997\u003C\/th\u003E\n\u003Cth\u003ELuas Lahan yang ditanami di Indonesia tahun 1997\u003C\/th\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ETexmaco Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E168.000\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E35.500\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003EHashim Group\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E105.282\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E44.235\u003C\/td\u003E\n\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n\u003Ctd\u003ESurya Dumai Grup\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E154.133\u003C\/td\u003E\n\u003Ctd\u003E23.975\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1705951528755727701"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1705951528755727701"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/daftar-perusahaan-kelapa-sawit.html","title":"Daftar Perusahaan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-XQMJAMh8AEA\/UJdIxco2P4I\/AAAAAAAAD_k\/-Ctsph3f4yk\/s72-c\/2592888839_d5b3a15b4a.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5807126882447207107"},"published":{"$t":"2012-11-05T12:00:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-11-05T12:00:21.744+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Manfaat Kelapa Sawit "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAD_c\/QqjwrekEiC4\/s1600\/kelapa-sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"150\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAD_c\/QqjwrekEiC4\/s200\/kelapa-sawit.jpg\" width=\"200\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nKomoditas kelapa sawit yang memiliki berbagai macam kegunaan baik \nuntuk industry pangan maupun non pangan, prospek pengembangannya tidak \nsaja terkait dengan pertumbuhan minyak nabati dalam negeri dan dunia, \nnamun terkait juga dengan perkembangan sumber minyak nabati lainnya, \nseperti kedelai, rape seed dan bunga matahari. Dari segi daya saing, \nminyak kelapa sawit mempunyai daya saing yang cukup kompetitif dibanding\n minyak nabati lainnya, karena:\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;produktivitas per hektar cukup \ntingggi ;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emerupakan tanaman tahunan yang cukup handal terhadap \nberbagai perubahan agroklimat; dan ditinjau dari aspek gizi minyak \nkelapa sawit tidak terbukti sebagai penyebab meningkatnya kadar \nkolesterol bahkan mengandung beta karoten sebagai pro-vitamin A.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nCPO\n (Crude Palm Oil) adalah komoditas minyak nabati utama sektor perkebunan\n sawit di Indonesia yang merupakan produsen kedua terbesar setelah \nMalaysia. Areal pengembangan tananam kelapa sawit rakyat mengalami \npertumbuhan yang cukup singnifikan dari tahun ke tahun.  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBerbagai\n kemajuan telah diperoleh dalam pengembangan tanaman kelapa sawit dan \nberbagai manfaat telah dapat diwujudkan sebagai hasil upaya dari para \npelaku agribisnis kelapa sawit, dukungan dari berbagai pihak seperti \nperbankan, penelitian dan pengembangan serta dukungan sarana prasarana \nekonomi lainnya oleh berbagai instansi terkait dalam pengembangan \nagribisnis kelapa sawit sangat berperan penting. Berbagai manfaat yang \nberhasil diwujudkan antara lain ; peningkatan pendapatan petani dan \nmasyarakat, peningkatan ekspor, peningkatan kesempatan kerja dan yang \nterpenting adalah mendukung upaya dalam pengembangan wilayah agar lebih \nmaju dan berkembang. Jika kita lihat dari sisi upaya pelestarian \nlingkungan hidup, tanaman kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan \nberbentuk pohon (tree crops) dapat berperan dalam penyerapan gas-gas \nrumah kaca atau jasa lingkungan lainnya seperti konservasi biodiversity \natau eko-wisata. FAO dalam sidangnya di Roma beberapa tahun yang lalu \njuga telah menerima usulan dari Malaysia agar kebun kelapa sawit bisa \nditerima sebagai tanaman hutan karena fungsi-fungsinya yang komplementer\n dengan fungsi tanaman hutan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPengembangan agribisnis kelapa \nsawit di Indonesia telah memberikan dampak yang sangat positif dalam \npembangunan nasional, karena kelapa sawit adalah merupkan salah satu \npenghasil devisa dari sektor non migas yang cukup penting.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKonsumsi\n minyak nabati dunia selalu melebihi produksinya sehingga kecenderungan \nharga minyak nabati dunia akan selalu naik. Sumber Oil world : produksi \ndan konsumsi minyak nabati dunia pada periode 2008-2012 diperkirakan  \n132 juta ton, sedangkan produksinya hanya 108 juta ton sehingga perlu \npasokan baru sebesar 24 juta ton.\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EMinyak kelapa sawit mempunyai \nprospek yang lebih baik dari minyak nabati lain pada masa mendatang \nkarena beberapa faktor antara lain  :Produktivitas minyak sawit cukup tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESebagai\n tanaman tahunan, kelapa sawit lebih mudah beradaptasi dengan \nlingkungannya dibandingkan dengan tanaman semusim seperti kedelai dan \nbunga matahari.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDitinjau dari kesehatan, minyak kelapa sawit \nmempunyai keunggulan jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya \nkarena mengandung beta karoten sebagai pro-vitamin A dan vitamin E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelain\n itu minyak kelapa sawit dapat dijadikan sebagai bahan baku industry \noleokimia yang mempunyai keunggulan dibandingkan dengan produk berbahan \nbaku minyak industry. Minyak sawit merupakan sumber bahan baku yang \ndapat diperbaiki (renewable). Sedangkan minyak bumi diperkirakan akan \nhabis dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProduk oleokimia \nyang berbahan  baku minyak sawit lebih aman, karena sifat dasarnya yang \ndapat dimakan dan ramah terhadap lingkungan dan mudah diuraikan \n(bio-degradable)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMinyak\/lemak nabati yang dikonsumsi oleh \nmasyarakat dunia adalah minyak kedelai, minyak biji lobak, minyak biji \nkapas, minyak biji bunga matahari, minyak kelapa, minyak jagung, minyak \nwijen, minyak zaitun dan minyak kelapa sawit. Meningkatnya permintaan \nterhadap minyak nabati sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan \npertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu tanaman dengan produktivitas minyak\n yang lebih tinggi menjadi harapan untuk memenuhi permintaan pasar di \nmasa mendatang. Produktivitas Kelapa Sawit yang mencapai 4 ton\/ha\/tahun \njauh melebihi produktivitas kedelai yang hanya 0,4 ton\/ha\/tahun dan \nminyak lobak 0,57 ton\/ha\/tahun.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nNegara yang konsumsi minyak \nnabatinya akan terus naik antara lain adalah Cina, Jepang, Amerika dan \nEropa, sedangkan untuk konsumsi dalam negeri juga cukup berkembang pesat\n dengan produk-produk yang berbahan baku kelapa sawit seperti ;  \ndeterjen, sabun, kosmetik, obat-obatan dan margarine. Hal tersebut \nsecara makro mengindikasikan bahwa prospek pengembangan agrobisnis \nkelapa sawit serta pemasaran CPO dan turunannya dimasa mendatang sangat \nbaik dan potensial.\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5807126882447207107"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5807126882447207107"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/11\/manfaat-kelapa-sawit.html","title":"Manfaat Kelapa Sawit "}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-vnm0GXWA__o\/UJdH1a-wanI\/AAAAAAAAD_c\/QqjwrekEiC4\/s72-c\/kelapa-sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5995528974331551136"},"published":{"$t":"2012-10-27T21:58:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-27T21:58:46.830+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Tarif baru bea kelapa sawit segera keluar"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s1600\/kelapa_sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s1600\/kelapa_sawit.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.waspada.co.id\/index.php?option=com_content\u0026amp;view=article\u0026amp;id=213102:tarif-baru-bea-kelapa-sawit-segera-keluar\u0026amp;catid=18:bisnis\u0026amp;Itemid=95\" target=\"_blank\"\u003EJAKARTA\u003C\/a\u003E - Pemerintah akan memberlakukan bea keluar pada beberapa olahan kelapa sawit pertengahan September ini.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurut\n Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, pada 15 Agustus lalu Menteri\n Keuangan telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan Nomor \n128\/PMK.01\/2011 tentang perubahan atas PMK 67 Tahun 2010 tentang \npenetapan bea keluar dan tarif bea keluar. “Aturan ini guna mendorong \nhilirisasi industri kelapa sawit,” katanya.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBayu menyatakan baik \nPMK 67 maupun PMK 128 bertujuan untuk stabilisasi harga minyak goreng. \nPada saat PMK 67 dibuat isu utama yang dihadapi adalah stabiitas harga \nminyak dalam negeri.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMenurutnya, selain mempertahankan kebijakan \nstabilitas harga minyak goreng, PMK 128 ini juga untuk mendorong \nhilirisasi industri sawit. Perubahan yang konkret dalam aturan baru ini \nadalah semakin hilir produknya, bea keluarnya semakin rendah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EBayu\n mencontohkan, pada PMK 67 bungkil alias ampas perasan kelapa sawit \ntidak masuk daftar barang ekspor yang kena bea keluar. “Namun pada PMK \n128 kena bea keluar sebesar 20 persen,” ujarnya. \"Walaupun bahan mentah,\n bungkil sebenarnya bisa dikembangkan untuk industri hilir atau untuk \nenergi.\"\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EDalam PMK 128 Kementerian tetap berpihak pada produk \nyang dalam kemasan bermerek sampai batas kurang dari 20 kilogram masih \ntetap dapat bea keluar yang lebih rendah. “Ini untuk mempromosikan \nproduk Indonesia,’’ kata dia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPada pengelompokan produk sawit, \nmenurut Bayu, hampir seluruhnya konsiten pada hilirisasi. Semua produk \ndalam bentuk crude (kasar) dalam satu kelompok. Sedangkan yang lebih \nhalus (sudah diolah), bea keluarnya akan lebih rendah. Untuk batasan \ntarif, pada PMK 67 jika harga CPO mencapai US$ 700 per ton bea keluar \nbaru berlaku. Sedangkan pada PMK 128 bea keluar berlaku jika harga CPO \nUS$ 750 per ton. Tiap harga CPO naik US$ 50, bea keluar naik 1,5 persen.\n Batas atas bea keluar adalah 22,5 persen di harga US$ 1.250\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EMisalnya\n bea keluar produk hilir RBD (refine bleach deodorise) palm oil \nsebelumnya maksimum mencapai 25 persen, pada PMK 128 maksimum hanya 10 \npersen. Untuk CPO, aturan lama mengenakan bea keluar 25 persen, yang \nbaru 22,5 persen.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebijakan ini, kata Bayu, menunjukkan kebijakan\n lebih pro pada hilirisasi. Bayu akan mendorong agar nilai tambah itu \nbanyak diperoleh dalam negeri. “Kalaupun diekspor, produknya lebih hilir\n lagi,” kata dia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaat ini produksi CPO Indonesia mencapai 20 \njuta ton lebih. Menurut beberapa lembaga internasional tahun ini \nIndonesia akan memproduksi 24 juta ton dan mengekspor 18 juta ton di \nantaranya. Bayu sendiri memperkirakan angka produksi CPO mendekati \n22,5-23 juta ton mengekspor 17 juta ton.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003ESaat ini hasil CPO lebih\n banyak diekspor ketimbang diolah dalam negeri. Jika produksi kita 20 \njuta ton saja, yang diolah di dalam negeri untuk minyak goreng sekitar \n6-7 juta ton, diolah untuk chemical dan biofuel sekitar 1,5-2 juta ton. \n“Sisanya masih dijual dalam bentuk CPO,” kata dia.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EPasar ekspor \nCPO terbesar terdapat di India, Cina, dan Eropa. Setelah ada PMK 28 ini \nindustri diharapkan terdorong untuk mengolah CPO lebih lanjut menjadi \nproduk-produk industri daripada mengekspor dalam bentuk CPO.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EKebijakan\n ini, kata Bayu, tidak bertujuan mematikan ekspor CPO. “Pasarnya ada,” \nkata dia. Perusahaan Indonesia, kata dia, banyak memiliki perusahaan di \nluar negeri yang menyiasati perbedaan bea masuk itu terhadap harga \ndunia. Misalnya India memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi pada \nprodk hilir dibanding CPO. Maka pengusaha Indonesia membangun pabrik di \nIndia.\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Caddress\u003E\n\u003Cspan style=\"color: navy; font-size: 10px; font-style: normal;\"\u003EEditor: HARLES SILITONGA\u003C\/span\u003E\u003C\/address\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5995528974331551136"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5995528974331551136"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/tarif-baru-bea-kelapa-sawit-segera.html","title":"Tarif baru bea kelapa sawit segera keluar"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gzGNKCVfztM\/UIv2nJnWuZI\/AAAAAAAADQM\/ZuFzOPE3Gxk\/s72-c\/kelapa_sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-865991662012380632"},"published":{"$t":"2012-10-26T02:37:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-26T02:37:35.763+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perkembangan Industri Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.\nBerkembangnya   sub‐sektor  perkebunan  kelapa  sawit  di  Indonesia  tidak  lepas  dari\n\nadanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan dalam  hal  perijinan  dan  bantuan  subsidi  investasi  untuk  pembangunan  perkebunan rakyat   dengan   pola   PIR‐Bun   dan   dalam   pembukaan   wilayah   baru   untuk   areal perkebunan besar swasta.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-_3v25ycames\/UImUaICW9gI\/AAAAAAAADM0\/1dOqugA05Ic\/s1600\/image039.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"336\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-_3v25ycames\/UImUaICW9gI\/AAAAAAAADM0\/1dOqugA05Ic\/s640\/image039.png\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003E\u003C!--[if gte mso 9]\u003E\u003Cxml\u003E\n \u003Cw:WordDocument\u003E\n  \u003Cw:View\u003ENormal\u003C\/w:View\u003E\n  \u003Cw:Zoom\u003E0\u003C\/w:Zoom\u003E\n  \u003Cw:TrackMoves\/\u003E\n  \u003Cw:TrackFormatting\/\u003E\n  \u003Cw:PunctuationKerning\/\u003E\n  \u003Cw:ValidateAgainstSchemas\/\u003E\n  \u003Cw:SaveIfXMLInvalid\u003Efalse\u003C\/w:SaveIfXMLInvalid\u003E\n  \u003Cw:IgnoreMixedContent\u003Efalse\u003C\/w:IgnoreMixedContent\u003E\n  \u003Cw:AlwaysShowPlaceholderText\u003Efalse\u003C\/w:AlwaysShowPlaceholderText\u003E\n  \u003Cw:DoNotPromoteQF\/\u003E\n  \u003Cw:LidThemeOther\u003EIN\u003C\/w:LidThemeOther\u003E\n  \u003Cw:LidThemeAsian\u003EJA\u003C\/w:LidThemeAsian\u003E\n  \u003Cw:LidThemeComplexScript\u003EX-NONE\u003C\/w:LidThemeComplexScript\u003E\n  \u003Cw:Compatibility\u003E\n   \u003Cw:BreakWrappedTables\/\u003E\n   \u003Cw:SnapToGridInCell\/\u003E\n   \u003Cw:WrapTextWithPunct\/\u003E\n   \u003Cw:UseAsianBreakRules\/\u003E\n   \u003Cw:DontGrowAutofit\/\u003E\n   \u003Cw:SplitPgBreakAndParaMark\/\u003E\n   \u003Cw:DontVertAlignCellWithSp\/\u003E\n   \u003Cw:DontBreakConstrainedForcedTables\/\u003E\n   \u003Cw:DontVertAlignInTxbx\/\u003E\n   \u003Cw:Word11KerningPairs\/\u003E\n   \u003Cw:CachedColBalance\/\u003E\n   \u003Cw:UseFELayout\/\u003E\n  \u003C\/w:Compatibility\u003E\n  \u003Cw:BrowserLevel\u003EMicrosoftInternetExplorer4\u003C\/w:BrowserLevel\u003E\n  \u003Cm:mathPr\u003E\n   \u003Cm:mathFont m:val=\"Cambria Math\"\/\u003E\n   \u003Cm:brkBin m:val=\"before\"\/\u003E\n   \u003Cm:brkBinSub m:val=\"\u0026#45;-\"\/\u003E\n   \u003Cm:smallFrac m:val=\"off\"\/\u003E\n   \u003Cm:dispDef\/\u003E\n   \u003Cm:lMargin m:val=\"0\"\/\u003E\n   \u003Cm:rMargin m:val=\"0\"\/\u003E\n   \u003Cm:defJc m:val=\"centerGroup\"\/\u003E\n   \u003Cm:wrapIndent m:val=\"1440\"\/\u003E\n   \u003Cm:intLim m:val=\"subSup\"\/\u003E\n   \u003Cm:naryLim m:val=\"undOvr\"\/\u003E\n  \u003C\/m:mathPr\u003E\u003C\/w:WordDocument\u003E\n\u003C\/xml\u003E\u003C![endif]--\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: -0.05pt; line-height: 115%;\"\u003EP\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"line-height: 115%;\"\u003Eohon\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.7pt;\"\u003E \u003C\/span\u003EInd\u003Cspan style=\"letter-spacing: -0.05pt;\"\u003Eu\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.1pt;\"\u003Es\u003C\/span\u003Etri\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.8pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: -0.05pt;\"\u003EK\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.05pt;\"\u003Ee\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: -0.05pt;\"\u003El\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"letter-spacing: -0.05pt;\"\u003Ep\u003C\/span\u003Ea\u003Cspan style=\"letter-spacing: 0.7pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E\u003Cspan\u003ESawit\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C!--[if gte mso 9]\u003E\u003Cxml\u003E\n \u003Cw:LatentStyles DefLockedState=\"false\" DefUnhideWhenUsed=\"true\"\n  DefSemiHidden=\"true\" DefQFormat=\"false\" DefPriority=\"99\"\n  LatentStyleCount=\"267\"\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"0\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Normal\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 7\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 8\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"9\" QFormat=\"true\" Name=\"heading 9\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 7\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 8\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" Name=\"toc 9\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"35\" QFormat=\"true\" Name=\"caption\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"10\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Title\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"1\" Name=\"Default Paragraph Font\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"11\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Subtitle\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"22\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Strong\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"20\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Emphasis\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"59\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Table Grid\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Placeholder Text\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"1\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"No Spacing\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Revision\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"34\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"List Paragraph\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"29\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Quote\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"30\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Intense Quote\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 1\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 2\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 3\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 4\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 5\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"60\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Shading Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"61\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light List Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"62\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Light Grid Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"63\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 1 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"64\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Shading 2 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"65\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 1 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"66\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium List 2 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"67\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 1 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"68\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 2 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"69\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Medium Grid 3 Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"70\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Dark List Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"71\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Shading Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"72\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful List Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"73\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" Name=\"Colorful Grid Accent 6\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"19\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Subtle Emphasis\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"21\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Intense Emphasis\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"31\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Subtle Reference\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"32\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Intense Reference\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"33\" SemiHidden=\"false\"\n   UnhideWhenUsed=\"false\" QFormat=\"true\" Name=\"Book Title\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"37\" Name=\"Bibliography\"\/\u003E\n  \u003Cw:LsdException Locked=\"false\" Priority=\"39\" QFormat=\"true\" Name=\"TOC Heading\"\/\u003E\n \u003C\/w:LatentStyles\u003E\n\u003C\/xml\u003E\u003C![endif]--\u003E\u003C!--[if gte mso 10]\u003E\n\u003Cstyle\u003E\n \/* Style Definitions *\/\n table.MsoNormalTable\n {mso-style-name:\"Table Normal\";\n mso-tstyle-rowband-size:0;\n mso-tstyle-colband-size:0;\n mso-style-noshow:yes;\n mso-style-priority:99;\n mso-style-qformat:yes;\n mso-style-parent:\"\";\n mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;\n mso-para-margin:0cm;\n mso-para-margin-bottom:.0001pt;\n mso-pagination:widow-orphan;\n font-size:11.0pt;\n font-family:\"Calibri\",\"sans-serif\";\n mso-ascii-font-family:Calibri;\n mso-ascii-theme-font:minor-latin;\n mso-fareast-font-family:\"MS Mincho\";\n mso-fareast-theme-font:minor-fareast;\n mso-hansi-font-family:Calibri;\n mso-hansi-theme-font:minor-latin;\n mso-bidi-font-family:\"Times New Roman\";\n mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}\n\u003C\/style\u003E\n\u003C![endif]--\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-b07oxqwJm_8\/UImMOOfWEsI\/AAAAAAAADMU\/y9TptdAGaZA\/s1600\/image031.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"166\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-b07oxqwJm_8\/UImMOOfWEsI\/AAAAAAAADMU\/y9TptdAGaZA\/s400\/image031.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: \u0026quot;Calibri\u0026quot;,\u0026quot;sans-serif\u0026quot;;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPeta Wilayah Penyebaran Kelapa Sawit\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/865991662012380632"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/865991662012380632"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/perkembangan-industri-kelapa-sawit.html","title":"Perkembangan Industri Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-_3v25ycames\/UImUaICW9gI\/AAAAAAAADM0\/1dOqugA05Ic\/s72-c\/image039.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5101667498515204247"},"published":{"$t":"2012-10-26T02:28:00.005+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-26T02:28:58.064+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ketersediaan Lahan Produksi Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-b07oxqwJm_8\/UImMOOfWEsI\/AAAAAAAADMU\/y9TptdAGaZA\/s1600\/image031.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"165\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-b07oxqwJm_8\/UImMOOfWEsI\/AAAAAAAADMU\/y9TptdAGaZA\/s400\/image031.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EBangka‐Beli\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Et\u003C\/span\u003Eung\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan\n(H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 107,070.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003EBengkulu\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E):\n180,693.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003EIrianjaya B\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003Erat\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan\n(H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 30,171.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E150,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara \u0026amp;\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003EUlayat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003EJambi\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E):\n274,265.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E114,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Masyarakat \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Eda\u003C\/span\u003En Tanah Negara Yang Sudah\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E Digarap\nMasyarakat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EJawa Barat\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 7,115.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003EKalimantan\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.1pt;\"\u003E \u003C\/span\u003EBarat\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 373,162.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E58,720.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara dan Tanah\nMasyarakat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003EKalimantan\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.1pt;\"\u003E \u003C\/span\u003ESelatan\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 160,753.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E216,474.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan:\nTanah Negara\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EKalimantan\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.1pt;\"\u003E \u003C\/span\u003ETengah\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 343,303.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E497,427.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara dalam\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003Eajuan permohonan\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003Ehak\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EKalimantan\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.1pt;\"\u003E \u003C\/span\u003ETimur\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 171,581.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E652,135.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara \u0026amp;\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003ETanah Masyara\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ek\u003C\/span\u003Eat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EKepulauan Riau\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 5,590.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EMaluku Utara\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang Tersedia (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 100,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ENanggroe\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E Aceh\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E Darussalam\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 227,590.0\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003EPapua\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 89,827.00\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E1,935,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara \u0026amp;\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003EUlayat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003ERiau\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E):\n1,307,880.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E30,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Masyarakat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESulawesi B\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003Erat\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan\n(H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 9,568.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E45,000.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara dan Tanah\nMasyarakat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESulawesi Selatan\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 11,894.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E120,298.00\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESulawesi Tenggara\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"mso-tab-count: 1;\"\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003ELahan\nyang Tersedia (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 74,000.00\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan:\nTanah Negara\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u0026nbsp;Sumatera Barat\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan\nyang sudah Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 280,099.00\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E14,500.00\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Ulayat\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESumatera Selatan\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah Digunakan\n  (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 386,403.00\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E144,500.00\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Masyarakat\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESumatera Utara\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ELahan yang sudah\n  Digunakan (H\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea\u003C\/span\u003E): 229,512.00\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003ESisa Lahan Tersedia \u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003E(\u003C\/span\u003EH\u003Cspan style=\"letter-spacing: -.05pt;\"\u003Ea)\u003C\/span\u003E:\u003Cspan style=\"letter-spacing: .05pt;\"\u003E \u003C\/span\u003E40,000.00\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003EStatus Lahan: Tanah Negara dan Tanah\n  Masyarakat\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-family: Calibri;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Col\u003E\n\u003Cul\u003E\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5101667498515204247"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5101667498515204247"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/ketersediaan-lahan-produksi-kelapa-sawit.html","title":"Ketersediaan Lahan Produksi Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-b07oxqwJm_8\/UImMOOfWEsI\/AAAAAAAADMU\/y9TptdAGaZA\/s72-c\/image031.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7359121023658112873"},"published":{"$t":"2012-10-08T17:09:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-08T17:09:50.014+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengelolaan Kelapa Sawit Berpedoman ISPO"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6BMfiuP0Qyk\/UHKmXvBx2rI\/AAAAAAAACjE\/Jcp6XFqDlDY\/s1600\/ispo.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"200\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6BMfiuP0Qyk\/UHKmXvBx2rI\/AAAAAAAACjE\/Jcp6XFqDlDY\/s200\/ispo.jpg\" width=\"148\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDALAM lima tahun terakhir, terjadi \npergeseran pasar (market) minyak nabati dunia, dari sebelumnya \ndidominasi konsumsi minyak kedelei yang diproduksi di negara maju \n(Eropa) menjadi minyak sawit yang diproduksi di negara berkembang \n(Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Nigeria, Ghana dll). Dari sisi \nsuplai tahun 2007, pasokan produksi Indonesia menjadi yang terbesar \n(44%) menggeser pasokan Malaysia (41%) untuk konsumsi minyak sawit \ndunia.\u003Cspan id=\"more-3119\"\u003E\u003C\/span\u003EHarga minyak mentah (crude oil) yang \nnaik di luar perkiraan juga membuat minyak sawit selalu menjadi \npembicaraan sebagai substitusi dalam bentuk biofuel.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nData-data tersebut mengukuhkan bagaimana\n strategisnya komoditi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dalam \nperekonomian Indonesia termasuk Provinsi Sumut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProvinsi ini dalam sejarahnya adalah \ndaerah yang pertama sekali (tahun 1911) mengelola komoditi kelapa sawit \ndikelola secara komersial\/industri dari sebelumnya yang hanya berupa \ntanaman hias di Kebun Raya Bogor. Sekarang, atau 100 tahun kemudian \nhampir di semua kabupaten di Sumut tersebar perkebunan kelapa sawit \nberupa perkebunan rakyat (408.699 Ha), perkebunan swasta (342.954 Ha) \ndan perkebunan negara\/BUMN (296.093 Ha).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nData-data yang dikutip dari Dr Tungkot \nSipayung dalam bukunya “Perkebunan Kelapa Sawit dalam Perekonomian dan \nLingkungan Hidup Sumatera Utara” bahwa, di Sumut terjadi peningkatan \npangsa ekspor kelapa sawit dan turunannya dari hanya sekitar 30% pada \ntahun 2000 menjadi 49% pada tahun 2009 dari total ekspor Sumut. Bahkan \ntahun 2008 kontribusi “agribisnis kelapa sawit” pada Produk Domestik \nRegional Bruto (PDRB) Sumut mencapai 70%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJenis pekerjaan di perkebunan yang \nbersifat padat karya pun sangat membantu penyerapan tenaga kerja di \nSumut dengan struktur tenaga kerja yang masih didominasi pendidikan \nrendah. Maka pemilihan tema “Sawit Sahabat Rakyat” oleh GAPKI (Gabungan \nPengusaha Kelapa Sawit Indonesia) pada semarak memperingati 100 tahun \nkelapa sawit beberapa waktu lalu, sangat tepat dan menjadi komitmen \nbersama mewujudkannya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDan kini, yang penting adalah bagaimana \nmeningkatkan kredibilitas produk sawit dari sisi pengelolaan sistem \nkeberlanjutan (sustainaibility). Seiring itu, beberapa tahun lalu, \ndiperkenalkan prinsip dan kriteria RSPO (Roundtable Sustainable Palm \nOil). Puluhan perusahaan di Indonesia mendapat sertifikasi itu walaupun \nsifat pemenuhan RSPO adalah sukarela (voluntary).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRSPO\u0026nbsp; adalah standar yang dibuat \nberdasarkan kesepakatan\/roundtable para pemangku kepentingan seperti \nkonsumen, produsen dan LSM lingkungan internasional. RSPO yang \nbersekretariat di Kuala Lumpur ini menjadi wadah komunikasi para pihak \nberkepentingan untuk menyamakan persepsi tentang konsep keberlanjutan \n(sustainability).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPedoman ISPO\u003Cbr \/\u003E\nDalam launching ISPO di Medan satu tahun\u0026nbsp; lalu, pemerintah menekankan \nbahwa Sertifikasi ISPO bukanlah untuk mengganti\/menyaingi Sertifikasi \nRSPO. Prinsip dan kriteria ISPO muncul sebagai inisiatif dari pemerintah\n atas kesadaran\/deklarasi bahwa pengelolaan sumberdaya alam termasuk \nperkebunan kelapa sawit harus dilakukan secara berkelanjutan \n(sustainable).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam hal terbitnya pedoman ISPO, \nMenteri Pertanian menyatakan sebagai amanat konstitusi UUD pasal 33 ayat\n 3, bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi \nekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, \nberkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga \nkeseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSecara garis besar, pedoman ISPO \ndidasarkan pada 4 hal, yaitu kepatuhan hukum, kelayakan usaha, \npengelolaan lingkungan dan hubungan sosial yang dirumuskan dalam prinsip\n prinsip sebagai berikut: 1) sistem perijinan dan manajemen perkebunan; \n2) penerapan pedoman teknis budi daya dan pengolahan kelapa sawit; 3) \nPengelolaan dan pemantauan lingkungan;\u0026nbsp; 4) tanggungjawab terhadap \npekerja; 5) tanggung jawa sosial dan komunitas; 6) pemberdayaan ekonomi \nmasyarakat;\u0026nbsp; 7) peningkatan usaha secara berkelanjutan. Ketujuh prinsip \nitu dirinci ke dalam 27\u0026nbsp; kriteria dan 117 indikator yang lengkapnya \ndapat dilihat pada Permentan No 19\/2011.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi banyak perkebunan negara dan swasta \nbesar, berdasarkan pengalaman kami pemenuhan terhadap prinsip tersebut \nsudah relatif memadai kecuali\u0026nbsp; dalam beberapa kriteria, yaitu mekanisme \npenanganan sengketa lahan dan kompensasi, mekanisme pemberian informasi,\n pelestarian keanekaragaman hayati\u0026nbsp; (biodiversity), identifikasi kawasan\n yang mempunyai nilai konservasi tinggi (NKT), mitigasi emisi Gas Rumah \nKaca (GRK) dan realisasi tanggung jawab sosial perusahaan. Sedang untuk \nprinsip-prinsip lainnya hanya perlu perbaikan dokumentasi agar pemenuhan\n buktinya dapat ditunjukkan dan konsisten.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPersiapan Sertifikasi ISPO\u003Cbr \/\u003E\nSeperti juga sistem-sistem lain seperti ISO 9000, 14000 dan SMK3, \nsebelum mengajukan sertifikasi, perlu melakukan pembenahan di internal \nperusahaan. Langkah-langkah yang dapat digunakan adalah: Pertama) \nmelakukan pelatihan pemahaman prinsip dan kriteria ISPO kepada beberapa \nstaf yang dipersiapkan sebagai tim internal;Kedua) para personal yang \nterlatih melakukan analisa kesenjangan (Gap Analysis) untuk menguji \ntingkat pemenuhan perusahaan\u0026nbsp; terhadap ISPO pada tahap awal; Ketiga) \nperusahaan melakukan perbaikan berdasarkan prioritas yang ditetapkan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKeempat), setelah perbaikan dianggap \nsudah memenuhi, perusahaan mengajukan sertifikasi kepada badan \nsertifikasi sesuai pilihannya. Ruang lingkup yang disertifikasi adalah \nkebun sendiri dan pabrik kelapa sawit (PKS), perusahaan berkewajiban \nmensosialisasikan ISPO kepada para pemasok TBS dari perkebunan lain jika\n menerima TBS selain kebun sendiri.\u0026nbsp; Masa sertifikat ISPO berlaku selama\n 5 tahun sebelum dilakukan penilaian ulang (re-assesment) dan sekali \ndalam setahun dilakukan audit pengawasan (survailance).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAkhirnya, yang menjadi kunci utama \nsuksesnya implementasi ISPO ini adalah komitmen pemilik\/top manajemen \nperkebunan. Strategi tersebut di atas hanya bisa berjalan efektif jika \npemilik\/top manajemen mempunyai komitmen penuh\u0026nbsp; untuk memenuhi\u0026nbsp; ISPO. \nMaka ke depan kita dengan bangga mengatakan kepada dunia bahwa semua \nminyak sawit Indonesia adalah minyak sawit lestari, perkebunan minyak \nsawit yang dikelola dengan mematuhi hukum, melaksanakan praktek \nperkebunan terbaik serta memperhatikan lingkungan dan sosial.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUjian sesungguhnya\u0026nbsp; program ini tetap \npada penerimaan pasar (market acceptance), beberapa tahun ke depan kita \nakan melihat respon konsumen terhadap konsep pengelolaan kelapa sawit \nberkelanjutan yang diprakarsai Indonesia ini.(Oleh: Henry Marpaung)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EPenulis adalah pengajar di sekolah perkebunan dan auditor ISPO pada Badan Sertifikasi Nasional. Tinggal di Medan\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber: Medan Bisnis\u003Ca href=\"http:\/\/www.medanbisnisdaily.com\/\" target=\"_blank\"\u003E http:\/\/www.medanbisnisdaily.com\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7359121023658112873"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7359121023658112873"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pengelolaan-kelapa-sawit-berpedoman-ispo.html","title":"Pengelolaan Kelapa Sawit Berpedoman ISPO"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-6BMfiuP0Qyk\/UHKmXvBx2rI\/AAAAAAAACjE\/Jcp6XFqDlDY\/s72-c\/ispo.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2866754679295653975"},"published":{"$t":"2012-10-06T17:08:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T17:08:34.566+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"APEC Tolak Sawit Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPemerintah Republik Indonesia nampaknya masih belum menyerah untuk memperjuangkan produk kelapa sawitnya atau Crude Palm Oil (CPO) untuk memasuki pasaran dunia yang lebih luas, setelah sebelumnya ditolak oleh APEC (Asia Pacific Economic Forum) sebagai salah satu produk ramah lingkungan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam lobi yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan, yang dipimpin langsung oleh Menteri Gita Wiryawan, produk kelapa sawit Indonesia gagal masuk ke pasar APEC karena dinilai tidak memenuhi standar lingkungan yang ditetapkan oleh badan lingkungan Amerika Serikat  atau Environmental Protection Agency (EPA).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam standar yang ditetapkan oleh EPA, yang diumumkan tanggal 28 Januari 2012 silam, standar bahan bakar dari CPO Indonesia masuk dalam kategori RFS (Renewable Fuel Standards) atau standar energi terbarukan. Berdasar pengujian yang dilakukan oleh EPA, produk CPO Indonesia gagal memenuhi standar maksimum 17% emisi, dan masih berkisar di angka 20%. Ini sebabnya produk CPO Indonesia masih ditolak oleh APEC untuk memasuki pasaran dunia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAkibat tidak dimasukkan dalam produk yang ramah lingkungan, produk CPO Indonesia gagal mendapatkan keringanan tarif hingga 5 persen. Hal ini membuat CPO Indonesia jadi kurang kompetitif di APEC dan dikhawatirkan ekspor CPO menurun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKendati demikian, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menolak bahwa produk CPO Indonesia sudah ditolak di APEC. “Mereka tidak menolak CPO Indonesia, mereka hanya memiliki sudut pandang yang berbeda dalam upaya memangkas emisi karbon Indonesia tahun 2020,” ungkap Gita kepada AntaraNews.com 14 September 2012 silam. Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Pertanian Suswono.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenghadapi forum APEC tahun depan yang akan digelar di Bali, pemerintah rupanya masih belum menyerah untuk memasukkan produk CPO Indonesia menjadi produk ramah lingkungan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUpaya pemerintah, salah satunya adalah mengundang utusan dari EPA untuk melakukan survey lapangan terhadap proses produksi kelapa sawit di Indonesia. Hal ini kembali ditegaskan oleh  Menteri Perdagangan Gita Wirjawan usai pertemuan dengan Kementerian Koordinator Pereknomian, hari Kamis 4 ktober 2012. Hal ini sempat diungkapkan oleh Gita,  pertengahan September silam.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dalam pertemuan terakhir, EPA mengatakan mereka akan mengirim tim teknis ke Indonesia untuk melakukan survey lapangan di Indonesia. Hal ini menunjukkan mereka cukup responsif menangani hal ini,” ungkap Gita kepada Antaranews.com.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndonesia, sebagai penghasil produk kelapa sawit terbesa di dunia nampaknya khawatir jika upaya ini kembali gagal dan akan berdampak pada jumlah ekspor kelapa sawit Indonesia. Selama ini Uni Eropa beberapa kali mempertanyakan masalah lingkungan kepada Indonesia terkait komoditi sawit yang dinilai merusak jutaan hektar hutan tropis Indonesia.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-xNfUsU-w5Cc\/UHACN9tD0EI\/AAAAAAAACVs\/0vTJQGII7Hc\/s1600\/40725-Palm-Oil-Norway.jpeg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-xNfUsU-w5Cc\/UHACN9tD0EI\/AAAAAAAACVs\/0vTJQGII7Hc\/s320\/40725-Palm-Oil-Norway.jpeg\" width=\"262\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTabel diatas menunjukkan penggunaan minyak kelapa sawit dalam produk pangan di Norwegia yang semakin berkurang. Beberapa negara Eropa, masih akan mengikuti langkah Norwegia untuk menekan penggunaan minyak sawit, seiring dengan gencarnya kampanye terhadap perusakan hutan tropis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nApalagi, beberapa negara di Eropa kini juga semakin menekan penggunaan minyak kelapa sawit untuk produk pangan mereka. Norwegia, bahkan sudah menghilangkan penggunaan produk kelapa sawit untuk produk pangan mereka hingga 60%.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKegagalan menjual kelapa sawit ke pasar dunia, nampaknya lebih menakutkan pemerintah Indonesia ketimbang memperbaiki tata kelola lahan di hutan Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat sekitar hutan yang tanahnya hilang diterabas perkebunan sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-E8snf9IfTuU\/UHAClzSdhII\/AAAAAAAACV0\/-HVQvA4At-E\/s1600\/1sawit-riau.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"266\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-E8snf9IfTuU\/UHAClzSdhII\/AAAAAAAACV0\/-HVQvA4At-E\/s400\/1sawit-riau.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPerkebunan kelapa sawit, kini mengekspansi ke seluruh wilayah Sumatera. \nIni adalah kebun kelapa sawit di Propinsi Riau, yang memiliki 1.4 juta \nkebun sawit. Foto: Aji Wihardandi\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-1AYYkVYLpE4\/UHACn9q21nI\/AAAAAAAACV8\/HqrtOjf9upU\/s1600\/2Gajah-Mati-Riau-600.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"212\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-1AYYkVYLpE4\/UHACn9q21nI\/AAAAAAAACV8\/HqrtOjf9upU\/s320\/2Gajah-Mati-Riau-600.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESalah satu dampak perkebunan sawit. Gajah Sumatera mati diracun warga \nkarena dikhawatirkan merusak kebun. Tata guna lahan yang tidak jelas \ndari pemerintah, terus meningkatkan konflik antara satwa dan manusia di \nsekitar hutan. Foto: WWF Riau\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-FRSiti_FT8w\/UHACqRmDYtI\/AAAAAAAACWE\/xP2qXTvDD9Q\/s1600\/3Lahan.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"213\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-FRSiti_FT8w\/UHACqRmDYtI\/AAAAAAAACWE\/xP2qXTvDD9Q\/s320\/3Lahan.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPenggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Foto: Aji Wihardandi\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EOleh\u0026nbsp;Aji Wihardandi,\u0026nbsp;\u0026nbsp;October 5\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber : Mongaba.co.id \u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2866754679295653975"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2866754679295653975"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/apec-tolak-sawit-indonesia.html","title":"APEC Tolak Sawit Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-xNfUsU-w5Cc\/UHACN9tD0EI\/AAAAAAAACVs\/0vTJQGII7Hc\/s72-c\/40725-Palm-Oil-Norway.jpeg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1610870347604817560"},"published":{"$t":"2012-10-06T15:43:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T16:31:17.878+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pantaskah Kelapa Sawit disebut Primadona"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fhhglDfm31w\/UG_u-k9B6fI\/AAAAAAAACUo\/1gJ_Xnb7Yec\/s1600\/sawit+2.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"258\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fhhglDfm31w\/UG_u-k9B6fI\/AAAAAAAACUo\/1gJ_Xnb7Yec\/s320\/sawit+2.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKelapa sawit, sejatinya bukan tanaman asli Indonesia. Bermula dari 4 biji kelapa sawit, yang sebenarnya aslinya dari Afrika tersebut dibawa orang Belanda ke Indonesia dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848. Karena tanaman tersebut tumbuh subur dan setelah dicoba di beberapa daerah bisa tumbuh dengan baik maka sejak 1910 kelapa sawit dibudi dayakan secara komersial dan meluas di Sumatra.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAdalah suatu berkah dari Tuhan YME bahwa ternyata kelapa sawit hanya hidup di daerah tropis sepanjang garis khatulistiwa yang memiliki curah hujan melimpah dan beberapa syarat agroklimat tertentu lainnya. Dan yang memenuhi syarat tersebut adalah Indonesia dan Malaysia, sebagian kecil Afrika dan sebagian kecil lagi Amerika Tengah dan Latin. Sungguh suatu anugerah Tuhan kepada Negara dan bangsa Indonesia.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHingga tahun 1980-an, luas pertanaman kelapa sawit Indonesia baru sekitar 200.000 an ha dan kebanyakan adalah tanaman warisan Pemerintah colonial Belanda. Berkat adanya program kredit (PBSN 1 dan 2) serta mulai diperkenalkannya kebun sawit pola PIR-Trans (Perkebunan Inti Rakyat- Transmigrasi) pengembangan kelapa sawit sangat pesat, dan hingga tahun 2009 luas perkebunan kelapa sawit Indonesia telah mencapai 7,2 juta ha, atau  pertumbuhan double setiap tahunnya selama 30 tahun. Kebun rakyat, baik pola PIR maupun swadaya meliputi jumlah 40 %.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri Kelapa sawit mempekerjakan kurang lebih 2,8 juta orang on farm (langsung), 1,6 juta di antaranya adalah petani pekebun kecil. Artinya, paling tidak ada 4,8 juta orang yang menjadikan kebun kelapa sawit sebagai tempat menggantungkan hidup. Sementara, 1,2 juta KK atau 3,6 juta orang adalah keluarga karyawan yang bekerja di perusahaan perkebunan, baik swasta maupun BUMN yang tentunya menikmati penghidupan yang layak akibat benefit dan fasilitas yang diberikan perusahaan tempat mereka berkerja. Pengembangan atau ekspansi kebun kelapa sawit baru secara berkesinambungan akan mampu menyerap tenaga kerja secara sinambung pula. Setiap ha kebun sawit yang sudah\n\nberoperasi (mature) membutuhkan 0,2 hari kerja orang per hari. Artinya, jika secara nasional bisa mengembangkan kebun baru 400.000 ha setiap tahunnya, maka minimal jumlah tenaga kerja yang bisa diserap adalah 80.000 KK setiap tahunnya. Jika setiap tahun di Indonesia ada sebanyak 200.000 angkatan kerja baru yang masuk pasar tenaga kerja maka sekitar lebih dari 30 % bisa diserap di sector perkebunan kelapa sawit.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIndustri kelapa sawit terbukti kebal krisis. Dalam kondisi keuangan global mengalami krisis dan banyak industry mengalami kebangkrutan, sektor kelapa sawit tetap tegar. Industri yang menghasilkan komoditas untuk bahan makan pokok umat manusia, dan belakangan juga sebagai bahan baku energy nabati- yang juga kebutuhan dasar manusia, tidak akan pernah terpengaruh krisis. Satu-satunya kondisi yang dikhawatirkan adalah jika terjadi penurunan harga komoditas, dan bagi perusahaan hal ini adalah masalah margin yang berkurang. Bagi petani, jika hal tersebut terjadi maka petani akan mengurangi resiko biaya dengan misalnya, menunda perawatan kebun. Oleh karena itu tidak ada PHK massal di industry sawit.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBagi Negara, industry sawit merupakan salah satu andalan penerimaan Negara, baik melalui berbagai bentukpajak dan pendapatan ekspor. Tahun lalu, devisa dari ekspor produk minyak kelapa sawit dan turunannya bernilai 15 juta USD. Di saat beberapa industry kinerja ekspornya menurun tajam, sektor kelapa sawit cukup stabil dalam hal kinerja ekspornya. Bahkan, jika dilihat dari total ekspor non migas Indonesia tahun 2008, nilai ekspor produk sawit dan turunannya merupakan yang terbesar dan menduduki urutan pertama. Dengan demikian, peran produk sawit dan turunannya memiliki peran penting dalam struktur neraca perdagangan nasional.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nYang tidak kalah penting, kalaupun tidak dikatakan yang sangat penting, perkebunan \/industry kelapa sawit menjadi pioneer dalam pengembangan wilayah (pedalaman). Banyak kabupaten baru, bahkan propinsi baru muncul karena daya dorong kemajuan akibat adanya perkebunan kelapa sawit. Sejarah mencatat, bahwa kebanyakan kota di Sumatra Utara lahir dari kemajuan yang diakibatkan perkebunan. Bayangkan misalnya, pada awal tahun 1990-an pengusaha perkebunan kelapa sawit yang ingin berinvestasi di wilayah Mamuju\n\n(dulu:propinsi Sulawesi Selatan) harus menempuh perjalanan laut (kapal klothok) dari Donggala menuju pantai Mamuju selama 8 jam dan mendarat di sana dengan membawa berbagai perbekalan untuk memulai kegiatan penanaman. Hari ini, perjalanan menuju areal perkebunan di Mamuju dari Palu bisa ditempuh 3 jam dengan mobil. Perkebunan kelapa sawit banyak andil dalam membangun infrastruktur jalan dan jembatan yang bisa digunakan kepentingan umum. Perkebunan kelapa sawit juga membangun sekolah di lingkungan kebun, yang juga bisa untuk masyarakat sekitar kebun. Karena perkebunan kelapa sawit maka  tumbuh pasar, pusat perdagangan dan kegiatan pendukung lainnya. Secara otomatis memicu berkembangnya ekonomi local, supplier local, kontrktor local, dsb. Transaksi karyawan beserta keluarga perkebunan dengan pasar local setiap bulannya cukup besar. Siapa menyangka bahwa setelah 20 tahun, wilayah areal perkebunan di Mamuju tersebut menjadi kabupaten baru (Kab Mamuju Utara) dan menjadi propinsi baru (Propinsi Sulawesi Barat).\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDari aspek kelestarian lingkungan, perkebunan kelapa sawit menjadi solusi penghutanan kembali (reforestasi) areal\/hutan yang gundul dan atau terlantar (degraded). Akan sulit faktanya, menanami hutan (reboisasi) dalam jumlah besar dan berhasil. Tapi menanam kelapa sawit dalam satu unit kebun (rata-rata 10.000 ha) dalam setahun adalah hal yang sangat mungkin, dan karena dirawat pasti akan menjadi (hutan) kelapa sawit yang subur. Dari aspek mitigasi emisi gas rumah kaca, kebun kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap karbon (carbon sequestration) yang sangat baik. Carbon stock dari perkebunan kelapa sawit juga lebih baik dari hutan terlantar atau hutan sekunder. Dengan demikian neraca karbon perkebunan kelapa sawit tidak kalah dibanding hutan rusak atau hutan sekunder.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nInikah sehingga kelapa sawit disebut primadona? Primadona, dalam dunia seni pertunjukan selalu dijaga dan diistimewakan, bahkan dibayar lebih dari yang lain karena menjadi kunci meningkatkan penonton dan kelangsungan kelompok seni tersebut. Kelapa sawit sudah menjadi daya tarik dan memberikan kontribusi  besar bagi Negara, tetapi belum memadai dalam memperoleh ‘penjagaan’ dan ‘keistimewaan’. Jadi, kelapa sawit belum layak mendapat predikat primadona.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nWallahu alam.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EOleh Joko Supriyono\n15 Oktober 2010\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1610870347604817560"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1610870347604817560"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pantaskah-kelapa-sawit-disebut.html","title":"Pantaskah Kelapa Sawit disebut Primadona"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-fhhglDfm31w\/UG_u-k9B6fI\/AAAAAAAACUo\/1gJ_Xnb7Yec\/s72-c\/sawit+2.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3244351321488231111"},"published":{"$t":"2012-10-06T15:25:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T15:25:27.274+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Asosiasi Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"Asosiasi Kelapa Sawit yang ada di Indonesia adalah sbb:\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1. GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-natX-BAL53E\/UG_ntAAwfbI\/AAAAAAAACUM\/4Jzip5O8_QM\/s1600\/logo+GAPKI.png\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-natX-BAL53E\/UG_ntAAwfbI\/AAAAAAAACUM\/4Jzip5O8_QM\/s1600\/logo+GAPKI.png\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGAPKI atau Indonesian Palm Oil Association didirikan pada 27 Februari\n 1981 karena para enterpreneur minyak sawit sadar bahwa mereka mesti \ndipersatukan di satu organisasi serta timbulnya perusahaan industri \nminyak sawit baru. Memulai GAPKI terdiri atas dua pembagian, Jenderal \n(Pengurus) dan Komisi Teknik. Ketua pertama GAPKI (Komisi Pengurus) \nadalah Manap Nasution yang mengebawahkan tiga orang kepala, tiga orang \nsekretaris, dua bendahara dan seorang komisaris. Sedangkan Komisi \nTeknik, yang bertanggung jawab dalam membantu pengurus untuk merumuskan \nmengangkat persoalan dan mengantarkan masukan, yang diketuai oleh Mohd. \nYahya Rowter, MA.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada mulanya, GAPKI hanya mempunyai 23 perusahaan perkebunan sebagai \nanggotanya yang terdiri nasional dan asing pribadi perkebunan, dan \ndimiliki oleh pemerintah perkebunan. Di waktu sekarang, keanggotaan \nGAPKI sudah menjadi\u0026nbsp;568 perkebunan, dengan\u0026nbsp;41 anggota pusat,\u0026nbsp;75 anggota \nCabang Sumatera Utara, 19 anggota Cabang Sumatera Barat, 28 anggota \nCabang Jambi,\u0026nbsp;71 anggota Cabang Riau, 51 anggota Cabang Sumatera \nSelatan,\u0026nbsp;31 anggota Cabang Kalimantan Barat,\u0026nbsp;66 anggota Cabang \nKalimantan Tengah, 41 anggota Cabang Kalimantan Selatan, 135 anggota \nCabang Kalimantan Timur dan 10 anggota Cabang Sulawesi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDewasa ini, pentingnya minyak sawit agribisnis mendesak GAPKI untuk \nmengelola organisasinya secara profesional dan efektif untuk menambah \nsumbangannya sampai perkembangan nasional yang keseluruhan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) adalah wadah \nperusahaan produsen minyak sawit (CPO) yang terdiri dari perusahaan PT. \nPerkebunan Nusantara, Perusahaan Perkebunan Swasta Nasional dan Asing \nserta peladang Kelapa Sawit yang tergabung dalam Koperasi. GAPKI telah \nmelakukan berbagai upaya untuk memajukan perkelapasawitan \nIndonesia.GAPKI selaku mitra Pemerintah telah memberikan masukan-masukan\n sebagai bahan pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan tentang \nmasalah perkelapasawitan, termasuk menetapkan kebijakan tata niaga \nminyak sawit yang memberikan harga jual yang menarik sehingga akan \nmerangsang untuk melakukan investasi pada perkebunan kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPerusahaan anggota GAPKI telah menyediakan minyak sawit sebagai bahan \nbaku untuk kepentingan industri dalam negeri dengan jumlah yang cukup \ndan terus menerus, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terutama\n terhadap kebutuhan minyak goreng dengan harga yang terjangkau, \ndisamping itu juga mengekspor minyak sawit dalam meningkatkan pendapatan\n devisa negara.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAlamat kantor GAPKI Pusat:, \u003Cbr \/\u003E\nSudirman Park Rukan Blok B No.18\u003Cbr \/\u003E\nJln. K.H. Mas Mansyur Kav.35 Jakarta Pusat 10220\u003Cbr \/\u003E\nTel. +6221-57943871, Fax. +6221-57943872\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nCabang GAPKI di seluruh Indonesia \u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable\u003E\u003Cthead\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\u003Cth width=\"20\"\u003ENo.\u003C\/th\u003E\n     \u003Cth\u003EBranch Name\u003C\/th\u003E\n     \u003Cth width=\"200\"\u003EBranch Address\u003C\/th\u003E\n     \u003Cth\u003EPhone\/Fax\u003C\/th\u003E\n     \u003Cth width=\"50\"\u003EMembers\u003C\/th\u003E\n     \u003Cth\u003EChairman\u003C\/th\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/thead\u003E\n   \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E1\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJambi\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJl. Soekarno-Hatta No.24, Palmerah Baru, Jambi 36139\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 741 - 570466\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 741 - 570466\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E29\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EH. Ahmad Karimuddin\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\n          \u003Ctd\u003E2\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EKalimantan Barat\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EWisma William Satya, Jl. Adi Sucipto KM. 5 Pontianak, Kalimantan Barat\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 561 - 731128\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 561 - 739818\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E31\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EBernard Ho\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E3\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EKalimantan Selatan\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJl. A. Yani, KM. 22,7, Landasan Ulin Utara Banjar Baru\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 511 - 4706180\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 511 - 4706179\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E41\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EUntung Joko Wiyono\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\n          \u003Ctd\u003E4\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EKalimantan Tengah\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003Ed.a Bapak Dwi Dharmawan,MAKIN Group, Jln. Wahid Hasyim 188 - 190, Jakarta 10250\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62- 21 - 3926877\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 21 - 3926879\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E65\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EEdy Saputra S\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E5\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EKalimantan Timur\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EPT LONDON SUMATRA INDONESIA\u003Cbr \/\u003E\nRuko Mitra Mas 8\u003Cbr \/\u003E\nJalan Ahmad Yani No. 27-28\u003Cbr \/\u003E\nSAMARINDA 75117 Kalimantan Timur\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 541 -  7118899\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 541 - 250332\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E135\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EAzmal Ridwan\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\n          \u003Ctd\u003E6\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EPusat\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ERukan Sudirman Park, Blok B 18, Jl. KH Mas Mansyur Kav 35, Jakarta Pusat\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 21 - 57943871\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 21 - 57943872\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E44\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJoefly J. Bahroeny (Ketua Umum)\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E7\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ERiau\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EKomplek Mal SKA Blok E No. 57, Jl. Soekarno-Hatta, Pekanbaru 28193, Riau\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 761 - 571159\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 761 - 571159\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E71\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ER. Wisnu O. Suharto\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\n          \u003Ctd\u003E8\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ESulawesi\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003Ed\/a PT Unggul Widya Teknologi Lestari, Jl. Lasinrang No. 71, Makasar\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 411 - 852938\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 411 - 871507\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E10\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EMuchtar Tanong\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E9\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ESumatera Barat\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJln. Jakarta F\/1, Asratek Ulak Karang, Padang 25135\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 751 - 444419\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 751 - 442024\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E19\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EEdy Sukamto\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr style=\"background-color: #eeeeee;\"\u003E\n          \u003Ctd\u003E10\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ESumatera Selatan\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJl. Brigjend Hasan Kasim Komp. Jaya Raya Garden No. C-3 Palembang\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 711 -  6010422 , 813154\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 711 - 813154\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E51\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ESumarjono Saragih\u003C\/td\u003E\n    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\n          \u003Ctd\u003E11\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003ESumatera Utara\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EJln. Murai 2 No. 40, Komp. Tomang Elok Medan 20122\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E\n      Phone: +62 - 61 - 8473331\u003Cbr \/\u003E\n      Fax. +62 - 61 - 8468851\u003Cbr \/\u003E\n     \u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003E75\u003C\/td\u003E\n     \u003Ctd\u003EBalaman Tarigan\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E2. APKASINDO (Asosiasi Petani Sawit Indonesia)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAsosiasi\n Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) didirikan pada tanggal 28 \nOktober 2000 di Palembang, oleh utusan-utusan petani kelapa sawit dari \nseluruh Indonesia. APKASINDO adalah satu-satunya organisasi profesi \npetani sebagai wadah pemersatu petani di Indonesia yang difasilitasi \noleh Pemerintah c\/q Departemen Pertanian.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAPKASINDO\n mempunyai AD\/ART yang dibuat didepan Notaris Ny. Sartutiyasni Agoeng \nIskandar SH Medan, akte No. 1 tanggal 3 September 2001 dengan perubahan \ntanggal 5 November 2003 sesuai Munas I APKASINDO tanggal 3-5 September \n2003 di Medan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAPKASINDO\n saat ini tersebar pada 16 Provinsi penghasil kelapa sawit di Indonesia \nmulai dari Aceh sampai Papua. Dari luas total kelapa sawit Nasional \nyaitu 7,3 juta hektar, 3,2 juta hektar diantaranya adalah kelapa sawit \nrakyat atau 43,8%. Jumlah anggota APKASINDO saat ini mencapai 12 juta \njiwa beserta keluarganya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv lang=\"en\" style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;\"\u003E\nSesuai dengan AD\/ART maka tujuan dan fungsi APKASINDO antara lain :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli lang=\"en\"\u003EMempersatukan masyarakat petani kelapa sawit di \nseluruh Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang dapat \nmeningkatkan kesejahteraan yang merata bagi petani kelapa sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli lang=\"en\"\u003EMembangun ekonomi kerakyatan di pedesaan dengan menumbuh \nkembangkan usaha petani kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan \nbermanfaat bagi seluruh komponen bangsa untuk mencapai masyarakat petani\n yang adil dan makmur.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli lang=\"en\"\u003EMeningkatkan dan memberdayakan SDM petani kelapa sawit agar menguasai Ilmu dan Teknologi (IPTEK) pertanian modern.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv lang=\"en\" style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;\"\u003E\nDengan demikian diharapkan APKASINDO dapat berfungsi sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font: 7pt \u0026quot;Times New Roman\u0026quot;;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan lang=\"en\"\u003EMembantu\n mempersiapkan petani kelapa sawit menjadi petani yang mandiri dan \nprofessional yang mampu bersaing dalam era globalisasi.\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli lang=\"en\"\u003EMenjembatani kepentingan masyarakat petani kelapa sawit, \npengusaha dna Pemerintah dalam rangka mewujudkan berbagai kepentingan \ndengan tidak merugikan semua pihak.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli lang=\"en\"\u003EMelindungi petani kelapa sawit dari segala bentuk \nperbuatan yang dilakukan oleh pihak manapun juga yang merugikan \nkelangsungan kehidupan masyarakat petani kelapa sawit di Indonesia.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\nSEKRETARIAT DPP APKASINDO\u003Cbr \/\u003E\nJl. Setia Budi, Komplek Setia Budi Point B-6 Medan-Sumatera Utara\nINDONESIA\u003Cbr \/\u003E\nTelp: 061-8225828 Fax : 061-8225827\u003Cbr \/\u003E\nEmail : dppapkasindo@ymail.com\ndan apkasindo@gmail.com\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3. Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-JXa9BHPnbDs\/UG_pa22VwQI\/AAAAAAAACUU\/vYGsQLhqgM0\/s1600\/appksi2.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"200\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-JXa9BHPnbDs\/UG_pa22VwQI\/AAAAAAAACUU\/vYGsQLhqgM0\/s200\/appksi2.jpg\" width=\"155\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\nAdalah merupakan asosiasi dari para petani Kelapa Sawit yang berada di Smarinda, Kalimantan Timur.\u003Cb\u003E \u003C\/b\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3244351321488231111"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3244351321488231111"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/asosiasi-kelapa-sawit.html","title":"Asosiasi Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-natX-BAL53E\/UG_ntAAwfbI\/AAAAAAAACUM\/4Jzip5O8_QM\/s72-c\/logo+GAPKI.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3679400113152424989"},"published":{"$t":"2012-10-06T14:34:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:34:28.974+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengendalian Rayap Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRayap memiliki nama latin Coptotermes \ncurvignathus merupakan hama yang serius dan harus ditangani secara rutin\n terutama pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut. Bagian tanaman \nkelapa sawit yang terserang adalah seluruh bagian tanaman, baik pada pembibitan, tanaman belum menghasilkan dan tanaman yang sudah menghasilkan juga tidak luput dari serangan hama ini\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/adearisandi.files.wordpress.com\/2011\/04\/rayap-tentara.jpg?w=300\u0026amp;h=198\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg alt=\"gambar rayap prajurit\" border=\"0\" height=\"131\" src=\"http:\/\/adearisandi.files.wordpress.com\/2011\/04\/rayap-tentara.jpg?w=300\u0026amp;h=198\" width=\"200\" \/\u003E\u003C\/a\u003EKlasifikasi Rayap :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDomain\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E  \u003C\/span\u003E: Eukariota\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKerajaan\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E  \u003C\/span\u003E: Animalia\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUpakerajaan\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E \u003C\/span\u003E: Metazoa\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nFilum\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E  \u003C\/span\u003E: Artropoda\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKelas\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E  \u003C\/span\u003E: Serangga\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nOrdo\u003Cspan class=\"Apple-tab-span\" style=\"white-space: pre;\"\u003E  \u003C\/span\u003E: Isoptera\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRayap memiliki tiga bagian utama tubuh yaitu, kepala, dada\/thorax \u0026amp; \nperut\/abdomen. Rayap memiliki sistem sosial, dengan raja, ratu, pekerja,\n dan prajurit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJenis atau Kasta Rayap\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\na) Rayap pekerja: berwarna putih dan panjang tubuhnya 5 mm\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nb) Rayap tentara: tubuhnya berukuran 6 - 8 mm, kepalanya besar dan memiliki rahang yang \nkuat. Apabila diganggu, rayap tersebut akan mengeluarkan cairan putih \ndari kelenjar di bagian depan kepalanya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nc) Rayap ratu: panjang tubuhnya dapat mencapai 50 mm. Ratu mempunyai tugas utama untuk reproduksi anggota koloni\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi hutan rayap hidup di daerah rendahan dan daerah yang mempunyai curah \nhujan dengan distribusi merata. Jenis rayap ini membuat sarang di dalam \nkayu lapuk, biasanya di dalam tanah. Rayap pekerja bergerak keluar dari \nsarang, kemudian menggerek serambi-serambi yang dapat dipergunakan \nsebagai sarang kedua. Sarang-sarang tersebut saling berhubungan satu \ndengan yang lain hingga mencapai panjang 90 m pada kedalaman 30 - 60 cm \ndi bawah permukaan tanah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003ECara rayap menyerang tanaman kelapa sawit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nRayap pekerja menggerek dan memakan pangkal pelepah, jaringan batang, \nakar dan pangkal akar, daun serta titik tumbuh tanaman kelapa sawit. \nSerangan berat dapat menyebabkan kematian bibit maupun tanaman dewasa di\n lapangan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EGejala tanaman kelapa sawit yang terserang rayap :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cu\u003E\u0026nbsp;\u003C\/u\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-616Yx6KmcpE\/UGMPAx-8QiI\/AAAAAAAAA_E\/iVxdvU20_dU\/s1600\/rayap1.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"262\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-616Yx6KmcpE\/UGMPAx-8QiI\/AAAAAAAAA_E\/iVxdvU20_dU\/s320\/rayap1.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E1. Adanya lorong rayap yang terbuat dari tanah yang berada di permukaan batang yang mengarah ke bagian atas.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n2. Terlihat daun pupus layu dan kering.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n3. Banyak rayap berkeliaran di sekitar tanaman\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EPengendalian rayap secara manul\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nCara pengendalian rayap yang efektif adalah dengan menghancurkan \nsarangnya danmembunuh semua anggota koloni rayap terutama ratu. Akan \ntetapi di areal tanaman kelapa sawit yang terserang, terutama di areal \ngambut, sulit untuk menemukan sarang rayap. Oleh sebab itu, upaya \npengendalian saat ini lebih ditekankan untuk membunuh rayap yang \nmenyerang pokok kelapa sawit, serta mengisolasi pokok yang terserang \nagar hubungan antara pokok dengan sarang rayap dapat diputus. Hal ini \ndianggap perlu, karena rayap baru akan selalu datang dari sarangnya ke \npokok terserang untuk menggantikan rayap yang mati.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EPengendalian Rayap secara kimia\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nInsektisida yang direkomendasikan untuk pengendalian rayap seperti pada Tabel\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n1. Regent 50 SC berbahan aktif Fipronil dengan dosisi aplikasi 2,50 ml\/l air\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n2. Termiban 400 EC berbahan aktif Chlorpyriphos dengan dosisi aplikasi 6,25 ml\/l air\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDemikian informasi tentang cara pengendlaian rayapa di perkebunan kelapa sawit. semoga bermanfaat.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERead more: \u003Ca href=\"http:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/09\/pengendalian-rayap-pada-kelapa-sawit.html#ixzz28VAFkhNb\" style=\"color: #003399;\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/09\/pengendalian-rayap-pada-kelapa-sawit.html#ixzz28VAFkhNb\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3679400113152424989"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3679400113152424989"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pengendalian-rayap-kelapa-sawit.html","title":"Pengendalian Rayap Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-616Yx6KmcpE\/UGMPAx-8QiI\/AAAAAAAAA_E\/iVxdvU20_dU\/s72-c\/rayap1.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1793954134742613927"},"published":{"$t":"2012-10-06T14:29:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:29:24.126+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Gejala kekurangan unsur hara Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"Gejala kekurangan unsur hara pada kelapa sawit umumnya adalah unsur hara: nitrogen,\n kalium, magnesium, phosfat dan boron. Kelima unsur hara ini merupakan \nunsur hara yang paling di butuhkan oleh tanaman kelapa sawit. Jadi anda \ndapat mengetahui kebutuhan pupuk yang dibutuhkan oleh sawit anda dengan \nmelihat gambar berikut ini.\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EKekurangan unsur hara Nitrogen.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nNitrogen terdapat dalam pupuk urea atau Za, gejala kekurangan unsur hara\n bitrogen dapat di lihat pada daun muda dengan gejala daun yang pucat \ndan kalau siang hari seperti transparan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/--JhrTkqx2WA\/UFXhuy8tfSI\/AAAAAAAAA4Q\/L5tSHZfyfbg\/s1600\/kekurangan+nitrogen.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"195\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/--JhrTkqx2WA\/UFXhuy8tfSI\/AAAAAAAAA4Q\/L5tSHZfyfbg\/s320\/kekurangan+nitrogen.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\nGambar sawit kekurangan unsur hara nitrogen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EKekurangan Unsur Hara Kalium\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\nKalium terdapat dalam pupuk MOP dan KCL. gejala kekurangan unsur hara \nkalium adalah daun tua yang kelihatan bintik - bintik merah seperti \norang panuan dan kalau gejala sudah berat maka bercak tersebut akan \nmembesar dan merata pada daun kelapa sawit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-eVH65iEGzzs\/UFXif7x6laI\/AAAAAAAAA4Y\/ay-RjnzNjxU\/s1600\/kekurangan+kalium.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"252\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-eVH65iEGzzs\/UFXif7x6laI\/AAAAAAAAA4Y\/ay-RjnzNjxU\/s320\/kekurangan+kalium.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\ngambar daun kelapa sawit kekurangan unsur hara kalium\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EKekurangan Unsur hara Phosfat\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\nPhosfat terdapat pada pupuk TSP dan RP. Gejala kekurangan usnur hara \nPhosfat pada tanaman kelapa sawit di tunjukkan dengan gejala batang yang\n meruncing dan pelepah yang berwarna kemerahan selain itu juga sering di\n tunjukkan dengan gulma di sekitar sawit memiliki daun berwarna ungu.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-zZE_jHjCbLg\/UFXjKiJ98PI\/AAAAAAAAA4g\/JQZWAs9eyXk\/s1600\/kekurangan+posfat.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-zZE_jHjCbLg\/UFXjKiJ98PI\/AAAAAAAAA4g\/JQZWAs9eyXk\/s320\/kekurangan+posfat.jpg\" width=\"255\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\nGambar sawit kekurangan unsur hara Phosfat\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EKekurangan Unsur Hara Magnesium\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\nMagnesium terdapat pada pupuk Kieserite dan Dolomite, Gejala yang di \ntimbukan kelapa sawit yang kekurangan unsur hara magnesium adalah daun \nyang menguning dan akhirnya gosong seperti terbakar mulai dari tepi anak\n daun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-TfTp9sjRn10\/UFXjtneDw3I\/AAAAAAAAA4o\/IMn2Ddlsfpo\/s1600\/kekurangan+magnesium.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-TfTp9sjRn10\/UFXjtneDw3I\/AAAAAAAAA4o\/IMn2Ddlsfpo\/s320\/kekurangan+magnesium.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\nGambar daun sawit yang kekurangan unsur hara magnesium\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cb\u003EKekurangan Unsur Hara Boron\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\nBoron terdapat dalam pupuk borate atau HGFB, Gejala sawit yang \nkekurangan unsur hara boron di tunjukkan melalui daun yang keriting dan \nkadang ujung anak daun melipat seperti mata pancing.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-NBemRgngfZw\/UFXkLNJyLLI\/AAAAAAAAA4w\/16kvMDBZAks\/s1600\/kekurangan+boron.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"269\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-NBemRgngfZw\/UFXkLNJyLLI\/AAAAAAAAA4w\/16kvMDBZAks\/s320\/kekurangan+boron.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\nGejala daun kelapa sawit yang kekurangan unsur hara boron\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: justify;\"\u003E\nDemikian informasi tentang gejala kekurangan unsur hara atau defisiensi \npupuk pada tanaman kelapa sawit. Silahkan bandingkan gambar di atas \ndengan kondisi kelapa sawit anda sehingga anda dapat menentukan pupuk \nyang si butuhkan oleh sawit anda.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERead more: \u003Ca href=\"http:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/09\/gejala-kekurangan-pupuk-tanaman-kelapa.html#ixzz28V8XYsLH\" style=\"color: #003399;\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/09\/gejala-kekurangan-pupuk-tanaman-kelapa.html#ixzz28V8XYsLH\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1793954134742613927"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1793954134742613927"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/gejala-kekurangan-unsur-hara-kelapa.html","title":"Gejala kekurangan unsur hara Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/--JhrTkqx2WA\/UFXhuy8tfSI\/AAAAAAAAA4Q\/L5tSHZfyfbg\/s72-c\/kekurangan+nitrogen.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7342122829890047888"},"published":{"$t":"2012-10-06T14:23:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:29:52.163+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Harga Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-x17I0greEW8\/UG_b8CiteUI\/AAAAAAAACTk\/ZnL1nka1CAM\/s1600\/kemasan.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"241\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-x17I0greEW8\/UG_b8CiteUI\/AAAAAAAACTk\/ZnL1nka1CAM\/s320\/kemasan.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nHarga kelapa sawit berikut ini adalah harga \nsawit yang ditetapkan oleh dinas perkebunan daerah provinsi jambi. harga\n ini dapat anda gunakan sebagai bahan untuk pembanding dengan harga \npabrik tempat anda menjual buah sawit. harga ini diupdate setiap \nperiodenya sehingga anda akan mendapatkan harga yang update.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBerikut adalah daftar harga sawit untuk setiap periode di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi untuk tahun 2012\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003EPeriode\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003EHarga (Rp)\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E13 September s\/d 19 September 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E6 September s\/d 12 September 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E31 Agustus s\/d 5 September 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E24 Agustus s\/d 30 Agustus 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E17 Agustus s\/d 23 Agustus 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,512.14\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E10 Agustus s\/d 16 Agustus 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,548.44\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E3 Agustus s\/d 9 Agustus 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1.556.52\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E27 Juli s\/d 2 Agusuts 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,567.37\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E20 Juli s\/d 26 Juli 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,609.47\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E13 Juli s\/d 19 Juli 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,614.68\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Juli s\/d 12 Juli 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,559.60\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E29 Juni s\/d 05 Juli 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,535.33\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E23 Juni s\/d 28 Juni 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,489.39\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E16 Juni s\/d 22 Juni 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,477.69\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E08 Juni s\/d 15 Juni 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,451.53\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E01 Juni s\/d 07 Juni 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,511.73\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E25 Mei s\/d 31 Mei 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,515.52\n\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E18 Mei s\/d 14 Mei 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,771.41\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E11 Mei s\/d 17 Mei 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,771.41\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E04 Mei s\/d 10 Mei 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,817.60\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E27 April s\/d 03 Mei 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,807.96\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E20 April s\/d 26 April 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,863.53\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E13 April s\/d 19 April 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,903.20\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 April s\/d 12 April 2012\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,813.83\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E30 Maret s\/d 05 April\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,793.94\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E23 Maret s\/d 29 Maret\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,793.94\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E16 Maret s\/d 22 Maret\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,811.38\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E09 Maret s\/d 15 Maret\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,755.34\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E02 Maret s\/d 08 Maret\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,740.78\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E25 Februari s\/d 01 Maret\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,694.78\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E17 Februari s\/d 24 Februari\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,657.86\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E10 Februari s\/d 16 Februari\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,606.96\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E03 Februari s\/d 09 Februari\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,597.93\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E27 Januari \u0026nbsp; s\/d 02 Februari\n\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,612.13\n\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Januari \u0026nbsp; s\/d 12 Januari\n\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,633.42\n\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E13 Januari \u0026nbsp; s\/d 19 Januari\n\u003C\/td\u003E\u003Ctd\u003E1,671.08\n\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E20 Januari \u0026nbsp; s\/d 26 Januari\n\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,637.65\n\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E01 Januari \u0026nbsp; s\/d 05 Januari\u0026nbsp;\n\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,559.67\n\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDaftar harga sawit update setiap periode dinas perkebunan Jambi Tahun 2011\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003EPeriode\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003EHarga (Rp)\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Desember s\/d 05 Januari\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,876.41\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Januari s\/d 20 Januari\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,866.73\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Januari s\/d 05 Februari\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,963.51\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd\u003E06 Februari s\/d 20 Februari\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,895.91\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Februari s\/d 05 Maret\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,931.08\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Maret s\/d 20 Maret\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,758.78\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Maret s\/d 05 April\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,623.61\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 April s\/d 20 April\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,710.19\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 April s\/d 05 Mei\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,642.00\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Mei s\/d 20 Mei\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,710.19\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Mei s\/d 05 Juni\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,715.87\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Juni s\/d 20 Juni\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,758.99\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Juni s\/d 05 Juli\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,650.36\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Juli s\/d 20 Juli\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,453.05\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Juli s\/d 05 Agustus\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,464.23\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Juli s\/d 20 Agustus\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,544.41\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Agustus s\/d 05 September\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,512.20\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 September s\/d 20 September\u0026nbsp;\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,512.20\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 September s\/d 05 Oktober\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,533.91\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E06 Oktober s\/d 13 Oktober\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,464.72\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E14 Oktober s\/d 20 Oktober\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,355.01\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E21 Oktober s\/d 27 Oktober\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,364.33\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E28 Oktober s\/d 03 November\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,370.46\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E03 November\u0026nbsp;s\/d 10 November\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,442.16\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E11 November\u0026nbsp;s\/d 17 November\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,466.47\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E18 November\u0026nbsp;s\/d 24 November\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,492.39\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E25 November\u0026nbsp;s\/d 01 Desember\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,583.26\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E02 Desember\u0026nbsp;s\/d 08 Desember\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,553.83\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E09 Desember\u0026nbsp;s\/d 15 Desember\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,544.67\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E \u003Ctd\u003E16 Desember\u0026nbsp;s\/d 22 Desember\u003C\/td\u003E \u003Ctd\u003E1,532.67\u003C\/td\u003E \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nHarga ini adalah harga buah sawit untuk tanaman 10 tahun keatas yang ditetapkan oleh dinas perkebunan provinsi Jambi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv\u003E\nSemoga info harga kelapa sawit ini bermanfaat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERead more: \u003Ca href=\"http:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/p\/harga-buah-sawit-online.html#ixzz28V6lSZhL\" style=\"color: #003399;\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/p\/harga-buah-sawit-online.html#ixzz28V6lSZhL\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7342122829890047888"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7342122829890047888"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/harga-kelapa-sawit-berikut-ini-adalah.html","title":"Harga Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-x17I0greEW8\/UG_b8CiteUI\/AAAAAAAACTk\/ZnL1nka1CAM\/s72-c\/kemasan.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5924561360737448779"},"published":{"$t":"2012-10-06T14:14:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:17:12.675+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kondisi Industri Agribinis Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPengembangan agribisnis kelapa sawit \nmerupakan salah satu langkah yang sangat diperlukan sebagai kegiatan \n\u0026nbsp;pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor \npertanian. \u0026nbsp;Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada \nagribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi \nbukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit. \u0026nbsp;Dalam dokumen \npraktis ini digambarkan prospek pengembangan agribisnis saat ini hingga \ntahun 2010, dan arah pengembangan hingga tahun 2025. \u0026nbsp;Masyarakat luas, \nkhususnya petani, pengusaha, dan pemerintah dapat menggunakan dokumen \npraktis ini sebagai acuan. \u0026nbsp;\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-JGckV9jz5m4\/UF_LmurUxRI\/AAAAAAAAB7A\/jaGQd5Vl8WE\/s1600\/buah+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"301\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-JGckV9jz5m4\/UF_LmurUxRI\/AAAAAAAAB7A\/jaGQd5Vl8WE\/s400\/buah+sawit.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDokumen praktis ini didahului dengan penyajian peranan sektor pertanian,\n subsektor perkebunan, dan agribisnis kelapa sawit. Pada bab II \ndiuraikan tentang kondisi agribisnis kelapa sawit saat ini. \u0026nbsp; Perkebunan\n kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan \n\u0026nbsp;oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. \u0026nbsp; \nPada tahun 2003, luas areal \u0026nbsp;perkebunan rakyat mencapai 1.827 ribu ha \n(34,9%), perkebunan negara seluas 645 ribu ha (12,3%), dan perkebunan \nbesar swasta seluas 2.765 ribu ha (52,8%). Ditinjau dari bentuk \npengusahaannya, perkebunan rakyat (PR) memberi andil produksi CPO \nsebesar 3.645 ribu ton (37,12%), perkebunan besar negara (PBN) sebesar \n1.543 ribu ton (15,7 %), dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 4.627\n ribu ton (47,13%). Produksi CPO juga menyebar dengan \u0026nbsp;perbandingan \n85,55% Sumatera, 11,45% Kalimantan, 2%, Sulawesi, dan 1% wilayah \n\u0026nbsp;lainnya. \u0026nbsp;Produksi tersebut dicapai pada tingkat produktivitas \nperkebunan rakyat sekitar 2,73 ton CPO\/ha, perkebunan \u0026nbsp;negara 3,14 ton \nCPO\/ha, dan perkebunan swasta 2,58 ton CPO\/ha.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan juga didukung secara \nhandal oleh 6 produsen benih dengan \u0026nbsp;kapasitas 124 juta per tahun. \n\u0026nbsp;Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT. Socfin, PT. Lonsum, PT. Dami \nMas, PT. Tunggal Yunus, dan PT. Bina Sawit Makmur masing-masing \nmempunyai kapasitas 35 juta, 25 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, dan 25 \njuta. \u0026nbsp;Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui \nlangkah-langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara \nnasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hatihati \nterutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit. Dalam hal industri \npengolahan, industri pengolahan CPO telah berkembang dengan pesat. Saat \nini jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan\n kapasitas olah 13,520 ton \u0026nbsp;TBS per jam. \u0026nbsp;Sedangkan industri pengolahan \nproduk turunannya, kecuali minyak goreng, \u0026nbsp;masih belum berkembang, dan \nkapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton. \u0026nbsp;Industri oleokimia \nIndonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8% dari \nproduksi dunia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam perdagangan CPO, Indonesia merupakan negara net exporter dimana \nimpor dari Malaysia dilakukan hanya pada saat-saat tertentu. \u0026nbsp;Ekspor \nIndonesia masih di bawah Malaysia dimana pada tahun 2002 hanya mencapai \n6,3 juta ton atau sekitar 32,64% lebih rendah dibandingkan Malaysia yang\n mencapai 11,2 juta ton atau sekitar 57,28% dari total ekspor dunia. \n\u0026nbsp;Sementara itu, impor CPO mulai menyebar ke berbagai negara dan \nIndonesia mengandalkan pasar di Belanda dan Pakistan. \u0026nbsp;Neraca \nperdagangan CPO, baik dunia maupun Indonesia, saat ini cenderung berada \npada posisi \u0026nbsp;seimbang. \u0026nbsp;Harga pada beberapa tahun terakhir cenderung \nmeningkat baik di pasar internasional dan domestik. Guna mendukung \npengembangan agribisnis kelapa sawit, peranan lembaga penelitian dan \npengembangan perkebunan, kelembagaan dan kebijakan pemerintah cukup \nstrategis. \u0026nbsp;Lembaga penelitian dan pengembangan perkebunan hingga saat \nini telah berperan nyata melalui berbagai inovasi teknologi. \u0026nbsp;Inovasi \ntersebut \u0026nbsp;mulai dari subsistem hulu, usahatani, hingga pengolahan produk\n hilir. \u0026nbsp;Pada aspek kelembagaan, berbagai organisasi, aturan dan pelaku \nusaha mulai berkembang. \u0026nbsp;Sedangkan pada aspek kebijakan, beberapa \nkebijakan perlu diperhatikan, khususnya kebijakan fiskal (perpajakan dan\n retribusi), dan perijinan investasi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nProspek, potensi, dan arah pengembangan agribisnis \u0026nbsp;kelapa \u0026nbsp;sawit. Secara \u0026nbsp;umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa \nsawit masih mempunyai \u0026nbsp;prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan \npengembangan produk. \u0026nbsp;Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa \nsawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas \nyang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. \n\u0026nbsp;Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agribisnis kelapa \nsawit adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTujuan dan sasaran pengembangan agribisnis tahun 2005-2010. \u0026nbsp;Sejalan \ndengan tujuan pembangunan pertanian, tujuan utama pengembangan \nagribisnis kelapa sawit adalah:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n1) menumbuhkembangkan usaha kelapa sawit di pedesaan yang akan memacu \naktivitas ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan \nkesejahteraan masyarakat, dan\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n2) menumbuhkan industri pengolahan CPO \u0026nbsp;dan produk turunannya serta \nindustri penunjang (pupuk, obata-obatan dan alsin) dalam meningkatkan \ndaya saing dan nilai tambah CPO dan produk turunannya. \u0026nbsp;Sedangkan \nsasaran utamanya adalah 1) peningkatan produktivitas menjadi 15 ton \n\u0026nbsp;TBS\/ha\/tahun, 2) pendapatan petani antara US$ 1,500 – 2,000\/KK\/tahun, \ndan 3) produksi mencapai 15,3 juta ton CPO dengan alokasi domestik 6 \njuta ton.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EKebijakan, strategi dan program pengembangan agribisnis perkebunan.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\narah kebijakan jangka panjang adalah pengembangan sistem dan usaha \nagribisnis kelapa sawit yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan\n dan terdesentralisasi. \u0026nbsp;Dalam jangka menengah kebijakan pengembangan \nagribisnis kelapa sawit meliputi peningkatan produktivitas dan mutu, \npengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah, serta \npenyediaan dukungan dana pengembangan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nstrategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah \nintegrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka \npeningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan \nkelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan \ndalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan, \u0026nbsp;dan pengembangan \npasar. \u0026nbsp;Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur \n(sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk \npeningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit. \u0026nbsp;Dalam implementasinya, \nstrategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan \nprogram-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu \nperencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, \npengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) \nhingga evaluasi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKebutuhan investasi pengembangan agribisnis kelapa sawit untuk \npembagunan 350.000 ha kebun plasma dan inti dan 58 unit pengolahan CPO \ndi Indonesia Barat dan Timur, peremajaan 100.000 ha kebun di kedua \nwilayah (tanpa pembangunan unit pengolahan) \u0026nbsp;dan kebutuhan investasi \nindustri biosiesel kapasitas. \u0026nbsp;Pembangunan dilaksanakan setiap tahun \ndari tahun 2006 hingga 2010 dengan investor petani plasma, perusahaan \ninti dan pemerintah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKebutuhan investasi untuk perluasan kebun kelapa sawit 350.000 ha per \ntahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. \u0026nbsp;73.462.679.150.000 (Rp. \n73,46 trilyun). \u0026nbsp;Kebutuhan investasi di Indonesia Barat (150.000 ha) \nadalah Rp. 29.030.510.250.000 \u0026nbsp;(investasi petani plasma sebesar Rp. \n16.831.607.940.000, perusahaan inti sebesar \u0026nbsp;Rp. 9.393.827.310.000 dan \npemerintah sebesar Rp. \u0026nbsp; \u0026nbsp;2.805.075.000.000). \u0026nbsp;Kebutuhan investasi di \nIndonesia Timur (200.000 ha) adalah Rp. 44.432.168.900.000 (investasi \npetani plasma sebesar Rp. 25.433.332.660.000, perusahaan inti sebesar \nRp. 15.882.086.240.000 dan pemerintah sebesar Rp. 3.116.750.000.000).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKebutuhan investasi untuk peremajaan kebun kelapa sawit 100.000 ha per \ntahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. \u0026nbsp;14.611.495.686.000 (Rp. 14,6\n trilyun). \u0026nbsp;Kebutuhan investasi untuk \u0026nbsp;peremajaan 80.000 ha di Indonesia\n Barat adalah Rp. 10.751.856.210.000 \u0026nbsp;(investasi petani plasma sebesar \nRp. 7.963.955.769.000, perusahaan inti sebesar Rp. 2.437.987.941.000 dan\n pemerintah sebesar Rp. 349.912.500.000). \u0026nbsp;Kebutuhan investasi untuk \nperemajaan 20.000 ha di Indonesia Timur adalah \u0026nbsp;Rp.3.859.639.476.000 \n(investasi petani plasma sebesar Rp. 3.005.753.730.000, perusahaan inti \nsebesar Rp. 741.010.746 dan pemerintah sebesar Rp. 112.875.000.000).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam implementasinya, pengembangan agribisnis kelapa sawit baik melalui\n perluasan maupun peremajaan menerapkan pola pengembangan inti-plasma \ndengan penguatan kelembagaan melalui \u0026nbsp;pemberian kesempatan kepada petani\n plasma sebagai pemilik saham perusahaan. \u0026nbsp;Pemilikan saham ini dilakukan\n melalui cicilan pembelian saham dari hasil potongan penjualan hasil \natau dari hasil outsourcing dana oleh organisasi petani.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKebutuhan investasi untuk pengembangan pabrik biodiesel kapasitas 6.000 \nton per tahun (6.600 kl per tahun) dan kapasitas 100.000 ton per tahun \n(110.000 \u0026nbsp;kl per tahun) masing-masing adalah Rp. \u0026nbsp;12 milyar dan Rp. 180 \nmilyar. \u0026nbsp;Apabila setiap tahun dibangun 1 pabrik skala kecil dan besar, \nmaka total biaya investasi yang diperlukan dalam 5 tahun ke depan Rp. \n860 milyar. Nilai investasi tersebut diperlukan untuk membeli peralatan \ndan mendirikan bangunan pabrik.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDukungan kebijakan sarana dan prasarana serta regulasi. \u0026nbsp;Dukungan \nkebijakan diharapkan diperoleh dari Departemen Perindustrian, Departemen\n Perdagangan, Deparetemen Keuangan, Bank Indonesia, Kantor Menteri \nNegara BUMN, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi\n Penanaman Modal, Kantor Menteri Negara Usaha Kecil, Menengah dan \nKoperasi, Pemerintah \u0026nbsp;Daerah, dan Kejaksaan Agung serta Kepolisian.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ERead more: \u003Ca href=\"http:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/02\/prospek-bisnis-kelapa-sawit-dunia.html#ixzz28V4Wz0Xn\" style=\"color: #003399;\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/konsultasisawit.blogspot.com\/2012\/02\/prospek-bisnis-kelapa-sawit-dunia.html#ixzz28V4Wz0Xn\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5924561360737448779"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5924561360737448779"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/kondisi-industri-agribinis-kelapa-sawit.html","title":"Kondisi Industri Agribinis Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-JGckV9jz5m4\/UF_LmurUxRI\/AAAAAAAAB7A\/jaGQd5Vl8WE\/s72-c\/buah+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4805697953353104650"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:24:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:08:03.469+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pemilihan PKS yang ideal dalam Manajemen Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-e5CXu5oFHeY\/UG8Cg-Rm2vI\/AAAAAAAACMc\/XvjfAZ2QNRw\/s1600\/PKS+Kelapa+Sawit.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"247\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-e5CXu5oFHeY\/UG8Cg-Rm2vI\/AAAAAAAACMc\/XvjfAZ2QNRw\/s320\/PKS+Kelapa+Sawit.JPG\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E Criteria PKS yang ideal ialah \u003C\/b\u003E:    \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDapat mencapai kinerja (performance) PKS yang telah diterapkan secara terus-menerus.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBiaya operasi yang serendah-rendahnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAkrab dengan lingkungan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemenuhi standard ISO seri 9.000.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kinerja PKS yang harus dicapai.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKapasitas pengolahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMutu hasil minyak dan inti sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKehilangan hasil minyak dan inti yang sekecil-kecilnya.\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hambatan tidak tercapainya kinerja PKS.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKekurangan uap, tenaga listrik dan air.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHambatan oleh jam-jam berhenti mesin.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak teraturnya umpan ke mesin \/ peralatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeadaan peralatan \/ mesin tidak mendukung.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak tersedianya suku cadang yang mencukupi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESDM yang belum mapan. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hambatan tidak tercapainya mutu minyak.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Bahan baku TBS dibawah standard mutu panen.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Mesin \/ peralatan tidak terjaga kebersihannya. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Pemanasan tidak sempurna.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Kekurangan uap panas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Tidak teraturnya umpan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Kurang mahir dalam operasi dan pengendalian mesin.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hambatan tidak tercapainya mutu inti.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBahan baku TBS dibawah standard mutu panen.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengendalian dan penyetelan yang kurang tepat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemasukan umpan yang tidak teratur.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemahiran operasi dan pelayanan belum mencukupi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sebab-sebab besarnya kerugian minyak.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKekeliruan pemilihan sistim, model dan type mesin sejak awal.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetidak teraturan umpan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan spare-part yang tidak terpenuhi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemahiran operasi dan pelayanan belum mencukupi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sebab – sebab besarnya kerugian inti.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKekeliruan pemilihan sistim, model dan type mesin sejak awal.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak teraturnya umpan pemasukan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBelum tercapainya keseimbangan dalam penyetelan dan pelayanan operasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan suku cadang tidak terpenuhi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemahiran dan pelayanan belum mencukupi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Harga Pokok.\u003C\/b\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKomponen\n harga pokok yang termasuk besar umumnya ialah Pemeliharaan Tanaman \nMenghasilkan (T.M) berkisar 30 %, Panen dan Pengangkutan 26 % (panen 16 \n%, pengangkutan 10 %).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBiaya\n pengolahan (upah) berkisar 10 %. Perawatan mesin dan instalasi 10 %. \nPenurunan harga pokok yang mungkin dapat ditekan ialah biaya \ntransportasi dan perawatan mesin \/ peralatan masing-masing berkisar 10 %\n dari harga pokok.Upaya peningkatan efisiensi panen pengangkutan dengan \nmenggunakan traktor kecil perlu dipertimbangkan dimana makalahnya tidak \/\n belum diikut sertakan pada tulisan ini.\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Akrab terhadap lingkungan\u003C\/b\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPengendalian\n limbah cair di PKS adalah yang paling sukar dari pada limbah padat \ntetapi harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan yang menarik untuk \ndipertimbangkan ialah sistim pemeraman dalam kolam – kolam tanah dengan \nmengembangkan bakteri anaerobic kemudian dilanjutkan untuk pemupukan \ntanaman.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk mengatasi polusi udara dari \ncerobong ketel, maka dapat dipertimbangkan untuk mengeterapkan teknologi\n baru ialah berupa sistim pembakaran dapur ketel dengan media pasir \n(Fluidize Bed Boiler).\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Standard ISO 9002 harus dijadikan acuan dalam perencanaan pembangunanPKS baru.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Stabilitas tercapainya kapasitas PKS tergantung pada :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Keteraturan umpan bahan yang dimasukan ke mesin \/ peralatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Keadaan mesin \/ peralatan yang dipergunakan harus memenuhi persyaratan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Bahan pendukung yang tersedia harus mencukupi (uap, listrik, air, suku cadang dll).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tersedianya mesin \/ peralatan serap.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kemahiran dalam pengeterapan managemen operasi dan perawatan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Klasifikasi rencana mutu hasil harus diterapkan lebih dahulu dalam perencanaan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; pembangunan PPKS (Standard Reguler, SPB, SP atau Lotox).\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; Mutu minyak ditentukan oleh :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mutu TBS yang diterima.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemilihan mesin \/ peralatan sejak awal pembangunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Cara pemasangan mesin menurut urutan yang benar.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak menggunakan material yang dapat menurunkan mutu (tembaga, perunggu dll).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemimpin menurut pasangan yang sesuai.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Luas panas peralatan yang mencukupi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jumlah kebutuhan uap, listrik dan air harus terpenuhi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Cara pelayanan harus mengikuti panduan (instruction manual).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak mencampurkan hasil minyak kwalitas rendah ke dalam minyak hasil harian.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EStandard\n kotoran inti perlu diadakan peninjauan kembali melalui beberapa \npercobaan pada beberapa model instalasi dengan melibatkan balai-balai \npenelitian dan para pakar perkelapa sawitan.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKehilangan minyak sudah dianggap wajar apabila QPM dapat mencapai\u0026nbsp; 93%.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKehilangan minyak sudah dianggap wajar apabila QPI dapat mencapai\u0026nbsp;\u0026nbsp; 92%.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetel\n Uap adalah sarana pendukung yang penting untuk pembangkit tenaga \nlistrik yang murah dan untuk kebutuhan pengolahan oleh karena perlu \nditingkatkan efisiensi ketel lebih dari 75% ialah dengan menggunakan uap\n lanjut, economizer air umpan, air heater udara masuk ke dapur dan \npertimbangan untuk mengeterapkan teknologi baru dengan perobahan dapur \nFluidize Bed Combution. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan bakar serabut dan cangkang dari PKS 30 T. TBS\/jam dapat mencukupi untuk bahan bakar ketel kapasitas minimal 20 T\/jam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembangkit Listrik Tenaga Tenaga Uap (Turbin Uap) yang diperlukan ialah 750 Kw.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembangkit Listrik Tenaga Diesel yang diperlukan sebelum Turbin Uap beroperasi ialah 350 Kw.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETenaga listrik untuk penerangan perumahan, emplasmen dll diluar pabrik ialah 250 Kw.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan\n air untuk PKS 30 T.TBS\/jam dan untuk rumah tangga dll = 60 m3\/jam dan \nkapasitas \/ jenis pompa sumber air yang disarankan ialah Vertical \nTurbine Pump.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenggunaan Water Treatment yang dianjurkan ialah \nDemineralisasi (Demin Plant) dan perlu dipertimbangkan munculnya \nteknologi baru “Magneto Hydrodynamic” yang akan menurunkan biaya operasi\n pengendalian air umpan ketel dengan jumlah yang cukup besar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tata letak mesin \/ peralatan harus memenuhi persyaratan sbb :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak menyebabkan berkurangnya kinerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak banyak menimbulkan banyaknya penambahan biaya perawatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sesuai dengan urutan proses.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Terjamin terhadap keamanan kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Terjaga kebersihan dan pantas dipandang dari sudut aestitika.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E-\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sarana pendukung yang letaknya sentral (uap, listrik dan air).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Bentuk gedung harus memenuhi persyataran sbb : \u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETidak ada ruangan kosong yang tidak berguna, tetapi cukup longgar untuk pelayanan dan perawatan mesin \/ peralatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESirkulasi udara luang mencukupi sehingga tidak pengap, sehingga udara panas \/ penguapan \/ debu mudah beredar keluar gedung.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECukup terang alamiah disiang hari.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemberikan kemudahan dalam pelaksanaan kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKokoh terhadap ancaman bahaya topan, longsor, gempa, kebakaran, kebocoran dan terlindung dari terik matahari.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPantas dari sudut pandang aestetika.\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003ESpesifikasi mesin \/ peralatan pengolahan.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nUraian\n terperinci dari spesifikasi teknis mesin pengolahan dapat ditelaah \nmulai dari rangkuman hanya untuk beberapa mesin \/ peralatan yang perlu \ndipertimbangkan khusus sbb :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ELoading ramp harus mencukupi dalam penyimpanan TBS untuk menunggu sampai minimal 14 jam pengolahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELori\n buah supaya ditetapkan pemilihan antara kapasitas 2,5 dan 3,5 T \ntermasuk rebusan kedua-duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERebusan\n mempunyai 2 pilihan ialah 2,5 T atau 3,5 T dengan 2 macam konstruksi \nialah dengan wearing plate atau tanpa wearing plate dan perlengkapannya \njuga mempunyai 2 pilihan ialah dengan automatic programmer atau dengan \nmanual handling.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemilihan penggunaan Hoisting Crane dan Tippler\n perlu ditetapkan dengan berpedoman bahwa alat tersebut hendaknya tidak \nmenambah adanya jalur tunggal, tidak menambah komponen yang harus \ndirawat berarti tidak menambah biaya produksi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemilihan \npenggunaan Incenerator atau janjangan kosong untuk mulching perlu \nditetapkan dengan berpedoman agar penanganan limbah hendaknya dapat \ntuntas dan tidak memindahkan dan kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemilihan kapasitas Presan 10 atau 15 T.TBS\/jam perlu ditetapkan kedua-keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemilihan bentuk Clarifier Continous Tank segi 4 atau silindris tegak perlu ditetapkan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMesin\n pengolahan limbah ada 2 pilihan ialah dengan Decanter atau Sludge \nSeparator kedua-duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat \nukur produksi minyak dan inti perlu ditetapkan, agar memilih alat yang \nawet dalam penggunaannya, tidak bertentangan dengan pola dasar prinsip \npergudangan dan mendapat pengujian tera dari Metrologi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMesin \npemecah biji ada 2 pilihan ialah dengan Nut Craker model Usine De Wecker\n atau Ripple dimana kedua – duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4805697953353104650"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4805697953353104650"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pemilihan-pks-yang-ideal-dalam.html","title":"Pemilihan PKS yang ideal dalam Manajemen Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-e5CXu5oFHeY\/UG8Cg-Rm2vI\/AAAAAAAACMc\/XvjfAZ2QNRw\/s72-c\/PKS+Kelapa+Sawit.JPG","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-634430516545453633"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:23:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:07:33.432+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Mesin Pengolahan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ch3 class=\"fw-title\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EMESIN DAN FUNGSINYA \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/h3\u003E\n\u003Cdiv class=\"fw-text\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003Ea.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EJembatan Timbang\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"327\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/JEMBTAN%20TIMBANG.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 327px; margin: 8px; padding: 10px; width: 463px;\" width=\"463\" \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EKapasitas Jembatan Timbang adalah 30 ton dengan ukuran lantai 13\u0026nbsp; x\u0026nbsp; 13 M, dilengkapi dengan alat pencatat timbangan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ELoading Ramp\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cimg align=\"left\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"374\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/LOADING.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 374px; margin: 8px; padding: 10px; width: 493px;\" width=\"493\" \/\u003E  Loading\n Ramp adalah sebuah alat penimbun tandan yang disekat oleh 12 kamar \nberkemampuan menyimpan 10 Ton TBS\/Unit.\u0026nbsp; Bagian Ramp terbuat dari besi T\n dengan kemiringan minimum 25°.\u0026nbsp; Setiap Ramp dilengkapi dengan pintu \nhidraulic yang dapat diatur. \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EKeranjang Buah\u003C\/b\u003E\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"280\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/LORI.gif\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 280px; margin: 10px; padding: 10px; width: 463px;\" width=\"463\" \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan\n 60 buah keranjang dan setiap keranjang mampu memuat 2,5 Ton TBS.\u0026nbsp; \nKeranjang dibuat dari pelat baja dengan ketebalan minimum 6 mm diberi \nlubang-lubang serta pada kedua ujungnya dilengkapi dengan cincin sebagai\n alat pemutar.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ERail Track, Ganty Crane dan Idler Bollard\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ESistim\n Rail Track terpasang pada Loading Ramp dengan Rail Bridge 600 mm dan \nberat 12,5 Kg\/M.\u0026nbsp; Motor Listrik dengan As melintang mempunyai kemampuan \nmenarik minimum 1,5 Ton dengan kecepatan tarik 20 mm\/menit dan \ndilengkapi dengan tali plastik 100 M.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Eb.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Rebusan (Sterilizer Station)\u003C\/b\u003E\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"197\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/BOILER.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 197px; margin: 8px; padding: 10px; width: 382px;\" width=\"382\" \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EStasiun Rebusan terdiri dari Ketel Rebusan dan Blowdown Slincer.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EKetel Rebusan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ETiga\n buah Ketel Rebusan dengan kapasitas 9 buah keranjang per unit dengan \nkarakteristik diameter sekitar 2,1 M, model pintu ganda, pintu mampu \ncepat tertutup dan dilengkapi dengan alat pengaman, terbuat dari plat \ntebal minimum 15 mm dan mampu bekerja dengan tekanan sampai 3,5 Kg\/cm2, \ndilengkapi dengan alat penguras udara dan kondensat (bahan Rockwool dan \nAlumunium Cladder), dilengkapi dengan Pengatur Tekanan\/Listrik \n(Automatic Control Valve), Alat Perengkam (2 atau 3 puncak) serta \npencatat tekanan suhu, dilengkapi lorong kucing dan tangga untuk \nmemudahkan pengaturan katup dan dilengkapi dengan Hinged Rail Pieces.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EBlowd off Slincer\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ERuangan\n Blowd off dihubungkan dengan pembuangan udara melalui pipa Kondensat \ndan Blowd off.\u0026nbsp; Air Kondensat dikuras dari Bak Silincer parit \npembuangan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ec.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Bantingan (Threshing Station)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EHoisting Crane \u003C\/b\u003E\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"221\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/CRANE.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 221px; margin: 8px; padding: 10px; width: 352px;\" width=\"352\" \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EKeranjang\n berisi tandan yang telah direbus selanjutnya dibawa kemesin bantingan \ndengan dua buah Monorail Hoisting Crane, dengan karakteristik dari hois \nterdiri dari kecepatan utama 10 M\/Menit, kecepatan gerak 30 – 40 \nM\/Menit, kecepatan banatu 1 M\/Menit dan Daya Angkat 5 Ton.\u0026nbsp; Jalan ke \nHoisting Crane melalui peralatan atas Ketel Pengaduk dan Lubang Kucing.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EMesin Bantingan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ETandan\n yang telah direbus di bawa ke dua buah mesin dengan kapasitas 60 \nTon\/Jam.\u0026nbsp; Mesin ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu Hopper Buah \ndimana keranjang buah ditumpahkan oleh Hoisting Crane, pemakan Tandan \nMekanis yang kecepatan dapat diatur dengan alat\u0026nbsp; Variabel Speed Gear \nMotor, Drum berputar yang dibuat dari batang T yang diikat-ikat pada \nsuatu cincin.\u0026nbsp; Drum terikat pada suatu As yang digerakkan oleh sebuah \nCouple Gear Motor.\u0026nbsp; Buah Brodol yang terjadi semasa dalam mesin Banting \ndiangkut dengan Elevator Buah untuk dibawa ke Ketel Pengaduk.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EConveyor Tandan Kosong\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ESetelah\n diproses di mesin Bantingan, jenjang kosong dikeluarkan ke Conveyor \ntandan kosong untuk selanjutnya dibawa ke Incinerator.\u0026nbsp; Bentuk Conveyor \nadalah gabungan dari tipe datar dan naik. Pada umumnya dibuat dari tipe \nTwin Chain Scrapper.\u0026nbsp; Sebuah lorong inspeksi sepanjang Conveyor \ndiikutsertakan.\u0026nbsp; Kapasitas angkut Conveyor tipe ini adalah 15 Ton \njenjang kosong\/Jam.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EIncinerator\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan\u0026nbsp;\n 2 buah Incinerator kapasitas 8 Ton Jenjang Kosong\/Jam per buah.\u0026nbsp; Bentuk\n bangunan segi banyak dengan atap bentuk piramid dan sebuah cerobong \natap.\u0026nbsp; Bangunan dibuat dari batu biasa dilapisan luar dan sebelah dalam \nbatu tahan api (bagian atas daerah pembakar).\u0026nbsp; Ruang pembakaran dibuat \ndari rel-rel.\u0026nbsp; Ada beberapa pintu disamping-sampingnya (untuk \npengeluaran abu) dan sebuah lubang angin yang dapat diatur.\u0026nbsp; Pemasukan \njenjang kosong melalui sebelah atas atap.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ed.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Presan (Pressing Station)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EElevator dan Conveyor Buah\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ESebuah\n Twin Chained Elevator buah kapasitas 60 Ton TBS\/Jam yang mengangkut \nBuah dari Mesin Penebah keatas Stasiun Presan.\u0026nbsp; Buah ini di tuang pada\u0026nbsp; \nScrew tipe Conveyor yang membagi-bagi buah tersebut kedalam Ketel Aduk.\u0026nbsp;\n Conveyor tersebut dilengkapi corong pemakan pada setiap Ketel Aduk dan \nsebuah corong balik untuk limpahan buah (Over Flow).\u0026nbsp; Buah tumpahan \nmelalui Over Flow Conveyor masuk dari bagian bawah ke Elevator Buah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EKetel Aduk\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAda\n 6 buah Ketel Aduk yang berpasangan dengan 6 buah Presan (2 buah untuk \ncadangan), berupa Ketel Silindris dengan peralatan pasangan pisau untuk \npengadukan yang berputar pada sebuah As.\u0026nbsp; Pemanasan buah dilakukan \ndengan Steam Jacket.\u0026nbsp; Kapasitas isi ketel aduk disesuaikan dengan \nkapasitas Presan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EKempa Ulir\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EJenis\n Kempa yang dipilih adalah adalah Kempa yang dapat bekerja terus menerus\n dan Conenya dapat diatur secara Hidrolik.\u0026nbsp; Kapasitas minimum 10 Ton \nTBS\/Jam.\u0026nbsp; Banyaknya Presan Ulir ada 6 buah (2 buah untuk cadangan).\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ECake Braker Conveyor\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAmpas\n presan yang dibuang dari presan jatuh pada sebuah Cake Breaker Conveyor\n (tipe Paddle).\u0026nbsp; Conveyor akan memudahkan ampas presan ke stasiun \nDepericarper dan bersamaan memecahkan sampah.\u0026nbsp; Paddle dapat bergerak dan\n Conveyor dilengkapi dengan 5 mm Throughliner yang dapat diperbaharui.\u0026nbsp; \nConveyor dilengkapi alat pemanas tipe Steam Jacket.\u0026nbsp; Perlengkapan \ntambahan ialah Lorong Kucing dan lantai pemeliharaan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ECrude Oil Gutter dan Bak Pasir\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EMinyak\n kotor dari presan ditampung pada sebuah Gutter dan mengalirkannya \nkedalam bak penahan pasir.\u0026nbsp; Alat Gutter dibuat dari besi putih.\u0026nbsp; Minyak \nyang keluar dari Gutter dialirkan ke dalam sebuah tangki yang dilengkapi\n dengan alat pemanas pipa dan pengenceran dengan air panas.\u0026nbsp; Ada katup \nuntuk pembuangan pasir dan pengurasan.\u0026nbsp; Kapasitas dari tangki 2 x 6 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESaringan Getar\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EMinyak\n kotor yang telah diencerkan mengalir kedalam saringan getar 2 tingkat \nuntuk memisahkan bahan serat.\u0026nbsp; Alat saringan dibuat dari 2 lembar besi \nputih.\u0026nbsp; Dibutuhkan 4 buah saringan getar.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Minyak Kasar dan Pompa \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EMinyak kotor yang telah disaring disimpan dalam suatu tangki isi 7 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\n yang terpasang di bawah Saringan Getar.\u0026nbsp; Tangki tersebut dilengkapi \ndengan alat pemanas, pipa masuk air panas dan alat pengatur pelampung.\u0026nbsp; \nTerpasang 2 buah Pompa yang diatur oleh alat pelampung yang mengatur \npemasukan minyak kasar ke alat Klarifikasi.\u0026nbsp; Pompa dibuat dari bahan \nAbrasive dan tahan asam.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ee.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Klarifikasi (Clarification Station)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Klarifikasi \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDua\n buah tangki klarifikasi kontinu yang dapat menampung 60 Ton \nTBS\/Jam\/Buah.\u0026nbsp; Perlengkapan tambahan ialah Coil Pemanas, Skimer, Pipa \nPenghubung, Insulasi dan Tangki Air Panas.\u0026nbsp; Tangki Klarifikasi \ndihubungkan dengan peralatan dan Lorong Kucing.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Minyak\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ETangki Minyak bersih ada dua buah dengan perlengkapan Coil Pemanas, Pengukur Suhu, Insulasi dan lainnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Air Drab\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Sisa Air Drab dan Penampung Sisa Minyak\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAir\n Lumpur dari bawah Tangki Klarifikasi, Tangki Minyak Bersih dan Tangki \nAir Drab ditampung pada Tangki Sisa Air Drab.\u0026nbsp; Tangki dilengkapi Alat \nPemanas, Pipa Pemasok Air Panas dan Insulasi.\u0026nbsp; Lapisan Minyak dari \nTangki Sisa di Aaas ditampung pada Tangki Penampungan Sisa Minyak.\u0026nbsp; \nTangki tersebut dilengkapi dengan Coil Pemanas, Insulasi dan Pelampung.\u0026nbsp;\n Sepasang Pompa yang digerakkan oleh Switch Pelampung digunakan untuk \nmembawa Minyak Sisa ke Tangki Klarifikasi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESeparator Air Drab\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan\n 6 buah (2 buah untuk cadangan) alat Separator Air Drap yang dilengkapi \ndengan Precleaner dan Pompa.\u0026nbsp; Dengan bantuan gerakan Sentrifugal sisa \nMinyak dalam Air Drab dipisah, hasil Minyak yang terpisah di daur ulang \nke Tangki Klarifikasi melalui Tangki Sisa Minyak, sedangkan sisa Air \nDrab dari Separator dibuang.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EFurifier Minyak\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ESebaiknya\n dipakai 6 buah Furifier (2 buah untuk cadangan).\u0026nbsp; Minyak bersih \nditeruskan ke pengeringan Vacum dan sisa air dibuang ke selokan dan \nseterusnya ditampung di kolam limbah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EPengering Vacum\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ESebuah\n Pengering Vacum dari type Injeksi Uap.\u0026nbsp; Alat tersebut dilengkapi dengan\n Tangki Masukan, Pompa Minyak Kering, Katup Penurunan Tekanan Uap, \nTermometer, Pompa Tekanan dan Tekanan Vacum.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ef.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ETangki Timbun (Palm Oil Storage Tank)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDiperlukan\n 2 buah Tangki Timbun terdiri dari 1 buah kapasitas 2.000 Ton dan 1 buah\n kapasitas 500 Ton.\u0026nbsp; Tangki tersebut dilengkapi dengan Coil Pemanas, \nPipa keluar dan Pompa untuk pemuatan ke Truck Tangki.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Eg.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Depericarver (Depericarping Station)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EDepericarver\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDepericaver\n terdiri dari dua bagian utama yaitu Kolom Pemisah Tegak dengan kipas \ndan jendela inspeksi dan sebuah Drum Pemoles yang berputar dimana Inti \nyang pecah dari partikel kecil dipisahkan keluar.\u0026nbsp; Biji yang telah \ndipoles melalui Perforasi keluar ke Conveyor Biji.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETranspor Pneumatik Untuk Ampas\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAmpas di bawa dari kolam depericarver ke siklon ampas traspor pneumatis.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESiklon Ampas\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAmpas selanjutnya ditampung pada\u0026nbsp; siklon besar.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Eh.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EStasiun Biji (Kernel Recovery Station)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESilo Biji\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EBiji\n dari Drum Pemoles dibawa secara Pneumatis ke Silo Biji.\u0026nbsp; Sebagai \nalternatif, sebaiknya menambah Drum pembagi (Grading) di atas Silo Biji \nuntuk membagi biji atas 2 ukuran.\u0026nbsp; Ukuran dari Silo Biji adalah 70 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\n dan dibutuhkan 4 buah.\u0026nbsp; Silo dilengkapi pelat Baffle, Deflector, Kipas,\n Pemanas Udara, Pipa dan Pengukur Suhu. Di bagian bawah ada ada alat \nkisi bergetar untuk mengatur keluar biji.\u0026nbsp; Biji telah diperam yang \nkeluar dari Silo Biji dipindahkan ke Elevator Biji dengan bantuan \nConveyor.\u0026nbsp; Elevator Biji membagi biji pada Drum pembagi yang dipasang di\n atas alat Pemecah Biji.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EDrum Pembagi Biji\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EBiji\n yang diterima dari Elevator Biji terlebih dahulu dibagi-bagi atas \nukurannya sebelum masuk ke pemecah biji.\u0026nbsp; Bahan asing (batu, janjang \nkosong) dikeluarkan dari ujung yang lain.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EAlat Pemecah Biji\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EKapsitas\n alat Pemecah Biji adalah 5 Ton\/Jam.\u0026nbsp; Campuran pecah dimasukkan pada \nsebuah alat saringan getar yang ditempatkan pada setiap alat pemecah.\u0026nbsp; \nBiji yang tidak pecah didaur ulang melalui Elevator Biji.\u0026nbsp; Campuran \npecah yang lolos dari saringan getar dikumpulkan pada sebuah Conveyor \nUlir dan selanjutnya dipisah secara kering.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESistem Pemisah Pneumatis untuk Campuran Pecah\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAbu\n dan Cangkang halus akan di pisah secara Pneumatis dari campuran Inti, \nsedangkan batu berat dipisah pada kolom.\u0026nbsp; Peralatan pemisah ini terdiri \ndari Kolom Pemisah, Kipas dan Siklon Cangkang.\u0026nbsp; Sebagai alternatif dapat\n pula dipasang pemisah Pneumatis kedua.\u0026nbsp; Akan tetapi yang paling \ndianjurkan adalah\u0026nbsp; menambah sistem Hidrosiklon.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESistem Pemisah Hidrosiklon\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPemisah\n dengan Hidrosiklon mempergunakan dua tahap.\u0026nbsp; Campuran pecah dipompa \nkepada Siklon pertama dimana Inti berada pada lapisan atas.\u0026nbsp; Keluaran \nsisa campuran (Cangkang, Biji dan ada juga Inti) dibawa kesiklon kedua.\u0026nbsp;\n Siklon kedua diatur untuk mengambil\/memisahkan Cangkang saja dan \nsisanya adalah Biji.\u0026nbsp; Inti yang keluar dari bagian atas dikembalikan ke \nSiklon pertama.\u0026nbsp; Transpor Inti ke Silo Inti, dan Cangkang ke Silo \nCangkang mempergunakan cara Pneumatis.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESilo Inti\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAda\n 2 silo inti dengan kapasitas 1 Ton Inti\/Jam\/Buah.\u0026nbsp; Sebuah Conveyor \ndipasang pada bagian atas Silo.\u0026nbsp; Silo dilengkapi dengan pelat Baffle, \nDeflector, Kipas, Pemanas Udara dan alat pengawas yang diberi kisi-kisi.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESistem Winnowing\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EInti\n setelah keluar dari Silo, dibawa dengan Celt Conveyor ke sistem \nWinnowing untuk dibersihkan dari sisa ampas\/serat dan cangkang halus.\u0026nbsp; \nSecara Pneumatis Inti bersih dibawa ke Silo pengarungan atau penimbunan.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EMesin Pengarung dan Penimbun Barang\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDi atas Mesin Penimbun ditempatkan\u0026nbsp; sebuah Silo Inti bersih, dan setelah itu dimasukkan ke karung goni lalu goni dijahit.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETimbunan Biji\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EInti\n dapat juga ditimbun dalam bentuk Bulk. Timbunan Biji disimpan dalam 4 \nbuah Bin berkapasitas 120 Ton\/Buah (4 hari produksi).\u0026nbsp; Silo ini \ndilengkapi dengan alat Pengembus Udara, Ventilasi, Conveyor dan Tangga.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETimbunan Cangkang\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ECangkang dikeluarkan dari Conveyor Cangkang lalu disimpan pada bin berkapasitas 50 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\n per buah.\u0026nbsp; Bin terpasang di atas rangka besi dan dilengkapi 2 pintu \npengeluaran, 1 pintu ke Conveyor Ampas\/Cangkang dan 1 pintu lagi ke \nTruck pengumpul di bawah Bin.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ei.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPembangkit Uap (Steam Plant)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EConveyor Bahan Bakar\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ECangkang\n dari Bin Cangkang dan ampas dari Siklon Ampas dituang ke atas Scrapper \nBar Conveyor untuk membawa bahan bakar di atas ke Conveyor pembagi.\u0026nbsp; \nJika perlu bergandeng kepada bentuk Ketel Uap, sebuah Conveyor Ulir \ndipakai untuk menerima Cangkang dari Bin Cangkang dan membawanya ke \nConveyor Ampas\/Cangkang.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EAlat Pemasukan Bahan Bakar\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ETiap Ketel Uap dilengkapi dengan alat pemasuk untuk menerima bahan bakar dan Conveyor Pembagi untuk\u0026nbsp; memasukan kedalam Ketel.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EKetel Uap\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan\n 4 Ketel Uap dengan kapasitas 18 Ton Uap\/Jam, Uap Superheated tekanan 20\n Bar.\u0026nbsp; Untuk dapat fleksibel dianjurkan memilih Ketel Uap dengan \nkapasitas isi yang besar.\u0026nbsp; Ketel Uap dilengkapi dengan Ruang Blowdown,\u0026nbsp; \nPeralatan Cerobong Asap, Kipas, Pipa Pompa masukan, dan semua alat \noperasi, keamanan dan pengawasan seperti alat Pengukur Tekanan, Pengukur\n Suhu, Tekanan Vacum, Meter Uap, Meter Air dan lainnya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ej.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ESumber Air (Water Suply)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EStasiun Pompa Air\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EKamar pompa mempunyai 4 buah pompa listrik (2 buah untuk cadangan) kapasitas 150 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\/Jam\/Buah dilengkapi dengan pipa pengeluaran air ke Tangki Air.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EPembersihan Air\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EKotoran air diendapkan pada Clarifier 30 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E dan diendapkan pada Bak Dekantasi volume 100 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\n dengan bantuan bahan kimia Aluminium Sulfat.\u0026nbsp; Peralatannya dilengkapi \ndengan alat-alat pembersih seperti Pompa Dosis, Pipa, Katup dan lain \nsebagainya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Air Bersih Kapasitas 2 x 30 M\u003Csup\u003E3\u003C\/sup\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EPembagian Air\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPipa-pipa untuk menyalurkan air ke pabrik\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EPelunakan Air Ketel\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAlat\n untuk pelunakan Air Ketel terletak di dalam rumah Ketel Uap.\u0026nbsp; \nPeralatannya terdiri dari Demineraliser,\u0026nbsp; Dearator dan Tangki Pemasukan \nAir, Pompa, Alat Ukur dan Pipa-pipa.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Ek.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPengutipan Minyak Kembali (Demineralizing Plant)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Pengutipan Balik Air Drab\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAir\n Drab dari Stasiun Klarifikasi dan juga dari Air Rebusan akan dipompa ke\n Tangki Pengutipan dimana akan diambil kembali minyak yang hilang.\u0026nbsp; \nTangki Pengutipan balik dibuat untuk menampung jika ada kesalahan kerja \ndi Stasiun Klarifikasi (terjadi kehilangan minyak yang besar).\u0026nbsp; Hasil \nminyak yang dikutip dipompa kembali ke Tangki Pasir.\u0026nbsp; Tangki Pengutipan \ndilengkapi Pompa dan Pipa.\u0026nbsp; Pompa yang dibutuhkan 4 buah (2 buah untuk \ncadangan).\u0026nbsp; Sisa Air Drab dilepas ke Kolam Pengendalian Limbah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003El.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPembagkit Tenaga (Power Plant)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETurbo Alternator\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPembangkit\n tenaga terdiri dari 4 buah Turbo Alternator terdiri dari 3 fase 380\/420\n V, 50 Hz kapasitas 600 Kw\/Buah (satu sebagai cadangan).\u0026nbsp; Turbin dapat \nbekerja pada tekanan 20 Bar dan tekanan 4 Bar yang akan dipergunakan \nuntuk perebusan dan pengolahan.\u0026nbsp; Turbin dihubungkan dengan Alternator \nmelalui penukar kecepatan (Speed Reducer).\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Tekanan Lawan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EUap\n dengan tekan 4 Bar yang keluar dari turbin ditampung pada tangki \nTekanan Lawan (Back Presure Vessel)\u0026nbsp; dan menyalurkannya ke perebusan dan\n tempat-tempat pengolahan lainnya.\u0026nbsp; Perlengkapannya terdiri dari \nkatup-katup, penahan uap, katup buka dan Insulator.\u0026nbsp; Uap dapat juga \nlangsung diambil dari Ketel Uap melalui alat Desuperheating.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EGenerating Set\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan\n 3 buah Mesin Diesel Generating Set Fase 380\/420 V, 50 Hz kapasitas 350 \nKVA sebanyak 2 buah dan kapasitas 120 KVA sebanyak 1 buah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ETangki Diesel\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EDibutuhkan 1 buah Tangki Timbun Minyak Diesel kapasitas 5.000 liter.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003Em.\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E Lain-Lain\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EAlat Pemadam Kebakaran (Fire Fighting Equipment)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAlat pemadam kebakaran antara lain beberapa macam sambungan hidran, racun api, selimut dan sarung tangan dari bahan asbes.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EBengkel Umum dan Laboratorium (Workshop \u0026amp; Laboratory Equipment)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAlat\n bengkel umum yang diperlukan antara lain Bubut dari 1.500 mm beserta \nsuku cadang, Gergaji Listrik, Alat Pelubang Tegak, Gurinda, Rol Pelat, \nPempengkok Pipa, Generator Acetylene, Las Listrik, Derek, Dongkrak \nMekanik dan Hidrolik, Kunci dengan berbagai macam ukuran, Tube Setter, \nVolderer, Perkakas Tukang Batu dan Tukang Kayu, dan lain sebagainya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPerlengkapan\n laboratorium dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan pengawasan \npengolahan harian secara teratur, meliputi Ekstrasi Sokhlet (untuk \njanjang kosong, ampas, biji dan air drab) dan mutu minyak\/inti.\u0026nbsp; \nPeralatan laboratorium yang dibutuhkan antara lain Neraca Analistis, \nTimbangan Kasar, Sokhlet Apparatus, Hot Plate (Six), Oven Pengering, \nDesikator, Gelas Ukur dan lain sebagainya.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003ESkeedsteer Loader sebanyak 1 unit\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EPekerjaan Listrik (Electrical Equipment)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EAlat-alat\n listrik yang dibutuhkan antara lain Switcboard Utama untuk melayani \nseksi turbo alternator, seksi pelistrikan, seksi sinkronisasi dan faktor\n koreksi.\u0026nbsp; Sub Switcboard, setiap stasiun mempunyai Switchboard sendiri \nuntuk melayani Loading Ramp, Klarifikasi, Penebah\/Presan, Pabrik \nInti\/Depericarver, Ketel Uap, Pengutipan kembali minyak, Kantor dan \nLaboratorium.\u0026nbsp; Penyalur tenaga, Penerangan dalam dan luar pabrik, \nPenangkal petir, dan Aliran tanah.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/634430516545453633"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/634430516545453633"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/mesin-pengolahan-kelapa-sawit.html","title":"Mesin Pengolahan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-9221509859364866914"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:22:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:06:07.722+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: large;\"\u003E\u003Cb\u003EProses Pengolahan Kelapa Sawit\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-YHhErI-Jpt4\/UG-WPttL3QI\/AAAAAAAACOg\/gz1dj7l8OVY\/s1600\/1+Traditional+crude+palm+processing.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-YHhErI-Jpt4\/UG-WPttL3QI\/AAAAAAAACOg\/gz1dj7l8OVY\/s400\/1+Traditional+crude+palm+processing.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ETraditional Crude Palm Oil Processing\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-DTFdoK7zN44\/UG-Wq4xB_2I\/AAAAAAAACP4\/4imVxxvw0g8\/s1600\/2+processing+cpo.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-DTFdoK7zN44\/UG-Wq4xB_2I\/AAAAAAAACP4\/4imVxxvw0g8\/s400\/2+processing+cpo.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Flow chart of processing\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-XWjEIUWvYTU\/UG-WtN5vjdI\/AAAAAAAACQA\/0EyBCNT7ygA\/s1600\/3+reception+station.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-XWjEIUWvYTU\/UG-WtN5vjdI\/AAAAAAAACQA\/0EyBCNT7ygA\/s400\/3+reception+station.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Reception Station\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pMqPUIZ1lsY\/UG-WvMFxGkI\/AAAAAAAACQI\/mGNX8jv0ndo\/s1600\/5+sterilisation.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-pMqPUIZ1lsY\/UG-WvMFxGkI\/AAAAAAAACQI\/mGNX8jv0ndo\/s400\/5+sterilisation.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Sterilisation Station\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-DfVgdDkFmmM\/UG-WxAdYg8I\/AAAAAAAACQQ\/qEdxGK4o5Kg\/s1600\/6+thresing+station.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-DfVgdDkFmmM\/UG-WxAdYg8I\/AAAAAAAACQQ\/qEdxGK4o5Kg\/s400\/6+thresing+station.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Thressing Station\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-E_2cqDXmzE0\/UG-Wz0OGUoI\/AAAAAAAACQY\/-RVY2F4it3U\/s1600\/7+pressing+station.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-E_2cqDXmzE0\/UG-Wz0OGUoI\/AAAAAAAACQY\/-RVY2F4it3U\/s400\/7+pressing+station.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Pressing Station\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gIQEHhB4djg\/UG-W2DREUUI\/AAAAAAAACQg\/IT3OdD1PwMc\/s1600\/8+clarification+station.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gIQEHhB4djg\/UG-W2DREUUI\/AAAAAAAACQg\/IT3OdD1PwMc\/s400\/8+clarification+station.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Clarification Station (Screening)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-gpQDyUIxejs\/UG-W4c7A3KI\/AAAAAAAACQo\/7i8ZZREeD3U\/s1600\/9+clarification+station.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-gpQDyUIxejs\/UG-W4c7A3KI\/AAAAAAAACQo\/7i8ZZREeD3U\/s400\/9+clarification+station.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Clarification Station (Clarifying)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-wAZuh_C2A-c\/UG-WSKgivbI\/AAAAAAAACOo\/OFb20_jakAY\/s1600\/10+oil+revocery.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-wAZuh_C2A-c\/UG-WSKgivbI\/AAAAAAAACOo\/OFb20_jakAY\/s400\/10+oil+revocery.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Clarification Station (Oil Recovery)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-mNcvKq41UAI\/UG-WUN7akVI\/AAAAAAAACOw\/Ll-KQu38kOc\/s1600\/11+purifying.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-mNcvKq41UAI\/UG-WUN7akVI\/AAAAAAAACOw\/Ll-KQu38kOc\/s400\/11+purifying.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Clarification Station (Purifying)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-0VZOJ8yUmQA\/UG-WWdlUA_I\/AAAAAAAACO4\/0KnT6XZzROY\/s1600\/12+moisture+remuved.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-0VZOJ8yUmQA\/UG-WWdlUA_I\/AAAAAAAACO4\/0KnT6XZzROY\/s400\/12+moisture+remuved.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Clarification Station (Moisture Removal)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-PjS1U6Uln8c\/UG-WY2xz0lI\/AAAAAAAACPA\/YLSsO-bXtWA\/s1600\/13+storage+cpo.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-PjS1U6Uln8c\/UG-WY2xz0lI\/AAAAAAAACPA\/YLSsO-bXtWA\/s400\/13+storage+cpo.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Storage\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-GgVpN3xp6LQ\/UG-Wc6i4LhI\/AAAAAAAACPI\/LNIanEmgtA0\/s1600\/14+form+producer.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-GgVpN3xp6LQ\/UG-Wc6i4LhI\/AAAAAAAACPI\/LNIanEmgtA0\/s400\/14+form+producer.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Delivery to Buyer\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-GkIKvYiJn4E\/UG-WfFqlY5I\/AAAAAAAACPQ\/u2WX67lcONs\/s1600\/15+depericarping.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-GkIKvYiJn4E\/UG-WfFqlY5I\/AAAAAAAACPQ\/u2WX67lcONs\/s400\/15+depericarping.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Kernel Recovery Station (Depericapring)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-dgqPg-DCoFA\/UG-Wh5HlzvI\/AAAAAAAACPY\/p6BOiA4l5SM\/s1600\/16+nut+cracking.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-dgqPg-DCoFA\/UG-Wh5HlzvI\/AAAAAAAACPY\/p6BOiA4l5SM\/s400\/16+nut+cracking.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Kernel Recovery Station (Nut Cracking)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-x4WA7MTP8Gw\/UG-WkbM0faI\/AAAAAAAACPg\/Q3cs45xD8Jc\/s1600\/17+winover.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-x4WA7MTP8Gw\/UG-WkbM0faI\/AAAAAAAACPg\/Q3cs45xD8Jc\/s400\/17+winover.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Kernel Recovery Station (Winnover)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-DQfv-fSTxmo\/UG-WmjLHgwI\/AAAAAAAACPo\/805nKk3bCnY\/s1600\/18+hydro+clay+bath.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-DQfv-fSTxmo\/UG-WmjLHgwI\/AAAAAAAACPo\/805nKk3bCnY\/s400\/18+hydro+clay+bath.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Kernel Recovery Station (Hydro Clay Bath)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-voIfKguCbsU\/UG-WomPsmNI\/AAAAAAAACPw\/alZ-AuDRehI\/s1600\/19+kernel+storage.JPG\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"300\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-voIfKguCbsU\/UG-WomPsmNI\/AAAAAAAACPw\/alZ-AuDRehI\/s400\/19+kernel+storage.JPG\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ECPO Kernel Storage\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9221509859364866914"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9221509859364866914"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/skema-pabrik-pengolahan-kelapa-sawit.html","title":"Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-YHhErI-Jpt4\/UG-WPttL3QI\/AAAAAAAACOg\/gz1dj7l8OVY\/s72-c\/1+Traditional+crude+palm+processing.JPG","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-9223221343629544188"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:21:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-05T22:52:19.333+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perijinan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-AwyNJLUWvWI\/UG8CLOs0PgI\/AAAAAAAACMU\/2c0aV6GuYMw\/s1600\/perijinan+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-AwyNJLUWvWI\/UG8CLOs0PgI\/AAAAAAAACMU\/2c0aV6GuYMw\/s1600\/perijinan+sawit.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EPERIZINAN PENDUKUNG. \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUKL – UPL \/ RKL – RPL \/ AMDAL.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESIUPP.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESITU.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHGB.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIMB PABRIK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIMB Perumahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Gangguan HO.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Pembangunan Limbah Cair (IPAL).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Radio.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Land Aplikasi (jika ada).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Mesin-mesin Pabrik :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin Timbangan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Housting Crane.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Steriliser.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;BPV\/Steam Separator\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Boiler\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Turbine uap.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Motor Diesel.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Penangkal Petir Listrik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Air Permukaan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9223221343629544188"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/9223221343629544188"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/perijinan-kelapa-sawit.html","title":"Perijinan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-AwyNJLUWvWI\/UG8CLOs0PgI\/AAAAAAAACMU\/2c0aV6GuYMw\/s72-c\/perijinan+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1625782598385567179"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:20:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:05:06.535+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Persyaratan Pembangunan Kebun Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003Ea.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EBahan Baku\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBahan Baku\n merupakan unsur pokok dalam sebuah produk yang akan di hasilkan, \nsemakin baik bahan baku maka semakin baik produk yang dihasilkan, begitu\n pola ketersediaan nya, sebab pembangunan sebuah pabrik merupakan \ninvestasi yang padat modal dan memerlukan dana yang cukup besar, serta \nman power yang akan di pergunakan \u0026nbsp;sehingga analisa pembangunan sebuah \npabrik dalam hal ini PKS (Pabrik Kelapa Sawit) juga harus mencakup \nanalisa ketersediaan bahan baku antara lain :\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJenis Buah Sawit yang dihasilkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKualitas Tandan Buah yang akan di olah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUsia Produktif tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETransportasi angkut buah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003Eb.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EAksesibilitas\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam\n tahap aksesbilitas dilihat jarak (akses angkut buah dari kebun dan \nmasyarakat sekitar) letak geografis kearah jalan utama ke pelabuhan \nterdekat, juga menghindari pemakaian jalan yang bukan milik perusahaan \nuntuk menghindari berbagai konflik yang mungkin terjadi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003Ec.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ETata Letak\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk\n mendirikan suatu pabrik perlu dilakukan penataan di dalamnya atau \ndisebut juga sebagai tata letak pabrik. Dalam tata letak pabrik Ada 3 \n(tiga) hal yang perlu diatur \u003Ci\u003Elayout\u003C\/i\u003E-nya, yaitu Tata letak Pabrik, Tata letak kantor dan Tata Perumahan. \u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJembatan timbang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenerimaan TBS dan penimbangan \u003Ci\u003E(Loading ramp)\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBangunan Pabrik \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETangki Timbun CPO\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKolam penyediaan air\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKolam Limbah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBangunan Kantor\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELaboratorium\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBengkel\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETempat ibadah dan pos jaga.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerumahan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003ELAY OUT PABRIK\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"487\" src=\"http:\/\/palmoilmill.webs.com\/skema%20pabrik.jpg\" style=\"height: 487px; margin: 8px; width: 649px;\" width=\"649\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003Ed.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EKesehatan\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDari\n aspek kesehatan pembangunan harus mengacu pada kaidah Lingkungan dan \nIklim ( penentuan Rona Awal sangat berpengaruh terhadap keberadaan\u0026nbsp; \nPabrik yakni \u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EArah angin dan Kecepatan angin\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETingkat kebisingan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESmelty\/polusi bau kolam limbah)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EArah effluent pond\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003Ee.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ELokasi dan Topograpi\u0026nbsp; Survey\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETanah (Fisik tanah gambut atau mineral dan type tanahnya berdasarkan peta Satuan Peta Tanah)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Suitable Tanah Mineral atau Gambut\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Run Flow air pada musin penghujan (Level ketinggian dari sungai)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tingkat pemadatan atau timbun tanah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKecukupan\n air untuk proses produksi dan perumahan (penentuan Outlet Air, \nkecepatan air, debit air sungai, kedalaman sungai, panjang sungai. \nKejernihan air)  \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKejernihan dan tingkat campuran air sungai (kualitas air visual)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETopografi (peta top dan SPT)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELuasan Areal lokasi Pabrik dan lingkungan pendukung\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELeveling tanah Pabrik\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003Ef.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;Ekonomi dan sosial \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKeberadaan Pabrik, jarak dari pemukiman warga minimal\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemanfaatan aliran sungai bagi masyarakat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESupport material yang ada.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESosial ekonomi masyarakat sekitar dan ketersedian Man Power Lokal\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1625782598385567179"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1625782598385567179"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/persyaratan-pembangunan-kebun-kelapa.html","title":"Persyaratan Pembangunan Kebun Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1702623610563302302"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:18:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-05T22:18:44.771+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pengolahan Minyak Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMinyak sawit berasal dari buah pohon kelapa sawit \n(Elaeis guineensis), suatu spesies tropis Yang berasal dari Afrika \nBarat, namun kini tumbuh sebagai hibrida di banyak belahan dunia, \nTermasuk Asia Tenggara dan Amerika Tengah. Minyak sawit menjadi minyak \npangan yang paling banyak diperdagangkan secara internasional pada tahun\n 2007. Minyak yang relatif murah ini digunakan untuk berbagai tujuan. \nPermintaan dunia akan minyak sawit telah gelonjak dalam dua dasawarsa \nterakhir, pertama karena penggunaannya dalam bahan makanan, sabun, dan \nproduk-produk konsumen lainnya, dan belakangan ini sebagai bahan baku \nmentah bahan bakar nabati. Naiknya tingkat kemakmuran di India dan Cina,\n kedua negara importir terbesar di dunia, akan menambah permintaan akan \nminyak sawit dan minyak sayur yang dapat dimakan lainnya untuk berbagai \nkegunaan. Buah sawit adalah sumber bahan baku CPO (Crude Palm Oil) dan \nPKO (Palm Kernel Oil). CPO dihasilkan dari daging buah sawit, sedangkan PKO dihasilkan dari inti buahnya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTandan\n buah segar kelapa sawit harus diolah dalam waktu 24-48 jam sejak \ndipanen agar tidak mengalami penurunan kualiatas. Jika pengolahan tidak \nberjalan secara tepat waktu, maka produknya tidak lagi mememuhi \npersyaratan kelas pangan yaitu kandungan Asam Lemak Bebas (FFA) sekitar \n5-6%. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPengolahan buah sawit menjadi CPO \nsebetulnya memiliki teknologi proses yang sangat sederhana, yaitu : \nrebus, peras, dan pisah. Atas dasar tiga hal tersebut inilah \npengembangan pengolahan CPO dilaksanakan. Mulai dari yang paling \nsederhana sampai pada tingkat teknologi tinggi. Pengembangannya tentu \ndalam upaya untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk yang \ndiinginkan sesuai kebutuhan pasar, gambaran diagram singkat proses \nsederhana pengolahan TBS.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-HgJHxPHuR3A\/UG76D1M4EeI\/AAAAAAAACMA\/e6uAs98aHa0\/s1600\/skema+proses+pengolahan+kelapa+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-HgJHxPHuR3A\/UG76D1M4EeI\/AAAAAAAACMA\/e6uAs98aHa0\/s640\/skema+proses+pengolahan+kelapa+sawit.jpg\" width=\"480\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003ETandan Buah Segar (TBS) dengan mutu yang baik akan menghasilkan :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: arial,helvetica,sans-serif;\"\u003EKualitas Buah yang dihasilkan \u003Cb\u003Etenera (rendemen 22 -24) atau dura (rendemen 17-18%)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n1. Minyak sebanyak 20-25%\u003Cbr \/\u003E2. Inti (kernel) sebanyak 4-6%\u003Cbr \/\u003E3. Cangkang 5-9%\u003Cbr \/\u003E4. Tandan kosong (empty fruit bunch) 20-22%\u003Cbr \/\u003E5. Serat (fiber) 12-14%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003ESedangkan Buah Berondolan akan menghasilkan:\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E1. Minyak sebanyak 30-34%\u003Cbr \/\u003E2. Nut (biji) 15-17%\u003Cbr \/\u003E3. Serat (fiber) 14-30%\u003Cbr \/\u003E4. Sampah 2-10%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSebelum\n melaksanakan pembangunan PKS (Pabrik Kelapa Sawit) harus mempunyai daya\n dukung bahan baku yang cukup untuk pelaksanaan prosesnya, berdasarkan \nperkiraan potensi produksi, maka kapasitas pabrik dapat dihitung.\u0026nbsp; \nDengan asumsi tiga shift kerja perhari (20 jam kerja perhari) dengan 25 \nhari kerja perbulan serta kapasitas produksi maksimum yang disesuaikan \ndengan produksi bulanan diperhitungkan sebesar 10,5%, maka untuk \nmengolah seluruh produksi TBS tersebut akan dibutuhkan pabrik dengan \nkapasitas minimal (6.000 ha x 20 ton TBS\/ha x \u003Ci\u003E10,5%) \u003C\/i\u003E: (25 hari x\n 20 jam) = 22,5 ton TBS\/jam.\u0026nbsp; Tanaman kelapa sawit tenera unggul yang \nbersumber dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit dapat menghasilkan 23 - 28 \nton TBS\/ha\/tahun\u0026nbsp; Dengan tingkat produktivitas yang demikian, dapat \ndiperoleh sekitar 5.5 - 7,5 ton CPO dan 0,5 ton minyak inti \nsawit\/ha\/tahun pada tingkat \u003Ci\u003Eoil extraction rate\u003C\/i\u003E (rendemen CPO) 23 – 26% dan \u003Ci\u003Ekernel extraction rate\u003C\/i\u003E (rendemen inti) 6,5 – 8% (Asmono \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E., 2001).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPemilihan\n lokasi pabrik ini dilakukan dengan memperhitungkan adanya batasan- \nbatasan yang umum berlaku antara lain mengenai penggunaan sumber air \ndari sungai agar dapat mensuplai kebutuhan air untuk pengelolaan \nsepanjang tahun. Topografi yang ideal untuk pabrik dipilih yang\u0026nbsp; datar \n\u0026nbsp;namun \u0026nbsp;demikian \u0026nbsp;pembuatan \u0026nbsp;\u003Ci\u003Eloading \u0026nbsp;ramp\u0026nbsp; \u003C\/i\u003Edibutuhkan tempat yang lebih tinggi dari unit rebusan sehingga\u0026nbsp; perlu dilakukan penimbunan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLokasi\n yang dipilih harus memiliki daya dukung tanah yang cukup baik karena \ntanah harus mampu menopang semua bangunan dan peralatan pabrik \u0026nbsp;yang\u0026nbsp; \ndibangun \u0026nbsp;diatasnya.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;Disamping \u0026nbsp;itu lokasi \u0026nbsp;pabrik \u0026nbsp;harus bebas \nbanjir dan memiliki drainase vang baik. \u0026nbsp;Pertimbangan lain yang \ndiperhatikan \u0026nbsp;adalah arah angin yang sering terjadi di lokasi sedapat \nmungkin\u0026nbsp; \u0026nbsp;asap\u0026nbsp; \u0026nbsp;dari\u0026nbsp; \u0026nbsp;cerobong\u0026nbsp; \u0026nbsp;pabrik\u0026nbsp; \u0026nbsp;tidak\u0026nbsp;\u0026nbsp; mencemari\u0026nbsp; \u0026nbsp;udara\u0026nbsp; \n\u0026nbsp;di lingkungan \u0026nbsp;komplek permukiman \u0026nbsp;karyawan\u0026nbsp; atau penduduk\u0026nbsp; sekitamya \ntermasuk tingkat kebisingannya. Pabrik kelapa sawit (PKS) adalah unit \nekstraksi\u0026nbsp; minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) \ndari TBS kelapa sawit. Pengembangan \u0026nbsp;tanaman \u0026nbsp;kelapa \u0026nbsp;sawit \u0026nbsp;selalu\u0026nbsp; \ndisertai \u0026nbsp;dengan pembangunan\u0026nbsp; \u0026nbsp;pabrik.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;Hal \u0026nbsp;ini \u0026nbsp;disebabkan\u0026nbsp; \n\u0026nbsp;minyak\u0026nbsp;\u0026nbsp; sawit \u0026nbsp;mudah mengalami \u0026nbsp;perubahan \u0026nbsp;kimia dan fisika selama \nminyak dalam tandan dan pengolahan.\u0026nbsp; \u0026nbsp;Perencanaan\u0026nbsp; pembangunan \u0026nbsp;pabrik \nharuslah selaras dengan rencana penanaman dan rencana produksi TBS.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMenurut\n SK Menteri Pertanian No.107\/Kpts\/2000, sebuah pabrik kelapa sawit\u0026nbsp;\u0026nbsp; \n(PKS)\u0026nbsp; \u0026nbsp;hanya\u0026nbsp; \u0026nbsp;dapat\u0026nbsp; didirikan\u0026nbsp; \u0026nbsp;apabila \u0026nbsp;\u0026nbsp;perusahaan\u0026nbsp; \u0026nbsp;tersebut \nmempunyai kebun yang mampu memasok 50 % dari kapasitas PKS yang akan \ndibangun (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2004).\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1702623610563302302"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1702623610563302302"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pengolahan-minyak-sawit.html","title":"Pengolahan Minyak Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-HgJHxPHuR3A\/UG76D1M4EeI\/AAAAAAAACMA\/e6uAs98aHa0\/s72-c\/skema+proses+pengolahan+kelapa+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-5998030460456627518"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:02:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T14:03:39.231+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Transportasi Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-G2HxpkGFtD8\/UG8C_F7KtQI\/AAAAAAAACMk\/JHJLnbPqdIc\/s1600\/transportasi+kelapa+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"212\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-G2HxpkGFtD8\/UG8C_F7KtQI\/AAAAAAAACMk\/JHJLnbPqdIc\/s320\/transportasi+kelapa+sawit.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EI.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPENDAHULUAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam\n \u0026nbsp;membangun \u0026nbsp;suatu \u0026nbsp;perkebunan \u0026nbsp;Kelapa \u0026nbsp;Sawit \u0026nbsp;, \u0026nbsp;syarat \/ faktor \n\u0026nbsp;pertama \u0026nbsp;yang\u0026nbsp; harus diperhitungkan \u0026nbsp;ialah \u0026nbsp;masalah transport \u0026nbsp;karena :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHasil yang diproduksi oleh tanaman itu sendiri cukup tinggi. Produksi FFB \/ Ha TBS antara 20 – 30 ton .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeterlambatan\n pengangkutan \/ transportasi akan mempengaruhi\u0026nbsp; proses pengolahan \u0026nbsp;dan \n\u0026nbsp;kapasitas \u0026nbsp;pabrik, bila proses \u0026nbsp;pengolahannya terlambat \u0026nbsp;karena \u0026nbsp;buah \n\u0026nbsp;yang \u0026nbsp;akan diolah tidak up-to date pemasukannya maka mutu hasil minyak \nyang dihasilkan di \u0026nbsp;pabrik \u0026nbsp;akan \u0026nbsp;menurun \u0026nbsp;( FFA \u0026nbsp;naik ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeterlambatan\u0026nbsp;\n \u0026nbsp;pengangkutan\u0026nbsp; \u0026nbsp;akan \u0026nbsp;menyulitkan kontrol terhadap \u0026nbsp;ekstraksi minyak, \n\u0026nbsp;karena \u0026nbsp;kadar \u0026nbsp;air \u0026nbsp;didalam \u0026nbsp;buah tersebut \u0026nbsp;akan \u0026nbsp;turun, yang \nmengakibatkan BJR \u0026nbsp;dan \u0026nbsp;ekstrasinya turun, disamping peluang untuk \nhilangnya brondolan \u0026nbsp;dan \u0026nbsp;buah dari TPH akan lebih besar .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk mempertinggi produksi Kelapa Sawit, dibutuhkan pupuk dalam \u0026nbsp;jumlah \u0026nbsp;yang \u0026nbsp;besar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EContoh\u0026nbsp; :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPada\n \u0026nbsp;saat ini dalam program pemupukan telah menggunakan pupuk \u0026nbsp;5 \u0026nbsp;– \u0026nbsp;6 \u0026nbsp;kg \n\u0026nbsp;\/ pkk, untuk \u0026nbsp;mengangkut pupuk \u0026nbsp;yang \u0026nbsp;ribuan \u0026nbsp;ton jumlahnya transport \nharus dikoordinir dengan rapi agar program pemupukan tersebut\u0026nbsp; \u0026nbsp;cepat \n\u0026nbsp;selesai \u0026nbsp;sesuai \u0026nbsp;dengan schedule yang dibuat \u0026nbsp;tanpa \u0026nbsp;mengganggu \n\u0026nbsp;transport \u0026nbsp;buah \u0026nbsp;ke pabrik.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBerdasarkan\n \u0026nbsp;pengalaman \u0026nbsp;dan \u0026nbsp;setelah \u0026nbsp;memperhatikan pengelolaan operasi transport \ndi \u0026nbsp;kebun – kebun kelapa sawit \u0026nbsp;lainnya, kami \u0026nbsp;dapat \u0026nbsp;mengambil \u0026nbsp;satu \n\u0026nbsp;rumus\u0026nbsp; \u0026nbsp;seperti\u0026nbsp; tersebut\u0026nbsp; \u0026nbsp;dibawah\u0026nbsp; \u0026nbsp;ini :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUntuk\n \u0026nbsp;setiap \u0026nbsp;400 Ha \u0026nbsp;kebun \u0026nbsp;kelapa \u0026nbsp;sawit , dibutuhkan \u0026nbsp;satu \u0026nbsp;truck untuk \n\u0026nbsp;angkat \u0026nbsp;TBS dan \u0026nbsp;untuk \u0026nbsp;setiap 1.000 Ha \u0026nbsp;diperlukan 1 truck untuk \nangkutan lain – lain , dengan alasan – alasan tersebut diatas kami menganggap bahwa transport di perkebunan\u0026nbsp; kelapa sawit sudah \u0026nbsp;seharusnya\n \u0026nbsp;dikelola \u0026nbsp;dengan administrasi dan \u0026nbsp;pengoperasian yang\u0026nbsp; baik.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMelihat\n pentingnya transportasi di perkebunan kelapa sawit maka perawatan dan \ncara perbaikan kendaraan atau alat berat yang merupakan sarana \ntransportasi harus diperhatikan sehingga kendaraan tersebut dapat berfungsi dengan baik pada saat dibutuhkan. Kegiatan traksi dapat \ndiringkas sebagai berikut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMerawat\/\n memperbaiki seluruh mesin – mesin\/ alat berat\/ kendaraan milik \nperkebunan agar selalu siap pakai untuk program – program pekerjaan \npenting di kebun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur distribusi\/ penempatan alat transport\n dan mesin – mesin lainnya ( mesin listrik, mesin air, dsb. ) ke \nafdeling – sesuai dengan kebutuhan ( permintaan ) kebun atau afdeling, \nserta membantu memonitor kegiatan operasionalnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembantu tindakan perawatan\/ perbaikan prasarana kebun ( jembatan, rumah karyawan dan bangunan lainnya )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengadakan prasarana kebun dan peralatan sesuai standart kualitas kebun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMerencanakan\n persiapan suku cadang alat dan mesin – mesin dengan berpedoman pada \nmonitoring operasional dan administrasi ( carlog, dan sebagainya ), up \nto date, terkendali dan tepat guna.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EII.\u0026nbsp; STRUKTUR, WEWENANG DAN KEWAJIBAN DALAM ORGANISASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBagan\n organisasi traksi di perkebunan biasanya terdiri dari satu orang staf \ntraksi, yang posisinya sejajar dengan asisten afdeling dan sama – sama \nberada di bawah pengurus kebun ( manajer ). Staf traksi membawahi kepala\n tukang, kepala bengkel, mandor transport, dan krani traksi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFungsi\n manajer adalah menetapkan kebijakan sitem kerja unit traksi. Fungsi \nstaf traksi adalah menjabarkan kebijakan manajer agar seluruh fungsi \nunit traksi secara tehnis, operasional dan administrasi dapat mencapai \nsasaran efisien dan efektif. Fungsi asisten afdeling adalah melakukan \nkoordinasi dengan staf traksi dalam hal kebutuhan kendaraan, alat kerja \natau mesin – mesin serta ikut aktif dalam pengawasan operasional \ndilapangan guna sasaran disiplin, efektif, efisien dan administrasi yang\n up to date.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWewenang\n dan kewajiban staf serta karyawan traksi harus jelas agar pekerjaan \ntraksi dan transportasi dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. \nDeskripsi wewenang dan kewajiban utama mereka sebagai berikut.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Staf Traksi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMelakukan\n pengawasan\/ pemeriksaan kehadiran seluruh petugas traksi ( mandor \ntransport dan seluruh operator, kepala bengkel dan seluuruh mekanik, \nkepala tukang dan seluruh tukang, krani ) pada pukul 06.00 WIB.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa\n kesesuaian perawatan alat transport ( pemeriksaan rutin : oil engine, \nair radiator, accu battery, minyak rem, dan lain – lain ) sebelum alat \nkendaraan start atau dioperasikan bersama sopir dan mandor transport.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa\n kelengkapan data inventaris alat perlengkapan sesuai kartu perkakas \nsetiap alat transport ( kunci roda, ban serep, dongkrak, sekop, cangkul \ndan sebagainya ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa kelengkapan pengisian buku tugas \nharian masing – masing transport ( sudah terisi dengan baik dan dapat \ndipahami sopir\/ operator ) serta memeriksa carlog ( sudah terisi dengan \nbaik dan up to date )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenilai\/ memonitor kelancaran angkutan, \nterutama produksi, sesuai dengan jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk \nsetiap afdeling, termasuk memantau keadaan pasar dan titi jalan motor.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESore\n hari, pukul 17.00 – 20.00 WIB, membantu mandor transport mengatur \npenugasan msing – masing transport, berdasarkan keperluan permintaan \ndari setiap afdeling agar lebih efisien.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembaut catatan situasi\n penyimpangan – penyimpangan dalam buku rekapitulasi perjalanan alat \ntransport, disertai pembuatan petunjuk mengatasinya setelah \nberkonsultasi dengan manajer pada kesempatan pertama.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembantu\/ \nmemeriksa krani transport dalam kewajiban harian sebagai petugas \nadministrasi, baik administrasi transoprt, suku cadang, perawatan, biaya\n dan lain – lain untuk menghindari penyimpangan data, keterlambatan \nlaporan dan sebagainya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenetapkan tugas harian atau rencana \nkerja harian kepala bengkel dan kepala tukang beserta pekerjanya dalam \npapan kerja harian, memeriksa hasil pekerjaan, serta memberikan petunjuk\n dan mengatur tata letak bengkel untuk kemudahan dan keleluasaan dalam \nbekerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengawasi kebersihan lingkungan dan keamanan unit transport, perbengkelan dan pertukangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa\n kelancaran kendaraan penumpang dan operasional alat berat yang secara \nkhusus operasionalnya di lapangan diawasi oleh asisten atau askep.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kepala Bengkel\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMelaksanakan garis instruksi kerja sesuai dengan rencana kerja harian yang ditetapkan oleh staf traksi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur\n tukang bengkel, sesuai dengan profesi atau tingkat ketrampilan masing –\n masing. Hal tersebut perlu ditetapkan melalui daftar khusus penanggung \njawab setiap servis mesin ringan ( sepeda motor dan mesin – mesin lain),\n kendaraan penumpang ( jip solar\/ diesel, pool, bus, ambulance ), alat \nangkutan truk dan alat berat, serta pembuatan alat pertanian ( tukang \nbesi ). Selain itu, kepala bengkel secara khusus memonitor dan mengawasi\n prestasi dan kualitas kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenetapkan petugas khusus ( anggota bengkel ) yang bertanggung jawab sebagai pelaksana \u003Ci\u003Edoorsmeer\u003C\/i\u003E alat transport, jangan sekali – kali dilimpahkan kepada kenek motor saja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengadakan pemeriksaan akhir servis kendaraan bersama – sama staf traksi dan mengisi daftar isian pemeriksaan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBersama staf traksi mengatur tata ruang bengkel agar setiap ruang dapat memberikan jaminan keamanan pengawasan, keamanan \u003Ci\u003Espare part\/ \u003C\/i\u003Esuku\n cadang yang dipersiapkan untuk disempurnakan kembali, membantu \nmemeriksa\/ memesan kebutuhan suku cadang, serta melarang adanya \nkanibalisme di bengkel,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur kebersihan dan keamanan \nbengkel, terutama menjaga ketertiban lalu – lintas pekerja\/ orang lain \nyang tidak berkepentingan dalam lokasi bengkel.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mandor Transport\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur dan memeriksa seluruh alat transport agar pada pukul 06.00 WIB seluruh armada transport sudah siap beroperasi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa\n keadaan alat transport bersama sopir\/ operator yang bersangkutan tanpa \nmenghambat keseluruhan operasional pekerjaan menugaskan perbaikan alat \ntransport dengan segera bila diketahui tidak layak dioperasikan. Selain \nitu, mandor transport memberikan laporan langsung kepada staf traksi \npada kesempatan pertama,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur pelaksanaan harian \u003Ci\u003Edoorsmeer\u003C\/i\u003E, reparasi dan penugasan harian setiap alat transport melalui buku tugas harian,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa pengisian \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E\n secara up to date dan benar, menyelesaikan hambatan secara tuntas \nsetiap kejadian di lapangan, serta tetap memberikan laporan kepada staf \ntraksi pada kesempatan pertama,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap hari membuat catatan \npermasalahan transport, antara lain kebutuhan dan pesanan suku cadang, \nsebab keterlambatan, atau penyimpangan dan sebagainya. Semua \npermasalahan tersebut tercatat dalam buku rekapitulasi perjalanan alat \ntransport,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengawasi kelancaran angkutan produksi harian dan \nlain – lain, termasuk brondolan di TPH, buah jatuh di jalan, serta \nselalu memantau buah tinggal melaui peta potong buah harian,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBertanggung jawab terhadap keamanan dan penggunaan kendaraan, peralatan, dan perlengkapan transport.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E4.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kepala Tukang\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMelaksanakan garis instruksi kerja sesuai dengan rencana kerja harian yang ditetapkan oleh staf traksi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur\n tenaga kerja tukang batu dan tukang kayu sesuai dengan profesi atau \ntingkat ketrampilan masing – masing pekerja. Hal tersebut perlu \nditetapkan melalui daftar khusus penanggung jawab setiap perbaikan \nprasarana ( jembatan dan lain – lain ) maupun bangunan ( rumah karyawan,\n bangunan kerja dan lain – lain ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa ketersediaan bahan \nbangunan ( semen, pasir, paku dan sebagainya ) agar tidak terjadi \nkekurangan\/ kehabisan bahan pada saat pelaksanaan pekerjaan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengadakan pemeriksaan akhir perbaikan prasarana dan bangunan bersama – sama staf traksi dan mengisi daftar isian pemeriksaan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E5.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Krani Traksi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa rutin ijin kendaraan ( STNK ), memberikan perhatian khusus pada masa berlaku, serta memeriksa kendaraan ( kir ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa, membuat file\/ copy SIM setiap sopir\/ operator, dan memberikan\u0026nbsp; perhatian khusus terhadap masa berlaku,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi\n buku riwayat kendaraan secara up to date, mengisi buku rekapitulasi \npemakaian bahan bakar, oli, dan oli bekas. Mencatat semua suku cadang \nyang dipakai pada masing – masing file kendaraan dan sebagainya,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMeneliti\n dan membuat bon suku cadang serta mengajukan pesanan suku cadang dengan\n terlebih dahulu memeriksa stok suku cadang di gudang sentral,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi buku rekapitulasi \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E serta memeriksa kewajaran pengisian tonase angkutan dalam hal jumlah trip dan volume diangkut,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi buku rekapitulasi mobil penumpang,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMempersiapkan buku premi angkutan, yang disahkan staf traksi dan dikirim ke afdeling pada setiap awal bulan setelah tutup buku,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi laporan statistik transport, kapasitas angkutan dna pemakaian biaya rata – rata setiap bulan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat\n laporan bulanan transport alat berat dan mesin – mesin lain dilengkapi \ndengan ulasan singkat dan jelas menyangkut keadaan nyata selama \noperasional,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat rekapitulasi perjalanan harian alat transport sesuai dengan tenaga operasional di lapangan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendata,\n membuat inventaris, menyusun dalam rak\/ lemari atas suku cadang bekas \npengganti yang masih mungkin digunakan kembali atau untuk contoh pesanan\n suku cadang.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E6.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sopir\/ Operator\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap pagi sebelum kendaraan dihidupkan, sopir harus memeriksa :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKendaraan ( air pendingin mesin\/ radiator, oli mesin, air batery, minyak rem, tali kipas dan lain – lain ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat inventaris ( kunci roda, ban serep, dongkrak, sekop, cangkul dan lain – lain ), serta\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAdministrasi ( buku tugas harian, \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E dan lain – lain )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemastikan\n kendaraan harus sudah mulai bergerak menuju lokasi yang telah \nditentukan sesuai buku tugas pada pukul 06.00 WIB. Catatan : \u003Ci\u003Ememahami, mengerti dan hanya melaksanakan setiap perintah penugasan di buku tugas.\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemastikan\n bahwa seluruh angkutan lain – lain di divisi harus sudah selesai pukul \n08.00 WIB dan segera menuju ke tempat pemotongan buah,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelaksanakan pengangkutan buah dengan memperhatikan beberapa hal berikut,\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Brondolan harus bersih di TPH,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Muatan tidak melebihi kapasitas angkut yang telah ditentukan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Wajib memuat buah yang jatuh di jalan kebun,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak ada buah restan di lapangan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi ( ngebut ).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nMelaksanakan pengangkutan lain – lain dengan memperhatikan hal berikut,\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeletakan\n barang dilokasi tujuan hendaknya telah dilakukan dengan benar ( pupuk \ndi tempat – tempat yang sudah di beri tanda, bibit diatur rapi dan tidak\n rebah, janjang kosong tidak menutupi dan sebagainya ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Volume \nbarang yang dikirim\/ dimuat harus sama dengan yang diletakkan di tujuan,\n sesuai dengan SPB ( Surat Pengantar Barang )\/ tanda terima,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E secara benar dan tepat waktu, sesuai pekerjaan yang dilakukan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelakukan\n pencucian kendaraan pada sore hari bila waktu masih memungkinkan ( \nantara pukul 18.00 – 19.00 WIB ), tanpa harus menunggu perintah dari \nmandor transport \/ asisten,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenjaga dan merawat kendaraan, termasuk kelengkapan peralatan\/ \u003Ci\u003Eaccessories\u003C\/i\u003E sesuai aslinya dan dilarang memasang \u003Ci\u003Eaccessories \u003C\/i\u003Etambahan tanpa seijin pihak manajemen,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBertanggung jawab penuh terhadap kemungkinan\u0026nbsp; kendaraan rusak\/ \u003Ci\u003Ekepater\u003C\/i\u003E, terlebih bila disebabkan oleh faktor kelalaian pengemudi\/ sopir, sampai kendaraan tiba kembali ke garasi\/ traksi.\u003Ci\u003E \u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EIII. SISTEM KERJA\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EMekanisme Kerja Servis \u003Ci\u003EMaintenance\u003C\/i\u003E ( Perawatan Mmingguan )\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerawatan\n mingguan adalah perawatan dasar yang mutlak bagi setiap unit kendaraan.\n Tujuannya untuk memonitor secara terus – menerus kondisi alat sehingga \nkerusakan dapat diantisipasi sejak dini. Tanggap terhadap kerusakan \nkecil akan terhindar dari kerusakan yang lebih besar. Dalam servis ini, \nyang harus diperhatikan secara khusus yaitu kendaraan harus bersih bila \nmasuk bengkel.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nServsi\n kerusakan dilakukan apabila terjadi kerusakan kendaraan\/ alat berat\/ \nmesin – mesin secara insidental ( tidak terduga ), misalnya seal water \npump bocor, disc clutch rusak, pecah bearing dan kerusakan bagian \nlainnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerhatikan\n jadwal top overhaul atau general overhaul. PP suku cadang harus sudah \ndiajukan pada saat alat\/ kendaraan\/ mesin – mesin menjelang usia \noverhaul ( antisipasi proses realisasi PP ). Ketelitian dan kebersihan \ndalam pelaksanaan overhaul mutlak harus dijaga, disamping kemampuan \nteknik mekanik yang cukup memadai.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tehnis Pelaksanaan Kerja\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTehnis\n pelaksanaan kerja menuntut detial dan pelaksanaan yang berbeda antara \nperawatan rutin, penggantian suku cadang yang sesuai jadwal\u0026nbsp; dan \noverhaul.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003Ea.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Perawatan\/ \u003Ci\u003Emaintenance (doorsmeer )\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPerawatan\n kendaraan, alat berat, dan mesin – mesin penunjang perlu diperhatikan \nsedini mungkin agar tidak terjadi kerusakan mendadak atau cepatnya \nkeausan komponen yang bergesekan. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam \nmengantisipasi kerusakan antara lain pemeriksaan\/ perawatan setiap hari \nyang dilakukan oleh operator\/ sopir. Perawatan\/ pemeriksaan kendaraan, \nalat berat, dan mesin – mesin sebelum dijalankan rikhendaknya dilakukan \nsetiap hari. Perawatan\/ pemeriksaan tersebut antara lain sebagai \nberikut.\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa seluruh permukaan oli sebelum mesin dinyalakan\/ dihidupkan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa air battery beserta kabel – kabelnya,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa air radiator,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa ketinggian\/ sistem rem,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa jarak\/ sistem kopling\/ klos,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa sistem kelistrikan\/ instrumen panel\/ lampu – lampu,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa ketegangan tali kipas,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa tekanan angin ban,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa seluruh baut – baut untuk menghindari adanya baut yang hilang atau longgar,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa kelayakan fungsi dump\/ sistem hidrolik,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENyalakan mesin dengan putaran rendah dan perhatikan kelainan suara pada mesin,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa kebocoran – kebocoran oli,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELakukan pemeriksaan keliling sebanyak 2 kali sebelum alat dijalankan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003Eb.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jadwal penggantian\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nJadwal\n penggantian suku cadang perlu diperhatikan waktunya. Kelalaian \npenggantian suku cadang yang berhubungan langsung dengan mesin dapat \nberakibat fatal dan merusak komponen – komponen lain ( mempercepat \nkeausannya ).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam perawatan\/ penggantian suku \ncadang, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari sopir\/ \noperator antara lain sebagai berikut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPembersihan air cleaner ( saringan udara ) sebaiknya dilakukan setiap hari atau minimum 2 hari sekali,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian gemuk atau pispot dilakukan 1 kali seminggu atau setiap 50 – 60 jam operasi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemeriksaan \u003Ci\u003Ebearing\u003C\/i\u003E roda dan \u003Ci\u003Ebearing king pin\u003C\/i\u003E dilakukan 1 kali seminggu,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengisian\n BBM sebaiknya diisi penuh setelah selesai beroperasi ( sore hari \nsebelum parkir ). Hal ini bertujuan untuk menghindari ruang kosong dalam\n tangki bahan bakar agar tidak terjadi penguapan atau pengembunan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembersihan alat sebaiknya dilakukan setiap hari setelah dioperasikan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemeriksaan \u003Ci\u003Etie rod,\u003C\/i\u003E \u003Ci\u003Eprofeller shaft,\u003C\/i\u003E dan lain – lain dilakukan saat melakukan jadwal servis.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003Ec.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Top overhaul\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003ETop overhaul\u003C\/i\u003E\n dilakukan pada saat mesin mulai berasap, oli mesin berkurang mencapai 2\n liter hingga saat akan dilakukan penggantian oli berikutnya, dan \nterdapat beberapa kebocoran pada bagian \u003Ci\u003Egasket\/ packing\u003C\/i\u003E.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSementara yang dimaksud engine overhaul adalah perbaikan pada bagian – bagian tertentu saja seperti pada \u003Ci\u003Eengine, transmisi, gardan, hydrolic, under carriege\u003C\/i\u003E ( alat berat ) dan sebagainya.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003Ed.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; General overhaul\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nGeneral\n overhaul adalah perbaikan alat\/ unit secara total ( untuk alat berat \nyang berumur antara 10 – 12 tahun ). Biaya yang diperlukan juga cukup \nmahal dan biasanya dilakukan bila alat berat\/ kendaraan tersebut sudah \ntidak efektif lagi bila dioperasikan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPada kondisi ideal, jadwal overhaul beberapa jenis kendaraan\/ alat berat\/ mesin adalah sebagai berikut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;Tabel 1. Jadwal \u003Ci\u003EOverhaul\u003C\/i\u003E Beberapa Jenis Kendaraan\/ Alat Berat\/ Mesin\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 208px; width: 705px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EJenis alat\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EUndercarriage Overhaul\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003ETop Overhaul\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EEngine Overhaul\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EGeneral Overhaul\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EKendaraan ringan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E75. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E125. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E225. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E300. 000 Km\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003ETruk\/ dump truck\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E50. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E125. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E225. 000 Km\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E250. 000 Km\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003EAlat berat\/ mesin\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E4. 000 Jam\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E6. 000 Jam\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E10. 000 Jam\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E20. 000 Jam\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003EIV. ADMINISTRASI\u0026nbsp; \u0026nbsp;TRANSPORT\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBagan\n organisasi traksi di perkebunan biasanya terdiri dari satu orang staff \ntraksi, yang posisinya sejajar dengan Asisten Afdeling dan sama-sama \nberada di bawah pengurus kebun ( manajer ). Staf traksi membawahi kepala\n tukang, kepala bengkel, mandor transport dan krani traksi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nFungsi\n manajer adalah menetapkan kebijakan sistem kerja unit traksi. Fungsi \nstaf traksi adalah menjabarkan kebijakan manajer agar seluruh fungsi \nunit traksi secara tehnis, operasional dan aministrasi dapat mencapai \nsasaran efektif. Fungsi asisten afdeling adalah melakukan koordinasi \ndengan staf traksi dalam kebutuhan kendaraan, alat kerja atau mesin - \nmesin serta ikut aktif dalam pengawasan operasional di lapangan guna \nsasaran disiplin, efektif, efisien dan administrasi yang up to date.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWewenang\n dan kewajiban staf serta karyawan traksi harus jelas agar pekerjaan \ntraksi dan transportasi dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSuatu\n organisasi atau usaha akan berjalan \u0026nbsp;baik bila dikelola dengan \nadministrasi yang baik dan teratur. Oleh karena itu organisasi transport\n yang sudah mempunyai anggaran \/ budget tahunan harus dikelola \u0026nbsp;dengan \nadministrasi yang baik agar rencana pemakaian anggaran tahunan tersebut \ndapat diketahui setiap akhir bulan pelaksanaan penggunaannya .\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAdministrasi\n transportasi ini langsung dikelola oleh Afdeling Traksi, meliputi jenis\n pengelolaan pengeluaran BBM, perawatan loco, mobil gerobak, traktor \nroda, mobil bus sekolah, excavator dan graeder .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembukuan biaya untuk transport ini ialah pada nomor perkiraan 41106 dan 41107 seperti :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Col style=\"list-style: upper-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESpare -\u0026nbsp; part\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan - \u0026nbsp;bahan minyak \u0026nbsp;\/ \u0026nbsp;pelumas\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBan \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGaji, premi dan lembur tukang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGaji, dan premi supir, kenek dan mekanik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGaji dan premi transport pekerja ( bongkar muat )\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Col start=\"3\"\u003E\n\u003Cli\u003ESemua\n biaya yang tersebut      diatas akan dicatat dalam satu buku folio yang\n diberi nama ”Buku Uraian      Biaya Perjalanan Kendaraan”, tiap \nkendaraan masing – masing mempunyai\u0026nbsp; \u0026nbsp;buku tersebut .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUraian \nperjalanan alat      pengangkutan atau lebih lazim dinamakan car-log, \ntercatat dalam buku uraian      biaya\u0026nbsp; \u0026nbsp;perjalanan \u0026nbsp;kendaraan .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelanjutnya\n \u0026nbsp;Op-tr-01 ( Oil palm transport 01 ) dimasukan      dalam \u0026nbsp;\u0026nbsp;formulir \nOp-tr-02, Op-tr-04 dan      terakhir \u0026nbsp;dalam Op-tr-05. Dalam      \nOp-tr-05 telah dapat diketahui biaya pengangkutan: Rp\/Ton FFB,\u0026nbsp; Rp\/Jam\u0026nbsp; \n     dan\u0026nbsp; Rp\/Km.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua Op-tr ini disimpan      dalam map, dimana masing – masing kendaraan mempunyai map sendiri.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESebagai\n alat kontrol      terhadap biaya dan kapasitas dari masing –masing \njenis angkutan, dicatat pada      papan tulis \/ yang tergantung di \n\u0026nbsp;kantor \u0026nbsp;traksi .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelain dari op-tr diatas,      ada beberapa \nOp-tr lagi yang dianggap \u0026nbsp;\u0026nbsp;perlu untuk mengkontrol pelaksanaan      \ntranspot ini seperti :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EA-\u003C\/b\u003E Opr-204\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemakaian BBM \u0026nbsp;\/ \u0026nbsp;Pelumas\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EB\u003C\/b\u003E- \u0026nbsp;Op-tr-06\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Alat – alat pengangkutan \u0026nbsp;\/\u0026nbsp; \u0026nbsp;pengolahan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EC\u003C\/b\u003E- Op-tr-07\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;Formulir taksasi \u0026nbsp;buah dari Afdeling\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003ED-\u003C\/b\u003E Op-tr-08\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Laporan\u0026nbsp; \u0026nbsp;produksi \u0026nbsp;kepada\u0026nbsp; \u0026nbsp;pengurus\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EE-\u003C\/b\u003E\u0026nbsp; Op-tr-09\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Daftar pemasukan buah \/ \u0026nbsp;jam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EF-\u003C\/b\u003E\u0026nbsp; Op-tr-10\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Laporan situasi pengangkutan buah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col start=\"9\"\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n mengetahui penggunaan      pemakaian BBM setiap kendaraan angkutan TBS \ndibuat satu daftar harian      untuk satu bulan yang mencatat kapasitas \ndan penggunaan \u0026nbsp;BBM . \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp; \u003Cb\u003EContoh\u0026nbsp; :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 364px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tgl\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"163\"\u003ETon FFB\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"163\"\u003ELiter BBM\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"153\"\u003EFFB \/ BBM\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003EHari ini\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003ES \/D\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003EHari ini\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003ES \/ D\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003EHari ini\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"72\"\u003ES \/ D\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cb\u003E \u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EV. HUBUNGAN\u0026nbsp; TRANSPORT\u0026nbsp; DENGAN\u0026nbsp; PENGOLAHAN\u0026nbsp;\u0026nbsp; DI\u0026nbsp; PABRIK\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTransport\n buah \/ TBS merupakan mata rantai dari tiga proses kegiatan di \nperkebunan Kelapa Sawit yaitu perawatan, panen dan pengangkutan. Ada \nempat hal yang menjadi sasaran kelancaran transport buah, yaitu :\u003C\/div\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003Emenjaga agar ALB (      asam lemak bebas ) produksi harian 2 – 3 %,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ekapasitas atau      kelancaran pengolahan di pabrik,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ekeamanan TBS di      lapangan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ebiaya (Rp\/Kg TBS)      transport yang minimum\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nFaktor yang mempengaruhi kelancaran transport buah meliputi :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003EOrganisasi Potong      Buah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPusingan\n potong buah dijaga antara 6 – 8 hari sehingga persentase brondolan \nterhadap janjang maksimum 7 – 9%. Hal ini perlu agar tidak terlalu \nbanyak waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat brondolan dari TPH ke \nkendaraan. Diusahakan agar satu seksi selesai dipotong dalam satu hari, \nartinya sedapat mungkin dihindari pengulangan panen yang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col start=\"2\"\u003E\n\u003Cli\u003EBentuk \/ Pola      Jalan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nJalan\n – jalan buntu ( tidak tembus ) diminimumkan dan sebaiknya tidak ada. \nPada areal yang berbukit maka diusahakan jalan dibangun di kaki bukit, \nbukan di atas bukit.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col start=\"3\"\u003E\n\u003Cli\u003EKondisi \/      Perawatan Jalan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFaktor\n utama kelancaran transport yaitu kondisi perawatan jalan itu sendiri, \nbukan kurangnya unit transportasi. Merupakan gejala umum di perkebunan \nselama ini, waktu yang disediakan perusahaan untuk \u003Ci\u003Eroad grader\u003C\/i\u003E banyak digunakan untuk menarik kendaraan yang kepater karena kerusakan jalan. Sebaiknya pemanfaatan \u003Ci\u003Eroad grader\u003C\/i\u003E seperti ini harus dihindari atau ditiadakan, \u003Ci\u003Eroad grader\u003C\/i\u003E hanya untuk membentuk dan merawat jalan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col start=\"4\"\u003E\n\u003Cli\u003EJenis \/ Tipe Alat      Transport\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPemilihan\n jenis atau tipe alat transport yang akan dipakai disuatu perkebunan \ndidasari oleh faktor jarak afdeling\/ blok dengan pabrik. Berikut adalah \ntabel pemilihan transport.\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 624px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003EJarak Blok – PKS (Km)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"140\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003ELangsung atau tidak langsung ke PKS\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003EJenis\/ Type Kendaraan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003EKapasitas (ton\/ hari)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003ETBS\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cb\u003ELain – lain\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E\u0026lt;   6\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"140\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003ELangsung\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003EWheel tractor   dengan trailer hidrolik ( kap. 5 ton )\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003E20 - 30\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E5 – 10\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E6   – 12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"140\"\u003ELangsung\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003EDump truk ( kap. 5   – 6 ton )\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E20 - 35\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E5 – 10\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026gt;   12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"140\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTidak   langsung\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003EWheel tractor   dengan trailer hidrolik (kap. 5 ton)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E20 - 30\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003E5 - 10\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003EDump truk \u003Cbr \/\u003E\n(kap. 5 – 6 ton)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTergantung   jarak\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"114\"\u003ETruk biasa \u003Cbr \/\u003E\n(kap.7 – 10 ton)\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTergantung   jarak\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Col start=\"5\"\u003E\n\u003Cli\u003EKondisi \/      Perawatan Alat Transport.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nPerawatan\n alat – alat transport seringkali merupakan titik lemah yang disebabkan \noleh banyak faktor, terutama akibat kurangnya pengetahuan tehnis. Selain\n itu, kepedulian para staf, terutama Asisten Afdeling sangat \nberpengaruh. Aspek – aspek yang kurang mendapatkan perhatian yaitu :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Elemahnya pengetahuan tehnis karyawan di bengkel,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ekurang disiplinnya jadwal maintenance,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emuatan ( tonase ) kendaraan yang berlebihan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Epengetahuan tehnis sopir yang minim,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ekondisi jalan yang tidak memadai,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETransport TBS sampai larut malam,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Esistem premi transport yang kurang menarik, dan beberapa hal lainnya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003EVI.\u0026nbsp; ORGANISASI PENGOPERASIAN ALAT – ALAT TRANSPORT\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerlunya\n dihayati bahwa penyediaan kendaraan ( truk dan wheel traktor )oleh \nperusahaan di perkebunan kelapa sawit terutama untuk transport TBS dan \nuntuk angkutan lainnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nApabila\n semua pekerjaan dikelola dengan baik dan kebun sudah mapan maka \npersentase pemakaian kendaraan untuk angkutan buah ( TBS ) 75 – 80 % dan\n untuk angkutan lain – lain ( pupuk, karyawan, bibit dan lain – lain ) \n20 – 25 %. Oleh karena itu, penentuan kebutuhan jumlah kendaraan per \nafdeling, terutama ditentukan oleh jumlah produksi TBS per hari.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nEfisiensi pengoperasian alat – alat transport akan maksimum apabila memperhatikan hal berikut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap\n hari asisten merencanakan tonase produksi dan angkutan lain – lain \nuntuk besok setiap sore hari. Realisasi produksi tidak boleh terlampau \njauh menyimpang dari taksasi, maksimum 2 %. Hal ini perlu diperhatikan \ndalam rangka penentuan jumlah kendaraan oleh mandor transport atau staf \ntraksi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAngkutan pupuk per trip minimal 5 ton.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAngkutan \npupuk dan angkutan lain – lain sudah harus selesai paling lambat pukul \n08.30 WIB agar saat itu juga buah sudah diangkat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESopir dan kenek harus membawa ”bontot” dan tidak dibenarkan pulang untuk makan dan minum.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJadwal \u003Ci\u003E”doormeer”\u003C\/i\u003E\n harus benar – benar dilaksanakan. Untuk hal ini perlu tetap tersedia 1 –\n 2 unit kendaraan untuk menggantikan\u0026nbsp; kendaraan yang sedang \u003Ci\u003Edoormeer\u003C\/i\u003E atau direparasi tersebut. Sebelumnya sopir harus mencatat dan melaporkan kerusakan saja yang perlu diperbaiki.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJangan dibiasakan mentolerir adanya buah restan ( tinggal ) di lapangan ( TPH ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKapasitas\n setiap kendaraan harus semaksimal mungkin. Oleh karena itu, apabila TBS\n suatu afdeling sudah habis dari lapangan lebih cepat dari biasanya maka\n harus pindah ke afdeling lain yang transportasinya mengalami kendala,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJangan ada gerak kendaraan yang tidak efesien,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengisian BBM setiap hari sudah harus selesai pukul 06.00 WIB.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EVII.\u0026nbsp; SITEM PREMI TRANSPORT\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTujuan\n premi transport adalah meningkatkan mobilisasi angkutan kebun agar \nlebih murah. Disamping itu, premi transport memudahkan pengawasan \noperasional. Sistem premi transport juga meningkatkan kesadaran dan \ntanggung jawab sopir\/ operator\/ kenek tentang pentingnya fungsi alat \ntransport dalam mendukung operasi pendukung perusahaan serta pentingnya \npemeliharaan alat transport. Dengan begitu, usia pakai \u003Ci\u003E( life time )\u003C\/i\u003E alat akan meningkat dan \u003Ci\u003Elosses\u003C\/i\u003E TBS\/ brondolan di jalan kebun\/ TPH dapat ditekan atau dihindari.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EKetentuan Premi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDasar perhitungan premi transport adalah kapasitas harian yang dicapai oleh kendaraan angkutan sebagai berikut ;\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTabel Dasar Perhitungan Premi Transport\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 376px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"55\"\u003EJarak\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"6\" width=\"281\"\u003E\u003Ci\u003ETruk\/ Dump Truk\u003C\/i\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"6\" width=\"264\"\u003EWheel   Tractor\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" width=\"55\"\u003EDiv   – PKS (Km)\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"3\" width=\"121\"\u003EKapasitas   normal\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" width=\"64\"\u003EBorong   TBS*\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" width=\"96\"\u003ELebih   borong\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"3\" width=\"128\"\u003EKapasitas   Normal\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" width=\"56\"\u003EBorong   TBS*\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"2\" width=\"80\"\u003ELebih   borong\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"33\"\u003ETBS\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"48\"\u003ELain-lain\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"40\"\u003ETotal\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"40\"\u003Elain-lain\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"56\"\u003Etotal\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"40\"\u003ETBS\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"48\"\u003ELain-lain\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"40\"\u003ETotal\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"48\"\u003ELain-lain\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" width=\"32\"\u003Etotal\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"55\"\u003E0-5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"33\"\u003E45\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E50\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E15\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E30\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E35\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E40\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E23\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E5\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"55\"\u003E6-10\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"33\"\u003E35\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E40\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E23\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E25\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E30\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E10\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E15\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E5\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"55\"\u003E11-15\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"33\"\u003E25\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E30\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E10\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E15\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E-\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"55\"\u003E16-20\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"33\"\u003E20\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E25\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E8\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E-\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"55\"\u003E20\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"33\"\u003E18\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E23\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E6\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E12\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E5\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"56\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E-\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E-\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n*ketentuan\n ini mutlak harus berdasarkan uji coba di lapangan serta melihat kondisi\n dan situasi jalan ( topografi, jenis tanah mineral\/ gambut, lebar \njalan, arah lurus atau berbelok, dan lain – lain ), jenis alat angkut, \nserta kapasitas trailer.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPremi transport berlaku untuk angkutan TBS dan angkutan lain – lain,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeluruh angkutan dikonversi ke dalam sataun ton,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBasis borong dinas ditentukan dalam angkutan ton TBS,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk hari libur, seluruh angkutan tanpa basis borong dinas,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETonase TBS dibawah basis diperkirakan sebagai angkutan lain – lain,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk hari Jum’at, basis borong dinas sebesar 5\/7 x borong dinas hari biasa dan premi dibayar seperti hari biasa,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOperator\/ sopir dibantu oleh 3 orang kenek atau kurang, tergantung kebutuhan pekerjaan yang dilakukan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ESanksi\/ Denda\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSanksi\/ denda diberlakukan apabila :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBrondolan tidak bersih di TPH,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKelebihan muatan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak memuat atau mengambil TBS yang jatuh di jalan,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah tinggal bukan karena faktor alam,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak mengisi \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E tepat pada waktunya dan tidak memelihara kendaraan serta inventaris alat perlengkapan, dan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ekendaraan rusak\/ kepater dalam blok yang disebabkan oleh kesengajaan\/ kelalaian sopir\/ operator.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EADMINISTRASI TRANSPORT\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSistem\n transport yang telah diatur dengan baik memerlukan sarana administrasi \nyang baik pula untuk memonitor efektivitas dan efisiensinya. Agar tujuan\n yang dimaksud dapat dicapai, diperlukan pengetahuan dan ketelitian \npersonil dalam membaca angka – angka\/ data indikator penyimpangan dan \nkemajuan kerja. Secara garis besar, administrasi transport dikelompokkan\n menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EAdministrasi Alat Kerja dan Mesin\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nAdministrasi\n ini harus ada di setiap kendaraan\/ alat berat\/ mesin dan disimpan rapi \ndi map khusus. Staf traksi, asisten afdeling, dan manajer harus sering \nmelakukan pemeriksaan terhadap fisik kendaraan\/ alat berat\/ mesin – \nmesin. Administrasi ini terdiri dari :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBuku instruksi kerja,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaftar perjalanan\/ \u003Ci\u003Ecarlog\u003C\/i\u003E,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKartu perkakas kendaraan, dan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJadwal servis.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EAdministrasi Bengkel Kantor Traksi ( papan kerja )\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nAdministrasi\n ini berbentuk papan kerja yang dipasang di bengkel\/ kantor traksi \ndengan tulisan yang cukup besar dan mudah dibaca, terdiri dari :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ERencana kerja harian traksi,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeringatan keselamatan kerja ( pamflet – pamflet tehnis ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJadwal \u003Ci\u003Edoormeer\u003C\/i\u003E dan servsi kendaraan, alat berat serta mesin – mesin,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaftar hasil kegiatan harian ( bangunan, alat panen, titi panen dan sebagainya ),\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaftar reparasi\/ periksa per jenis alat,\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaftar\/ peta situasi kondisi infrastruktur prasarana, jalan, jembatan, seksi panen dan buah restan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EAdministrasi Kantor\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nAdministrasi yang terdapat di kantor traksi mengikuti bagan alir, Administrasi tersebut terdiri dari :  \u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nRiwayat kendaraan ( tahun kendaraan, tahun pakai, \u003Ci\u003Emaintenance\u003C\/i\u003E, \u003Ci\u003Eoverhaul \u003C\/i\u003Edan sebagainya ),\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKartu perkakas,\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBuku permintaan kendaraan afdeling,\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUraian perjalanan angkutan\/ carlog ( premi ),\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKartu kerja kendaraan ( lembur ),\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerincian pengangkutan,\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nRekapitulasi angkutan setiap kendaraan,\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nAbsensi harian operator\/ pengemudi dan kenek per jenis alat,\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nRekapitulasi perkiraan biaya per jenis angkutan ( upah dan bahan per bulan ),\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLaporan bulanan pemakaian BBM ( bensin, solar, pelumas, hidrolik dan sebagainya ),\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003ERunning account,\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerincian biaya operasi alat berat dan mesin pompa.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKapasitas\u0026nbsp;\n \u0026nbsp;pengolahan buah, sangat tergantung\u0026nbsp; \u0026nbsp;kepada kapasitas pemasukan \u0026nbsp;buah \nke pabrik. \u0026nbsp;Tetapi juga ada sebaliknya , kecepatan pemasukan buah yang \ncontinue ke pabrik ditentukan oleh lancarnya pengolahan itu sendiri, \natau dengan kata lain, in-put buah ke pabrik, harus selaras dengan \nout-put lori kosong dari pabrik\u0026nbsp; \u0026nbsp;kelapangan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nJadi\n untuk memperoleh kapasitas yang 45 – 50 ton \/ jam, kebun harus \nmemasukan \u0026nbsp;20 – 22 lori \/ jam . Untuk menjaga \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;kontiunitas pemasukan \nselanjutnya, pabrik sendiri juga harus\u0026nbsp; mengeluarkan 20 – 22 lori \/ jam.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nHal – hal yang harus dijaga \/ dipelihara untuk tercapainya kapasitas yang dimaksud ialah :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ELoko yang menarik lori buah harus dijaga\u0026nbsp; \/ dirawat dengan \u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Ebaik \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Eseksi \/ lori panen harus dalam keadaan sempurna .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengisi buah kedalam lori harus teratur, mulai dari memasukannya dituangan berat ± 2.300 kg \/ lori .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJangan\n diisi terlalu penuh ( meninggi \/ melewati bibir samping lori) agar \njangan sangkut masuk dipintu dan mencegah pergesekan ( frietion ) dengan\n dinding rebusan sendiri.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJalan rail, weselan – weselan menuju rebusan dan rail didalam rebusan sendiri harus dalam kondisi baik .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPetugas\n dibawah Hoist crane harus teratur agar pengangkutan \/ transport buah ke\n dalam dan keluar rebusan dapat lancar. Untuk kelancaran ini juga \nperawatan seksi lori rebusan sangat penting .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah dari kebun harus masuk ke pabrik sebelum jam 12.00 Wib\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELoko yang melangsir lori kosong harus tetap siap pakai, agar lori buah yang menuju Hoist crane jangan terhalang masuknya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam\n situasi produksi panen diatas 600 ton \/ hari, buah harus sudah masuk ke\n pabrik sebelum jam 12.00 Wib agar pengolahan dapat dimulai pada jam \n12.00 Wib. Bila hal – hal tersebut diatas dapat dijaga secara konsisten,\n pengolahan buah dapat diselesaikan pada jam 03 – 04 pagi. Dampak \npositip bila pengolahan selesai jam 03 subuh ialah :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPekerja tidak sempat mengantuk \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMesin – mesin pengolahan berkurang jam kerjanya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenghematan BBM waktu cukup untuk reperasi besok \u0026nbsp;\u0026nbsp;harinya\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cb\u003EPERAWATAN TRUCK DAN TRAKTOR RODA\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerawatan\n \/ pemeliharaan terhadap semua unit kendaraan yang beroda sangat penting\n sekali. Mengingat bahwa kendaraan – kendaraan tersebut harus operasi \nuntuk pengangkutan produksi, sebelum mengalami kerusakan harus tetap \nmendapat perhatian. Dengan memperbaiki kerusakan – kerusakan kecil \nsedini mungkin maka kerusakan – kerusakan fatal akan dapat dihindarkan. \nPerawatan \/ pemeliharaan unit transport ini kami bagi dalam tiga bagian.\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDoorsmer\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EReparasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemeliharaan oleh pengemudi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003E1-Doorsmer\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nJadwal\n \/ waktu untuk doorsmer setiap minggu telah ditentukan pada awal bulan \nuntuk setiap unit kendaraan. Masing – masing kendaraan tersebut telah \ndiberi nama seperti Sn I\/ III, Rb II \/ IV, St II\/III yang maksudnya \nbahwa kendaraan tersebut harus doorsmer pada hari senen minggu I dan \nsenen minggu ke III, yang lainnya pada hari rabu minggu ke II dan rabu \nminggu ke IV dan demikian selanjutnya. Jarak doorsmer satu I dengan ke \nII diperhitungkan ± 15 hari setelah menempuh 2.500 – 3.000 Km. Jarak \ntempuh untuk 15 hari\u0026nbsp; diperkirakan 15 x 200 = 3.000 Km. Untuk traktor \nroda diperhitung ka operasi 10 jam \/ hari, jam yang tempuh untuk jalan \ndoorsmer ± 150 jam bila :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJalan \/ Medan yang ditempuh kendaraan tersebut tidak baik (kotor dan berdebu)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak\n tempuhnya dekat atau sering berhenti. Jam yang ditempuh untuk jadwal \ndoorsmer ± 150 jam. Bila waktu mengijinkan, setiap hari kendaraan – \nkendaraan tersebut harus dicuci.\u0026nbsp; Tetapi kemungkinan waktu untuk \npekerjaan tersebut tidak ada, karena tersita untuk transport buah. \nTetapi sewaktu doorsmer, setiap kendaraan harus dicuci bersih baru \ndilayani untuk doorsmer (\u0026nbsp; ganti olie, filter, dan lain – lain ). \nPetugas untuk doorsmer ini telah ditentukan. Olie mana yang dipercayakan\n untuk tugas tersebut membuat bon olie dan filter yang diperlukan. \nPekerjaan ini diawasi oleh kepala maintenance yang telah benar\u0026nbsp; - bener \ndapat dipercayai\u0026nbsp; untuk pelaksanaannya.\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat doorsmer yang pertama, hal – hal yang harus dikerjakan adalah :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mesin\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa air pendinginan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa banyaknya elektrolit battery.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa kekencangan tali kipas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti olie mesin.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti olie pada saringan udara atau bersihkan elemennya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELumasi diapragma governor.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EStel putaran idling dan saat injeksi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBersihkan elemen saringan bahan bakar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Chassis\u0026nbsp; dan body\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa gerak bebas pedal kopling, rem dan gerakan rem tangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa minyak kopling\u0026nbsp; dan minyak rem.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa slang – slang, pipa – pipa\u0026nbsp; dan sambungan – sambungan yang kemungkinan bocor.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELumasi chassis.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERotasikan\u0026nbsp; roda – roda.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa tekanan angin ban.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; d. Dan pada doorsmer yang selanjutnya hal – hal yang harus dikerjakan ialah :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mesin\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EGanti air pendingin.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa battery.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa tali kipas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti olie.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELumasi pompa air.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa slang – slang dan pipa – pipa berikut sambungan – \u0026nbsp;sambungannya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti saringan olie.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa pembatas pengambilan udara\u0026nbsp; ( air intake shutter ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti olie saringan udara atau elemen saringan udara.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti elemen saringan bahan bakar.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa saringan pompa penyalur ( feed pump ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa tutup tanki bahan bakar, slang – slang, pipa – pipa bahan bakar dan sambungan – sambungan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKencangkan baut – baut \/ mur – mur.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa sistem pemanas awal ( glow – plug ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EStel celah katup.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa saat injeksi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa nozzle dan lumasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa\u0026nbsp; putaran idling.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti diapragma\u0026nbsp; governor.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EChasis dan Body\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa sistem\u0026nbsp; kopling ( pedal, master, pipa –pipa\u0026nbsp; dan minyak kopling ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa sistem\u0026nbsp; rem\u0026nbsp; ( pedal, slang, pipa, sepatu dan minyak rem \u0026nbsp;kerja booster dan saringan udaranya ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa suspensi depan dan belakang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa olie bak gigi kemudi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELumasi chasis.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa oli transmisi,\u0026nbsp; transfer ( bj ) dan differential.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGanti gemuk bantalan roda.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELumasi poros propeller.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKencangkan baut – baut \/ mur – mur pada chasis dan body.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Eperiksa\n gerakan roda kemudi dan lengan \nlengan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \npenghubungnya.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\n \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa bekerjanya semua alat – alat kelistrikan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa tekanan angin ban.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERotasikan roda – roda\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDibawah\n ini\u0026nbsp; kami gambarkan secara sistematis pekerjaan – pekerjaan doorsmer\u0026nbsp; \nservis\u0026nbsp; awal bulan ( minggu I ) dan tengah bulan\u0026nbsp; ( minggu ke III ).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMinggu I pada jarak\u0026nbsp; ± 2.500 KM\u0026nbsp;\u0026nbsp; atau\u0026nbsp; ± 150 jam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMinggu III pada jarak ± 5.000 km atau ± 300 jam\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nOperasi perawatan : P = periksa, S = Stel, G = Ganti, K = Kencangkan, L = Lumasi\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 1457px; width: 704px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"4\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"216\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EPeriode service\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003Edoorsmer\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EI (± 2.500 km)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EII (±5.000 km)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EI (7.500 km )\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EI (±\u0026nbsp; 150 jam)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EII (± 3.000 jam)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EI (±450 jam)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"7\" valign=\"top\" width=\"560\"\u003E\u003Cb\u003EM\u0026nbsp; E\u0026nbsp; S\u0026nbsp;   I\u0026nbsp; N \u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EA\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAir   pendingin\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBattery\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPompa   air ( 2D)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTali   kipas\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/s\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/s\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/s\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDiaprahma   governor pompa inj\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSaringan   olie sentrifugal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nOlie   mesin\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSaringan   olie \/ olie filter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSaringan   udara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPipa-pipa   saluran minyak\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nElemen   \/ fuel filter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\ng\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSaringan   pompa penyalur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"7\" valign=\"top\" width=\"560\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EC H A S I S \/ B O D Y\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"27\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EB\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"37\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPedal   kopling rem dan rem tangan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n14\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMinyak   rem \/ kopling\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/t\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/t\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/t\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRem   muka \/ belakang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n16\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nOlie   transisi \/ gardan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n17\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSistem   kemudi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n18\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLumasi   chasis \/ niple\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n19\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTekanan   angin ban\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nOlie   bak gigi kemudi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n21\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGemuk   bantalan roda \/ bearing\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPoros   propeller\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n23\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBaut-baut roda\u0026nbsp; \/mur chasis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/k\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/k\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/k\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n24\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat-alat listrik\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"24\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"152\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSistem hydraulick\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"104\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\np\/l\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr height=\"0\"\u003E   \u003Ctd width=\"24\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"3\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"37\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"152\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"112\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"128\"\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd width=\"104\"\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKhusus\n untuk truck jenis tipper, ada pelumasan 2 x 1 minggu terhadap semua \nnipple pada system hydraulicknya. Truck tipper yang baru operasi 3 \nbulan, diadakan penggantian minyak hydraulick dari dalam hoist cylinder 1\n x setahun. Pekerjaan doorsmer ini akan memakan waktu 4 – 5 jam, \ndiusahakan pada waktu tersebut, segala persoalan – persoalan \/ \nkekurangan – kekurangan kecil dapat dikerjakan secara tuntas.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2-REPARASI\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nRuang\n atau bengkel untuk reparasi sudah tersedia dengan baik. dalam rungan \ntersebut, pekerjaan resparasi sudah dapat dikerjakan pada waktu siang \nhari, malam dan pada hari hujan. Fasilitas alat – alat atau sarana – \nsarana untuk pekerjaan reparasi di bengkel motor diusahakan semaximal \nmungkin seperti kunci – kunci, bais, grenda, bor listrik dan lain – \nlain. Semenjak Agustus 1983, pekerjaan general overhaul engine \ndikerjakan ditempat. Beberapa alat seperti Crankshaft, blok mesin, \ninjecktie\u0026nbsp; pom yang menghendaki reparasi \/ bubut dan lain – lain, \ndikirim ke bagian teknik \/ tenol untuk pelaksanaan perbaikannya\u0026nbsp; di \nmedan. Sepeda motor yang digunakan asisten lapangan, perawatan \/ \nreparasinya dikerjakan dibengkel ini juga.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3-PEMELIHARAAN\u0026nbsp; OLEH\u0026nbsp; PENGEMUDI\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk\n menjaga daya tahan atau ”\u0026nbsp; life\u0026nbsp; time\u0026nbsp; ” dari seluruh unit kendaraan \nini, faktor pengemudi memegang peranan penting. Setiap pagi sebelum \nkendaraan dihidupkan, para pengemudi harus memeriksa : air pendingin \nmesin \/ radiator, olie mesin, air batery, minyak rem dan tali kipas. \nSecara insidentil, para asisten harus mengontrol hal – hal tersebut. \nTanpa perintah dari kepala perawatan \/ maintenance, pencucian kendaraan \nsudah dilaksanakan pada sore hari bila waktu masih tersedia ( antara jam\n 18 – 19 ). Para pengemudi harus dibina \/ diarahkan untuk mengoperasikan\n kendaraannya dengan baik dan tetap memperhatikan rambu – rambu jalan. \nKepada mereka diberikan petunjuk – petunjuk mengemudikan kendaraan \ntersebut dijalan umum, dijalan kebun, dan tetap diingatkan juga situasi \/\n kondisi jalan yang dilaluinya. Untuk membawa muatan \/ beban, jangan \nsampai terjadi unsur pemaksaan kapasitas yang diizinkan maksimal 5 ton \/\n kendaraan kepada para pengemudi ditekankan, harus mengisi daftar \nperjalanan car-log op-Tr 01 setiap hari dan menyerahkannya setiap pagi \nkepada Asisten untuk kontrol kebenaran dan pengesahannya. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EVIII.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EMAINTENANCE UMUM\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESemua kendaraan yang dioperasikan kelapangan harus dalam kondisi baik \/ sehat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKendaraan\n – kendaraan yang di poolkan di pabrik ataupun yang berpangkalan di \nDivisi, perawatan \/ pemeliharaannya adalah tanggung jawab kepala urusan \nTraksi \/ Teniker I.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelaksanaan dari jadwal doorsmer \/ service \nyang telah ditetapkan sesuai dengan nama \/ kode dari masing – masing \nkendaraan harus dilaksanakan dengan konsisten.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemboyan dari \nmaintenance \/ perawatan terhadap semua kendaraan yang bergerak : ” \nKerusakan yang kecil jangan diabaikan, karena sudah pasti mengakibatkan \nkerusakan \/ kerugian yang besar ”.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETukang, pembantu tukang, olie\n man yang bekerja untuk perawatan \/ pemeliharaan kendaraan – kendaraan \ntersebut, haruslah mempunyai pengalaman, ketrampilan dan dedikasi yang \nbaik terhadap perusahaan. Kepada mereka harus diberikan bimbingan, \npengarahan yang positif agar ” Life time ” dari apa yang dikerjakan \nmereka dapat dipertanggung jawabkan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk Mengetahui blanko blanko traksi dapat di download di sini\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617099\/BlankoPerjalananKendaraan.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617099\/BlankoPerjalananKendaraan.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617236\/BlankoRincianBiayaAngkutanperbln.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617236\/BlankoRincianBiayaAngkutanperbln.pdf.html\u003C\/span\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk mengetahui blanko pengangkutan taksasi panen dapat di download disini\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617392\/BlankoLaporanProduksidanTaksasiProd.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617392\/BlankoLaporanProduksidanTaksasiProd.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E \u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617418\/BlankoLaporanProduksikranitimbang.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617418\/BlankoLaporanProduksikranitimbang.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5998030460456627518"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/5998030460456627518"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/transportasi-kelapa-sawit_2867.html","title":"Transportasi Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-G2HxpkGFtD8\/UG8C_F7KtQI\/AAAAAAAACMk\/JHJLnbPqdIc\/s72-c\/transportasi+kelapa+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2776417033187378299"},"published":{"$t":"2012-10-05T22:00:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T12:03:57.731+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Panen Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EA.\u0026nbsp;\u0026nbsp; STANDAR KEMATANGAN\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"187\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/Matang%20Panen.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 187px; margin: 8px; padding: 5px; width: 244px;\" width=\"244\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EStandar kematangan berikut ini berdasarkan jumlah brodolan yang ada di permukaan tanah. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESangat\n penting untuk mempertahankan panen pada interval yang pendek\u0026nbsp; pada \ntanaman yang baru menghasilkan atau tanaman muda, karena buah akan \nmembrondol lebih dari  10% dalam waktu 5-7 hari, interval panen yang \nlama mengakibatkan banyaknya  buah busuk dan jumlah brondolan yang \nbanyak.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelaksanaan panen yang tepat pada standar kematangan \nyang tepat dapat mencegah pemanenan buah mentah dan mengurangi  \npengumpulan brondolan.\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"200\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/egrek.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 200px; margin: 8px; padding: 5px; width: 154px;\" width=\"154\" \/\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EInterval\n panen tidak boleh lebih dari 10 hari pada 3 (tiga) tahun pertama \nsetelah menghasilkan dan tidak boleh melebihi 14  hari pada tanaman yang\n lebih tua, pada musim buah rendah lakukan pemeriksaan  ekstra agar \npemanen tidak memanen buah mentah untuk memenuhi standar borongnya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n tanaman diantara panen tahun pertama sampai ke tiga, paling sedikit 5 \nbrondolan per janjang dengan interval kurang dari 10 hari \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n tanaman yang lebih tua , standar kematangan maksimum adalah 3 – 5 \nbrondolan per janjang sebelum panen dengan interval kurang dari 10 hari.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika interval panen, tidak dapat dihindari lebih dari 14 hari \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EB.\u0026nbsp;\u0026nbsp; TEHNIK PEMANENAN \u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n1.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Persiapan Pemanenan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"194\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/training%20fraksi%20matang%20panen.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 194px; margin: 8px; padding: 5px; width: 238px;\" width=\"238\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPelaksanaan\n panen buah perlu memperhatikan : Kondisi areal, Penyediaan\u0026nbsp; tenaga \nkerja pemotong buah , pembagian seksi potong buah, dan penyediaan alat \nalat kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeksi potong buah harus di susun\u0026nbsp; sedemikian rupa\u0026nbsp; \nsehingga blok yang akan dipanen setiap hari akan terkonsentrasi (tidak \nterpencar-pencar), selain itu juga harus dihindari adanya potongan \npotongan ancak panen, agar satu seksi selesai pada satu hari. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua\n tenaga kerja panen harus sudah tiba di ancak panen sedini dan sepagi \nmungkin, untuk meningkatkan produktifitas dan out put tenaga kerja \npemanen\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemanen harus menjaga peralatannya dalam keadaan baik, dan tajam.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n2. Pemanenen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"196\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/Picture%20389.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 196px; margin: 8px; padding: 5px; width: 241px;\" width=\"241\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPemanen mencari buah yang masak, dan melihat buah yang brondol di tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n pengambilan buah tidak dapat dilakukan tanpa memotong pelepah yang \ndibawahnya, maka pelepah ini harus dipotong terlebih dahulu dan dirumpuk\n di gawangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPotong buahnya, potong tangkai buah sependek mungkin.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETunas\n yang dibuang harus seminimal mungkin dan seperlunya jika mungkin dengan\n mengikuti aturan\u0026nbsp; dengan ketentuan meninggalkan 2 (dua) pelepah dibawah\n buah.\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"304\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tenaga%20panen.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 304px; margin: 8px; padding: 5px; width: 245px;\" width=\"245\" \/\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah yang ditunas harus disebar di gawangan, perhatikan untuk tidak menutup pasar pikul, priringan dan parit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak ada buah masak yang tertinggal karena ini akan terlalu masak pada rotasi berikutnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetika memotong pelepah pemanen harus memotong rapat pada batang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJangan memanen buah mentah karena akan mengakibatkan kehilangan minyak dan kernel\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua brondolan harus dikutip, termasuk yang masuk ke ketiak pelepah kelapa.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUsahakan jangan terlalu banyak memindahkan buah hasil pemanenan karena akan mengakibatkan kenaikan FFA\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGagang\n tangkai buah harus pendek, karena gagang panjang akan mengganggu \npengangkutan dan menyerap banyak minyak pada fase proses awal \npengolahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeluarkan brondolan dari buah buah busuk, atau terlalu masak dan janjang \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"204\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/langsir%20panen.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 204px; margin: 8px; padding: 5px; width: 251px;\" width=\"251\" \/\u003Ekosongnya jangan di bawa ke pabrik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah\n tidak tercampur pasir dan sampah terutama sewaktu mengutip brondolan, \nkarena ini menyebabkan kerusakan pada mesin-mesin pabrik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUsahakan mencegah keterlambatan pengiriman buah ke pabrik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah\n diletakkan dengan bagian gagang dibawah, disusun 5 atau 10 baris, untuk\n memudahkan penghitungan dan pemeriksaan kematangan buah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika rotasi panen dapat dipertahankan akan mengurangi pengutipan brondolan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Premi Panen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenerapan\n sistem premi potong buah harus didasarkan pada biaya potong buah per kg\n TBS sesuai dengan anggaran tahun berjalan dan melihat sistem premi \ntahun sebelumnya, besarnya premi potong buah di usahakan tetap sesuai \ndengan anggaran, tetapi tetap menarik bagi tenaga kerja.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPremi potong buah dapat dikategorikan 2 bagian, yaitu :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPremi potong buah berdasarkan “jumlah janjang buah TBS” yang didapat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPremi potong buah berdasarkan “jumlah berat (kg) buah\/TBS yang didapat setelah di timbang di pabrik\/PKS.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTabel XI-2 Perbandingan sistem premi panen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"justify\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 343px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"253\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSistem   Janjang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"255\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSistem   Berat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"233\"\u003EPemanen dibayar sesuai dengan jumlah janjang yang   dipotong dari pohon pada saat itu\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"234\"\u003EPemanen\n di bayar sesuai berat janjang sesudah sampai   di PKS, kemungkinan \nberat janjang sudah berkurang akibat restan selama di   lapangan\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"233\"\u003EPemanen langsung tahu berapa pendapatan atau premi   yang diperolehnya setelah selesai potong buah.\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"234\"\u003EPemanen tidak langsung tau berapa jumlah   pendapatannya dan masih menunggu hasil timbangan di PKS\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"233\"\u003EKecendrungan manipulasi brondolan tidak ada karena   perhitungan borong berdasarkan janjang\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"21\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"234\"\u003ETerjadi kecendrungan manipulasi brondolan karena   harga kg brondolan lebih mahal dari TBS\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPembayaran\n premi dilaksanakan pada saat karyawan menerima gaji, pemberian pinjaman\n setiap minggu harus ditiadakan, sebab akan mengurangi manfaat premi \npada saat di terima , karena akan terjadi pemotongan pinjaman, sehingga \npremi yang diterima relatif kecil, dan akan mengakibatkan berkurangnya \nmotivasi kerja.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n4 . Denda dan Sanksi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTindakan\n yang tidak memenuhi aturan yang ditetapkan atau melanggar aturan sistem\n yang ada, maka pihak pihak yang bertanggung jawab terhadap proses panen\n akan dikenakan denda dan sanksi sesuai tingkat kesalahan dan \npelanggaran yang dilakukan. Pihak yang paling bertanggung jawab terhadap\n hasil panen adalah, pemanen, kerani buah, dan mandor panen, tingkat \npelanggaran pada masing masing personal dapat di gambarkan sebagai \nberikut\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\na.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemanen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003ETidak siap borong (tidak menjalankan tugas sesuai dengan 7 (tujuh) jam kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemanen buah mentah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah masak siap panen tetapi tidak di panen\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBrondolan tidak dikutip bersih\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBrondolan di buang ke gawangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBS tidak disusun rapi di TPH\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah sengkleh, atau pelepah berserakan tidak di tata rapi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nb.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kerani Panen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EBuah mentah diterima senagai buah masak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBJR timbangan PKS dengan BJR timbangan di lapangan selisih\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026gt;10%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBJR timbangan PKS dengan BJR Timbangan di lapangan selisih\u0026nbsp;\u0026nbsp; 5-10 %\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBJR Timbangan PKS dengan BJR timbangan di lapangan selisih antara 2,5 – 5 % \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nc.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mandor Panen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EBuah mentah \u0026gt;5% dari total panen per hari\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah mentah 4 – 5 %\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah mentah 3 – 4 % \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah masak tidak dipanen, buah tinggal di piringan sehingga tidak terangkut, pelepah berserakan tidak di tata rapi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBesarnya\n denda atau sanksi di sesuaikan dengan tingkat kesalahan dan peraturan \nyang telah di tetapkan oleh masing masing perusahaan.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E5.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengawasan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nStaf\n atau asisten kebun, Mandor I, Mandor panen, mantri buah, melaksanakan \nsecara rutin pengawasan setiap hari, tugas masing masing dapat di \njabarkan sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\na.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Asisten Kebun\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap\n hari kerja wajib memeriksa hasil kerja tukang potong buah, yang \nmeliputi pemeriksaan mutu buah di TPH dan kualitas ancak panennya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemeriksaaan mutu buah\u0026nbsp; dan ancak yang dilakukan mencakup hal sebagai berikut :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKematangan buah menurut kriteria yang berlaku.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETumpukan brondolan di TPH\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebersihan brondolan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERumpukan pelepah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah “ sengkleh”\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah masak tidak dipanen\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBrondolan tidak dikutip\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah mentah yang diperam\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: upper-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMengurangi\n losses produksi dengan kesadaran akan kerugian yang terjadi pada \nperusahaan, bukan karena perintah atasan atau paksaan \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHasil pemeriksaan assisten dicatat dalam buku penerimaan mutu buah.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nb.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengawasan oleh kerani buah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap jenjang di TPH harus dihitung dan diperiksa kualitasnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua\n TBS yang telah diperiksa dan diterima di cap\/tanda pada gagangnya \ndengan gancu, buah yang dipanen harus diberi kriteria dan catatan setiap\n buah Mentah di beri tanda “ A”\u0026nbsp; dan nomor panen pada gagangnya, \nbrondolan kadaluarsa harus di keluarkan dari tumpukan brondolan, dan \njanjangan kosong harus dibuang di gawangan, pemanen yang memanen buah \nmentah harus di denda dan diberi sanksi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKerani buah hanya bisa menerima buah di TPH yang telah di tetapkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKerani\n buah mencatat seluruh aktivitas pemanenan pada buku penerimaan panen, \ndan bila terjadi kesalahan pencatatan tidak boleh di robek tetapi cukup \ndi paraf dan di beri keterangan, serta melanjutkan pada halaman \nberikutnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHasil pemeriksaan dan pencatatan kerani buah setiap \nharinya di cocokkan dengan catatan Asisten kebun, untuk mencegah \nterjadinya penyelewengan administrasi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nc.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemeriksaan oleh mandor panen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMenentukan ancak setiap pemanen pada pagi hari, dan melaksanakan kontrol terhadap kehadiran pemanen yang terlambat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAktif\n melaksanakan pekerjaan potong buah sehingga seluruh buah masak telah \ndipanen, dan tidak ada buah masak yang tertinggal di pohon.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemastikan semua buah yang dipanen dibawa ke TPH dan tidak ada yang tertinggal di piringan atau pasar rintis.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESewaktu memotong gagang buah harus mepet tetapi tidak terkena tandan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemastikan tidak ada buah mentah yang dipanen, dan apabila terlanjur dipanen, tidak dibenarkan di peram atau disembunyikan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemastikan semua brondolan di kutip\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa buku kerani buah\u0026nbsp; untuk melihat hasil panen pemanen yang rendah, terutama yang tidak siap borong.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenghitung kerapatan buah\u0026nbsp; di seksi yang akan di panen pada ke esokan harinya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nd.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengawasan oleh Mantri buah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMantri buah langsungf bertanggung jawab kepada asisten atau estate manager.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa kualitas buah, presentase brondolan, serta kebersihan dan kerapihan ancak panen, minimal 2 – 3 mandor per hari\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESecara bergiliran harus melaksanakan pemeriksaan kualitas buah per mandor\u0026nbsp; dengan di dampingi oleh mandornya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelaporkan hasil pemeriksaannya kepada estate manager setiap sore harinya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap akhir bulan rekapitulasi pemeriksaan mantri buah terhadap kualitas dan putaran panen.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EC. SISTEM PENGUPAHAN PANEN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKaryawan\n pemanen dapat dibagi menjadi tiga yaitu Kontrak, Standard Ketetapan \nUmum\u0026nbsp; (SKU) harian dan Bulanan, masing-masing mendapat fasilitas sebagai\n berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\na. Pemanen Kontrak :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPemanen baru yang diterima sebaiknya menggunakan system kontrak dua tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila\n pemanen tersebut sudah bekerja dengan baik setelah masa kontraknya \nhabis dilanjutkan dengan mengangkatnya menjadi SKU harian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua fasilitas SKU harian dapat diberikan sesuai kebutuhan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nb. Pemanen SKU Harian mendapat fasilitas :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUpah harian sesuai peraturan Badan Kerja Sama Pengusaha Perkebunan Sumatera (BKS-PPS)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUpah tidak dibayar bila mangkir\/absen yang tidak diperkenankan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas jamsostek.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeluarga sakit mendapat pengobatan di klinik perusahaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat THR keagamaan dan bonus tahunan sesuai peraturan BKS-PPS.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat hak cuti.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat catu beras sesuai peraturan BKS-PPS.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas perumahan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nc. Pemanen SKU Bulanan mendapat fasilitas :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUpah Bulanan sesuai peraturan BKS-PPS dan perusahaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUpah tidak dibayar bila mangkir yang tidak diperkenankan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapatkan fasilitas jamsostek\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeluarga sakit mendapatkan pengobatan klinik perusahaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat THR keagamaan dan bonus tahunan sesuai peraturan BKS-PPS.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat hak cuti.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat tunjangan dan catu beras sesuai peraturan BKS-PPS.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas perumahan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nPenentuan\n kontrak, SKU Harian atau Bulanan disesuaikan dengan kebutuhan dan \nkeadaan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; dilapangan atau dibuatkan peraturan tambahan dibagian \npersonalia yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKrani\n Panen, Mandor Panen dan Mandor Satu Krani Panen, Mandor Panen dan \nMandor Satu terdiri dari kontrak, SKU Harian dan Bulanan yang \nmasing-masing mendapat fasilitas sebagai berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; a. Karyawan Kontrak :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKaryawan baru dapat menggunakan system kontrak dua tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila\n karyawan kontrak tersebut telah bekerja dengan baik dan masa kontraknya\n telah selesai dapat dilanjutkan dengan mengangkatnya menjadi SKU \nHarian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua fasilitas SKU Harian dapat diberikan kepada karyawan kontrak sesuai kebutuhan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; b. SKU Harian :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUpah harian sesuai peraturan BKS-PPS\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUpah tidak dibayar apabila mangkir\/absen yang tidak diperkenankan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas jamsostek.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeluarga sakit mendapat pengobatan di klinik perusahaan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat THR keagamaan dan bonus tahunan sesuai peraturan BKS-PPS.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat hak cuti.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat tunjangan dan catu beras sesuai peraturan BKS-PPS\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas perumahan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; c. SKU Bulanan  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUpah Bulanan sesuai peraturan BKS-PPS dan perusahaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUpah tidak dibayar bila mangkir yang tidak diperkenankan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas jamsostek\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeluarga sakit mendapat pengobatan klinik perusahaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat THR keagamaan dan bonus tahunan sesuai peraturan BKS-PPS\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat hak cuti\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat tunjangan dan catu beras sesuai peraturan BKS-PPS\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendapat fasilitas perumahan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nPenentuan\n Kontrak, sesuai Harian atau Bulanan disesuaikan dengan kebutuhan dan \nkeadaan di lapangan atau dibuatkan peraturan tambahan di bagian \npersonalia yang sesuai dengan kondisi lapangan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKhusus untuk \nSKU Bulanan, nilai upah atau golongan ditentukan oleh prestasi kerja \nyang bersangkutan sesuai penilaian atasan atau pimpinan atau tim penilai\n berdasarkan peraturan perusahaan mengenai kepersonaliaan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWaktu pengupahan mengikuti peraturan personalia yang berlaku.\u003Cbr \/\u003E\nPengupahan panen dapat dirubah berdasarkan kebutuhan dan kebijakan managemen Perusahaan dan Pemerintah\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585135\/SISTIMPANENVERSIJANJANG.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585135\/SISTIMPANENVERSIJANJANG.pdf.html \u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585135\/SISTIMPANENVERSIJANJANG.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586775\/PanenVersiBerat.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585135\/SISTIMPANENVERSIJANJANG.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585799\/TABELSISTEMPANENBERAT.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585845\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenharian.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585845\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenharian.pdf.html \u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585972\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenMingguan.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10585972\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenMingguan.pdf.html \u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586009\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenBulanan.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586009\/TabelPerhitunganKGBeratHasilPanenBulanan.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586103\/DaftarFactorSanksiPanen.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586103\/DaftarFactorSanksiPanen.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586181\/ContohPerhitunganSanksiPanen.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10586181\/ContohPerhitunganSanksiPanen.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E \u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: xx-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2776417033187378299"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2776417033187378299"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/panen-kelapa-sawit.html","title":"Panen Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3643489659800102128"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:59:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:58:28.646+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hama Penyakit Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EA. HAMA\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam bab pembahasan tentang hama tanaman kelapa sawit dapat dikategorikan serangan hama berupa \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKumbang Kelapa (\u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUlat Kantong Kantong dan Ulat Api ( \u003Ci\u003EBagworm and Nettle Caterpilar\u003C\/i\u003E)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETikus (\u003Ci\u003ERats\u003C\/i\u003E)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDari ke tiga (3) serangan hama\n pada tanaman kelapa sawit yang paling serius adalah ulat kantong dan \nulat api, berikut dapat disampaikan diskripsi masing masing serangan dan\n pengendaliannya\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; Kumbang Kelapa (\u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003ESerangan \u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E pada tanaman muda berhubungan erat dengan tekhnik\u0026nbsp; land clearing dan cara penanamannya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPopulasi \u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E terhambat pada areal yang di land clearing seluruhnya \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPopulasi \u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E yang tinggi dan dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman sawit apabila dijumpai keadaan sebagai berikut\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJika tanaman kelapa sawit ditumbang dan disusun diantara gawangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika tanaman kelapa sawit di konversi dari tanaman karet dan tunggul dibiarkan lama membusuk\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika janjang kosong digunakan sebagai penutup\/mulsa diletakkan bertumpuk disekililing gawangan atau piringan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; a. Gejala-Gejala\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESerangga\n dewasa dapat menyebabkan kerusakan dengan melubangi pangkal daun tombak\n dan jaringan leher akar, Pohon muda akan mati jika titik tumbuhnya \ndirusak, kerusakan pada daun tombk biasanya mengakibatkan malformasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESerangan yang berulang-ulang akan menyebabkan pertumbuhan terhambat dan saat menjadi dewasa menjadi terlambat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMasa paling kritis adalah dua tahun pertama setelah tanam dilapangan. Tanaman menjadi lebih\u0026nbsp; tahan terhadap serangan \u003Ci\u003EOryctes rhinoceros\u003C\/i\u003E jika kanopi telah saling menutup. Pada tanaman menghasilkan jarang menimbulkan masalah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; b.Pengendalian  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EKacangan\n yang cepat tumbuh dan tebal, menutupi sisa sisa pohon yang membusuk \nyang juga dapat menolong menekan serangan kumbang pada kelapa sawit \nkerena pertumbuhan vegetatif dari kacangan tersebut, untuk mencapai \nhasil yang maksimum usahakan kacangan telah menutup tidak lebih dari 8 –\n 10 bulan, setelah felling\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara yang efektif untuk mengendalikan\n serangan adalah dengan mengumpulkan larva diantara batang batang yang \nmembusuk, pengendalian ini sangat mahal kecuali pada areal dengan \nserangan tinggi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDapat juga dilakukan dengan penangkapan \nkumbang, tetapi hal ini akan sia sia apabila telah tersering dengan \nintensitas yang tinggi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada serangan ringan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESerangan \nyang dilakukan pada areal sepanjang tanaman pinggiran, pada keadaan ini \nharus dilakukan penangkapan kumbang sebagai tambahan dari pencegahan \ndengan bahan kimia\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenangkapan dapat dihentikan apabila intensitas serangan cenderung rendah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada Kerusakan Berat\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPada kerusakan yang sangat berat pengendaliannya nya harus dengan bahan kimia \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan\n kimia yang digunakan adalah insectisida seperti curater dan furudan 3 G\n pada kanopi tanaman dengan interval sebulan sekali, dengan komposisi \nsebegai berikut :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E15 gr\/pohon untuk = 0-6 bulan setelah tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E30 gr\/pohon untuk = \u0026gt; 6 bulan setelah tanam\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian\n insectisida\u0026nbsp; granular harus langsung diberikan pada ketiak-ketiak \npelepah yang lebih rendah yang mengelilingi daun tombak, dan ini \nmembentuk lapisan kimia pelindung disekelilingi titik tumbuh.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n menggunakan insektisida granular, rotasi penangkapan kumbang menjadi 2 \n(dua) round perbulan, dan sebagai sarana pengamatan populasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada musim hujan lebat kefektifan insektisida dapat berkurang, pada masa ini rotasi dapat ditingkatkan menjadi 2 kali sebulan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada\n populasi serangan mulai menunjukan intensitas penurunan dan rendah dan \nkerusakan baru dapat diabaikan, maka penggunaan insectisida dapat \ndihetikan, tetapi pada lokasi yang serangan masih cukup tinggi \npenggunaan\u0026nbsp; insectisida terus dilakukan sampai umur tanaman 18 bulan.\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; Ulat Kantong dan Ulat Api\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"155\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/ulat%20api.jpg\" style=\"height: 155px; margin: 8px; width: 205px;\" width=\"205\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nCiri-ciri\n penyerangan ulat api dan ulat kantong adalah daun akan melidi dan dapat\n menurunkan jumlah janjangan, dan dibutuhkan waktu yang lama\u0026nbsp; untuk \nnormal kembali, hama harus dimonitor dengan sungguh-sungguh dan segera dikendalikan jika telah sampai masa kritis\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECara penentuan tingkat serangan \/ penga- matan dini.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFrekwensi dan intensitas sensus berbeda beda berdasarkan keadaan lingkungan setempat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTabel IX-1 Pengamatan serangan hama\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"justify\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 324px; width: 699px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"27\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNo\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"161\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSituasi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"142\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nProsedur   Pelaksanaan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"109\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nInterval\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"90\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nIntensitas\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"27\"\u003Ea\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"161\"\u003ETampak gejala serangan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"142\"\u003EPengamatan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"109\"\u003ESebulan sekali\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"90\"\u003ESetiap pasar pikul ke 2\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"27\"\u003Eb\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"161\"\u003EHama telah menyerang ke seluruh blok\u0026nbsp; atau pada pocket dengan serangan hebat dan   membutuhkan pengendalian\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"142\"\u003EHentikan pengamatan dan sensus segera dimulai\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"109\"\u003ESebulan sekali (dua minggu sekali jika serangan   meningkat dengan cepat)\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"90\"\u003ESatu titik sensus permanen per ha\u0026nbsp; menyebar secara menyeluruh\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"27\"\u003Ec\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"161\"\u003ESerangan dapat dikendalikan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"142\"\u003EPengamatan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"109\"\u003ESebulan sekali\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"90\"\u003ESetiap pasar pikul ke -3\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nb.\u0026nbsp; Batas Serangan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"175\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/serangan%20ulat.jpg\" style=\"height: 175px; margin: 8px; width: 231px;\" width=\"231\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTingkat\n serangan dapat dibagi menjadi tiga (3) tingkatan, ringan, sedang dan \ntingkat berat, pada serangan tingkat sedang harus dianggap sebagai \nperingatan, sedangkan pada tingkat berat harus dianggap sebagai tingkat \nkritis dan harus dilakukan pengendalian\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTabel IX – 2 Level serangan Ulat Api dan Ulat Kantong\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"justify\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 353px; width: 697px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"64\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLevel Serangan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"6\" valign=\"top\" width=\"243\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah serangan ulat api\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"6\" valign=\"top\" width=\"243\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah serangan ulat kantong\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSetora Nitens\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nThosea Asigna\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPlonecta diducta\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nThonsea Bisura\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDarna trima\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMahasena corbeti\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMetisa plana\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"81\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCrematopsyche pendula\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTM\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"64\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRingan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 65\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"64\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSedang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3 – 4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7 – 9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7 – 9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-13\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-24\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n35-49\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3 - 4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7 - 9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25-34\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n50-69\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30-44\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n65-89\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"64\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBerat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 45\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"41\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n≥ 90\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n penyebaran sangat terlokalisir, pengendaliannya dianjurkan untuk \nmenggunakan secara biologi dengan menggunakan virus atau Thuricide\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan kimia dapat diaplikasikan dengan menggunakan \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESpraying dgn knapsack atau mist blower\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETrunk Injection\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EFogger\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tikus\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; a.\u0026nbsp; Batasan Serangan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EDiareal\n belum menghasilkan, tikus memakan pelepah terbawah tanaman sehingga \nmenunjukkan karakteristik yaitu, pelepahnya terkulai ditanah kadang kala\n tikus juga memakan tunas muda sehingga mengakibatkan matinya tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKerusakan\n disebabkan oleh tikus sangat berpengaruh di tanaman yang menghasilkan, \nbaik buah mentah maupun masak dimakan, brondolan dibawah pergi dan \ndimakan sebagian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETikus juga dapat menyebabkan kerusakan yang berarti pada daun dengan mencabik daun untuk sarangnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n tidak dikendalikan tikus dapat meningkat dari tingkat yang dapat \nditoleransi yaitu 60 ekor meningkat menjadi 300 per ha dalam waktu 6 \nbulan. Pada tingkat serangan seperti ini 5 – 15% produksi hilang pada \ndaerah yang diserang. Pada keadaan ini populasi bertambah semakin cepat \nmenjadi 600-1500 per ha dan kehilangan hasil mencapai 30% atau lebih.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; b.\u0026nbsp; Pengamatan serangan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003ESensus\n serangan tikus harus dilakukan jika tampak ada serangan berat, areal \nharus dibagi menjadi blok-blok dengan luas 20 ha, intensitas sensus \nadalah satu baris untuk tiap 10 baris, dan hanya serangan baru baik pada\n buah masak maupun mentah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelaksanaan pengendalian harus dilakukan jika “serangan baru” lebih besar 15% atau 20 pohon per ha \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; c.\u0026nbsp; Strategi Pengendalian\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (i)\u0026nbsp; Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n dijumpai kerusakan di pembibitan pemberian umpan hanya dibatasi \nsekeliling areal diserang, dengan interval 3 -5 hari dalam barisan \npolibag dengan umpan antikoagulan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk areal penanaman baru, \ndengan meletakkan umpan antikoagulan pada setiap titik tanam ke tiga \nkira kira 1 bulan sebelum penanaman, dan umpan yang dimakan harus \ndiamati dan di catat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika umpan yang dimakan menunjukan populasi\n jumlah tikus, maka program pemasangan umpan lanjutan di areal yang \nmenghasilkan harus dimulai\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDapat juga dipasang kawat ayam pada leher bibit \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (ii)\u0026nbsp; Tanaman Menghasilkan (TM)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"164\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/serangan%20tikus.jpg\" style=\"height: 164px; margin: 8px; width: 231px;\" width=\"231\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJika tingkat serangan melebihi ambang yang ditetapkan pada blok-blok tertentu, harus dilakukan pengendalian\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESatu umpan diletakkan di setiap piringan di daerah yang bermasalah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGantilah\n setiap umpan yang hilang setiap 3-4 hari, sampai jumlah yang harus \ndiganti menjadi 20% dan tidak ada lagi serangan baru.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaerah yang harus diberi umpan adalah daerah dan areal terserang ditambah sedikit perluasan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika\n jumlah umpan yang hilang tinggi dan jumlah serangan baru juga tinggi \nmaka pengumpanan harus dilanjutkan sampai jumlah umpan yang dimakan \nlebih kecil dari 20%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengendalian harus dilakukan secara tuntas, pelaksanaan yang setengah setengah hanya akan membuang waktu dan uang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDisaat\n pemberian umpan dilarang memegang umpan langsung dengan tangan sebab \nbau tangan akan membuat tikus enggan memakan umpan (gunakan sarung \ntangan).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"171\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/rayap.jpg\" style=\"height: 171px; margin: 8px; width: 236px;\" width=\"236\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EB.\u0026nbsp;\u0026nbsp; PENYAKIT\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 1.\u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"188\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/ganoderma.jpg\" style=\"height: 188px; margin: 8px; width: 249px;\" width=\"249\" \/\u003EGanoderman\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; Gejala dan Serangan \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EGejala pertama pada daun adalah munculnya daun tombak yang tidak membuka dalam jumlah banyak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah\n pohon yang terinfeksi mulai mati karena nekrosig mulai dari pelepah \nyang paling tua, pelepah yang mati tergantung pada batang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKecepatan\n matinya pelepah sangat bervariasi, tergantung pada musim, tetapi pohon \nbiasanya akan mati 6-12 bulan setelah tampak gejala pada daun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETubuh buah ganoderma dapat tumbuh didasar batang atau kadang kadang pada akar terinfeksi yang dekat dengan batang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada tanaman berumur lebih 15 tahun,yang terinfeksi harus dibiarkan untuk sementara waktu selama masih berproduksi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanaman\n yang sudah tidak berproduksi harus ditumbang, bagian yang sehat harus \ndipotong menjadi beberapa bagian beserta pelepahnya dan dirumpuk \ndigawangan, untuk memudahkan isolasi. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Penanggulangan \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPenanggulanagn\n serangan genoderma pada tanaman muda di mulai sejak dini dengan \nmengambil sampel tanah dan dibawa ke laboratorium untuk mengetahui \nadanya bibit genoderma dalam tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada tanaman setelah \nreplanting perlu di ketahui sejarah serangan apakah ada pernah terjadi \nserangan genoderma pada areal tersebut\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESaat ini telah ada obat \npenanggulangan serangan genoderma sejak dini dengan menggunakan MYCOGOLD\n yang mengandung mickriza dan di buat secara BIO Fertilizer akan kami \nkupas dalam advertorial dan untuk selengkapnya silahkan baca pada \nhalaman advetorial. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2.\u0026nbsp; Phellinus (busuk batang atas)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EBusuk\n batang atas biasanya meng-infeksi tanaman yang berumur lebih dari 10 \ntahun, infeksi pada tanaman yang lebih muda akibat kontak dengan foci \nbelum diketahui, walaupun secara umum jumlahnya kurang dibanding busuk \nbatang bawah (ganoderma)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeringkali penyakit ini tidak kelihatan\n sampai munculnya tubuh buah atau pohon tumbang, biasanya dijumpai luka \npada pohon pada ketinggian yang berbeda di atas 1 m dari permukaan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak disarankan untuk melakukan pengobatan karena tanaman akan mati 1 – 3 tahun setelah terinfeksi \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3. Crown disease\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"199\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/crown%20desease.jpg\" style=\"height: 199px; margin: 8px; width: 284px;\" width=\"284\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat tanaman muda, Patogen tidak banyak menyerang tanaman, tetapi crown desease biasanya muncul 2 – 3 tahun setelah tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGejala\n awal crown disease hanya dapat dilihat ketika jaringan pada daun tombak\n yang kelihatan sehat tersebut dipisah, jaringan yang terinfeksi ini \nberwarna coklat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBiasanya luka bervariasi daun tombak akan \nmenunjukkan gejala yang sangat khas, yaitu membengkok dari bagian atas \ndan anak daun, dan terjadi patah patah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengendalian yang terbaik adalah dengan membuang bahan induk yang menunjukkan banyak terjadi serangan penyakit.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenyakit Tanaman dan Hama Tanaman serta Pengendaliannya dapat di download disini :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595276\/PENYAKITKELAPASAWIT.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595276\/PENYAKITKELAPASAWIT.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595321\/HAMATANAMAN.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595321\/HAMATANAMAN.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E \u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: xx-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3643489659800102128"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3643489659800102128"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/hama-penyakit-kelapa-sawit.html","title":"Hama Penyakit Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4722792526974444793"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:54:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:53:53.759+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pemupukan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv id=\"fw-bigcontain\"\u003E\n\u003Cdiv id=\"fw-columnContainer\"\u003E\n\u003Cdiv id=\"fw-mainColumn\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-LuknJhdgLY8\/UG8ECN6uciI\/AAAAAAAACMs\/11lx0eI-nxE\/s1600\/pemupukan+kelapa-sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-LuknJhdgLY8\/UG8ECN6uciI\/AAAAAAAACMs\/11lx0eI-nxE\/s1600\/pemupukan+kelapa-sawit.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"fw-paragraph\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"fw-paragraphtop\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ch3 class=\"fw-title\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/www.blogger.com\/blogger.g?blogID=739645629343608978\" name=\"599169777\"\u003E\u003C\/a\u003E\u003C!-- ParagraphTitleStart --\u003E\u003C!-- ParagraphTitleEnd --\u003E\u003C\/h3\u003E\n\u003Cdiv class=\"fw-text\"\u003E\n\u003Cb\u003EI. PEMUPUKAN PADA TBM\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EI. PENGERTIAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam pengertian sehari-hari istilah pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah.Sedang pemupukn adalah penambahan bahan tertentu kedalam tanah agar tanah tersebut menjadi subur.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nOleh karena itu pemupukan pada umumnya diartikan sebagai penambahan zat hara suatu media tertentu untuk dipergunakan pada organisme tertentu dalam pertumbuhannya. Dalam arti luas pemupukan sebenarnya adalah penambahan bahan lain yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam arti luas yang dimaksud pupuk\u0026nbsp; ialah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk dalam pengertian ini adalah pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan pH tanah yang masam, pemberian \u003Ci\u003Elegin\u003C\/i\u003E bersama benih tanaman kacang-kacangan serta pemberian pembenah tanah (\u003Ci\u003Esoil conditioner)\u003C\/i\u003E untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Demikian pula pemberian urea dalam tanah yang miskin akan meningkatkan kadar N dalam tanah tersebut. Semua usaha tersebut dinamakan pemupukan. Dengan demikian bahan kapur, legin, pembenah tanah dan urea disebut pupuk.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDalam pengertian yang khusus pupuk ialah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih hara tanaman. Dengan pengertian ini, dari kegiatan yang disebutkan di atas hanya urea yang dianggap pupuk karena bahan tersebut yang mengandung hara tanaman yaitu nitrogen.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPemupukan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan produktivitas tanaman. Ketersediaan pupuk secara tepat dosis dan tepat waktu sering menjadi masalah bagi pekebun kelapa sawit. Dalam hal ini pemakaian pupuk majemuk merupakan salah satu alternatif untuk menjamin penyediaan seluruh hara secara tepat waktu dan seimbang di dalam tanah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKelapa sawit memerlukan pemupukan baik pada tahap pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM), maupun tanaman menghasilkan (TM). Tanaman kelapa sawit memerlukan pupuk dalam jumlah yang tinggi, mengingat bahwa 1 ton TBS yang dihasilkan setara dengan 6,3 kg Urea, 2,1 kg TSP, 7,3 kg MOP, dan 4,9 kg Kiserit.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTanaman yang tidak dipupuk satu kali dapat berakibat penurunan produksi tanaman hingga beberapa tahun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dapat meningkatkan produksi antara 6‐11% (Foot \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E, 1987), 0‐35% (Gurmit, 1989), 5‐92% (Dolmat \u003Ci\u003Eet al\u003C\/i\u003E,1989). Beragamnya pengaruh pemupukan terhadap produktivitas tanaman tersebut oleh beragamnya jenis tanah, umur tanaman, kondisi iklim dan tingkat pengelolaan kultur teknis yang diterapkan oleh pekebun.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBahan pupuk selain mengandung\u0026nbsp; hara tanaman umumnya mengandung bahan lain, yaitu:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EZat pembawa atau karier (\u003Ci\u003Ecarrier\u003C\/i\u003E). Double superfosfat (DS): zat pembawanya adalah CaSO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E dan hara tanamannya fosfor (P).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESenyawa-senyawa lain berupa kotoran (\u003Ci\u003Eimpurities\u003C\/i\u003E) atau campuran bahan lain dalam jumlah relatif sedikit. Misalnya ZA (zwavelzuure amoniak) sering mengandung kotoran sekitar 3% berupa khlor, asam bebas (H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003ESO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E) dan sebagainya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan mantel (\u003Ci\u003Ecoated\u003C\/i\u003E) ialah bahan yang melapisi pupuk dengan maksud agar pupuk mempunyai nilai lebih baik misalnya kelarutannya berkurang, nilai higroskopisnya menjadi lebih rendah dan mungkin agar lebih menarik. Bahan yang digunakan untuk selaput berupa aspal, lilin, malam, wax dan sebagainya. Pupuk yang bermantel harganya lebih mahal dibandingkan tanpa mantel.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EFiller\u003C\/i\u003E (pengisi). Pupuk majemuk atau pupuk campur yang kadarnya tinggi sering diberi\u003Ci\u003E filler\u003C\/i\u003E agar \u003Ci\u003Eratio fertilizer\u003C\/i\u003E nya dapat tepat sesuai dengan yang diinginkan, juga dengan maksud agar mudah disebar lebih merata\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam praktek perlu diketahui istilah-istilah khusus yang sering digunakan dalam pupuk antara lain ialah:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMutu pupuk atau \u003Ci\u003Egrade fertilizer\u003C\/i\u003E artinya angka yang menunjukkan kadar hara tanaman utama (N,P, dan K) yang dikandung oleh pupuk yang dinyatakan dalam prosen N total, P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E dan K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO. Misalnya pupuk Rustika Yellow 15-10-12 berarti kadar N 15%, P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E 10% dan K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO 12%. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPerbandingan pupuk atau\u003Ci\u003E ratio fertilizer\u003C\/i\u003E\u0026nbsp; ialah perbandingan unsur N,P dan K yang dinyatakan dalam N total, P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E dan K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO merupakan penyederhanaan dari \u003Ci\u003Egrade ferilizer\u003C\/i\u003E. Misalnya grade fertilizer 16-12-20 berarti ratio fertilizernya 4:3:5. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EMixed ferilizer\u003C\/i\u003E atau pupuk campuk ialah pupuk yang berasal dari berbagai pupuk yang kemudian dicampur oleh pemakainya. Misalnya pupuk Urea, TSP dan KCl dicampur\u0026nbsp; menjadi satu dengan perbandingan tertentu sesuai dengan mutu yang diinginkan. Hal ini berbeda dengan pupuk majemuk yaitu pupuk yang mempunyai dua atau lebih hara tanaman dibuat langsung dari pabriknya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJenis Pupuk yang umum dipergunakan untuk pemeliharaan Kelapa sawit :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n· .\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk N :\u0026nbsp; - Urea\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 46 % N\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - ZA\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 21 % N\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk P \u0026nbsp; :\u0026nbsp;  - SP 36\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 36 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Rock Phospate (RP) \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 30 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - TSP\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 45 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk K\u0026nbsp; :\u0026nbsp; - KCL (MOP)\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 60 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; - ZK\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 50 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Abu janjang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 35-40 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk Mg : - Kiesrite\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 26-27 % MgO\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Dolomite\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 18 % MgO\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk B\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :- HGF Borate :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 46 % B2O5\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pupuk majemuk\/compound\/Rustica N-P-K-MG :\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Rustika 15-15-6-4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Rustika 12-12-17-2\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003EII.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EJENIS PUPUK\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPupuk Tunggal Sintetis\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSeperti namanya pupuk kimia adalah pupuk yang dibuat secara kimia atau juga sering disebut dengan pupuk buatan. Pupuk kimia bisa dibedakan menjadi pupuk kimia tunggal dan pupuk kimia majemuk. Pupuk kimia tunggal hanya memiliki satu macam hara, sedangkan pupuk kimia majemuk memiliki kandungan hara lengkap. Pupuk kimia yang sering digunakan antara lain Urea dan ZA untuk hara N; pupuk TSP, DSP, dan SP-26 untuk hara P, Kcl atau MOP untuk hara K.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EKelebihan nya :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMudah didapat dan harga lebih murah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKepastian dosis bisa lebih tepat sesuai rekomendasi yang dibutuhkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKelarutan dalam tanah sangat cepat dan cepat diserap tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003EKelemahannya\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk secara kelarutan cepat sehingga tingkat lossis ataupun kehilangan pupuk sangat tinggi contohnya tercuci, menguap (urea). Kondisi ini dipengaruhi terhadap applikasi pemberian pupuk (4 T) tepat waktu, tepat cara, tepat dosis dan tepat tempat. Sehingga kehilanggan dapat diperkecil.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk tunggal juga dapat memperburuk sifat tanah seperti menimbulkan pengerasan ataupun peningkatan atom H dalam tanah (tetapi ini bisa dianulir dengan applikasi lain seperti tanam kacangan ataupun pemakaian organik suplement.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EPupuk Majemuk ( semi sintetis NPK dll)\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPupuk majemuk biasanya dibuat dengan mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Komposisi haranya bermacam-macam, tergantung produsen dan komoditasnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPada tanaman kelapa sawit, pupuk majemuk umumnya digunakan pada tahapan pembibitan dan tanaman belum menghasilkan. Pupuk majemuk yang digunakan di pembibitan adalah pupuk majemuk NPKMg dengan komposisi 15 15 6 4\u0026nbsp; dan 12 12 17 2 (Nitrogen\u0026nbsp; N 12%, kandungan fosfor P 12%, kandungan kalium\u0026nbsp; K 17% dan kandungan magnesium Mg 2%. ) Pupuk majemuk biasa digunakan pada tanaman belum menghasilkan (TBM). Pada usia TBM, sistem pertumbuhannya belum sempurna sehingga akan lebih baik jika diberikan pupuk dengan kandungan nutrisi yang komplit. Pupuk majemuk biasa digunakan pada tanah marginal seperti tanah berpasir karena pupuk majemuk mempunyai kelarutan yang lambat dan tidak menguap oleh panas. Selain itu pupuk majemuk mempunyai efisiensi pemupukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk tunggal. Pada berbagai jenis tanah efisiensi pupuk majemuk ini tidak jauh berbeda.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EKelebihannya :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk slow reliase (tidak secara keseluruhan terurai sebab pupuk komposisi padan dengan bahan lainnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak merusak tanah bersinergis.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003EKekurangannya \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHarga pupuk sangat mahal\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetepat dosis tidak bisa tercapai sebab setiap unsur seyawa hara terdapat dalam perbandingan yang berbeda.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan pupuk tidak sama setiap unsurnya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"width: 95%px;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd valign=\"top\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Formulasi Standar NPK\u0026nbsp; Untuk Kelapa   Sawit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"width: 477px;\"\u003E    \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E     \u003Ctd rowspan=\"2\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EFASE     TANAMAN \u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd colspan=\"4\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EFormulasi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EN\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EP\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EK\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EMg\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E     \u003Ctd align=\"center\"\u003EPembibitan\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E     \u003Ctd align=\"center\"\u003ETanaman Belum Menghasilkan \/ TBM \u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E    \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E     \u003Ctd align=\"center\"\u003ETanaman Menghasilkan \/ TM \u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E     \u003Ctd\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E    \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n3. \u003Cb\u003EPupuk Organik\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain (sumber java organik farm).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSelain kandungan hara, pupuk organik juga mengandung senyawa-senyawa organik lain. Meskipun kandungan haranya rendah tetapi kandungan senyawa-senyawa organik di dalam kompos ini memiliki peranan yang lebih penting dari pada peranan hara saja. Misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Pupuk Organiks seperti kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nIntinya perbandingan unsur kimia pada pupuk sintetis dan pupuk organik tidak semata mata pada nilai perbandingan unsur kima nya saja, tetapi manfaat dari penggunaan pupuk organik adalah peranan pupuk organik sebagai unsur peningkatkan nilai KTK (kapasitas Tukar Kation) pada tanaman.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;  \u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"0\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"width: 566px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EJenis Pupuk\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003ERumus Kimia\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKadar Unsur Hara Utama\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EReaksi Kemasaman\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EBentuk\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cb\u003EWarna\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKelarutan dalam air\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EUREA\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(NH\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E)\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003ECO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n42 – 46% N\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSedikit   masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristral dan butir\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EZA   (\u003Ci\u003EZwavelzure Ammoniak\u003C\/i\u003E)\/ Ammonium Sulfat\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(NH\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E)\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003ESO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20 – 21% N dan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n21 – 27% S\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih kelam sampai putih kekuningan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003ENatrium   Nitrat (NN)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNaNO\u003Csub\u003E3\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n16 % N\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n26% Na\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai basa\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBerbagai warna: merah, kuning, kelabu, dan ungu\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003ETSP   (\u003Ci\u003ETriple Super Phosphate\u003C\/i\u003E)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCa(H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EPO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E)\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E.H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n44-52% P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nButiran (granul)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAbu-abu\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDapat larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EFosfat   Alam (RP= \u003Ci\u003ERock Phosphate\u003C\/i\u003E)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCa\u003Csub\u003E3\u003C\/sub\u003E(PO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E)\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSangat beragam tergantung sumbernya. 25 – 38% P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai basa\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTepung (serbuk)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTergantung sumbernya. Abu-abu keputihan, merah   kecoklatan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKelarutan sangat rendah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKalium   Clorida (MOP=\u003Ci\u003EMuriate of Potash\u003C\/i\u003E)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKCl\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n52 – 60% K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO, dan 47 % Cl\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai agak masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerah, putih kotor\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDapat larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKalium Sulfat (ZK=\u003Ci\u003EZwavelzure Kali\u003C\/i\u003E)\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003ESO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n49-53% K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai agak masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih keabu-abuan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDapat larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EKieserit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMgSO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E.H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n27% MgO dan 22% S\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgak masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTergantung   sumbernya: Kristal dan tepung\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih   keabu-abuan, atau putih\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTergantung   sumbernya: Agak sukar larut sampai dapat larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EDolomit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCaMg(CO\u003Csub\u003E3\u003C\/sub\u003E)\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n18-22% MgO, dan 40% CaO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBasa\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTepung\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih atau putih keabu-abuan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSukar larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EHGFB\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNa\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EB\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E7\u003C\/sub\u003E.5H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n45% B\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPutih kotor\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003ECopper\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCuSO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E.5H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n26% Cu dan 13% S\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBiru\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EZinc\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nZnSO\u003Csub\u003E4.\u003C\/sub\u003EH\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n36% Zn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EFerrum\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFeSO\u003Csub\u003E4\u003C\/sub\u003E.7H\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n19% Fe\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKristal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E15:15:6:4\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15%N, 15%P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E, 6% K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO,   4% MgO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai agak masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nButir (granul)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCoklat kemerahan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E12:12:17:2\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12%N, 12%P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E, 17%K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO,   2%MgO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNetral sampai agak masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nButir (granul)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerah kecoklatan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMudah larut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E13:6:27:4:0.65B\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13%N, 6%P\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO\u003Csub\u003E5\u003C\/sub\u003E, 27%K\u003Csub\u003E2\u003C\/sub\u003EO,   4%MgO, 0.65% B\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"78\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"79\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nButir (granul)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"76\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"74\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMuda\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cb\u003E1. Rencana Pemupukan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBuat rencana pemupukan dengan\u0026nbsp; mandor pupuk sebagai leadernya, mandor pemupukan dengan      krani adeling membuat rencana pemupukan sesuai dengan pedoman RKAP dan RAB      .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERencana meliputi :\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBlok yang akan dipupuk\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan pupuk\/blok ( dosis x jml pohon)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPermintaan kendaraan dan rencana tempat pengeceran       pupuk.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E2. Peralatan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBakul\/ember untuk isi 10 kg\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETakaran : dari mangkuk plastik seperti bekas sabun      atau yang lain.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKain gendong.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESarung tangan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E3. Pelaksanaan Pemupukan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSebelum dipupuk keadaan piringan harus sudah bersih\/sudah digaruk.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESistem pemupukan dilakukan per jenis pupuk dan tidak      dianjurkan mencampur pupuk terlebih dahulu.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUpuk Urea, ZA, MOP (KCL) dan Kieserite, waktu      penaburannya boleh berurutan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk RP\/TSP dihindari agar tidak bercampur dengan      ZA, dengan cara pemupukan RP\/TSP dilaksanakan sesudah pemupukan ZA.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E( HK\/ha ) sbb :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat RK,SPK,SPB : 0,04\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengangkut pupuk : 0,18\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengumpul goni : 0,04\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenabur : 0,30\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk diecer ke titik-titik pengeceran yang telah      ditentukan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESistem pemupukan adalah ancak giring, dimana pekerja      digiring ke 1 blok hingga selesai, kemudian baru pindah ke blok lain.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk ditabur dipiringan,1 orang penabur berjalan      sekaligus 2 baris tanaman\u0026nbsp; (1 gawangan      ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak penaburan dapat dipedomani sebagai berikut :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 0 : 30-50 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 : 50-100 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 2 : 100-150 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3 : 150-200 cm\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E4. Dosis Pupuk\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDosis      pupuk pada TBM Kelapa Sawit. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 775px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur (Bulan)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"5\" valign=\"top\" width=\"492\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDosis (Kg\/Pohon)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nZA atau urea\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMOP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKieserite\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHGFB\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSaat   tanam\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,10\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,25\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,25\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,25\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,15\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,35\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,10\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,15\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,02\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTBM 1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.02\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n16\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n24\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,03\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,05\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;TBM 2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,08\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n28\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n32\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;TBM 3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTotal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n5. Penaburan Pupuk\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi pemupukan padaTBM \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 416px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"295\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAplikasi   Pupuk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"295\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak   Penaburan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"295\"\u003ETBM 1\u0026nbsp;   :lebar piringan 1,00 m\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTBM 2 : lebar piringan 1,50 m\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTBM 3 : lebar piringan\u0026nbsp; 2,00 m\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"295\"\u003EPupuk \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;B=   0-50 cm\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;N= 50-100 cm\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;P , K , Mg=   50-100 cm\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPupuk \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;B=0-50   cm\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;N=50-100 cm\u003Cbr \/\u003E\nP , K , Mg =50-150 cm\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPupuk \u0026nbsp;\u0026nbsp;N   =50-100 cm\u003Cbr \/\u003E\nP , K , Mg =50-200 cm\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk ditabur pada permukaan piringan      pohon, dari pangkal pohon kearah pinggir piringan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EB . Pemupukan pada TM \u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EJenis dan      dosis pupuk berdasarkan pedoman dari kantor pusat atau Rekomendasi dari      Balai Penelitian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDasar      penyusunan rekomondasi pemupukan mempertimbangkan :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHasil analisa tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHasil analisa daun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengamatan pertumbuhan tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGejala-gejala kekurangan hara yang terjadi\/terlihat dilapangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProduksi yang dicapai TBS\/ha\/th.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERealisasi pemupukan sebelumnya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDi tingkat kebun\/afdeling yang perlu disiapkan      adalah contoh daun kelapa sawit (diambil 1 kali\/tahun) untuk di analisa di      laboratorium.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESebagai pedoman umum, dosis pupuk TM dapat dilihat :\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 253px; width: 699px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003EPemupukan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"7\" valign=\"top\" width=\"493\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDosis Pupuk ( Kg\/phn )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(Aplikasi)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUrea atau ZA\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"140\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRP atau TSP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMOP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003EKieserite\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHGFB\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003ESemester 1\u003Cbr \/\u003E\nSemester 2\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nO,05\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003EJumlah\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"70\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,05\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ETanda-tanda Kekurangan Hara\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBeberapa tanda\/gejala visual kekurangan hara dilapangan adalah :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EN\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Daun menguning, warna pucat terutama pada daun yang tua, daun muda tetap hijau .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EP\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jarang bisa dilihat langsung secara jelas, bila sudah terjadi dalam waktu yang lama. Ukuran daun makin lama mengecil dan pertumbuhan tanaman kerdil. Bila ada vegetasi rumput\/lalang, tulang daunnya berwarna keunguan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EK\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Daun – daun tua menguning mulai dari ujungnya disertai bercak-bercak warna orange.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EMg\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jelas terlihat pada daun terutama yang terkena sinar matahari langsung. Warnanya menguning kemudian mengering dimulai dari pinggir helai daun terutama pada daun tua, jumlahnya terkadang sampai 1 lingkaran (8 daun).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003ES\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kebalikan dan kekurangan N. Pada kekurangan S yang menguning pucat adalah daun-daun muda sampai sebanyak 1-2 putaran daun (8-16 pelepah).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EB\u003C\/b\u003E \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Daun muda tumbuhnya tidak normal seperti melingkar, ujung anak daun membentuk seperti kait atau menggulung, anak daun pada ujung pelepah seperti jarum. \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003EWaktu Aplikasi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPada situasi yang normal, semua hara makro (N, P, K dan Mg) harus diberikan sebelum pemberian unsur mikro (B, Cu dan Zn).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPupuk diaplikasi pada saat kondisi lembab yang umumnya pada awal dan akhir musim hujan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPrakiraan priode akhir musim hujan (aplikasi SM I) dan awal musim hujan (aplikasi SM II) berdasarkan data merata curah hujan setiap wilayah\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 657px; width: 702px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nWilayah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"360\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAplikasi pemupukan (bulan)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSemester\u0026nbsp; I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSemester\u0026nbsp; II\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumatra Utara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMaret – April\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus - September\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRiau\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMaret – April\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – Oktober\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJambi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nApril – Mei\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSeptember – Oktober\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumatra Selatan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nApril – Mei\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSeptember – Oktober\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLampung\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMaret – Mei\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nOktober – Nepember\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBangka\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFebruari – Maret\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – September\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBelitung\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFebruari – Maret\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – September\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalimantan Selatan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nApril – Mei\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nOktober – Nopember\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalimantan Timur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFebruari – Maret\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – September\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalimantan Tengah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJanuari - Februari\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – Oktober\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalimatan Barat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMaret – April\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgustus – September\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPapua\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJanuari - Februari\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJuli – Agustus\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMerupakan pedoman secara umum, namun demikian curah hujan di masing-masing kebun harus diperhatikan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPada saat curah hujan rendah dan musim kering, maka aplikasi pupuk harus mempertimbangkan frekuensi curah hujan dengan ketentuan : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPemupukan harus dihentikan segera apabila 7 hari berturut-turut tidak\u0026nbsp;\u0026nbsp; terjadi hujan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemupukan dapat dilanjutkan segera apabila terdapat minimal 2 hari hujan \u0026nbsp;dengan curah hujan 25 mm atau 1 hari hujan dengan curah hujan 50 mm dalam kurun waktu 7 hari berturut-turut\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemupukan harus dihentikan kembali apabila :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk urea, segera bila tidak ada hujan dalam 3 hari berturut-turut\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk pupuk MOP, Kieserite, pupuk mikro segera setelah 7 hari berturut-turut tidak hujan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003ECatatan :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPupuk Rock phosphate, super phosphat, dan super dolomite dapat diaplikasikan karena tidak terjadi penguapan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWaktu aplikasi pupuk yang saling antagonis\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\na.\u0026nbsp; Pupuk ammonium (N) dan pupuk alkalis\u003Cbr \/\u003E\nPupuk ammonium seperti urea, ammonium sulphate, ammonium chloride, dan ammonium nitrate harus diaplikasi sekitar 4 minggu sebelum aplikasi pupuk alkalis seperti super dolomite maupun TSP.\u003Cbr \/\u003E\nAplikasi secara bersamaan dari pupuk ini pada tempat yang sama akan mengakibatkan hilangnya nitrogen karena penguapan. Interval pemupukan tidak diperlukan jika pemberian ammonium dan alkalis tidak diaplikasi pada tempat yang sama seperti pada areal piringan dan gawangan mati yang sudah terpisah dan tidak akan mengakibatkan antagonis.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nb.\u0026nbsp; Pupuk potassium (K) dan magnesium (Mg)\u003Cbr \/\u003E\nPupuk potassium seperti muriate of potash (MOP\/KCL) dan sulphate of potash (ZK) tidak bisa diaplikasi secara bersamaan dengan pupuk magnesium seperti kieserite dan super dolomite karena adanya pengaruh yang antagonis antara K dan Mg serta antara K Ca (kalsium dalam bentuk kapur pertanian\/kaptan). Untuk mengurangi pengaruh antagonis pupuk ini diperlukan waktu sekitar 3 minggu. Apabila memungkinkan, pupuk K harus diberikan terlebih dahulu\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EFrekuensi Pemupukan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\na.\u0026nbsp; Nitrogen (N) dan Potassium (K)\u003Cbr \/\u003E\nUmumnya dua kali aplikasi per tahun. Jarak minimum antara aplikasi tidak kurang dari 2 bulan. Pada tanah pasir umumnya tiga kali aplikasi per tahun\u003Cbr \/\u003E\nb.\u0026nbsp; Phosphorus (P), Magnesium (Mg), copper (Cu) dan boron (B) \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDiberikan sesuai dengan rekomendasi pemupukan. Pada kondisi tertentu, frekuensi tidak mengikuti situasi normal.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EPENGGUNAAN BY – PRODUCT PKS\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1. Aplikasi Tandan Kosong Sawit (TKS)\u003Cbr \/\u003E\nTandan kosong merupakan produk samping (by-product) yang dihasilkan PKS dalam bentuk padatan sekitar 21% dari TBS yang di olah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nManfaat :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EManfaat dari aspek kimia tanah, sumber hara tanaman      dan bahan \u0026nbsp;organik tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EManfaat dari aspek biologi tanah, media tumbuh bagi      mikroganisme mampu merangsang pertumbuhan akar-akar baru tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EManfaat fisik tanah, media konservasi tanah guna      mencegah resiko erosi dan meningkatkan kemampuan menyimpan air tanah      (water holding capacity)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nKandungan hara :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 564px; width: 698px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"211\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSatuan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKisaran\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRerata\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nN\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNitrogen\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,64-0,93\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,90\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nP2O\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPhosphorus\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,160-0,318\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,11\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK2O\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalium,potassium\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,93-4,03\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,40\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMgO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMagnesium\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,17-0,28\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,17\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCaO\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalsium,calsium\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,23-0,41\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,27\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCl\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKhlor\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,44\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMangan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9 -34\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n24,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nB\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBoron\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10-16\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12,94\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nZn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSeng,zinc\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22-50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n37,72\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCu\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCopper\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n43-83\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n53,14\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFe\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBesi,   ferrum\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n158-1128\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n275,36\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EDosis dan frekuensi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDosis aplikasi TKS pada TBM dan TM :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPada TBM dosis rekomondasi per pohon per tahun sebesar 200 kg TKS dan ditambahkan pupuk 500 g urea diatas TKS segera setelah aplikasi dilakukan. Aplikasi harus dilakukan satu lapis disekitar piringan tanaman mulai sekitar 30 cm dari pangkal batang kelapa sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada TM dosis aplikasi TKS dan pupuk organik tambahan dibedakan bardasarkan kondisi tanahnya. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dosis dan frekuensi TKS dan pupuk nitrogen serta fospat \u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 464px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTekstur tanah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSifat bahan induk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDosis(ton\/ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nFrek.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAplikasi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"135\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPupuk N dan P (kg\/pohon)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeterangan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUrea\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRP\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; DAP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSCIL -SL\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n60\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 thn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSiak, kampar,   indragiri, babel, kalteng, kalbar non pasir\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1 thn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nC I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBasa, Mg   dan\/atau Ca tinggi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n60\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 thn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,60\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u0026nbsp;\u0026nbsp; 1,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalsel   areal barkapur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,50 \u0026nbsp;-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKalsel   non kapur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nC I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMasam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n60\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 thn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.50\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLampung,   palembang, jambi, sumut, kaltim\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nS - LS\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSangat   masam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"101\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1 thn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"51\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.50\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumut pasir,   babel pasir, kalteng pasir, kalbar pasir\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nKeterangan :\u003Cbr \/\u003E\nPada lokasi yang direkomendasikan pupuk RP. Apabila tanaman berumur \u0026lt;7 tahun maka :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJika merupakan areal baru, RP dikonversi dengan TSP\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJika merupakan areal replanting, konversi RP ke TSP disesuaikan dengan kadar P didaun\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; S = Pasir, SL = Lempung berpasir, SCIL = Lepung liat berpasir, Ci = liat\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDosis pupuk tambahan Mg, B, dan CU sesuai dengan rekomendasi\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ECara aplikasi\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nCara aplikasi dilakukan di gawangan hidup dengan memperhatikan kegiatan operasional dilapangan (misal panen) dan tidak menimbulkan pengurangan negatif bagi kelapa sawit  \u003Cbr \/\u003E\nSecara Manual :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi didistribusikan pada areal yang tidak dapat dilakukan secara mekanis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETKS didistribusikan di pinggiran MR atau CR menggunakan truk atau traktor tanpa menyumbat saluran drainase atau parit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETKS diaplikasikan pada bahu kiri dan kanan jalan rintis atau di antara pohon setebal satu lapis, mulai dari tengah blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk urea diaplikasikan merata di atas TKS paling lambat satu minggu setelah penaburan TKS sesuai dengan dosisnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi pupuk urea bertujuan untuk menambah hara nitrogen tanaman dan untuk menurunkan nisbah C\/N TKS yang diaplikasikan agar dapat terdekomposisi dengan baik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk fosfat (RP\/TSP\/DAP) diaplikasikan merata di atas TKS sesuai dengan dosisnya. Aplikasi pupuk fosfat bertujuan untuk menambah hara P dalam tanah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003ESecara Mekanis :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi TKS pada areal yang bertopografi datar sampai landai dilakukan secara mekanis dengan menggunakan empty bunch spreader (EBS)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETKS dimuat ke dalam EBS yang berkapasitas 7,0 ton dengan wheel loader atau crane graple. Selanjutnya EBS ditarik dengan traktor 4-WD (85 HP) ke lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETKS diecer dengan EBS sepanjang jalan rintis sesuai dengan dosis rekomendasi, dimulai dari CR menuju ke dalam blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeorang mandor ditugaskan mencatat jumlah TKS yang telah di aplikasi dan mengawasi pelaksanaannya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETKS yang diecer dengan EBS yang masih berupa tumpukan harus diratakan menjadi satu lapis secara manual\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk urea dan fosfat diaplikasikan merata secara manual di atas TKS sesuai dengan dosisnya\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003EWaktu Aplikasi :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTandan kosong harus telah diaplikasi dalam kurun waktu 6 hari ke lapangan untuk mengurangi kehilangan haranya. Kandungan unsur hara di TKS cepat merosot\/menurun pada penumpukan yang lambat waktu diaplikasi, akibatnya manfaat menggunakan TKS tidak tercapai (maksimal)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2. Aplikasi Kompos dari Tandan Kosong\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKompos merupakan pemanfaatan lain dari tandan kosong setelah melalui proses dekomposisi sehingga terjadi penurunan bobot dan volume dari tandan kosong tanpa mengurangi potensi hara yang terkandung di dalamnya. Kompos yang dihasilkan sekitar 20% dari TKS. Setiap periode produksi kompos harus dilakukan sampling terhadap kompos yang sudah matang dan harus dianalisa kadar nutrisinya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKandungan Hara Kompos (kadar air 60%) :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 236px; width: 699px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRerata (%)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EN\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Nitrogen\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EP\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Phosphorus\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,31\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EK\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kalium, potassium\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EMg\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Magnesium\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDosis Aplikasi :\u003Cbr \/\u003E\nDosis rekomendasi per pohon\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESemester I\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 35 kg kompos + 1,0 kg RP\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemester II\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 35 kg kompos\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nCara Aplikasi :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKompos yang sudah matang dimuat dengan Dump-Truck lalu ditimbang di PKS dan diecer di CR serta MR\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKompos diaplikasikan secara manual dengan diletakkan di antara dua pohon dalam barisan searah jalan rintis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk RP diaplikasikan merata di atas kompos sesuai dengan dosisnya yang bertujuan untuk menambah hara phosphorus dalam tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeorang mandor bertanggung jawab atas distribusi kompos dan pengawasan aplikasinya.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nWaktu Aplikasi :\u003Cbr \/\u003E\nKompos yang sudah matang harus segera diaplikasi ke lapang untuk mengurangi kehilangan haranya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3. Aplikasi Abu Tandan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAbu tandan yang dihasilkan ± 0,3% dari TBS. Abu tandan adalah produk akhir dari proses pembakaran tandan kosong di dalam incenerator, bersifat alkalis dan memiliki potensi hara yang tinggi, terutama unsur Kalium. Setiap bulan abu tandan harus dianalisa kandungan haranya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nManfaat :\u003Cbr \/\u003E\nSumber hara tanaman dan dapat meningkatkan pH tanah karena sifatnya yang alkalis (manfaat kimia tanah)\u003Cbr \/\u003E\nKandungan Hara : (kadar air 11%)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 376px; width: 697px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHara\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKisaran (%)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRerata (%)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK2O   total\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25,30   – 48,70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n42,07\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK2O   larut dalam air\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15,50   – 36,80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n26,99\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMgO   total\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,46 –   3,49\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,48\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMgO   larut dalam air\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,02 –   0,04\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,03\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCaO   total\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,25 –   5,84\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,57\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCaO   larut dalam air\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,01 –   0,02\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,02\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCl\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,36 –   7,45\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDosis dan Frekuensi :\u003Cbr \/\u003E\nDosisi abu tandan (pada kadar air 11%) yang direkomendasikan adalah 2 kali berat dari dosis pupuk MOP yang dianjurkan. Aplikasi dilakukan 1 kali setahun, secara bergiliran antara semester 1 dan semester 2 dengan pupuk MOP dan abu tandan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nCara Aplikasi : Abu tandan yang telah dimasukkan ke dalam karung diangkut ke lapangan untuk ditabur merata secara manual di luar piringan. Pekerja sebaiknya menggunakan sarung tangan dan masker\u003Cbr \/\u003E\nWaktu Aplikasi :Abu tandan diaplikasi sesuai dengan jadwal rekomendasi pemupukan anorganik\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E4. Aplikasi Limbah Cair PKS (LCPKS)\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nLimbah cair PKS dihasilkan ± 55% dari TBS yang diolah. LCPKS merupakan produk samping yang dihasilkan PKS dalam bentuk cairan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLimbah cair PKS yang dimanfaatkan untuk aplikasi di lapangan adalah LCPKS yang sudah mendapat perlakuan di dalam kolam instalasi pengolahan air limbah – digest effluent bukan LCPKS yang masih mentah (raw effluent).\u003Cbr \/\u003E\nManfaat :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003EManfaat ditinjau dari aspek kimia tanah sebagai      sumber hara tanaman, air dan bahan organik tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EManfaat ditinjau dari aspek biologi tanah sebagai      media tumbuh bagi mikroorganisme pengurai di dalam tanah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nKandungan Hara :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 610px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"252\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKarateristik\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUnit\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKisaran\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRerata\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\npH\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EDerajat kemasaman\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,83 –   7,25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6,55\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBOD\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EBiologycal Oxygen   Demand\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n170 –   23.574\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2.559\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCOD\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EChemical Oxygen Demand\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2.213   – 107.492\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n14.345\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nO\/G\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EOil and Grease\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,11\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTA\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003ETotal Alkalinity\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n704 –   3.421\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2.763\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVFA\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EVolatile Fatty Acid\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n49 –   5.452\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n579\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTS\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003ETotal Solid\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,52 –   7,12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,64\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nN\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003ENitrogen\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n120 -   996\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n454\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nP\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EPhosphorus\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n69 -   590\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n170\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EPotassium\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n965 –   2.500\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.641\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMg\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003EMagnesium\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n195 -   530\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n334\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCa\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003ECalsium\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"59\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nppm\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n100 -   575\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"99\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n249\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nDosis dan frekuensi :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003EDosis rekomendasi per ha per tahun adalah 375 m3      atau 125 m3\/ha\/rotasi x 3 rotasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDosis 750 m3 per ha per tahun atau 250 m3\/ha\/rotasi      x 3 rotasi digunakan pada :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAreal LA lama yang tidak ada lagi lokasi untuk pengembangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAreal LA baru yang tidak memungkinkan dilakukan aplikasi secara luas karena sebagian areal lainnya adalah tanah berpasir atau tanah dengan porositas tinggi atau berlubang\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col start=\"3\"\u003E\n\u003Cli\u003ESemua dosis rekomendasi diaplikasikan 3 kali setahun      atau 4 bulan sekali\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nCara aplikasi :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003ELimbah cair PKS diaplikasikan di tanah mineral non      pasir yang bertopografi datar hingga agak bergelombang. Tanah pasir serta      gambut tidak direkomendasikan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAreal aplikasi harus memiliki kedalaman air tanah      \u0026gt; 75 cm dari permukaan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBlok-blok yang banyak dilalui oleh parit dan sungai      serta rendahan tidak rekomendasikan untuk diaplikasi limbah cair\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELimbah cair PKS dialirkan melalui pipa utama dan      pipa distribusi kedalam blok-blok yang sudah ditentukan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeorang mandor bertugas mengelola aplikasi limbah      cair dan mengkomunikasikan waktu aplikasi dengan operator mesin pompa di      PKS \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi limbah cair PKS dilakukan secara jalur      perjalur didalam blok dibawah pengawasan seorang pekerja. Apabila      menggunakan sistem gravitasi maka harus dipastikan bahwa flatbad terjauh      telah teraplikasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat barsamaan dapat dilakukan aplikasi      beberapa jalur bergantung kepada jarak dan tekanan air yang keluar dari      pipa distribusi. Tekanan yang terlalu besar harus dikurangi dengan cara      membuka jalur aplikasi lainnya agar pipa distribusi tidak pecah,      sebaliknya apabila tekanan terlalu kecil maka aplikasi hanya dikerjakan      pada jalur-jalur yang berdekatan saja untuk meningkatkan prestasi aplikasi      yang diperoleh\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELamanya jam operasi bergantung kepada debitnya yang      keluar dari pipa distribusi yang ditentukan oleh jarak kapasitas pompa\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAplikasi pada flatbad yang berdekatan dengan badan      air seperti parit dan sungai harus dilakukan secara hati-hati. Beberapa hal      yang harus diperhatikan :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMenaikkan tanggul pembatas pada flatbad yang berdekatan dengan badan air\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Memastikan bahwa masih ada jarak atau sisa tempat didalam flatbad yang tidak terisi dengan limbah cair sebagai cadangan apabila turun hujan dengan intensitas yang tinggi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col start=\"10\"\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah aplikasi seluruh peralatan pedukung putaran      kran air harus dilepas dan disimpan di tempat yang aman. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nWaktu Aplkasi :\u003Cbr \/\u003E\nLimbah cair diaplikasikan sesuai dengan jadwal rekomendasi dengan memperhatikan batas ketinggian maksimum di dalam flatbad sekitar 10 cm dibawah permukaan tanah\u003Cbr \/\u003E\nJenis – jenis Pupuk\u003Cbr \/\u003E\nPupuk yang umum dipergunakan untuk pemeliharaan kelapa sawit :\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 1. Pupuk N :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Urea\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 46 % N\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - ZA\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 21 % N\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 2. Pupuk P :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - SP 36\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 36 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Rock Phospate (RP)\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 30 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - TSP\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 45 % P2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;3. Pupuk K : \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - KCL (MOP)\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 60 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - ZK\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 50 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;- Abu janjang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 35-40 % K2O\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4. Pupuk Mg :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - Kiesrite\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 26-27 % MgO\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;- Dolomite\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 18 % MgO\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5. Pupuk B : \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; - HGF Borate :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  : 46 % B2O5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6. Pupuk majemuk\/compound\/Rustica N-P-K-MG :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ERustika 15-15-6-4\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERustika 12-12-17-2\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nKonsentrat Pupuk dan kandungan nya dapat di download di sini\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581025\/Kandunganunsurppk.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581025\/Kandunganunsurppk.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581297\/KonsentratPupuk.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581297\/KonsentratPupuk.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u0026nbsp; \u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: xx-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C!-- ParagraphBodyEnd --\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"fw-paragraphbottom\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C!-- ParagraphEnd 599169777 --\u003E\n\t\t\t\t\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4722792526974444793"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4722792526974444793"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pemupukan-kelapa-sawit.html","title":"Pemupukan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-LuknJhdgLY8\/UG8ECN6uciI\/AAAAAAAACMs\/11lx0eI-nxE\/s72-c\/pemupukan+kelapa-sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7709326057003572061"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:44:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:45:05.777+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Nutrisi Tanaman Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-qWojJ88ZoZ8\/UG8Fz1JryzI\/AAAAAAAACM0\/JCKxrPBVZfE\/s1600\/nutrisi+kelapa+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-qWojJ88ZoZ8\/UG8Fz1JryzI\/AAAAAAAACM0\/JCKxrPBVZfE\/s320\/nutrisi+kelapa+sawit.jpg\" width=\"272\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ENutrisi Kelapa Sawit\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam\n pembangunan perkebunan kelapa sawit perlu di perhatikan kekayaan nutrisi\n yang terkandung, nutrisi terbagi dalam dua kategori, yakni elemen \u003Ci\u003Emakro\u003C\/i\u003E, dan elemen \u003Ci\u003Emikro.\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nReaksi\n tanah (pH) merupakan indikasi yang menggambarkan tingkat kemasaman atau\n alkalinitas tanah.\u0026nbsp; Nilai ini berpengaruh pada mudah tidaknya \nunsur-unsur hara tersedia atau diserap oleh tanaman, adanya unsur \nberacun bagi tanaman dan aktivitas organisme.\u0026nbsp; Reaksi tanah yang masam \nmengakibatkan terjadinya pengikatan P oleh Al dan meningkatkan kelarutan\n Al yang bersifat racun bagi tanaman, serta tidak tersedianya unsur \nBoron (B) yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nNitrogen\n merupakan hara makro yang paling esensial bagi pertumbuhan vegetatif \ntanaman.\u0026nbsp; Kekurangan unsur ini akan berakibat tanaman tumbuh\u0026nbsp; kerdil, \npertumbuhan akan terhambat, daun-daun kuning (kurang memiliki arti \nproduksi).\u0026nbsp; Bahan organik merupakan sumber utama N dalam tanah dan \nketersediaannya dipengaruhi oleh ratio antara C dan N.\u0026nbsp; Sebagian besar N\n tanah terikat dalam bentuk organik dan sebagian kecil dalam bentuk \nanorganik.\u0026nbsp; N\u0026nbsp; organik tidak dapat diserap oleh tanaman.\u0026nbsp; Tanaman \nmenyerap Nitrogen dalam bentuk Amonium (NH4) dan Nitrat (NO3).\u0026nbsp; N dalam \ntanah dapat berkurang atau\u0026nbsp; hilang melalui pencucian, penguapan dan \ndiserap oleh tanaman.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengaruh kegiatan pengusahaan hutan terhadap \nkadar\u0026nbsp; N-total dapat terjadi melalui berkurangnya kadar bahan organik, \nmeningkatnya proses pencucian dan erosi serta perubahan sifat kimia \ntanah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerbedaan \nkadar bahan organik pada masing-masing jenis kegiatan dapat disebabkan \noleh perbedaan kandungan bahan organik awal,\u0026nbsp; faktor topografi, \nintensitas pelapukan dan erosi yang terjadi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBagi\n tanaman, Fosfor (P) merupakan unsur hara makro esensial kedua setelah \nNitrogen.\u0026nbsp; Unsur ini sering ditambahkan ke dalam tanah sebagai pupuk, \nkarena pada umumnya tanah-tanah di Indonesia khususnya pada lahan-lahan \nmarginal memiliki kandungan P yang sangat rendah.\u0026nbsp; P dalam bentuk P \norganik dapat\u0026nbsp; dibebaskan menjadi bentuk anorganik melalui proses \ndekomposisi sehingga dapat diserap oleh tanaman.\u0026nbsp; Bentuk P anorganik \ndalam tanah jumlahnya sedikit\u0026nbsp; dan sukar larut dalam air.\u0026nbsp; Kadar P-total\n pada areal calon lokasi Perkebunan berkisar antara\u0026nbsp; 1,15 mg\/100 g - \n5,49 mg\/100 g, tergolong sangat rendah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSeperti\n halnya N dan P, unsur Kalium (K) juga merupakan unsur makro esensial \nbagi tanaman.\u0026nbsp; Secara umum unsur ini bersama unsur N dan P menentukan \ntingkat produksi tanaman.\u0026nbsp; Gejala kekurangan K pada tanaman berakibat \npinggir daun berwarna coklat, tanaman kerdil dan daun tua menguning.\u0026nbsp; \nSumber K dalam tanah umumnya ditemukan dalam bentuk mineral yang \nkompleks.\u0026nbsp; Bentuk tersebut mudah berubah bila tercuci oleh air yang \nmengandung\u0026nbsp;\u0026nbsp; CO2\u0026nbsp; atau asam-asam lainnya.\u0026nbsp; Sebagian besar kandungan K \ndalam tanah berasal dari pelapukan batuan yang mengandung K seperti mika\n dan feldspar (menghasilkan ion K bagi tanaman).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKapasitas\n tukar kation suatu jenis tanah adalah kemampuan tanah untuk menyerap \nkation-kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid-koloid \ntanah yang bermuatan negatif.\u0026nbsp; Nilai KTK berkaitan erat dengan\u0026nbsp; \nkesuburan tanah, dimana tanah dengan nilai KTK tinggi mampu menyerap dan\n menyediakan unsur hara lebih baik dari pada tanah dengan nilai KTK \nrendah.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Besarnya KTK sangat dipengaruhi oleh jumlah dan jenis liat, \nserta humus tanah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nAluminium\n (Al) dalam tanah dapat menimbulkan hambatan bagi pertumbuhan\u0026nbsp; tanaman \nsecara langsung maupun tidak langsung.\u0026nbsp; Secara langsung tingginya kadar \nAl dalam tanah dapat meracuni tanaman, sedangkan secara tidak langsung \nAl dapat sebagai pensuplai ion H yang pada akhirnya mempengaruhi pH \ntanah sehingga pH rendah dan mengakibatkan tidak tersedianya unsur \nhara.\u0026nbsp; Al yang tinggi juga dapat mengikat unsur-unsur lain seperti \nPospor (P) dan Boron (B) sehingga tidak tersedia bagi tanaman.\u0026nbsp; Untuk \nlebih jelasnya dapat disajikan dalam penjelasan berikut:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EA.\u0026nbsp; ELEMEN MAKRO\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nElemen\n atau unsur makro adalah unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman dalam\n jumlah yang besar untuk melaksanakan\/mempunyai\u0026nbsp; fungsi yang sangat \npenting\u0026nbsp; dalam tubuh tanaman, adapun unsur\/elemen makro adalah sebagai \nberikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1.\u0026nbsp; Nitrogen (N)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSebagai\n unsur kimia dan komponen utama yang penting dalam tanaman, protoplasma \nsel mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi, dan juga merupakan unsur \npokok protein, asam amino, almida dan alkolida. Klorophil juga mempunyai\n unsur nitrogen, jika dalam keadaan dibawah optimal ada kecendrungan \nnitrogen akan ditransfer ke jaringan yang lebih muda, yang secara \nfisiologis merupakan daerah aktif titik tumbuh.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n2.\u0026nbsp; Fosfor (P)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFosfor\n adalah komponen asam nukleat, yang berfungsi untuk mengatur proses \nperkembangan, defisiensi unsur ini akan menghambat pertumbuhan, dan juga\n mempengaruhi pertumbuhan akar. Fosfor juga merupakan komponen berbagai \nsystem fisiologis yang berhubungan dengan nutrisi dan respirasi dan juga\n mempengaruhi pemasakan buah, dan elemen ini dibutuhkan dalam jumlah \nyang cukup untuk efisiensi penggunaan nitrogen.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFosfor\n mempunyai peranan penting dalam pemecahan karbohidrat dan makanan \nlainnya yang dihasilkan akibat proses fotosintesis dalam tanaman. \nKekurangan fosfor akan menghambat fotosistesis dan membatasi kemampuan \ntanaman untuk memproduksi karbohidrat, peranan fosfor dalam proses \npertumbuhan tanaman sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EStimulasi pertumbuhan awal akar dan perkembangannya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMempercepat tanaman untuk menghasilkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProduksi buah dan biji.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n3.\u0026nbsp; Kalium (K) Kalium mempunyai pengaruh dalam proses fisiologi antara lain   \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPembelahan sel\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EFormasi fotosintesis dari karbohidrat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EReduksi nitrat dan mengubah hasil sistesis menjadi protein\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAktifitas enzim\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n4.\u0026nbsp; Magnesium (Mg)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSebagai salah satu komponen dri sejumlah system enzym, magnesium juga mempunyai fungsi vital dalam pembentukan klorophil\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFungsi Magnesium dalam tanaman adalah sebagai berikut\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBagian essential dari klorophil   \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengatur pengambilan unsur hara tanaman lainnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESebagai pembawa fosfor dalam tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembantu pembentukan minyak dan lemak dll\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n5.\u0026nbsp; Sulfur (S)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSulfur sangat penting dalam pembentukan minyak pada tanaman, seperti halnya sulfur dan nitrogen, adalah pembentuk asam amino \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSulfur\n Sangat mirip dengan Nitrogen jika dibandingkan dengan nutrient \nessensial tanaman lainnya, dan kekurangan unsur sulfur pun sangat mirip \ndengan dengan defensiensi nitrogen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n6. Kalsium (Ca)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFungsi\n utama dari kalsium adalah sebagai komponen dinding sel. Dinding sel ini\n mempunyai daerah meristimatik dan ini sangat penting untuk pertumbuhan \nakar yang baik, dalam fisiologi sel kalsium cenderung mengatur atau \nmenghambat aktivitas kalium, dan kalsium dapat juga mempengaruhi \npenyerapan nitrogen\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nFungsi Kalsium dalam tanaman adalah sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMeningkatkan pembentukan awal akar dan pertumbuhan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMeningkatkan kekuatan tanaman secara umum\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMempengaruhi jumlah pegambilan bahan makanan pada tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenetralisasi produksi racun dalam tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMeningkatkan produksi biji dan benih\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMeningkatkan kandungan kalsium makanan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nB.\u0026nbsp;\u0026nbsp; ELEMEN MIKRO\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nElemen\n mikro atau mikronutrien adalah elemen yang penting, dan dibutuhkan \ndalam jumlah sedikit dan kecil untuk menjalankan fungsinya yang penting \ndalam tubuh tanaman. Beberapa fungsi elemen mikro dalam system enzyme \ntanaman sebagai elemen pembentuk anion (Boro dan Molibdenum) juga \npembentuk unsure kation (tembaga). Beberapa diantaranya dalam proses \noksidasi – reduksi dalam metabolisme tanaman beberapa diantaranya \ndibutuhkan dalam memproduksi klrorophil, Unsur mikro diantaranya adalah \nsebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mangaan (Mn)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\n Fungsi umumnya adalah sebagai katalis untuk berbagai system enzyme. \nMangaan bersifat antagonistic dengan besi, jumlah berlebihan dari salah \nsatu unsur akan menyebabkan munculnya gejala defisiensi dari unsur \nlainnya, tetapi interaksi elemen ini dengan mikronutrien lainnya mungkin\n menguntungkan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Besi (Fe)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKlorosis\n kerena defisiensi zat besi pada tanaman menunjukan fungsi elemen ini \ndalam pembentukan klorophil, walaupun bukan elemen pembentuk yang \nsebenarnya, zat besi juga berfungsi sebagai katalis dalam sistem enzym \npernapasan dan oksidasi, dan terlibat dalam reduksi nitrate menjadi \namonia. Secara umum pergerakan dan kelarutan dalam tanaman adalah \nterbatas, terutama jika jumlah Mangaan dan Fosfor tinggi, jumlah kalium \nrendah dan cahaya yang sangat terang \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Seng (Zn)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSeng dibutuhkan untuk metabolisme protein dan berperan dalam pembentukan klorophil\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n4.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tembaga (Cu))\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTembaga\n penting sebagai koenzym yang dibutuhkan untuk mengaktifkan beberapa \nenzym tanaman, juga terlibat dalam pembentukan klorophil. Penyerapan \ntembaga berlawanan dengan penyerapan zat besi. Jumlah tembaga yang \nterlalu kecil menyebabkan zat besi terakumulasi dalam tanaman, dan \njumlah tembaga yang terlalu banyak menyebabkan gejala klorosis yang \nterjadi hampir disetiap pertumbuhan baru, karena tembaga relatif tidak \nmobil. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n5.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Molibdenum\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMolibdenum\n penting dalam simbiosis fiksasi nitrogen dalam reduksi nitrogen nitrat \nmenjadi bentuk amino, oleh sebab itu defisiensi molibdenum dapat \nmenyebabkan defisiensi nitrogen dalam tanaman.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n6.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Boron\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBanyak\n pertumbuhan vegetatif yang abnormal disebabkan defisiensi boron, dan \njika kelebihan elemen ini menunjukan gejala keracunan, interaksi elemen \nini dengan elemen mikro lainnya dimana ada ketidak seimbangan dapat \nmengganggu perkembangan bibit.\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10572299\/Kebutuhanunsurharauprod25ton.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10572299\/Kebutuhanunsurharauprod25ton.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E \u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E "},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7709326057003572061"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7709326057003572061"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/nutrisi-tanaman-kelapa-sawit.html","title":"Nutrisi Tanaman Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-qWojJ88ZoZ8\/UG8Fz1JryzI\/AAAAAAAACM0\/JCKxrPBVZfE\/s72-c\/nutrisi+kelapa+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4136778225655033922"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:41:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:40:39.185+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perawatan TM Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ETUNAS\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTidak\n ada pruning\/penunasan selama masa belum menghasilkan (TBM) sampai 6 \nbulan menjelang panen pertama, dan biasanya 24 bulan setelah tanam, \npekerja tidak boleh memotong atau membuang pelepah pada masa ini. \nPelaksanaan pruning bias dilakukan apabila adanya pelepah yang mati dan \ntidak produkstif, serta adanya janjang dan buah busuk, dan ini disebut \npruning sanitasi, gunanya adalah untuk memudahkan pemanen sehingga \npekerjaannya tidak terganggu.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ETUNAS PASIR.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSyarat\u0026nbsp; :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTunas\n pasir hanya dikerjakan 1 kali saja selama hidupnya kelapa sawit, yaitu \nbila tanaman sudah berumur 2.5 tahun sejak ditanam dilapangan, maka \napabila cukup berkembang untuk produksi buah atau TBS.\u003C\/div\u003E\nCara\u0026nbsp;\u0026nbsp; :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESeluruh\n daun \/ cabang yang paling bawah sebanyak 1-2 lingkaran pertama \n(maksimum 15 cm dari tanah ) supaya dibuang, diatas batas ini cabang \ntidak boleh diganggu.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECabang harus dipotong rapat kepangkal dengan memakai arit (egrek kecil).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDengan\n alat ini (memakai gagang sepanjang 1,5-2,0 meter ) potongan-potongan \ncabang mudah dikumpulkan dengan menariknya (dikait) keluar. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPekerjaan ini harus dikerjakan oleh buruh sendiri dibawah pengawasan yang ketat, tidak dibenarkan oleh pemborong.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETenaga kerja untuk tunas pasir\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 4 hb \/ HA.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESesudah\n pekerjaan tunas pasir hingga masa tunas selektif, maka dilarang keras \nmemotong cabang tanaman kelapa sawit untuk tujuan apapun, kecuali \nanalisa daun, dan ini hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003ETUNAS\u0026nbsp; SELEKTIF.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTujuan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTujuannya untuk mempersiapkan pokok untuk dipanen,yakni pada umur 3-4 tahun, tergantung pada keadaan pertumbuhan pokok.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSyarat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESuatu\n blok atau golongan tanaman dapat milai ditunas selektif jika \nsekurang-kurangnya 40% telah mempunyai tandan buah yang hampir masak \npada tinggi 90 cm (3 kaki) dari tanah diukur dari permukaan tanah \nkepangkal tandan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua pohon yang memenuhi syarat yang ditentukan (ukuran tingginya) harus ditunas.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Cara.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBatas tunas adalah : 2 cabang songgo buah keatas supaya ditinggalkan tidak ditunas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua cabang dibawah songgo buah tersebut diatas supaya ditunas secara timbang air keliling pokok.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua rerumputan seperti pakis dan lain-lain yang tumbuh pada pokok kelapa sawit harus dicabut \/ dibersihkan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/dodos.jpeg\" style=\"border: 0pt none; height: 107px; margin: 5px; padding: 0pt; width: 78px;\" \/\u003EAlat.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPusingan tunas perdana bagi sisa pokok yang 60% lagi dilaksanakan 4 bulan sekali, hingga semua pokok akhirnya akan tertunas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat\n untuk tunas selektif adalah tajak atau pisau dodos yang dipakai juga \nuntuk potong buah pada tanaman produktif muda, lebar mata tajam 14 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat yang sama masih terus dipakai untuk tunas biasa hingga pokok mencapai ketinggian kurang lebih 2,5 meter.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;Alat\n ini diberi gagang kayu laut atau domuli sepanjang 1,5-2 meter, cabang \ndipotong rapat kepangkal dari arah samping untuk menghindari alat \nmelukai pokok.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pusingan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETunas selektif berlaku untuk tanaman umur 3-4 tahun, dengan tenaga : 50 pokok\/hb.atau ( 6 hb \/ HA \/ tahun ).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Perhitingan luas.\u0026nbsp; Luas yang ditunas selektif = \u003Cu\u003Ejumlah pohon yang ditunas\u003C\/u\u003E\u0026nbsp; x\u0026nbsp; HA.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 143\u003Cbr \/\u003E\nTUNAS\u0026nbsp; UMUM\u0026nbsp; ( BIASA ).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1. Pusingan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPusingan\n tunas umum (biasa) untuk Tanaman Menghasilkan dilaksanakan 9 bulan \nsekali, atau 4 pusingan dalam 3 tahun, dengan demikian perencanaan \npusingan tiap tahun harus selalu didasarkan pada pusingan terakhir pada \ntahun yang lalu. Misalnya situasi pada 1986 yaitu melaksanakan \/ \nmenyelesaikan pusingan januari 1986 – September 1986 dan memulai \npusingan oktober 1986 – juni 1987.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n2. Cara.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESeluruh umur ditunas hingga 2 (dua) cabang songgo buah paling bawah secara timbang pasir.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESatu rotasi tunas harus selesai dalam jangka waktu 9 bulan, sedangkan untuk satu tahun : 1 1\/3 pusingan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 221px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"272\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPruning Treatments\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"220\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRata-rata hasil\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(Ton\/ffb\/ha\/tahun)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"272\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHanya pelepah kering saja\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"220\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n23.3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"272\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTersisa 40 - 56 pelepah\/pohon\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"220\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n23.0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"272\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTersisa 24 - 32 pelepah\/pohon\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"220\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n19.8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u0026nbsp;  \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 211px; width: 702px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur Tanaman (thn)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLingkaran pelepah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah pelepah\/phn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRotasi\/tahun\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3 – 4\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5 – 8\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9 – 12\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026gt; 12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n56\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n48 –   52\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40 –   44\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n32 -   36\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"97\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n3. Alat.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_freewebs fwSizeProp\" height=\"176\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/dodos%20schema.jpg\" style=\"height: 176px; margin: 8px; width: 257px;\" width=\"257\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHingga tinggi pokok 2,50 meter tetap memakai ”pisau dodos besar” ( lihat tunas selektif )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBagi\n pokok yang tingginya diatas 2,50 meter (mulai umur 8 tahun keatas) \nseluruh pekerjaan tunas tanpa kecuali harus dilaksanakan dengan pisau \negrek biasa (pisau Malaya) yang diikatkan pada ujung galah (gagang dari \nbambu). Panjang gagang diatur menurut tinggi pokok, bila perlu 2 galah \ndisambung untuk pokok-pokok yang sangat tinggi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelama menunas, \nsemua epiphyt pada batang harus dibersihkan dengan mancabut pakai tangan\n sekitar pangkal batang dan memikul pakai pelepah pada bagian yang lebih\n tingggi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPokok sakit atau kuning karena dificiency harus ditunas lebih hati-hati, cukup membuang daun yang karing saja.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003EMENYUSUN\u0026nbsp;\u0026nbsp; PELEPAH.\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E    \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah-pelepah      atau cabang disusun (dirumpuk) digawangan yang tidak ada pasar rintisnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECabang\n      tidak perlu dipotong-potong, melainkan dirumpuk saja memanjang \nbarisan      pohon, tindih menindih dan jangan berserakan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAndaikata\n      digawangan tanpa rintis seperti dimaksud diatas kebetulan pula ada\n parit      dengan arah memanjang barisan, maka cabang-cabang harus \ndipotong tiga dan      dirumpuk diantara pohon dalam garisan sesuai \ndengan metode lama.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeuntungan      cara ini adalah sebagai berikut :\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003ECabang\n tidak perlu dipotong-potong       kecuali jika dadparit memanjang \ndigawangan, sehingga menghemat energi dan       waktu tukang potong buah\n \/ tunas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPiringan tidak bertanbah sempit oleh       ujung-ujung cabang karena telah dirumpuk jauh ditengah gawangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAncak\n panen dari masing-masing       tukang potong buah lebih aman dari \nsaling\u0026nbsp;       ”curi buah” antara sesama mereka (pindah antar rintis \nlebih       sulit).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenekan pertumbuhan gulma ditengah       gawangan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk\n areal berbukit yang arah rintisnya memanjang dari puncak bukit ke kaki \nbukit, susynan cabang harus searah (artinya pucuk bertindih dengan \npucuk, pangkal dengan pangkal), dimana pangkal pucuk harus berada \ndibagian lereng yang tertinggi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"179\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tunas.jpg\" style=\"height: 179px; margin: 8px; width: 252px;\" width=\"252\" \/\u003E\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EORGANISASI\u0026nbsp;\u0026nbsp; TUNAS.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESatu orang mengancak satu baris. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPotong cabang – langsung disusun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBersihkan epiphyt – langsung dibersihkan piringan dari sampah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemudian baru pindah ke pohon berikutnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenunasan sebaiknya dilakukan pada saat periode produksi rendah kecuali tenaga kerja cukup\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah\n hasil penunasan harus disusun untuk mencegah erosi, menjaga kelembaban,\n memudahkan kegiatan operasional (rawat dan panen), menekan pertumbuhan \ngulma, merangsang pertumbuhan akar dan sumber hara.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E  \u0026nbsp;Cara penyusunan pelepah :\u003Cbr \/\u003E\n  \u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHarus disusun rapi menyebar di gawangan mati dan di antara pohon. Tidak mengganggu jalan rintis dan piringan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESusunan pelepah berbentuk : ”L”\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada areal curam, peletakan pelepah mengikuti jalan kontur untuk menahan air.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Arial Black; font-size: medium;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPENYIANGAN MANUAL\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1. \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"156\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/gawang.jpg\" style=\"height: 156px; margin: 8px; width: 207px;\" width=\"207\" \/\u003EGawangan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKelas penutup tanah W3 yaitu 70% kacangan dan 30% rumput lunak tetap bebas lalang dan anak kayu. 1x \/2-3 bln.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EManual : rumput lunak dibabat. 0,5 HK\/ha.1x\/3 bln.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n2. \u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"156\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/piringan.jpg\" style=\"height: 156px; margin: 8px; width: 207px;\" width=\"207\" \/\u003E Piringan \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EManual : dengan cara garuk piringan. 1x\/1-1,5 bln\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETM 1 dan 2, jari-jari 2 m. 1,5-2 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETM 3 dst, jari-jari 2,5 m. 2-2.5 HK\/ha. 1x \/3 bln.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n3. \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"88\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/garu.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 88px; margin: 8px; padding: 5px; width: 100px;\" width=\"100\" \/\u003EBuru Lalang\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECara manual dengan garuk\/garpu lalang. 1x \/2 bln. 0,3 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n4. \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"99\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/cangkul.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 99px; margin: 8px; padding: 5px; width: 86px;\" width=\"86\" \/\u003EDongkel Anak Kayu\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAnak kayu yang masih ada\/tumbuh didongkel cara manual mempergunakan cangkul. 1x \/6 bln. 0,6-1 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n5. \u0026nbsp;\u0026nbsp; Jalan Pikul\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EManual : digaruk selebar 1,5 m. 1x \/2-3 bln. 2 HK\/ha. 1x \/3 bln.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPENYIANGAN CHEMIS\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBerdasarkan asal dan sifat kimianya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\na. Pestisida Simtetik .\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003EAnorganik\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; ( contoh : garam-garam beracun, seperti Arsenat, Fluorida) Organik\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHidrokarbon barchlor ( contoh : DDT \u0026amp; analognya, MIC, Siklodion).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMeterosilclik (contoh : Strobane, Mirex, Kepone)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EFosfat organik (contoh : Parathion, Malathion, Abate fenithrothion)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKarbonat (contoh : Carbaryl, Arprocarp, Carbofuran).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENitrofenol (contoh : DNOC atau Dinitrocresol)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EThiosianat (contoh : Lethane)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESulfonat (contoh : Sulfida)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESulfon (contoh : Ovex atau ovotran)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELain-lain (fimigan), (contoh : Metilbromida).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nb. Pestisida asal tanaman.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ENicotionida\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (contoh : Nicotin )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPyrathroida\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (contoh : Pyrathrum).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERetonoida\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (contoh : Rotenon)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nc. Berdasarkan reaksinya :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Epestisida\u0026nbsp;\u0026nbsp; kontak\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (contoh : Paraquat)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Epestisida\u0026nbsp;\u0026nbsp; siatemik\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; (contoh : Roud-up).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nBanyak\n jenis tanaman yang tumbuh di kebun sebagian tidak berbahaya sedang yang\n lainnya kompetitif atau berbahaya, yang berbahaya harus dikendalikan \natau dimusnahkan. Tanaman dapat diklasifikasikan dalam kategori berikut :\u003Cbr \/\u003E\nKelas A\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  :  Tanaman yang mungkin dianjurkan\u003Cbr \/\u003E\nKelas B\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  :  Tanaman yang biasanya berguna tetapi kadang kadang perlu dikendalikan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\nKelas C\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Tanaman yang tidak di ingini \u0026nbsp;yang harus dimusnahkan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-aB7zsAu5VMA\/UG-1_K4apzI\/AAAAAAAACTI\/yx2Qgz3b69U\/s1600\/TABEL+DATA.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"346\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-aB7zsAu5VMA\/UG-1_K4apzI\/AAAAAAAACTI\/yx2Qgz3b69U\/s400\/TABEL+DATA.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Peralatan Weeding Control\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"190\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/SOLO%20SPRAYER.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 190px; margin: 8px; padding: 5px; width: 156px;\" width=\"156\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKnapsac\n Sprayer. Ada dua (2) jenis unit yang ada dan baik untuk difgunakan \nyaitu bahan yang terbuat dari logam dan plastik propylene\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENozzle.\n Nozzle sangat penting karena bersamaan dengan tekanan pompa untuk \nmenentukan jumlah dan kualitas larutan yang keluar. Nozzle terbuat dari \nkuningan, stainless steel, alumunium, keramik atau plastik, nozzle dari \nkuningan atau plastik baik untuk \u0026nbsp;digunakan walaupun yang dari kuningan \nadalah yang terbaik dan tahan lama.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAksesoris. Banyak aksesoris \nyang berguna dan dapat dipasang pada alat semprot untuk meningkatkan \neffisiensi dan ketepatan antara lain :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003ESaringan.\n Untuk mencegah tersumbatnya nozzle, saringan stainlees steel 50 mesh \nharus dipasang di tangki yang bersih sebelum pemicunya dipasang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengukuran Tekanan. Alat ini digunakan untuk mengkalibrasi alat semprot dan mempertahankan tekanan semprotan yang tepat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKatup Tekanan. Alat ini memudahkan operator untuk menjaga tekanan semprotan maksimum dalam keadaan konstan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EElbow joint. Elbow joint dipasang di ujung tangkai semprot untuk mengatur sudut proyeksi semprotan yang diinginkan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengaman.\n Pengaman khusus mengatur pola semprotan harus dipasang untuk spot \nspraying yang berdekatan dengan hamparan kacangan, mangkuk plastik \nlateks atau kaleng dengfan ukuran yang sama dapat digunakan sebagai \npengaman.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; d.\u0026nbsp; Pemeliharaan Alat\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Untuk efisiensi maksimum pompa harus dijaga tetap bersih dan siap pakai\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EOperator\n harus bertanggung jawab untuk merawat dan memelihara peralatan \npompanya, bagaimana harus merawat secara rutin dan mengetahui \nbagian-bagian dari alat yang bekerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah selesai bekerja, \nalat harus dicuci bersih luar dan dalam dengan air bersih, dan harus \ndisimpan terbalik\u0026nbsp; untuk membantu mengalirkan air dan pengeringan, \npemeriksaaan kebocoranharus dilakukan setiap hari.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENozzle dan \nsaringan harus diperiksa tiap hari dan sumbatan harus dibersihkan dengan\n sikat gigi atau kayu, dan jangan gunakan peniti atau kayu runcing untuk\n membersihkan sumbatan yang akan mengakibatkan membesarnya lubang, \nsehingga pola semprotan salah dan memerlukan lebih banyak volume \nsemprot. Dan setiap 3 bulan sekali nozzle yang telah dipakai di \nkalibrasi dengan membandingkan dengan nozzle yang baru dengan ukuran dan\n spesifikasi yang sama\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemeriksa semua washer dan beri pelumas \npada bagian yang bergerak, disamping membawa peralatan nozzle cadangan \napabila diperlukan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerbaikan secara menyeluruh harus ditangani oleh mekanik yang berpengalaman.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; e. Peralatan CDA dan tekhnik penyemprotan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003ETujuan\n penggunaan CDA (Control Led\u0026nbsp; Droplet Application) dalam pengendalian \ngulma dalam tekhnik penyemprotan adalah dengan membentuk kabut semprotan\n yang sangat halus sehingga dengan larutan semprot yang minimum masih di\n dapatkan hasil pengendalian gulma yang baik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECDA hanya \nmemerlukan volume larutan bahan kimia yang sangat rendah per area yang \ndisemprot, volume yang digunakan sekitar 20 liter per ha, dibandingkan \n200 – 500 liter dengan penyemprotan konvensional\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenurunan biaya aplikasi di dapatkan dengan berkurangnya kebutuhan Tenaga Kerja dan Air\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenghematan\n didapat dengan sungguh sungguh memperhatikan pemakaian CDA, pencampuran\n yang tepat dan prosedur pelaksanaan yang benar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u0026nbsp; f.\u0026nbsp; Micron Herbi\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EAdalah\n alat semprot fgenggam ringan yang mengaplikasikan pola yang akurat \ndengan ukuran droplet yang terkendali, untuk mendapatkan hasil yang \nterbaik pemakai harus\u0026nbsp; mempelajari informasi dan alatnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat \nini menghasilkan kabut untuk volume sangat rendah (ULV) sehingga dapat \nmenyemprot dengan lebar semprotan 1,2 m herbisida kontak atau hormon \ndapat digunakan untuk penyemprotan secara bersambung atau spot-spot.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETangki\n herbisida berisi 2,5 – 5 liter larutan semprot, mengalir ke arah \natmosfir karena gaya gravitasi yang didorong oleh tenaga baterai 8 HP2, \ndan ada 3 jenis nozzle yang tersedia untuk mendapatkan flowrate standar 1\n ml\/detik untuk larutan semprot dengan ketebalan vegetasi yang berbeda.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nKapala micron herbi dapat dipasangi dengan salah satu nozzle yang berbeda, dengan standard\u0026nbsp; sebagai berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ENozzle\n merah hanya untuk larutan yang pekat atau kental dan jangan di gunakan \nkecuali di instruksikan secara khusus\u0026nbsp; dan ini ukuran yang paling besar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENozzle\n kuning untuk hampir semua herbisida kontak, dengan flow rate kira-kira \n160 ml\/menit mengeluarkan 22 L\/ha dan membutuhkan waktu 31 menit untuk \nmengosongkan 5 L larutan dan jarak tempuh 1860 m, nozzle ini berukuran \nsedang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENozzle biru dan kuning dapat dikombinasikan\u0026nbsp; jika menggunakan micron herbi berkepala 2 (dua) untuk penyemprotan piringan\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nHal yang perlu diperhatikan dengan pemakaian perlatan herbisida adalah sebagai berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPara operator harus benar-benar dilatih menggunakan peralatan sebelum bekerja di lapangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyemprot harus mempunyai pengetahuan dasar untuk merawat peralatannya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKarena konsentrasi larutan yang digunakan pekat maka operator harus memperhatikan aturan keselamatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMulut\n dan hidung harus ditutup dengan sapu tangan atau masker dan harus \nmemakai perlengkapan standar antara lain : Tutup kepala, kemeja lengan \npanjang, celana panjang, kaus kaki, sepatu boot, dan baju plastik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPakaian yang telah dipakai bekerja harus dicuci secara teratur\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenggunaan\n alat harus benar-benar diperhatikan dari keadaan yang tidak diinginkan,\n misalnya, membawa peralatan reparasi\/tools cadangan, larutan harus di \npersiapkan, gunakan air yang bersih untuk mencegah penyumbatan nozzle\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenempatan larutan herbisida tambahan harus diatur dengan benar dan diawasi \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EPenggunaan pestisida .\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSetiap\n jenis pestisida harus digunakan dengan tepat dan teliti sesuai dengan \nrekomondasi yang dikeluarkan oleh produsennya (antara lain mengenai \ndosis, waktu, alat aplikasi) disatu pihak, serta ketentuan-ketentuan \ncara aplikasinya yang tidak membahayakan bagi kesehatan dilain pihak.\u0026nbsp; \nSehubungan dengan itu antara lain ada beberapa faktor yang sangat perlu \ndiperhatikan, yaitu :mengenai petugasnya, alat-alat pelindung yang \ndipergunakan, serta tindakan penjagaan sebelum, selama dan setelah \naplikasi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPetugas (para penyemprot, petugas digudang pestisida, dsb).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDidalam\n menjalankan tugasnya, maka petugas-petugas yang langsung berhubungan \ndengan pestisida haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHarus berbadan sehat, tidak mempunyai kelainan kulit (kudis\/luka terbakar) atau saluran pernafasan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETidak sedang hamil atau menyusui (bagi pekerja wanita)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHarus dapat membaca dan mengerti tanda-tanda bahaya keracunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHarus mengerti bahaya keracunan pestisida dan cara-cara menjarahnya yang tidak membahayakan keselamatan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Earus mengerti cara-cara menggunakan alat P3K dan alat pemadam kebakaran (bagi petugas yang bekerja di gudang pestisida).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap\n pekerja penjamah pestisida harus diperiksa kesehatannya secara rutin, \nsekurang-kurangnya 1 kali 6 bulan oleh dokter (dengan atau tanpa \nkeluhan).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila keluhan dicurigai akibat bahan pestisida, maka \npekerja tersebut yntuk sementara waktu tidak dibenarkan bekerja dengan \nbahan pestisida, sampai penyebab keluhan\/penyakitnya tersebut dapat \ndipastikan, serta mendapat pengobatan yang segera dan tepat dari dokter.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap keracunan bahan pestisida adalah merupakan kecelakaan kerja dan wajib dilaporkan kepada DEPNAKER\u0026nbsp; untuk\u0026nbsp; ASTEK.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nStandard Kebutuhan Tenaga Kerja dan Material dapat di download disini:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567350\/STANDARKEBUTUHANHKMATERIALTM.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567350\/STANDARKEBUTUHANHKMATERIALTM.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567350\/STANDARKEBUTUHANHKMATERIALTM.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567500\/STANDARKEBUTUHANMATERIALCHEMIST.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPHOTO PHOTO PERAWATAN TANAMAN SAWIT TM\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPerawatan Tanaman Konsolidasi Pada TM \u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/bumbun%20tanaman%20tm.jpg\" style=\"margin: 8px; width: 75%;\" \/\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPerawatan Piringan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/rawat%20piringan.jpg\" style=\"margin: 8px; width: 75%;\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPerawatan Tunas\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tunas%20yang%20baik.jpg\" style=\"margin: 8px; width: 75%;\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPerawatan Gawangan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4136778225655033922"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4136778225655033922"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/perawatan-tm-kelapa-sawit.html","title":"Perawatan TM Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-aB7zsAu5VMA\/UG-1_K4apzI\/AAAAAAAACTI\/yx2Qgz3b69U\/s72-c\/TABEL+DATA.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3400521772014556556"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:39:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:29:13.524+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perawatan TBM Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EA. Pengertian\u0026nbsp; TBM (Tanaman Belum Menghasilkan)\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Masa sebelum panen ( dari saat panen pertama ), berlangsung 30 – 36 bulan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Terdiri atas :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTBM\n 0: menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami \n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada titik \npancang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 : tanaman pada tahun ke I ( 0-12 bulan )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 2 : tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3 : tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan )\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Arial Black; font-size: small;\"\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003EB. Penyiangan Areal\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003E1. \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Penutup Tanah (M\/P\/W)\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Klasifikasi penutup tanah :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W0 : belum ada tanaman penutup tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W1 : 100% penutup tanah kacangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W2 : 85% kacangan + 15% gulma lunak, bebas lalang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W3 : 70% kacangan + 30% gulma lunak, bebas lalang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W4 : 50% kacangan + 50% gulma lunak, bebas lalang\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nW = menyiang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; P = penyiangan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; W = weeding\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\nBeberapa jenis gulma di perkebunan :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 704px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKategori\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNama Latin\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNama Indonesia\/Daerah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJahat\/sangat\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;   mengganggu\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSedang dan lunak\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Ci\u003EImperata   cylindrica\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMikania   micrantha\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMikania   cordata\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMimosa pudica\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMimosa invisa\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EEupatorium   odoratum\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003ELantana camara\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EClidemi\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003Ea hirta\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMelastoma   affine\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAxonopus   compressus\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPaspalum   konjugatum\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003ECyperus   rotundus\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EGleichenia   linearis\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EDryopterus   arida\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAgeratum   conyzoides\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EBorreira   latifolia\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EBorreira laevicaulis\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPhyllanthus   niruri\u003C\/i\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"197\"\u003ELalang\u003Cbr \/\u003E\nSembung rambat\u003Cbr \/\u003E\nMikania\u003Cbr \/\u003E\nPutri malu, kucingan\u003Cbr \/\u003E\nPls kucingan\u003Cbr \/\u003E\nPutihan\u003Cbr \/\u003E\nTahi ayam, tembelekan\u003Cbr \/\u003E\nHarendong\u003Cbr \/\u003E\nSenduduk\u003Cbr \/\u003E\nRumput pahit\/pahitan\u003Cbr \/\u003E\nRumput pahit\/buffalo grass\u003Cbr \/\u003E\nTeki\u003Cbr \/\u003E\nPakis kawat\u003Cbr \/\u003E\nPakis kadal\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWedusan, babandotan\u003Cbr \/\u003E\nKentangan\u003Cbr \/\u003E\nRumput kancing ungu\u003Cbr \/\u003E\nMeniran\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nKriteria pekerjaan :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"195\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/kacang%20kacangan.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 195px; margin: 8px; padding: 5px; width: 221px;\" width=\"221\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput dan gulma lain dibersihkan semua.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 2 : W1, seperti pada TBM 1\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3 : W3\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPenutup tanah terdiri dari 70% kacangan + 30% gulma lunak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EYang diberantas adalah gulma jahat, lalang, mikania, pahitan, pakis, teki (lihat daftar gulma)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKacangan yang merambat ke pohon kelapa sawit diturunkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGulma lunak tidak perlu diberantas, wedusan, sintrong\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Penyiangan : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBulan 1-4 \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : intensif jarak 2-2-2-3-3-4-mg , 4 – 6 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBulan 5-7 \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 1x\/2 bulan , 8 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBulan 8-22 \u0026nbsp;\u0026nbsp; : 1x\/bulan , 4 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E2. \u0026nbsp;\u0026nbsp; Gawangan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nCara dengan menggaruk\/mencabut gulma. Bila vegetasi \u0026gt; 70 cm dengan dibabat. 1 kali\/bulan .\u0026nbsp;\u0026nbsp; 0,5-1 HK\/ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 s\/d TBM 2 = 1 x\/bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3\u0026nbsp; =\u0026nbsp; 1 x\/2bulan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSecara khemis : Round up 0,6 l\/ha+0,5 l\/ha, 2,4 D-Amien.\u0026nbsp; 1 kali\/2 bulan. 0,5-1 HK\/ha. \u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1, 2 = 1 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3\u0026nbsp;\u0026nbsp; = 0,75 HK\/ha \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E3. \u0026nbsp;\u0026nbsp; Piringan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSecara manual : digaruk dengan arah keluar dan kedalam piringan secara bergantian. 1x\/bulan\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 : jarak dari pohon 1,0 m.\u0026nbsp;\u0026nbsp; 4-5 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 2 : jarak dari pohon 1,5 m.\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3-4 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3 : jarak dari pohon 2,0 m.\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3-4 HK\/ha. \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSecara khemis disemprot dengan herbisida. Herbisida jangan sampai mengenai tajuk kelapa sawit. 1x\/3 bln. 0,5 l\/ha. 0,5-1 HK\/ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EGramoxone (parakuat) 0,5% = 0,5 l\/100 l air\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERound up (gliphosate) 0,5% = 0,5 l\/100 l air\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E4.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengendaliaan Lalang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 1,2 : dengan garuk\/ garpu lalang\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 3\u0026nbsp;\u0026nbsp; : dengan wiping. 1x\/2-3 bln. 1 HK\/ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKain lap dicelupkan kedalam larutan herbisida. 1x\/2 bln Round up. 25 cc\/ltr air\/ha. 0,3 – 0,5 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPangkal lalang dibersihkan dulu dengan arit, kemudian di lap dari bawah ke atas sampai basah.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSebagai tanda sudah di lap ujung daun lalang dipotong\/diputuskan. \u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E5. \u0026nbsp;\u0026nbsp; Dongkel Anak Kayu\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMembuang \/ mendongkel anak semak anak kayu yang ada di areal dengan cangkul. 1x\/2-3 bln. 0,6 HK\/ha.\u003Cspan style=\"font-family: Arial Black; font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EC.  Jalan Pikul\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat jalan pikul sebagai jalan untuk pemeliharaan tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELebar : 80 – 100 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat : cangkul, parang babat.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nCara : Tanaman penutup tanah yang berada ditengah gawangan dibuka bersih menjadi jalan kontrol\/pasar pikul.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 1 : 1 jalan pikul untuk 8 baris tanaman. 400 m\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 2 : 1 jalan pikul untuk 4 baris tanaman. 400 m\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM 3 : 1 jalan pikul untuk 2 baris tanaman. 400 m\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPemeliharaannya\n dengan cara manual\/garuk atau dengan khemis di semprot dengan herbisida\n + 2.4 D.Amine 0,5% + Round up 0,6%. 1x\/2bln. 2 HK\/ha\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKetentuan dalam penggunaan nozzel untuk penyemprotan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 192px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nNOZZEL\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVol semprot \/ ha\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"142\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLebar Sapuan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerah\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBiru\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVLV 200\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVLV 100\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"197\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n600 – 1000 ltr\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n400 – 600 ltr\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n200 ltr\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n100 ltr\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"142\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,0 m\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,3 m\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,0 m\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,0 m\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Arial Black; font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003ED. \u0026nbsp; Pemeliharaan Jalan.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"184\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/jalan.jpg\" style=\"height: 184px; margin: 8px; width: 242px;\" width=\"242\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPengerasan\n jalan pada lokasi yang perlu dengan      standart 10 m\/ha\/th. Bahan 30 m\n padas dan 1,5 m sirtu (pasir batu). 0,2      JKT\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemeliharaan rutin dengan cara membabat rumput –      rumputnya. 1x3 bln.100 m\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EE. \u0026nbsp; Parit Drainase\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\nMencuci parit ( C )\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EB\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"202\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/parit.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 202px; margin: 8px; padding: 5px; width: 232px;\" width=\"232\" \/\u003Eersihkan parit-parit yang ada dari hilir ke hulu. 1x\/6 bln.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERumput-rumput di tebing parit dibabat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendalamkan Parit ( D )\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran dan bentuk dipertahankan seperti semula.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; C (m\/HK )\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; D (m\/HK )\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; P 25\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 15\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; S 40\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 20\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; T 60\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 30\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; K 90\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 40\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nParit : P (primer)\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; S (sekunder)\u0026nbsp;\u0026nbsp; T (tertier)\u0026nbsp;\u0026nbsp; K (kuarter)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EF. \u0026nbsp; Tapak Kuda\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTapak\n kuda dipelihara, dipertahankan pada bentuk semula. Pemeliharaan tiap 1 \ntahun sebanyak 25% dari jumlah yang ada. Dilakukan secara manual dengan \ncangkul. 10 sat\/HK.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EG. \u0026nbsp; Teras Kontur\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTeras kontur dipelihara pada bentuk dan ukuran semula. Pemeliharaan 1 tahun sebanyak 25% (rotasi 1x\/4 th ). 30 m\/HK.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EH. Benteng dan Rorak\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSecara manual, dipelihara seperti bentuk semula, 25% per tahun. 30 m\/HK.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EI\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E. \u0026nbsp; Penyisipan\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPohon yang mati\/tidak normal diganti dengan bibit yang baru.10 pk\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah sisipan yang normal : TBM 1 = 5%\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 2 = 2,5%\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 3 =1%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyisipan dilaksanakan pada musim hujan. Cara-caranya seperti pada tanaman kelapa sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EJ. \u0026nbsp; Konsolidasi\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDilakukan\n pada TBM 1. Pohon yang miring atau kurang tegak diluruskan, caranya \ndengan sedikit menimbun tanah kemudian dipadatkan. Saat mendapatkan \ndiperhatikan lurus\/mata lima dengan tanaman yang lainnya. Bila perlu \nditopang dengan bambu atau kayu.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EK. \u0026nbsp; Titi Panen\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"190\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tipan.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 190px; margin: 8px; padding: 5px; width: 216px;\" width=\"216\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk mempermudah pemanen mengambil\/mengangkut buah. Memasang 10 – 15 m\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat\n pada tempat-tempat yang di perlukan atau jumlahnya tergantung dari \njumlah parit dan saluran air. Panjang titi panen bergantung pada lebar \nparit dan saluran air. Penentuan jumlah dan panjang titi panen harus \ndidasarkan data sensus yang benar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELebar titi panen bergantung kepada kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan ketentuan lebar titi panen sekitar 20 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBahan : Jembatan\/titi Kayu\/beton.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemasangan : pada TBM 1= 25 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 2 = 25 %\u0026nbsp;\u0026nbsp; TBM 3 = 50 %\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EL. \u0026nbsp; Tempat Pengumpulan Hasil\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat 3 – 6\u0026nbsp;      bulan sebelum panen.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran 2 x 2 meter.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak antar TPH + 50 m ( tiap 6 gawangan ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenutup tanah\/rumput dibersihkan dengan cangkul.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EM. Inventarisasi Pohon\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDilakukan 1x\/tahun dengan memetakan dan menghitung jumlah pohon yang ada di lapangan. 1x\/th\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EN. Pemupukan\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nJenis\n dan dosis pupuk TBM mengikuti pedoman pada Bab Pemupukan. Standart \ntenaga tenega kerja 0,5 – 0,8 HK\/ha, dengan rincian umum:\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat administrasi persiapan \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 0,04 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengangkat pupuk\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 0,18 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenabur pupuk\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 0,30 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengumpul goni\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 0,04 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 0,56 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2x\/th. 0,5 – 0,8 HK\/ha tiap jenis pupuk.\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kacangan penutup tanah dipupuk sebagai berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E3-4 minggu setelah tanam majemuk Rustika 15-15-6–4 sebanyak 40 kg\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E3 bulan setelah tanam : 80 kg RP\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E6 bulan setelah tanam : 120 kg RP\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1 tahun setelah tanam : 150 kg RP\/ha.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E2 tahun setelah tanam : 200 kg RP\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EO. Analisa Daun\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EContoh daun mulai diambil pada masa TBM 3. 1x\/bln. 0,04 -0,06 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1 KCD (Kesatuan Contoh Daun) diambil dari setiap blok (16-25 ha).\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPohon contoh dan cara pengambilan contoh daun dapat dilihat pada bab pemupukan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EP. \u0026nbsp; Hama dan Penyakit\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ELihat pada bab Hama dan penyakit. 1x\/bln. 0,04      HK\/ha. 1x\/2 mg. 0,5 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESensus global.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESensus efektif dilakukan bila terdapat petunjuk      adanya kenaikan tingkat serangan hama\/penyakit.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EQ. \u0026nbsp; Monitoring Pembungaan\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMencatat pohon-pohon yang telah mengeluarkan bunga.      1x\/ bulan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara : dengan mengamati tiap pohon dan hasilnya      digambarkan pada peta sensus. 1 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Arial Black; font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003ER. Kastrasi\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n·\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Membuang bunga jantan dan betina, karena :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBuah yang jadi belum ekonomis di panen karena belum merata.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EEnergi agar dimaksimalkan untuk pertumbuhan vegetatifnya. 1x\/bln. 0,5 HK\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDilaksanakan\n mulai saat tanaman berbunga (14 – 18 ) bulan sampai 26-30 bulan atau \nbila jumlah bunga hasil monitoring pada suatu blok sudah mencapai 50%.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara\n : Semua bunga jantan dan betina sampai ketinggian 30 cm di atas tanah \ndibuang, pelepah jangan terpotong. Bunga yang masih kecil dipatahkan \ndengan mata pengait sedangkan bunga yang sudah besar dengan alat dodos. \nBunga-bunga tersebut dikumpulkan kejalan pikul dan kalau sudah kering \ndibakar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ES.\u0026nbsp; Tunas Pasir\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"165\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/dodos.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 165px; margin: 8px; padding: 5px; width: 148px;\" width=\"148\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDilakukan 1 kali \u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003Esaja \u003C\/span\u003Epada saat umur tanaman 18 atau      24 bulan. 1 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESemua cabang kering dipotong mepet ke pangkal batang      dengan alat dodos.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nStandard Kebutuhan HK dan Material\u0026nbsp;\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #006a79; font-family: Verdana; font-size: 12px; font-weight: 800;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567585\/STANDARKEBUTUHANHKMATERIALTBM.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10567585\/STANDARKEBUTUHANHKMATERIALTBM.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Arial; font-size: x-small;\"\u003EBiaya Estimasi Budget Perawatan dapat di download disini\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565666\/BudgetperawatanperTahuntbm0-1.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565666\/BudgetperawatanperTahuntbm0-1.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565774\/BudgetperawatanperTahuntbm2.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565774\/BudgetperawatanperTahuntbm2.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565774\/BudgetperawatanperTahuntbm2.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565838\/BudgetperawatanperTahuntbm3.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nBiaya Running Cost Versi Lain nya dapat di download disini\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565885\/RunningCostTBMI.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565885\/RunningCostTBMI.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565949\/RunningCostTBMII.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565949\/RunningCostTBMII.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565949\/RunningCostTBMII.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565968\/RunningCostTBMIII.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nBiaya Investasi Alat dan Perawatan Alat\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566002\/InvestasiAlat.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566002\/InvestasiAlat.pdf.htm\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566002\/InvestasiAlat.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566035\/EstimasiRuningcostAlat.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nTata Cara Kastrasi dapat di donlod disini\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E                             \u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617556\/KASTRASIDANPENYERBUKANBANTUAN.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10617556\/KASTRASIDANPENYERBUKANBANTUAN.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E "},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3400521772014556556"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3400521772014556556"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/penanaman-tbm-kelapa-sawit.html","title":"Perawatan TBM Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-2672845327362840169"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:39:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:30:52.345+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Penanaman Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EI. BATASAN \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKeteraturan\n tanaman dalam posisi maupun kerapatan tiap hektar sangat diperlukan \nuntuk memudahkan pengelolaan tanaman, terutama dalam hal pemanenan, \npemeliharaan dan perlakuan teknis argonomisnya. Pada areal bebukit \ndengan kemiringan dan panjang lereng yang bervariasi diperlukan \nsistematika khusus agar diperoleh keteraturan tersebut.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDengan \nriset mencobakan sistem penanaman menurut kontur yang memodifikasi dari \nsistem IRHO, diaral kebun kandista sari seluas 10 Ha, hasil uji coba \npada areal bergelombang dengan kewmiringan rata-rata 30-60% seluas 10 Ha\n diperoleh kerapatan rata-rata : 135.4 pohon\/Ha. Bagaimana pembukaan \nareal baru menunjukan bahwa ketidakaturan letak tanaman pada areal \nberbukut, baru akan menunjukan kesulitan apabila produksi mulai \nmeningkat (umur \u0026gt; 7 tahun). Karena pada saat penanaman, cara \npenanaman yang tepat sering disesuaikan terutama apabila areal yang \nharus dibuka cukup luas.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDiharapkan pedoman ini dapat membakukan\n cara penanaman pada areal berlereng yang selama ini masih berbeda beda \nantara satu kebun dengan kebun lainnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EKetentuan umum.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nCara ini digunakan untuk :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKemiringan lereng rata-rata lebih dari 20 derajat atau 36%.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPosisi tanaman mengikuti garis kontur.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKerapatan populasi 136 pohon\/Ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak antar kontur atau teras minimum 6 m dan maksimum 12 m.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EModifikasi dapat dilakukan sesuai kondisi dilapangan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003EPrinsip.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJika populasi tanaman diusahakan atau ditetapkan rata-rata 136 pohon\/Ha,maka :\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Cakupan areal rata-rata bagi tiap tanaman :\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cu\u003E10.000\u003C\/u\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; +- 73,5 m2\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 136\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESetara dengan jarak tanam : 8 m x 9,2 m pada areal datar.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKarena\n bentuk areal tidak datar yang dipakai sebagai pedoman adalah luas areal\n tiap pokok harus tetap yaitu : +\/- 73,5 m2. Jarak kontur bervariasi \nsesuai dengan kemiringan lereng sehingga jarak tanaman juga \nbervariasi.Luas cakupan areal untuk tiap tanam kira-kira berbentuk \nmendekati jajaran genjang dengan jarak tinggi adalah jarak kontur dan \nalas jajaran genjang merupakan jarak antar tanamaqn dalam kontur. : \u003Cb\u003ELuas cakupan tanaman = luas jajaran genjang = alas x tinggi\u003C\/b\u003E.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EA.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Memancang\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003E1.\u0026nbsp; Persiapan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan lahan \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENorma kebutuhan tenaga : 6 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPedoman arah barisan adalah U- S\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPemancangan\n dilakukan sesuai dengan jarak tanamnya (sistim segi tiga samasisi) . \nJarak antar barisan tanaman dan jumlah populasi per ha dilihat\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak Antar Barisan Dan Populasi\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 240px; width: 700px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak Tanam\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n( m )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"95\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak Antar Barisan\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n( m )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah Pohon\/ ha\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeterangan ( Untuk Menanam Bahan Tanaman )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"95\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7,80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n143\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EBerpelepah pendek\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"95\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,14\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n130\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EBatang besar, pelepah   panjang\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"95\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,22\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n128\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"228\"\u003EBatang besar, pelepah   panjang\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EJarak antar barisan = 0,86 x jarak tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBahan\n \/ alat pancang : pancang tanaman dibuat dari bambu kecil panjang 1 \nmeter, pancang kepala panjang 2,5 m di cat bagian atasnya.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKawat diameter 2 – 3 mm sebanyak 2 utas masing – masing sepanjang 100 M\u0026nbsp; Tiap – tiap kawat diberi tanda sebagai berikut.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKawat I : Diberi tanda tiap jarak tanam ( cnth 9 m ); ujung ditambah 4,5 meter untuk mengukur jarak pancang hidup \u0026amp; mati. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKawat II : Diberi tanda jarak baris yaitu tiap 7,8 m.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2. Cara memancang\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003Ea. Pada Areal Datar\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDimulai\n dari luasan 1 ha terlebih dahulu ( pancang hektaran ) ukuran 100 x 100 \nm.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Contoh : Jarak tanam 9,0 segitiga samasisi ( 9 x 7,80 m )\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETentukan\n titik awal A berjarak 1.95 M (1\/4 X7.80 M ) dan 2.25 m (1\/4 x9.0 m ) \ndari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal pancang \nhidup.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKawat I ; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. \nPada tiap titik 9 m ditancapkan pancang kepala. Perentangan dibantu \ndengan kompas.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKawat II ; direntangkan arah Barat – Timur. Pada \ntiap jarak antar baris 7,8 m ditancapkan pancang kepala No ganjil \npancang hidup , no genap pancangan mati.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemudian kawat I \ndigeser sejauh 7,8 m sejajar dengan barisan ke arah Barat \/ Timur . \nTancapkan pancang pada 4,5 ( pancang mati ) dari B 1 kemudian tiap 9 \nmeter.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancangan hidup 9 meter. Buat seterusnya sampai 10 barisan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua jurusan ( mata lima).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat dilanjutkan untuk memancang seluruh areal\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cli\u003ETim pemancang ; 1 tim terdiri dari atas 5 orang : \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPeneropong 1 orang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenarik tali 2 orang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemancang 1 orang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembawa pancang 1 orang\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"color: red;\"\u003E\u003Ci\u003E \u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003Eb. Pada Areal Miring Teras Kontur\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJarak kontur; seperti telah disampaikan pada \"Pembukaan Areal\" \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETitik tanam dalam barisan kontur diusahakan sama dengan jarak tanam sistim segi tiga sama sisi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EB. Kacangan Penutup Tanah\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTanaman\n penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk \nmelindungi tanah dari ancaman \u0026nbsp;kerusakan oleh \u0026nbsp;erosi dan \/ atau untuk \nmemperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTanaman penutup tanah berperan: \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Emenahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emenambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emelakukan\n transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman \npenutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air \nhujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan \nmemperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTumbuhan\n atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan \ndigunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat \n(Osche et al, 1961): \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Emudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emempunyai\n sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman \npokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak \nmensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Etumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Etoleransi terhadap pemangkasan, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Eresisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emampu menekan pertumbuhan gulma, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Emudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Esesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Etidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003E1. Jenis – jenis kacangan\u003C\/b\u003E : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EPueraria javanica\u003C\/i\u003E ( PJ )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003ECentrocema pubescens\u003C\/i\u003E ( CP )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003ECalopogonium mucunoides\u003C\/i\u003E ( CM )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECalopogonium \u003Ci\u003Ecaeruleum\u003C\/i\u003E ( CC )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EPeuraria phaseoloides\u003C\/i\u003E ( PP )\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUmumnya digunakan secara campuran ; perbandingan campuran untuk kebutuhan per ha sbb\u0026nbsp; :\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E3 kg PJ + 5 kg CM = 8 kg\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E3 kg PJ + 3 kg CM + 4 kg CP = 10 kg \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E3 kg PJ +5 kg CM stek CC 1250 polibag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1 kg CC + 3 kg PJ = 4 kg\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E3 kg PJ + 8 kg CP =11 kg\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1 kg CC + 8 kg CP = 9 kg\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E2 kg PJ + 1 kg CP + 2 kg CM = 5 kg \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003E2. Penanaman Kacangan\u003C\/b\u003E\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"107\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/borneo_5070.JPG\" style=\"height: 107px; margin: 8px; width: 160px;\" width=\"160\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBenih\n kacangan dionokulasi dengan Rhyzobium. Tiap       10 – 15 kg benih + \nair 250 cc + 1 bungkus rhyzobium, diaduk rata di       tempat teduh dan \ndikering anginkan. Norma kerja 4 – 6 hk\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKacangan ditanam \npada jalur \/ larikan yaitu didalam       gawangan. Arah sejajar dengan \nbaris U – S. Waktu menanam kacangan       dicampur pupuk RP 10-15 kg\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman\n dengan cara campuran atau tiap larikan       hanya terdiri dari 1 jenis\n kacangan saja. Larikan dibuat paliran ataupun       ditugal tiap jarak \n15 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemupukan larikan 125 kg RP\/ha.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESecara normal diperlukan waktu 4-6 bln agar       kacangan 100 % menutup areal.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nMengingat\n persoalan penanaman kacangan adalah salah suatu produk bagaimana \nmembangun perkebunan kelapa sawit, dan karena keterbatasan halaman, maka\n untuk lebih jelasnya soal kacangan dapat di donload di link berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/19118221\/KACANGANLCC.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/19118221\/KACANGANLCC.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E  \u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Impact; font-size: medium;\"\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EC. Lubang Tanam \u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat\u0026nbsp; ± 1 minggu sebelum      tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran lubang 60 x 40 x 60 cm (lebar atas,bawah dan      kedalaman )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPrestasi kerja 20 – 30 st\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara membuat lubang :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat garis dengan cangkul 60 x 60 cm (bujur sangkar) pada permukaan tanah titik pusatnya pancang yang sudah ada.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemudian tanah digali ukuran 60 x 40 x 60 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk memperoleh ukuran yang tepat dibantu dengan mal\/pola dari kayu dan papan \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELapisan atas tanah galian dipisahkan dengan lapisan yang bawah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelesai membuat lubang pancang dikembalikan ke tempat semula.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ED. Persiapan Bibit\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003Eumur bibit adalah 9 – 12 bulan di pembibitan utama.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1\n – 2 minggu sebelum tanaman bibit diputar terlebih      dahulu untuk \nmelepaskan akar yang sudah masuk ke tanah. Kebutuhan norma      100 \nbbt\/HK\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELakukan seleksi tahap akhir sesuai dengan      pedoman\/standar. Kebutuhan norma 100 bbt\/HK\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKumpulkan bibit sehat dan normal tiap 100 – 200      bibit.\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n bibit tua daunnya dipangkas dengan ketinggian      1 – 1,5 m dari \npangkal pelepah, bentuk kerucut dengan kemiringan 30 – 45º\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n seluruh perluasan, konversi dan peremajaan      hanya dibenarkan \nmenanam bibit minimal berumur 6-8bulan dalam kantong      plastik besar \natau 10-12 bulan terhitung dari sejak ditanam baby bags.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk \nsisipan hanya dibenarkan pemakaian bibit yang      berumur lebih tua, \nyakni minimum berumur 12 bulan dalam kantong besar atau      16-17 bulan\n sejak ditanam dalam babybags.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada pagi hari sebelum diangkat \nkelapangan, bibit      harus disiram berat dengan air dan diberi dan \ndiberi Temik 10 gr per      polybag.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESelama pengangkutan, baik \ndari bibitan ke alat      transport maupun dan yang terakhir ini \nkelapangan, bibitan jangan      sekali-kali dipegang pada lehernya \nmelainnkan harus diangkat pada dasar      kantong.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EE.\u0026nbsp; Pengangkutan\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPersiapan\n penanaman dilapangan perlu dilakukan dengan membentuk beberapa tim yang\n terpisah untuk melakuakan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPemuatan bibit keatas kendaraan (dipembibitan).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembongkaran bibit pada setiap rintis yang      ditentukan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengeceran (pendistribusian) bibit ketitik tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuiatan lubang tanam dan pemberian pupuk dasar.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman kelapa sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenanaman\n kelapa sawit pada areal seluas 2.000 ha dilakukan dalam 5 bulan atau \n125 hari bekerja (seratus hari efektif atau 20 ha\/hari). Penanaman \nseluas 20 ha\/hari memerlukan sarana transportasi bibit, berupa 7 unit \ntruk dengan kapasitas angkut 100 bibit\/trip yang beroperasi minimum 4 \ntrip\/hari.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAsisten \n(staf) yang bertanggung jawab terhadap penanaman dilapangan harus \nmembuat tanda-tanda dimana lokasi pembongkaran bibit. Lokasi \npembongkaran ini dibuat pada ujung setiap rintis dan harus jelas berapa \njumlah bibit yang diturunkan pada setiap titik p\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003Ee\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003Embongkaran.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDiperlukan\n 2-3 orang tenaga kerja untuk membongkar bibit, yaitu 1 orang \ndikendaraan dan 1-2 orang menyusun bibit ditanah. Setiap pengiriman \nbibit kelapangan sudah termasuk pengiriman pupuk pospat (Rp atau TSP) \ndan CRF Meister dalam kantong-kantong yang diikatkan pada setiap bibit. \nDosis rekomondasi untuk pemupukan lubang tanam ini yaitu 125 g TSP\/bibit\n dan 300 g Meister\/bibit.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPengeceran\n bibit dari lokasi pembongkaran ketitik tanam dapat mencapai 125 \nbibit\/HK. Dengan jarak pengangkutan bibit kedalam blok maksimum 150 m \n(atau 300 m pulang pergi) ditambah dengan 10-15% waktu untuk meloncati \nbatng-batng melintang maka rata-rata jarak yang ditempuh untuk \npengeceran setiap bibit sekitar 195 m. Jika setiap tukang ecer bibit \nmembawa 1 bibit dengan kecepatan jalan 3-4 km\/jam maka dalam satu hari \nkerja (7jam) dapat diecer sekitar 125 bibit\/HK, untuk memgecer 2.720 \nbibit (20 ha) per hari, dibutuhkan 22 orang. Pembongkaran dan pengeceran\n bibit ke dalam blok perlu diawasi oleh seorang mandor. Selam \npengangkutan dan pengeceran kedalam blok, bibit harus diangkat pada \ndasar kantongnya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPengangkutan\n harus dilakukan pada bola tanahnya secara hati-hati agar tidak terjadi \nkerusakan bibit. Pengangkatan sebaiknya tidak dilakukan pada leher \nakarnya karena bisa menyebabkan bibit ”patah pinggang”. Bibit harus \ndiangkat dalam keadaan berdiri dan bagian bawah ditopang dengan bahu. \nSaat meletakan bibit di sisi lubang, harus dilakukan dengan hati-hati \ndan jangan dibanting.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EPersyaratan umum\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EPagi hari sebelum diangkat ke lapangan, bibit      disirami.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EBibit yang baik dan normal (sesuai standart)      diangkut dengan truk. 1 truck ± 100 bbt\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ESampai dilokasi, diturunkan dibeberapa tempat (titik      ecer) sesuai kebutuhan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ERegu\n pengecer membawa bibit ketitik pancang, ingat      cara mengangkat \njangan dipegang lehernya tapi diangkat pada dasar polibag.      Norma \nkerja 50 bbt\/HK.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EF. PERSIAPAN PENANAMAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ELubang tanam minimal 6 bulan setelah disisapkan      untuk mengurangi keasaman tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EBibit\n harus setiap hari tanam ditransport kelapangan      dan untuk pekerjaan\n tersebut harus kontinue agar pekerjaan menanam dapat      berlangsung \nterus sepanjang keadaan curah hujan memungkinkan. Khusus untuk      \nkebun-kebun yang berada di Aceh Barat dan Selatan pekerjaan menanam \ndapat      berlangsung sepanjang tahun relatip tinggi (4000 mm per tahun\n ) kecuali      musim kemarau bulan Juli\/Agustus.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ELubang tanam \nharus ditimbun terlebih dahulu sebelum      ditanami dan dipadatkan \ndengan cara menginjak-nginjak. Waktu menimbun      harus diperhatikan \nagar sub soil tetap berada dibagian gawah dan harus      bebas dari \nrerumputan, sampah-sampah serta akar-akar.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EAgar penanaman jangan\n terlalu dalam, maka alat      kontrol sewaktu menimbun lubang pertama \ndigunakan bambu atau besi beton      3\/8 ”.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ESetelah tinggi\/bola \ntanah\/putaran bibitan (35 cm)      sesuai dengan sisa dalamnya \nlobang\/setelah ditimbun pertama maka kantong      plastik dikoyak dengan\n pisau cukur atau pisau tajam lalu bibitnya lalu      bibitnya diletakan\n dengan hati-hati kedalam lubang tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ESebelum ditimbun \nterlebih dahulu      perhatikan\/disesuaikan dulu bibit tersebut dengan \nbarisan tanaman dan      untuk ini perlu\/mutlak harus di senter kearah \ntiga jurusan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EApabila posisi\/duduknya telah sesuai\/cocok, maka  \n    lubang mulai ditimbun sekeliling bibit dengan tanah bekas galian \nlubang      tanam tersebut lebih kurang setengah, kemudian diinjak-injak\n sampai padat.      Perlu diawasi agar bola tanahnya jangan terinjak \nsupanya jangan sampai      pecah dan terjadi patah pinggang. Untuk \nmencegah patah pinggang tersebut,      maka sewaktu transport bibit \nharus hati-hati.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EKemudian lubang tanam dipenuhi dengan tanah \nbekas      galian dan di injak-injak sampai padat sehingga timbunan \ntanah tersebut      persis pada leher akar dan tanaman betul-betul kuat \nberdiri.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EPada areal yang baru ditanam doyong\/miring apabila     \n terjadi angin kencang atau hujan lebat, untuk mengatasi ini perlu \ndipasang      kaki tiga (tripoda)untuk menyokong tanaman tersebut. \nSelanjutnya harus ada      kontrol perbaikan (pengukuhan) pokok-pokok \ndonyong tersebut secara rutin.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003EPiringan harus dibuka 1.8 – 2.0 meter dan selalu      dalam keadaan bersih. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EG. Menanam\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSehari\n sebelum penanaman, bibit sudah diecer kedalam blok bersama-sama dengan \nkantong yang berisi 150 g pupuk TSP dan 300 g pupuk Meister. Pemberian \npupuk pospat pada dasar dinding lubang tanam dimaksudkan untuk \nmerangsang pertumbuhan akar. Sebelum dilakukan penanaman, lubang tanam \nharus ditimbun dengan lapisan tanah bawah dan dipadatkan dengan cara \ndinjak-injak, supaya penanamn bibit jangan terlalu dalam (terbenam) maka\n ketinggian tanah sewaktu penimbunan pertama ini harus dikontrol agar \nkedalamannya harus tersisa 35 cm lagi. Pengontrolan dapat dilakukan \ndengan bambu atau besi beton berdiameter 3\/8” dengan panjang 35 cm.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSetelah\n lubang tanam ditimbun dan kedalamannya tinggal sekitar 35 cm (sesuai \ntinggi tanah dalam polybag), kantong plastik dikoyak dengan pisau, \nkemudian diletakan hati-hati dalam lubang. Sebelum ditimbun, possisi \nbibit harus diatur (di”senter”) sehingga daunnya menghadap kearah tiga \njurusan (sistem matalima).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPenimbunan likakukan dengan lapisan tanah \natas dan injak-injak sampai padat sehingga timbunan tanah tersebut \npersis sejajar dengan leher akar dan tanaman dapat berdiri tegak. Perlu \ndiperhatikan, agar bola tanah bibit jangan sampai terinjak (pecah) \nsehingga dapat terjadi \u003Cb\u003E\u003Ci\u003E”patah pinggang”\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E. Norma prestasi menanam berkisar 20-30 pokok\/HK.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKesalahan-kesalahan yang harus dihindari pada penanaman kelapa sawit sebagai berikut:\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBibit ditanam terlalu dalam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit ditanam terlalu tinggi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit ditanam miring\/tidak tegak.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah pada large bag (bola tanah) dipecah dan      dibuang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELarge bag dipotong dan ditiggal didalam lubang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELarge bag tidak dibuka sebelum tanam. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;Alternatif Lain \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"81\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tree10.gif\" style=\"height: 81px; margin: 8px; width: 74px;\" width=\"74\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPeriksa\n kembali kedalaman lubang dibandingkan dengan      tinggi polibag bibit,\n sesuai dengan cara menimbun\/menggali lagi. Norma      15-20 bibit\/hk.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETaburkan pupuk RP 500 gr atau TSP 400 gr,1\/2 dosis      terlebih dahulu. \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit dimiringkan, alas polibagnya disayat keliling      dan ditarik.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit diturunkan ke dasar lubang, letaknya      diserasikan dengan barisan tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESisi polibag kiri dan kanan disayat dari bawah ke      atas, jangan dicabut dulu.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMasukan\n tanah lapisan atas terlebih dahulu, sampai      bola tanah tidaK goyang\n lagi, kemudian polibag ditarik pelan-pelan sambil      tanah terus \ndiisi sedikit demi sedikit sampai penuh\/rata permukaannya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemudian didapatkan dengan diinjak-injak, sambil      diperhatikan posisi bibit harus mata lima kesemua jurusan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPiringan dibuat keliling dengan diameter 1,0 meter.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESisa pupuk (1\/2 dosis ) ditabur secara merata di      piringan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETancapkan pancang disisi tanaman dan bekas      polibagnya diujung pancang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESawit\n yang ditanam pada lembah yang curam seringkali      mengalamai \netiolasi. Untuk itu titik tanam awal berjarak horizontal 9 m      dari \npohon terakhir yang ditanam di tebing dan jarak selanjutnya mengikuti   \n   ketentuan standar.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila titik tanam jatuh pada jalan atau \nparit, maka      harus dipindahkan minimal 1,5 m dari pinggir jalan atau\n parit, dengan      mempertimbangkan jarak pohon sawit yang berdekatan \nminimal 6 meter.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tabel Jarak Antar Tanaman\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EJarak Tanam\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003E( m )\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EJarak Antar\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EBarisan ( m )\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EJumlah\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EPohon\/Ha\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EKeterangan (untuk Menanam\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EBahan Tanaman )\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7,80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n143\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"204\"\u003EBerpelepah pendek\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,14\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n130\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"204\"\u003EBatang besar,pelepah   panjang\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,22\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n128\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"204\"\u003EBatang besar,pelepah   panjang\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EH. Peta Tanaman\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah 1 – 2 minggu selesai menanam, dibuat peta      tanaman\/Raystaat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENorma tenaga kerja 1 HK\/blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat :\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EFormulir dengan sistim tanaman segitiga samasisi\/chart well.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAlat tulis.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ECara :\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPemetaan dilakukan blok per blok.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDimulai dari sudut blok, petugas pemetaan berjalan ditengah gawangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPetakan dan beri tanda pada formulir, dengan tanda :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E0 : tanaman ada.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E= : Pancang tak ditanam karena parit\/lain-lain.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah\n selesai, 1 gawangan dibatas ujung blok petugas melanjutkan pemetaan \ndengan arah berbalik dan tetap memetakan gawangan per gawangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDemikian seterusnya sampai selesai.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeta di check kembali 1 kali\/tahun untuk inventarisasi tanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EI. Patok Blok\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETiap – tiap blok di beri tanda batas blok dengan      blok kayu atau beton bertulang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPatok ditempatkan pada 4 sudut blok.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EInformasi yang ditulis pada patok adalah :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u003Cb\u003ENo blok\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tahun Tanam\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Luas Areal\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;ha\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;Bahan Tanaman\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; : \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPenomoran blok ditulis warna putih dengan latar      belakang merah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ENama bahan tanaman :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; M\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Marihat\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; LS\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; : Lonsum\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; SC\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Socfindo\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; D\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Dami\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; DM\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Dami Mas\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; ASD\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Costa Rica\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; TC\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Kultur Jaringan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: Impact; font-size: medium;\"\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-family: Times,\u0026quot;Times New Roman\u0026quot;,serif;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EJ. Konsolidasi pokok doyong dan penyisipan.\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerawatan\n yang perlu dilakukan pada tanaman yang baru ditanam dilapangan hanya \nsedikit, disamping pekerjaan rutin. Pekerjaan rutin yang dimaksud yaitu \npengendalian gulma, pemupukan dan ablasi (pembuangan infloressen bunga \ndan tandan buah yang masih muda).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPekerjaan\n konsolidasi (menegakan pokok doyong hanya dilakukan 1 rotasi (setelah 1\n minggu penanaman), bahjan tidak perlu dilakukan\u0026nbsp; kecuali jika angin \nkencang dan hujan lebat setelah penanaman dilapangan. Terlalu sering \nmelakun konsolidasi pokok dapat menyebabkan stagnasi karena akar yang \nbaru terbentuk akan mudah rusak. Untuk mengatasi hal ini perlu dipasang \nkaki tiga (tripoda) untuk menyokong tanaman tersebut. Selanjutnya harus \nada kontrol dan pengukuhan pokok-pokok doyong tersebut secara rutin.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPenyisipan\n merupakan suatu pekerjaan penting diperkebunan kelapa sawit supaya \nsemua titik tanam hidup dan menghasilkan produksi per ha yang maksimal \nserta menekan pertumbuhan lalang dan gulma lainnya. Penyisipan harus \ndilakukan sedini mungkin, penyisipan yang terlambat akan menjadi sia-sia\n karena tanaman sisipan tersebut tidak dapat mengejar pertunbuhan \ntanaman awal. Pekerjaan awal sisipan yang terpenting yaitu sensus dan \nidentifikasi pokok.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPrinsip\n palaksanaan teknis (bibit dan tanaman) penyisipan sama dengan pekerjaan\n penanaman, namun perencanaan, persiapan dan penguasaan teknisnya perlu \nlebih teliti karena pekerjaan ini mempunyai resiko kegagalan yang fatal,\n Sisipan sebenarnya merupakan inventasi ulang akibat kegagalan pekerjaan\n awal penanaman (rework). Olehkarena itu, penyisipan yang dilaksanakan \nharus menjamin kelangsungan hidup tanaman sampai dengan berproduksi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPenyisipan\n pengganti pokok-pokok abnormal atau mati harus dilakukan pada saat TBM \ndan sudah selesai pada akhir tanhu ke 1 dan harus dipelihara secara \nintensif. Bibit yang ditanam untuk tanaman yang baru sebaiknya \nmenggunakan bibit yang seumur dengan tanaman yang disisip. Pokok sisipan\n ditanam pada bekas tanaman yang sudah dibongkar supaya bariasan tanaman\n tetap lurus.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWaktu \npenyisipan sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan dan melakukan \ndengan mengantisipasi serangan hama dan panyakit yang mungkin terjadi. \nPenyisipan umumnya sudah harus selesai dilakukan 1 tahun setelah \npenanaman. Jumlah tanaman yang harus disisipkan dapat beragam karena \nkondisi cuaca dan cara penanaman, tetapi pada penanaman yang baik biasa \ntidak lebih dari 25%.\u0026nbsp; Penyisipan termasuk menganti pokok yang mati dan \npokok pokok abnormal yang ”lolos” dari seleksi di pembibitan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EII. \u0026nbsp;\u0026nbsp; Penanaman Kelapa Sawit di Tanah Gambut\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Persiapan Penanaman di Tanah Gambut\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDrainase harus dibuat sesuai dengan kebutuhan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah drainase dibuat, sebaiknya areal dibiarkan minimal 6 bulan agar tanah mengalami penurunan dan pemadatan secara alami\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemadatan\n tanah pada jalur tanam dapat dilakukan secara mekanis minimal 2 kali \n(dengan cara dilindas bolak-balik) dilewati excavator PC 100 atau PC 200\n tergantung kedalaman dan kematangan gambut\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Lubang Tanam Di Tanah Gambut \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan\n lubang tanam dilakukan setelah tanah pada jalur tanam dipadatkan. \nLubang tanam dibuat secara mekanis dengan Preplant Compactor :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPreplant Comapactor dipasang pada lengan excavator sebagai pengganti bucket excavator\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPreplant compactor diarahkan tepat pada titik tanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPancang titik tanam menjadi as dari lubang titik tanam yang akan dibuat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah\n arah preplant compactor tepat pada titik tanam, lengan excavator \nmenekan preplant compactor tersebut sampai seluruhnya masuk ke dalam \ntanah, kemudian di tarik kembali sehingga terbentuk lubang tanam sesuai \ndengan ukuran yang diinginkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat excavator membuat lubang tanam, kegiatan ini juga berfungsi untuk memadatkan jakur panen.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman\n di areal yang tidak terlalu luas atau terpencar, pembuatan lubang dapat\n dilakukan secara manual dengan sistem lubang di dalam lubang (hole in \nhole)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETahap awal dibuat lubang dengan ukuran 120 cm x 100 cm x kedalaman 30 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E  Pada bagian tengah lubang tanam dengan ukuran yang normal 60 cm x 60 cm x 40 cm\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Rumus Jarak Tanam Kelapa Sawit dapat di download disini\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10568250\/rumusjaraktanam.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10568250\/rumusjaraktanam.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2672845327362840169"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/2672845327362840169"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/penanaman-kelapa-sawit.html","title":"Penanaman Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-3062368533625439610"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:38:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T11:04:55.228+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pembibitan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EA. Tahapan Pembibitan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPre Nursery      (pembibitan awal) selama 3 bulan pertama dengan polibag\u0026nbsp; kecil\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMain\n Nursery      (pembibitan utama) bibit dipindahkan ke dalam polibag \nbesar, dipelihara      selama 9 – 12 bulan sampai siap untuk dapat \nditanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUmur bibit yang dapat ditanam di areal pertanaman :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Epaling muda\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 8 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Eideal\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 12 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003Epaling tua\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 24 bulan; untuk daerah yang rawan hama\u0026nbsp; (gajah, babi, beruang, tikus, dan landak\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EB. Lokasi Pembibitan\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vomNgs_velQ\/UG-qThjFdUI\/AAAAAAAACSk\/d4W0sB7cD4k\/s1600\/ecer+bibit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vomNgs_velQ\/UG-qThjFdUI\/AAAAAAAACSk\/d4W0sB7cD4k\/s320\/ecer+bibit.jpg\" width=\"237\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETanah\/arealnya\n rata\/datar. Jika areal datar tidak      diperoleh dapat juga digunakan \nareal bergelombang atau berbukit namun      perlu dibuat teras-teras \nyang disesuaikan dengan kemiringannya asal saja      jaringan \npenyiramannya mampu mencapai tempat tertinggi atau terjauh.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDekat\n dengan sumber air dan airnya tersedia      sepanjang tahun. Bibit perlu\n disiram 2 kali sehari jika tidak turun hujan      yaitu dari pagi \nsampai pukul 11.00 wib siang dan sore mulai pukul 16.00      wib. Bibit \nmemerlukan banyak air yaitu \u003Ci\u003E0,25      – 2 liter\u003C\/i\u003E tergantung dari umur dan kondisi bibit. Air harus bersih dan      tidak beracun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDekat dengan areal yang akan ditanami jika mungkin      ditengah lokasi untuk mengurangi biaya angkutan bibit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDrainasenya baik\/arealnya tidak tergenang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAman dari gangguan hama berupa binatang besar maupun      serangga, dekat dari pengawasan dan mudah dikunjungi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDekat dari sumber tanah untuk pengisi kantong      plastik (top soil) karena tiap kantong besar membutuhkan \u003Ci\u003E20-25 kg tanah\u003C\/i\u003E \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EC. Kebutuhan dan Pengadaan Bibit\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan bibit\/kecambah sebanyak 140% dari jumlah      yang akan ditanam.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerhitungannya adalah :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESeleksi kecambah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 2,5%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeleksi di pembibitan awal\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 10%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESeleksi di pembibitan utama\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 15%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECadangan penyisipan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 5%\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan kecambah = 100\/97,5 x 100\/90 x 100\/85 x      100\/95 = 1,40 x jumlah pohon\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKerapatan 130 ph\/ha (9,4 m) diperlukan kecambah      180\/ha Kerapatan 143 ph\/ha (9,0 m) diperlukan kecambah 200\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp; Sistem tanam segitiga sama sisi\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKecambah\n dibeli 12 bulan sebelum rencana penanaman.      Bila rencana penanaman \ndalam jumlah banyak, pemesanan sebaiknya bertahap      sesuai dengan \nfasilitas dan tenaga yang ada.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk tempat yang agak jauh dari sumber benih,      pengangkutan agar diusahakan dengan cargo (angkutan) udara\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBenih\n yang sudah diterima agar ditempatkan di tempat      yang teduh kemudian\n segera ditanam karena paling lama hanya dapat bertahan      3-5 hari \ndari tempat penghasil benih\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan benih dan luas pembibitan :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 368px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLuas areal yang akan Ditanami (ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKebutuhan Benih\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLuas Pembibitan awal (ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBibit ke Pembibitan utama\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLuas Pembibitan utama (ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBibit Yang Akan Ditanam ke Lapangan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n500\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n90.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n81.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n68.850\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n180.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n162.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n137.700\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1500\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n270.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n243.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n17\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n206.650\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n360.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n324.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n23\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n275.400\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2500\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n450.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0.9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n405.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n29\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n344.250\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"89\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n540.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n486.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"113\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"98\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n413.100\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ci\u003E\u003Cu\u003EKeterangan :\u003C\/u\u003E\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPerhitungan tersebut menggunakan standar seleksi di pembibitan awal 10% dan pembibitan utama 15%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk areal seluas 1 ha dapat digunakan untuk pembibitan awal sebanyak 500.000 polibag dan pembibitan utama ± 14.000 polibag\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: right;\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EStandard kebutuhan per ha pembibitan tenaga kerja : 5–6 hk per hari\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003ED.\u0026nbsp; Penyiraman Bibit\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sistem penyiraman yang harus digunakan perlu dipertimbangkan :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBerapa\n luas pembibitan yang akan dibangun dan berapa      lama atau berapa \ntahun akan digunakan. Jika penggunaannya cukup lama atau      akan \ndigunakan lebih dari 5 tahun mungkin pemakaian sprinkler akan lebih     \n menguntungkan karena akan memperkecil biaya penyusutan dari \ninstalasinya.      Demikian pula dengan luasnya, luas hendaknya sesuai \ndengan kapasitas pompa      yang akan digunakan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBagaimana \ndengan keadaan areal pembibitan tersebut      apakah rata atau \nbergelombang. Rata dengan sprinkler lebih baik,      bergelombang dengan\n semi mekanis akan lebih murah dimana dapat      memanfaatkan tenaga \ngravitasi. Cara ini dilakukan dengan membangun bak      penampung \nditempat yang tertinggi dan baru dialirkan ke tempat yang lebih      \nrendah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBerapa jauh sumber air (sungai atau kolam air) dari      \npembibitan. Jika cukup dekat penggunaan sprinkler mungkin cukup baik. \nJika      terlalu jauh maka perlu pertimbangan lain apakah pompa yang \ndigunakan      mampu.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBagaimana dengan persediaan tenaga yang ada. \u003Ci\u003EPenggunaan sprinkler memerlukan tenaga      kerja yang lebih sedikit 4.000 bibit\/hk sedangkan secara manual 2.500      bibit\/hk\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBerapakah debit air yang ada terutama pada musim kemarau.      Untuk \u003Ci\u003E1 ha dibutuhkan lebih dari 77      m3\/hari (bibit saja 2,5 liter\/hari, sisanya untuk peresapan dan pengaliran      di permukaan)\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EE. Kebutuhan Air Bibit\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPembibitan awal, kebutuhan air per pokok \u003Ci\u003E: 0,1 – 0,3 liter\/hari\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembibitan utama :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur Bibit ( bulan )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"252\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKebutuhan Air\/pokok\/hari ( liter )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0 – 3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3 – 6\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6 - 12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"252\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1   (sprinkler 1,5 jam)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2   (sprinkler 1 jam 45 menit)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3   (sprinkler 2 jam\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nSumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EF. Instalasi penyiraman\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Secara Manual\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003EAir dihisap dari sungai dengan menggunakan pompa air dan dialirkan ke areal pembibitan dengan menggunakan pipa dan selang\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPipa primer 6 inch ditempatkan ditengah-tengah lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECabang I dengan pipa 2 inch\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECabang II dengan pipa 1 inch yang disambung dengan selang plastik 25 m yang ujungnya diberi gembor\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyiraman dilakukan dengan tenaga manusia\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sprinkler\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPenggunaan pipa :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"161\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/springkler.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid rgb(221, 221, 221); height: 161px; margin: 8px auto; padding: 5px; width: 257px;\" width=\"257\" \/\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPenyiraman Menggunakan Sprinkler\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPipa induk 6 inch dari rumah pompa\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPipa\n utama 4 inch dilengkapi dengan kran (valve) ke pipa distrubusi 2 inch. \nTiap sambungan dilengkapi stand pipes 0,75 inch yang dipasang berdiri \ndan ujungnya dilengkapi dengan nozzle yang dapat memancarkan air dan \nberputar karena aliran air\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada tiap pipa distribusi terdapat 8 – 10 sprinkler yang berjarak 9 – 18 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk 8 ha pembibitan diperlukan 30 sprinkler, 2 line pipa distribusi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan air ± 75 m3\/ha\/hari. Efisiensi 30-40%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPompa berdaya pancar 45 psi (3,6 kg\/cm2)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKekuatan pompa 18-20 HP untuk 8 ha pembibitan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EG. Pembibitan Awal (Pre Nursery)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Persiapan Areal\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EAreal yang sudah di buka (LC) dibersihkan dan diratakan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan bahan\/tenaga : Manual \u003Ci\u003E20 HK\/Ha\u003C\/i\u003E dan mekanis 6 JKT (Jam Kerja Traktor) per ha\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan areal 1 m2 untuk 70 bibit pada pembibitan      awal\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Membuat Bedengan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran bedengan : lebar bedengan 1,2 m ; jarak antar      bedengan 0,8 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah bibit dalam satu bedengan : 840 bibit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan tenaga untuk membuat bedengan : \u003Ci\u003E1,5 HK\/bed\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETepi bedengan diberi batas dengan bambu atau papan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah bahan digunakan : 4 bambu @ 6 m dan 5      papan\/bed\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Menabur Pasir\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBedengan ditaburi pasir secara merata sampai setebal      2 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan pasir : 0,3 m3\/bed\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja : \u003Ci\u003E0,2 HK\/bed\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Meracun Serangga\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDua hari sebelum digunakan bedengan disemprot dengan      insektisida, contoh Sevin atau Thiodan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah dan      jenis bahan digunakan : Sevin 85 EC dosis : 5 cc\/l air\/bed\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja : \u003Ci\u003E1 HK\/30 bed\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Naungan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPada\n tahap awal bibit harus diletakkan di bawah      naungan, setelah dua \ndaun keluar (1,5 bulan) naungan dapat dikurangi      sebesar 50% dan \nsetelah daun ketiga keluar (2,5 bulan) naungan harus sudah      \ndihilangkan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELuas naungan minimal sebesar bedengan dengan tinggi ± 2 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBentuk\n naungan : tiang dibuat dari bambu atau besi      siku setinggi 2 m, dan\n jarak antar tiang 3 m. Atap dari pelepah kelapa      sawit atau dari \nshadownet.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah bahan yang digunakan : 7 bambu\/bed @ 6 m dan      10 pelepah\/bed\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja membuat naungan : \u003Ci\u003E1 HK\/bed \u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mengumpulkan Tanah\/Media Tanam\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"255\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/tanam%20kecambah.jpg\" style=\"height: 255px; margin: 8px; width: 191px;\" width=\"191\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMedia\n tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30      cm) tanah mineral \ndengan tekstur lempung, kecuali di areal gambut dapat      menggunakan \ntanah gambut\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah diayak dengan saringan kawat 2 cm agar bersih      dari akar, rumputan, batuan dan sampah lainnya. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHasil pengayakan ± 60% (dari 1m3 diperoleh ± 1.000 kg tanah)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila tanah terlalu padat\/liat dicampur dengan pasir      perbandingan 3:1\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMedia tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk RP per      ± 2 m3 tanah (± 1.000 polybag      kecil)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengumpulkan      tanah secara \u003Ci\u003Emanual 1,5 m3\/HK\u003C\/i\u003E      sedangkan secara \u003Ci\u003Emekanis 8 JKT\/Ha\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengayak \u003Ci\u003E3 m3\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Ukuran Polybag\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran polybag kecil 0,075 mm x 15 cm x 23 cm lay      flat, warna hitam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah diisi berukuran : diameter ± 10 cm dan tinggi ± 17,5 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELubang polybag berjumlah 12-24 dengan diameter 0,5      cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003E1 kg Plb \u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E±\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E 200 lembar      polybag kecil\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003Cb\u003EMengisi Polybag\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EEmpat minggu sebelum penanaman kecambah, polybag      harus sudah diisi tanah dalam jumlah cukup\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGuncang polybag pada saat pengisian untuk memadatkan      tanah dan diisi sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPolybag\n disiram air setiap hari sampai tampak jenuh      sebelum dilakukan \npenanaman dan diisi kembali dengan tanah bila diperlukan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tanah adalah \u003Ci\u003E1 kg per polybag\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja pengisian polybag \u003Ci\u003E400 unit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003Cb\u003EMenyusun di Bedengan\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPolybag harus disusun secara tegak dan rapat di      bedengan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETiap 1 m2 dapat memuat 70 polibag atau \u003Ci\u003E840 polybag\/bedengan\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiusahakan air tidak akan menggenangi di bedengan      dengan mengikis permukaan tanah yang tidak datar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja untuk menyusun polybag adalah \u003Ci\u003E1.000 unit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Seleksi Kecambah\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKecambah normal : calon akar (radicula) dan calon      batang (plumula) terlihat jelas, panjangnya 8-25 mm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERadicula berujung tumpul seperti bertudung, agak      kasar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPlumula ujungnya tajam seperti tombak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKriteria kecambah yang abnormal :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang patah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang tidak tumbuh\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang membengkok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang tumbuh satu arah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang busuk terserang cendawan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E®\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Calon akar\/batang layu karena terlalu kering\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan untuk seleksi kecambah \u003Ci\u003E5.000 kecambah\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat diterima peti harus diletakkan di tempat yang      terlindung dari sinar matahari\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap kantong kecambah harus dibiarkan terbuka      selama beberapa menit untuk pergantian udara\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Menanam Kecambah\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESiram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah      ditanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKantong\n plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan      letakkan kecambah di \nbaki yang beralaskan goni basah yang telah direndam      dalam larutan \nfungisida Thiram dengan konsentrasi 0,2%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKecambah diseleksi dan dihitung (% seleksi)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman\n kecambah harus memperhatikan posisi      radikula yang akan diposisikan\n arah ke bawah dan plumula yang akan      diposisikan ke atas\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2-3 cm di      bawah permukaan tanah polybag (dilobang dengan ibu jari)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPolybag disiram sampai jenuh setelah kecambah      ditanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiberi naungan sesuai iklim setempat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESebaiknya penanaman dilakukan secara beregu.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKecambah yang memiliki persilangan yang sama ditanam      pada bedengan yang sama.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menanam      kecambah \u003Ci\u003E1.000 bbt\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003Cb\u003EPenyiraman\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBibit      disiram 2 x sehari\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJam      penyiraman : 07.00 wib – selesai paling lambat jam 11.00 wib; sore hari      jam 15.00 wib – selesai\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila\n malam sebelumnya turun hujan (\u0026gt; 8 mm) dan tanah      di polybag \nmasih basah maka penyiraman hanya dilakukan sore hari saja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila pagi harinya hujan turun (\u0026gt; 10 mm) maka tidak perlu penyiraman      pagi dan sore.\u003C\/li\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E13.500 bbt\/HK (16 bed\/HK)\u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;Pengendalian Gulma\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDilakukan 1 x tiap 2 minggu\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara pelaksanaan adalah manual tidak boleh dengan      herbisida\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengendalian dengan mencabut rumput dan gulma lain      di dalam polibag dan yang berada di antara polibag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESekaligus melakukan konsolidasi dengan menambah      tanah pada polibag apabila kekurangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E13.500 bibit\/HK atau 16 bed\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemeliharaan Drainase\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMengalirkan air yang tergenang di areal pembibitan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiperiksa agar air jangan tergenang di polybag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E6-8 ha\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERotasi yang diperlukan 1 x \/minggu\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003Cb\u003EPemupukan\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMinggu genap (minggu ke 4, 6, 8, 10, 12) dengan      pupuk majemuk (contohnya Rustika) 15.15.6.4 konsentrasi 0,2% (2gr\/l air)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMinggu ganjil (minggu ke 5, 7, 9, 11) dengan urea      0,2%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara dilarutkan pupuk dalam gembor : 10 gr Urea atau      10 gr pupuk majemuk dalam 5 liter air untuk \u003Ci\u003E500 bibit\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemupukan dilakukan pagi hari setelah selesai      penyiraman pertama\/pagi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja \u003Ci\u003E8.400 bibit\/HK atau 10 bed\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Konsolidasi Bibit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDilakukan 1 kali\/minggu meliputi :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMenambah tanah yang kurang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenegakkan polibag yang miring\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenukar bibit yang mati dengan bibit pada bedengan terakhir yang biasanya tidak penuh\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang dibutuhkan \u003Ci\u003E4.000 bibit\/HK atau 5 bed\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengendalian Hama dan penyakit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPengamatan hama ataupun penyakit dilakukan setiap      hari\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengendalian dilakukan dengan cara manual\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EApabila\n gangguan hama\/penyakit sudah pada tingkat      yang lebih berat maka \ndilakukan dengan penyemprotan insektisida, fungisida      dengan rotasi 1\n kali\/minggu\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang dibutuhkan \u003Ci\u003E8.400 bibit\/HK atau 10 bed\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tata cara seleksi Bibit di pre-nursery\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EAngkat dan singkirkan semua bibit afkir dari      bedengan sebelum dilakukan pemindahan bibit sehat ke polybag besar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMusnahkan semua bibit afkir\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECatat dan laporkan bibit yang diafkir\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang dibutuhkan \u003Ci\u003E5.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003EStandar Pertumbuhan Bibit kelapa sawit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 320px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur (bulan)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi (cm)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDiameter (cm)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBanyak daun\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n26,0 +   1,3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n39,9 +   1,1\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n52,2 +   1,4\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n64,3 +   0,6\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n88,3 +   2,5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n101,9   + 5,1\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n114,1   + 3,9\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n126,9   + 7,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,30 +   0,02\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,84 +   0,02\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,70 +   0,12\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,56 +   0,04\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,50 +   0,15\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,96 +   0,33\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,84 +   0,14\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6,02 +   0,24\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,0 +   0,2\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,6 +   0,2\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10,8 +   0,3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,0 +   0,0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13,3 +   0,3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15,8 +   0,1\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15,6 +   0,3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15,8 +   0,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992)\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EBeberapa ciri Fisik bibit yang di-afkir\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"199\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/benih%20sakit.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 199px; margin: 8px; padding: 5px; width: 228px;\" width=\"228\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPucuk bengkok atau daun berputar : akibat penanaman      kecambah yang terbalik atau faktor genetik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf) :      akibat faktor genetik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun kerdil dan sempit (stump\/little leaf)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun      menyempit dan tegak (acute\/erect leaf)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun yang      menggulung (rolled leaf) : akibat factor genetic\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun      berkerut\/keriput (crinkle leaf) : akibat factor genetic\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDaun melipat      (collante) : akibat kekurangan air\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit kerdil      (stunted) : akibat factor genetic\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EChimaera\n :      sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat atau \nbergaris      kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap\n dan jaringan      yang normal\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit dengan      serangan penyakit berat\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EH. Pembibitan Utama (Main Nursery)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EPersiapan Areal\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"196\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/sunagi.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 196px; margin: 8px; padding: 5px; width: 227px;\" width=\"227\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EAreal Pembibitan dekat dengan sumber air atau sungai\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAreal datar dengan penggunaan areal 1 ha untuk      14.000 bibit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat parit drainase mengikuti pipa sekunder dari      jaringan pipa penyiraman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran parit lebar dasar 30 cm, lebar atas 70 cm,      dalam 40 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila penyiraman dengan sprinkler hendaknya dibuat      dulu desainnya dan penempatan pipa-pipanya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila diperlukan buat pagar keliling 150 m dengan      kawat. Jarak antara tiang 3 m, tinggi pagar 1,5 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja untuk membuat pagar \u003Ci\u003E100 m\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETransplanting ke main nursery dilakukan pada bibit      berumur 3-4 bulan atau memiliki 4-5 helai daun\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Memancang\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EUmur bibit 8-10 bulan : jarak pancang 70 x 70 x 70      cm \u003Ci\u003E(23.000 bibit\/ha)\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUmur bibit ≥ 10 bulan : jarak pancang 90 x 90 x 90 cm \u003Ci\u003E(14.000 bibit\/ha)\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan tenaga kerja memancang \u003Ci\u003E1.000 pancang\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EMengumpulkan Tanah\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMetode sama dengan pembibitan Pre-Nursery\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah\n di polybag besar harus dilubangi dan      selanjutnya dimasukkan 100 g \npupuk RP ke lubang polybag besar sebelum      bibit ditanam\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Ukuran Polybag\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm      lay flat \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah diisi tanah diameter ± 23 cm dan tinggi ± 39 cm ; warna      hitam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELubang empat baris perforasi berjarak 5 cm x 5 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETebal polibag harus merata tidak ada tebal tipis\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mengisi Polybag\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPolybag\n harus sudah siap diisi tanah minimal 4      minggu sebelum \ntransplanting dari PN untuk mendapatkan tingkat kepadatan      tanah \nyang stabil.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPolybag \u003Ci\u003Eharus      dibalik\u003C\/i\u003E sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan silindris\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPersiapan media tanam dan isikan ke dalam polybag. \u003Ci\u003EHindarkan pemadatan tanah dalam polybag      dengan cara menekan kuat ke arah bawah\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGuncang\n polybag pada waktu pengisian untuk      memadatkan tanah dan mencegah \nagar tidak ada bagian yang mengkerut atau      terlipat sehingga \nketinggian tanah dapat mencapai 2,5 cm dari bibir      polybag.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah polybag \u003Ci\u003E1      kg = 18 lembar; 1 plb \u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E±\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E 20 kg\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E100 unit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Menyusun Polybag\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPolybag disusun di areal bibitan yang sudah      dipancang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nMenyeragamkan cara peletakan (contoh di selatan      pancang). \u003Ci\u003EPancang tidak boleh      dicabut\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap 5 baris dikosongkan 1 baris untuk jalan      pemeliharaan bibit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKedua tangan pekerja harus berada pada dasar polybag      dan tidak dibenarkan 1 tangan menyengkeram bibit polybag bagian atas\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah \u003Ci\u003E100 – 150 unit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Menanam\/Transplanting di Polybag Besar\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ETanah di polybag dilubangi sebesar ukuran polybag      kecil dengan alat berupa bor tanah atau yang dibuat dari pipa 4 inch\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja untuk melubangi \u003Ci\u003E250 unit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit yang telah memenuhi syarat \u003Ci\u003E(umur 3 bulan, daun 3-4, bentuk\u003C\/i\u003E \u003Ci\u003Esempurna)\u003C\/i\u003E diangkut dengan kotak      papan, diecer ke tempat polybag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja untuk mengecer \u003Ci\u003E700 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman\n dilakukan : bibit di polybag kecil      dipegang miring, dasarnya \ndisayat keliling kemudian dilepas. Dimasukkan ke      dalam lubang \npolybag besar. Sambil menahan bibit polybagnya      ditarik\/dilepas. \nTanah diratakan dan dipadatkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja untuk menanam \u003Ci\u003E100 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Penyiraman Bibit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBibit disiram 2 kali\/sehari : pagi; jam 7.00 –      selesai selambat lambatnya jam 11.00, sore jam 15.00 – selesai\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja \u003Ci\u003E2.500 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nApabila\n malam sebelumnya turun hujan dan tanah di      polibag masih basah maka\n penyiraman hanya dilaksanakan sore hari. Bila      hujan pagi hari \ncukup lebat (\u0026gt; 10 mm) maka sampai sore bibit tidak perlu disiram.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003EKebutuhan air bibit : 1-3 bl = 1.0 ltr;      3-6 bl = 1.5 ltr; \u0026gt;\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E 6 bl = 2 ltr\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u003C\/i\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengendalian Gulma\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDilakukan 2 minggu sekali\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyiangan dilakukan dalam polibag dan di luar      polibag\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDalam polibag penyiangan dilakukan secara manual\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDi antara polibag rumput-rumput disemprot dengan 2      kg karmex + 2,2 ltr gramoxone\/450 ltr air\/ha bibitan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETenaga kerja diperlukan untuk penyiangan \u003Ci\u003E0,7 ha\/HK atau 8.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemberian Mulsa\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPada daerah yang terlalu kering\/panas, bibit dalam      polybag harus diberi mulsa\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMulsa diberikan secara merata di atas permukaan      tanah dalam polybag segera setelah bibit ditanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMulsa yang dianjurkan adalah \u003Ci\u003Ecangkang, jerami ataupun lalang kering\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah cangkang sawit yang diperlukan \u003Ci\u003E0,5 kg\/polibag\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja diperlukan adalah \u003Ci\u003E2.500 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Konsolidasi Bibit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKonsolidasi bibit dilakukan 1x\/bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenegakkan polibag-polibag yang miring\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengganti\/membalut polibag yang pecah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenambah tanah di polybag (hanya sampai umur 6      bulan)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja diperlukan \u003Ci\u003E2.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemeliharaan Parit drainase\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMengalirkan air yang tergenang 1 kali\/minggu\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMendalamkan parit pada ukuran semula\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E6-8 ha\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pemupukan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDimulai pada minggu ke 2 setelah bibit di transplanting\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJenis pupuk : pupuk majemuk (contoh Rustika) R      15.15.6.4 dan R 12.12.17.2 serta pupuk Kieserite atau Dolomit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja yang diperlukan \u003Ci\u003E3.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E atau \u003Ci\u003E5 HK\/ha bibit\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara pemupukan :\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBuat takaran pupuk sesuai dengan dosis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk ditaburkan merata pada permukaan tanah di polybag melingkar\/keliling sejauh 10 cm dari bibit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPupuk tidak boleh menyentuh bibit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelaksanaan setelah penyiraman pertama\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dosis Pemupukan Pembibitan Utama\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 861px; width: 702px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur Bibit\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"4\" valign=\"top\" width=\"472\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDosis Pupuk (gram\/pohon)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(Minggu)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nR I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nR II\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"236\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nK atau D\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n14\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n16\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n18\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n24\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n26\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n28\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n32\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n34\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n36\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n38\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25.0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15.0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22.5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n230\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"118\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n117.5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003E\u003Cu\u003EKeterangan\u003C\/u\u003E\u003C\/i\u003E\u003Cu\u003E \u003C\/u\u003E: \u0026nbsp; R I \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; = Rustika 15.15.6.4\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; R II \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; = Rustika 12.12.17.2\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; K \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; = Kieserite\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; D \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; = Dolomit\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengendalian Hama Penyakit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPengamatan dilakukan secara rutin 1 x\/minggu untuk      mengetahui ada tidaknya serangan hama\/penyakit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECara pengendalian pada saat serangan awal\/ringan      secara manual, hama dikutip kemudian dimusnahkan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja \u003Ci\u003E2.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila\n dari hasil pengamatan menunjukkan adanya      peningkatan gejala \nserangan maka dapat dikendalikan dengan penyemprotan      pestisida.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyemprotan dilakukan setelah penyiraman pagi dan      ditambahkan dengan perekat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKhusus bibit yang terkena penyakit dan mudah menular      harus dipisahkan dari bibit sehat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah kebutuhan tenaga kerja \u003Ci\u003E3.000 bibit\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kebutuhan Larutan Semprot\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 189px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur (bulan)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVol. Semprot (cc\/pk)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"192\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTenaga (bibit\/HK)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4 – 6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"192\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7 – 9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"192\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3.000\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10 -   12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n100\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"192\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1.00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EGejala Serangan hama\/penyakit \u0026amp; Pengendalian\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-rb-cmuc8-f0\/UG-rdC8uZiI\/AAAAAAAACS0\/L-cpmtdAcR0\/s1600\/tebel.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-rb-cmuc8-f0\/UG-rdC8uZiI\/AAAAAAAACS0\/L-cpmtdAcR0\/s640\/tebel.jpg\" width=\"442\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u003Ci\u003E\u003Cu\u003EKeterangan\u003C\/u\u003E\u003C\/i\u003E : \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; S\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Semprot\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; T\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Tabur\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mgg\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Minggu\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Seleksi Bibit\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESeleksi dilaksanakan dengan tahapan umur bibit 6, 9,      12 bulan dan pada persiapan pengiriman bibit ke lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETata cara pelaksanaan seleksi bibit :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBerikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir\/abnormal\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECatat dan dibuat berita acara semua bibit afkir\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan, jumlah bibit afkir selama di main nursery antara 10-15 %\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah tenaga kerja dibutuhkan \u003Ci\u003E3.000 bbt\/HK\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003ECiri bibit abnormal di Main Nursery\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKerdil (runt\/stunted): Bibit yang pertumbuhan vegetatifnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bibit sehat seumurnya\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBibit erect: Faktor genetis, daun tumbuh dengan sudut yang sangat\u0026nbsp; sempit\/tajam terhadap sumbu vertikal sehingga seperti tumbuh tegak.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBibit yang layu dan lemah (limp): Penampilan pucat dan pertumbuhan daun muda cenderung lebih pendek dari yang seharusnya\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBibit flat top: Faktor genetik, daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang makin pendek dari daun tua, sehigga tajuk bibit terlihat rata\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EShort internode: Jarak antara anak daun pada tulang pelepah (rakhis) terlihat dekat dan bentuk pelepah tampak pendek\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EWide internode: Jarak antara anak daun pada rakhis terlihat sangat lebar. Bibit terlihat sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAnak daun      yang sempit (narrow leaf): Bentuk helai daun tampak sempit dan tergulung sepanjang alur utamanya (lidi) sehingga bentuknya seperti jarum\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAnak daun      tidak pecah (juvenile): Helai anak daun tetap bersatu seluruhnya atau tidak pecah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDaun      berkerut (crinkle leaf): Daun terlihat berkerut. Gejala berat akibat factor genetic, gejala ringan disebabkan karena kekurangan air\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EChimaera: Sebagian\n atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat atau bergaris \nkuning terang yang sangat kontras dengan warna gelap dari jaringan yang \nnormal\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECrown Diseases: Faktor genetik, pelepah bengkok dan mudah patah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBlast: Bibit berubah secara progresif ke arah coklat dan perlahan dimulai dari daun yang tua bergerak ke daun yang lebih muda\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETerserang hama dan penyakit: Terserang busuk pucuk dan hama\/penyakit yang harus dipisahkan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none; text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003EPersiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPemutaran bibit (rotating): Bibit\n diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan. Setelah \nbibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu \npengiriman ke lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPerlakuan Bibit untuk Persiapan Pengangkutan: Menjelang\n persiapan tanam bibit dikumpulkan rapat, setiap kelompok terdiri \n100-200 bibit. Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum\n berangkat ke lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBiaya Pembuatan Nursery Dapat di download di sini\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-family: Verdana; font-size: 12px; font-weight: bold;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566591\/BiayaPreNursery.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566591\/BiayaPreNursery.pdf.html \u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566764\/BIAYAMAINNURSERY.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566764\/BIAYAMAINNURSERY.pdf.html \u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566867\/CostItemPekerjaannursery.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566867\/CostItemPekerjaannursery.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573804\/StandardfisikBibitSawit.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573804\/StandardfisikBibitSawit.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573804\/StandardfisikBibitSawit.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573887\/DosisPupukNursery.pdf.html\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-size: x-small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573989\/NurseryFertilizerProgame.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10573989\/NurseryFertilizerProgame.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574093\/Cullingdipembibitansawit.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574093\/Cullingdipembibitansawit.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574203\/IrigasiNursery.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574203\/IrigasiNursery.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574489\/NormaKerjaNursery.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10574489\/NormaKerjaNursery.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595174\/Layoutspringkel.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10595174\/Layoutspringkel.pdf.html\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3062368533625439610"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/3062368533625439610"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pembibitan-kelapa-sawit.html","title":"Pembibitan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-vomNgs_velQ\/UG-qThjFdUI\/AAAAAAAACSk\/d4W0sB7cD4k\/s72-c\/ecer+bibit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-6933884963163332662"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:37:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T10:47:13.860+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Benih Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EFISIOLOGI BENIH\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKelapa\n sawit dibedakan ke dalam tiga tipe berdasarkan ketebalan cangkang \n(shell) karakter ini dikendalikan oleh gen mayor tunggal yang bertindak \nkodominan, karekteristik tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;Karakteristik dari tipe buah kelapa sawit\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 236px; width: 704px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTipe\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"324\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKarakteristik\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCangkang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCincin Serabut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGenotype\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDura (D)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTebal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTidak Ada\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSh Sh\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTenera (T)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTipis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAda\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSh sh\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"103\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPsifera (P)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTidak ada\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAda\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSh sh\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPerkembangan\n lignifikasi dari cangkang diwariskan secara kuantitatif dan \ndikendalikan oleh banyak gen, sehingga timbul berbagai variasi ketebalan\n cangkang di dalam masing masing masing tipe.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDidalam\n proses reproduksi hanya satu\u0026nbsp; yang hadir pada gamet atau sel kelamin, \nselama proses pembuahan, kedua gamet dari tetua jantan dan betina \nbersatu kembali dan tergantung kepada konstitusi genetik, genotype \nketurunan mungkin sama atau berbeda dengan tetuanya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPengertian\n yang jelas terhadap pewarisan sifat ketebalan cangkang buah membawa \nkesadaran tentang pentingnya penggunaan benih D x P dari sumber tanaman \ntetua yang baik (dura, tenera, maupun psifera), Tenera yang mempunyai \nkandungan minyak lebih banyak dibandingkan dura sebesar 30% merupakan \nvarietas standar yang lebih disukai sebagai material tanaman komersial.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EPersilangan Dura dan Psifera\u003C\/i\u003E. Untuk produksi benih tenera dilakukan persilangan antara tetua dura dengan tetua psifera yang akan menghasilkan 100% tenera\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003EPersilangan Bebas (Tenera dan Tenera)\u003C\/i\u003E\n Untuk memperoleh benih tenera dari persarian bebas antara tenera dan \ntenera mengakibatkan turunnya hasil karena terjadi silang dalam \n(inbreeding), produksi tandan yang rendah karena adanya psifera serta \nproduksi minyak yang renah karena adanya dura, produktifitas benih liar \nyaitu benih yang di peroleh dari persarian bebas, diperkirakan hanya \nmencapai 50% dari produktifitas benih legitim D x P atau lebih rendah \nlagi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerubahan\n strategi penggunaan material tanaman pada industri kelapa sawit \nIndonesia dilakukan dengan hati hati dan selalu di dasarkan oleh data \ndan informasi yang jelas, hal ini dapat terlihat dari penggunaan \nmaterial tanaman di perkebunan kelapa sawit\u0026nbsp; yang sampai tahun 1970 \nmasih menggunakan material D x D; T x D; atau D x T sebagai sumber \nbenih, dan dengan adanya data\u0026nbsp; bahwa rendemen pabrik (Industrial \nextraction rate) dari materia D x P adalah 20 – 30% lebih tinggi dari \nmaterial D xD ; T x D atau D x T maka sejak tahun 1971 semua perkebunan \nmenggunakan material D x P sebagai sumber benih \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUntuk\n menilai kualitas benih kelapa sawit D x P yang dihasilkan oleh produsen\n penghasil benih (PPKS, Londsum dan Socfindo) tertentu perlu \ndiperhatikan hal hal sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESilsilah keturunan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EStandar seleksi yang digunakan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProses produksi benih\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProfil produksi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKomponen minyak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKarekteristik sekunder\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKepekaan terhadap penyakit\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003EA.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; SILSILAH KETURUNAN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EOrigin\n Dura Semua genitor yang saat ini ada di PPKS adalah dura deli yang \nberasal dari 4 pohon kelapa sawit kebun raya bogor, meskipun tidak ada \nalasan untuk mengkelompokkannya ke dalam berbagai populasi, namun \npenggunaan origin dura ini oleh berbagai lembaga riset telah menyebabkan\n terjadinya penghanyutan genetika \u003Ci\u003E(Genetic drift)\u003C\/i\u003E yang sedikit banyak menimbulkan perbedaan diantara genitor. Kebanyakan dan pada umumnya dari genitor dura adalah dari \u003Ci\u003E”populasi Marihat”\u003C\/i\u003E\u0026nbsp;\n berdasarkan jumlahnya adalah memungkinkan untuk membedakan populasinya\u0026nbsp;\n ini menjadi beberapa origin, bahkan sub origin. Origin-origin tadi \ndiberi kode berdasarkan nama kebun yang pertama kali menggunakannya \nsebagai genitor, yaitu marihat, tinjauan, dan dolok sinumbah. RISPA\u0026nbsp; \nadalah ”Populasi Marihat” yang berasal dari kebun marihat dan \nselanjutnya di seleksi oleh RISPA.\u0026nbsp; Kode-kode untuk sub-origin di \ndasarkan pada\u0026nbsp; nama genitor moyangnya (yang ditetapkan mulai tahun \n1900-an) jadi kebanyakan genitor dura\u0026nbsp; adalah dari ”populasi Marihat” \ndihubungkan dengan genitor yang sama yakni ”533” Diantara genitor \ngenitor ada yang berasal dari persilangan \u003Ci\u003E”Pupulasi Marihat\u003C\/i\u003E” dengan sumber sumber lainnyayaitu genitor yang tidak diketahui untuk orijin ”DS x ?” dan dengan SP 540T untuk \u003Ci\u003Eorijin M-RISPA\u003C\/i\u003E. Empat orijin deli lainnya tidak berhubungan dengan \u003Ci\u003E”populasi Marihat”\u003C\/i\u003E , ke empatnya yaitu \u003Ci\u003E”origin Gunung Bayu”\u003C\/i\u003E (asal Sumatera) , \u003Ci\u003E”origin Dabou”\u003C\/i\u003E (asal Sumatera di seleksi di Ivory Coast) \u003Ci\u003E”orijin Socfin” \u003C\/i\u003E(asal Sumatera di seleksi di Malaysia dan Ivory Coast) dan \u003Ci\u003E”origin Dumpy atau ”origin Elmina”\u003C\/i\u003E (asal Malaysia dan kemudian dipergunakan oleh RISPA) \u003Ci\u003E”orijin Gunung Melayu”\u003C\/i\u003E , sedangkan ”\u003Ci\u003Eorigin M-Dumpy\u003C\/i\u003E dan \u003Ci\u003E”Serdang”\u003C\/i\u003E merupakan orijin yang relatif belum banyak mengalami seleksi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin\n Tenera Sebahagian besar dari genitor Tenera yang ada di PPKS berasal \ndari Zaire, dan beberapa origin dapat dibedakan berdasarkan kebun atau \npusat riset yang telah melakukan seleksi genitor moyangnya, dan genitor \ngenitor tersebut antara lain :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin \u003Ci\u003E”Bangun”\u003C\/i\u003E merupakan genitor-genitor yang berasal dari Bangun Bogor Rejo (Sumatera).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin \u003Ci\u003E”Dolok Sinumbah”\u003C\/i\u003E\n yang merupakan orijin dari psifera terkenal seperti DS 76P atau EX.5. \ndan beberpa sub orijin dibedakan berdasarkan bentuk genitornya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrigin \u003Ci\u003E”Bah-Jambi”\u003C\/i\u003E yang pada kenyataannya adalah sub orijin ”Dolok Sinumbah”\u0026nbsp; karena merupakan keturunan dari persilangan DS 76P dan DS 66P\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin \u003Ci\u003E”Sungai Pancur”\u003C\/i\u003E yang menghailkan tenera sangat terkenal, SP 540T\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin ”\u003Ci\u003ESungai Pancur x Bangun”\u003C\/i\u003E merupakan hasil persilangan SP 540T dengan psifera dari Bangun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOrijin \u003Ci\u003E”Yangambi”\u003C\/i\u003E berasal dari populasi Yangambi yang telah diseleksi oleh IRHO.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPopulasi lain yang banyak digunakan adalah ”populasi Marihat” yang berasal dari Kamerun. Genitor-genitor \u003Ci\u003E” La-Me”\u003C\/i\u003E dan \u003Ci\u003E”Yacobue”\u003C\/i\u003E dari Ivory Coast, sedangkan genitor \u003Ci\u003E”Nifor” \u003C\/i\u003Eberasal dari populasi Nigeria, genitor ”\u003Ci\u003EDami”\u003C\/i\u003E yang berasal dari Papua New Gunea merupakan genitor yang realtif belum diseleksi.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EB.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; STANDAR SELEKSI\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSkema\n Seleksi Berdasarkan hasil percobaan internasional yang menunjukkan \npersilangan inter orijin lebih baik dari pada intra orijin, maka PPKS \nmengadopsi metode seleksi yang disebut \u003Ci\u003E”Reciprocal Recurrent Selection (RSS)”\u003C\/i\u003E yang di kembangkan oleh \u003Ci\u003E”Institute de Researches Pour les Huiles et Oleageneux (IRHO)”\u003C\/i\u003E\u0026nbsp;\n Pada prinsipnya metode pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak\n daya gabung ”Combining ability”\u0026nbsp; dari 2 (dua) grup individu A dan B \nyang dicirikan dengan : a.\u0026nbsp; \u003Ci\u003EGrup A\u003C\/i\u003E (dura) meliputi jenis kelapa sawit yang menghasilkan tandan sedikit tetapi dengan tandan yang besar.\u0026nbsp; b. \u003Ci\u003EGrup B\u003C\/i\u003E\n (Psifera, Tenera) adalah kelapa sawit yang menghasilkan banyak tandan \ntetapi berukuran relatif lebih kecil Tanaman tanaman dalam grup A\u0026nbsp; \ndisilangkan dengan tanaman dari grup B dan hybrida yang dihasilkan \nkemudian di tanam di pengujian projeni \u003Ci\u003E(comparative trial\/progeny trial)\u003C\/i\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pengujuan yang dilakukan akan dapat mengklasifikasi tingkatan family persilnagan \u003Ci\u003E(lini)\u003C\/i\u003E\n dan mengevaluasi daya gabung genitor-genitor pada family tersebut yang \npada akhirnya akan diperoleh suatu kombinasi hybrida yang terbaik, dan \npada waktu yang hampir bersamaan sejumlah tanaman pada masing-masing \ngrup dikawinkan sendir (selfing) dan disilangkan miasl D x D pada \nseleksi Dura dan T x T pada seleksi Tenera.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLetak\n Produksi Benih dan perbanyakan klonal pada skema seleksi Metode RRS \nadalah suatu skema yang sangat menarik baik untuk program pemuliaan \nmaupun produksi benih\u0026nbsp; dan klon kelapa sawit, dengan langkah langkah \nsebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPemilihan\n tetua untuk memproduksi hibrida komersial di dasarkan atas pengujian \nprojeni sehingga hanya hibrida-hibrida yang telah di uji yang disalurkan\n kepada konsumen.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESkema seleksi memungkinkan untuk \nmengeksploitasi se segera mungkin persilangan persilangan terbaik dan \nperbaikannya dapat dilakukan dengan \u003Ci\u003E”selfing”\u003C\/i\u003E tetua terpilih sehingga daya gabung khusus \u003Ci\u003E(specific Combining Ability\/SCA)\u003C\/i\u003E dapat di eksploitasi secara optimal.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHibrida\n komercial dapat diproduksi menggunakan berbagai tipe persilangan dura \ndiseleksi dura, dan begitu pula tipe persilangan Psifera\/Tenera di \nseleksi Tenera.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSetelah \nberakhirnya siklus seleksi dimungkinkan untuk memproduksi benih dengan \ncara me-reproduksi secara pasti persilangan persilangan terbaik dari \nhasil hasil pengujian, serta meng-kawinkannya tetua yang mempunyai daya \ngabung umum \u003Ci\u003E(General Combining Ability)\u003C\/i\u003E yang baik meskipun perkawinan tersebut belum lagi di uji.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDengan\n menggunakan tanaman unggul dari hasil pengujian projeni dapat \ndiperbanyak secara kultur jaringan dengan tingkat produktifitas yang \nrealtif sama dengan ortet. Pemilihan tanaman unggul dilakukan dengan \nmengeksploitasi keragaman di dalam famili diantara famili-famili yang di\n uji pada pengujian projeni. Selain masalah masalah internal yang di \nhadapi perbanyakan klonal secara kultur jaringan, seperti abnormalitas \npembuangan dan upaya scaling up, klon klon yang dihasilkan dari ortet \nyang dipilih dari pengujian projeni perlu di uji terlebih dahulu pada \npengujian klonal sebelum di lepas secara komersial, sehingga dengan \ndemikian perlu dimaklumi bahwa klon klon komersial belum dapat disebar \nluaskan dalam waktu dekat.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EC.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; KRITERIA PEMILIHAN\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPemilihan\n persilangan dengan Genitor. Pemilihan persilangan dengan genitor \ndilakukan bertahap sesuai dengan urutan prioritasnya yaitu :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ETahap\n Pertama Pemilihan dilakukan terhadap produksi minyak\/ha yang di hitung \ndengan menggunakan dua faktor koreksi yaitu rendemen pabrik di hitung \ndengan mengkalikan prosentase minyak per tandan dengan faktor koreksi \n0,855 dan produksi TBS di hitung dengan dasar 130 tanaman\/ha (pada \npopulasi 143 pohon\/ha)\u0026nbsp; atau\u0026nbsp; bisa juga 123,5 tanaman \/ha pada (populasi\n 130 pohon\/ha). Produksi minyak per ha diperoleh dengan cara mengkalikan\n produksi TBS dengan rendemen pabrik periode 6 – 9 tahun, yang dianggap \ndapat menggambarkan potensi produksi selama masa ekonomis tanaman, dan \nini merupakan prioritas utama untuk diperhatikan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli style=\"text-align: justify;\"\u003ETahap Kedua \nPemilihan dilakukan dengan mengenyampingkan semua persilangan \npersilangan yang laju pertumbuhannya meninggi sangat cepat, persilangan \nyang mempunyai laju pertumbuhan meninggi \u0026gt;85 cm\/thn tidak dipilih.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTahap\n Ketiga Pembuatan rancangan persilangan dilakukan terutama untuk \nmenghindari adanya projeni yang peka terhadap penyakit tajuk, karena \npenyakit tajuk disebabkan oleh satu gen resesif, maka ditekankan untuk \nmengawinkan genitor-genitor unggul\u0026nbsp; tetapi tetap peka terhadap penyakit \ntajuk dengan genitor lainn yang resisten dan mempunyai susunan genotype \nhomozygot dominan.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPada pemilihan ortet, metode yang digunakan harus dapat mengestimasi secara akurat nilai \u003Ci\u003E”genotipik ”\u003C\/i\u003E\n setiap indivfidu tanaman, hal ini dapat dilakukan apabila varians \nlingkungan dan atau varians interaksi genotipe x lingkungan dapat \ndiminimalkan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nCara umum dilakukan adalah dengan cara seleksi indeks (6\/9) atau secara \u003Ci\u003Esmoothing.\u003C\/i\u003E\u0026nbsp;\n Tingkat kepercayaan pada pemilihan ortet dapat meningkat apabila \ntanaman terpilih memperlihatkan komponen hasil yang unggul, seperti \npersentase \u003Ci\u003Emesokarp\u003C\/i\u003E terhadap buah yang relatif mempunyai nilai heritabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil sendiri.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ED.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; PROSES PRODUKSI BENIH\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTekhnik produksi Benih\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTekhnik\n produksi benih kelapa sawit telah banyak di paparkan oleh para ahli, \nyang pada prinsipnya setiap tahapan dalam proses produksi benih adalah \nuntuk menjamin diperolehnya benih yang memenuhi kriteria persentase \nperkecambahan tinggi, pertanaman yang homogen di lapangan dan legitimasi\n material yang dihasilkan.\u003Cspan style=\"font-family: Impact; font-size: large;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003EPENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPusat\n penelitaian kelapa sawit (PPKS) adalah salah institusi resmi yang \nditujuk oleh pemerintah untuk pengadaan benih kelapa sawit di Republik \nIndonesia Ini, yang mempunyai potensi 40 juta benih pertahun, proses \npengadaan kecambah yakni dengan tekhnik fermentasi, perendaman, \npemanasan dan perkembangan kecambah telah dapat mempercepat proses \nperkecambahan dan meningkatkan\u0026nbsp; prosentase\u0026nbsp; daya kecambah. Bila benih \nmulti embrio dari benih kelapa sawit\u0026nbsp; D x P dapat digunakan sebagai \nsumber bahan tanaman, penggunaan benih palsu sebagai bahan tanaman akan \nmenurunkan produksi minyak\/ha sebesar 50% dan tertundanya waktu panen.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nProsedur\n pembelian dan pengadaan benih\/kecambah kelapa sawit dari PPKS cukup \nsederhana yakni dengan membuat surat permohonan\u0026nbsp; pembelian kecambah yang\n ditujukan kepada Direktur PPKS\u0026nbsp; dengan melampirkan syarat-syarat \nadministrasi, dan setelah melakukan pembayaran dengan kurun waktu 2-3 \nminggu kemudian kecambah sudah dapat disalurkan kepada pihak pembeli, \ndan untuk menjamin kemurnian kecambah yang disalurkan dan di terima \npembeli, setiap pengiriman dilengkapi dengan surat pengantar, surat \npersilangan\u0026nbsp; dan surat pengambilan barang (DO), Pembeli kecambah harus \nmampu menunjukkan identitas diri yang jelas seperti KTP, SIM atau \nPassport atau surat kuasa dari perusahaan pembeli.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EA.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; PROSEDUR PEMBELIAN KECAMBAH\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPembelian\n Kecambah\u0026nbsp; Pembelian kecambah kelapa sawit D x P maupun Dy x P dari PPKS\n dapat dilakukan oleh Perusahaan Negara, Swasta, koperasi\u0026nbsp; maupun \nperorangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHarga Kecambah Harga kecambah sewaktu waktu dapat \nberubah sesuai dengan ketentuan yang berlaku\u0026nbsp; dan harga kecambah adalah \nloko Medan dan Marihat, biaya transportasi pengangkutan kecambah di \ntanggung oleh pihak pembeli.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESistem Pembayaran Sistem pembayaran\n pembelian kecambah kelapa sawit di PPKS hanya dapat dilakukan di kantor\n PPKS jalan Brigjen Katamso 51 Medan, baik secara langsung ke \nBendaharawan\u0026nbsp; PPKS maupun melalui ”Bank Draft”, dan pembayaran Bank \nDraft dapat dilakukan di bank yang ditunjuk, dan pembayaran di lakukan \nselambat lambatnya 2 (dua) minggu sebelum pengambilan kecambah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EProsedur\n pemesanan Kecambah. Permohonan pembelian kecambah melalui surat dengan \ntujuan ”Kepada Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dengan alamat Jl \nBrigjen Katamso No 51 Medan” dan pengambilan dilakukan minimal 6 (enam) \nbulan sebelum pengambilan kecambah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerlengkapan Administrasi\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EPerusahaan Perkebunan\u003C\/b\u003E Persyaratan untuk pemesanan Kecambah kelapa sawit oleh Perusahaan perkebunan meliputi \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESurat izin usaha perkebunan dari menteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESurat Izin Peruntukan lokasi penanaman kelapa sawit dari Gubernur setempat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeta Lokasi perkebunan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; b.\u0026nbsp;\u003Cb\u003E Perseorangan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESurat kepemilikan tanah dari instansi berwenang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESurat Rekomendasi dari Dinas Perkebunan setempat.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 6.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Persyaratan pengambilan kecambah\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMemiliki dan menunjukan Delivery Order (DO) yang di terbitkan oleh PPKS\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenunjukan surat kuasa dari perusahaan atau perorangan ke PPKS bagian Urusan Bahan Tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenunjukan bukti Identitas Asli dan memberikan copynya kepada petugas PPKS yang ditunjuk.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenandatangai bukti pengambilan kecambah\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EB.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Upaya Menghindari Pemalsuan Kecambah\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nUntuk\n menghindari upaya pemalsuan dari pihak pihak yang tidak bertangung \njawab terhadp produk Kecambah PPKS, maka PPKS telah membentuk berbagai \nupaya dan sistem penanggulangannya antara lain:\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Le34U7RB9Po\/UG-oopWwFbI\/AAAAAAAACSU\/_WRbFEfobSE\/s1600\/peti.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"243\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Le34U7RB9Po\/UG-oopWwFbI\/AAAAAAAACSU\/_WRbFEfobSE\/s320\/peti.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPengemasan \/ Packing\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-J98Z74R8Imo\/UG-o93AvMXI\/AAAAAAAACSc\/MPsLFKCa0rk\/s1600\/kemasan.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"241\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-J98Z74R8Imo\/UG-o93AvMXI\/AAAAAAAACSc\/MPsLFKCa0rk\/s320\/kemasan.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EKemasan Kelapa Sawit\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAdministrasi\n pengiriman Pengiriman kecambah dilengkapi dengan surat pengantar, \npengiriman dan Delivery Ordr (DO)\u0026nbsp; dan di beri nomor seri\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengemasan\/Packing\n Packing atau pengemasan dilaksanakan dengan mempergunakan peti dari \nbahan triplek ukuran 40x60x40 cm dan dapat menampung 7.000 sampai 10.000\n kecambah, setiap peti kemas memuat uraian (contoh)\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003EC.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Permasalahan Pemesanan dan Pengadaan Kecambah\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPermintaan\n yang cukup tinggi Permintaan pembelian kecambah kelapa sawit oleh pihak\n ke dua, setiap tahun cukup tinggi dengan rata-rata pertahun antara 60 –\n 70 juta kecambah, sedangkan kemampuan rata rata produksi kecambah PPKS \nadalah 40 juta kecambah\/tahun, oleh karena itu kebutuhan kecambah yang \ndapat di penuhi oleh PPKS hanya 70 – 80 % setiap tahunnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EWaktu\n Permintaan Pada umumnya perusahaan perkebunan\u0026nbsp; memesan pada waktu \nbersamaan, sehingga PPKS kesulitan dalam peng alokasian permintaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPermintaan\n yang mendesak Permintaan yang mendesak biasanya terjadi pada saat \npemesanan dan pengambilan pada bulan yang sama, sehingga PPKS kesulitan \npengalokasian permintaan dimaksud, karena alokasi 1 – 2 bulan di depan \nsudah di alokasikan kepada pihak lain. Karena proses produksi kecambah \nmemerlukan waktu yang panjang, disarankan untuk pemesanan sebaiknya 6 \nbulan sebelum jadwal pengambilan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKelengkapan adminsitrasi yang \nkurang sehingga PPKS tidak mungkin menyerahkan kecambah pada pihak \npembeli, seperti kelengkapan peta, rekomendasi dari Gfubernur setempat \ndan lain sebagainya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada saat waktu pengambilan yang ditntukan \npihak pembeli belum melaksanakan pembayaran atas pemesanan pengadaan \nkecambah, sehingga menghambat penyaluran kebutuhan pengadaan kelapa \nsawit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAdanya penundaan dari pihak pemesan, karena lahan untuk \npenanaman dan pembibitan kecambah belum siap, atau iklim yang kurang \ndiperhitungkan, misalnya kemarau yang panjang dan sebagainya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAdanya\n masalah transportasi yang belum disiapkan oleh pembeli atau adanya \nregulasi dari pihak pengangkut yang menunda jadwal pengangkutan karena \nsebab dan lain hal.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nContoh Blanko Permohonan Pengadaan Benih dapat di download di sini : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10575182\/SP3B-FormPermohonanPengadaanKecambah.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"font-weight: bold;\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10575182\/SP3B-FormPermohonanPengadaanKecambah.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"font-weight: bold;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6933884963163332662"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/6933884963163332662"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/benih-kelapa-sawit.html","title":"Benih Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-Le34U7RB9Po\/UG-oopWwFbI\/AAAAAAAACSU\/_WRbFEfobSE\/s72-c\/peti.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-4967906644816423091"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:35:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T10:33:00.701+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pembukaan Areal Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPENGERTIAN DAN BATASAN\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPembukaan\n lahan atau landclearing\u0026nbsp; adalah pembukaan lahan untuk keperluan lain \nnya sepert perkebunan, transmigrasi, pertanian dan lain \nsebagainya.Pembukaan lahan merupakan komponen biaya inventasi disamping \npembibitan yang telah dibicarakan. Tahapan-tahapan pekerjaan sudah \ntertentu sehingga jadwal kerja harus harus dilaksanakanb secara \nkonsekwen. Keterlambatan suatu pekerjaan diselesaikan akan berlarut pada\n pekerjaan lain sehingga akan menambah biaya. Tantangan yang dihadapi \ncukup banyak misalnya alam ( gangguan cuaca, hewan liar, dan lain-lain \n), biaya yang harus berkesinambungan, sumber daya manusia yang harus \ntersedia serta alat-alat beserta suku cadangnya. Tahapan- tahapan \npekerjaan ini adalah :\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPerencanaan luas kebun dan jadwal pembangunannya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERintisan dan rencana pemborong pekerjaan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESistim pembukaan lahan yang dipakai.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPersiapan penanaman, parit, drainase, pengawetan tanah, penanaman kacangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EPerencanaan kebun dan jadwal pembangunan.\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDari\n studi kelayakan harus sudah jelas perencanaan luas kebun yang akan \ndibangun serta tata ruangnya. Disini harus ada tergambar misalnya :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi\n pemukiman untuk satuan luas tertentu misalnya 800 ha untuk 1 afdeling. \nLokasi ini harus dekat dengan sumber air minum dan letaknya terpusat \ndari areal.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBatas areal dari kebun maupun riap afdeling.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJaringan jalan terutama untuk jalan penghubung (masuk dan keluar lokasi) atau jalan utama, jalan produksi, dan lain-lain.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi pembibitan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi pabrik dan kantor pusat kebun.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLuas\n satu kebun biasanya disesuaikan dengan kapasitas akhir pabrik yang akan\n dibangun. Satu unit pabrik yng berkapasitas 30 - 45 ton tandan TBS \/ \njam akan dapat disuplai oleh tanaman yang luasnya 6.000 HA dan yang \nberkapasitas 60 ton tandan \/ jam membutuhkan areal seluas 11.000 – \n12.000 HA. Satu kebun dibagi dalam beberapa afdeling atau bagian yang \nluasnya 600 – 800 ha tergantung kondisi areal dan tiap afdeling akan \nterdiri dari blok tanam yang luasnya 16 ha, 25 ha, atau 30 ha tergantung\n kondisi areal. Blok ini sangat penting sebagai satuan luas administrasi\n dan semua pekerjaan akan diperhitungkan dalam blok demi blok. \nUntukareal rata atau berombak tentu akan mudah membagi blok tersebut \ntetapi untuk kondisi bergelombang atau berbukukit akan memiliki blok yag\n lebih kecil dan tidak jarang sebagai batas blok dipakai batas alam \nseperti sungai, jalan dan lain –lain.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nJadwal atau perencanaan \njuga harus sudah dibuat karena banyak pekerjaan atau hal-hal tertentu \nyang harus dilaksanakan atau dipesan beberapa bulan sebelumnya. \nPemesanan kecambah (bibit) harus dilakukan 3 – 6 bulan sebelum \npembibitan dimulai, dan pembibitan harus sudah dimulai 1 tahun sebelum \npenanaman dilapangan. Demikian pula dengan pemesanan alat-alat berat, \nintansi penyiraman, pencarian tenaga kerja, penyelesaaian ganti rugi, \nmenghubungi calon pemborong dan lain-lain. Jadwal pembibitan dibuat \ntersendiri dan jadwal pembukaan lahan dan penanaman tersediri \npula.Mengingat sebagian pekerjaan akan menghadapi tantangan alam maka \npekerjaan tersebut harus pula disesuaikan dengan keadaan yang bakal \nterjadi. Jadwal kerja ini tergantung pada kondisi setempat dan hendaknya\n disesuaikan dengan keadaan iklim, sarana tenaga kerja, dan dana yang \ntersedia.\u003Cspan style=\"color: #00963f; font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"color: #00963f; font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"color: black;\"\u003EI.\u0026nbsp; LAND CLEARING\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 1 Manual\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003Eterutama tenaga manusia, alat-alat sederhana, pemakaian\u0026nbsp;\u0026nbsp; tenaga sangat banyak\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2 Mekanis\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMenggunakan\n alat-alat pertanian seperti traktor, buldozer. Cara ini digunakan pada \nareal yang rata (kemiringan 0-8%). Pekerjaan dapat dilakukan lebih \ncepat. Satuan penggunaan alat berat dalam JKT (jam kerja traktor)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3\u0026nbsp; Chemis\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeracunan\n pohon atau penyemprotan dengan bahan kimia tertentu (untuk lalang). \nPada daerah curah hujan tinggi kurang efektif. Dibutuhkan air untuk \npelarut herbisida.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cu\u003EPilihan\u003C\/u\u003E : \u003Ci\u003Etergantung pada \nkeadaan lapangan, ketersediaan tenaga kerja, dana, alat-alat serta \njadwal waktu penanaman yang ditargetkan. Dalam pelaksanaannya dapat \nmenggunakan cara kombinasi\u003C\/i\u003E.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cu\u003ELarangan\u003C\/u\u003E : \u003Ci\u003EPeraturan Pemerintah No. 28 tahun 1995 tidak membenarkan melakukan pembakaran untuk tujuan pembukaan lahan\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2. Tahap Pekerjaan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; a. Membabat \/ Imas\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSebelum\n melaksanakan\u0026nbsp; pekerjaan imas, maka pekerjaan babat pendahuluan \ndilakukan mendahului pengimasan. Semak belukar dan pohon kecil yang \ntumbuh dibawah pohon perlu dibabat. Pekerjaan ini membutuhkan 5 sampai 6\n orang \/ HA.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPekerjaan Imas ini adalah \npemotongan semak dan pohon kecil yang berdiameter 10 cm di tebas atau di\n potong dengan parang atau kapak untuk mempermudah penumbangan pohon \nbesar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMemotong anak kayu yang berdiameter \u0026lt; 10 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenggunakan parang dan kampak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemotongan anak kayu harus putus dan diusahakan serendah mungkin atau dekat dengan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETujuan\n untuk memudahkan penumbangan pohon dan pelaksanaan perun mekanis Areal \nsemak belukar tidak perlu diimas, langsung dilakukan perun mekanis\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; b. Menumbang\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMenumbang\n adalah kegiatan menebang\/menumbang pohon dengan gergaji ( chain saw ) \natau kapak, pohon yang berdiameter 10 cm ditebang. Tinggi penebangan \ndiukur dari tanah tergantung pada diameternya. Ketentuan yang berlaku \nbiasanya \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMenumbang pohon yang berdiameter \u0026gt; 10 cm secara      teratur\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETinggi penebangan\/sisa tunggul dari permukaan tanah      :\u0026nbsp;    \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 283px; width: 556px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EDiameter\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EDitebang dari permukaan tanah maks.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u0026gt; 10 –   15 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E15 cm   (serapat mungkin dengan tanah)\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E16 –   30 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E25 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E31 –   75 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E50 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E76 –   150 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E100 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u0026gt; 150   cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"312\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003EDitebang   pada batas antara akar penguat dengan batang utama\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\nKetentuan lain yang perlu diperhatikan dalam penumbangan :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EHasil tumbangan tidak dibenarkan melintang di atas alur air dan jalan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EHarus dilakukan secara tuntas sehingga tidak ada pohon yang setengah tumbang maupun pohon yang ditumbuhi oleh tanaman menjalar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPohon yang masih tegak tetapi sudah mati tidak perlu ditumbang sampai pada waktu dilakukan perumpukan (perun mekanis)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenumbangan\n di lahan gambut dilakukan setelah minimum 6 bulan selesai pembuatan \noutlet dan main drain serta telah terjadi penurunan permukaan tanah.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: left;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; c. Merencek\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKegiatan merencek adalah memotong cabang dan ranting kayu yang sudah ditumbang dipotong-potong untuk mempermudah perumpukan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMemotong batang, cabang dan ranting\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPedoman panjang potongan kayu :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 189px; width: 549px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDiameter (cm)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"276\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPanjang Potongan (m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10 -   30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"276\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,5 –   3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30 -   75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"276\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 – 4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026gt; 75\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"276\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4 - 5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; d. Merumpuk\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKegiatan\n merumpuk adalah pelaksanaan pengumpulan atau menata cabang dan ranting \nyang telah dipotong dikumpulkan\u0026nbsp; dari kayu yang lebih besar. Perumpukan \ndibuat memanjang Utara – Selatan agar dapat diterpa panas matahari dan \ncepat kering, jarak anar rmpukan dibuat 50 – 100 meter tergantung \nkerapatan pohon yang ditumbang dan keadaan areal.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMengumpulkan batang dan cabang-cabang yang telah dipotong menjadi barisan yang teratur\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPotongan cabang-cabang disusun di atas potongan batang yang besar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak antar rumpukan 50 – 100 m.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Mekanismenya\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPancang      jalur rumpukan dipasang di jalur rencana rumpukan batang dan berada di      gawangan mati\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETinggi\n      pancang 4 m dan harus dipasang bendera putih supaya mudah dilihat \noleh      operator alat berat. Setiap jarak ± 50 m diberikan pancang \npembantu      sehingga terdapat 6 – 8 pancang pembantu dalam jaluran\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada\n jarak      150 m (inti) atau 200 (plasma\/KKPA) dibuat tanda tidak boleh\n dirumpuk      karena akan digunakan sebagai jalan kontrol dengan lebar ±\n 4 m.  \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPosisi      alat berat berada di gawangan hidup, \nkegiatan pengumpulan atau perumpukan      kayu diatur dalam gawangan \nmati sejauh ± 2,5 m dari radius pohon sawit dan      harus diletakkan \nrata di permukaan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETop soil      diusahakan seminimal \nmungkin terkikis oleh pisau buldozer, posisi pisau      diatur ± 10 cm \ndi atas permukaan tanah dan\/atau pisau dipasang gigi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; e. Membersihkan areal \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMembersihkan\n      sisa-sisa potongan untuk dikumpulkan di\u0026nbsp;      jalur rumpukan \nsecara sistem mekanis, Perun dengan menggunakan buldozer dan\/atau \nexcavator merupakan      kegiatan merumpuk kayu hasil imasan dan \ntumbangan pada gawangan mati      sejajar baris tanaman dengan arah \nTimur – Barat\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; f.\u0026nbsp; Perun mekanis\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPerun\n dengan menggunakan buldozer dan\/atau excavator      merupakan kegiatan \nmerumpuk kayu hasil imasan dan tumbangan pada gawangan      mati sejajar\n baris tanaman dengan arah Timur – Barat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJenis alat berat untuk perun mekanis :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 332px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJenis Alat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nVegetasi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTopografi\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPosisi Rumpuk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKerapatan kayu\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHutan   sekunder, semak belukar\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGelombang,   darat, datar\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4 : 1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSedang   – rendah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHutan   primer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDatar,   gelombang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 : 1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi   – sedang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer   \u0026amp; Excavator\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHutan   primer, sekunder, semak belukar\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBukit,   gelombang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAntar   teras\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi   – rendah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nExcavator\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nHutan   primer, sekunder, semak belukar\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRendahan,   gambut\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2 : 1\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi   - rendah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pancang jalur rumpukan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPancang jalur rumpukan dipasang di jalur rencana      rumpukan batang dan berada di gawangan mati\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETinggi\n pancang 4 m dan harus dipasang bendera putih      supaya mudah dilihat \noleh operator alat berat. Setiap jarak ± 50 m diberikan      pancang \npembantu sehingga terdapat 6 – 8 pancang pembantu dalam jaluran\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada\n jarak 150 m (inti) atau 200 (plasma\/KKPA)      dibuat tanda tidak boleh\n dirumpuk karena akan digunakan sebagai jalan kontrol      dengan lebar ±\n 4 m.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pelaksanaan perun mekanis\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPosisi\n alat berat berada di gawangan hidup, kegiatan      pengumpulan atau \nperumpukan kayu diatur dalam gawangan mati sejauh ± 2,5 m dari radius   \n   pohon sawit dan harus diletakkan rata di permukaan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETop \nsoil diusahakan seminimal mungkin terkikis oleh      pisau buldozer, \nposisi pisau diatur ± 10 cm di atas permukaan tanah dan\/atau pisau \ndipasang gigi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; g. Cincang Jalur\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kegiatan yang dilakukan pada areal datar\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMembebaskan\n jalur tanam dan titik tanam dari kayu      dengan memotong kayu yang \nmasih melintang pada jalur tanam dan disusun di      jalur rumpukan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat jalur rintis tengah untuk jalan kontrol      selebar 4 m arah utara selatan harus bebas dari kayu\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenentukan jumlah rumpukan jalur ditetapkan :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPada areal dengan vegetasi padat penentuan ratio rumpukan 1:2\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada areal dengan vegetasi sedang sampai ringan ratio rumpukan 1:4\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELebar rumpukan ± 3 m dengan ketinggian maksimal 2 m\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kegiatan yang dilakukan pada areal berbukit\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPenempatan\n rumpukan dilakukan mengikuti areal kontur      dan kayu-kayu yang \nmelintang pada jalur kontur tanaman harus dipotong dan      disusun di \njalur rumpukan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk areal rendahan, penentuan rumpukan diserahkan      kepada kebijakan manajemen\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E3.\u0026nbsp; Perhitungan Waktu\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Waktu untuk pembukaan lahan 3.000 – 5.000 ha :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ESurvey\/mengukur      areal\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : ± 1 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBabat\/imas\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenumbang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMerencek dan merumpuk \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : 1 – 2      bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembersihkan areal\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemberantasan lalang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJalan + saluran air\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenanaman kacangan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      1 – 2 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemancang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETeras, benteng\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      2 – 3 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelubang\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      ± 2 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenanam\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :      ± 2 bulan\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\nPerencanaan dibuat dalam suatu \u003Ci\u003Ebarchart\u003C\/i\u003E.\n Pembukaan lahan dilakukan saat musim kering dan penanaman kelapa sawit \njatuh pada bulan basah\/musim hujan. Perlu diingat bahwa tidak harus \nselalu menunggu suatu pekerjaan selesai dulu\/dapat saling tumpang \ntindih.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E4.\u0026nbsp; Perhitungan Kebutuhan Traktor\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kapasitas traktor dengan beberapa implement\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 417px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJenis Pekerjaan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nImplement\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLebar Potongan (m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKecepatan (km\/jam)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nEfisiensi (%)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKapasitas (ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJKT\/ha\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembabat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJD 307\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembajak   I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJD SA   234, 4 Plow 28 inch\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n70\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,86\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembajak   II\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJD SA   234, 4 Plow 28 inch\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,40\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMenggaru   I\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJD Integral disc harrow 9,5   inch\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,89\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMenggaru   II\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJD Integral disc harrow 9,5   inch\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n80\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKebutuhan\n traktor berdasarkan kapasitas tersebut diatas perlu dihitung sesuai \ndengan luas areal yang akan dibuka dan jumlah waktu yang tersedia.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E5. Pedoman Pelaksanaan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hutan Primer\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECara yang digunakan : Manual atau mekanis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan alat dan tenaga untuk pembukaan hutan primer :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 434px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUraian\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"253\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nManual\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMekanis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK (HK\/ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK \/ JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBabat\/Imas\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   panjang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-25   HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMenumbang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGergaji   rantai, kampak\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30-60\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10-14   JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerencek\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   + kampak, gergaji\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40-50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGergaji   rantai\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40-50\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerumpuk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10-15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7-9   JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembersihkan   jalur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCangkul\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8 JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n120-160 HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(60-75 HK) + (25-32 JKT)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EHK\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Hari Kerja\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJKT\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Jam Kerja Traktor\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)            \u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hutan Sekunder\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECara yang digunakan : manual atau mekanis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan alat dan tenaga untuk pembukaan hutan sekunder :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 396px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUraian\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"253\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nManual\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMekanis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK (HK\/ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK \/ JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBabat\/Imas\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   \u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20   HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMenumbang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGergaji   rantai\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25-35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8-12   JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerencek\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   + gergaji\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nGergaji   rantai\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerumpuk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10-12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4-6   JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembersihkan   areal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCangkul\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6 JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n85 - 117 HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(35-55 HK) + (18-24 JKT)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)  \u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Semak Belukar\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ECara yang digunakan : manual atau mekanis\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan alat dan tenaga untuk pembukaan semak belukar :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 349px; width: 701px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUraian\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"253\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nManual\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMekanis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK (HK\/ha)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAlat\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKeb. HK \/ JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBabat\/Imas\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   \u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20   HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerencek\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang   + gergaji\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nParang\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15-20   HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMerumpuk\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n-\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10-15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMembersihkan   jalur\/areal\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nCangkul\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"114\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBuldozer\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4-6   JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"110\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJumlah\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"127\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"126\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n65-80 HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"227\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(30-40 HK) + (4-6 JKT)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"color: red;\"\u003E\u003Cb style=\"background-color: #fff688;\"\u003ESistem Land Clearin dengan Membakar sekarang dilarang \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-glO56bjV4CM\/UG-j41GFwbI\/AAAAAAAACR4\/iKlS9NfIL0g\/s1600\/bakar.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-glO56bjV4CM\/UG-j41GFwbI\/AAAAAAAACR4\/iKlS9NfIL0g\/s320\/bakar.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKetentuan\n pemerintah UU no 32\u0026nbsp; Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup sesuai pasal \n108 berbunyi : Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana \ndimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf h, dipidana dengan pidana penjara\n paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan \ndenda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling \nbanyak\u0026nbsp; Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;  \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EII. PENGAWETAN TANAH\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cb\u003E1. Teras Kontur\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPada\n umumnya areal penanaman kelapa sawit di Indonesia terletak pada daerah \nyang banyak hujannya. dan tidak semuanya datar\/flat. Pada bulan tertentu\n (musim hujan) dapat tejadi lebih air (water excess), tetapi pada \nbeberapa lokasi dimana terdapat perbedaan musim hujan dan kemarau agak \ntegas terdapat pula kekurangan air (water deficit). Agar air hujan yang \njatuh dapat ditampung, ditahan lebih lama agar meresap dalam tanah, \npersediaan air dalam tanah (water reserve) selalu cukup terutama pada \nmusim kemarau dan untuk mencegah erosi maka dibangunlah teras, rorak, \nbente4ng, parit dan lain-lain dilapangan. Tindakan pengawetan tanah ini \nmutlak diperlukan terutama didaerah yang memiliki jumlah dan hari hujan \nbesar pada lahan yang berombak, berbukit. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"253\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/Slide2.JPG\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 253px; margin: 5px; padding: 10px; width: 310px;\" width=\"310\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPada\n daerah datar yang diutamakan adalah parit, drainase dan jembatan , \nsedangkan teras dan benteng tidak banyak diperlukan, Untuk mematahkan \naliran air permukaan (run off) dan memperbesar daya infiltrasi air \nketanah maka diperlukan teras. Teras ini juga berguna untuk meningkatkan\n daya simpan air, mempermudah pemeliharaan, tempat pupuk ditabur dan \nakan mempermudah pengmbilan hasil, sampai dengan kemiringan 8 derajat \ndbuat teras tunggal (individual\/tapak kuda) dan diatas ini dibuat teras \nbersambung. Teras tunggal yang telah dibuat, berukuran 2x 1,5 meter \ndimana panjang menurut arah kountur dan lebar menurut\u0026nbsp; kemiringan \ndimulai 50 cm dibawah pancang. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPermukaanya\n dibuat miring kedalam dengan sudut 10 derajat, disebelah dalam dibuat \nrorak kecil guna penampungan air dan benteng kecil. Teras ini harus \ndapat diperbesar menjadi 3x3 meter. Teras bersambung dibuat berdasarkan \nderajat kemiringan,jarak antar kontur diambil dari rata-rata kemiringan,\n makin tinggi kemiringannya maka makin jauh jaraknya, lebar teras \nminimum 3,7 meter dan maksimum 4,27 meter dengan asumsi bahwa diameter \nbatang 2,36 meter maka masih tersedia ruang masing-masing sepanjang \n1,175 meter didepan maupun dibagian belakang pokok. Terutama pada areal \nkemiringan 14% maka teras sinambung ini sudah mutlak perlu, untuk \nkedapatan pokok per HA 128 dan 138 pokok misalnya maka jarak antar \nkontur dan jarak antar pokok adalah :\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\nTabel Jarak Antar Teras dan Tanaman  \u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EJarak antar kontur (m ) pokok\/ha\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"252\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003EJarak\u0026nbsp;   antar\u0026nbsp; pokok\u0026nbsp; pada\u0026nbsp;   kepadatan\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E128\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cb\u003E136\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E7,0\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E7,3\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E7,6\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E7,9\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,2\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,5\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,8\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E11,1\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E10,6\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E10,2\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,8\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,5\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,1\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,8\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E10,3\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,9\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,5\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E9,2\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,8\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,5\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E8,2\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\nTabel Bentuk Pengawetan Tanah\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKelas\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;lahan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"244\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKemiringan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"166\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTindakan \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPengawetan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nDerajat (º)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n( % )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"128\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nRata\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nAgak   miring\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMiring\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSangat   miring\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0º\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0º - 3º\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4º - 28º\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n29º - 45º\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026lt; 1%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1 – 6%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7 –   54%\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n55% -   100%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"166\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTidak   perlu\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBenteng,   rorak\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTeras   individu, tapak kuda dan teras kontur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTeras   bersambung\/Kontur\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\nTabel Jarak Teras dan Kemiingan Persyaratan Teras \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKemiringan ( º )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak Teras ( m )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKemiringan ( º )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak Teras ( m )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,16\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,00\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,19\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,42\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,28\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n35\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,96\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,45\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10,65\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"116\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"136\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,68\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n45\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"132\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,54\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u0026nbsp;  \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp; Tahap Pembuatan Kontur.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenentuan\n pancang induk.Pancang induk adalah pancang dengan jarak tertentu dan \ntetap, tempat\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; dimulainya pembuatan kontur. Penempatan pancang \ninduk dimulai dari puncak lereng kearah kaki lereng, sedangkan lereng \nyang dipilih adalah lereng dengan kemiringan dominan atau rata-rata \nterbanyak pada suatu areal, bukan lereng yang ekstrim (lereng paling \nterjal atau paling landai).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2. Penempatan pancang induk \u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenempatan\n Pancang Induk pada lereng yang terjal akan mengakibatkan banyaknya \nkontur sisipan, sedangkan pada lereng yang landai mengakibatkan banyak \nkontur terputus, hal ini harus dihindari.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jarak antar pancang induk :\n 8 m timbang air ( water pass ),\u003Cb\u003E\u003Ci\u003E \u003C\/i\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EPrinsip Kerja.\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenentuan\n titik tanam pada kontur teratas (kontur 1) jarak antar titik tanam 9,2 m\n dan konstan.Penentuan titik tanam pada kontur berikutnya :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMeletakan ujung tali ditengah-tengah antara dua tanaman pada kontur 1.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenarik\n tali vertikal kebawah, ketika sampai pada kontur II dibelokan kekanan \ndan digeser-geser hingga sudut belokannya +\/- 90 derajat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada sudut ini merupakan titik tanam pada kontur II.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUjung t6ali juga merupakan titik tanam ke2 titik-titik tanam tersebut diberi pancang tanam.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPenentuan\n titik tanam berikutnya adalah : pembawa ujung tali pada kontur 1 \nmenggeser ketanah pada kontur 1 diikuti oleh 2 orang yang berada \ndikontur II, titik tanam terakhir ada pada kontur II merupakan titik \nsiku-siku, dan ujung tali pada kontur tanam merupakan titik tanam \nbaru.Untuk mendapatkan titik siku-siku pada titik siku pembawa ujung \ntali pada kontur 1 menggeser kekiri atau kekanan diikuti pembawa ujung \ntali. Untuk selanjutnya penentuan kontur, berikut prinsipnya sama dengan\n penentuan pada kontur 1 dan II. Pancang kontur dicabut bila pancang \ntanam sudah ditancapkan.Pancang induk dicabut jikatitik tanam terakhir \ntelah selesai dalam 1 kontur.Pancang dapat digesr 1-2 meter untuk \nmenyesuaikan letak dengan tanaman diatasnya agar tidak terletak segaris \natau sejajar. \u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E2. Benteng dan Rorak \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat pada tanah agak miring : 10 – 15 m\/HK\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran : lebar alas = 60 cm, lebar atas = 40 cm,      kaki lima = 45 cm, tinggi 30 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPedoman jarak horizontal antar 2 benteng :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tabel Persyaratan Pembuatan Benteng\/Rorak  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"240\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKemiringan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJarak (m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5%\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6%\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"120\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(0º34´)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(1º9´)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(1º44´)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(2º18´)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(2º52´)\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(3º26´)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"156\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n60\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n30\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n18\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003ECara pembuatan benteng\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETentukan titik pemancangan; pancang-pancang selanjutnya sesuai jaraknya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EParit digali, tanah galian di timbun memanjang dan bentuklah benteng sesuai ukuran\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EParit (rorak) : lebar atas 50 cm, dasar = 35 cm, dalam 60 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E3. Teras Individu (Tapak Kuda)\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDibuat pada tanah agak miring\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran lebar = 4 meter\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPrestasi kerja 2 – 3 st\/HK\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Ci\u003ECara pembuatan \u003C\/i\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAreal yang harus di buat tapak kuda dipancang menurut pancang tanam\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETapak kuda tepat pada pancang tanaman\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah bagian atas pancang digali\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKemiringan tapak kuda 10-15º ke arah bukit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah ditumpukan ke belakang pancang kemudian dipadatkan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EI\u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EII. Pembuatan Jalan\u003C\/span\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 1.\u0026nbsp; Pembuatan jalan pada Areal Datar\/Darat\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat desain jalan bersamaan dengan pembuatan blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan jalan menggunakan buldozer minimal tipe D6\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan parit pada satu sisi badan jalan jika      dianggap perlu, baik pada MR maupun CR\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembentukan\n badan jalan dengan motor greader. Jalan      yang dibentuk harus \ncembung pada bagian tengah badan jalan (camber) agar      air tidak \ntertahan di badan jalan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan tali air pada kiri dan kanan \njalan harus      dibuat secara berselang-seling (zig-zag). Jumlah tali \nair ditentukan      berdasarkan tingkat kelandaian jalan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemadatan badan jalan menggunakan road      roller\/vibrating compactor 6 ton\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2. Pembuatan Jalan pada Areal Gambut\/Rawa\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dibuat sistem \u003Ci\u003Etanggulan\u003C\/i\u003E dengan membuat parit pada satu sisi jalan. Tahap pembuatannya :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan desain jalan bersamaan dengan pembuatan      blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenentuan\n sisi badan jalan yang akan dibuat parit      harus ditetapkan satu arah\n berdasarkan pertimbangan lokasi rendahan yang      dominan agar parit \nyang terbentuk dapat mengalirkan air dengan lancar\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan \njalan dengan cara menggali parit pada satu      sisi jalan menggunakan \nexcavator dan tanah hasil galian ditimbunkan pada      badan jalan. \nSetelah timbunan tanah mengering diratakan dengan buldozer dan      \nselanjutnya dilakukan penimbunan dengan tanah mineral. Badan jalan      \ndibentuk dengan motor greader dan harus cembung pada bagian tengah badan\n      jalan (camber) agar air tidak bertahan di badan jalan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3. Pembuatan Jalan Kontur\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jalan kontur harus dibangun sebelum pembuatan teras. Hal yang diperhatikan dalam pembuatan jalan kontur :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EHarus memotong teras\/kontur\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBadan jalan dibuat miring ke arah tebing\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGradien\n (kemiringan sudut) pada umumnya harus 1:30      walaupun masih \ndimungkinkan 1:15 pada jarak pendek dan 1:8 pada lereng      yang lebih \ncuram\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/--jjgv3j2B9o\/UG-kgxImROI\/AAAAAAAACSA\/s-Qdt18pDvs\/s1600\/3.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/--jjgv3j2B9o\/UG-kgxImROI\/AAAAAAAACSA\/s-Qdt18pDvs\/s320\/3.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EKontur Jalan\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;T\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003Eahap Pembuatan Jalan\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPenentuan posisi\/letak jalan yang akan dibuat      melalui survei\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemancangan jalan ditentukan dengan theodolite.      Posisi pancang diletakkan di bagian tepi jalan sebelah luar dinding bukit\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan\n jalan dengan buldozer dimulai dari bawah      mengarah ke atas. Pancang\n yang sudah dibuat tidak boleh tumbang untuk      kontrol bahwa jalan \ntelah disesuaikan dengan desain\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EPenimbunan dan Pengerasan Jalan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003EWaktu Pelaksanaan\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPerencanaan\n penimbunan\/pengerasan jalan disesuaikan dengan kebutuhan kebun dengan \nmemperhatikan iklim setempat sehingga pekerjaan dapat dilakukan bukan \npada musim hujan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPengajuan rencana anggaran pekerjaan (RAP) dari\n kebun ke CEO harus sudah selesai pada bulan Desember tahun sebelum \nberjalan. Data RAP yang harus dipersiapkan terdiri atas peta jalan yang \nakan ditimbun\/dikeraskan, disertai data panjang, lebar, tebal penimbunan\n (MR, CR, dll) serta volume material yang akan digunakan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003ESarana Pekerjaan\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPeralatan \u0026amp; sarana kerja yang diperlukan telah dipersiapkan dalam kondisi baik\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJenis\n sarana pekerjaan : grader, excavator, buldozer, mining bucket, wheel \nloader, dump truk, roller\/vibrating compactor 6 ton dan lainnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBila pakai kontraktor, harus disiapkan oleh kontraktor sesuai spesifikasi pekerjaan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Ci\u003EPengadaan Bahan\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBahan\n yang dipakai harus diutamakan yang tersedia di lokasi kebun dan \nsekitarnya dengan mempertimbangkan jarak sumber bahan (quari) dengan \nlokasi penimbunan\/pengerasan jalan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EQuari harus disurvey untuk menentukan kualitas dan kecukupan bahan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EIV. Jembatan dan Gorong-gorong\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan jalan diusahakan melalui bagian sungai      yang tersempit agar kalau harus dibuat jembatan cukup yang kecil saja\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESungai      kecil dan dangkal cukup dengan gorong-gorong (bus air)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk 1      tempat gorong-gorong 7 bh, batu 1-2 m3; tenaga 6-10 HK\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUkuran      gorong-gorong besar : panjang 1 m, diameter 1 m kecil : panjang 1 m,      diameter 0,6 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETimbunan\n      minimum setebal diameter gorong-gorong, misalnya gorong-gorong \ndengan      ukuran 60 cm ditimbun dengan tanah minimal 60 cm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJalan dan      tanah diatas gorong-gorong harus waterpass\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EV. Parit Drainase\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EBerfungsi untuk pembuangan air dari dalam ke luar      kebun\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBerupa alur-alur alam (sungai-sungai kecil) maupun      parit yang dibuat\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tabel Ukuran Parit Drainase  \u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nJenis Parit\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLebar Atas\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nLebar Dasar\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKedalaman\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n(m)\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd colspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"204\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nStandard Pembuatan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nManual\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMekanis\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPrimer\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nSekunder\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTersier\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKuarter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,5-5,0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,2-2,7\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,3-1,7\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,8-1,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,0-3,0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,0-1,2\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,5-0,7\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,3-0,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,5-2,0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,2-1,5\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,8-1,0\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n0,5-0,6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"96\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2-2,5   m\/HK\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3-4   m\/HK\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4-6   m\/HK\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8-10   m\/HK\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"108\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20-40 m\/JKT\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n40-60   m\/JKT\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n60-70   m\/JKT\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n80-100   m\/JKT\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u0026nbsp; \u003Ci\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003ECara membuat parit\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat pancang dari hulu ke hilir\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EManual : tanah digali dengan cangkul atau sekop\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMekanis : dengan excavator\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EArah penggalian dari hilir ke hulu\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah galian dibuang ke kiri dan kanan parit untuk      kaki lima\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETempat pertemuan parit\/Junction harus membelok ke      arah aliran air\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EStandadard Biaya LC dan Pembangunan Jalan dapat di download di :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E1.\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"font-weight: bold;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565184\/BudgetPembukaanlahan.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565184\/BudgetPembukaanlahan.pdf.html \u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E2.\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565391\/BIAYALC.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565391\/BIAYALC.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #006a79; font-family: Verdana; font-size: 12px; font-weight: 800;\"\u003E\u003Cbr class=\"Apple-interchange-newline\" \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4967906644816423091"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/4967906644816423091"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/pembukaan-areal-kelapa-sawit.html","title":"Pembukaan Areal Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-glO56bjV4CM\/UG-j41GFwbI\/AAAAAAAACR4\/iKlS9NfIL0g\/s72-c\/bakar.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-8710695254883445443"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:34:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T10:17:35.363+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Perencanaan dan Bloking Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-CCcKHzezo0M\/UG8GhplHm_I\/AAAAAAAACM8\/UWuYtOrRdAA\/s1600\/perenvanaan+kelapa+sawit.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"241\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-CCcKHzezo0M\/UG8GhplHm_I\/AAAAAAAACM8\/UWuYtOrRdAA\/s400\/perenvanaan+kelapa+sawit.png\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EProject Development Flow Chart\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EI. PERENCANAAN\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003EA.  MAKSUD DAN TUJUAN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp; Maksud :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMerencanakan\n tata ruang dalam kebun dan afdeling yang\u0026nbsp;\u0026nbsp; terbagi, tahun tanam, \nmaterial tanaman, blok, pembibitan, jaringan jalan, saluran air, lokasi \npabrik, kantor, perumahan, bangunan sosial, sarana olah raga yang \ndigambarkan dalam peta induk (ploting design)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp; Tujuan :\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSebagai pedoman tahapan kegiatan pelaksanaan yang berkesinambungan efektif dan efisien \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EB.  STANDARD KEBUN DAN AFDELING\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cbr \/\u003E\nTabel Standard penataan kebun dan afdeling\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd valign=\"top\" width=\"163\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUraian\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"137\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKebun Kecil\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"180\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nKebun Besar\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"163\"\u003ELuas (ha)\u003Cbr \/\u003E\nLuas 1 afdeling\u003Cbr \/\u003E\nLuas 1 blok\u003Cbr \/\u003E\nJumlah afdeling\u003Cbr \/\u003E\nPembukaan areal I\u003Cbr \/\u003E\nII\u003Cbr \/\u003E\nIII\u003Cbr \/\u003E\nIV\u003Cbr \/\u003E\nKapasitas pabrik\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"137\"\u003E± 5.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n750-1.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n16-25 ha\u003Cbr \/\u003E\n5-7\u003Cbr \/\u003E\n3.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n2.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n30 ton TBS\/jam\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"180\"\u003E10.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n750-1.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n16-25 ha\u003Cbr \/\u003E\n10-14\u003Cbr \/\u003E\n3.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n3.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n2.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n2.000 ha\u003Cbr \/\u003E\n60 ton TBS\/jam (2   tahap)\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u0026nbsp;Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ETabel Alokasi areal per hektar (%) secara umum untuk kebun besar \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"width: 480px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003ENo\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"191\"\u003EPeruntukan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"77\"\u003ELuas (m2)\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"180\"\u003E%-tase\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E1\u003Cbr \/\u003E\n2\u003Cbr \/\u003E\n3\u003Cbr \/\u003E\n4\u003Cbr \/\u003E\n5\u003Cbr \/\u003E\n6\u003Cbr \/\u003E\n7\u003Cbr \/\u003E\n8\u003Cbr \/\u003E\n9\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"191\"\u003ETanaman Pokok\u003Cbr \/\u003E\nBibitan\u003Cbr \/\u003E\nJaringan jalan\u003Cbr \/\u003E\nParit\u003Cbr \/\u003E\nPabrik dan Limbah\u003Cbr \/\u003E\nKantor\u003Cbr \/\u003E\nPerumahan\u003Cbr \/\u003E\nBangunan Sosial\u003Cbr \/\u003E\nSarana olah raga\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"77\"\u003E9.196\u003Cbr \/\u003E\n20\u003Cbr \/\u003E\n320\u003Cbr \/\u003E\n270\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n2\u003Cbr \/\u003E\n135\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n16\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"180\"\u003E91,96\u003Cbr \/\u003E\n0,20\u003Cbr \/\u003E\n3,20\u003Cbr \/\u003E\n2,70\u003Cbr \/\u003E\n0,25\u003Cbr \/\u003E\n0,02\u003Cbr \/\u003E\n1,35\u003Cbr \/\u003E\n0,16\u003Cbr \/\u003E\n0,16\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"32\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"191\"\u003EJumlah\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"77\"\u003E10.000\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"180\"\u003E100,00\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u0026nbsp;Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EC. DASAR PERENCANAAN PERUNTUKAN PLOT DISAIN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1. \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Sistem jaringan jalan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nJalan\n adalah sarana penghubung untuk pengangkutan bahan, alat dan produksi \nserta untuk jalan kontrol, maka jaringan jalan dan mutu jalan di kebun \nmerupakan salah satu faktor keberhasilan pengelolaan. Perencanaan \npembuatan jaringan jalan harus selaras dengan desain kebun dan \ndisesuaikan dengan kondisi topografi dan kebutuhan berdasarkan luasan \nkebun.Kebutuhan jalan disesuaikan dengan kondisi lahan. \u003Ci\u003EPada areal datar panjang main road 10,2 m per ha dan collection road 33,6 m per ha\u003C\/i\u003E\u003Ci\u003E \u003C\/i\u003EPembangunan jalan dibuat dengan sistem segi empat beraturan (grid system) mengikuti denah blok yang berukuran 300 m x 1.000 m \u003Ci\u003EPembangunan jalan di areal berbukit kebutuhannya lebih banyak dan dibuat dengan sistem jalan kontur.\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kantor dan Pemukiman\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTata\n letak kantor dan pemukiman harus sesuai dengan luas areal tanaman, \njarak kelokasi tanaman (ke afdeling-afdeling), kesehatan lingkungan, \nsumber air dan jumlah karyawan \u003Ci\u003EPada umumnya kantor ataupun pemukiman diletakkan pada titik sentral afdeling maupun kebun\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pabrik\u003C\/b\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerencanaan\n pabrik disesuaikan dengan luas areal tanaman kelapa sawit yang \nproduksinya akan diolah dan letaknya tidak mengganggu kesehatan \nlingkungan pemukiman\u003C\/div\u003E\n\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Letak lokasi pabrik tersebut harus memenuhi syarat tertentu :\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003ELetak pabrik diusahakan pada titik sentral\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EDekat sarana perhubungan baik jalan raya, kereta api yang menghubungkan ke pelabuhan\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EBerdekatan dengan sumber air\/sungai yang sepanjang tahun terjamin debit airnya\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EMempunyai sarana penunjang misalnya bengkel serta tenaga kerja\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EAreal cukup rata\/flat area\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E4. \u0026nbsp; Pembibitan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBagi perkebunan baru didalam design kebun juga harus dicadangkan areal lokasi pembibitan kelapa sawit.\u003Ci\u003EAdapun pertimbangan yang dipedomani untuk menentukan lokasi bibitan adalah \u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EDekat dengan sumber air yang mengalir sepanjang tahun\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EAreal cukup rata\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EDekat dengan penanaman kelapa sawit\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EBebas dari banjir\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003ELetaknya berdekatan dengan sumber tenaga\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003EPerencanaan luas bibitan disesuaikan dengan rencana penanaman\u003C\/i\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003E5.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Afdeling dan Blok\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLuas\n afdeling disesuaikan dengan keadaan topografi lahan dan efisiensi \npengelolaan areal yang dihubungkan dengan perawatan tanaman dan \npemanenan. Luas areal satu afdeling yang ideal berkisar ± 750-1.000 ha. \u003Ci\u003ELuas\n ideal 1 blok adalah 25 ha (500 x 500 m) untuk daerah datar sedangkan \nuntuk daerah bergelombang, atau berbukit adalah 16 ha (400 x 400 m)\u003C\/i\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EII.\u0026nbsp; BLOKING AREA\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPengukuran\u0026nbsp;\n lahan adalah pelaksanaan pekerjaan pengukuran untuk\u0026nbsp; mengetahui luas \ndan batas batas lahan yang berseberangan\u0026nbsp; yang mengacu pada ketentuan \nteknis pengukuran tanah untuk mendapatkan detail planimetris (X,Y) dan \ntinggi (h) yang dapat memenuhi persyaratan Geometrisnya.\u0026nbsp; \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPembangunan\n kebun kelapa sawit pada intinya adalah pembuatan petak petak lahan\u0026nbsp; \nkerja berupa blok untuk ditanami benih dan bibit kelapa sawit, blok \nadalah manajemen terkecil dari suatu kebun, yang kemudian secara \nkolektif membentuk afdeling atau divisi, dan beberapa afdeling atau \ndivisi menjadi estate. Pembuatan blok blok tanam banyak ditentukan dari \nbentuk kontur dan\u0026nbsp; topografi lahan \/ areal, dan harus memenuhi beberapa \nkaidah antara lain :\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E1. \u0026nbsp; Batasan\/Pengertian Blok \u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPembuatan\n Batas areal\/lahan\u0026nbsp; dan rancangan blok (bloking areal) utamanya pada \nbidang perkebunan perlu dilaksanakan sebagai dasar untuk penyusunan \nrencana kerja, yaitu meliputi sistem kerja (perencanaan dan \npengorganisasian), menentukan kebutuhan alat\/tenaga kerja, dan \nmenentukan kebutuhan biaya. Oleh karena itu, pembangunan fisik kebun \ndalam bentuk apapun belum dapat dilaksanakan sebelum pekerjaan bloking \n(termasuk survei lahan) diselesaikan, kegiatan bloking areal ini juga \nberguna bagi masyarakat pemilik lahan yang inclave atau penyerahan dalam\n menentukan kepemilikan masing-masing lahan sebelum diserahkan ke \nperusahaan. Pekerjaan bloking areal kedepannya selain mengukur blok-blok\n tanaman dalam satuan terkecil misalnya\u0026nbsp; 25 Ha, 30 Ha maupun penentuan \nblok yang sesuai dengan kontur. \u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E2. \u0026nbsp; Survey Pendahuluan\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMempersiapkan Peralatan dan Peta Kerja berikut informasi terkait areal yang akan di survey\/dilacak batasnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMempersiapkan\n peta kerja perlu dilakukan agar pada saat pelaksanaan tidak terjadi \noverlaping areal karena akurasi informasi yang tidak tepat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeta \nyang digunakan adalah peta standard yang dikeluarkan oleh instansi yang \nberwenang misalnya : Dinas Kehutanan dan perkebunan; Badan Pertanahan \nNasional; Peta RTRWK\/RWP; Peta RBI dan lain sebagainya\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cb\u003E a. Peralatan Survey antara lain :\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk merintis : parang\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk\n pengukuran : Kompas, Altimeter (mengukur ketinggian mdpl), GPS, Kamera,\n Pita ukur (meter gulung), peta \u0026nbsp;dasar\u0026nbsp; BPN\u0026nbsp; (Ijin Lokasi), peta kontur\u0026nbsp;\n Bakosurtanal), Hard Cover, Kertas,Alat\u0026nbsp; tulis, Cat (water resist), dll.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk Pemasangan Patok : Kayu ukuran 10 x 10 x 200 cm, palu, cat putih, cat merah dan\u0026nbsp; cat biru.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUntuk pembuatan peta : Komputer, Software GIS, Ploter,PC GPS\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003Cb\u003Eb. Menetapkan langkah-langkah teknis survey pelacakan batas \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EDalam\n pelaksanaan Survey langkah langkah teknis\u0026nbsp; perlu ditentukan agar \nsistematika\u0026nbsp; dan pelaporan hasil survey yang akan di ambil pada obyek \nsurvey punya \u003Cb\u003E\u003Ci\u003EBUKTI\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E dan \u003Cb\u003E\u003Ci\u003EHISTORIS\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E untuk di dokumentasikan antara lain : \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EKoordinat titik rujukan (Geodetic, UTM\/UPS\/TM3)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKode\u0026nbsp; titik patok\/pancang (merah, putih)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKelerengan\/Topografi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJenis vegetasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJalan, Sungai dan Rawa (Bentang\/Garis Alam)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetinggian tempat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELain-Lain (Hutan Larangan, Kuburan, Pohon Sialang, dll)\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Cb\u003E c. Persiapan bentuk pelaporan hasil survey\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ESistimatika pelaporan mengikuti standardisasi yang telah ditentukan dengan blanko\/taly sheet yang telah disediakan seperti :  \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003ERencana kerja harian\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERencana Kerja Bulanan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECheck List Survey Lahan Pembukaan meliputi :\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cul\u003E\u003Cul\u003E\n\u003Cli\u003EFit to Area\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELahan Pembukaan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOkupasi Tanaman Hortikultura\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOkupasi Tanaman Perkebunan Intensif\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOkupasi Tanaman Non Intensif\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EOkupasi Tanaman Kehutanan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cb\u003EB.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003ESISTEMATIKA DAN TEKNIS PEKERJAAN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPelaksanaan\n ploting dan bloking areal disesuaikan dengan peta BPN, diawali dari \npenentuan titik ikat (koordinatnya) sebagai titik rujukan tanda \nalam\/bentang alam yang tidak mudah berubah karena situasi (misal cabang \nsungai, persimpangan jalan dsb), utamakan pada batas\u0026nbsp; luar kebun, dengan\n GPS.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPada sepanjang \nbatas luar\/pringgan\/border atau batas penanaman sesuai dengan peta ijin \nlokasi (BPN) dan peta yang telah disiapkan dibuat jalur rintisan selebar\n 1,5 m lalu diukur dan setiap jarak 50 - 100 m dipasangi patok yang \ndicat merah.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPenandaan\n batas areal untuk pertama kalinya secara simbolis di laksanakan \nbersama-sama dengan instansi terkait, tokoh masyarakat serta tim survey \ndengan mengambil titik digitasi koordinat Geodetic, ketinggian lereng, \nkondisi lainnya yang telah di tetapkan sesuai peta BPN\u0026nbsp; oleh tim \nsurveyor dicatat dan selanjutnya penanaman patok batas yang\u0026nbsp;\u0026nbsp; dilakukan \noleh juru patok, penanggung jawab perusahaan atau yang mewakilinya, dan \ntokoh masyarakat atau yang mewakilinya, untuk selanjutnya melaksanakan \nbloking area keseluruhan sesuai rencana pembangunan kebun (Peta BPN).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMengukur keliling areal kerja efektif (Bloking Border\/Area)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengukur \u0026amp; memetak blok\/bloking blok\u0026nbsp;\u0026nbsp; (U–S\u0026nbsp; interval 250m x T-B 1000 m)\u0026nbsp; 25 ha sesuai kondisi lahan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemetakan jalan sebagai batas blok ( Main Road \u0026amp; Collection Road) \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemasang patok kayu di setiap sudut blok \u0026amp; penomoran blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemoles tanda dgn cat merah di sepanjang garis batas ukur blok dan cat putih pada perpotongan blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemetakan bentang alam ( dalam buku kerja )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelaksanakan survey blok per blok, pedoman US-SU-TB-BT\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenyajikan semua batas-batas alam, jalan, susunan blok yang diukur dan luasnya dan nomor blok dalam gambar\/peta\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMengukur blok per blok.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMemetakan hasil survey sesuai kaidah pemetaan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat Peta rancangan Desain Blok berdasarkan data awal yang sudah dikumpulkan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-roman outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMelakukan\n checking lapangan berdasarkan Peta Rancangan Desain Blok untuk \nmendapatkan Desain Blok Definitif dengan mengambil beberapa informasi \ntambahan seperti : Mengambil Sampel Tanah, Mengambil Sampel air , \nMengukur PH Tanah, Mengukur Titik Elevasi Lahan, Menentukan Titik \nStarting Point pada bentang alam, Vegetasi Dominan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPembuatan \nPeta Desain Blok definitif yang merupakan perbaikan dari Peta Rancangan \nDesain Blok berdasarkan hasil checking lapangan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeta Desain Blok\n Definitif berfungsi sebagai peta kerja dan peta dasar untuk kegiatan \npengurusan lebih lanjut dalam rangka pelaksanaan Pembangunan perkebunan \nKelapa Sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPeta Blok sebagai acuan dalam menentukan arah pembangunan, perawatan, pemanenan, dan infrastruktur.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003EC.\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EKESELAMATAN KERJA\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPekerjaan\n survey dan bloking areal adalah pekerjaan yang beresiko tinggi, dan \nberbahaya seperti hewan liar, alam yang masih asing serta iklim dan \ncuaca yang kadang tidak bersahabat, serta harus berjalan dan menginap \npada celah dan jalur naik turun lereng dalam garis lurus, maka alat-alat\n survey serta\u0026nbsp; perlindungan dan keselamatan kerja harus sangat \ndiperhatikan dan selalu dalam pengawasan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003ED.\u0026nbsp; MEKANISME\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Ci\u003E 1. Menetapkan batas konsesi lahan\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EMembuat jalur-jalur rintisan arah U – S berjarak tiap 400 atau 500 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemetaan skala detail calon areal perkebunan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUmumnya survey dilakukan oleh konsultan\/balai penelitian\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKebutuhan juru ukur 2,5 HK\/ha dan perintis 5 HK\/ha\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Ci\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; 2\u0026nbsp; Penyusunan Tata ruang\u0026nbsp; \u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tata ruang disusun berdasarkan hasil survey lahan semi detail yang mencakup :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJaringan jalan terutama untuk jalan penghubung keluar dan masuk lokasi\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBatas kebun dan batas kerja kontraktor\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi bibitan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKondisi lahan : darat, rawa, bukit dan sungai (rencana outlet)\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERencana pembagian blok\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELuas setiap blok 30 ha untuk inti dan 40 ha untuk plasma\/KKPA\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenentuan Main Rod dan Colection Road\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERencana lokasi pemukiman karyawan dan bangunan lainnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERencana lokasi pabrik dan kantor\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi quari material penimbunan dan pengerasan jalan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003Ci\u003E 3. Rintis – Bloking\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pedoman dalam pembuatan blok dan jalan di areal datar :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EBerdasarkan\n peta rencana blok, dilakukan kegiatan rintis MR arah Timur – Barat dan \nCR arah Utara – Selatan dengan menggunakan theodolite\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJarak titik pancang antar MR adalah 1.009 m dan antar CR adalah 307 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELebar blok 300 m dan panjang 1.000 m\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELebar MR 9 m dan CR 7 m\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKhusus\n untuk areal berbukit dilakukan imas tumbang terlebih dahulu sebelum \npembuatan jalan dan bloking. Bloking ditentukan berdasarkan batas jalan \ndan luasnya tidak harus 30 ha.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EAnalisa Estimasi Biaya Pengukuran Areal Kebun dapat di download disini\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-weight: bold;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"font-weight: bold;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10568136\/AnalisaProjectTataBatas.pdf.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10568136\/AnalisaProjectTataBatas.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003C\/span\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-weight: bold;\"\u003E\u003Cb\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8710695254883445443"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/8710695254883445443"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/perencanaan-dan-bloking-kelapa-sawit.html","title":"Perencanaan dan Bloking Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-CCcKHzezo0M\/UG8GhplHm_I\/AAAAAAAACM8\/UWuYtOrRdAA\/s72-c\/perenvanaan+kelapa+sawit.png","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-7390550978464780735"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:33:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T10:08:22.170+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Proses HGU Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003EI.\u0026nbsp; PENDAHULUAN\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUndang\n – undang No.22 \/ 1999 tentang Pemerintah Daerah  merupakan kerangka \nacuan peraturan bagi pelaksanaan otonomi daerah di  Indonesia. Otonomi \ndaerah merupakan kewenangan Daerah Otonomi untuk  mengatur dan mengurus \nkepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa  sendiri berdasarkan \naspirasi masyarakat dalam ikatan negara Kesatuan  Republik Indonesia. ( \nPasal 1 ).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSalah \nsatu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan  oleh daerah kabupaten \ndan kota yaitu bidang pertanahan Pasal11 Dengan  demikian ,pengadaan\/ \npengambilalihan tanah menjadi tanggung jawab dari  pemerintah kabupaten \ndan kota. Dalam rangka implementasi Undang – Undang  Otonomi Daerah ini,\n telah ada Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000  tentang kewenangan \nPemerintah di bidang pertanahan sebagaimana tertera  dalam pasal 2 ayat (\n 3 ) butir ( 14 ) sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan  persyaratan pemberian hak atas tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan persyaratan \u003Ci\u003Elandreform\u003C\/i\u003E.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan  persyaratan administrasi pertanahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan pedoman biaya  pelayanan pertanahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan kerangka dasar kadastral ( batas  tanah ) nasional dan pelaksanaan kerangka dasar kadastral orde I dan  orde II.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKewenangan\n propinsi  sebagai daerah otonomi meliputi kewenangan yang bersifat \nlintas  kabupaten\/kota dan kewenangan daerah tertentu yang meliputi \nperencanaan  dan pengendalian makro, pelatihan bidang tertentu, alokasi \nsumber daya  manusia potensial, penelitian yang mencakup eilayah \npropinsi,  pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan \nhidup, promosi  dagang dan budaya\/pariwisata, penanganan penyakit \nmenular dan hama  tanaman, serta perencanaan tata ruang propinsi.Dalam \nbeberapa  pertimbangan khusus, diantaranya bahwa tanah mempunyai nilai \nstrategis  Negara Kesatuan Indonesia maka pelaksanaan desentralisasi \npertanahan  ditunda selama dua tahun. Penundaan ini ditetapkan melalui \nKeputusan\u0026nbsp;  Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, \nfungsi,  kewenangan, susunan Organisasi dan Tata Kerja.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nLembaga\n Pemerintah Non-Departemen sampai  ditetapkanya seluruh peraturan \nperundang-undangan di bidang pertanahan,  selambat-lambatnya 31 mei \n2003.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Setelah batas waktu 31 mei 2003  berakhir, Pemerintah \nmengambil Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003  tentang kebijakan \nNasional di Bidang pertanahan yang menyerahkan  sembilan kewenangan \nPemerintah di bidang pertanahan kepada pemerintah  kabupaten dan kota, \nyaitu sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian izin lokasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelenggaraan  pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelesaian  sengketa tanah garapan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelesaian ganti kerugian dan santunan  tanah untuk pembangunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan subyek dan obyek  redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimal dan  tanah \u003Cb\u003E\u003Ci\u003Eabsente.\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan dan penyelesaian masalah  tanah ulayat (tanah adat ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemanfaatan dan penyelesaikan  masalah tanah kosong.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian izin membuka tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerencanaan  penggunaan tanah wilayah kabupaten\/kota.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EII.\u0026nbsp;\u0026nbsp;  PENCADANGAN IJIN LOKASI\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E.\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EP\u003C\/b\u003Eencadangan\n  tanah dan izin lokasi diatur dalam peraturan Kepala Daerah  \nKabupaten\/kota dengan Peraturan Daerah masing-masing yang esensinya  \nkurang lebih sebagai berikut :  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPerusahaan\n – perusahaan yang memerlukan tanah untuk keperluan  usahanya harus \nMengajukan permohonan arahan lokasi kepada  Bupati\/Walikota dengan \ntembusan kepada kepala kantor Pertanahan, Kepala  Dinas Perkebunan dan \nKepala Dinas Kehutanan Dati II dengan melampirkan  rekanan akte \npendirian perusahaan yang telah disahkan oleh menteri  Kehakiman dan \nHAM.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDalam memperoleh arahan lokasi tersebut  Kepala Kantor \nPertanahan mengadakan koordinasi dengan instansi terkait  dan \nmencadangkan areal nonhutan ( di Kalteng disebut sebagai kawasan  \npengembangan produksi-KPP, di propinsi lain disebut Areal Pengembangan  \nLain – APL ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EBupati \/ Walikota \u003C\/b\u003Emenerbitkan surat\u003Cb\u003E  keputusan \u003Ci\u003Earahan lokasi\u003C\/i\u003E yang\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003Eberlaku 6 - 12\u0026nbsp; bulan \u003C\/b\u003E(  tergantung kabupatennya ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBerdasarkan surat keputusan arahan  lokasi perusahaan dapat melakukan \u003Cb\u003Ekegiatan\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003E Survey\u0026nbsp; \u003C\/b\u003Elahan .  Jika lahan yang diarahkan sesuai untuk pengembangan sawit maka  perusahaan dapat mengajukan \u003Cb\u003Epermohonan izin prinsip\u003C\/b\u003E.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EIzin  Prinsip\u003C\/b\u003E\n akan dikeluarkan oleh Bupati\/walikota untuk jangka waktu  selama 1 \ntahun . Selama periode tersebut, pengusaha harus melakukan  \nkegiatan\/penguasaan atas tanah dan mengajukan izin prinsip.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPermohonan  \u003Cb\u003Eizin lokasi\u003C\/b\u003E\n di ajukan kepada Bupati\/Walikota dengan lampiran  status penguasaan \ntanah yang telah dilakukan. Izin lokasi biasanya  berlaku 2 tahun.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetelah mendapatkan izin lokasi , Perusahaan  harus melakukan AMDAL sebagai syarat untuk mendapatkan \u003Cb\u003EIzin Usaha  Perkebunan\u003C\/b\u003E \u003Cb\u003E( IUP ). \u003C\/b\u003ESetelah IUP diterbitkan, perusahaan harus  mengajukan \u003Cb\u003EIzin pembukaan lahan ( LC\u003C\/b\u003E ) dan dapat segera  beroperasi sejalan dengan permohonan HGU kepada BPN.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EIzin\n  lokasi yang telah berakhir dapat diperpanjang. Permohonan perpanjangan\n  izin Tersebut harus diajukan selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum \n habis jangka waktu izin lokasi berakhir disertai dengan alasan  \nperpanjanganya. Permohonan izin lokasi hanya boleh diajukan bila syarat \n perolehan tanah sudah lebih dari 50 % areal yang dicadangkan.\u0026nbsp;   \nPerpanjangan izin lokasi hanya diperbolehkan satu kali untuk periode 12 \n bulan.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBupati\/Walikota menerbitkan keputusan perpanjangan izin\n  lokasi selambat-lambatnya 10 hari kerja setelah diterimanya berkas  \npermohonan perpanjangan izin lokasi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\nLampiran surat permohonan arahan lokasi yaitu foto copy dukumen  sebagai berikut \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAkte  pendirian perusahaan yang telah disyahkan oleh pejabat yang berwenang.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGambar  kasar \/ sketsa tanah yang di mohon.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUraian rencana proyek yang  akan dibangun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyajian informasi Lingkungan ( PIL ) bagi usaha  yang diwajibkan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EIII.  PEMBERIAN HAK ATAS TANAH\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\n\u003Cb\u003E P\u003C\/b\u003Eerusahaan\n  yang telah memperoleh izin lokasi dari Bupati \/ Walikota dan setelah  \nselesai melaksanakan perolehan hak atas tanah yang telah dibebaskan maka\n  dapat segera mengajukan permohonan HGU . Adapun tata cara perolehan  \ntanah dapat dilakukan dengan beberapa proses sebagai berikut :    \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EJual-beli\n  calon penerima hal memenuhi syarat untuk menjadi subyek hak tanah yang\n  diperoleh dan tanah tersebut sudah ada sertifikatnya. Jual-beli ini  \ndilakukan melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepasan\n  hak di depan PPAT, Yaitu Notaris PPAT atau camat jika tanahnya belum  \nterdaftar dan\/atau tanah adat . Penerbitan hak atas tanah seperti ini  \nbaru dapat dilakukan setelah masa pengumuman berakhir.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelalui  \npermohonan hak jika tanahnya dikuasai oleh negara.Dalam kasus ini tanah \n harus bebas dari garapan atau penguasaan lainya atas tanah dimaksud.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMelelui  tukar menukar jika tanahnya milik instansi pemerintah setelah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  Mendapat persetujuan dari menteri Keuangan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepasan\n tanah  disertai penyerahan pembayaran rekognisi dalam hal Tanahnya \nberupa tanah  ulayat, sepanjang kenyataanya hak ulayat tersebut masih \nada.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam\n  kasus “tumpang tindih hak kepemilikan tanah” di dalam tanah yang telah\n  Dikeluarkan izin lokasinya, perusahaan harus melakukan pembebasan \ntanah  untuk memperoleh tanah tersebut. Proses perolehan tanah tersebut \n diserahkan sepenuhnya kepada pihak perusahaan melalui negosiasi \nlangsung  dengan pemegang hak atas tanah. Bentuk dan besarnya nilai \nganti  kerugian ditetapkan atas dasar kesepakatan antara pihak – pihak \nyang  bersangkutan, bisa berupa hal berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EUang  pembayaran.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemukiman kembali ( relokasi\/konsolidasi )\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKesempatan  kerja.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyertaan saham.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGabungan dari beberapa bentuk  konpensasi diatas.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nDalam\n  pelaksanaan perolehan tanah, pengawasan dan pengendalian dilakukan \nOleh  Tim yang diketuai oleh Kepala Kantor Pertanahan \nKabupaten\/Kotamadya  sesuai dengan surat edaran Kepala BPN Nomor \n580.2-5568-D-III tanggal 6  desember 1990. Tugas tim ini antara lain \nsebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EMemberikan penyuluhan kepada pihak kedua  belah pihak dalam bidang pertanahan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembantu kelancaran  pembebasan tanah\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMembantu menciptakan suasana musyawarah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMencegah  ikut campurnya pihak ketiga.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMenyaksikan pembayaran atau  pemberian ganti rugi kepada pemilik yang berhak.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSesuai\n dengan Peraturan  Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 3 tahun 1990 \npasal 5 , Permohonan  HGU diajukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan \nPertanahan Propinsi  dengan dilampirkan fotocopy berikut ini :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EIzin  lokasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBukti – bukti perolehan tanahnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENPWP dengan  tanda bukti pelunasan PBB.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGambar situasi tanah hasil pengukuran  Kadastral oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJati diri  dari pemohon ( akte pendirian perusahaan ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESurat keputusan  pelepasan kawasan hutan dari Menteri kehutanan dalam hal tanahnya  diperoleh dari hutan konversi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EBeberapa Peraturan Dan Perundang Undangan yang terkait tentang pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E1.\u0026nbsp;\u0026nbsp; Undang – Undang\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU\n No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan \nEkosistemnya (lembar Negara Tahun 1990 Nomor 49. Tambahan Lembar Negara \nNomor 3419) berisi tentang aturan-aturan dan dasar Konservasi Sumber \nDaya Alam Hayati. Meliputi perlindungan terhadap system penyangga \nkehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta \nekosistemnya, peran serta rakyat dalam kegiatan konservasi;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU \nNo. 12 Tahun 1992 tentang Perkebunan yang menegaskan bahwa sistem \n\u0026nbsp;perkebunan harus didasarkan pada pemanfaatan berkelanjutan dan mencegah\n kerusakan;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU NO. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU No. 23 Tahun 1997 tentang Penelolaan Lingkungan Hidup;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EUU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E2. Peraturan Pemerintah\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenggunaan pestisida;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPP No. Menteri27 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan AMDAL;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPP No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPP\n No. 4 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan dan Atau Pencemaran \nLingkungan yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPP No. 28 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E3. Keputusan\/Peraturan Setingkat Menteri\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKeputusan Menteri Kehutanan No 353\/kpts-ii\/1996 tentang Penetapan Radius\/Jarak\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ELarangan\n Penebangan Pohon dari Mata Air, Tepi Jurang, Waduk\/Danau, Sungai dalam \nKawasan Hutan, Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya;\u0026nbsp; Keputusan Kepala \nBAPEDAL No. Kep -056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Dampak Penting;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeputusan Menteri Kehutanan No. 260\/kpts-ii\/1995 Petunjuk Tentang Pencegahan Kebakaran Hutan;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKeputusan\n Direktur Jenderal Perkebunan No. 38\/KB.10\/SK.DJBUN\/05-95 tentang \nPetunjuk Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar Untuk Perkebunan;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerMen LH No. 8 Tahun 2006 tentang Penyusunan AMDAL;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerMen LH No. 28 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan\/atau Kegiatan Wajib dilengkapi dengan AMDAL;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKepMenHutBun No. 376 Tahun 1998 tentang Kesesuaian Lahan yang cocok untuk perkebunan budidaya kelapa sawit;\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKep Pres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-NB0hniQYuWM\/UG7vmPnhJRI\/AAAAAAAACLw\/6l9ssSiJFAA\/s1600\/perijinan+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-NB0hniQYuWM\/UG7vmPnhJRI\/AAAAAAAACLw\/6l9ssSiJFAA\/s640\/perijinan+sawit.jpg\" width=\"480\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003ESebahagian Peraturan dan Perundang undangan dapat di download di sini :\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10419656\/PeraturanMenterittgTatacaraPembangunanPerkebunan.rar.html\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10419656\/PeraturanMenterittgTatacaraPembangunanPerkebunan.rar.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003Cb\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7390550978464780735"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/7390550978464780735"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/proses-hgu-kelapa-sawit.html","title":"Proses HGU Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-NB0hniQYuWM\/UG7vmPnhJRI\/AAAAAAAACLw\/6l9ssSiJFAA\/s72-c\/perijinan+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-981284128675936151"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:30:00.005+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T10:06:40.286+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Study Kelayakan Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cb\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EA.\u0026nbsp; PELAKSANAAN SURVEY\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPembangunan\n perusahaan perkebunan pada suatu  lokasi harus dilakukan dahulu studi \nkelayakannya, agar didapat keadaan  senyatanya keuntungan dan kerugian \nyang didapat apabila perusahaan akan  menginvestasikan dananya guna \nmembangun sebuah perkebunan, langkah  langkah yang harus dilakukan \nadalah sebagai berikut :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EI.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EIDENTIFIKASI  LINGKUNGAN FISIK\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-WpKZm6csHWw\/UG-c8HGjpwI\/AAAAAAAACQ8\/4HtiD3UTx70\/s1600\/sawit1.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-WpKZm6csHWw\/UG-c8HGjpwI\/AAAAAAAACQ8\/4HtiD3UTx70\/s320\/sawit1.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EArea yang disurvey\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-OLheu3z6qQ0\/UG-dk2t4McI\/AAAAAAAACRE\/cw9_WXNjqdk\/s1600\/sawit2.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/3.bp.blogspot.com\/-OLheu3z6qQ0\/UG-dk2t4McI\/AAAAAAAACRE\/cw9_WXNjqdk\/s320\/sawit2.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESurvey Air\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-PpgQOo0S6gg\/UG-elXpHljI\/AAAAAAAACRM\/jYBHzOwTMq4\/s1600\/sawit3.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-PpgQOo0S6gg\/UG-elXpHljI\/AAAAAAAACRM\/jYBHzOwTMq4\/s320\/sawit3.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESurvey Topografi\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-HRZj2U2JbZA\/UG-e2viMJ4I\/AAAAAAAACRU\/TPvWaN2FM1g\/s1600\/sawit4.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-HRZj2U2JbZA\/UG-e2viMJ4I\/AAAAAAAACRU\/TPvWaN2FM1g\/s320\/sawit4.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003EPengambilan Sample Tanah\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Melakukan identifikasi lingkungan  fisik berguna untuk mengetahui :\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ELokasi\n calon kebun Adalah untuk mengetahui lokasi  calon kebun apakah masuk \ndalam wilayah administrasi desa, kecamatan,  kabupaten dan propinsi juga\n jarak yang harus di tempuh untuk pencapaian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETransportasi  dan \nKomunikasi berguna untuk mengetahui transportasi yang dapat  dilakukan \nuntuk pencapaian ke lokasi kebun, transport yang akan  digunakan, jarak \ntempuh dan waktu tempuh, juga sarana jaringan  komunikasi yang dapat \ndipergunakan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ERiwayat dan Status Lahan  untuk mengetahui status \nkawasan calon areal apakah masuk dalam kategori  APL, HL, HPL atau \nkawasan Lindung dan lainnya, ini berguna untuk tindak  lanjut \nmeningkatkan status perijinan perkebunan selanjutnya (HGU),  dengan \npengambilan beberapa titik koordinat yang akan di compare dengan  peta \nkawasan dari kehutanan maupun pemerintah daerah rencana tata ruang  \nperuntukan nya (RTRWP\/RTRWK) \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKondisi\n Iklim kondisi iklim yang  ada di calon areal perkebunan, data di ambil \ndari berbagai sumber yang  terkait, seperti BMG, dan atau sumber sumber \nlain nya, data yang  diperlukan seperti : curah hujaan, suhu udara, \nkelembaban udara,  Kecepatan Angin, Ketersediaan Sumber Air.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EGeologi\n dan Bahan  Induk pengambilan data data jenis batuan dan bahan induk \nyang terkandung  di dalamnya berguna untuk kelayakan pertumbuhan \ntanaman.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETopografi\n  dan Bentuk Wilayah pengambilan data berupa visual topografi dan bentuk\n  wilayah ini berguna untuk rancangan desian kebun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EVegetasi.  \nvegetasi dominan di lokasi areal calon kebun, juga kondisi vegetasi  \ndimasukkan kedalam kelas hutan primer, hutan skunder, semak belukar, dan\n  lain sebagainya, ini berguna untuk langkah tindakan landclearing  \npembukaan areal.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETanah\n kandungan tanah pada areal calon  perkebunan perlu diketahui untuk \npertumbuhan tanaman, seperti ketebalan  efektif topsoil, kedalaman \npencapaian air resapan tanah, sifat kimia  tanah, semua data ini diambil\n dilapangan dengan mengambil sampling  galian tanah yang memanfaatkat \nsatuan peta tanah sebagai acuan penentuan  titik sample pengambilan \ntanah, yang selanjutnya sample sample tadi di  bawa ke laboratorium \nuntuk di teliti kandungan nya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EScreening  Areal melakukan \nploting areal lokasi calon kebun dengan memanfaatkan  peta citra landsat\n dan peta rupa bumi, peta RTRWP\/RTRWK, dengan  mengurangi factor \npembatas, seperti calon perumahan, pabrik, kawasan  pemukiman yang \ninclave, topografi dan kawasan kawasan lainnya, sehingga  di dapat luas \nefektif untuk pembangunan perkebunan.\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EII.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EANALISA SOSIAL EKONOMI\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;Pengambilan data sosial  ekonomi yang diperlukan seperti:\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EAdministrasi\n Pemerintahan Mengetahui posisi geografi  lokasi calon kebun yang masuk \ndalam wilayah kepemerintahan, desa,  kecamatan dan Kabupaten, termasuk \njuga luas wilayah kepemerintahan yang  membawahinya \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKependudukan\n Data Demografi kependudukan dalam  kelompok umur produktif dan non \nproduktif juga berdasarkan jenis kelamin  pada wilayah kepemerintahan \ncalon areal kebun\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EMata Pencaharian  penduduk\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKetersediaan tenaga kerja Data kelompok umur produktif  sebagai bahan dalam menghitung ketersedianya tenaga kerja\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EFasilitas  umum dan fasilitas sosial yang ada\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETingkat pendidikan  masyarakat di lingkungan sekitarnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAgama\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBudaya dan  Adat Istiadat\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EAnalisa keberadaan pembukaan areal perkebunan\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nMengetahui\n faktor penghambat yang akan di hadapi  apabila pembukaan areal tetap \ndilaksanakan apabila ada, dan solusi yang  di diambil untuk \nmeminimalisir benturan benturan yang akan terjadi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EIII.\u0026nbsp;\u0026nbsp;  \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EANALISA KESESUAIAN LAHAN\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-nmi-QBLVgoM\/UG-fWrZT28I\/AAAAAAAACRc\/9UkwdZ38NHA\/s1600\/gambut.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/-nmi-QBLVgoM\/UG-fWrZT28I\/AAAAAAAACRc\/9UkwdZ38NHA\/s320\/gambut.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ELahan Gambut\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\nPenilaian\n kesesuaian adalah  tahapan penelitian lahan untuk penggunaan tertentu \ndari lahan tersebut,  hal mana faktor-faktor pembatas penggunaan lahan \ndiidentifikasikan,  kemudian dilakukan cara-cara untuk mengatasi atau \nmenekan faktor-faktor  pembatas sedemikian rupa sehingga tercapai \nproduktivitas lahan yang  optimal.\u003Cbr \/\u003E\nSetiap kelas kesesuaian lahan (KKL) dicirikan oleh \u003Cb\u003Esejumlah  faktor pembatas \u003C\/b\u003Etertentu yang akan menentukan produksi dari tanaman  yang diusahakan.\u0026nbsp; Di samping penilaian KKL secara \u003Cb\u003Eaktual\u003C\/b\u003E maka  dinilai juga KKL \u003Cb\u003Epotensial\u003C\/b\u003Enya.\u0026nbsp; \u003Cb\u003EKKL aktual \u003C\/b\u003Editentukan  berdasarkan kepada parameter-parameter lahan sesuai dengan kondisi lahan  pada saat survey dilakukan, sedangkan \u003Cb\u003EKKL potensial \u003C\/b\u003Eadalah kelas  lahan setelah dilakukan perbaikan terhadap faktor pembatas yang ada.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" class=\"tr-caption-container\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-fPBBZqvYoBk\/UG-fpJa6taI\/AAAAAAAACRk\/x28MgrsUY-A\/s1600\/spt.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-fPBBZqvYoBk\/UG-fpJa6taI\/AAAAAAAACRk\/x28MgrsUY-A\/s320\/spt.jpg\" width=\"320\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd class=\"tr-caption\" style=\"text-align: center;\"\u003ESatuan Peta Tanah (SPT)\u003C\/td\u003E\u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003E\u003Ci\u003EMetode  Evaluasi Kesesuaian Lahan \u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003ESemua\n karakteristik lahan ditabulasi  dan dinilai untuk menentukan kelas \nkesesuaian lahannya bagi tanaman  Kelapa Sawit.\u0026nbsp; Pentabulasian data dan \npenilaian dilakukan terhadap  setiap \u003Cb\u003ESatuan Peta Tanah (SPT)\u003C\/b\u003E \nsehingga diperoleh beberapa kelas  atau unit kesesuaian lahan (KKL\/UKL) \nyang penyebarannya mengikuti pola  penyebaran SPT tersebut.\u0026nbsp; Evaluasi \nkelas kesesuaian lahan didasarkan  kepada kriteria kesesuaian lahan \nPusat Penelitian Kelapa Sawit,  selanjutnya cara penggolongan sub kelas \nkesesuaian lahan ditetapkan  berdasarkan jumlah dan intensitas faktor \npembatasnya\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003E\u003Cb\u003EPegambilan  sampel\u003C\/b\u003E\u003C\/i\u003E Pengambilan sampel \nkesesuaian lahan berpedoman pada  sebaran spt yang ada dimana \npengambilan sampel kesesuaian lahan secara  aktual, seluruh titik sampel\n sesuai spt yang telah ditentukan \u0026nbsp;diambil  kemudian dibuatkan tabulasi \npengelompokan yang pada akhirnya akan\u0026nbsp;  digolongkan menjadi kesesuaian \nlahan potensial atau tidak dengan  menimbang faktor pembatas dan \nmeminimalisir faktor faktor pembatasnya,  dan atau rendahnya potensi \nlahan untuk pertumbuhan tanaman. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Ci\u003E\u003Cb\u003EPotensi  Produksi\u003C\/b\u003E\u003C\/i\u003E Dengan menggunakan \u003Cb\u003E\u0026nbsp;indikator yang valid \u003C\/b\u003Edan\n  dikaitkan dengan Kelompok Kelas Lahan \u0026nbsp;potensialnya, sudah dapat di  \nprakirakan seberapa\u0026nbsp; besar potensi produksi rata-rata Perkebunan Kelapa \n Sawit sesuai standardisasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cb\u003EIV.\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EANALISA IKLIM\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKlimatologi\n Data  Klimatologi dan Curah Hujan yang mewakili calon lokasi \nPembangunan  Perkebunan di dapat dari stasiun BMG terdekat. Data data \nini diperlukan  untuk mengantisipasi bulan basah dan bulan kering juga \ntingkat curah  hujan pada calon lokasi perkebunan dengan indikator \ntingkat curah hujan  rata kelayakan tanaman kelapa sawit, juga \nintensitas penyinaran matahari  perharinya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ENeraca Air Pengambilan data Neraca Air \u0026nbsp;(\u003Ci\u003Ewater  balance\u003C\/i\u003E)\n suatu lokasi, akan memberi gambaran suatu daerah dalam  keadaan \nkelebihan atau kekurangan air secara hidrologi dalam waktu  tertentu.\u0026nbsp; \nNeraca Air dapat digolongkan ke dalam Neraca Air Lokal dan  Neraca Air \nRegional.\u0026nbsp; Neraca Air Lokal diperlukan untuk mengetahui  ketersedian air\n pertanian dari suatu kawasan terbatas pada kondisi  hidrologi yang \nsama, sedangkan Neraca Air Regional diterapkan untuk  suatu daerah \naliran sungai yang menggambarkan keseimbangan sumberdaya  airnya, untuk \nmengetahui terjadinya defisit atau surplus ketersediaan  air.\u0026nbsp;\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cb\u003EB. \u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003Cb\u003EKESIMPULAN DAN SARAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDari Hasil survey kelayakan pembangunan perkebunan kelapa sawit  \ntersebut dapat diambil kesimpulan apakah pembangunan akan dilanjutkan  \natau dihentikan sama sekali, juga saran saran perbaikan yang harus  \ndilakukan dalam meminimalisir faktor faktor penghambat yang ditemukan di\n  lapangan\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E.\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPerhitungan tentang Analisa Kesesuaian Lahan dapat di download di sini\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-weight: bold;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565478\/KriteriaKondisiFisikLahan.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565478\/KriteriaKondisiFisikLahan.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-weight: bold;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565501\/KriteriaKondisiFisikberbandingTonaseProduksi.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10565501\/KriteriaKondisiFisikberbandingTonaseProduksi.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566175\/AnggaranSurveyKelayakan.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10566175\/AnggaranSurveyKelayakan.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit; font-size: x-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\u003C\/span\u003E \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/981284128675936151"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/981284128675936151"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/study-kelayakan-kelapa-sawit.html","title":"Study Kelayakan Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-WpKZm6csHWw\/UG-c8HGjpwI\/AAAAAAAACQ8\/4HtiD3UTx70\/s72-c\/sawit1.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1718942228570491901"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:29:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T09:47:49.858+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Undang-Undang Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nUndang  – undang No.22 \/ 1999 \ntentang Pemerintah Daerah  merupakan kerangka  acuan peraturan bagi \npelaksanaan otonomi daerah di  Indonesia. Otonomi  daerah merupakan \nkewenangan Daerah Otonomi untuk  mengatur dan mengurus  kepentingan \nmasyarakat setempat menurut prakarsa  sendiri berdasarkan  aspirasi \nmasyarakat dalam ikatan negara Kesatuan  Republik Indonesia. (Pasal 1).\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSalah  satu \nbidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan  oleh daerah kabupaten  dan \nkota yaitu bidang pertanahan Pasal11 Dengan  demikian ,pengadaan\/  \npengambilalihan tanah menjadi tanggung jawab dari  pemerintah kabupaten \n dan kota. Dalam rangka implementasi Undang – Undang  Otonomi Daerah \nini,  telah ada Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000  tentang \nkewenangan  Pemerintah di bidang pertanahan sebagaimana tertera  dalam \npasal 2 ayat (  3 ) butir ( 14 ) sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: lower-alpha outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan  persyaratan  pemberian hak atas tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan persyaratan \u003Ci\u003Elandreform\u003C\/i\u003E.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan   persyaratan administrasi pertanahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan pedoman biaya   pelayanan pertanahan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan kerangka dasar kadastral ( batas   tanah ) nasional dan pelaksanaan kerangka dasar kadastral orde I dan   orde II.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nKewenangan\n propinsi   sebagai daerah otonomi meliputi kewenangan yang bersifat \nlintas   kabupaten\/kota dan kewenangan daerah tertentu yang meliputi \nperencanaan   dan pengendalian makro, pelatihan bidang tertentu, alokasi\n sumber daya   manusia potensial, penelitian yang mencakup eilayah \npropinsi,   pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan \nhidup, promosi   dagang dan budaya\/pariwisata, penanganan penyakit \nmenular dan hama   tanaman, serta perencanaan tata ruang propinsi.Dalam \nbeberapa   pertimbangan khusus, diantaranya bahwa tanah mempunyai nilai \nstrategis   Negara Kesatuan Indonesia maka pelaksanaan desentralisasi \npertanahan   ditunda selama dua tahun. Penundaan ini ditetapkan melalui \nKeputusan\u0026nbsp;   Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, \nfungsi,   kewenangan, susunan Organisasi dan Tata Kerja.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nLembaga\n Pemerintah Non-Departemen sampai   ditetapkanya seluruh peraturan \nperundang-undangan di bidang pertanahan,   selambat-lambatnya 31 mei \n2003.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSetelah batas waktu 31 mei 2003   berakhir, Pemerintah \nmengambil Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003   tentang kebijakan \nNasional di Bidang pertanahan yang menyerahkan   sembilan kewenangan \nPemerintah di bidang pertanahan kepada pemerintah   kabupaten dan kota, \nyaitu sebagai berikut :\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Col\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian izin lokasi.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelenggaraan   pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelesaian   sengketa tanah garapan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenyelesaian ganti kerugian dan santunan   tanah untuk pembangunan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan subyek dan obyek   redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimal dan   tanah \u003Cb\u003E\u003Ci\u003Eabsente.\u003C\/i\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPenetapan dan penyelesaian masalah   tanah ulayat (tanah adat ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemanfaatan dan penyelesaikan   masalah tanah kosong.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPemberian izin membuka tanah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerencanaan   penggunaan tanah wilayah kabupaten\/kota.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Kkl6dnh4Swk\/UG7uXMPbpVI\/AAAAAAAACLo\/CFU7TOeXFmY\/s1600\/undang2+sawit.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"640\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Kkl6dnh4Swk\/UG7uXMPbpVI\/AAAAAAAACLo\/CFU7TOeXFmY\/s640\/undang2+sawit.jpg\" width=\"480\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003EPeraturan dan perundang-undangan dapat di download pada halaman link atau dapat di sini\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10419656\/PeraturanMenterittgTatacaraPembangunanPerkebunan.rar.html\" target=\"_blank\"\u003Ewww.ziddu.com\/download\/10419656\/PeraturanMenterittgTatacaraPembangunanPerkebunan.\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1718942228570491901"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1718942228570491901"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/undang-undang-kelapa-sawit.html","title":"Undang-Undang Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-Kkl6dnh4Swk\/UG7uXMPbpVI\/AAAAAAAACLo\/CFU7TOeXFmY\/s72-c\/undang2+sawit.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-739645629343608978.post-1406126575406056131"},"published":{"$t":"2012-10-05T21:18:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2012-10-06T09:43:51.926+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Tentang Kelapa Sawit"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EA.\u0026nbsp; SAWIT\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_freewebs fwSizeProp\" height=\"162\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/borneo_5070.JPG\" style=\"height: 162px; margin: 8px; width: 242px;\" width=\"242\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EKelapa sawit adalah tanaman sejenis palma berakar serabut atau monokotil.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBagian tanaman yang bernilai ekonomis adalah buah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah tersusun dalam sebuah tandan dan disebut TBS (Tandan Buah Segar ).\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESatu\n tandan tanaman dewasa beratnya mencapai 20 – 35 kg,bahkan ada yang \nmencapai diatas 40 kg,tergantung pada perawatan dan pemupukan tanaman .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETandan tersusun dari 200 – 600 buah @ 20 – 35 gram.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah diambil minyaknya dengan hasil :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESabut (daging buah \/ mesocarp) menghasilkan minyak kasar (CPO) 20 – 26 %\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EInti sawit sebanyak 6 % yang menghasilkan minyak inti (PKO) 3 – 4%\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKadar % dihitung dari berat tandan buah segar .\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EB. UMUR TANAMAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003EUmur ekonomis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan umumnya 25 tahun, \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETetapi dewasa ini umur ekonomis tanaman bisa mencapai lebih dari 25 tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada\n umur diatas umur ekonomis tanaman sudah tinggi sehingga sulit\u0026nbsp; di \npanen,tandanya sudah jarang sehingga secara perhitungan tidak ekonomis \nlagi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPengelompokan berdasarkan umur tanaman adalah sebagai berikut :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; 3 – 8 tahun\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Muda\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 9 – 13 tahun\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Remaja\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; 14 – 20 tahun : Dewasa\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026gt; 20 tahun\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; : Dewasa\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPengelompokan berdasarkan masa berbuah :\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETBM (Tanaman belum menghasilkan) \u0026nbsp; : 0 – 3 tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETM ( Tanaman menghasilkan )\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; :\u0026nbsp; \u0026gt;\u0026nbsp; 3 tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EC. BAHAN TANAMAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nBuah tanaman kelapa sawit berupa benih yang sudah dikecambahkan disebut : GS\u0026nbsp; ( Graminated Seed )\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nSumber resmi benih kelapa sawit antara lain : PPKS, Lonsum, Socfindo,\u0026nbsp;\u0026nbsp; damimas.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESetiap pembelian benih tersebut disertai label disetiap kantong dan sertifikatnya.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBenih asli dibuat dari hasil persilangan antara jenis \u003Cb\u003EDura (sebagai pohon ibu )\u003C\/b\u003E dan \u003Cb\u003EPesifera (sebagai pohon bapak ).\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBenih asli secara visual tidak dapat dibedakan dengan benih yang tidak asli.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ECiri-ciri dari dura fesifera dan tenera dilihat dari buahnya adalah sebagai berikut:\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dura\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; X\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; Pesifera\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; = \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tenera\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; D\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; P\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; T\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"255\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/buah.jpg\" style=\"height: 255px; margin: 8px; width: 345px;\" width=\"345\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\nCiri – cirinya :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia; font-size: x-small;\"\u003ED u r a\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Pesifera\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tenera\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp; Ketebalan cangkangnyan( mm ) :\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; 2 – 5 mm\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak ada\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; 1 – 2,5 mm\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp;\n % Cangkang \/ buah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; 20 – \n50 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; -\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; 3 – 20 %\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp; % Mesocarp\/ daging buah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; 20 – 65 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 92 – 91 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; 60 – 90 %\u0026nbsp; \u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp;\n % Inti buah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\n \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; 4 – 20 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; 3 – 8 %\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; 3 – 15 %\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: Georgia;\"\u003E\u0026nbsp;\n Kadar minyak\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\n rendah\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp; tinggi\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; sedang\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nKelemahan pesifera secara umum adalah tandanya kecil – kecil dan mengalami aborsi\/gugur pada awal perkembanganya.\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003ED.MORFOLOGI TANAMAN\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"1\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EAkar\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\nTanaman\n kelapa sawit berkeping satu, sistim perakarannya serabut, akar pertama \nyang muncul dari biji yang berkecambah disebut Radikula.Radikula \nselanjutnya akan mati dan digantikan dengan akar-akar primer yang tumbuh\n dari bahagian bawah batang, kemudian bercabang akar sekunder, tersier, \nkuarterner. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDiameter akar primer 5 – 10 mm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiameter akar sekunder 2 – 4 mm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiameter akar tersier 1 – 2 mm\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EDiameter akar kuarterner 0,1 – 0,3 mm\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\nAkar\n yang paling aktif menyerap air dan unsur hara adalah akar tersier dan \nkuarterner berada pada kedalaman 0 – 60 cm dan jarak 2 – 2,5 m dari \npangkal pohon.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"2\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EBatang\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETanaman\n kelapa sawit berbatang lurus, tidak bercabang, pada tanaman dewasa \ndiameternya 45 – 60 cm bagian bawah batangnya lebih gemuk yang disebut \nbonggol, dengan diameter 60 – 100 cm .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPelepah \/daun menempel membalut batang .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKecepetan\n tumbuh 35 – 75 cm \/ tahun sampai tanaman berumur 3 tahun batang belum \nterlihat karena masih terbungkus pelepah yang belum ditunas. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada tanaman berumur 25 tahun tinggi batang mencapai 13 – 18 m.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nPerkembangan tinggi batang kelapa sawit yang normal dapat disajikan sebagai berikut.:\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;    \u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable align=\"left\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 457px; width: 702px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nThn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMeter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nThn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nMeter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nUmur\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nThn\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nTinggi   Meter\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n1,6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6,7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n18\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n19\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n2,6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n20\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n6\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n3,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8,9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n21\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12,2\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n4,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n14\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9,8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n22\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n12,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n8\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,4\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n15\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n23\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n9\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n5,7\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n16\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n10,5\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n24\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n13,3\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"67\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"84\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n17\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n11,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n25\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"72\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n14,0\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E3. Daun\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n▪ \u003Cimg align=\"right\" border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"193\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/POHON%20SAWIT.jpg\" style=\"height: 193px; margin: 8px; width: 256px;\" width=\"256\" \/\u003ETahap perkembangan daun : \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ELanceolate\u0026nbsp; Daun awal yang keluar pada masa pembibitan berupah helaian daun yang utuh.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBifurcate\u0026nbsp; Bentuk daun dan helaian daun sudah pecah tetapi bagian ujung\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; belum terbuka. \u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPinnate\u0026nbsp;\u0026nbsp; Bentuk daun dengan helaian daun yang sudah membuka sempurna dengan arah anak daun keatas dan kebawah. \u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EPada tanaman muda mengeluarkan 30 daun ( umumnya disebut pelepah ) pertahun pada tanaman tua antara 28 – 24 pelepah per tahun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPanjang pelepah tanaman dewasa 9 m, anak daun 125 – 200 pasang dengan panjang 1 – 1,2 m dengan lebar tengah \u003Cu\u003E+ \u003C\/u\u003E\u0026nbsp;6 cm.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EJumlah pelepah yang harus dipertahankan pada tanaman dewasa adalah 40 – \u0026nbsp;56 pelepah selebihnya dibuang saat panen.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EKedudukan daun pada batang 3\/8 artinya pada setiap tiga putaran terdapat 8 daun.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESpiral kiri atau spiral kanan.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EArah putaran dilihat dari arah atas kebawah, dan arah putaran ini tidak ada pengaruhnya terhadap produksi.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cb\u003E4. Bunga\u003C\/b\u003E    \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: disc outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EDari setiap ketiak pelepah akan keluar tandan bunga jantan atau betina .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBunga mulai berbunga pada umur ± 14 – 18 bulan\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPada mulanya yang keluar adalah bunga jantan kemudian secara bertahap akan muncul bunga betina.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ETerkadang akan muncul bunga banci yaitu : bunga jantan dan betina ada pada satu rangkaian.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003ESex ratio yaitu : perbandingan bunga betina dengan keseluruhan bunga (bunga jantan dan bunga betina).\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Bunga jantan\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;Bunga betina\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: circle outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003ETerdiri dari 100-250 spikelet\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Terdiri dari 100-200 spikelet\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E1 tandan mekar dengan bau\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tiap spikelet 15-20 bunga.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EYang wangi selama 2-4 hari.\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" height=\"235\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/JANTAN.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 235px; margin: 8px; padding: 5px; width: 247px;\" width=\"247\" \/\u003E\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_freewebs fwSizeProp\" height=\"236\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/BETINA.jpg\" style=\"background-color: white; border: 1px solid #dddddd; height: 236px; margin: 8px; padding: 5px; width: 165px;\" width=\"165\" \/\u003E  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Col start=\"5\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cb\u003EBuah\u003C\/b\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cul style=\"list-style: square outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003EUmumnya yang ditanam adalah varietas nigrescen, dengan warna buah ungu kehitaman saat mentah.\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EBuah\n akan matang 5-6 bulan setelah penyerbukan dan warnanya berubah menjadi \norange, berat tandan dan ukuran buah bervariasi tergantung umur tanaman,\n kesuburan tanah dan pemeliharaan .\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003EPerkembangan jumlah dan berat tandan disajikan sebagai berikut:\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ul\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/BUAH%20SAWIT.jpg\" style=\"margin: 8px; width: 75%;\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nPerkembangan jumlah dan berat tandan\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 204px; width: 703px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003EUmur ( tahun   )\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; \u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003EJumlah   tandan\/pkk\/tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\nBerat kg \/   tandan\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E3 – 8\u0026nbsp;\u0026nbsp; tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E15 – 25 tandan   \/ tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E3,5 – 13 kg \/   tandan\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E8 – 16 tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E10 – 15 tandan   \/ tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E14 – 24 kg \/   tandan\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"134\"\u003E\u0026nbsp; \u0026gt;\u0026nbsp;   16 tandan\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E\u0026nbsp; 4 – 8\u0026nbsp;\u0026nbsp;   tandan \/ tahun\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"189\"\u003E25 – 35 kg \/   tandan\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EE. LINGKUNGAN TUMBUH\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp; \u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\nLingkungan\n tumbuh yang penting diperhatikan adalah iklim, keadaan fisik, dan \nkesuburan tanah, berdasarkan faktor ini kelas kemampuan lahan \ndigolongkan menjadi 4 kelas : S1, S2, S3, dan N1 (sangat sesuai, agak \nsesuai, tidak sesuai, tidak sesuai bersyarat).\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;    \u003C\/div\u003E\n\u003Ctable align=\"left\" border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 943px; width: 705px;\"\u003E\u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E\u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ENo\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EDescription\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ES1\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ES2\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ES3\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EN1\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E1\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELetak\u0026amp;   tinggi tempat\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E2\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EBentuk wilayah :\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; -   Topografi\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; -   Lereng\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp; \u0026nbsp;- Penggenangan\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp;\u0026nbsp; -   Drainase\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EDatar   berombak\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 15\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ETidak ada\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EBaik\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u0026nbsp;Bergelombang \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E16 – 25\u003C\/span\u003E \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ETidak ada\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESedang\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EBerbukit\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E25 – 36\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ETidak ada\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EAgak   terhambat\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ECuram\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026gt;36\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESedikit\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ETerhambat\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E-\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E3\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ETanah\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp; Kedalaman\/solum\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Bahan organik\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Tekstur\u0026nbsp;\u0026nbsp;   \u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Batuan\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026nbsp; Penghambat   %\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Kedalaman air tnh\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Ph\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026gt; 80   cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E5 – 10 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELempung,lemp\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELiat,\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026lt; 3\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026gt; 80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E5 – 6\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E80 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E5 – 10 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELiat   berpasir\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELiat\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E3 – 15\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E60 – 80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E4,5 – 5\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E60-80 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E5 – 10 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EPasir,debu\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EBerlemp.\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E15 – 40\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E50 – 60\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E4 – 4,5\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E-\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026lt; 60   cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026lt; 5 cm\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ELiat   berat,\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EBerpasir\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026gt; 40\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E40 – 50\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E4\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EIklim\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Curah hujan\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Defisit air\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Temperatur (˚C)\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Penyinaran (jam)\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Kelembaban %\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Angin\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E- Bulan kering\u003C\/span\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E2000-2500\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 – 150\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E22 – 26\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E6\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESedang\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E1800 –   2000\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E150 – 250\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E22 – 26\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E6\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESedang\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E0 - 1\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E1500-1800\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E250-400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E22- 26\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E6\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003ESedang\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E2 – 3\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026lt; 1500\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026gt; 400\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E22-26\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E\u0026lt; 6\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E80\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003EKencang\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: xx-small;\"\u003E3\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"40\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"144\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"112\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"106\"\u003E\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"91\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd valign=\"top\" width=\"94\"\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u0026nbsp;\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: medium;\"\u003E\u003Cb\u003EF. PRODUKTIFITAS\u003C\/b\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nProduktifitas tanaman kelapa sawit jenis Tenera secara umum pada kelas lahan ,S1,S2,S3,N1 adalah sebagai berikut :\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ctable border=\"1\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"height: 894px; width: 702px;\"\u003E  \u003Ctbody\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" rowspan=\"2\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cb\u003EUmur\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003E(Thn)\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cb\u003EKelas lahan S1\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cb\u003EKelas lahan S2\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" colspan=\"3\" valign=\"top\" width=\"168\"\u003E\u003Cb\u003EKelas lahan S3\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003ET\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ERBT\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ETBS\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003ET\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ERBT\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ETBS\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003ET\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ERBT\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003ETBS\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u0026nbsp;3\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;9\u003Cbr \/\u003E\n10\u003Cbr \/\u003E\n11\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n13\u003Cbr \/\u003E\n14\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n20\u003Cbr \/\u003E\n21\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n23\u003Cbr \/\u003E\n24\u003Cbr \/\u003E\n25\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E22\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n14\u003Cbr \/\u003E\n13\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n11\u003Cbr \/\u003E\n10\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;9\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp; 3,2\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 6,0\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 7,5\u003Cbr \/\u003E\n10,0\u003Cbr \/\u003E\n12,5\u003Cbr \/\u003E\n15,1\u003Cbr \/\u003E\n17,0\u003Cbr \/\u003E\n18,5\u003Cbr \/\u003E\n19,6\u003Cbr \/\u003E\n20,5\u003Cbr \/\u003E\n21,1\u003Cbr \/\u003E\n22,5\u003Cbr \/\u003E\n23,0\u003Cbr \/\u003E\n24.5\u003Cbr \/\u003E\n25,0\u003Cbr \/\u003E\n26,0\u003Cbr \/\u003E\n27,5\u003Cbr \/\u003E\n28,5\u003Cbr \/\u003E\n29,0\u003Cbr \/\u003E\n30,0\u003Cbr \/\u003E\n30,5\u003Cbr \/\u003E\n31,9\u003Cbr \/\u003E\n32,4\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp;9\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n21\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n30\u003Cbr \/\u003E\n31\u003Cbr \/\u003E\n31\u003Cbr \/\u003E\n31\u003Cbr \/\u003E\n31\u003Cbr \/\u003E\n31\u003Cbr \/\u003E\n30\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n27\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n24\u003Cbr \/\u003E\n23\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n20\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n17\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E18\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n13\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n11\u003Cbr \/\u003E\n11\u003Cbr \/\u003E\n10\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;9\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp; 3,0\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 6,0\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 7,0\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp; 9,4\u003Cbr \/\u003E\n11,8\u003Cbr \/\u003E\n13,2\u003Cbr \/\u003E\n16,5\u003Cbr \/\u003E\n17,5\u003Cbr \/\u003E\n18,5\u003Cbr \/\u003E\n19,5\u003Cbr \/\u003E\n20,0\u003Cbr \/\u003E\n21,8\u003Cbr \/\u003E\n23,0\u003Cbr \/\u003E\n23,1\u003Cbr \/\u003E\n24,1\u003Cbr \/\u003E\n25,2\u003Cbr \/\u003E\n26,4\u003Cbr \/\u003E\n27,8\u003Cbr \/\u003E\n28,6\u003Cbr \/\u003E\n29,4\u003Cbr \/\u003E\n30,1\u003Cbr \/\u003E\n31,0\u003Cbr \/\u003E\n32,0\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n14\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n23\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n28\u003Cbr \/\u003E\n27\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n24\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n16\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E17\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n13\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n11\u003Cbr \/\u003E\n10\u003Cbr \/\u003E\n10\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;9\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;8\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;6\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;4\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp;3\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;5\u003Cbr \/\u003E\n\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n8,5\u003Cbr \/\u003E\n11,1\u003Cbr \/\u003E\n13,0\u003Cbr \/\u003E\n15,5\u003Cbr \/\u003E\n16,0\u003Cbr \/\u003E\n17,0\u003Cbr \/\u003E\n18,5\u003Cbr \/\u003E\n20,0\u003Cbr \/\u003E\n21,0\u003Cbr \/\u003E\n21,0\u003Cbr \/\u003E\n22,0\u003Cbr \/\u003E\n23,0\u003Cbr \/\u003E\n24,0\u003Cbr \/\u003E\n25,0\u003Cbr \/\u003E\n27,0\u003Cbr \/\u003E\n27,0\u003Cbr \/\u003E\n28,0\u003Cbr \/\u003E\n29,0\u003Cbr \/\u003E\n30,0\u003Cbr \/\u003E\n34,0\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u0026nbsp;7\u003Cbr \/\u003E\n12\u003Cbr \/\u003E\n14\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n26\u003Cbr \/\u003E\n25\u003Cbr \/\u003E\n24\u003Cbr \/\u003E\n24\u003Cbr \/\u003E\n22\u003Cbr \/\u003E\n21\u003Cbr \/\u003E\n20\u003Cbr \/\u003E\n19\u003Cbr \/\u003E\n18\u003Cbr \/\u003E\n17\u003Cbr \/\u003E\n16\u003Cbr \/\u003E\n15\u003Cbr \/\u003E\n14\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003Ctr\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cb\u003ERata2\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cb\u003E11\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E21\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E24\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cb\u003E10\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E20\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E22\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"48\"\u003E\u003Cb\u003E10\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E19\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E   \u003Ctd align=\"center\" valign=\"top\" width=\"60\"\u003E\u003Cb\u003E20\u003C\/b\u003E\u003C\/td\u003E  \u003C\/tr\u003E\n\u003C\/tbody\u003E\u003C\/table\u003E\n\u003Cb\u003EK\u003C\/b\u003Eeterangan:\u003Cbr \/\u003E\nT = Jumlah tandan\/phn\/tahun\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; RBT = Rata – rata berat tandan\u003Cbr \/\u003E\nTBS = Tandan TBS\/Ha\/tahun\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\nTetapi\n walaupun demikian produksi tanaman kelapa sawit masih dapat di \ntingkatkan lagi diatas produksi secara umum, yaitu dengan peningkatan \nkebutuhan pupuk dan peningkatan perawatan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"center\"\u003E\n\u003Cimg border=\"0\" class=\"fw_image_computer fwSizeProp\" src=\"http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/hubung.jpg\" style=\"margin: 8px; width: 75%;\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"left\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003ERandom check tentang sawit dapat di download di sini \u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv align=\"justify\"\u003E\n\u003Col style=\"list-style: decimal outside none;\"\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"border-collapse: separate; color: black; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;\"\u003E\u003Cspan class=\"Apple-style-span\" style=\"color: #00616f; font-weight: bold;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581349\/RandomCheckPembangunanKebun.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10581349\/RandomCheckPembangunanKebun.pdf.html\u0026nbsp;\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10593149\/KriteriaKondisiFisikLahan.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10593149\/KriteriaKondisiFisikLahan.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003Cli\u003E\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Ca class=\"normal12blue\" href=\"http:\/\/www.ziddu.com\/download\/10593069\/KriteriaKondisiFisikLahanBerbandingTonase.pdf.html\" style=\"color: #006a79;\" target=\"_blank\"\u003E\u003Cb\u003Ehttp:\/\/www.ziddu.com\/download\/10593069\/KriteriaKondisiFisikLahanBerbandingTonase.pdf.html\u003C\/b\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003C\/li\u003E\n\u003C\/ol\u003E\n\u003Cspan style=\"font-family: inherit;\"\u003E\u003Cspan style=\"font-size: x-small;\"\u003E\u003Cb\u003E\u0026nbsp;\u003C\/b\u003ESumber:\u0026nbsp; http:\/\/membangunkebunkelapasawit.webs.com\/\u003C\/span\u003E\u003C\/span\u003E\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1406126575406056131"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/739645629343608978\/posts\/default\/1406126575406056131"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/informasi-kelapasawit.blogspot.com\/2012\/10\/tentang-kelapa-sawit.html","title":"Tentang Kelapa Sawit"}],"author":[{"name":{"$t":"Dewa Y"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/00568296169971077657"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}]}]}});